Welcome To LuviLove Sites

03 October 2006

Bye-bye-sorry 4 all

Bye-bye-sorry 4 all
fikar

Dua kata yang sangat mudah terucap tanpa beban di bibir melahirkan beban baru di hati yang sangat sulit tuk dapat menahan tangis dan sedih, dua kata adalah awal dari kesedihan dan kebahagiaan yang slalu pergi mengikuti gerak kaki dalam melangkah, dua kata adalah hal yang mengerikan dalam akhir setiap episode sinetron kehidupan, dua kata itu tidak lain adalah “Bye-Bye” atau “Selamat Tinggal”.


Tiba saatnya aku untuk mengucapkan Bye-bye kepada semua yang telah menemani, mengisi, menghiasi, mengasihi dan mengadopsi aku dalam episode panjang tiada akhir dalam serial kehidupanku di kairo, semoga kesedihan akan selalu menjadi awal dalam meraih kebahagiaan.

Kata Maaf hanyalah keikhlasanku berucap, semoga kelapangan hati selalu terbuka. bye2 friends sampai ketemu lagi, bye2 internet sampai di sina lagi.


Read more! span.fullpost {display:none;}

02 September 2006

Abbas Mahmud Aqqad

Abbas Mahmud Aqqad
(28 Juni 1889-12 Maret 1964)

Oleh: Ahrieza Falahi DalimoentheÂ

“Ilmu itu datangnya dari buku, dan bukan dari penulis” A. M. Aqqad
“Aku tidak pernah terpengaruh oleh siapapun dan aku ingin menjadi diriku sendiri” A. M. Aqqad
“The Crusher writter” Saad Zaghlol

A. Prolog

Seorang pemikir ulung, filosof serta ulama sekaligus jurnalis dipenghujung-awal abad 19 dan 20. Putra dari Ibrahim Mahmud Al-Aqqad ini dilahirkan pada hari Jum`at di Kota Aswan, dalam ruang lingkup keluarga terhormat yang amat memperhatikan pertumbuhannya. Ayah beliau sendiri bertugas disalah satu Kantor Arsip Provinsi Aswan, yang pada saat itu kondisi kodifikasi arsip Mesir sendiri dalam keadaan yang memang kurang kondusif. Keadaan ini memaksa ayahandanya untuk selalu menghabiskan waktu di meja kantornya. Kakek beliau bernama Muhammad Aga As-Syarif yang mana garis keturunannya sampai kepada Abbas bin Abdel Mutallib kakek dari Rasulullah SAW.

Pada masa kecilnya beliau sering mengikuti halaqah yang diisi oleh salah seorang ulama Azhar yaitu Sheikh Ahmad Al-Jadawi bersama ayahandanya. Dimana Ahmad Al-Jadawi sendiri banyak mengadopsi pemikiran-pemikiran Jamaluddin Al-Afghani. Jadi sebenarnya dari masa yang amat belia sekali tanpa Aqqad sadari telah tertanam didalam dirinya beragam dan corak dari tokoh-tokoh keislaman pada masa itu. Ditambah lagi Aqqad sendiri sangat mengagumi Mostafa Kamil.

Dimasa kecilnya beliau memiliki kemampuan yang amat lain dari teman-teman sebayanya. Seperti halnya dibangku sekolah, pada masa yang amat belia sekali ia sudah dapat memahami hal-hal yang berkenaan dengan sosial. Aqqad juga gemar membaca, salah satu kitab yang amat ia gandrungi adalah “Kisah 1001 satu malam” dan Diwan Baha Al-Zuhairi juga kitab yang dikarang oleh Al-Abshihi yang berjudul “Al-Mustathraf fil Fannil Mustazhraf”.

Imam Muhammad Abduh pada saat berkunjung ke Sekolah Dasar Nasional dimana Aqqad berseragam SD-nya berkata mengenai intelektual yang dimiliki Aqqad melalui karya-karya sicilik Aqqad, sambil berdecak kagum Imam Muhammad Abduh berkata: “Sesiapapun yang menulis ini akan menjadi penulis nantinya”. Namun pendidikan formal yang dienyam–nya tidaklah seperti yang diharapkan, karena pada usia yang sangat muda sekali yaitu ketika ia berumur 15 tahun ia meninggalkan bangku sekolah atau setelah menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar.

Adapun sebab yang mendorong beliau untuk meninggalkan pendidikannya adalah kemauan dirinya sendiri, dengan kata lain Aqqad sendiri lebih gemar untuk membaca sendiri daripada untuk mengenyam pendidikan secara formal. Mungkin jika beliau meneruskan pendidikannya sampai pada bangku kuliah, maka akan lain lagi kisah petualangan seorang penulis ini, bisa jadi ia akan berangkat ke Eropa dan akan setara dengan para pemikir-pemikir terkemuka Mesir lainnya pada masa itu. Menurut pemaparan saudara Aqqad yaitu Sayyed Aqqad, Abbas memiliki kemampuan ingatan diatas rata-rata, jarang sekali ia membuka ulang buku-buku ia telah ia baca sebelumnya, ia hanya cukup meminta pertolongan Sayyed sendiri dalam memastikan buku-buku yang telah ia baca sebelumnya baik itu dari segi halaman buku maupun kepastian dari intisari yang telah ia baca.

Namun bagi beliau pendidikan formal bukanlah segala-galanya, dengan terputusnya pendidikan tidak menjadikan beliau berhenti untuk mendalami apa yang ia rasa menarik bagi dirinya, hal ini dapat dilihat ketika ia mulai bekerja sebagai salah seorang buruh upahan disebuah Pabrik Sutra di kota Demyaat. Ia memanfaatkan gaji dan waktu luang untuk membeli buku-buku, membaca dan menulis terutama di bidang politik dan sastra.

Aqqad berkata didalam sebuah karyanya yang berjudul Abqareyyas Siddiq: “aku tidak menulis tentang sejarah kekhilafahannya dan bukan juga tentang tragedi-tragedi yang terjadi pada masa itu, akan tetapi yang kutuliskan adalah gambaran pribadi dari seorang khalifah besar dimana kita dapat mengenalnya lebih dekat untuk lebih memperjelas kreasi-kreasi beliau serta faktor-faktor yang mendorong kesuksesan beliau”. Dari paparan yang disampaikan beliau kami mencoba untuk mengambil intisari apa sebenarnya yang terbesit dari pemikiran Aqqad dalam karyanya yang satu ini, bahwa sebenarnya bagi setiap generasi penerus yang terpenting adalah mampu untuk mengembangkan prilaku-prilaku serta faktor-faktor yang mendukung kesuksesan baik itu dari segi dakwah, akhlak kepada manusia dan yang tak kalah pentingnya lagi akhlak terhadap sang Khalik.
Karena bagi Aqqad sendiri yang terpenting dalam setiap penulisan karya-karyanya adalah penyampaian poin yang akan dijelaskan lebih penting dari pada harus menghamburkan kata-kata dalam arena puja-memuji seorang tokoh yang dibahas. Hal ini jelas seperti apa yang disampaikan beliau dalam buku yang sama: “…tidaklah penting bagi kita kecil besarnya kepribadian Abu Bakar dimata ummat Islam, karena pada dasarnya ia akan mengecil dan membesar, karena semua itu tergantung pada kaca-mata orang-orang yang memandangnya, karena pada dasarnya hal-hal yang kecil memiliki hal yang lebih penting dari pada hal-hal yang terkesan besar namun memiliki kepentingan yang sedikit”

B. Aqqad dan Jurnalistik

Disaat Aqqad mulai menuangkan tinta pikirannya ketika mendalami hal-hal yang berkenaan dengan jurnalistik dan pers, Aqqad memiliki pengalaman yang berbeda seperti apa yang dialami para wartawan atau jurnalis-jurnalis lain pada masa itu. Ia harus bekerja keras membagi waktu menjadi seorang pegawai Jalur Lintas Perusahaan Kereta Api di kota Zaqaziq provinsi Sharkeyya dan menjadi seorang yang mengamati permasalahan sastra dan politik Mesir pada saat itu. Pada umur 16 tahun tepatnya pada tahun 1905 M ia bertolak menuju ibu kota, dengan berbekalkan berbagai pengalaman menulis, ia memberanikan diri untuk datang menghadap para tokoh-tokoh yang ada pada masa itu di kota Kairo, yang diantara lain adalah: Ya`qub Shoorof, George Zidane dan Mohammad Farid yang pada saat menjadi salah seorang tokoh nasionalis terkemuka. Setelah berselang 2 tahun yaitu pada tahun 1907 Aqqad bertemu dengan salah seorang pemuka jurnalis keislaman dan seorang evaluator politik dan sastra Mohammad Farid Wajdi. Aqqad datang pada Farid Wajdi dan menawarkan diri untuk menjadi salah satu staffnya diharian Dustur. Dan pada tahun yang sama Aqqad bertemu dengan Saad Zaghlool dimana beliau pada masa itu menjabat menjadi Menteri Penerangan, dimana pada masa itu siasat politik Saad Zaghlool yang ia terapkan diperkantoran divisi penerangan sendiri banyak ditentang oleh banyak kalangan.

Hubungan yang erat antara guru dan murid -red. Aqqad dan Farid- ini semakin akrab, hal ini dikarenakan seluruh kolom serta rubrik yang diterbitkan pada setiap edisinya ditangani langsung oleh mereka berdua. Dimana Aqqad sendiri menangani editorial dan terjemah. Aqqad terjun langsung pada harian ini mulai dari awalnya sampai pada akhir dari edisi ini.

Setelah terhentinya harian perdana dimana Aqqad banyak belajar bagaimana tentang percaturan dunia pers, Aqqad kembali bekerja sebagai penulis sastra di Kementrian Wakaf, namun tugas yang emban dikementrian tak membuatnya betah sehingga ia meninggalkan pekerjaanya itu pada tahun 1913. Dan pada tahun yang sama Aqqad mencoba kembali untuk kembali ke dunia pers yaitu bekerja sebagai wartawan diharian yang mendukung perjuangan politik Khadaiwi Abbas Helmi. Kembali lagi seperti biasanya ia kembali hengkang dari harian tersebut karena merasa visi dan misi partai tersebut kurang sejalan dengan alur pemikiran yang dimiliki Aqqad dimana saat itu pimpinan redaksi adalah Sheikh Ali Yosef.

Aqqad juga pernah menjabat sebagai salah seorang staff pengajar bersama-sama dengan salah seorang penulis legendaris Mesir yaitu Ibraheem Abdel Kadir Al-Mazni. Pengalaman mengajar bagi Aqqad sendiri disini bukanlah untuk yang pertama kalinya, karena pada umur yang relatif muda yaitu; 15 tahun, Aqqad telah terhimpun dalam staff pengajar muda di Kota Aswan yang dipimpin oleh Mostafa Kamil sendiri.

Dunia tulis menulis adalah dunianya Aqqad, ia tidak pernah menyerah untuk selalu menyelami air-air dimana ia dapat menimba ilmu dari sesiapapun. Hal ini dapat dicermati melalui sahabat-sahabat pena yang dipilih oleh Aqqad sendiri. Aqqad sendiri sangat menjunjung idelismenya sebagai seorang wartawan ataupun penulis. Walaupun kondisi pers dan jurnalistik Mesir pada saat itu sangat tidak kondusif. Hal itu dikarenakan masa transisi dari pemerintahan kolonial kepemerintahan revolusi. Dan Tidak sekali Aqqad berpindah-pindah rumah redaksi dimulai dari tahun ia datang ke Ibu Kota diantara rumah-rumah redaksi yang pernah ia datangi adalah Harian El-Ahali yaitu pada tahun 1917, Harian Al-Ahram yang terbit di Alexandria pada tahun 1919.

Tak sekali Aqqad sendiri mengalami ancaman ataupun intimidasi melalui tulisan-tulisannya disetiap harian dimana ia bertugas menjadi dewan redaksi didalamnya. Namun segala ancaman tadi tak membuatnya ketar-ketir dalam melantunkan penanya diatas kertas, karena dengan menulis bagi Aqqad sendiri adalah kebebasan segala-galanya, baik itu kebebasan berpikir, ekspresi maupun membumikan ide-ide yang tersimpan baik didalam benaknya.

Berkisar pada tahun yang sama juga, Aqqad mulai membumikan karya-karyanya, yang pada awalnya ia lebih banyak berkonsentrasi pada bidang sastra dimana pada saat yang sama juga khazanah kesusastraan jazirah arab dipenuhi para pakar-pakar sastra diantaranya adalah Amirus Syua`ra Ahmad Syauqi. Yang mana Aqqad sendiri banyak menentang buah-buah pikir Ahmad Syauqi yang banyak tertuang kedalam syair-syair yang dikumandangkan Syauqi. Diantara karya-karya Aqqad adalah:

“Khalasatul Yaumeyya”, 1912, Dar Heelal
“Sudzuur”, 1913
“El-Insaan Ats-sani”, 1913
“Yaqdzatus Sabah”, 1916, Karya sastra Aqqad Perdana.

Salah satu petisi Aqqad yang jelas-jelas menentang Syauqi adalah apa yang Aqqad sampaikan sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir adalah: “Kita telah mendengar keributan yang ditimbulkan seorang yang bernama Syauqi tentang perihal kehebatannya, namun kita lalui semua itu dengan diam (tanpa reaksi-red) seperti halnya kita melalui hiruk-pikuknya keributan yang telah dilalui sebelumnya. Yaitu dengan tidak memperdulikan kemasyhurannya juga dengan tidak mencounter karya-karyanya dalam sastra. Karena sesungguhnya hasil karya Syauqi sendiri adalah salah satu pengikut mazhab ‘self-desructive’ yang kami anggap sebagai buah karya dari para orang-orang yang sombong.”

Aqqad menilai bahwa kesuksesan Syauqi sendiri didukung karena ia kerap akrab dengan orang-orang pers yang tidak segan-segan untuk mengelu-elukannya dalam media, begitu juga dengan hubungannya dengan orang-orang pemerintah dimana Aqqad menganggapnya adalah sebuah kebetulan.

Aqqad sendiri juga tidak segan-segan untuk menulis dibeberapa majalah edisi-edisi yang banyak menjadi sorotan khalayak umum pada masa itu, yaitu menjadi penulis dimajalah: Ruzel Yosser, Heelal, Akhbarul Yom dan Majalah Azhar.

C. Aqqad dan Percaturan Politik

Sebagai seorang pengamat politik Aqqad tidak pernah luput dalam mencermati segala gejolak serta polemik politik masa itu, ditambah lagi sebagai seorang jurnalis, sudah barang tentu ia menuangkan pikirannya mengenai politik kedalam rubrik-rubrik dimana ia terjun sebagai penulisnya langsung. Karena tidak ada hal lain yang menyibukkan Aqqad sendiri selain sastra, politik, jurnalis dan pengajaran. Salah satu moment penting yang dialaminya adalah ketika ia dipilih menjadi salah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Dimana salah satu jurus Aqqad yang menggiringnya kedalam jeruji dan harus mendekam didalamnya yaitu; penolakan Aqqad sebagai salah seorang wakil rakyat dalam prihal revisi dua mata undang-undang yang di amini oleh Raja Fuad dimana undang-undang tersebutkan berisikan bahwa rakyat adalah sumber pemerintahan (pemerintahan ditangan rakyat-red) dan para menteri bertanggungjawab di hadapan para anggota parlementer.

Secara langsung dan jahreyyan dalam sebuah rapat parlementer Aqqad secara lantang mengatakan bahwa: “Dengan senang hati rakyat akan memenggal kepala seorang pahlawan yang mengkhianati rakyat dan mencemarkan nama baik undang-undang dasar”. Karena Aqqad sendiri menilai bahwa pemerintahan yang menyelewengkan wewenang rakyat adalah pemerintahan yang diktator. Aqqad mendekam didalam penjara dengan tuduhan konspirasi terhadap wewenang Kerajaan, dimana pada saat itu Mesir masih berada dalam pemerintahan monarki. Setelah selesai menjalani sentence selama 9 bulan hukum kurung, Aqqad tetap berada dalam beranda politik yaitu sebagai aktifis Partai Wafd, walaupun ia tetap bertentangan secara visi politik dengan seorang nasionalis ternama yang terhimpun dalam satu rumpun yang tidak lain dan tidak bukan adalah Mostafa Nuhas.

Waktu yang dihabiskannya didalam penjarapun tak terbuang percuma begitu saja. The Experiences is The Best Teacher, kiranya filsafat ini tertanam kokoh didalam benak Aqqad sendiri. Beliau lebih banyak menghabiskan waktu-waktunya dipenjara dengan menulis, mengamati, berpikir serta tidak henti-hentinya memikirkan dan membayangkan apa yang sedang terjadi diluar rutan yang ia huni. Kesemuanya itu terhimpun dalam sebuah karya besar Aqqad yang berjudul “A`lamus Sudud wal Quyud” pada tahun 1937.

Gejolak politik Mesir saat itu tidak berbuahkan revolusi saja, namun sempat berakhir kepada konspirasi pemusnahan para tokoh-tokoh yang ada pada masa itu, termasuk Aqqad sendiri yaitu sekitar penghujung 40-an. Dimulai dari gejolak dialog sastra atau para pemikir yang berakhir kepada ring adu pemikiran dan sastra yang berhujung kepada percobaan pembunuhan. Dimana tragedi ini berulang kembali kepada Najeeb Mahfudz pada era 90-an.

Karena sebuah perseteruan tanpa barisan yang kecewa karena terkalahkan maupun yang dikalahkan sangat mustahil. Dimana tragedi tersebut sangat bertentangan sekali dengan etika dialog yang dianut oleh Islam sendiri, dimana Islam sendiri mengedepankan untuk selalu berbaik sangka dan tidak mengedepankan emosional buah pikir dalam sebuah sesi dialog.

Aqqad sendiri termasuk kedalam para perwira-perwira revolusi yang bersenjatakan pena, hal ini terlihat jelas dalam sebuah artikel panjang yang dipaparkannya tepat 2 bulan setelah pecahnya revolusi di Mesir pada tahun 1954 yang berbunyi: “sangat jelas sekali bahwa pemerintahan Farouq yang cukup panjang ini menyimpan hal-hal yang patut untuk dicurigai “. Dimana Aqqad menuai sebuah penghargaan yang amat bernilai yaitu “Al-Jaezah At-Taqdereyya” dari presiden Jamal A. Nasser yang berakhir kepada dialog empat mata antara dua tokoh besar ini pada tahun 1960.

D. Aqqad dan Abqareyyatnya

Aqqad mengungkapkan sebuah statement penting dalam pembahasan khalifah ke-3 yang bertuliskan: “kejadian-kejadian dan tragedi-tragedi akan selalu berulang dari setiap masa kemasa, walaupun kita dapat membayangkan perbedaan antara tragedi dan kejadian itu namun akan tetap ditemukan kesamaannya dari setiap waktu maupun tempat kejadian walau harus terpisahkan kurun waktu yang tidak singkat”. Aqqad memberikan istilah lain dalam serial para petinggi-petinggi dan rasul-rasul Allah pada masa kejayaan Islam, ia memberikan istilah taraajum. Tepat pada pembukaan tahun 1935 Aqqad hengkang dari dunia jurnalistik. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya dibelakang meja sibuk dengan karya-karyanya yang satu ini. Dari masa kecil hingga menjelang tutup usia, Aqqad tidak pernah berhenti membaca. Karena baginya dengan membaca ia dapat menarik jutaan dari milyaran kesimpulan yang tersimpan dalam ratusan buku yang telah ia baca.

Ia sendiri tidak pernah mencoba untuk membuat sebuah kreasi baru dalam dunia “buku”. Ia tetap memberikan “jembatan” bagi para pembaca karya-karyanya akan karya-karya klasik yang telah ada sebelumnya. Ibnu Rumi Hayatihi wa Sya`rihi, adalah salah satu “jembatan” tadi.

Dapat diseksamai bahwa sebenarnya Aqqad sendiri sangat menjunjung tinggi para guru-guru, tokoh-tokoh maupun rasul-rasul Allah SWT. Jikalau seseorang ingin menggambarkan wawasan yang dimiliki para pendahulu, maka buku tulis yang dimiliki para pelajar masa kini tidak akan mampu menghimpunnya.

Begitu banyak karya-karya yang dibuahkan oleh Aqqad dalam kurun waktu yang memang relatif singkat untuk umur seorang hamba. Dan juga tak sebanding dengan karya-karya para pakar ilmuwan ataupun sastra yang ada. Namun setidaknya jalan hidup yang dipenuhi dengan liku ini telah dilalui oleh Aqqad dengan penuh kesadaran yang nyata dan terencana.

Abqareyya Khalid, Abqareyyal Imam, Abqareyya Siddiq, Hayat Al-Masih, Amr ibn Ash, Beelal bin Rabbah, Hossain dan Ali, Imam Muhammad Abduh dan masih banyak lagi lainnya diantara karya-karya beliau yang tidak kami paparkan satu persatu dalam makalah ini.

E. Epilog

Tepat pada 12 Maret 1964 Aqqad menghembuskan nafasnya yang terakhir menghadap sang Khalik yang memang akan tetap adil dan akan tetap adil pada semua hambanya. 42 tahun sudah Aqqad meninggalkan kita secara jasad, namun secara karya serta tulisan-tulisan yang ia bumikan tetap setia menemani kita dibelakang meja.

“Maaf” adalah kata yang paling tepat dan tetap kami mintakan kepada seluruh pembaca artikel yang memang tak seberapa ini. Kami yakin dengan ribuan huruf ini kami tak mampu untuk menggambarkan siapakah sebenarnya Abbas Ibrahim Aga Al-Syarif Mahmud Al-Aqqad itu, apalagi dari segi sastra dan adab yang memang tidak kami paparkan, namun setidaknya kami sudah berusaha untuk mencari tahu tentang alur hidup seorang tokoh yang patut kita tauladani, baik itu melalui karya-karyanya maupun dari garis kritis gaya pemikiran yang dimilikinya.
Wallahu a`lamu bisshawab.


Read more! span.fullpost {display:none;}

30 August 2006

Sepucuk Surat Untukmu


Sepucuk Surat Untukmu

Vikar

Bersamamu segalanya menjadi indah
Menerawang tinggi di atas ubun-ubun
Memetik bintang pandangi indah rembulan
Menanti datangnya mentari

Kokok ayam umumkan pagi
Merah bibir langit tersungging manis
Mulaikan mimpi dalam mencari

Keindahan abadi adalah cita
Kudapatkan dalam cintamu yang suci
Bersamamu bergandengan tangan
Naiki tangga nada kehidupan
Sebelum lagu terdengar sumbang

Rekaman takdir bukanlah kunci
Yang menciutkan minat di kala sunyi
Niat di hati adalah pintu
Yang dapat dibuka jika ada kemauan
Semua telah terpampang rapih di depan mata
Mengapa menghindar sebelum mencoba
Jika cobaan masih dapat dihindari
Mengapa harus lari dari kenyataan
Jika kenyataan sendiri tak pernah bergerak dan berlari

Pintu belakang selalu terbuka
Jendela pun belum pasti terkunci
Karena Lamabang restu dan sayang selalu ada
Berkalungkan emas di dalam dada
Bermatakan satu kata kepastian
Yakinkan arah dalam meraih
Kuyakin cintamu tak akan pernah basi

Kecanduan akan cintamu adalah obat penawar sedih
Yang selalu datang mengintip
Berkunjung tanpa undangan tawakan kesendirianku
Kebijakan sadarkan besar arti kesendirian
Kutemukan padanya rasa kehilangan
Sadar siapa aku untukmu
Penting artimu bagiku

Sedetikpun tak pernah terlintas
Jauhmu akan lebih mendekatkan hati
Tersiksa oleh bayang-bayang kelabu
Goncangkan hari hingga tak menentu

Tanpamu hidup hanyalah kematian tanpa pemakaman
Tanpamu aku hanyalah bayi atau banci
Aku butuh dirimu dan cintamu
Di sisiku selalu bersama
Coz I do Love U Hon…..


Read more! span.fullpost {display:none;}

22 August 2006

Hajar Jahannam

Hajar Jahannam
vikar

Hajar Jahannam atau Hajar Jannah atau sekarang populer di Athar-athar (penjual ramuan obat tradisionil) di Saudi Arabia dengan Hajar Barakah, kesemuanya adalah satu nama yang sering digunakan untuk menarik perhatian pembeli agar tertarik dan ingin mencobanya. Padahal asalnya bukanlah batu melainkan semacam getah yang diambil dari pohon tertentu yang konon kabarnya pohon tersebut hanya tumbuh di Mesir dan di India.

Getah tersebut digunakan untuk menagkal terjadinya Ejakulasi prematur atau ejakulasi dini ketika suami atau pria terlalu cepat berejakulasi (cairan sperma terlalu cepat keluar pada saat hubungan seksual), membuat istri atau pasangan mereka menderita. Dimana fungsi hajar Jahannam itu dapat menjadikan kulit penis menjadi bebal atau kebal dan mengurangi tingkat sensitivitas kulit penis di saat mondar-mandir di dalam vagina. Cara penggunaannya yaitu dengan melarutkannya dengan air hangat kemudian mengoleskan sedikit dari getah tersebut ke bagian bawah penis selama 15 menit dan setelah itu mencucinya hingga bersih sebelum melakukan hubungan intim.

Obat ini akan banyak dijumpai pada saat Musim Haji yang kebanyakan dibawa langsung oleh mahasiswa Mesir baik yang akan bertugas sebagai petugas musim maupun yang akan menunaikan ibadah haji. Tidak heran jika setiap kali penataran petugas TEMUS (tenaga musim haji), mahasiswa Indonesia yang berasal dari mesir akan sering dikhotbah dan disindir mengenai akhlakul karimah dan berdagang hajar jahannam. Namun sebagai masukan, kiranya perlu diingat bahwa mahasiswa berbuat demikian karena mempunyai alasan yang sangat masuk akal dan sangat mudah untuk ditolerir, karena semua orang pernah merasakan bagaimana menjadi mahasiswa, apalagi jika status mahasiswa yang tidak berbea-siswa, tentunya akan mencari sampingan sebagai tambahan dalam memenuhi kebutuhan. Selama hal itu tidaklah menggangu jam kerja, wajar-wajar saja untuk ditolerirkan.

Mengingat banyaknya peminat dan permintaan dari jamaah haji itu sendiri, maupun yang bukan (mukimin) kiranya hajar jahannam itu menjadi barang yang langka dan sangat laku untuk dipasarkan. Cara pemasarannya pun berbeda-beda, ada yang memasarkannya sendiri-sendiri, ada pula yang disalurkan oleh orang lain ataupun dijual langsung ke toko-toko obat, ataupun jamaah haji itu sendiri yang secara malu-malu dan sembunyi-sembunyi menanyakannya.

Ternyata masalah Ejakulasi prematur atau ejakulasi dini adalah masalah yang sangat urgen dalam perkawinan, sehingga saya berkesimpulan bahwa dengan menjual hajar jahannam adalah membantu pembeli dalam mengatasi masalah rumah-tangganya karena problem ini dipercaya menjadi alasan utama para pria membeli obat-obatan pengurang kepekaan kulit penis, yang dianggap terlalu sensitif. Di sisi lain, para pria pun menyadari, gangguan ejakulasi dini membuat istri atau pasangan mereka menderita. Terlepas dari ketidak-tahuan mereka bahwa penyebab ejakulasi dini adalah ketegangan jiwa. Setiap kali melakukan hubungan seksual, jiwa selalu tegang, sehingga saat hubungan itu berjalan, saat kenikmatan di penis mulai terasa, kantong cairan sperma (vesicula seminalis) langsung memompa, sehingga terjadilah ejakulasi.

Sayangnya, hampir semua penderita tidak mengenali atau menyadari ketegangan jiwa itu. Yang dirasakan ialah kenikmatan yang tinggi di kulit penis saat bersentuhan dengan vagina. Sehingga terpatri di pikiran, ejakulasi prematur yang mereka alami disebabkan oleh kulit penis yang terlalu sensitif. Tak heran kalau solusi awal yang muncul dalam benak para suami adalah bagaimana mengurangi sensitivitas kulit.

Padahal Hajar Jahannam atau Hajar Jannah dan Hajar barakah itu sama halnya dengan obat golongan procaine, yakni lidocaine atau xylocaine dalam bentuk cream (zalf) atau spray (semprot). Ketika melakukan kontak seksual, penis mengalami ereksi. Nah, saat ereksi itulah, kulit penis diolesi dengan obat. Buat yang tak suka model oles, tersedia juga obat semprot. Sesudah diolesi atau disemprot, hanya dalam hitungan detik, tingkat sensitivitas kulit penis sudah jauh berkurang. Jadi, walaupun penis bergesek-gesek di dalam vagina, ejakulasi menjadi lebih lama dari biasanya. Dengan lamanya ejakulasi itu diharapkan, istri ikut merasakan orgasme.

Karena digunakan di luar tubuh, keamanan obat-obat jenis ini biasanya cukup baik, Artinya, hampir tidak ada resiko berat yang harus ditanggung si pemakai. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

Pertama: Saat menggunakan obat-obatan jenis ini, “senjata” pria menjadi kurang peka. Ketika diraba dan dirangsang oleh istri, rasanya tidak akan sama seperti sebelum diolesi obat. Saat penis di dalam vagina pun, kenikmatan yang dirasakan pria ikut berkurang. Dengan kata lain, obat oles dan obat semprot berpotensi mengurangi kenikmatan dalam berhubungan seksual.

Kedua: Pemakaian obat oles mengandung resiko pada pria berusia 30 tahun ke atas. Mengapa? Pada usia itu, kenikmatan seks di kulit penis justru sangat dibutuhkan untuk membuat penis tetap “hidup” alias ereksi. Tanpa kenikmatan yang langsung dirasakan oleh penis, ereksi akan menurun. “Pistol” pun akan memble. Bila nekat dengan tetap memakai obat oles atau spray, maupun hajar jahannam, lama-kelamaan akan menyebabkan disfungsi ereksi.

Olehnya itu sadarlah sebelum membeli, artinya perhatikan umur sendiri sebelum menggunakan obat-obat tersebut, lain halnya dengan anak muda. Agar kelak tidak hanya mencemooh orang yang menjual hajar jahannam, karena yang mereka dagangkan adalah permintaan terbesar dan selalu dicari-cari oleh konsumen untuk tetap mantap “pistolnya” dan mahasiswa-mahasiswa yang menjualnya pun mencari tambahan agar tetap mantap kuliahnya.


Read more! span.fullpost {display:none;}

Kelelawar Cairo

Kelelawar Cairo
Fikar

Sebagian besar pelajar dan mahasiswa Indonesia-Cairo menjadikan “Begadang” sebagai pola hidup bahkan tabiat sehari-hari yang terkesan negatif. Namun jika dicermati dengan sedikit lebih seksama terhadap Nash yang ada, iklim dan situasi setempat, ternyata hal itu dapat dikatakan sebagai hal yang wajar-wajar saja bahkan sangat bermanfaat. itu semua kembali pada permasalahan Tahajjud, ‘Urf maupun dari segi kedokterannya.

Meskipun dalam Al-Quran dengan jelas telah menyatakan bahwa Allah menjadikan siang hari sebagai kesempatan berusaha memenuhi kebutuhan hidup, dan menjadikan malam sebagai tempat beristirahat, mengingat dalam satu hari, jantung kita berdetak sebanyak 100.000 kali, darah kita mengalir melalui 17 juta mil arteri, urat darah halus dan juga pembuluh-pembuluh darah. Tanpa kita sadari rata-rata sehari kita berbicara 4.000 kata, bernafas sebanyak 20.000 kali, menggerakkan otot-otot besar sebanyak 750 kali, dan mengopersikan 14 milyar sel otak. Sehingga pantaslah bagi manusia istirahat, dan tidur adalah istirahat yang sangat baik menurut ilmu kesehatan. Namun ada sebagian Nash pun dalam Al-Quran yang dapat dikatakan kontraversi dengan ayat tadi, misalnya “Wa min al-lail fatahajjad bih”, dan juga pada surat al-Muzzammil, ayat:6-7, berbunyi: “Sesungguhnya bangun di waktu malam, dia lebih berat dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya bagimu di siang hari kesibukan yang panjang.” . Kesemuanya itu menunjukkan anjuran menyibukkan diri untuk mengingat Tuhan di waktu malam pada saat orang lain sedang terlena bersama mimpi.

Makna “tahajud” yang berarti salat malam setelah bangun dari tidur, memang seakan-akan salat tahajud itu menyaratkan tidur lebih dulu. Kalau belum tidur maka salat itu tidak disebut salat tahajud, namun disebut shalat “qiyamullail” (shalat malam). Kata tahajjud dipahami oleh al-Biqai dalam arti tinggalkan tidur untuk melakukan shalat. Shalat ini juga dinamakan Shalat Lail/Shalat Malam, karena ia dilaksanakan di waktu malam yang sama dengan waktu tidur. Dianjurkannya karena tengah malam adalah saat mustajabah untuk memanjatkan doa. Tengah malah adalah saat yang tenang, kebanyakan orang pada pulas tidur, namun para malaikat turun ke bumi untuk mendengarkan keluhan dan jeritan hati manusia yang kemudian disampaikan kepada Allah.

Naifnya, Para dokter di National Taiwan Hospital baru-baru ini mengejutkan dunia kedokteran karena ditemukannya kasus seorang dokter muda berusia 37 tahun yang selama ini sangat mempercayai hasil pemeriksaan fungsi hati (GOT, GPT), tetapi ternyata saat menjelang Hari Raya Imlek diketahui positif menderita kanker hati sepanjang 10 cm! Selama ini hampir semua orang sangat bergantung pada hasil indeks pemeriksaan fungsi hati (Liver Function Index). Dimana mereka menyebutkan bahwa penyebab utamanya adalah Tidur terlalu malam (begadang) dan bangun terlalu siang adalah penyebab paling utama. sedangkan beberapa faktor lainya seperti, Terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan, Terlalu banyak mengkonsumsi bahan pengawet, zat tambahan, zat pewarna, Pemanis buatan. Pola makan yang terlalu berlebihan, dan Tidak makan (sarapan) di pagi hari. Adalah faktor pendukung kangker hati.

Benarlah jika DR. Muhammad Soleh, dosen IAIN Surabaya, telah mampu membantah pandangan tersebut melalui desertasi yang ia pertahankan sehingga mendapatkan gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, dengan judul “Pengaruh shalat Tahajjud terhadap peningkatan perubahan respon ketahanan tubuh imunologik: Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologi”, menyimpulkan jika Anda melakukan shalat tahajjud secara rutin, ikhlas dan khusyu’ niscaya Anda akan terbebas dari penyakit infeksi dan kanker.

Ada orang yang selalu bangun pagi. Pukul enam pagi mereka sudah tidak betah lagi berada di tempat tidur. Dan begitu bangun mereka mampu bekerja dengan penuh konsentrasi. Tetapi, ada juga orang yang selalu begadang. Mereka secara naluri tidak dapat tidur sebelum larut malam. Kalau bangun terlalu pagi, mereka cepat marah dan tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja. Apa yang menyebabkan perbedaan itu? Masalahnya: setiap orang memiliki jam biologis atau mekanisme pengaturan waktu internal dalam tubuh yang bekerja secara otomatis.

Jam ini sudah terprogram secara genetis dan menentukan kapan waktunya kita bangun dan kapan kita tidur. Dalam Forum Ilmu Pengetahuan „Euroscience Open Forum“ ESOF di München, Jerman, para peneliti mendiskusikan pengetahuan aktual yang hasilnya terutama dapat membuat orang yang suka tidur lama, merasa senang.

Till Roenneberg adalah professor di Institut Psikologi Kedokteran Universitas München. Ia peneliti soal jam biologis.

Till Roenneberg: “Jam internal itu seperti jam betulan. Kenapa kita memerlukan sebuah jam? Karena kita ingin tahu kapan kita harus berangkat, supaya misalnya tidak ketinggalan kereta api. Jam internal atau jam biologis mempunyai fungsi yang sama. Jam itu ingin mengetahui: Apakah saya sekarang harus meningkatkan temperatur atau hormon supaya saya bisa bangun dalam waktu dua jam nanti”.

Jam internal yang dibicarakannya itu adalah reaksi proses evolusi terhadap pergantian dari malam ke siang hari. Jam itu terprogram dalam gen dan mengatur kapan kita bangun dan kapan kita tidur. Dan setiap orang memiliki jam biologis tersendiri yang berbeda satu sama lain. Tetapi jam biologis tidak selalu sama berdetak. Ini tergantung dengan umur.

Anak kecil biasanya bangun pagi sekali. Orang tuanya acap kali kerepotan oleh karena itu. Kemudian mereka tumbuh besar dan jam biologisnya semakin bergeser ke belakang dan pada usia remaja, pergerseran ini mencapai titiknya yang terakhir. Mulai usia 20 tahun jam itu kembali berangsur-angsur bergerak ke depan lagi. Ini berarti: kaum remaja dapat diibaratkan seperti burung hantu dan pensiunan sebagai burung Lerche. Namun untuk semuanya yang berlaku adalah: Jika hidup melawan jam biologis, misalnya karena setiap harinya bangun jam enam pagi karena wekernya berdering, maka badan akan mengalami stress. Para pakar seperti Till Roenneberg menyebut gejala tersebut “social jetlag“. yang disebabkan oleh hormon kortisol yang merupakan salah satu hormon stres. Kadar hormon ini semakin meninggi ketika kita dalam keadaan stres. Dengan kadar hormon yang meninggi kita lebih mudah berbuat salah, sulit berkonsentrasi dan daya ingat kita kurang baik. Hormon ini oleh pakar kesehatan dijadikan tolak ukur untuk tingkat/derajat stres seseorang.

Makin stres seseorang maka hormon kortisol semakin meninggi dalam darahnya yang akan menyebabkan ketuaan dan keriputan pada wajah. Hormon kortisol memiliki kadar tertinggi di waktu tengah malam hingga di waktu pagi, terutama pagi-pagi sekali (normal di pagi hari berkisar 38-690 nmol/liter, sedangkan malam-nya 69-345 nmol/liter).

Jika kembali melirik “Fiqh Realita” kita akan dapati imam Al-Suyuthy, seorang pakar hukum dari mazhab Syafi’i. Ia menggambarkan seorang mufti sebagai berikut:”Kedudukan seorang mufti ibarat kedudukan seorang dokter, ia seharusnya menangani kasus dan memberi keputusan sesuai kecenderungan kondisi, person dan zaman. Mufti adalah dokter agama dan ia adalah dokter tubuh.[Jadaliyyat al-khithab wa al-Waqi:235].

Imam al-Qarafi (626-684 H) salah seorang pembaharu pada zamannya dan ahli hukum dari mazhab Maliki berkata:”Pertimbangkanlah tradisi (’Urf) yang masih berlaku dalam suatu masyarakat, dan janganlah melirik pada tradisi yang sudah tidak berlaku. Janganlah membelenggu diri pada karangan dan karya-karya ulama terdahulu seumur hidupmu. Jikalau datang seseorang kepadamu meminta fatwa dari daerah lain bukan daerah dimana kamu hidup, janganlah memperlakukannya seperti orang yang berasal dari daerahmu tapi tanyakanlah tradisi daerahnya lalu beri fatwa berdasarkan tradisi itu, bukan berdasarkan apa yang tertulis di dalam buku. Itulah kebenaran yang jelas, dan kemutlakan memberi fatwa berdasarkan apa yang tertulis dalam buku-buku adalah kesesatan dalam agama, dan itu berarti tidak memahami maksud para ulama islam dan ulama salaf terdahulu.[Al-Furuq, vol I:314].

Kesemuanya menunjukkan bahwa untuk menghakimi suatu perkara tidak terlepas dari kebiasaan yang terjadi di suatu daerah, sehingga kita tidak dapat memvonis bahwa begadang adalah suatu tabiat yang buruk, karena penilaiannya pun harus kembali kepada beberapa faktor dan sudut pandang yang berbeda yang dapat dijadikan sebagai bahan pertanyaan dalam menjawab masalah tersebut, yaitu: Mengapa harus begadang? untuk apa begadang? dan mengapa sebagaian besar mahasiswa Indonesia - Cairo menjadikannya sebagai kebiasaan? Untuk menjawab semua pertanyaan ini akan kembali kepada iklim dan situasi yang ada di Mesir sebagai faktor pendukung yang dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Musim dingin yang mencapai 8% cc bahkan sampai 3%cc memaksa untuk tetap bertahan dan betah di dalam selimut ataupun musim panas yang mencapai 43% cc bahkan lebih yang memaksa untuk tetap bernaung di apartmen masing-masing dan membuat malas untuk menghirup udara luar.

2. System perkuliahan di Universitas Al-Azhar yang kurang mementingkan absensi siswa, berbeda halnya dengan sistem yang ada di Indonesia yang mana absensi siswa dijadikan sebagai nilai plus dalam kelulusan dan sebagainya.

3. Adat dan kondisi yang berlangsung di Mesir, dimana toko-toko, mall, restaurant dan sebagainya dibuka setelah jam 12 siang, perkantoran dan sekolah dimulai jam 9 atau jam 10 pagi. Atau dapat dikatakan bahwa aktivitas masyarakatnya lebih ramai pada malam hari dibanding siang bolong.

4. Begadang telah menjadi suatu kebiasaan, sehingga bangun di pagi hari adalah penyebab suntuk bahkan stress, karena bingung mau ke mana apabila tidak ada urusan.

Dan masih banyak lagi faktor yang mendukung terbolak-baliknya pola kehidupan yang berlangsung di Mesir, sehingga hal tersebut jika dikaitkan dengan semua uraian yang ada di atas, baik yang berhubungan dengan masalah Tahajjud, kedokteran maupun ‘urf, jelaslah bahwa hal itu bukanlah kebiasaan buruk melainkan sebaliknya, meskipun hanya segelintir saja yang begadang demi Qiyamullail. Jika dikaitkan dengan pendapat Till Roenneberg akan terlihat sedikit benarnya melalaui raut wajah mahasiswa Indonesia-Cairo meskipun umurnya tua namun wajahnya nampak muda disebabkan oleh berkurangnya tekanan hormon kortisol pemicu kesetresan. Wallahu a’lam.


Read more! span.fullpost {display:none;}

17 August 2006

Obat Mata yang Paling Ampuh

Obat Mata yang Paling Ampuh
Vikar

Mata merupakan salah satu indera vital bagi manusia, dengannya kita dapat melihat dengan jelas mana yang lebih baik dari yang buruk, tanpanya kita akan merasakan ketidak-sempurnaan sebagai manusia, dan salah dalam menggunakannya akan membuat kita melihat dalam kebutaan.

Secara phisikologis dan sufis (mistis), seseorang dapat dinilai melalui matanya, karena mata adalah pancaran dan cerminan dari apa-apa yang ada di dalam hati, meskipun mulut dapat berkata lain namun mata tetap tidak dapat menyembunyikan dan menutupinya. Dalam kedokteran pun tidak heran jika kita akan jumpai seorang dokter yang memeriksa penyakit pasiennya melalui mata.

Berkembang pesatnya peradaban manusia akan membuat mata mudah terjangkiti oleh virus-virus peradaban yang mengakibatkan kerusakan atau kaburnya penglihatan dan sebagainya, meskipun secara dzahirnya terlihat baik, sehat dan kedua mata masih berfungsi normal, akan tetapi secara batiniahnya adalah layu dan tidak sehat. Saya menyadari, sebagian besar orang belum mengetahuinya, ada baiknya saya tuliskan sedikit mengenai obat ampuh yang dapat menangkal virus-virus tersebut yang mana telah dipraktekkan oleh ulama salaf terdahulu dan hasilnyapun telah terlihat jelas pada mata mereka.

Di sebuah mesjid, ketika muadzzin mengumandangkan azan, sampailah ia pada dua kalimat syahadat atas kerisalahan Nabi Muhammad SAW. Pada saat syahadat yang pertama dilantumkan, saya membaca “Shallallahu ‘alaika ya Rasulallah”, dan pada syahadat yang kedua, saya mencium kedua ujung ibu jari dan mengusapkannya ke mata sambil berucap “Qurrat ‘aini bika ya rasulallah Allahumma matti’ni bi as-sam’i wa al-bashari, Allahummah Fadz ‘ainay wa nurhima”. Jamaah yang hadir di saat melihat perbuatan tersebut bertanya dan berdebat bahkan ada yang mengatakan bid’ah.

Setelah selesai shalat berjamaah, semakin ribut dan ramai orang bertanya serta berdebat. Secara singkat saya hanya menjawab “Itulah obat yang paling ampuh untuk menjaga mata dan melindunginya dari segala macam bentuk penyakit mata”, orang yang minus pada matanya pun dapat menggunakan untuk mengurangi keminusan bahkan menyembuhkannya jika diamalkan secara berkesinambungan, dan orang-orang yang mempraktekkannya akan lebih jelas melihat jalan yang terang dan benar, terpancar pada kedua matanya ketajaman yang tidak dapat dinilai dan bahkan dapat menundukkan pandangan orang lain.

Sebagian ulama mengatakan bahwa hal ini adalah bid’ah. Sebagaimana dalam kitab “Talkhish al-Maqashid al-Hasanah” oleh Az-Zarqani bahwa Hafid al-’Arafi berkata jika hal ini tidak mempunyai dasar hukumnya dan diada-ada oleh Sufyan bin Uyainah. Ulama-ulama Wahhabi pun dengan tegas menyatakan bahwa hal ini adalah bid’ah.

Maslah ini sebenarnya telah disebutkan oleh ulama-ulama salafu salihin, seperti Al-’Alamah as-Sanwani dalam penjelasannya terhadap kitab “Mukhtashar Shahih al-Bukhari” oleh Ibnu Abi Hamzah. Juga seperti al-Faqih ad-Dilzali dalam kitab “Mujarrabat”nya, yang mengatakan bahwa sebagian besar ulama-ulama terdahulu telah mempraktekkannya yang menunjukkan sebagai qudwah bagi orang lain.

Syekh Daud al-Baghdadi menyebutkan dalam risalahnya bahwa saya tidak pernah mendapatkan hadis-hadis yang menunjukkan atas masalah ini, akan tetapi bisa jadi bersumber dari perkataan Rasulullah SAW:”Akan turun rahmat yang berlimpah di saat menyebutkan nama-nama orang shaleh”. Hal serupa juga dikemukakan oleh Ibnu Jauzi, Hafidz ibnu Hajar dari Imam Ahmad, juga oleh imam Suyuti dalam kitabnya “Al-Jami’ as-Sahghir”.

Diriwayatkan dari Ibnu Jawzi dati Sufyan bin Uyainah bahwa pada saat menyebutkan nama orang-orang shaleh akan bercucuran rahmat. Demikian juga yang dikemukakan oleh Syekh Daud al-Baghdadi. Tidak dapat dipungkiri bahwa Nabi Muhammad SAW adalah orang yang shaleh dan tiada keraguan akan turunnya rahmat yang berlimpah pada saat menyebutkan namanya, sehingga berdoa pada saat turunnya rahmat adalah mustajab dan orang yang mendengar serta berucap “Qurrat ‘aini bika ya Rasulallah” adalah doa terjaganya mata serta akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Maka tidak ada larangan padanya.

Ulama Hanafiah, seperti Thahthawi, menukilkan dalam penjelasannya terhadap kitab “Maraqi al-Falah” oleh Qahastani dari kitab “Kunz al-’Ibad fi fadhail al-Ghazw wa al-jihad” oleh abu al-Qasim bin Iqal berkata:”Disunnahkan pada saat mendengar syahadatain atas Rasul untuk mengucapkan Shallallahu ‘alaika ya Rasulallah pada syahadat pertama dan mengucapkan Qurrat ‘aini bika ya rasulallah allahuma matti’ni bi as-sam’i wa al-bashari pada saat mendengar syahadat yang kedua setelah mencium kedua ujung ibu jari sambil mengusapkannya ke mata, maka Rasulullah SAW akan menjadi penunjuk jalan baginya untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat”.

Dalam Hasyiyah al-Baidhawi dari syekh Abu al-Wafa berkata:”Saya telah mendapatkan dalam beberapa fatwa bahwasanya Abu Bakar As-shiddiq ra mendengar azan, pada saat muazzin sampai pada ucapan dua kalimat syahadat atas Nabi, ia mencium kedua ujung ibu jarinya dan mengusapkannya di kedua matanya, kemudian yang melihat perbuatan Abu Bakar tadi bertanya kepadanya:”Mengapa engkau melakukan yang demikian ya Aba Bakar?”, ia menjawab:”Saya bertabarruk dengan kemuliaan namamu ya rasul”, kemudian Rasulullah berkata:”Kamu benar, dan barangsiapa yang melakukan hal tersebut ia akan selamat dari kerabunan dan terjaga di sisiku jika ia mengucapkan “Allahummah Fadz ‘Ainay wa nurhima”, Ya Allah jagalah kedua mataku dan cahayanya. Hal serupa disebutkan oleh Ad-Dilimi dalam kitabnya “Al-Firdaus” mengenai hadis Abu Bakar ra tadi, dan juga disebutkan oleh at-Thahthawi dalam kitabnya “Al-Fadhail”. Hal serupa pun akan dijumpai dalam Hawasyi al-’Alamah as-sayyid Muhammad bin Abidin dalam “Ala ad-Dar”, malah ia mensunahkannya. Dengan demikian menunjukkan bahwa tidak ada larangan padanya dan tidak dapat dikatakan sebagai bid’ah.

Sebagian ulama mengkhususkannya hanya pada azan tanpa Qamat sebagaimana penjelasan al-Qahastani pada catatan kaki bukunya, dan sebagian yang lain membolehkannya bukan saja pada azan melainkan pada setiap mendengar ucapan dua kalimat syahadat atas Nabi, bahkan pada saat mendengarkan namanya.

Dari semua urain di atas, jelaslah apa yang dibutuhkan oleh mata agar terhindar dari segala macam bentuk virus peradaban dan obat yang ampuh untuk menyembuhkan kerabuan pada mata dan sebagainya. Karena hidup di zaman modern, mata tidak akan terhindar dari melihat apa-apa yang tidak patut untuk dilihat. Olehnya itu jagalah mata dan melindunginya seperti apa yang telah dikemukakan di atas. Wallahu a’lam bisshawab.


Read more! span.fullpost {display:none;}

09 August 2006

Antara Da'wah dan Kekerasan

Antara Dakwah dan Kekerasan
fikar

Keberhasilan tersebarnya islam ke seantero dunia tidak lain adalah karena adanya dakwah yang dilakukan oleh Rasul serta Tabi', tabi'in dan seterusnya. Telah tercatat dalam sejarah bahwa kelemahlembutan adalah faktor utama mudah diterimanya islam di hati para penghuni dunia, bukan dengan pedang atau kekerasan.

Hal ini dapat dilihat, Ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya menguasai kembali kota Makkah (Fath Makkah) setelah berhijrah ke kota Madinah selama kurang lebih sembilan tahun, dan pada saat itu kaum musyrikin Makkah sudah tidak memiliki kekuatan apa pun untuk melawannya (padahal dahulunya ketika mereka berkuasa, sangat kejam terhadap Rasulullah dan para sahabatnya), beliau tetap memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada mereka untuk tetap menjadi kafir atau menjadi Muslim. Beliau bersabda: "Kalian bebas merdeka di muka bumi ini, tidak ada kedengkian dan hasud di antara kita."

Tetapi apa yang terjadi? Ternyata dengan kebesaran jiwa beliau tersebut yang merupakan refleksi dan manifestasi dari ketinggian ajaran Islam, mereka semuanya secara sadar dan sukarela mengucapkan dua kalimat syahadat dan menerima Islam sebagai agamanya. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam QS An-Nsahr:1-3 : "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhan-Mu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha penerima taubat".

Dari pengalaman keberhasilan syiar islam yang banyak tercatat dalam sejarah tidak lain sebagai pedoman dan metode yang patut dicontek guna meraih kembali keberhasilan tersebut. Untuk itu ada baiknya ditinjau kembali metode-metode dakwah dan tetekbengeknya yang telah ditawarkan oleh islam dalam menunjang keberhasilan dakwah dan juga da'i.

Makna Dakwah

Kata "Dakwah" berasal dari kata "Da'a-yad'u" yang berarti memanggil, menyeru, mengajak atau berdoa. Namun pengertian umum dakwah yang dimaksud di sini adalah panggilan, seruan atau ajakan untuk menyeru manusia mengakui kebesaran Allah Yang Maha Kuasa serta perlunya manusia hidup berlandaskan peraturan yang ditetapkan berlandaskan al-Quran dan as-Sunnah. Hal ini adalah inti pati dakwah bagi membina manusia yang bertakwa kepada Allah dalam arti kata yang sebenarnya dan seluas-luasnya.

Hukum Dakwah

Rasul-rasul tidaklah diutus melainkan dengan tugas-tugas mulia dan Allah mengamanahkan mereka supaya melaksanakan da'wah. Di dalam surah an-Nahl :36, Allah berfirman :"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus bagi setiap umat seorang Rasul yang menyeru: Sembahlah Allah serta jauhilah thaghut."

Barang siapa yang melaksanakan tugas dakwah maka ia akan mendapat pujian dari Allah berdasarkan firman-Nya dalam surah Fusshilat : 33 :"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada mereka yang menyeru manusia ke jalan Allah, beramal shalih dan berkata: aku adalah dari kalangan orang-orang yang berserah diri (Muslim)."

Berhubung dengan ayat ini as-Syeikh Said Hawwa di dalam al-Asas Fi at-Tafsir berkata:"Termasuk di dalam golongan ini adalah semua penyeru dan da'i di jalan Allah. Dan menurut Ibnu Katsir, orang yang tidak mengerjakan yang ma'ruf tidak termasuk dalam golongan yang mengajak kepada yang ma'ruf dan juga tidak termasuk dalam golongan mereka yang mencegah kemungkaran "

Oleh kerana dakwah adalah tugas yang mulia dan penting, Allah memerintahkan umat Islam melaksanakannya. Sebagaimana dalam surah Al Imran :110, Allah berfirman:"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada ma'ruf, dan mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah."

Di dalam kitab Usul ad-Da'wah, Dr. Abdul Karim Zaidan berpendapat ayat ini mempunyai dua penekanan. Pertama, Allah menjelaskan kebaikan umat ini dan kedua, kebaikan umat ini berhubungan erat dengan pelaksanaan amar ma'ruf dan nahi munkar. Berkaitan dengan ayat yang sama di dalam kitab Dalilul Falihin disebutkan:"Barang siapa menepati sifat-sifat yang disebutkan dalam ayat ini, dia tergolong dalam golongan umat terbaik."

Tidak ada kemuliaan bagi mereka yang mengabaikan amar ma'ruf serta nahi munkar. Ma'ruf adalah segala yang baik mengikut pandangan syara' dan akal, sedangkan mungkar adalah hal-hal yang berlawanan dengan segala yang ma'ruf. Sebagai contoh, meninggalkan amalan fardhu atau pun melakukan perbuatan haram, baik berbentuk dosa kecil atau pun dosa besar.

Nabi SAW bersabda:"Barangsiapa antara kamu yang melihat kemungkaran hendaklah merubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu hendaklah merubahnya dengan kata-kata dan jika tidak berdaya hendaklah dicegah dengan hatinya, dan mencegah dengan hati adalah selemah-lemahnya iman." (HR Imam Muslim).

Berhubung dengan mencegah kemungkaran, kadar minimum yang dituntut adalah mengingkarinya dengan hati. Di dalam kitab Dalil al-Falihin disebutkan:"Mencegah kemungkaran dengan hati bermaksud membencinya dengan hati disertai dengan niat untuk mencegahnya dengan lisan atau pun perbuatan apabila dia mampu. Membenci maksiat dengan hati hukumnya adalah wajib atas setiap individu dan barang siapa yang menyetujui suatu kemungkaran berarti dia bersekongkol dengannya." . Karena Iman memerlukan bukti dan salah satu buktinya adalah membenci maksiat. Tanpanya, iman akan hilang bahkan mati dalam hati seseorang. Sebagaimana sabda Nabi :"(Jika hati seseorang tidak membenci kemungkaran), tidak ada setelah itu iman walaupun sebesar biji sawi."(Bukhari, MUslim)

Secara dasarnya, hukum berdakwah dengan lisan dan tangan adalah wajib kecuali dalam situasi tertentu. Di dalam kitab Dalilul Falihin disebutkan:"Apabila dikuatirkan harta benda dan diri seseorang akan ditimpa kebinasaan, haruslah bagi seseorang itu sekedar melawan dengan hatinya saja. Jika kekhawatiran ini tidak ada, dia diwajibkan berdakwah, walaupun dia belum mengamalkan apa yang diserukannya atau pun dia menyadari seruannya tidak akan diterima."

Sehubungan dengan ini, Imam Ghazali di dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskankan empat keadaan yang mungkin ditempuh oleh para da'i.

1. Tidak wajib berdakwah

Seorang da'i menyadari da'wahnya tidak akan mendatangkan manfaat dan berkemungkinan dia akan dipukul atau dibunuh. Dalam keadaan seperti ini, tidak wajib baginya melaksanakan dakwah.

2. Wajib berdakwah

Seorang da'i menyadari dakwahnya dapat menyebabkan kemungkaran tersebut tercegah dan tidak ada seorang pun yang berani melakukan tindak kejam atasnya. Dalam suasana seperti ini, dia wajib melaksanakan dakwah.

3. Sunah berdakwah

a. Jika da'i menyadari dakwahnya tidak akan mendatangkan kesan positif dan dia sanggup memikul segala macam bentuk resiko yang mungkin menimpa atas dirinya. Dalam situasi seperti ini, dia disunahkan menyampaikan dakwah tetapi tidak diwajibkan atasnya.

b. Jika da'i menyadari dakwahnya akan memudharatkan dirinya tetapi jika dilakukan juga ia dapat mencegah kebathilan yang sedang melanda. Dalam keadaan seperti ini, dakwah disunahkan atasnya.

Metode Dakwah Dalam Islam

Dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya kehidupan umat Islam, telah diketahui bahwa dakwah mempunyai kedudukan yang amat penting. Dengan dakwah, dapat disampaikan serta dijelaskan mengenai ajaran Islam kepada masyarakat dan umat sehingga mereka dapat mengetahui mana yang benar (haq) atau salah (batil).Peranan dakwah bukan hanya sebatas agar umat dapat mengetahui dan membedakan tetapi dakwah juga dapat mempengaruhi masyarakat untuk menyukai hal-hal yang baik serta dapat menjauhi apa saja yang tidak benar yang terjadi dalam masyarakat. Sekiranya ini dapat diwujudkan dalam masyarakat Islam, sudah tentu hasrat kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat dapat dicapai.

Metode dakwah telah dirincikan dalam Al-Quran. Allah SWT berfirman:"Serulah mereka ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu adalah Yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. ( an-Nahl : 125).

Para pakar tafsir berbeda pendapat mengenai asbab an-nuzul (latar belakang turunnya) ayat ini. Al-Wahidi menerangkan bahwa ayat ini turun setelah Rasulullah SAW menyaksikan jenazah 70 sahabat yang syahid dalam Perang Uhud, termasuk Hamzah, paman Rasulullah .

Al-Qurthubi menyatakan bahawa ayat ini turun di Makkah ketika adanya perintah kepada Rasulullah SAW untuk melakukan gencatan senjata (muhâdanah) dengan pihak Quraisy. Akan tetapi, As-Suyuthi tidak menjelaskan adanya riwayat yang menjadi asbab an-nuzûl ayat tersebut.

Meskipun demikian, ayat ini tetap berlaku umum untuk sasaran dakwah siapa saja, Muslim maupun kafir, dan tidak hanya berlaku khusus sesuai dengan asbabul nuzûl-nya (andaikata ada asbab an-nuzûl-nya). Sebab, ungkapan yang ada memberikan pengertian umum, setelah kalimat ud'u (serulah) tidak disebutkan siapa objek (maf'ull bih)nya. Ini adalah uslub (gaya pengungkapan) bahasa Arab yang memberikan pengertian umum (li at-ta'mîm).

Dari segi siapa yang berdakwah, ayat ini juga berlaku umum. Meski ayat ini adalah perintah Allah kepada Rasulullah, perintah ini juga berlaku untuk umat Islam.

Ayat di atas menerangkan tiga metode (thariqah) dakwah, yakni cara mengembangkan dakwah dalam menyerukan Islam kepada manusia. Ada cara yang berbeda untuk sasaran dakwah yang berbeda.

1. Dengan hikmah, maksudnya dengan dalil (burhan) atau hujjah yang jelas (qath'i ataupun zhanni) sehingga menunjukkan kebenaran dan menghilangkan kesamaran. Cara ini ditujukan kepada mereka yang ingin mengetahui hakikat kebenaran yang sesungguhnya, yakni mereka yang memiliki kemampuan berpikir yang tinggi atau sempurna, seperti para ulama, pemikir, dan cendekiawan.

2. Dengan maw'izhah hasanah, yaitu peringatan yang baik yang dapat menyentuh akal dan hati (perasaan). Misalnya, dengan menyampaikan aspek targhîb (memberi dorongan/pujian) dan tarhîb (memberi peringatan/celaan) ketika menyampaikan hujjah. Cara ini tertuju kepada masyarakat secara umum. Mereka adalah orang-orang yang taraf berpikirnya di bawah golongan yang diseru dengan hikmah, namun masih dapat berpikir dengan baik dan mempunyai fitrah dan kecenderungan yang lurus.

3. Dengan jadal (jidal atau mujadalah) billati hiya ahsan, yaitu debat yang paling baik. Dari segi cara penyampaian, perdebatan itu disampaikan dengan cara yang lemah dan lembut, bukan cara yang keras dan kasar. Dari segi topik, semata-mata tertumpu pada usaha mengungkap kebenaran, bukan untuk mengalahkan lawan debat semata atau menyerang peribadinya. Dari segi hujjah, dijalankan dengan cara menghancurkan kebatilan dan membangun kebenaran. Cara ini dituju kepada orang yang cenderung suka berdebat dan membantah, yang sudah tidak dapat lagi diseru dengan jalan hikmah dan maw'izhah hasanah.

Pada bagian akhir ayat tersebut memberikan arti, bahwa jika kita telah menyeru manusia dengan tiga jalan tersebut, maka urusan selanjutnya terserah Allah. Memberikan hidayah bukan kuasa manusia, melainkan kuasa Allah semata. Kita hanya berkewajiban menyampaikan . Allahlah yang akan memberikan petunjuk serta memberikan balasan, baik kepada yang mendapat hidayah maupun yang tersesat.

Sebahagian ulama seperti al-Qurthubi dan al-Baghawi berpendapat, ayat ini telah di-nasakh (dihapus) oleh ayat perang, jika yang menjadi sasaran dakwah adalah orang kafir. Namun, yang lebih tepat adalah pendapat jumhur ulama, yang mengatakan ayat ini muhkam (tidak di-nasakh), dan tetap kepada sasaran dakwah yang Muslim ataupun kafir.

a. Makna Hikmah

Sebagian mufassir seperti as-Suyuthi, al-Fairuzabadi, dan al-Baghawi mengartikan hikmah sebagai al-Quran. Ibnu Katsir menafsirkan hikmah sebagai apa saja yang diturunkan Allah berupa al-Kitab dan As-Sunnah. Penafsiran tersebut nampaknya masih umum. mufassir yang lain pun menafsirkan hikmah secara lebih terperinci, yaitu sebagai hujjah atau dalil. Sebahagian dari mereka mensyaratkan hujjah itu haruslah bersifat qath'i (pasti), seperti an-Nawawi al-Jawi. Yang lainnya, seperti al-Baidhawi, tidak mengharuskan sifat qath'i, tetapi menjelaskan karakter dalil itu, yaitu penjelasan yang menghilangkan kesamaran. An-Nawawi al-Jawi menafsirkan hikmah sebagai hujjah yang qath'i yang menghasilkan akidah yang meyakinkan. An-Nisaburi menafsirkan hikmah sebagai hujjah yang qath'i yang dapat menghasilkan keyakinan. Al-Baidhawi dan Al-Khazin mengartikan hikmah dengan ucapan yang tepat (al-maqâlah al-muhkamah), yaitu dalil yang menjelaskan kebenaran dan menyingkirkan kesamaran (ad-dalil al-muwadhdhih li al-haq wa alimuzih li asy-syubhah). Al-Asyqar menafsirkan hikmah dengan ucapan yang tepat dan benar (al-maqalah al-muhakkamah ash-shahihah).

Kesimpulannya, jumhur mufassir menafsirkan kata hikmah dengan hujjah atau dalil. Dari ungkapan para mufassir di atas juga dapat diketahui bahwa hujjah yang dimaksud adalah hujjah yang bersifat rasional ('aqliyyah/fikriyyah), yakni hujjah yang tertuju pada akal. Sebabnya, para mufassir seperti al-Baidhawi, al-Alusi, an-Nisaburi, al-Khazin, dan an-Nawawi al-Jawi mengaitkan seruan dengan hikmah ini kepada sasarannya yang terperinci, yaitu golongan yang mempunyai kemampuan berfikir secara sempurna.

b. Makna maw'izhah hasanah

Sebagian mufassir menafsirkan maw'izhah hasanah (nasihat/peringatan yang baik) secara umum, yaitu nasihat atau peringatan al-Quran (mawa'izh al-Qur'an). Demikian pendapat al-Fairuzabadi, as-Suyuthi, dan al-Baghawi. Namun, as-Suyuthi dan al-Baghawi sedikit menambahkan, dapat juga bermakna perkataan yang lembut (al-qawl ar-raqiq).

Memperincikan tafsiran umum tersebut, para mufassir menjelaskan sifat maw'izhah hasanah sebagai suatu nasihat yang tertuju pada hati (perasaan), tanpa meninggalkan bekas nasihat itu yang tertuju kepada akal. Sayyid Quthub menafsirkan maw'izhah hasanah sebagai nasihat yang masuk ke dalam hati dengan lembut (tadkhulu ila al-qulub bi rifq). An-Nisaburi menafsirkan maw'izhah hasanah sebagai dalil-dalil yang memuaskan (ad-dalail al-iqna'iyyah), yang tersusun untuk mewujudkan pembenaran (tashdiq) berdasarkan dalil dalil yang yang telah diterima.

Al-Baidhawi dan Al-Alusi menafsirkan maw'izhah hasanah sebagai seruan-seruan yang memuaskan/meyakinkan (al-khithabat al-muqni'ah) dan ungkapan-ungkapan yang bermanfaat (al-'ibar al-nafi'ah). An-Nawawi al-Jawi menafsirkannya sebagai tanda-tanda yang bersifat zhanni (al-amarat azh-zhanniyah) dan dalil-dalil yang memuaskan. Al-Khazin menafsirkan maw'izhah hasanah dengan targhib (memberi dorongan untuk menjalankan ketaatan) dan tarhib (memberikan ancaman/peringatan agar meninggalkan kemaksiatan).

Dari pelbagai tafsir itu, karakteristik nasihat yang tergolong maw'izhah hasanah ada dua pokok utama:

Menggunakan ungkapan yang tertuju pada akal. Ini terbukti dengan ungkapan yang digunakan para mufassir, seperti an-Nisaburi, al-Baidhawi, dan al-Alusi, yakni kata dalail (bukti-bukti), muqaddimah (premis), dan khithab (seruan). Semua ini jelas berkaitan dengan fungsi akal untuk memahami.

Menggunakan ungkapan yang tertuju pada hati/perasaan. Terbukti, para mufassir mensifatkan dalil itu dengan aspek kepuasan hati atau keyakinan. An-Nisaburi, misalnya, mengunakan kata dalail iqna'iyyah (dalil yang menimbulkan kepuasan/keyakinan). Al-Baidhawi dan al-Alusi menggunakan ungkapan al-khithabat al-muqni'ah (ungkapan-ungkapan yang memuaskan). Adanya kepuasan dan keyakinan (iqna') jelas tidak akan wujud tanpa proses kebenaran dan kecondongan hati. Semua ini jelas berkaitan dengan fungsi hati untuk meyakini atau puas terhadap sesuatu dalil. Di antara cara untuk menyentuh perasaan adalah menyampaikan targhib dan tarhib, sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Khazin. Seruan dengan maw'izhah hasanah ini tertuju pada umumnya masyarakat, yakni dengan kemampuan berfikirnya tidak secepat golongan yang diseru dengan hikmah, tetapi masih mempunyai fitrah yang lurus. Demikian menurut al-Baidhawi, al-Alusi, an-Nisaburi, al-Khazin, dan an-Nawawi al-Jawi.

c. Makna jidal billati hiya ahsan

Sebahagian mufassir memberi makna jidal billati hiya ahsan (debat yang terbaik) secara umum. Misalnya Al-Fairuzabadi, beliau menafsirkan jidal billati hiya ahsan sebagai berdebat dengan al-Quran atau dengan kalimat Tauhid. Contohnya, menurut as-Suyuthi, adalah seperti seruan kepada Allah dengan ayat-ayat-Nya dan seruan pada hujjah-hujjah-Nya.

Pada penafsiran yang lebih terperinci, akan didapati perbedaan pendapat di kalangan para mufassir. Akan tetapi, perbedaan itu sesungguhnya dapat dihimpun (jama') dan diletakkan dalam aspeknya masing-masing. Perbedaan itu dapat dikategorikan menjadi tiga aspek:

1. Dari segi cara (uslub), sebagian mufassir menafsirkan jidal billati hiya ahsan sebagai cara yang lembut (layyin) dan lunak (rifq), bukan dengan cara keras lagi kasar. Inilah penafsiran Ibn Katsir, al-Baghawi, al-Baidhawi, al-Khazin, dan M. Abdul Mun'in Al-Jamal.

2. Dari segi topik (objek) debat, sebagian mufassir menjelaskan bahwa jidal billati hiya ahsan sebagai debat yang dimaksudkan semata-mata untuk mengungkap kebenaran pemikiran, bukan untuk merendahkan atau menyerang peribadi lawan debat. Sayyid Quthub menerangkan bahwa jidal billati hiya ahsan bukanlah dengan jalan menghinakan (tardil) atau mencela (taqbih) lawan debat, tetapi berusaha meyakinkan lawan untuk sampai pada kebenaran (Fi Zhilal al-Qur'an, XIII/292).

3. Dari segi hujjah, sebahagian mufassir menjelaskan bahawa hujjah dalam jidal billati hiya ahsan mempunyai dua tujuan sekaligus, yaitu untuk menghancurkan hujjah lawan (yang batil) dan menegakkan hujjah kita (yang haq). Imam an-Nawawi al-Jawi (Marah Labid, I/517) menjelaskan bahwa tujuan debat adalah ifhamuhum wa ilzamuhum (untuk membuat diam lawan debat dan menetapkan kebenaran pada dirinya). Imam al-Alusi mencontohkan debatnya Nabi Ibrahim a.s. dengan Raja Namrudz (Ruh al-Ma'ani, V/487).

Jika kita dalami, dalam debat itu ada dua hal utama: menetapkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan (Lihat: al-Baqarah : 258). Seruan dengan jidal billati hiya ahsan tertuju kepada orang yang menentang kebenaran dan cenderung untuk membantah dan mendebat.

Jika kita hendak menjelaskan wajibnya menegakkan Khilafah Islamiyah, misalnya, kita dapat menggunakan cara hikmah, jika kita berdakwah kepada ulama, intelektual, pemikir, dan sebagainya, dalam forum yang khusus dan terbatas (bukan forum umum). Di sana dapat dijelaskan wajibnya Khilafah secara detil dan mendalam, misalnya dengan menerangkan definisinya, berbagai definisi Khilafah dan tarjih (analisis)-nya; dalil-dalil kewajibannya secara terperinci dari ayat al-Quran, as-Sunnah, Ijma Sahabat, Qawa'id Syar'iyyah, termasuk juga wajh istidlal (cara penyimpulan hukum dari dalilnya) sesuai dengan disiplin ilmu usul fiqh; berbagai pendapat ulama salaf dan khalaf mengenai wajibnya Khilafah, kitab-kitab rujukannya, termasuk bantahan terhadap pendapat yang mengingkari wajibnya Khilafah, baik pendapat dari orang terdahulu maupun sekarang.

Kepada masyarakat awam, dalam forum-forum yang umum dan terbuka, ditempuh cara maw'izhah hasanah. Di sini tetap harus dijelaskan wajibnya Khilafah beserta dalil-dalilnya, hanya saja tidak sedalam penjelasan kita kepada golongan yang diseru dengan hikmah di atas, disertai dengan targhib dan tarhib untuk menyentuh perasaan mereka, misalnya disampaikan hadis sahih riwayat Imam Muslim, bahawa siapa saja yang tidak berbaiah kepada Khalifah, dia akan mati jahiliyyah.

Adapun kepada para penentang Khilafah, seperti kaum sekuler dan liberal, ditempuh cara jidal billati hiya ahsan, baik dalam forum khusus maupun umum. Kita berbicara secara baik dan lembut, tidak kasar. Menghancurkan hujjah hujjah palsu mereka untuk menolak Khilafah, yang sesungguhnya adalah ide sekularisme yang kufur. Kemudian menegakkan hujjah-hujjah yang benar kepada mereka bahwa kewajiban Khilafah adalah sesuatu yang tidak dapat diragukan lagi, kecuali bagi orang-orang kafir atau munafik yang sombong terhadap kebenaran. [Majalah al-wa'i, Edisi 47, July 2004]

Kriteria seorang Da'i

Keberhasilan dakwah tidak akan terlepas dari peran serta perangai seorang da'i yang didukung oleh ilmu dan pengetahuannya yang luas, baik tentang agama maupun masyarakat. Di samping ilmu, da'i juga tidak boleh memperkecilkan keikhlasan, ibadah dan akhlak mulia, kerana tanpanya da'wah akan gagal. Di dalam buku "Alaamat Duiyyah 'Ala Thariq ad-Da'wah", Dr. Muhammad Jamil Ghazi menukilkan perkataan Imam Sufyan at-Tsauri berhubung dengan masalah ini yaitu :

"Janganlah seseorang mengajak kepada ma'ruf dan mencegah kemungkaran melainkan jika ada padanya tiga ciri: 1. Berlemah lembut dengan apa yang diseru dan dicegah, 2. Adil dengan apa yang diseru dan dicegah, 3. Berilmu berhubungan dengan apa yang diseru dan dicegah."

Hal serupa juga ditekankan oleh Imam Abu Laith As-Samarqandi di dalam kitab "Tanbihul Ghafilin". Beliau membagikan persiapan umum da'i kepada lima:

"1. Ilmu, 2. Keikhlasan, 3. Kasih sayang dan kelembutan, 4. Kesabaran, 5. Mengamalkan apa yang disampaikan."

Da'i yang sukanya mengutuk dan mencari kesalahan orang lain dan melupakan diri sendiri merupakan da'i yang terbabas dan tak ada padanya cahaya al-Quran dan as-Sunnah. Benarlah jika as-Syeikh Fathi Yakan berkata di dalam bukunya yang berjudul "Musykilat ad-Da'wah Wa ad-Daaiyah :"Seseorang da'i akan berada di dalam keadaan baik jika dia bersih dari keaiban dan penyakit diri sendiri walaupun musuhnya mempunyai kekuatan yang hebat."

Sebenarnya, hal semacam ini pernah diucapkan oleh Khalifah Umar bin al-Khattab pada saat beliau menyampaikan amanat kepada tentara-tentara Islam. Beliau berkata:"Hendaklah kamu berwaspada terhadap perbuatan-perbuatan maksiat dibanding kewaspadaan terhadap musuh. Sesungguhnya aku lebih bimbang dengan dosa yang dilakukan oleh tentara-tentara Islam dibanding kebimbanganku terhadap musuh. Sesungguhnya umat Islam mendapat pertolongan daripada Allah lantaran kemungkaran yang dilakukan oleh pihak musuh. Oleh itu janganlah kamu melakukan perkara yang dimurkai Allah ketika sedang berjihad di jalan Allah."

Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat disimpulakan bahawa metode dakwah dilakukan berdasarkan pada obyek mad'u (sasaran dakwah). Jika mad'u itu dari golongan orang yang mengetahui maka perlulah penjelasan yang terperinci dan tegas besertakan dalil yang lengkap. Jika mad'u dari golongan orang yang kurang memahami islam yang sebenarnya maka barulah digunakan cara yang lembut. Akan tetapi jika mereka itu telah memeluk islam maka tidak boleh lari dari apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya kerana itu adalah tuntutan agama.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu prinsip utama yang fundamental dalam ajaran Islam adalah memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada setiap umat manusia untuk memilih atau menolak suatu agama tertentu, berdasarkan keyakinannya. Seseorang dipersilakan menjadi seorang Muslim yang bersyukur, tunduk dan patuh akan ketentuan Allah SWT atau menjadi seorang yang kufur, menolak dan menentang ajaran-Nya. Hal ini sebagaimana secara tegas dinyatakan dalam QS Al-Insaan:3 : "Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur, ada pula yang kafir".

Bahkan ketika Rasulullah SAW memiliki keinginan kuat agar setiap orang beriman kepada Allah SWT, menjadi Muslim yang baik, dan bila perlu dengan pemaksaan dan tekanan, maka Allah SWT langsung mengingatkannya, dengan firman-Nya dalam QS Yunus:99-100 : "Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

Juga firman-Nya dalam QS Al Baqarah:256 : "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui."

Ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya menguasai kembali kota Makkah (Futuh Makkah) setelah berhijrah ke kota Madinah selama kurang lebih sembilan tahun, dan pada saat itu kaum musyrikin Makkah sudah tidak memiliki kekuatan apa pun untuk melawannya (padahal dahulunya ketika mereka berkuasa, sangat kejam terhadap Rasulullah dan para sahabatnya), beliau tetap memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada mereka untuk tetap menjadi kafir atau menjadi Muslim. Beliau bersabda: "Kalian bebas merdeka di muka bumi ini, tidak ada kedengkian dan hasud di antara kita."


Read more! span.fullpost {display:none;}

04 August 2006

Mengapa Kiyai Munafik?

Mengapa Kiyai Munafik?
vikar

Gelar Kiyai, KH, Kiai atau kiyahi semakin membudaya di Indonesia yang sangat diidentikkan dengan islam. Di satu sisi, gelar tersebut dapat dijadikan kebanggaan sebagai alat dan sarana dalam penyiaran islam, di sisi lain, gelar tersebut pun dapat dijadikan sebagai senjata penghancur islam, untuk itu perlu kiranya saya tulis sedikit tentang gelar kiyai tersebut agar tidak terjadi kesalahfahaman antara islam dan muslim.

Pengertian Kiyai

Dalam buku "Kiai Penghulu Jawa, Peranannya di Masa Kolonial", oleh Drs H Ibnu Qoyim Isma'il MS menjelaskan sebagai berikut:

"Di tengah perkembangan masyarakat Indonesia pada umumnya dijumpai beberapa gelar sebutan yang diperuntukkan bagi ulama. Misalnya, di daerah Jawa Barat (Sunda) orang menyebutnya "Ajengan", di wilayah Sumatera Barat disebut "Buya", di daerah Aceh dikenal dengan panggilan "Teungku", di Sulawesi Selatan dipanggil dengan nama "Tofanrita", di daerah Madura disebut dengan "Nun" atau "Bendara" yang disingkat "Ra", dan di Lombok atau seputar daerah wilayah Nusa Tenggara orang memanggilnya dengan "Tuan Guru".

Khusus bagi masyarakat Jawa, gelar yang diperuntukkan bagi ulama anatara lain "Wali". Gelar ini biasanya diberikan kepada ulama yang sudah mencapai tingkat yang tinggi, memiliki kemampuan pribadi yang luar biasa. Sering pula para wali ini dipanggil dengan "Sunan" (Susuhunan) seperti halnya para raja. Gelar lainnya ialah "Panembahan", yang diberikan kepada ulama yang lebih ditekankan pada aspek spiritual, juga menyangkut segi kesenioran, baik usia maupun "nasab" (keturunan). Hal ini untuk menunjukkan bahwa sang ulama tersebut mempunyai kekuatan spiritual yang tinggi.

Selain itu, terdapat sebutan "Kiai", yang merupakan gelar kehormatan bagi para ulama pada umumnya. Oleh karena itu, sering dijumpai di pedesaan Jawa panggilan "Ki Ageng" atau (Ki Gede), juga "Kiai Haji".

Gelar Kiai sebenarnya cukup terhormat. Namun di zaman kini, banyak para Kiai yang sangat diragukan gelarnya lantaran lakon Kiyai yang sebenarnya tidak sesuai dengan gelar kehormatan itu bahkan brutal dan bertentangan dengan nilai-nilai islam, seperti memperkosa muridnya, menjilat penguasa ataupun sebagai provokator terhadap ummat. Akibatnya malah merusak citra islam itu sendiri, sehingga perlu kiranya dipertanyakan kembali, apa sebenarnya Kiyai itu, dan apa pula kriterianya.

Untuk menjawab pertanyaan semacam itu, di samping sudah kita ketahui uraian di atas, perlu pula kita simak jawaban yang muncul dari kalangan ulama sendiri tentang julukan Kiai itu. Di antaranya apa yang dikemukakan oleh Prof.Dr.Hamka dalam menjawab pertanyaan orang tentang Kiyai Dukun. Di dalam hal ini Hamka menulis:

"...kami menyerukan kepada penanya dan saudara-saudara yang berminat agar kiranya carilah Kiyai-kiyai yang benar-benar mengerti soal agama Islam dengan aneka rangkaian ajarannya, di antaranya tentang ayat-ayat yang boleh dijadikan do'a-doa untuk menolak penyakit, lalu pelajari sehingga bisa jadi tabib untuk diri sendiri. Karena kalimat Kiyai itu bukanlah artinya semata-mata untuk orang yang benar-benar telah mengerti Agama Islam dengan segala cabangnya.

Ada Kiyai berarti Guru Agama Islam yang telah luas pandangannya.

Ada Kiyai berarti pendidik, walaupun pendidik Nasional. (Kalau yang dimaksud Hamka itu misanya Ki Hajar Dewantara, maka biasanya disebut Ki, bukan Kiyai, tetapi sebutan Ki itu kadang juga sama dengan Kiyai, seperti Ki Dalang itu sama dengan Kiyai Dalang).

Ada Kiyai berarti Pak Dukun.

Di Kalimantan, Kiyai (sebelum perang) berarti "District-hoofd" (Wedana).

Di Padang (sebelum perang), Kiyai artinya "Cino Tuo" (Orang Tionghoa yang telah berumur).

Gamelan Sekaten di Yogya bernama Kiyai Sekati dan Nyi Sekati.

Dalang yang ahli disebut Ki Dalang, atau Kiyai Dalang.

Bendera Keramat yang dikeluarkan setiap ada bala bencana mengancam dalam negeri Yogyakarta bernama Kiyai Tunggul Wulung.

Meskipun Hamka mampu menjelaskan kegunaan kata Kiyai seperti tersebut di atas, namun dia terus terang mengungkapkan, "kami tidak tahu dari Bahasa apa asalnya kata Kiyai. Tetapi kami dapat memastikan bahwa kata itu menyatakan "Hormat" kepada seseorang. Cuma kepada siapa penghormatan Kiyai itu harus diberikan, itulah yang berbeda-beda menurut kebiasaan suatu negeri dan daerah.

A. Di seluruh pulau Jawa yang terdiri dari tiga suku besar, yaitu Jawa, Sunda, dan Madura ditambah dengan Palembang, kata Kiyai digunakan untuk menghormati seseorang yang dianggap Alim, Ahli Agama dan disegani.

B. Di Kalimantan Selatan (Banjarmasin dan sekitarnya) sebelum perang, gelar Kiyai adalah pangkat yang tertinggi bagi Ambtenaar Bumiputera. Sama dengan pangkat Demang di Sumatera. Ada Kiyai kelas I, kelas II dan ada yang disebut Asisten Kiyai yang sama dengan Asisten Demang.

C. Di Sumatera Barat, yaitu di kota-kota yang banyak didiami orang Cina (Padang, Pariaman, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh) dan pesisir Selatan, gelar Kiyai diberikan kepada Cina yang telah tua dan dihormati. Biasanya janggut beliau dipanjangi. Di tahun 1916 telah didapati seorang Cina tua di kampung Cina Padang Panjang disebut orang Kiyai Makh Thong.

D. Kata-kata ini terdapat juga di Thailand (Siam), Ulama yang besar-besar dihormati di sana dalam kalangan orang Islam dalam menyebutnya (Guru Kriyai).

Setelah kita mengetahui penjelasan Hamka itu, perlu disebutkan pula di sini bahwa masih ada pula sebutan Kiyai untuk hal-hal lain, di antaranya adalah keris atau tombak di Kraton Solo, bahkan Kiyai itu untuk menjuluki kerbau. Di Kraton Solo Jawa Tengah ada kerbau yang disebut Kiyai Slamet, yaitu kerbau yang dianggap keramat oleh orang-orang (yang tentu saja batil menurut Islam). Kebo (kerbau) yang dijuluki Kiyai Slamet itu dilepaskan secara bebas ke mana-mana setiap malam 1 Muharram, yang disebut tanggal satu Syuro. (Bulan Muharram di Jawa disebut Syuro, mungkin karena di dalam bulan Muharram itu ada hari yang penting pada hari kesepuluh, namanya "Asyura", hari kesepuluh Muharram, yang dalam Islam termasuk hari disunnahkannya puasa). Hingga kerbau yang dinamai Kiyai Slamet itu ke mana saja tidak diusik, bahkan sampai memakan dagangan sayuran dan sebagainya pun tidak diapa-apakan, karena menurut kepercayaan "takhayul" (yang menyimpang dari Islam), kerbau itu ketika makan dagangan tersebut dianggap justru akan "ngrejekeni" (memberi rizki atau memberkahi). Jadi Kiyai yang berupa kerbau itu telah dianggap sebagai makhluk keramat, yang tentu saja hal itu merupakan satu jenis penyimpangan yang nyerempet-nyerempet kemusyrikan.

Siapakah yang berhak memberi dan dijuluki Kiyai?

Hamka pun tidak menentukan, siapa yang berhak menjuluki dan dijuluki Kiyai terhadap aneka macam tersebut di atas. Hamka menjawab pertanyaan orang yang ingin tahu, siapa yang berwenang menjuluki Kiyai, sebagai berikut:

"Nampaknya tidak ada suatu ketentuan tentang siapa yang berwenang memberikan gelar Kiyai. Apabila telah bisa disebut Kiyai, lekat sajalah gelar itu. Lantikannya yang tertentu tidak ada. Oleh sebab memberi gelar Kiyai itu tidak ada peraturannya yang tertentu dan hanya menurut kesukuan orang saja dan diterima masyarakat, maka dipanggil orang Kiyai juga menurut kebiasaan orang Jawa."

Jawaban Hamka itu dikemukakan pada tahun 1963. Pada tahun-tahun itu dan sebelumnya, ulama Jakarta atau Betawi biasanya disebut dengan Guru, misalnya Guru Mughni di Kuningan Jakarta, Guru Marzuki di Jatinegara, Guru Udin (Zainuddin) di Kalibata Pulo, Guru Amin di Kalibata dan sebagainya. Baru belakangan terbiasa menyebut ulama dengan nama Kiyai yang kadang-kadang disingkat jadi KH (Kiyai Haji) di antaranya Kiyai Abdullah Syafi'i, menurut orang kampung Bali (Matraman) sebutannya Kiyai Duloh, yang kemudian terkenal lewat radionya-As-Syafi'iyah, demikian pula Kiyai Thahir Rahili dengan radionya At-Thahiriyah di Kampung Melayu, kedua-duanya memiliki pesantren dan perguruan Islam. Selanjutnya ulama Betawi juga disebut Kiyai, di antaranya Kiyai Syafi'i Hazami, yang memang ulama terkemuka di kalangan masyarakat Betawi. Hanya saja sebutan Kiyai belum tentu lekat pula pada ulama Betawi. Contohnya, seorang ulama alumni Timur Tengah, yang kitab-kitabnya di antaranya tentang Madzhab Imam Syafi'i menjadi rujukan di Universitas Al-Azhar Mesir, yaitu Dr HA Nahrawi Abdus Salam (rumahnya dekat Masjid Al-Munawar Jl Raya Pasr Mingu Pancoran Jakarta Selatan) jarang disebut Kiyai. Bahkan lebih sering dipanggil Doktor saja.

Dari sini bisa difahami bahwa sebutan Kiyai untuk ulama sebenarnya di kalangan kaum Betawi kurang membudaya. Hanya saja dalam perkembangannya sebutan Kiyai itu memasyarakat pula sejak pemerintahan Soeharto yang sejak awal tampak menonjolkan budaya Jawa terutama yang berbau Kejawen, hingga nama ruangan-ruangan di gedung DPR/MPR pun diganti dengan nama dari bahasa Jawa Kuno atau bahkan Sansekerta dari India atau Hindu. Misalnya ruang Wirashaba dan sebagainya yang sulit dimengerti oleh masyarakat. Maka istilah Kiyai untuk sebutan ulama pun yang asalnya hanya dipakai di Jawa lalu dinasionalkan atau menjadi istilah nasional. Dan tampaknya budaya "munduk-munduk" (sangat hormat bahkan takut) terhadap Kiyai yang budaya itu merata di Jawa rupanya menular pula kepada masyarakat selain Jawa, termasuk Betawi, Sulawesi selatan dan daerah lainnya, sehingga julukan Kiyai itu tidak ditolak oleh ulama yang dijulukinya.

Setelah julukan Kiyai itu memasyarakat pula di masyarakat selain Jawa, termasuk pula Betawi, lalu tumbuh gejala, keturunan Kiyai yang kemudian mengimami masjid atau apalagi memimpin pesantren maka disebut Kiyai pula, walaupun ketika bapaknya dulu masih hidup, si anak Kiyai itu tidak pernah disebut Kiyai muda, tetapi begitu bapaknya wafat, maka dia langsung dipanggil atau suka dipanggil dengan sebutan Kiyai, walaupun dari segi keilmuan maupun kegiatannya berjama'ah ke masjid tidak sebanding dengan bapaknya.

Kenyataan yang terjadi di Jawa, sangat berbeda dengan di daerah lain. Di Jawa gelar kiai sangat mudah didapatkan, bahkan ada juga yang menggelari diri sendiri yang kemudian gelar tersebut sah sebagai gelarnya karena kebiasaan orang sekeliling memanggilnya denga gelarnya, ataupun didapati melalui warisan dari orang tuanya tanpa memperhatikan mutu yang ada. Di daerah lain hal ini sangat berbeda meski gelar tersebut telah membudaya, seperti halnya di Sulawesi Selatan gelar kiyai haruslah memenuhi kriteria yang ada, dengan kata lain, untuk mendapatkan gelar tersebut, masyarakat dan ulama setempat memberikan kriteria yang harus dipenuhi, barulah ia digelari kiyai, seperti kiyai H. Ambo Dalle dan yang lainnya. Perbedaan ini dengan jelas dapat dilihat dari jumlah kiyai yang ada di pulau Jawa yang jumlah kiyainya hampir sama dengan jumlah penduduknya, sedangkan di daerah lain, jumlah kiyainya masih bisa dihitung dengan sepuluh jari.

Mengapa sebagian Kiyai Munafik

Untuk menjawab pertanyaan ini, tentunya kembali kepada pribadi masing-masing baik orang yang bergelar kiyai maupun masyarakat itu sendiri dalam memahami makna gelar tersebut. Karena dalam islam, semua orang akan mempertanggungjawabkan gelar, julukan dan panggilannya di hadapan Allah SWT. Jika seorang yang digelari kiyai, namun sikap dan perbuatannya bertentangan dengan nilai-nilai islam, bisa saja dia mengartikan gelar kiyai yang ada di bahunya sebagai kerbau yang bebas untuk berbuat atau sebagai power untuk menundukkan masyarakat. Hal ini pun bukan berarti kesalahan sepenuhnya ada pada diri kiyai, melainkan kesalahan itu pun ada pada masyarakat sendiri yang terlalu mengagung-agungkan gelar kiyai, karena gelar tersebut bisa diibaratkan seperti halnya hantu, jin dan sebagainya. Manakala masyarakat dan orang-orang mengagung-agungkan dan sangat percaya pada hantu, jin dan setan, maka dengan sendirinya hantu dan jin semakin dekat dan nyata bagi mereka.

Berbeda halnya dengan orang-orang yang menyadari gelar yang mereka pakai dan akan mempertanggungjawabkannya kelak dihadapan masyarakat maupun Tuhan. Pasti dengan sendirinya tanda-tanda ketakwaannya akan menghalanginya untuk menggunakan gelar tersebut apabila belum siap untuk mempertanggungjawabkannya, namun apabila pengetahuannya yang luas serta cukup dalam mengemban gelar, dengan sendirinya gelar tersebut akan benar-benar melekat pada diri dan segala perbuatannya sebagai kudwa hasanah kepada orang lain, itulah yang berhak dan digelari oleh masyarakat sebagai kiyai yang islami.

Sebagian ulama bahkan tidak menggunakan gelar kiyai padahal pengetahuannya sangat luas bahkan telah menulis berbagai buku baik dalam tafsir dan lainnya, maka sangat baguslah orang-orang yang konsisten, dan tidak mau disebut atau menyebut dirinya Kiyai. Sebagaimana Hamka, Prof Dr H Mahmud Yunus dan lain-lain, mereka adalah ulama terkemuka dan menulis tafsir serta kitab-kitab Islam namun tidak disebut Kiyai, serta tidak menyebut dirinya Kiyai. Walaupun secara keilmuan maupun akhlaknya, mereka adalah ulama, alim agama.

Bukan berarti menafikan pengetahuan kiyai-kiyai yang lain, melainkan ketakwaan dan buah keimanan mereka yang harus dipertanyakan. Amerika dan negara maju lainnya adalah sumber ilmu pengetahuan, namun hidayah dari pengetahuan itulah yang diragukan. Seandainya para ulama yang kini digelari Kiyai itu ikhlas mencopot gelar Kiyainya dan tak mau lagi disebut Kiyai, maka biar sekalian ketahuan bahwa Kiyai yang masih rela disebut Kiyai adalah Kiyai Dukun saja. Namun karena hal tersebut telah mendarah daging, maka yang perlu digarisbawahi bahwa kiranya ulama-ulama Indonesia perlu kiranya menentukan kriteria dan syarat-sayarat mutlak yang harus dipenuhi oleh orang yang dijuluki kiyai agar kiranya lebih nampak perbedaan yang jelas antara kiyai dan ulama dan tidak mencemarkan nama baik islam. Ataupun kesadaran masyarakat dalam memanggil dan menggelari seorang sebagai kiyai kiranya harus lebih mengetahui lebih dalam tentang sesorang yang akan dipanggil dan digelari kiyai.


Read more! span.fullpost {display:none;}