Al Mutanabbi (Pengakuan sebagai Nabi)
Al mutanabbi ( Pengakuan sebagai Nabi )fikar
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, timbul berbagai fitnah, salah satu diantaranya, pengakuan Musailamah Al Kazzab dirinya sebagai Nabi, hal itu telah membuat geger kaum muslimin pada saat itu, namun bagaimana halnya dengan penamaan seorang penyair terkenal Al Mutanabbi tersebut?.
Nama lengkapanya Abu Tayyib Ahmad bin Husain bin Murrah bin Abdul Jabbar Al Ju'fi Al Kufi, dilahirkan di Kindah, kufah , Irak pada tahun 303 H/ 915 M. nama Al ju'fi diambil dari nama kakeknya Ju'fi bin Sa'ad, sedangkan sebutan Al Kufi merujuk pada kampung halaman tempat dia dilahirkan, akan tetapi ia kerap dikenal dengan nama Abu Tayyib Al Mutanabbi atau hanya disebut Al Mutanabbi.
Al mutanabbi berasal dari keluarga yang sangat sederhana namun perhatiannya sangat besar pada ilmu pengetahuan terutama minatnya yang besar pada dunia syair dan sastra, yang mana telah banyak mencipta dan melantumkan banyak syair syairnya, yang berkaitan dengan puji pujian kepada orang orang terhormat baik ulama maupun penguasa pada saat itu. Pada tahun 935 M, Al mutanabbi pernah dipenjara beberapa tahun didalamnya akibat dia dituduh mengaku sebagai Nabi, namun demikian, baginya penjara bukanlah akhir dari segalanya, justru di tempat baru inilah dia kian kreatif menulis dan mencipta sajak sajak dan syair tentang berbagai peristiwa kehidupan dan sanjungan yang sangat dipuji dan mendapat imbalan yang sangat besar dari penguasa setelah keluarnya dari penjara, lantara itu pula, orang orang menjuliki syair syairnya dengan " Al Qasaid Ad dinaariyyah ", yaitu Qasidah ( syair) yang banyak mendatangkan dinar (uang).
Sebenarnya nama Al Mutanabbi sendiri bukanlah berasal dari pemberian orang tuanya, namun nama ini diberikan oleh orang orang lain sejak mudanya, dari sinilah muncul berbagai versi yang mengakibatkan kontroversi di kalangan masyarakat.
Secara bahasa, kata "Al Mutanabbi" berarti orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi, tetapi menurut seorang ahli sejarah ( Imam Al Khatib Al baghdadi ) mengatakan bahwa Abu Tayyib yang tak lain adalah Al Mutanabbi digelari Al Mutanabbi karena berasal dari keturunan keluarga Alawi Hasani (Keturunan Ali bin Abi Thalib dan Hasan bin Ali bin Abi Thalib) dan kemudian mengaku sebagai Nabi, pengakuan ini dibuatnya ketika dia menetap di Kalb sebuah kampung di Syria, tetapi setelah diteliti, ternyata pengakuan ini tidaklah benar.
Kisah lain menyebutkan, pada suatu hari Abu Tayyib Ahmad diminta untuk mengendarai unta betina liar oleh bani Aadi (suku di Syria), bila dia berhasil maka dia akan diakui sebagai Nabi, ternyata dia berhasil mengendarai unta itu dan membuatnya menjadi binatang yang jinak, kejadian inilah yang membuat bani Aadi yakin bahwa Abu Tayyib mempunyai kekuatan tertentu yang sama dengan Nabi. Masih di sekitar suku ini, cerita lain mengatakan, pada suatu hari ada seorang yang terluka parah terkena pisau, kemudian Abu Tayyib hanya dengan meludahi bagian yang terluka dan menekannya dengan kuat sehingga luka itu sembuh. Peristiwa itu membuat suku kabilah Aadi semakin yakin bahwa dia adalah Nabi. Cerita yang tak kalah serunya adalah pengakuan dirinya sebagai Nabi, ketika Abu Tayyib membaca 114 kalimat dari Al Quran dan memperlihatkan kemukjizatannya kepada orang orang yaitu dengan menahan derasnya air hujan yang turun agar tidak membasahi tempat dimana ia berdiri, ternyata memang benar bahwa hujan hanya turun di sekelilingnya dan tidak membasahi tubuhnya, peristiwa inilah makin memperkuat pengakuannya sebagai seorang Nabi.
Menurut pakar bahasa dan ahli sastra Arab, Ibrahim Al Yajizi, cerita dan kisah di atas tidak benar dan tidak berdasar, untuk membuktikan hal ini Al Yajizi kemudian mengumpulkan semua syair syair Al mutanabbi dalam sebuah buku berjudul "Diwan Al Mutanabbi" yaitu kumpulan syair syair Al mutanabbi. Dia menyatakan bahwa Abu Tayyib Ahmad digelari Al mutanabbi tidak lain dan tidak bukan adalah karena syair yang diciptakan dan dilantumkannya sangat membuat kagum para pendengarnya, dengan kata lain bait bait kalimat yang dituangkan dalam Qasidahnya (syair) merupakan kalimat kalimat yang diberikan kemukjizatan. Pernyataan ini diperkuat oleh pendapat As Sa'alabi yang menyatakan bahwa sejak kecil Abu Tayyib Ahmad telah menunjukan kemampuan dan kelebihannya yang besar dan dia mampu mengungkapkan kata dan syair yang sangat mengagumkan para pendengarnya.
Dari semua ini, jelas bahwa Al Mutanabbi, hanyalah nama yang diberikan oleh orang orang terhadapnya atau gelar yang diperolehnya dari kemampuan memukau para pendengar terhadap syair syairnya, dan kemampuannya dalam merangkai kata serta penguasaannya terhadap ilmu bahasa Arab dan ilmu lainnya.
luluvikar.tk sabandsa.tk










2 Comments:
wahh maksih sharingnya alhamdulilah nambah euy pengetahuan wassalam
By
akbarfajar, at 7:48 AM
Nice posting..
By
Tina, at 11:54 PM
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home