Syi'ah
Sekilas tentang Syi'ahfikar
Pada tahun 2000, ketika saya bertugas sebagai petugas haji TEMUS (Tenaga Musim) di Saudi Arabia, saya pernah bertanya kepada salah seorang jamaah haji Indonesia lantaran sewaktu mengisi formulir, tertera kata Adyan yang membuat beliau bertanya ” Dek, adyan tuh apa? saya jawab ” agama, pak “, spontan bapak tersebut menjawab ” kalo saya, agama saya NU dek “, saya bertanya ” emang NU tuh apaan pak?”, jawab si bapak ” yah Nahdhatul Ulama”, sekilas terkesan aneh yang membuatku bertanya-tanya dalam hati ” apakah si bapak yang keliru dalam memahami, ataukah NU (Nahdhatul Ulama) yang keliru dalam memberikan pemahaman, namun untuk mempersingkat waktu saya hanya dapat memberikan saran buat si bapak ” Yah uda pak, terserah bapak, yang penting bapak harus ingat, saat ini bapak sedang melaksanakan rukun islam yang kelima (bukan rukun NU) ke Baitullah (bukan baitnya NU), semoga hajinya mabrour yah pak.
Pada tahun yang sama, ketika saya pulang ke tanah air dalam rangka liburan, saya sempat shalat berjamaah di salah satu mesjid yang ada di Tanjung Priuk Jakarta Utara, setelah usai shalat berjamaah, salah seorang jamaah mendekati saya lantas bertanya “Adek Syi’ah atau Ahlusunnah?”, saya jawab “saya islam aja pak, bukan Syiah, bukan juga Ahlu sunnah, kata si bapak “di mesjid ini, jamaahnya Syi’ah, kalo di gang 2 Ahlusunnah, kalo di gang 1 namanya Aljamaah, dengan nada bercanda saya menjawab ” ugh…keren juga yah pak, ternyata aliran agama semakin berkembang dan semakin subur di masyarakat, tapi kok uda kaya preman gitu yah pak, masing-masing gang punya aliran tersendiri, si bapak menjawab “yah…karena agama tanpa mazhab dan aliran bagaikan langit tanpa bintang, mendingan adik gabung aja bersama kami”, lantas saya bertanya “emang di mesjid sini Syi’ah apaan? bapak sendiri Syiah apaan?” jawab si bapak “Syi’ah yah Syi’ah, masa adik gak pernah dengar tentang Syi’ah”, untuk mempersingkat waktu saya berkata “emang kalo saya gabung bersama bapak dan jammaah yang ada di mesjid ini, apa saya akan mendapatkan Minha (beasiswa) atau gaji gak?, jawab si bapak ” yah gak ada lah dek, bukannya dalam islam diajarin Ikhlas”, kemudian saya berkata “yah, kalo gitu saya gak bisa gabung bersama aliran bapak, nanti anak bini saya gak dapat makan”, jawab si bapak “yah uda terserah adik saja”, berakhirlah dialog tersebut. Dari kejadian di atas, saya merasa terpanggil untuk menulis tentang Syi’ah meskipun sekilas, agar orang orang yang mengaku Syi’ah bukan hanya sekedar TREND apalagi TAKLID BUTA.
Makna Syi’ah
Kata Sy’iah berasal dari bahasa Arab yang artinya pengikut, juga mengandung makna pendukung dan pecinta, juga dapat diartikan kelompok, sebagai contoh : Sy’iah Muhammad artinya pengikut Muhammad atau pecinta Muhammad atau kelompok Muhammad. Oleh karena itu dalam arti bahasa, kaum muslimin bisa disebut sebagai Syi’ahnya Muhammad bin Abdillah SAW dan pengikut Isa bisa disebut sebagai Syi’ahnya Isa a.s. Kemudian pada zaman Rasulullah SAW Syi’ah-syi’ah atau kelompok-kelompok yang ada sebelum Islam, semuanya dihilangkan dan dihapuskan oleh Rasulullah SAW, sehingga saat itu tidak ada lagi Syiah ini dan Syiah itu, karena Rasulullah SAW diutus untuk mempersatukan umat dan tidak diutus untuk membuat kelompok-kelompok atau syi’ah.
Tapi setelah Rasulullah SAW wafat, benih-benih perpecahan mulai ada, sehingga saat itu ada kelompok-kelompok atau syi’ah-syi’ah yang mendukung seseorang, tapi sifatnya politik. Misalnya sebelum Sayyidina Abu Bakar dibaiat sebagai Khalifah, pada waktu itu ada sekelompok dari orang-orang Ansor yang berusaha ingin mengangkat Saad bin Ubadah sebagai Khalifah, tapi dengan disepakatinya Abu Bakar r.a menjadi Khalifah, maka bubarlah kelompok tersebut. Begitu pula saat ada kelompok kecil yang berpendapat bahwa Ali r.a lah yang lebih berhak menjadi Khalifah dengan alasan karena dekatnya hubungan kekeluargaan dengan Rasulullah SAW. Tapi dengan baiatnya Ali kepada Khalifah Abu Bakar, maka selesailah masalah tersebut. Oleh karena dasarnya adalah politik dan bukan aqidah, maka hal-hal yang demikian itu selalu terjadi. Begitu pula setelah Ali r.a dibaiat sebagai Khalifah, dimana saat itu Muawiyah memberontak dari kepemimpinan Khalifah Ali, maka hal yang semacam itu timbul lagi, sehingga saat itu muncul kelompok Ali atau Syiah Ali dan ada kelompok Muawiyah atau syiah Muawiyah. Jadi istilah syiah pada saat itu tidak hanya dipakai untuk pengikut atau kelompok Imam Ali saja, tapi pengikut atau kelompok Muawiyah juga disebut Syiah.
Abdullah bin Saba’
Siapa yang tidak kenal dengan Abdullah bin Saba’, dialah orang pertama yang mempunyai gagasan dan ide bahwa Ali r.a adalah pewaris kekhalifahan setelah wafatnya Rasulullah SAW, hal tersebut pernah dilakukannya pada masa keyahudiannya terhadap Yasyu’ bin Nun, dan setelah dia mengumumkan keislamannya, dia membaiat Ali bin Abi Thalib r.a sebagai pewaris Nabi. Dengan kata lain, Abdullah bin Saba’ adalah pengasas dari akidah Syi’ah. Untuk mengelak dari tuduhan tersebut, Murtadha Al Askari As Syi’i mengarang sebuah buku tentang Abdullah bin Saba’ , dan dalam bukunya dia berkata bahwa Qissah Abdullah bin Saba’ hanyalah cerita khurafat yang mengada-ada dan cerita ini dibuat-buat oleh Saif bin Umar kemudian menjadi masyhur melalui Tarikh Atthabari.
Apa yang dikatakan oleh Al Askari dalam bukunya tersebut tidaklah benar, karena di dalam buku buku Syi’ah sendiri yang mereka jadikan sebagai Maraji’ (referensi) malah hal tersebut tertera dengan jelas, sebagaimana dalam kitab Firaqus Syi’ah yang dikarang oleh Hasan bin Musa Annubekhty dan Sa’ad bin Abdullah Al-Qami yang merupakan Ulama besar Syi’ah pada abad ketiga Hijriyah, mereka mengatakan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang pertama yang berkata dan mempunyai ide tentang wajibnya Ali r.a sebagai imam dan Khalifah setelah Rasulullah SAW, hal ini juga dapat dilihat dalam kitab Tanqihul Maqal oleh Alma Maqani 2/184 dan kitab Al Anwar An nu’maniyah oleh sayid Ni’matullah Al Jazairy hal 234, atau kitab Wasailus Syi’ah 18/558 dan Rijalul Kasya, bahkan dalam kitab Mu’jam Rijalul Hadits oleh Sayid Abul Qasim Al khau’i 48/76 yang merupakan Maraji’ utama Syi’ah di Irak mengatakan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah sahabat Ali r.a yang telah tua dan kembali ke kekufurannya, (48) Muhammad bin Quluwi Al Qami berkata kepadaku, dari Sa’ad bin Abdillah bin Abi Khalf Al Qami dari Muhammad bin Usman Al ‘abdi dari Yunus bin Abdirrahman dari Abdullah bin Sanan dari Abi Ja’far alaihi salam berkata bahwa Abdullah bin Saba’ mengaku-ngaku sebagai Nabi dan berkata bahwa Ali r.a adalah Tuhan, hal tersebut kemudian terdengar oleh Ali r.a dan memanggilnya serta bertanya kepadanya kemudian dia mengaku hal tersebut dan Ali r.a berkata celakalah engkau yang telah terasuk oleh setan, kembalilah dan bertobatlah, namun dia enggan bertobat, kemudian dipenjarakan selama tiga hari untuk memintanya agar bertobat dan dia masih tetap enggan maka dibakarlah ia.
Dalam riwayat lain, dari Muhammad bin Qawliya dari Sa’ad bin Abdullah dari Ya’qub bin Yazid dari Muhammad bin Isa dari Abi Umair dari Hisyam bin Salim berkata: saya telah mendengar Abu Abdillah alaihi salam berkata pada saat beliau berbicara dengan teman-temannya tentang Abdullah bin Saba’ yang telah mengaku-ngaku sebagai Nabi dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan kemudian Amirul Mukminin memintanya untuk bertobat namun ia enggan dan akhirnya dia dibakar. Dan dalam buku tersebut juga dikatakan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi yang berkata bahwa Yasyu’ bin Nun adalah pewaris kenabian setelah Musa Alaihi Salam, kemudian mengumumkan keislamannya dan setelah wafatnya Rasulullah, hal tersebut kembali diucapkannya terhadap Ali r.a. Masih banyak lagi riwayat riwayat yang dapat dijumpai dalam buku tersebut yang kesemua itu merupakan Maraji’ Syi’ah dan dalam riwayat riwayat tersebut tidak disebutkan dan dijumpai nama Saif bin Umar yang dituduh sebagai pengarang cerita yang mengada-ada sebagaimana yang dikatakan oleh Murtadha Al Askari. Maka tidak heran jika selain Syi’ah berkata bahwa Syi’ah itu berasal dari Yahudi.
Macam macam Syi’ah
Terkadang saya berfikir dan tak habis fikir, mengapa sebagian orang cenderung terhadap Syi’ah bahkan menjadi fanatik dengan Syiah, padahal dalam tubuh Syi’ah itu sendiri terpecah-belah menjadi beberapa golongan dan dari golongan itu sendiri terbagi lagi ke dalam berbagai aliran, bagaimana mungkin dijadikan sebagai pegangan maupun pedoman, bukan berarti menyalahkan Syi’ah dan orang yang menganut faham syi’ah, namun sebagai acuan dan bahan untuk direnungkan kembali dalam diri masing-masing.
Tidak semua Syi’ah itu sama, sebagian Syi’ah terlalu berlebih-lebihan bahkan menjadi kufur, misalnya, pada abad ketiga Hijriyah muncul tiga buah buku Tafsir yang dinisbatkan kepada Imam Al Hasan Al Askari, Tafsir Al Qami dan tafsir Al Iyasyi, ketiga buku tafsir ini menyimpang bahkan sesat dan zindiq dimana dalam buku-buku tersebut para sahabat rasulullah radhiyallahu anhum khususnya khulafaur rasyidin sebelum Imam Ali r.a beserta orang-orang yang membaiat mereka, dan terlalu berlebih-lebihan terhadap Imam-imam mereka yang menjurus ke Syirik. Sebagian Syi’ah mengambil jalan tengah, misalnya, pada abad kelima Hijriyah Al kilini murid Al Qami mengarang buku Al Kafi yaitu kitab tentang hadits yang dijadikan oleh Syi’ah kitab hadits mereka yang pertama dan utama, kitab ini mengambil jalan tengah, tidak terlalu banyak mentakwilkan ayat-ayat Al Quran baik Nash maupun makna. Dan sebagiannya lagi menggabungkan kedua duanya yaitu berlebih-lebihan dan mengambil jalan tengah. Namun inti dari semua Syi’ah yang ada adalah tidak mengakui keberadaan dan keabsahan Khulafaurrasyidin sebelum Ali r.a. dan Ali r.a lah yang berhak menjadi Imam dan Khalifah setelah wafatnya Rasulullah SAW. Syi’ah itu sendiri terbagi menjadi 70 golongan bahkan lebih, dalam kitab Firaqu Syi’ah mengatakan bahwa Syi’ah terpecah belah menjadi beberapa bagian dan golongan sepeninggal setiap Imam mereka, namun tidak memungkinkan untuk membahasnya satu persatu dan ada baiknya kita melihat golongan (firqah) Syi’ah yang besar saja yang mungkin dapat dijadikan sebagai mazhab yang kelima, diantaranya :
1. Al Ja’fariyah
Al Ja’fariya Al itsna Asyariyah adalah firqah Syi’ah yang terbesar yang mempunyai akidah khusus tentang Imam dan khalifah setelah wafatnya Rasulullah SAW yaitu :
a. Imam adalah asal dari segala asal agama dan iman seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan meyakininya, adapaun orang orang yang tidak meyakininya adalah kafir atau fasiq.
b. Seorang Imam haruslah seperti Nabi dalam kema’sumannya, sifat sifatnya dan ilmu pengetahuannya, lepas dari segala macam bentuk dosa baik yang dhahir maupun yang bathin dari kecil hingga tua, dan Ali r.a lah yang pantas untuk hal itu.
c. Jika seorang Imam itu harus seprti Nabi, maka harus berdasar dari Allah SWT melalui lisan Nabi, dan hal ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah kepada Ali r.a pada khotbahnya di Ghadir ham dan Haji wada’.
d. Setiap zaman dan masa haruslah ada seorang Imam setelah wafatnya Rasul dalam mengemban tugas tugas memberikan petunjuk kepada manusia.
e. Imam imam yang telah diisyaratkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah 12 orang yaitu : Ali bin Abi Thalib r.a (Al Murtadhi), Hasan bin Ali (Az zaki), Husein bin Ali (Sayyidu Syuhada), Ali bin husein (Zainal Abidin), Muhammad bin Ali (Al Baqir), Ja’far bin Muhammad (As sadiq), Musa bin Ja’far (Al Kadzim), Ali bin Musa (Ar Ridha), Muhammad bin Ali (Al Jawwad), Ali bin Muhammad (Al Hadi), Hasan bin Ali (Al Askari), dan Muhammad bin Hasan (Al Mahdi).
2. Al Ismailiyah
Dalam Syi’ah Imamiah Al Itsnaayariyah mereka berpendapat bahwa Imam adalah suatu kedudukan yang telah dipilih oleh Allah SWT dari hamba hambaNya sebagaimana halnya Ia memilih seorang Nabi, dan Allah telah memerintahkan kepada Nabi untuk menunjuk Ali r.a sebagai orang yang akan mengganti posisi dan kedudukan Rasulullah, yang kemudian dilanjutkan posisi dan kedudukan tersebut oleh Hasan r.a, kemudian Husein r.a, kemudian Ali Zainal Abidin r.a, kemudian Muhammad Al Baqir, kemudian kepada anaknya Ja’far As Sadiq. Namun keimaman setelah Ja’far As Sadiq ini terbagi menjadi dua golongan Syi’ah yaitu Syi’ah Al Ismailiyah dan Syi’ah Ja’fariyah Al Itsnaasyariyah. karena mereka berpendapat bahwa yang berhak menjadi Imam setelah Ja’far As Sadiq adalah anaknya yang sulung yaitu Ismail, adapun alasan sehingga Ismail tidak menjadi dan mewarisi keimaman setelah ayahnya yaitu Ismail telah wafat pada masa ayahnya dan alasan lain yaitu karena Ismail pernah didapati meminum arak dan mabuk, sedangkan Imam haruslah ma’sum dari segala dosa dan nista.
3. Az Zaidiah
Syi’ah dan semua firqah yang adal dalam Syi’ah itu sendiri menyatakan wajibnya keimaman, dan pendapat mereka itu sangat berbeda jauh dengan pendapat jumhur ulama, namun diantara Syi’ah yang mendekati pendapat jumhur Ulama yaitu Syi’ah Zaidiah pengikut Zaid bin Ali bin Al Husein bin Ali bin Abi thalib r.a. Mazhab Imam Zaid membolehkan adanya Imam yang lebih pantas dari yang pantas dan lebih Afdhal dari yang Afdhal sehingga Ia berkata : Ali r.a adalah sahabat yang baik dan pantas namun Abu bakr lah yang lebih utama, Imam Zaid pun mengakui keafdhaliyahan Abu bakr dan Umar r.a dibanding Ali r.a, kemudian mereka berbeda pendapat mengenai kekhalifahan Usman bin Affan yang membuat Syi’ah Zaidiah terpecah menjadi dua golongan yaitu golongan yang mencela Usman bin Affan dan sebagian mengambil jalan diam.
Keanehan Syi’ah
Ada beberapa hal yang membuat saya merasa aneh tentang Syi’ah itu sendiri yang bisa dikatakan bahwa mereka tidak konsisten dengan pendapat mereka, di sisi lain, mungkin dapat saya katakan sebagai kekeliruan mereka, hal-hal tersebut dapat saya simpulkan dalam beberapa poin di bawah ini :
1. Dalam tiga buah kitab tafsir yang Syi’ah jadikan sebagai maraji’ mereka yaitu kitab tafsir yang dinisbatkan ke Imam Al Hasan Al askari, tafsir Al Qami dan tafsir Al Iyasyi, dalam buku buku tersebut mereka mengkafirkan para sahabat radhiyallahu anhum khususnya khulafau rasyidin sebelum Imam Ali r.a beserta orang-orang yang membaiat mereka (Abu Bakr, Umar dan Usman), sementara Ali r.a sendiri termasuk orang yang membaiat mereka, meskipun menurut Syi’ah, Ali r.a tidak pernah membaiat mereka karena ia melihat bahwa dialah orang yang lebih pantas dibandingkan dengan yang lain dari sahabah dalam urusan keimaman dan Kekhalifahan, namun perkataan itu tidaklah benar, karena banyak dalil yang menunjukan pembaiatan Ali r.a terhadap Abu Bakr maupun Umar r.a dan Ali r.a sendiri mengakui keafdhaliyahan mereka sebagai Imam terhadap orang-orang muslim, salah satu dalil yaitu hadis riwayat Bukhari pada saat pembaiatan Abu bakr ia mengirim utusan kepada Ali dan Ali sendiri yang datang memenuhi panggilan tersebut maka bersaksilah Ali dan berkata Kami telah mengetahui akan segala keutamaanmu dan apa-apa yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadamu, hingga Abu Bakr mengucurkan air mata, dan Ali berkata tibalah masa pembaiatanmu ya Aba Bakr, kemudian setelah Abu Bakr shalat zhuhr naiklah ia ke mimbar dan berkhotbah. Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa setelah Ali berucap tibalah masa pembaiatanmu seraya ia berdiri mengagung-agungkan pantasnya Abu Bakr sebagai Khalifah kemudian menyebutkan keutamaan Abu Bakr lantas membaiatnya, masih banyak lagi dalil yang menunjukan bahwa Ali r.a membaiat Abu Bakr dapat dilihat di kitabul jihad bab perkataan Rasulullah SAW “La Nurisu ma tarakna fahua shadaqah”.
2. Hal yang mungkin terasa sangat aneh dapat kita lihat dalam Firqah Syi’ah Ja’fariyah Al Itsna Asyariyah yang sangat menggembor-gemborkan wajibnya keimaman dan segala macam bentuknya dengan segala dalil mereka baik dari Al Quran maupun Sunnah sedangkan mereka sendiri menjadikan anak berusia 7 tahun (Muhammad bin Ali Al Jawwad) dan 8 tahun (Ali bin Muhammad Al Hady) sebagai Imam mereka, padahal dalam shalat saja mereka tidak pantas dan layak menjadi Imam, bagaimana bisa dijadikan sebagai Imam yang akan mengurusi urusan kaum muslimin. Hal ini juga dibantah oleh sebagian Syi’ah, namun hal itu tidaklah benar, karena dalam maraji’ Syiah sendiri tertera dengan jelas dalam kitab Firaqu Syi’ah oleh An Nubekhti dan Al Qami hal 92 mengatakan bahwa Abu Al Hasan Ar Ridha wafat sedangkan anaknya Muhammad bin Ali Al Jawwad masih berumur 7 tahun, kemudian menjadikan Ali bin Muhammad Al Hady sebagai Imam pada usia 6 tahun dan sebagaian yang lain mengatakan, pada usia 8 tahun.
3. Apakah Ahlul Bait adalah Syi’ah? jika kita kembali ke cerita dan Qissah tentang Abdullah bin Saba’ yang berakhir dengan dibakarnya ia lantaran mengasas satu akidah tentang Ali r.a sebagai pewaris Nabi bahkan sangat berlebih-lebihan yang mengaku sebagai Nabi dan Ali r.a adalah tuhan. Dan kembali kita membaca Qissah kematian Sayyidu Syuhada Husein bin Ali r.a lantaran kemunafikan dan penghianatan yang dilakukan oleh Syi’ah sehingga terbunuhnya Husein r.a di depan mata mereka tanpa dapat berbuat apa apa. Dan kembali ke Adab Islam yang menceritakan peringatan Ali Zainal Abidin terhadap anaknya Zaid agar tidak bergabung dengan orang orang munafik dan para penghianat sebagaimana menghianati kakekmu Husein r.a, yang membuat Zaid kemudian kembali dihianati untuk yang kedua kalinya sebagaimana kakeknya (Husein r.a) oleh Syi’ah dan menemui ajalnya. Jelaslah bahwa Ahlul Bait bukanlah Syi’ah sedangkan Syi’ah adalah firqah yang menggembor-gemborkan dan berlebihan dalam mengagung agungkan Ahlul Bait.
Maraji’ Syi’ah
Apabila kita membaca buku buku Syi’ah, kita akan dapati beberapa maraji’ yang dijadikan sebagai maraji’ utama dalam buku-buku mereka, tidak heran ada pada setiap catatan kaki yang aghlabiyahnya (mayoritas) kembali ke kitab As Shawa’iq Al Muharraqah dan kitab Nahjul Balagha yang mereka jadikan sebagai maraji’ utama padahal mereka sendiri belum membaca buku tersebut atau mungkin dengan tujuan memperkuat dalil mereka sehingga terkesan membuat-buat maraji’. Kawan saya pernah menulis tentang Syi’ah, kemudian ia menyuruh saya untuk membaca agar lebih faham dan mengerti tentang Syi’ah, namun hal yang pertama saya lihat dalam tulisan dia adalah maraji’nya, ternyata dua kitab tersebut yang dijadikannya sebagai maraji’, lantas saya bertanya kepadanya, apakah engkau pernah membaca buku As Shawa’iq Al Muharraqah atau Nahjul Balagha, ternyata jawab dia’ saya hanya mengambil dan menukilkan saja dari tulisan orang, itulah kesalahan dia. Untuk itu ada baiknya saya tulis sedikit tentang buku As Shawa’iq Al Muharraqah dan Nahjul Balagha.
As Shawa’iq Al Muharraqah
Kitab Ashawa’iq Al Muharraqah di dalamnya terdapat radd (bantahan) terhadap Ahlul bid’ah dan kaum zindiq dan semacamnya, yang dikarang oleh seorang ahli hadis dan ahli fiqh Ahmad bin hajar Al Haytami Al Makki yang wafat pada tahun 974 Hijriah. Ibnu Al Haytami memulai bukunya dengan tiga muqaddimah, yaitu penjelasan tentang kewajiban memuliakan sahabat Rasulullah dan bantahan terhadap riwayat riwayat yang telah diada-adai dan dibuat-buat oleh kaum Syi’ah, kemudian Ijma’ para sahabat atas kewajiban adanya seorang imam setelah wafatnya Rasulullah dan ketiga cara cara penetapan kekhalifahan. Dan buku ini terbagi menjadi 11 bab, dalam buku ini dijelaskan cara-cara dan bagaimana sehingga Abu bakr menjadi khalifah dengan dalil-dalil keabsahan kekhalifahannya dari dalil Naql dan Akal. kemudian memulai perkataannya dengan ” Telah diriwayatkan oleh Syaikhani Albukhari dan Muslim dalam kitab Shahih mereka yang merupakan kitab yang sah setalah Al Qur’an yang berdasarkan Ijma’ ” kemudian menyebutkan apa-apa yang berkenaan dengan keabsahan pembaitan terhadap Abu Bakr Assidiq hal 20 tentang hadis yang dikeluarkan oleh Nasai, Abu Ya’la dan Hakim dari Ibnu Mas’ud r.a tentang perintah Rasulullah kepada Abu Bakr untuk menjadi Imam.
Di dalam buku tersebut menerangkan keutamaan sahabat Rasulullah dari Abu Bakr kemudia Umar kemudia usman kemudia Ali Radhiyallahu Anhum, dengan berbagai macam hadis, diantaranya hadis riwayat Muhammad bin Al Hanafiyah berkata : Saya telah bertanya kepada bapakku Ali r.a pada saat berada di kamarnya ” Hai bapakku, siapakah orang yang paling baik dan mulia setelah Rasulullah SAW “, Jawab Ali r.a : Abu Bakr, kemudia siapa? jawab Ali r.a : Umar, kemudia aku bertanya lagi : Setelah mereka, siapa lagi?bukankah engkau hai bappakku, kemudian Ali r.a menjawab : bapakmu ini hanyalah salah seorang dari orang orang muslim yang hanya memiliki apa yang mereka miliki. Dan dalam hadis riwayat Abu hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : Abu Bakr dan Umar adalah orang paling baik di langit dan di bumi dan sebaik baiknya Al Awwalin (yang pertama masuk islam), kemudian Rasulullah melanjutkan sabdanya : Ali, Fatimah, Hasan dan Husein adalah keluargaku sedangkan Abu Bakr dan Umar adalah keluarga dan hamba Allah dimana keluarga dan hamba Allah lebih baik dan lebih utama dari keluargaku.
Ibnu hajar Al Haytami dalam buku ini banyak menyebutkan sebab-sebab turunnya ayat dan hadis hadis baik dari hadis Shahih, Dhaif dan maudhu’ juga dari hadis-hadis yang tidak mempunyai asal atau tidak dikenal sama sekali oleh ahli hadis. kemudia Ibnu Hajar Al Haytami menjelaskan tentang hadis-hadis shahih yang dijadikan oleh Syi’ah sebagai dalil mereka itu hanyalah hadis-hadis yang mutawatir dan kebanyakan dalil-dalil mereka adalah bathil dan palsu bahkan bohong belaka, kemudian Ibnu Hajar memperkuat dalilnya dengan riwayat Al baihaqi dari Imam Syafi’i berkata : hanyalah orang-orang yang dikuasai hawa nafsu dari Syi’ah yang bersaksi dan meriwayatkan kepalsuan. Sementara Imam Ahmad bin Hanbal berkata : Apabila kami meriwayatkan hadis tentang halal atau haram maka kami akan ketat dan keras menyaring semua hadis, dan apabila kami meriwayatkan tentang keutamaan dan semacamnya maka kami mempermudah.
Jelas dan sangat nyata, bahwa dalam buku As Shawaiq Al Muharraqah ini sangat meradd (membantah) Syi’ah bahkan Ibnu Hajar Al Haytami sendiri menantang Syi’ah dan orang yang mengada-ada juga kaum zindiq. Kalau halnya demikian, berarti maraji’ Syi’ah itu salah alamat dan sangat mengada ada.
Nahjul Balagha
Kitab nahjul balagha adalah kitab yang tak bersumber yang ditulis dan dikarang empat abad setelah wafatnya Imam Ali r.a yang membuat ahli adab dan Ahli Nushus Al Arabi secara khusus dan Ahli sejarah secara umum kaget dan terheran-heran karena Nushus-nushus yang ada dalam kitab Nahjul Balagha tersebut belum pernah ada dalam buku-buku sejarah dan adab sebelumnya, sehingga Abdullah bin Al Mubarak, Ibnu Sirin dan selain mereka mengatakan, seandainya tidak ada kitab-kitab musnad, orang-orang akan berkata bohong sesuai dengan kehendak mereka, dan pengarang buku ini adalah Syi’ah.
Buku ini masih menjadi tanda tanya, apakah dikarang dan dihumpun oleh As Syarif Ar Ridha yang wafat pada tahun 406 Hijriah, ataukah yang dikarang oleh adiknya As Syarif Al Murtadha yang wafat pada tahun 436 Hijriah. Kemudian pada tahun 1406 Hijriah (1986 M) terbit cetakan baru terhadap buku ini (Nahjul Balagha) dengan judul Cetakan baru yang telah ditahqiq dan terpercaya yang mencakup nash-nash yang benar nisbahnya kepada Imam Ali r.a dari Khutbah khutbahnya, risalah dan hukum-hukumnya, yang telah ditahqiq oleh Dr Sabri Ibrahim Assayid dan Abdus Salam Muhammad harun. Perlu kiranya untuk melihat kembali perkataan pentahqiq buku tersebut yang mengatakan bahwa buku ini mempunyai berbagai macam masalah dan masih membingungkan, apakah kitab ini ditulis oleh Assyarif Arridha atau adiknya Al Murtadha, kemudian seberapa benarnya khutbah-khutbah. risalah dan hukum-hukum yang dinisbahkan ke Imam Ali r.a. Selanjutnya mereka berkata bahwa dalam buku ini banyak menggambarkan kehidupan dan istilah istilah baru yang belum ada pada zaman Ali r.a juga kebanyakan nash-nashnya tidak ada dalam kitab-kitab sejarah juga kitab-kitab adab yang ada sebelum Aridha dan Murtadha dan anehnya lagi tidak terdapatnya maraji’ dan sumber sumber yang terpercaya dalam periwayatan, dengan kata lain penulisnya hanya melihat dan mengambil sumber dari fikiran-fikiran dia sendiri.
Tanpa ragu Dr Sabri mengatakan bahwa buku ini ditulis oleh Syarif Arridha, dan kita akan mendapatkan hasil pentahqiqannya dengan perkataannya : saya mendapatkan diri saya dalam perjalanan panjang mempelajari buku ini dalam lima masalah tentang nash nashnya hal 81:97 :
a. Nash-nash yang benar nisbahnya ke Imam Ali r.a.
b. Nash-nash yang hanya diriwayatkan oleh Syi’ah.
c. Nash-nash yang tidak dan belum pernah diriwayatkan oleh seorang pun.
d Nash-nash yang diragukan kebenarannya dalam hal penisbahan karena adanya sebab khusus.
e. Nash-nash yang benar nisbahnya kepada orang lain.
Yang paling menjadi masalah dalam hal ini yaitu masalah pertama, bagaimana bisa Assyarif Ridha menisbahkan nash-nashnya ke Imam Ali, kemudian pada hal 65 Dr Sabri menjelaskan metode-metodenya dalam pentahqiqan dimana ia berkata : Inilah saya yang berusaha membongkar dan menyingkap apa-apa yang ada dalam kitab-kitab adab dan sejarah beserta nash-nashnya yang dikemukakan oleh Ar Ridha berdasarkan perkataan dan pendapat orang-orang yang hidup sebelum Ar Ridha dan orang-orang yang sezaman dengannya tanpa mengambil perkataan dan pendapat orang yang hidup sesudahnya. dan hasil dari semua ini Dr Sabri mengatakan: khutbah pertama dalam kitab ini benar nisbahnya kepada Imam Ali r.a dari awal khutbah hingga “wala waqtun ma’dud”, dan hanya lima baris (bait) saja yang benar sedangkan dalam Nahjul balagha terdapat 150 baris (bait), hal itu dapat dilihat dalam Al Aqdul farid oleh Ibnu Abdu Rabba hal 101. bagaimana halnya dengan bait lainnya? menurut pengarangnya bait lainya dapat ditemukan dalam kitab Al Imamah Wa Siyasah oleh Ibnu Qutaibah sedangkan buku tersebut bukan karangan Ibnu qutaibah dan tidak ada dalam sejarah bahwa Ibnu Qutaibah mengarang buku tersebut.
Dari semua di atas , jelas Syi’ah terlalu banyak mentakwil baik dalil maupun maraji’ mereka. hal ini perlu dikaji ulang agar tidak semakin salah hanya karena Tasyayyu’ fanatik terhadap syi’ah dan menyalahkan orang lain terutama mengkafirkan sahabat-sahabat Rasulullah SAW.
vikar










3 Comments:
Aneh, anda ini sayyid dan sayyidah tetapi menyebut Abu Bakar dengan Sayyidina. Sejak kapan Abu Bakar menjadi Sayyid...?
Dan menyebut Ali bin Abi Thalib hanya dengan Ali. Mengapa Anda malah menempatkan leluhur anda menjadi nomor empat padahal Allah sendiri menempatkan beliau sebagai Amirul Mukminin.
Aneh tetapi nyata... Ana 'ahwal tetapi cinta pada leluhur anda, dan berlepas diri dari musuh2Nya yang justru Anda berikan kecintaan dan penghormatan kepadanya. :-!
By
Anonymous, at 2:48 AM
wahai saudaraku, bertakwalah kepada Alloh dengan sebenar-benar takwa.
tidak kah Anda pernah mendengar hadist yang menyebutkan bahwa Islam akan terpecah menjdi 73 golongan?
hal yang anda sebutkn bukan lah hal yang aneh lagi.
dan sebenar-benar islam adalah yang berpegang dengan al qurn dan sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat, yang telah Alloh ridhoi mereka.
bukn kelompok yang berani mengkafirkn para sahabat seperti abu bakar ash shidiq, umar, ustman, dan ali bin abi tholib, dan seluruh sahabat ajmain..
kalo bukan dari mereka, dari mana islam ini bisa sampai kepada kita semua.
By
Anonymous, at 10:29 AM
ada dua pertanyaan yg saya ingin ajukan :
1. Kalau Abdullah bin Saba itu ada dlm sejarah, kenapa cerita itu hanya muncul pada masa khalifah Usman dan tidak muncul sebelum dan sesudah masa tsb ?
2. Bagaimana Sunni menjabarkan khalifah / imam 12 setelah wafat nabi saw dalam hadis Bukhori & Muslim ?
By
Anonymous, at 10:33 AM
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home