Iwan Fals, Humanisme dan Utusan Tuhan yang Diabaikan
Iwan Fals, Humanisme dan Utusan Tuhan yang DiabaikanTaufik Damas
Entah mengapa, setiap kali mendengar lagu-lagu yang dibawakan oleh Iwan Fals (selanjutnya disingkat menjadi IF), banyak orang sadar sejenak tentang kondisi sosial yang ada di Tanah Air ini. Orang suka, gemar dan gandrung karena lagu-lagunya mudah dicerna dan mengandung pesan-pesan humanis yang dalam. Lagu-lagunya bagaikan kolaborasi antara ayat-ayat Tuhan dan teriakan obyektif kondisi sosial yang ada di Indonesia. IF adalah utusan Tuhan untuk rakyat Indonesia.
Orang lain mungkin akan mengernyitkan dahi ketika IF dianggap sebagai utusan Tuhan. “Apa dasarnya?!” pertanyaan pertama yang pasti akan terlontar dari lisan banyak orang. Tentu ada alasan untuk klaim itu. Alasan yang berangkat dari renungan subyektif dan penghayatan akan lagu-lagu yang pernah dinyanyikan oleh IF serta memperhatikan karakter pribadinya. Saya tidak hafal betul pada tahun-tahun berapa setiap lagu yang dinyanyikan oleh IF. Bagi saya itu tidak penting, karena substansi pesan yang ada dalam lagu-lagunya itu yang perlu dihafal. Itu sebabnya, sebagian besar lagu-lagu yang pernah dinyanyikan oleh IF, begitu melekat di kepala banyak orang. Melalui lagu-lagunya, kesadaran kondisi sosial politik di Tanah Air Indonesia terkonstruksikan di kepala orang Indonesia. Pernah saya katakan kepada seorang kawan bahwa IF adalah guru sosiologi terbaik, paling tidak bagi saya.
Dari lagu-lagu yang pernah dinyanyikannya, orang akan mudah menilai bahwa IF adalah sosok “pemberontak”. Dia adalah pemberontak terhadap kondisi sosial politik yang sebenarnya tidak terlalu rumit untuk diurai. Setiap nurani yang hidup akan mudah sekali menemukan bahwa “di sini” ada ketidakadilan, penindasan, bahkan kerusakan moral. Hanya saja, ketidakjujuran telah mem-perumit semua itu, hingga orang tidak mampu mengatakannya. Ketidakjujuran itu bahkan tidak jarang dibungkus dengan gaun in-telektualitas yang elit, namun tetap hanyut dalam irama anomali sosial yang ada. Gak usah sekolah tinggi-tinggi, kalau begitu! Untuk apa sekolah tinggi, kalau akhirnya, diam-diam, kita semua mengamini mekanisme sosial yang tidak fair?! Kita serempak terserang amnesia ketika berhadapan dengan nilai-nilai. Makanya, di negeri ini yang menonjol adalah para penjilat, durno, kancil, bandit, karet, bunglon… Jadi? Jangan sekolah tinggi-tinggi! Begitulah kira-kira salah satu pesan “orang murka” yang pernah disampaikan oleh IF. Walau bisa jadi, ada orang murka karena tidak kebagian.
Kelebihan lirik lagu-lagu yang pernah dibawakan oleh IF adalah tidak bergerak dari ruang hampa. Lirik-liriknya lahir dari hasil potretan kondisi sosial politik di Tanah Air Indonesia dengan kata-kata yang sederhana, telanjang dan jenaka. Hampir seluruh profesi sosial yang dijalani oleh orang Indonesia pernah dipotret secara sederhana tapi dalam oleh IF: IF menyampaikan potret sosial mereka dengan kata-kata yang mudah dicerna, bahkan oleh nalar awam sekalipun; IF mampu melihat sisi manusiawi dari satu profesi yang oleh kebanyakan orang dianggap sampah. Sebagai contoh, profesi pelacur atau yang lebih dikenal sekarang ini dengan Penjaja Seks Komersial (PSK).
Sebagian besar kita hanya mampu melihat para PSK sebagai sampah masyarakat. Tidak jarang, para agamawan pun ikut melakukan stigmatisasi terhadap mereka. Tapi IF, dia mampu mengungkapkan bahwa di antara mereka ada perempuan yang berjuang untuk anak-anak yang ayahnya tidak jelas rimbanya. Bahkan IF memberikan harapan, bahwa Tuhan tetap akan mendengar doa mereka. Ini bisa dicermati dari lagunya yang berjudul Doa Seorang Wanita Pengobral Dosa. Pandangan humanis seperti ini tidak akan kita temukan dalam diri orang yang tidak memiliki kesadaran sosial dan spiritual yang dalam.
Dalam politik, orang mungkin akan mencemooh IF jika sekarang dia menjadi salah satu politisi di Tanah Air. Pandangan-pandangan politik yang ada dalam lagu-lagunya tidak akan dijadikan mars oleh para demonstran jika dia ikut masuk dalam “dunia pesta pora para binatang”. IF akan disejajarkan dengan mereka yang senang “bermain lompat karet”. Kenyataannya, seorang IF betul-betul menunjukkan karakternya dalam menyikapi kondisi sosial politik berhadapan dengan pamor dirinya. IF betul-betul “patah arang” terhadap politik. Bagi IF, panggung politik adalah panggung para binatang yang merasa diri sebagai bintang (Asyik gak asyik).
Padahal, jika IF mau, dengan wibawa dan popularitasnya, partai manapun akan siap menerimanya sebagai bagian dari elit partai. Bahkan mendirikan partai pun bisa ia lakukan, walau belum tentu jadi partai besar. Dan itu berarti hasrat untuk memperkaya diri akan menemukan jalurnya, sebagaimana banyak dilakukan oleh para belalang (Belalang Tua). Namun, kekuatan karakter yang ada dalam dirinya keras membimbing IF agar tidak tergiur ikut berpesta. Di era reformasi (katanya), lagu-lagunya yang terbundel dalam album Manusia Setengah Dewa mempertegas sikap sosial politik dan karakter dirinya sebagai seorang utusan Tuhan.
Hal yang mengagumkan dalam diri IF adalah kematangan diri yang sulit kita temukan dalam diri kebanyakan orang. Dia adalah utusan Tuhan yang menerima wahyu non-evaluatif untuk disampaikan kepada masyarakat Indonesia, bahkan masyarakat manusia. Walau lirik dalam lagu-lagunya begitu kental dengan pesan-pesan moral (di balik kritik sosial pasti ada pesan moral) yang realistik-eternal, namun kerendahan hati dan ketenangan tampak begitu inheren dalam dirinya akhir-akhir ini. Gaya bicara yang tidak lantang (baca: pongah), menunjukkan bahwa IF sadar bahwa dirinya bukan manusia setengah dewa. Dia tidak memiliki pretensi bahwa untuk membenahi kondisi sosial politik di Indonesia cukup dengan bernyanyi. Ini yang membuatnya tidak pernah geer. Namun, pergu-latan batin yang dahsyat berkenaan dengan ketimpangan sosial yang terjadi di Bumi Pertiwi, tetap ia suarakan dengan lantang melalui lagu. Kelantangan itu seolah ia cukupkan terwakili oleh lagu. Sikap diri yang terdapat dalam seorang IF, jika harus diberi tanda, maka tanda itu tidak lain adalah konsistensi dan integritas.
Mendengarkan lagu-lagu cinta IF, kita akan menangkap bahwa cinta yang dihayati oleh IF adalah cinta orang-orang marjinal di negeri ini. Itu bisa kita lihat dalam lagu-lagunya seperti Lonteku, Kembang Pete, Yakinlah (duet bersama Eli Sunarya) dan lain-lain. Itulah cinta yang jujur, dalam dan kere. Saking kere-nya, sang lelaki hanya mampu mempersembahkan kembang pete kepada perempuannya. Keberpihakan IF pada rakyat kecil nan marjinal begitu jujur dan mendarahdaging, hingga dalam lagu-lagu cinta pun ia memilih potret cinta-cinta orang pinggiran. Biasanya, dalam lagu, orang akan berbicara tentang cinta yang mengandaikan sudah didukung oleh keserbacukupan materi; cinta yang membuat kebanyakan orang Indonesia menjadi lupa akan kondisi sosialnya; cinta yang cengeng, genit, glamor dan norak. Perhatikan kebanyakan lagu-lagu cinta yang dinyayikan di negeri ini, tidak pernah dewasa.
Seorang kawan pernah menyatakan ketidaksetujuannya terhadap IF, karena IF pernah mengeritik Tuhan dalam salah satu lagunya, Tolong Dengar Tuhan! Lagu yang ia nyanyikan setelah peristiwa meletusnya gunung Galunggung di Tasikmalaya. Jika disikapi dengan nalar terbuka, lagu itu justru merupakan ekspresi penghayatan tentang alam semesta dan Tuhan yang dialami oleh orang bebas dan berani. Dalam dunia filsafat, penghayatan seperti ini banyak diungkapkan oleh para filsuf. Penghayatan inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya teologi atroposentris. Jadi, menghayati isi lagu-lagu IF, kita akan menemukan kecenderungan humanisme yang kuat. Humanisme yang dari zaman ke zaman selalu disuarakan oleh para utusan Tuhan. Kini dan di sini, IF adalah utusan Tuhan yang diabaikan! (Jakarta, 16 Mei 2005, Taufik Damas).
span.fullpost {display:inline;}









1 Comments:
keren bro…katanya tulisan nt ini mendapat penghargaan n kehormatan dari iwan fals untuk bertemu dengannya yah….gimana hasil pertemuan nt dengan iwan fals? tulis lah blo, gimana rasanya atau kesan saat bertemu dengan idola.
Tahun 1988, pertama kali I m falling in love dengan lagu-lagu iwan fals, sampai sekarang pun masih suka mendengar lagu2nya. lyrik lagunya terilhami oleh kehidupan melalui renungan yang dalam terhadap nilai-nilainya, yang mampu menyesuaikan antara irama kehidupan dan nada, mempunyai daya tarik tersendiri yang dapat menyadarkan pendengarnya meski sesaat. Itulah kehebatan lagu-lagu iwan fals. Wajar bila sangat diidolakan oleh setiap orang dan dianggap sebagai utusan Tuhan yang diabaikan.
Tapi, bokap saya sering mengingatkan, kalo suka pada sesuatu, jangan terlalu berlebihan karena susuatu yang dilebih-lebihkan akan manambah semakin berlebihan bahkan mungkin akan menambah-nambah kekurangan, susuatu yang umum akan dijadikannya khusus dan yang hususan malah diumumkan. Makanya, ana lebih mengidolakan bokap dibanding artis, pembesar maupun orang kaya.(bukannya iri bro)
Makanya blo, kalo nt nulisnya, iwan falas,utusan Tuhan yang diabaikan, kayaknya terlalu umum, kasian kalo yang bacanya orang biasa, apalagi fans beratnya. Mungkin akan menimbulkan kesalahfahaman atau bisa jadi semakin mengagung-agungkannya. Dulu waktu zaman orde baru, karena terlalu fan sama iwan fals menimbulkan Suudzan dalam diri bahwa iwan fals adalah utusan presiden atau pemerintah yang sengaja diutus denga lyric dan keindahan lagu-lagunya sebagai bahan acuan dan masukan buat pemerintah agar lebih mengetahui bagaimana reaksi masyarakat dan apa yang lebih diinginkan oleh rakyat. Ternyata kesuudzananku meleset tapi bukan berarti tidak benar kemungkinannya, karena semua mungkin-mungkin saja.
Sewaktu ayat; Wasyu’ara yatbauhum al ghaun” turun, sahabat (penyair nabi) menangis. Namun Nabi menggembirakan mereka dengan Illa yang ada pada ayat berikutnya, yaitu menjauhi Madah yang berlebihan, begitupun ghazal dll. bukan berarti menyempitkan ruang syair melainkan memberi sedikit batasan agar tidak berlebih-lebihan. Karena pujian yang berlebihan akan membuat orang lupa akan dirinya dan lupa akan nilai kehidupan. Hal ini menunjukkan dalamnya tadabbur terhadap nilai nilai kehidupan yang penuh rahmah mauidzah dan mempraktekkannya.
Sebagai orang yang banyak merenungi nilai kehidupan, pasti akan lebih menegtahui dan mendapat banyak pelajaran yang dapat dipetik baik berkenan dengan diri sendiri maupun orang lain kemudian diolah agar hasilnya lebih perfect dan menjadikanya bijak. Seharusnya Iwan fals protes atau melarang nt nulis kaya gini, kalo dia malah nerima dengan senang hati tulisan nt, berarti iwan fals hanyalah seorang pemimpi atau imajinasi yang tinggi atau bahkan bisa dikatakan sebagai provokator yang diutus pemerintah. karena ciri-ciri orang bijak itu tidak suka di puji apalgi dengan pujian yang berlebihan.
By
fikar, at 7:50 AM
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home