PPMI, Haruslah Semakin Dewasa
PPMI (Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia -Cairo) Haruslah semakin Dewasafikar
Beberapa tahun terakhir ini, nasib PPMI - Cairo semakin terpuruk, yang ditandai dengan banyaknya acara tahunan mahasiswa macet, lantaran proposal yang diajukan ke KBRI Cairo kurang mendapat respon baik. Bahkan nama PPMI itu sendiri telah kehilangan pamornya baik intern maupun ekstern. Hal ini yang membuat saya sebagai bagian dari mahasiswa Indonesia merasa sedih melihat kenyataan yang ada dan selalu bertanya-tanya tanpa ada jawaban, sebegitu manjakah mahasiswa Indonesia-Cairo? Sebegitu pintarkah Ocehan-ocehan aktifis mahasiswa dalam mengaplikasikan ocehannya?. Ternyata hal itu semua ada sedikit benarnya, dan harus selalu diakui agar organisasi mahasiswa (PPMI-Cairo) di kemudian hari lebih mandiri. Dan kayaknya Motto yang ada di PPMI haruslah dirubah menjadi “Sedikit berkata, banyak berbuat” sebagai tolak ukur agar lebih maju dan dewasa. Karena tidak dapat dipungkiri, bahwa Mahasiswa Indonesia-Cairo adalah mahasiswa yang hanya pandai berbicara tapi belum mampu bekerja dan mengaplikasikan omongannya dalam bentuk nyata. Atau mungkin karena dilatarbelakangi oleh tidak adanya rasa memiliki akan organisasi mahasiswa (PPMI).
Meskipun HPMI (Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia-Cairo) telah dirubah namanya menjadi PPMI dengan tujuan agar lebih dewasa dan mandiri, ternyata hal itu malah semakin buruk bila dibandingkan dengan HPMI dahulu, bahkan perbedaan itu jelas sangat jauh. Hal ini semua mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, yang antaranya adalah:
1. Tidak adanya rasa memiliki oleh pengurus PPMI itu sendiri dalam menjalankan organisasi, terlebih lagi para mahasiswanya yang kian hari semakin menjauh dari organisasi tersebut.
2. Pengurus PPMI didomisasi oleh golongan tertentu, yang bisa saja mengakibatkan masalah-masalah diluar keinginan golongan tersebut diabaikan begitu saja atau tidak adanya usaha untuk menampung keinginan golongan lain dan mewujudkannya.
3. Kurangnya kinerja ekstern pengurus dalam upaya mengembangkan keorganisasian agar lebih mandiri. Hal ini pun mungkin dilatarbelakangi oleh budaya turun temurun kepengurusan PPMI yang hanya bisa menadah tanpa bisa memberi, yang hanya bisa merengek dan mengocek kantong KBRI tanpa mampu membuat saku sendiri. Yang mungkin saja PPMI bisa diplesetin menjadi Persatuan Pengemis Mahasiswa Indonesia, karena KBRI dijadikan sebagai sumber dana pokok dalam mendanai setiap kegiatan. Di saat KBRI enggan memberi, macetlah semua kegiatan dan PPMI hanyalah hiasan dan tinggal nama.
4. Kepandaian berbicara (keilmuan) hanya sebatas pamer kalo ia pandai dan pintar berbicara, tanpa peduli hasilnya. Atau bisa dikatakan bahwa mahasiswa Indonesia-Cairo hanya pandai berorganisasi sebatas retorika tapi belum mampu menjalankan organisasi dengan baik. Pengetahuan tentang Teori-teori keorganisasian tidak diragukan lagi, cuman dalam pelaksanaanya yang setengah-setengah serta ogah-ogahan yang mungkin didasari oleh faktor pertama tadi, sehingga maju mundurnya organisasi terabaikan.
Empat faktor utama di atas, yang sangat dominan mempengaruhi tenggelamnya PPMI sebagai organisasi mahasiswa, terlebih lagi organisasi tersebut berada di luar negeri, (masa harus kalah ama OSIS SMU yang ada di Indonesia). Jika keempat faktor tersebut dibenahi, maka PPMI akan semakin dewasa dalam berorganisasi.
Memang masalah dana seringkali menjadi alasan utama macetnya kegiatan organisasi, namun tidak pernah tergambarkan bagaimana cara dan solusi dalam mengatasi masalah tersebut. Haruskan mengemis terus kepada orang tua (KBRI) dalam pendanaan?. Anak kecil pasti akan merengek kepada orang tuanya, namun bila mahasiswa luar negeri yang melakukannya, kiranya perlu ditertawakan. Karena orang dewasa akan berbalik kepada orang tua apabila ada hal-hal yang butuh pertimbangannya atau ide-idenya dan meminta pengarahan darinya, bila hal itu berupa finansial ataupun duit, sekali dua kali masih wajar, namun bila dijadikan sebagai tempat mengemis, sampai kapan organisasi akan menjadi lebih berkembang dan dewasa?. Akhirnya yang timbul malah semakin buruk, proposal dijadikan budaya bahkan adat istiadat oleh setiap organisasi mahasiswa yang ada di Cairo. Misalnya buletin mahasiswa Terobosan, setiap kali terbit, harus mengemis dana dulu di KBRI, setelah terbit malah beritanya menyinggung KBRI baik secara keseluruhan maupun perorang. Lucu kan???…
Jika dikembalikan pada zaman dulu, ketika nama organisasi mahasiswa Indonesia-Cairo masih bernama HPMI, jelas akan didapati perbedaan yang sangat jauh dengan PPMI yang ada saat ini. HPMI dulu, malah menjadikan KBRI sebagai MUSUH, bukan sebagai orang tua. Karena dana organisasi begitu banyak sumbernya baik dari Tanah Air sendiri (pengusaha dan organisasi muslim) maupun dari Saudi dan lain-lain, sehingga wajar bila dapat berkembang dan semakin dewasa. Hal ini, kiranya dijadikan masukan buat pengurus PPMI agar kiranya dapat berinteraksi tidak hanya sebatas mahasiswa yang ada di Cairo saja, terlebih lagi sebagai bahan dalam mencari dan mengupayakan dana organisasi agar tidak terpatok pada satu sumber yang mungkin saja malah mengatur jalannya organisasi dan membuat organisasi itu tidak berdaya. Dan hal itu semua dibutuhkan kepandaian pengurus dalam mencari relasi.
Dulu saya pernah mengusulkan kepada buletin Terobosan agar kiranya terbitannya ada khusus berita tentang Cairo dan ada juga yang bersifat keilmuan yang akan diterbitkan di Indonesia setiap jumat yang bisa saja berisikan berita tentang Cairo atau pengenalan tentang Al Azhar dan Universitas lainnya yang ada di Cairo dan hal-hal yang bersifat kajian islam kontemporer, semua itu demi menambah sumber dana buletin, namun hal itu tidak mendapatkan respon, karena mungkin terasa berat oleh pengurus. Dan hal-hal semacam inilah merupakan salah satu contoh, yang mungkin menjadikan acuan dalam mencari dan mengadakan relasi dalam pendanaan organisasi agar tidak terfokus pada satu sumber dana yang kadang jelas dab kadang tidak.
Kiranya semua ini merupakan masukan buat PPMI-Cairo dan semua mahasiswa Indonesia yang berada di Cairo, yang apabila menjadi pengurus, kiranya semua ini bisa dibenahi, agar Organisasi mahasiswa Indonesia-Cairo semakin maju dan dewasa yang menghasilkan buah yang konkrit dan bermanfaat pada diri pribadi dan orang lain. Dan tulisan ini pula, merupakan himbauan kepada pengurus PPMI-Cairo khususnya agar kiranya mendiskusikan kembali dan mencari solusinya terutama masalah sumber dana organisasi agar tidak hanya mengharapkan hasil dari pembuatan kartu PPMI dan KBRI saja, melainkan mencari sumber dana lain yang dapat membantu jalannya organisasi dan semakin menghidupkan kembali semangat PPMI pada saat menggantikan namanya. Jika BWKM (Badan wakaf mahasiswa) mampu mengupayakan dana, masa PPMI gak bisa? buktikan kalo PPMI adalah organisasi mahasiswa Indonesia-Cairo yang dewasa dan mampu berkarya.
Satu hal yang perlu diingat, bahwa segala perbuatan ada imbalannya, agar budaya ketimuran lebih dihidupkan dan tidak terkesan mengemis, Jika anda meminta jangan lupa memberi imbalannya meski dengan sesuatu yang tidak berharga berupa plakat sebagai ucapan terima kasih dll, dan jika memberi, jangan lupa untuk tidak meminta imbalannya dengan nyata, agar kiranya lebih dihormati dan dihargai. Semoga PPMI (Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia - Cairo) benar-benar sebagai wadah bagi seluruh Mahasiswa khusunya dan masyarakat Indonesia yang ada di Cairo pada umumnya.
span.fullpost {display:inline;}









0 Comments:
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home