Kelelawar Cairo
Fikar
Sebagian besar pelajar dan mahasiswa Indonesia-Cairo menjadikan “Begadang” sebagai pola hidup bahkan tabiat sehari-hari yang terkesan negatif. Namun jika dicermati dengan sedikit lebih seksama terhadap Nash yang ada, iklim dan situasi setempat, ternyata hal itu dapat dikatakan sebagai hal yang wajar-wajar saja bahkan sangat bermanfaat. itu semua kembali pada permasalahan Tahajjud, ‘Urf maupun dari segi kedokterannya.
Meskipun dalam Al-Quran dengan jelas telah menyatakan bahwa Allah menjadikan siang hari sebagai kesempatan berusaha memenuhi kebutuhan hidup, dan menjadikan malam sebagai tempat beristirahat, mengingat dalam satu hari, jantung kita berdetak sebanyak 100.000 kali, darah kita mengalir melalui 17 juta mil arteri, urat darah halus dan juga pembuluh-pembuluh darah. Tanpa kita sadari rata-rata sehari kita berbicara 4.000 kata, bernafas sebanyak 20.000 kali, menggerakkan otot-otot besar sebanyak 750 kali, dan mengopersikan 14 milyar sel otak. Sehingga pantaslah bagi manusia istirahat, dan tidur adalah istirahat yang sangat baik menurut ilmu kesehatan. Namun ada sebagian Nash pun dalam Al-Quran yang dapat dikatakan kontraversi dengan ayat tadi, misalnya “Wa min al-lail fatahajjad bih”, dan juga pada surat al-Muzzammil, ayat:6-7, berbunyi: “Sesungguhnya bangun di waktu malam, dia lebih berat dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya bagimu di siang hari kesibukan yang panjang.” . Kesemuanya itu menunjukkan anjuran menyibukkan diri untuk mengingat Tuhan di waktu malam pada saat orang lain sedang terlena bersama mimpi.
Makna “tahajud” yang berarti salat malam setelah bangun dari tidur, memang seakan-akan salat tahajud itu menyaratkan tidur lebih dulu. Kalau belum tidur maka salat itu tidak disebut salat tahajud, namun disebut shalat “qiyamullail” (shalat malam). Kata tahajjud dipahami oleh al-Biqai dalam arti tinggalkan tidur untuk melakukan shalat. Shalat ini juga dinamakan Shalat Lail/Shalat Malam, karena ia dilaksanakan di waktu malam yang sama dengan waktu tidur. Dianjurkannya karena tengah malam adalah saat mustajabah untuk memanjatkan doa. Tengah malah adalah saat yang tenang, kebanyakan orang pada pulas tidur, namun para malaikat turun ke bumi untuk mendengarkan keluhan dan jeritan hati manusia yang kemudian disampaikan kepada Allah.
Naifnya, Para dokter di National Taiwan Hospital baru-baru ini mengejutkan dunia kedokteran karena ditemukannya kasus seorang dokter muda berusia 37 tahun yang selama ini sangat mempercayai hasil pemeriksaan fungsi hati (GOT, GPT), tetapi ternyata saat menjelang Hari Raya Imlek diketahui positif menderita kanker hati sepanjang 10 cm! Selama ini hampir semua orang sangat bergantung pada hasil indeks pemeriksaan fungsi hati (Liver Function Index). Dimana mereka menyebutkan bahwa penyebab utamanya adalah Tidur terlalu malam (begadang) dan bangun terlalu siang adalah penyebab paling utama. sedangkan beberapa faktor lainya seperti, Terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan, Terlalu banyak mengkonsumsi bahan pengawet, zat tambahan, zat pewarna, Pemanis buatan. Pola makan yang terlalu berlebihan, dan Tidak makan (sarapan) di pagi hari. Adalah faktor pendukung kangker hati.
Benarlah jika DR. Muhammad Soleh, dosen IAIN Surabaya, telah mampu membantah pandangan tersebut melalui desertasi yang ia pertahankan sehingga mendapatkan gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, dengan judul “Pengaruh shalat Tahajjud terhadap peningkatan perubahan respon ketahanan tubuh imunologik: Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologi”, menyimpulkan jika Anda melakukan shalat tahajjud secara rutin, ikhlas dan khusyu’ niscaya Anda akan terbebas dari penyakit infeksi dan kanker.
Ada orang yang selalu bangun pagi. Pukul enam pagi mereka sudah tidak betah lagi berada di tempat tidur. Dan begitu bangun mereka mampu bekerja dengan penuh konsentrasi. Tetapi, ada juga orang yang selalu begadang. Mereka secara naluri tidak dapat tidur sebelum larut malam. Kalau bangun terlalu pagi, mereka cepat marah dan tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja. Apa yang menyebabkan perbedaan itu? Masalahnya: setiap orang memiliki jam biologis atau mekanisme pengaturan waktu internal dalam tubuh yang bekerja secara otomatis.
Jam ini sudah terprogram secara genetis dan menentukan kapan waktunya kita bangun dan kapan kita tidur. Dalam Forum Ilmu Pengetahuan „Euroscience Open Forum“ ESOF di München, Jerman, para peneliti mendiskusikan pengetahuan aktual yang hasilnya terutama dapat membuat orang yang suka tidur lama, merasa senang.
Till Roenneberg adalah professor di Institut Psikologi Kedokteran Universitas München. Ia peneliti soal jam biologis.
Till Roenneberg: “Jam internal itu seperti jam betulan. Kenapa kita memerlukan sebuah jam? Karena kita ingin tahu kapan kita harus berangkat, supaya misalnya tidak ketinggalan kereta api. Jam internal atau jam biologis mempunyai fungsi yang sama. Jam itu ingin mengetahui: Apakah saya sekarang harus meningkatkan temperatur atau hormon supaya saya bisa bangun dalam waktu dua jam nanti”.
Jam internal yang dibicarakannya itu adalah reaksi proses evolusi terhadap pergantian dari malam ke siang hari. Jam itu terprogram dalam gen dan mengatur kapan kita bangun dan kapan kita tidur. Dan setiap orang memiliki jam biologis tersendiri yang berbeda satu sama lain. Tetapi jam biologis tidak selalu sama berdetak. Ini tergantung dengan umur.
Anak kecil biasanya bangun pagi sekali. Orang tuanya acap kali kerepotan oleh karena itu. Kemudian mereka tumbuh besar dan jam biologisnya semakin bergeser ke belakang dan pada usia remaja, pergerseran ini mencapai titiknya yang terakhir. Mulai usia 20 tahun jam itu kembali berangsur-angsur bergerak ke depan lagi. Ini berarti: kaum remaja dapat diibaratkan seperti burung hantu dan pensiunan sebagai burung Lerche. Namun untuk semuanya yang berlaku adalah: Jika hidup melawan jam biologis, misalnya karena setiap harinya bangun jam enam pagi karena wekernya berdering, maka badan akan mengalami stress. Para pakar seperti Till Roenneberg menyebut gejala tersebut “social jetlag“. yang disebabkan oleh hormon kortisol yang merupakan salah satu hormon stres. Kadar hormon ini semakin meninggi ketika kita dalam keadaan stres. Dengan kadar hormon yang meninggi kita lebih mudah berbuat salah, sulit berkonsentrasi dan daya ingat kita kurang baik. Hormon ini oleh pakar kesehatan dijadikan tolak ukur untuk tingkat/derajat stres seseorang.
Makin stres seseorang maka hormon kortisol semakin meninggi dalam darahnya yang akan menyebabkan ketuaan dan keriputan pada wajah. Hormon kortisol memiliki kadar tertinggi di waktu tengah malam hingga di waktu pagi, terutama pagi-pagi sekali (normal di pagi hari berkisar 38-690 nmol/liter, sedangkan malam-nya 69-345 nmol/liter).
Jika kembali melirik “Fiqh Realita” kita akan dapati imam Al-Suyuthy, seorang pakar hukum dari mazhab Syafi’i. Ia menggambarkan seorang mufti sebagai berikut:”Kedudukan seorang mufti ibarat kedudukan seorang dokter, ia seharusnya menangani kasus dan memberi keputusan sesuai kecenderungan kondisi, person dan zaman. Mufti adalah dokter agama dan ia adalah dokter tubuh.[Jadaliyyat al-khithab wa al-Waqi:235].
Imam al-Qarafi (626-684 H) salah seorang pembaharu pada zamannya dan ahli hukum dari mazhab Maliki berkata:”Pertimbangkanlah tradisi (’Urf) yang masih berlaku dalam suatu masyarakat, dan janganlah melirik pada tradisi yang sudah tidak berlaku. Janganlah membelenggu diri pada karangan dan karya-karya ulama terdahulu seumur hidupmu. Jikalau datang seseorang kepadamu meminta fatwa dari daerah lain bukan daerah dimana kamu hidup, janganlah memperlakukannya seperti orang yang berasal dari daerahmu tapi tanyakanlah tradisi daerahnya lalu beri fatwa berdasarkan tradisi itu, bukan berdasarkan apa yang tertulis di dalam buku. Itulah kebenaran yang jelas, dan kemutlakan memberi fatwa berdasarkan apa yang tertulis dalam buku-buku adalah kesesatan dalam agama, dan itu berarti tidak memahami maksud para ulama islam dan ulama salaf terdahulu.[Al-Furuq, vol I:314].
Kesemuanya menunjukkan bahwa untuk menghakimi suatu perkara tidak terlepas dari kebiasaan yang terjadi di suatu daerah, sehingga kita tidak dapat memvonis bahwa begadang adalah suatu tabiat yang buruk, karena penilaiannya pun harus kembali kepada beberapa faktor dan sudut pandang yang berbeda yang dapat dijadikan sebagai bahan pertanyaan dalam menjawab masalah tersebut, yaitu: Mengapa harus begadang? untuk apa begadang? dan mengapa sebagaian besar mahasiswa Indonesia - Cairo menjadikannya sebagai kebiasaan? Untuk menjawab semua pertanyaan ini akan kembali kepada iklim dan situasi yang ada di Mesir sebagai faktor pendukung yang dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Musim dingin yang mencapai 8% cc bahkan sampai 3%cc memaksa untuk tetap bertahan dan betah di dalam selimut ataupun musim panas yang mencapai 43% cc bahkan lebih yang memaksa untuk tetap bernaung di apartmen masing-masing dan membuat malas untuk menghirup udara luar.
2. System perkuliahan di Universitas Al-Azhar yang kurang mementingkan absensi siswa, berbeda halnya dengan sistem yang ada di Indonesia yang mana absensi siswa dijadikan sebagai nilai plus dalam kelulusan dan sebagainya.
3. Adat dan kondisi yang berlangsung di Mesir, dimana toko-toko, mall, restaurant dan sebagainya dibuka setelah jam 12 siang, perkantoran dan sekolah dimulai jam 9 atau jam 10 pagi. Atau dapat dikatakan bahwa aktivitas masyarakatnya lebih ramai pada malam hari dibanding siang bolong.
4. Begadang telah menjadi suatu kebiasaan, sehingga bangun di pagi hari adalah penyebab suntuk bahkan stress, karena bingung mau ke mana apabila tidak ada urusan.
Dan masih banyak lagi faktor yang mendukung terbolak-baliknya pola kehidupan yang berlangsung di Mesir, sehingga hal tersebut jika dikaitkan dengan semua uraian yang ada di atas, baik yang berhubungan dengan masalah Tahajjud, kedokteran maupun ‘urf, jelaslah bahwa hal itu bukanlah kebiasaan buruk melainkan sebaliknya, meskipun hanya segelintir saja yang begadang demi Qiyamullail. Jika dikaitkan dengan pendapat Till Roenneberg akan terlihat sedikit benarnya melalaui raut wajah mahasiswa Indonesia-Cairo meskipun umurnya tua namun wajahnya nampak muda disebabkan oleh berkurangnya tekanan hormon kortisol pemicu kesetresan. Wallahu a’lam.










0 Comments:
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home