Welcome To LuviLove Sites

15 April 2006

Menikah, Cara mudah menjadi kaya

Menikah, Cara mudah menjadi kaya
Saidna Zulfikar bin Thahir

Keraguan sering kali muncul disaat memikirkan kesulitan dan banyaknya permasalahan yang dihadapi dalam berumah-tangga (suami-istri) yang mungkin dilatarbelakangi oleh keadaan di sekeliling maupun keluhan dari kawan, kakak dan orang-orang terdekat yang telah menikah sehingga timbul keraguan bahkan rasa takut yang berlebihan, tidak mengherankan jika jawaban mereka selalu pesimis saat ditanya kapan akan menikah, karena meraka merasa belum siap menjalani pahit getirnya perkawinan. Berbeda dengan orang-orang yang selalu melihat kemesraan dan kebahagiaan suami-istri yang ada di dekatnya meskipun kebanyakan dari apa yang disaksikannya belum tentu benar atau sekedar sandiwara, namun dalam benaknya, hal tersebut (berumah-tangga) adalah keindahan yang harus segera diraihnya sebelum sesal di kemudian hari, tanpa ditanyai pun mereka akan menjawab dengan pasti akan segera menikah. Kedua hal tersebut adalah benar bahwa menikah bukanlah seperti membeli kacang di pasar melainkan harus difikir dipilih dan dipertimbangkan agar rumah tangga tersebut kelak menjadi sakinah mawaddah warahmah, akan tetapi hal tersebut janganlah dijadikan beban, melainkan sebagai tolak ukur dalam menjalaninya, singkirkan perasaan takut dan ketidak siapan dalam diri, jika tidak, hal itu selamanya akan membuatmu tidak akan pernah siap untuk menjalaninya.

Untuk menghilangkan keraguan dan mengokohkan niat, haruslah kiranya diketahui bahwa tujuan dari pada nikah adalah ibadah, karena Allah SWT berfirman : ” Wankihul ayama minkum wa asshalihina min ibadikum wa imaikum” dan nikahilah para pemuda dari kamu sekalian yang shaleh, atau dalam firmannya yang lain :”Fankihu ma thaba lakum minannisa”, kawinilah wanita-wanita yang kamu kehendaki. Kesemuanya ini mengisyaratkan bahwa tujuan nikah yang pertama adalah untuk mengikuti atau melaksanakan perintah Allah SWT, yang kedua: mengikuti sunnah Rasulullah SAW, ketiga: ingin membina keluarga yang islami, keempat: ingin mempunyai atau memperbanyak keturunan agar yang menyembah Allah lebih banyak dibandingkan dengan yang tidak menyembah-Nya.

Olehnya itu perbaikilah niat bahwa nikah itu pada dasarnya adalah untuk ibadah sehingga kalau misalnya suami pulang bertemu isteri pun termasuk ibadah bahkan ketika Rasulullah SAW menerangkan, kalau suami kumpul (gitu deh) dengan isterinya adalah ibadah dan mendapat pahala, para sahabat kaget dan bingung,”Masa sih bersenang-senang dengan istri termasuk ibadah dan mendapat pahala”, jawab rasul:”Bagaimana kalau kalian berzinah”,sehingga bersenang-senang denga isteri pun termasuk ibadah dan mendapat pahala.

Nikah adalah sebagian dari agama, dengan menikah berarti menyempurnakan ibadah dan dengan menyempurnakan ibadah berarti menyempurnakan agama, bahkan menikah itu sendiri dapat membuat orang menjadi kaya, sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam surah An nur ayat 32 :”Wankihul ayama minkum wasshalihina min ibadikum wa imaikum in yakunu fuqaraa yughnihimullah min fadhlihi wallahu waasiun ‘alim”. yang artinya: dan nikahkanlah laki-laki yang sendirian dan perempuan yang janda diantara kamu serta hamba laki-laki dan perempuan kamu yang patut nikah, jikalau mereka miskin maka Allah akan menjadikan mereka kaya dengan karunianya, dan Allah maha luas (pemberiannya) lagi maha mengetahui. dalam ayat tersebut, kata “yughnillahu” atau ja’alahumullahu ghaniyan menunjukkan bahwa Allah dengan segala kekuasaannya akan menjadikan mereka itu kaya dengan perkawinannya.

Pasti orang akan bertanya “Masa sih, dengan menikah dapat membuat orang menjadi kaya”, jawabannya simpel dan praktis adalah Aghlabiyah (mayoritas) orang yang kaya adalah orang yang telah menikah bukan yang masih bujang, hal ini disebabkan karena orang yang masih bujang belum mampu memanage keuangannya dengan baik meskipun ia berpenghasilan lumayan banyak, duitnya tersebut akan habis entah dibelanjakannya ke mana, berbeda dengan orang-orang yang telah menikah, karena orang yang telah menika tanpa disadarinya telah mendapat beberapa kelebihan sebagai hasil dari penyempurnaanya terhadap agama, meskipun keuangan kurang memadai namun ia masih memiliki apa yang orang bujang belum tentu miliki yaitu isteri dan anak. Tidak heran jika anda akan melihat lancarnya rezki kawan atau saudara yang telah menikah apalagi setelah mereka mendapatkan anak.

Hal ini kembali ke masalah kecil yang telah banyak diketahui orang namun mengabaikannya atau dapat dikatakan sebagai suatu rahasia yang harus dipertanyakan “Mengapa di dalam bahasa Arab, kemaluan wanita disebut ‘Faraj’”,yaitu terbuka:

Pertama : Karena Faraj (kemaluan wanita) itu berada di tempat yang tersembunyi namun selalu terbuka, keterbukaan faraj tersebut dapat berarti, terbuka saat dimasukin dan terbuka saat mengeluarkan anak.

Kedua : Kata ‘Faraj’ jika dihubungkan dengan Lafdzul Jalalah akan menjadi “Farajallah” yaitu Allah akan membuka pintu rahmat-Nya, yang menjadi pertanyaan, kapankah pintu rahmat tersebut dibuka? Jawabannya sudah sering kali bahkan menjadi basi terungkap dari bibir nenek moyang sampai kepada orang tua yaitu Anak adalah Pembawa Rahmat.

Dari kedua arti di atas, jelas menunjukkan bahwa “FARAJ” jika dibuka dengan sendirinya akan terbuka pintu rahmat, dengan kata lain FARAJALLAH Allah SWT akan membuka pintu rahmat bersamaan dengan terbukanya Faraj. Jadi memang benarlah apa kata nenek moyang dan orang tua bahwa anak adalah pembawa rezki dan rahmat. Tidak heran anda akan melihat lancarnya rezki saudara, kakak dan kawan di saat anaknya lahir secara tiba-tiba tanpa diketahui. Kesemuanya itu kembali ke Yughnillahu yaitu Allah akan menjadikan mereka kaya.

Olehnya itu, perbaikilah niat untuk menikah semata-mata adalah ibadah, agar Farajallah benar-benar Yughnillah, singkirkan keraguanyang ada di hati untuk menikah, bertekadlah untuk menjadi pribadi mandiri yang bertanggung jawab, menikmati hidup di masa muda bukan sekedar memperbanyak harta lalu membeli apapun yang diinginkan melainkan bersyukur dengan melakukan sesuatu yang membuat hidup lebih bermakna, jadikanlah menikah sebagai pilihan, jika ada yang bertanya kapan akan menikah, jangan terus menerus menjawab “belum siap” tapi jawablah dengan Insya Allah agar benar-benar merupakan ibadah.


Read more! span.fullpost {display:none;}

Kesuksesan tidaklah diukur dengan materi

Kesuksesan tidaklah diukur dengan materi
fikar

Kesuksesan adalah piala yang selalu menjadi rebutan dan incaran setiap orang yang memaksa mereka untuk berlomba-lomba dalam meraihnya dengan cara apapun, anehnya mereka belum mengerti apa itu sukses yang sebenarnya sedangkan mereka ngotot untuk mendapatkannya, tidak heran jika tidak sedikit diantara mereka yang tersesat di lorong-lorong kegelapan terlena oleh indahnya kenikmatan duniawi yang membuat mereka mau tak mau harus bertransaksi dengan setan, untuk itu ada baiknya saya tuliskan sedikit tentang apa itu kesuksesan agar kita lebih mengetahui apa yang kita kejar dan idam-idamkan.

Makna Kesuksesan

Berbicara mengenai kesuksesan, tidak terlpeas dari kata sukses itu sendiri agar lebih mengerti dan memaknai kesuksesan tersebut. Dalam kitab “Shina’atu An Najah” yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia berjudul “Sukses tanpa batas”, Dr Thariq Muhammad dan Faisal Umar mengatakan bahwa kesuksesan adalah kata yang dirindukan hati dan jiwa, dia adalah tanda para Nabi dan Rasul dan tambang yang tertanam dalam jiwa orang yang bahagia, Rahasia kesuksesan adalah ketenangan dan ketentraman hati yang bisa membuat manusiamenikmati kehidupannya, itulah rahasia yang pernah disampaikan oleh Ibnu Qayyim dalam kata-katanya: Dalam hati ada “Kekusutan” yang tak bisa diuraikan kecuali dengan menghadap kepada Allah SWT, ada juga “Kebuasan” yang tidak akan terjinakkan kecuali dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT, di dalamnya juga ada “Kesedihan” yang tak akan bisa hilang melainkan dengan kegembiraan mengenal Allah SWT dan ketulusan berperilaku sesuai dengan ketentuan-Nya. Dalam hati juga ada “Kerisauan” yang tak akan bisa ditenangkan kecuali dengan perasaan bersama dengan-Nya dan kembali kepada-Nya, di dalamnya juga ada “Api perasaan yang bergejolak” yang tak akan padam kecuali dengan keridhaan akan perintah, larangan dan ketentuan-Nya serta mengalunginya dengan kesabaran hingga hari pertemuan dengan-Nya, di dalamnya juga ada “Keinginan” yang tak akan terpuaskan kecuali dengan cinta dan kepasrahan serta mengingat-Nya terus-menerus, penuh ikhlas mengabdi kepada-Nya. Meski diberikan bumi beserta seluruh isinya, keinginan
tersebut tidak akan pernah terpuaskan sama sekali.

Dari perkataan Ibnu Qayyim tersebut dapat dipetik pesan bahwa yang menjadikan manusia itu hidup damai dan bahagia adalah adanya hubungan Rabbani (dengan Allah) sebagaimana hubungan bumi dan langit, itulah rahasia yang membuat imam Ahmad bin Hanbal hidup damai dan bahagia meski pakaiannya penuh tambalan, tinggal di bilik kecil dan makan seadanya padahal beliau adalah orang kaya yang mempunyai warisan yang paling banyak dari orang tuanya.

Rumus kesuksesan

Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin sempat memberikan komentar serius tentang bagaimana perjalanan seseorang untuk meraih keberhasilan dan kesuksesan hidup, yaitu Arif maknai hidup, didiplin nafsu, pandai merancang dan melaksanakannya. Seorang yang ingin sukses hendaklah memiliki pikiran yang strategis serta pandangan jauh ke depan, begitu juga prespektif yang luas, beberapa aspek dan faktor penting yang layak dijadikan bahan pertimbangan dalam meraih kesuksesan hidup antara lain :

1. Mengetahui dan menyadari sepenuhnya akan empat tahap yang dilaluinya dalam hidup
a. Tahap alam pertama sebagai ruh
b. Tahap hidup di dunia
c. Tahap mati (Alam kubur)
d. Tahap Akhirat (Yaumil mahksar)
2. Menyadari dan memahami bahwa hidup di dunia ini adalah suatu ujian, apakah menjadi baik atau buruk dan juga ujian atas janji dan persaksian manusia yang telah disepakati sebelum ia lahir ke dunia yang fana ini.
3. senantiasa mencari dan menggapai sesuatu karena ingin mendapatkan keridhaan dari Allah SWT semata.
4. Senantiasa gigih untuk melahirkan dan menghasilkan hal yang terbaik bagi dirinya, orang-orang terkasih dan masyarakat serta atas nama kemanusiaan.
5. Menjaga amanah dan cermat menggunakan sumber-sumber penting dunia untuk persiapan masa depan yang lebih abadi di akherat kelak.
6. Senantiasa berupaya dan menilai urusan niaga atau bisnis, yang terbaik yaitu mendapatkan pahala dari Allah SWT selain keuntungan yang bersifat duniawi.
7. Tidak berputus asa, harus memiliki harapan dan sikap optimis bahwa setiap usaha yang baik akan berbuah pahala dan ganjaran yang baik pula, kalaupun hasilnya belum bisa dinikmati di dunia, pasti akan dirasakannya di akherat kelak.

Banyak orang mengira bahwa kesuksesan adalah keberhasilan dalam memperoleh harta berlimpah, kekuasaan dan jabatan yang tinggi maupun popularitas yang menjulang, namun tidak sedikit orang kaya yang tidak menikmati kekayaannya karena takut dan tidak ada ketenangan memikirkan hartanya, penguasa dan pejabat yang malah tersiksa oleh jabatannya juga public figur dan orang-orang top yang tereksploitasi dengan ketenarannya. dengan demikian kesuksesan tidaklah diukur dengan materi atau berlimpahnya harta, meskipun hal itu memang sangat dibutuhkan dan tidak pula diukur dengan jabatan dan popularitas karena kesuksesan itu bersifat internal yang terdapat di dalam sanubari manusia yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, tidak terkandung dalam keanekaragaman kekayaan, tidak juga bisa dibeli dengan harta benda, itulah kesuksesan abadi dunia akherat dan tanpa batas.

Kunci Kesuksesan

Ada ungkapan “Janganlah engkau mengira bahwa kemuliaan adalah kurma yang akan kau makan dengan mudah, engkau tidak akan pernah sampai pada kemuliaan hingga kau berkalungkan kesabaran”, Ternyata memang benar ungkapan tersebut yang menjadikan kesabaran adalah kunci utama dari kesuksesan. Adapun kunci kedua adalah mengembara dan berkelana “Safir tajid ‘iwadhan”, karena pengembaraan dengan sendirinya fikiran akan semakin terbuka dan cara pandangpun semakin dewasa penuh tanggung jawab, dengan melihat dan amati ternyata dunia itu sangatlah luas, ibarat air yang tergenang tidak mengalir, lama kelamaan pasti air tersebut akan membusuk, berbeda jika air itu mengalir, juga anak panah pun tak akan mengenai sasaran jika tidak meluncur dari busurnya, meskipun belum mengenai sasarannya dengan tepat tapi setidaknya telah mendekati ke sasaran dan tujuan.

Banyak orang akan lupa jika sebagian dari keberhasilan telah diraihnya sehingga apa yang diperolehnya itu tidak akan bertahan lama, karena kelupaan itu tertutupi oleh ketamakan yang membuatnya sombong, merasa apa yang diperolehnya adalah hasil jerih payahnya semata, padahal apa yang diperolehnya itu tidak terlepas dari andil orang-orang di sekelilingnya baik secara langsung maupun secara tidak langsung yang kesemuanya itu adalah perantara diberikannya titipan dan amanah agar dijaga oleh Sang Maha Pengasih dan Maha Pemberi, yang bisa saja suatu saat sekejap mata semuanya itu akan hilang dan punah. Agar titipan tersebut dapat bertahan lama, maka seharusnyalah untuk memperhatikan beberapa hal:

Pertama : Selalu bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberi kepercayaan untuk dititipkannya sebagian dari kesuksesan tersebut baik bersyukur dengan hati, diungkapkan dengan lidah dan dibuktikan oleh perbuatan.

Kedua : Jika kesuksesan yang diperoleh tersebut berbentuk materi, maka gunakanlah ia dengan sebaik-baiknya di jalan Allah dan memperhatikan apa-apa yang menjadi hak dan kewajiban dari materi tersebut, dengan kata lain nafkahkanlah harta di jalan Allah yaitu jalan yang benar serta mengeluarkan zakat kepada yang berhak, begipun jika kesuksesan yang diperoleh itu berbentuk jabatan dan popularitas makan gunakanlah ia dengan sebaik-baiknya.

Jika kedua poin tersebut di atas dijalankan dengan baik, niscaya kesuksesan yang diperoleh baik materi maupun jabatan dan popularitas akan berberkah dan bertahan lama dan dengan sendirinya akan menghilangkan rasa takut dan was-was yang ada dalam hati yang selalu mengancam setiap saat, alias ketenangan lahir dan bathin telah diperolehnya itulah yang dinamakan denga KESUKSESAN abadi yang akan menjamin di duni dan di akherat.


Read more! span.fullpost {display:none;}

Islam dan Politik

Islam dan Politik
vikar

“Apakah selamanya politik itu kejam”, begitulah ungkapan Iwan Fals dalam lagunya “Setan-setan politik”, ternyata politik itu memang kejam dan lebih kejam dari ibu kota, artinya, politik di kampung saya saja kejam, apalagi politik di ibu kota, wajar saja jika saya menganggap bahwa politik itu tidaklah kejam, melainkan karena ulah sebagian besar Polytikus (Banyak Tikus) yang menggerogoti setiap dapur, berlompat dan berlari di atas balkon, bahkan tidak pernah jijik meski harus bersembunyi di dalam comberan yang menghambat mengalirnya air yang menyebabkan rumahku kebanjiran oleh air mata orang-orang yang tak berdosa,hingga politik itu kini berubah menjadi limpah yang sangat mencemarkan lingkungan. Ternyata anggapan saya sedikit keliru, namun kekeliruan tersebut malah diperkuat oleh sebagian besar pendapat dan asumsi orang terhadap politik itu sendiri berdasarkan hasil prakteknya dalam masyarakat, tidak heran jika Polytikus akan mendapat sorotan sinis dan cibiran. Yang anehnya lagi, meski politik telah tercap kotor, malah partai politik di Indonesia yang berlabelkan islam semakin menjamur, hal itu adalah suatu kebanggaan yang sangat besar yang pantas dibanggakan, dimana semakin banyaknya peluang kursi yang akan diduduki oleh orang muslim dalam mengurus negara,akan tetapi perlunya diingat, dimana-mana orang apabila telah duduk maka ia akan malas untuk berdiri dan apabila ia telah makan maka ia akan lemas dan nyenyak bersama mimpi-mimpi indah. Olehnya itu, perlu kiranya dilirik kembali bagaimana politik dalam islam itu sendiri agar terlepas dari sarang tikus.

Arti Politik dalam Islam

Menurut parea ahli filologi, bangsa Arab Jahiliah telah mengenal dan menggunakan kata “Assiyasah” yang berarti cara, ketua dan pertahanan, selain itu kata Assiyasah juga banyak dipergunakan dalam penulisan puisi ataupun prosa, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Al Khansa seorang sastrawati jahiliah, dan menurut Dr.Luayyi Bahar, para ahli sejarah sepakat bahwa yang pertama kali menggunakan kata assiyasah dalam penulisan syair maupun prosa sebagai ekspresi politik adalah Al Khansa yang kemudian diikuti oleh penyair-penyair lainnya semisal Ibnu Al Muqaffa.

Kekeliruan sebagian pemikir orientalis adalah anggapan mereka bahwa dalam islam maupun bahasa Arab tidak ada kata Siyasah yang berati politik, dan menurut mereka, kata tersebut berasal dari kata “Al Yasik” yang telah dikembangkan oleh Jenkhiz Khan raja Tartar setelah berhasil menguasai beberapa negeri islam, seperti daulah Al Khawarizmiah di Turkistan. Al Yasik merupakan jabaran hukum yang diformat dalam bentuk undang-undang sebagai hasil dari transformasi budaya antara orang-orang islam, Yahudi dan Nasrani untuk menekan orang-orang mongol agar tunduk pada keinginan raja, dengan demikian, jelaslah bahwa kata Al Yasik itu sendiri tidak mempunyai kaitan dan hubungan dengan kata Assiyasah.

Hukum Berpolitik dalam Islam

Politik dalam islam mempunyai andil yang sangat besar, sehingga dapat dikatakan bahwa islam sangat menganjurkan adanya politik, karena dengan politik itu sendiri, Islam dapat bertahan dan tersebar dan hal itu dapat dilihat dengan jelas, baik dalam setiap peperangan dan futuhaatnya. Namun dalam perkembangan terakhir, politik dinilai sangat keji dan kotor sehingga tidak heran jika Syekh Muhammad Abduh pernah berkata: ” Auzu billahi min Assiyasah”, dan kemudian oleh para pengikutnya, ungkapan tersebut lebih ditegaskan lagi: “Auzu billahi min Syaitani Assiyasah wa Assasah”.

Politik itu sendiri pernah menjadi polemik antar Imam Syafi’i dengan Ibnu Aqil salah seorang ulama mazhab Hanbali, Ibnu Aqil mengoreksi perkataan imam Syafi’i, “La Siyasata Illa ma wafaqa bihi Assyar’u”, menurutnya bila yang dimaksud Siyasah yang tidak menyalahi prinsip-prinsip agama maka hal itu adalah benar, namun jika yang dimaksud dari kata tersebut hanyalah sebatas apa yang digambarkan oleh islam secara eksplisit maka itu tidak benar. Hal ini menunjukan bahwa setiap prilaku politik dinilai sebagai hal yang benar jika tidak menyalahinilai-nilai yang ada dalam agama.

Politik Islam

Islam adalah agama yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia yang lain dan juga mengatur hubungan antara manusia dengan makhluk lainnya, kesemuanya itu jelas sangat membutuhkan adanya norma dan kaedah sebagai batas-batas dan cara dalam mengatur hubungan-hubungan tersebut. Secara umum, etika adalah masalah yang fleksibel dan tidak dapat dipisahkan dari perilaku manusia, ia adalah sebagai bahan acuan dan norma yang mengatur perilaku, namun dalam menentukan penilaian terhadap perilaku orang lain sangat dipengaruhi oleh kekuatan intuisi sehingga hasil dari penilaian tersebut akan sangat beragam karena tidak adanya barometer yang mampu mendeteksi nilai positif dan negatif setiap perilaku, untuk itu perlunya agama sebagai alat yang tepat dalam mengukur hasil penilaian terhadap setiap perilaku.

Etika bukan hanya suatu keharusan dalam perilaku politik bahkan dalam segala bentuk aktivitas manusia tidak terlepas dari nilai-nilai etika sehingga inti dari permasalahannya terletak pada cara pandang yang berbeda dalam memaknai etika itu sendiri dan dilain pihak kadang nilai etika tersebut diukur dengan intuisi dan dilain pihak pula etika tersebut sering diukur dengan agama, kendati demikian, masih ada titik temu antara ulama-ulama islam dan pemikir kristen mengenai pentingnya etika dalam berpolitik,Polybius (204-122 SM) dan Cecero (106-43 SM), dua ahli politik asal Yunani ini melihat bahwa segala bentuk perilaku politik hendaknya tidak terlepas dari nilai-nilai etika agama yang ada, karena alam ini ibarat Commonwealth yang mencakup unsur Tuhan, manusia dan makhluk lainnya, hal serupa juga dikemukakan oleh St Augustine (354-430 M) kemudian dikembangkan lagi oleh John Salasbury (1110-1180 M) dan Thomas Aquino (1224-1274 M). dengan demikian, jelaslah bahwa segala bentuk peradaban dan perilaku manusia tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai moral dan etika.

Islam adalah agama yang sangat menitikberatkan aspek etika, karena dengan etikalah berhasilnya dakwah dan penyebaran islam dimana dapat dilihat pada awal datangnya islam yang dikuatkan sendiri oleh sabda Rasulullah SAW: :Innama buitstu li utammima makarima al akhlaq” tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan Akhlak, yang mengisyaratkan bahwa Islam adalah Agama Akhlaq dan Akhlaq adalah sebagian dari islam, sehingga benarlah ungkapan “La diana liman la Akhlaqa lahu” tidaklah beragama orang yang tidak berakhlaq. Ibnu Khaldun (732-808 H) dengan sederhana menyatakan bahwa perilaku
politik seorang pemimpin tidak terlepas dari tiga kategori :

Pertama : Al Malik Attabii, yaitu perilaku politik seorang pemimpin yang dalam mengambil keputusan untuk mencapai tujuannya semata-mata hanya berdasarkan intuisi atau naluri manusia sehingga besar kemungkinan pemimpin tersebut menjadi sangat otoriter dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu Ibnu Khaldun memandang hal ini sebagai perilaku politik yang tidak terpuji.

Kedua : Al Malik Assiyasi, yaitu perilaku politik seorang pemimpin yang dalam pengambilan keputusannya sangat dipengaruhi oleh akal, perilaku politik semacam ini setidaknya akan memberi dampak positif pada setiap individu sebagai bagian dari komunitas masyarakat yang ada seperti adanya rasa keadilan dan ketentraman, hanya saja corak seperti ini masih dianggap tabu dan kurang produktif karena hanya mementingakan sisi duniawi saja dan kurang memperhatikan nilai-nilai agama.

Ketiga : Al Malik Addini,yaitu perilaku politik seorang pemimpin yang tidak terlepas dari nilai moral agama dimana kecil kemungkinan terjadinya kekurangan karena adanya keseimbangan yang diberikan pada setiap individu masyarakat.

Dari ketiga kategori ini, Ibnu Khladun menegaskan bahwa perilaku politik hendaknya mengikuti poin ke-2 dan 3 karena ia menuntut keseimbangan antara integritas politik dengan nilai normatif agama, dengan demikian politikus itu akan dinilai berhasil.

Hal ini kemudian diperkuat lagi oleh Ibnu Taktaqi dalam bukunya ” Al fakhri fi ala adab As Sulthaniah” menjelaskan bahwa seorang politikus yang kapabel adalah yang mampu mengaktualisasikan nilai-nilai moralitas agama dalam setiap perilaku politiknya, disamping itu harus memiliki kualifikasi umum sebagai berikut:

Pertama : Memiliki rasa takut kepada Allah SWT, hal ini sangatlah penting, karena merupakan inti dari segala sumber keberkahan yang ada, jika hal ini dijadikan oleh politikus sebagai pijakannya maka ia akan mendapat kepercayaan yang besar serta dukungan dari rakyat. Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a pernah memanggil seorang pembantunya, lalu seorang laki-laki datang menghampirinya seraya berkata: ” Wahai amirul mukminin, yang engkau panggil itu ada di belakang pintu dan mendengar panggilanmu namun ia enggan menjawab panggilanmu”, kemudia Khalifah memanggil serta menanyainya, “Mengapa engkau tidak menjawab panggilanku padahal engkau mendengarnya”, ia lantas menjawab : aku tidak menjawabnya karena aku yakin engkau tidak akan menyakitiku, lalu khalifah Ali R.A berkata: “Segala puji bagi Allah SWT yang telah menciptakan aku untuk tidak menyakiti hambanya”.

Kedua : Tidak dengki, karena sifat dengki dapat merusak niat seseorang sehingga perilakunya akan banyak dipengaruhi oleh hal-hal yang tidak baik dan tidak bermanfaat.

Ketiga : Memiliki sifat pemaaf dan terbuka terhadap orang lain. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, disaat Umar bin Khattab ra dibaiat sebagai khalifah, seorang badui berteriak di depannya seraya melontarkan ancaman “hai Umar, berlaku adillah kepada kami, jika tidak, maka akulah orang pertama yang akan memenggal lehermu dengan pedangku ini”, seketika para sahabat tercengang dan meminta kepada Umar ra untuk memenggal leher badui tersebut yang telah berani mengancamnya, namun Umar ra hanya tersenyum dan berkata: ” wahai rakyatku, bila engkau tidak menyampaikan aspirasimu kepada kami maka engkau semua tergolong orang-orang yang tidak mempunyai kebaikan, begitu pula jika kami tidak mendengar dan melaksanakan apa yang engkau inginkan maka kami pun tergolong orang yang tidak mempunyai kebaikan.

Dari semua uraian di atas, jelaslah bahwa politik adalah etika dan tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai etika itu sendiri, bila tidak demikian maka politik itu akan menjadi pincang dan terkesan sangat kejam disebabkan oleh ulah Polytikus yang hanya mementingkan ego sendiri.


Read more! span.fullpost {display:none;}