Welcome To LuviLove Sites

28 June 2006

Festival Music HUT Kemerdekaan RI - Cairo

Festival Music Mahasiswa Indonesia-Cairo
Antara Tabdzir dan Tabrir
vikar


Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI-61, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Cairo-Mesir mengadakan berbagai perlombaan tahunan yang telah membudaya (baik di tanah air sendiri maupun di Mesir) dengan sutu gebrakan baru, yaitu diadakannya Festival Music HUT RI-61, yang pengisihannya dimulai pada tanggal 12, agustus 2006 mendatang. Festival tersebut, disamping bertujuan untuk meramaikan dan merayakan serta merasakan nilai-nilai perjuangan orang-orang terdahulu, juga untuk menggali dan mengarahkan bakat generasi muda dalam berkarya di bidang seni musik, khususnya para siswa dan mahasiswa Indonesia yang berdomisili di Mesir, di mana bakat yang mereka miliki selama ini terpendam di hati bagaikan layangan yang tersangkut di pohon. Adalah momen yang tepat dengan diadakannya Festival, sebagai air penyiram bakat yang layu sebelum mekar dan mekar tapi tak subur.

Sudah pasti, dengan adanya Festival tersebut akan menimbulkan pro dan kontra antara mahasiswa Indonesia-Cairo yang mayoritas berkopiahkan Azhari, hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor:

Pertama: Perbedaan pendapat mengenai hukum bermusik itu sendiri, dimana sebagian melihat hukumnya adalah haram, dan sebagian yang lain menghalalkannya. dari kesemua dalil, baik dari yang kontra dan pro adalah benar, karena mayoritas ulama menghalalkannya dan jika kembali melihat di kitab Majmu'ah akan didapati banyaknya dalil tentang pengharamannya yang dilemahkan (dhaif), namun masalah ini tidaklah menjadi faktor utama dan tidak perlu kiranya untuk dibahas di sini, karena sudah jelas banyaknya ulama yang membolehkannya.

Kedua: Kepicikkan serta sempitnya pandangan sebagain orang yang beranggapan bahwa musik itu tidaklah islami, padahal musik itu sendiri telah nyata dibolehkan dalam islam dengan catatan musik tidak melanggar dan bertentangan dengan nilai-nilai islam. Kalaupun Nasyid diidentikkan dengan musik islami, itupun belumlah benar, karena ada sebagian Nasyid yang mengajarkan cinta dan sayang antara sesama hamba yang berlebihan bukan cinta kepada Tuhan, untuk mempersingkat pembahasan ini, disimpulakan bahwa musik selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai islam, maka musik itu islami.

Ketiga: Musik adalah Tabdzir (pemborosan baik dari segi waktu, tenaga dan materi). Jika kita berbicara mengenai Tabdzir maka tidak akan terlepas dari asal kata Tabdzir itu sendiri, dalam Lisanul Arab atau Muhith, kata Tabdzir berasal dari kata Badzar yang berarti bibit atau benih, kata ini pun berarti menaburkan benih atau menyebarkan, dari benih tersebut akan tumbuh dan menghasilkan, namun kata tersebut semakin dipersempit artinya disebabkan oleh ulah A'rabi (arab badui) yang malas-malasan dalam bekerja sehingga bibit dan benih yang mereka taburkan sesuka hati mereka tanpa melihat lahan yang telah siap untuk ditaburi dan persediaan bibit yang ada, sehingga makna tersebut menyempit menjadi kelalaian dan pemborosan dalam segala hal, baik berbuat, berkata dan berangan, artinya orang yang banyak berbuat yang tidak bermanfaat, atau banyak berkata dan berhayal termasuk Tabdzir. Kata Tabdzir tidak dapat dipisahkan dari kata Israf atau sarafa, karena kata badzar tersebut telah melahirkan makna baru dan menempati makna dari kata israf yaitu berlebih-lebihan atau melampaui batas dan pemborosan.

Ibnu Hayan berkata: "La Khaira fi as Sarfi wala sarfa fi al Khairi", tiada kebaikan dalam pemborosan dan tiada pemborosan dalam kebaikan, maksud dari kata sarf di sini adalah berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam membuang-buang harta, perkataan dan perbuatan, dan perkataannya ini merupakan penjelasannya tentang firman Allah SWT " Innallaha la yuhibbu Al mu'tadin". Dengan demikian jelas bahwa Mubadzzir itu adalah pemborosan yang berlebih-lebihan dan melampaui batas yang mana artinya berbeda dengan melebihkan, artinya melebihi batas tidak berarti malampaui batas dan berlebih-lebihan. Segala sesuatu mempunyai kadar dan batas-batas tertentu, misalnya kapasitas perut, dimana Nabi SAW menganjurkan agar sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk udara, jika porsi makan dilebihkan, mengambil sedikit dari porsi minuman maka orang tersebut belumlah merasakan bahaya dalam diri dan perutnya dan itulah yang dinamakan dengan melebihi batas, Jika terlalu banyak porsi minum dan udara diisi dengan makanan maka orang tersebut akan lemah dan terkulai bahkan membahayakannya, itulah yang dinamakan berlebih-lebihan dan melampaui batas. contoh lain, kapasitas muatan sebuah kapal sebanyak 1000 orang, jika ditambah 10 orang penumpang, maka kapal tersebut belum pasti tenggelam, itulah yang dinamakan melebihi batas muatan, namun jika ditambahkan 50 atau 100 orang, bisa jadi kapal tersebut akan tenggelam dan itulah yang dinamakan melampaui batas dan berlebih-lebihan.

Yang menjadi masalah adalah kata mubadzzir tersebut seringkali dihubungkan dan dikaitkan dengan awlawiyat (keutamaan) sehingga terkesan rancu. Dr Yusuf Qardhawi, dalam bukunya, Fiqh Al Awlawiyat, memberikan contoh orang-orang yang berulang kali menunaikan ibadah haji (khususnya di Mesir), yang mana diwajibkan atas seseorang sekali dalam hidupnya, sementara berjihad dijalan Allah SWT dengan hartanya atau menafkahkannya kepada fakir miskin pun termasuk kewajiban. Awlawiyatnya berjihad dengan harta di jalan Allah lebih utama ketimbang menunaikan ibadah haji yang berulang-ulang kali, namun bukan berarti orang yang menunaikan ibadah haji berulang kali adalah sifat dari Mubadzzirin dan juga tidak bisa dikatakan berlebih-lebihan dan melampaui batas, boleh jadi, ia merasa ibadah-ibadah hajinya yang lalu belum sempurna atau ada kesalahan bahkan kekurangan yang ingin dilengkapinya, serta uangnya pun memadai, apalagi telah tertanam niat yang kuat di hatinya. Hal inilah yang seringkali membuat rancu dalam menilai tentang kemubadzziran.

Jika kembali pada memori permusikkan mahasiswa Indonesia-Cairo yang mayoritas adalah pelajar Azhar, maka tidak akan dijumpai adanya pemborosan bahkan sebaliknya, yaitu bermusiknya mahasiswa Indonesia di Al Azhar University malah membantu sesama muslim dan mendukung syiar Islam karena dibackgroundkan dan diperisai oleh nilai agama.

Pada tahun 1992, HPMI (Himpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia) Cairo, bekerja sama dengan berbagai persatuan pelajar ASEAN lainnya menggelar acara ASEAN NIGHT yang bertemakan malam dana dan amal yang akan disalurkan ke Bosnia, dan alhamdulillah acara tersebut berjalan lancara dan berhasil mengumpulkan dana. Pada tahun 1993, HPMI bekerja sama dengan Wafidin (Lembaga yang mengurusi orang asing) menggelar acara musik yang bertujuan memperkuat silaturrahmi dengan masyarakat Palestin yang ada di Mesir dan pada tahun yang sama pun digelar acara musik sebagai perkenalan dan memperkuat silaturahim antara pelajar Indonesia dan pelajar Mesir (Ain syams Univ dan Cairo Univ), pada tahun ini juga, band-band mahasiswa Indonesia makin menjamur, diantaranya band Sendika 1, 2, 3 dan 4, Idea Four/10th District, dan KPJ band yang sangat meramaikan dan mewarnai permusikan mahasiswa Indonesia di Mesir. Pada tahun 1997, krisis ekonomi melanda negeri tercinta yang menyebabkan banyak diantara mahasiswa yang terpaksa mudik ke tanah air, kemudian adanya kafalah (bantuan) yang diberikan oleh pengusaha Mesir kepada mahasiswa Indonesia, yang mau tak mau, haruslah menjaga imeg mahasiswa, yang menyebabkan permusikan mahasiswa Indonesia-Cairo mulai layu, dimana Ultah Buletin Terobosan sebagai satu-satunya wadah yang menampilkan apresiasi seni yang hanya menampilkan dua band saja, yaitu Band Sendika yang kini namanya berubah menjadi Sabandsa dan band SIC (sekolah indonesia cairo).

Pada tahun 1999, Sabandsa Band menggelar Summer festival yang bertujuan membangunkan kembali semangat bermusik dan mengembangkan bakat terpendam dalam diri mahasiswa Indonesia Cairo dalam berkarya, muncullah Vagabond Band, Hermaprodite band, KMB dan KKS band kembali meramaikan permusikan mahasiswa Indonesia-Cairo, namun pada dua tahun terakhir ini kembali menjadi layu.

Apa yang direncanakan oleh KBRI dengan acara Festival, adalah suatu moment yang tepat dalam menghidupkan kembali permusikan mahasiswa Indonesia-Cairo (pada khususnya) yang sedang pulas bersama mimpi-mimpi yang tak pernah terwujud dan mengarahkannya ke arah yang lebih kreatif, semoga dengan niat baik tersebut akan banyak membantu dan membuka peluang bagi mahasiswa Indonesia-Cairo dalam berkarya dalam seni, apalagi acara tersebut tidak dikhususkan saja pada musik, melainkan juga nasyid, MTQ dan seni puisi telah mempunyai kedudukan tersendiri dalam diri mahasiswa pada setiap acara. Jika gebrakan pertama KBRI dengan Festivalnya berhasil, di tahun-tahun berikutnya boleh jadi akan adanya Festival Seni secara menyeluruh bagi Mahasiswa Indonesia-Cairo.


Read more! span.fullpost {display:none;}

25 June 2006

Tashghir (تصغير)

Tashghir (تصغير)
Vikar


Tashghir sama halnya dengan Nasab, yang merupakan bagian dari pembahasan Ilmu Sharaf. Secara bahasa Tashghir berarti mengecilkan, sedangkan menurut istilah yaitu perubahan bentuk-bentuk kata dengan maksud tertentu. Hukumnya adalah memberikan baris dhamma di awal huruf, memfathakan huruf kedua dan menambahkan Ya sakinah setelahnya, huruf Ya tersebut dinamakan Ya Tashghir (ياء التصغير). Contohnya, (نهر) =sungai, menjadi (نُهَير)=sungai kecil/danau, dan (قلم)=pulpen, menjadi (قُلَيم). Suatu kata yang belum dirubah bentuknya ke dalam bentuk tashghir dinamakan Mushagghar (المصغر).

Tujuan Tashghir

Tashghir mempunyai tujuan-tujuan khusus, diantaranya adalah. Pertama: Mengecilkan bentuk dan ukuran dari kata yang akan dikecilkan, contohnya kata gunung=( جبل) apabila ingin mengecilkan bentuknya maka kata tersebut hendaklah di beri harakat dhamma pada awal hurufnya dan memfatha huruf kedua kemudian menambahkan Ya Tashghir setelahnya, menjadi (جبيل =gunung kecil), contoh lain, kata rumah=( منزل) dirubah menjadi (منيزل). Kedua: Memandang rendah atau mengabaikan apa yang akan dikecilkan, contohnya kata penulis=( كاتب) jika ingin merendahkan seorang penulis maka kata tersebut dirubahn bentuknya menjadi bentuk tashghir yaitu (كويتب), contoh lain kata penyair=( شاعر) menjadi (شويعر), laki-laki=( رجل) menjadi (رجيل). Ketiga: Mengurangi jumlah dari sesuatu yang akan dikecilkan, contohnya, langkah=( خطوة) untuk mengurangi langkah yang menunjukkan kelambatan dalam berjalan seseorang maka dirubah bentuknya menjadi (خطيات), contoh lain kata sesuap makanan=( لقمة) menjadi (لقيمات). Keempat: Menunjukkan dekatnya waktu, contohnya kata sebelum=( قبل) apabila ingin kedatangan seseorang lebih awal dan lebih cepat lagi dari waktu yang ditentukan maka dirubah bentuknya menjadi (قبيل الغروب), contoh lain kata setelah=( بعد) menjadi (بعيد العصر). Kelima: Menunjukkan lebih dekatnya tempat, contoh kata dekat=( قرب) jika ingin menunjukkan atau menerangkan Sesutu itu sangat dekat dan lebih dekat dari suatu tempat, misalnya lebih dekat dari mesjid maka diubah bentuknya menjadi (قريب المسجد), contoh lain kata di bawah=( تحت) menjadi (تحيت الشجرة). Keenam: Mengagung-agungkan sesuatu agar terkesan hebat dan ditakuti, contoh kata bencana=( داهية) jika ingin membesar-besarkan bencana yang akan menimpa agar orang lebih berhati-hati atau takut akan bencana tersebut maka dirubah bentuknya menjadi (دويهية), contoh lain kata pahlawan=( بطل) menjadi (بطيل). Ketujuh: Sindiran terhadap sesuatu yang akan di tashghirkan atau menunjukkan dekatnya sesuatu itu dalam diri, contohnya kata anak=( ابن) jika ingin menunjukkan kedudukan anak dalam diri maka dalam memanggil atau menyebutnya diubah menjadi (بني), contoh lain kata sahabat=( صاحب) menjadi (صويحب).

Syarat-syarat Tashghir

Disyarartkan kepada kata yang akan diubah bentuknya menjadi bentuk tashghir adalah sebagai berikut:

  1. Kata (sesuatu) yang akan ditashghirkan hendaklah mu’rab bukan isim mabni (lihat dasar-dasar ilmu Nahwu) seperti kata Tanya, kata penunjuk, kata penyambung, dhamir dan juga Fiíl (baik madhi dan mudhari’). Jika ada isim mabni yang ditashghirkan itu hanyalah darurat, misalnya kata penunjuk itu=( ذا) ditashgirkan menjadi (ذيّا) dan fiíl yang menunjukkan takjub contohnya (ما أحيسنه)=alangkah bagusnya dia, dan (ما أحيلاه )=alangkah cantiknya ia, kesemuanya adalah darurat dalam pentashghirannya.
  2. Timbangan kata yang akan di tashghirkan janganlah sama dengan timbangan tashghir (yg di dhamma huruf awal dan fatha huruf kedua serta ya tashghir), apabila sama timbangannya berarti kata tersebut tidak bisa di tashghirkan, contohnya kata, pirang=( كميت) dan jenis tumbuhan=(دريد), karena timbangannya sama dengan timbangan tashghir.
  3. Kata tersebut hendaklah dapat dikecilkan, maka kata-kata seperti Nama-nama Tuhan, Nabi dan Rasul, malaikat, kullu (semua), Ba’dhu (sebagian), nama-nama bulan, minggu, (البارحة semalam), (besok الغد), (selain سوى), atau kata yang menunjukkan banyak, maka kata-kata semacam ini tidak pantas untuk dikecilkan.

Timbangan-timbangan Tashghir

Tashghir mempunyai tiga timbangan, yaitu Fuáil (فُعَيل), Fuáiíl (فُعَيعِل) dan Fuáiíil (فُعَيعيل). Ketiga timbangan ini, ada yang dikhususkan kepada kata yang terdiri dari tiga huruf yaitu Fuáil, ada yang dikhususkan pada kata yang terdiri dari empat huruf yaitu Fuaííl dan yang lebih dari empat huruf yaitu Fuáiíil, yang dapat dirincikan sebagai berikut:

Fu’áil (فُعَيل)

Timbangan ini dikhususkan pada kata-kata yang terdiri dari tiga huruf, contoh (سقف =atap/langit-langit, menjadi سُقيف), (ولد =anak laki-laki, menjadi وُليد), (رجل =seorang pria, menjadi رُجيل). Jika isim Tsulatsi (tiga huruf) menunjukkan Muannats (feminal) meskipun tidak ada Ta Ta’nis maka dalam mentashghirkannya haruslah ditambahkan Ta Ta’nis di akhir kata tersebut, contohnya kata mata=( عين menjadi عيينة), Hindun=( هند menjadi هنيدة) dan telinga=( أذن menjadi أذينة).Jika kata tersebut diakhiri dengan Ta Ta’nis maka tidak mempengaruhinya (tidak dihilangkan atau ditambahkan), contohnya, pohon=( شجرة menjadi شجيرة) dan kerbau=( بقرة menjadi بقيرة). Apabila huruf keduanya adalah huruf Illat yang merupakan pengganti dari huruf lain maka dalam mentashghirkannya haruslah dikembalikan ke asal katanya, contohnya pintu=( باب menjadi بويب), dan harta=( مال menjadi مويل). Huruf alif pada kedua kata tersebut adalah pengganti dari Wau karena jamak dari kedua kata tersebut adalah (أبواب) dan (amwal) yang menunjukkan Wau adalah huruf aslinya. Apabila huruf kedua dari kata tsulatsi adalah huruf illat asli maka dalam mentashghirkannya tetaplah menggunakannya, contohnya kata rumah=( بيت menjadi بييت) dan pedang=( سيف menjadi سييف) karena jamak dari kedua kata tersebut adalah (أبيات) dan (أسياف).Apabila huruf kedua dari kata yang akan ditashghirkan tidak diketahui asalnya maka huruf tersebut diubah menjadi Wau, contohnya (عاج =taring, menjadi عويج) dan (زان =pezinah, menjadi زوين). Apabila Isim yang aslinya terdiri dari tiga huruf namun ditambahkan Ta Ta’nis atau Alif Maqshura dan Mamduda ataupun ditambahkan Alif dan Nun, atau jamak taksir, maka pada saat mentashghirkannya menggunakan timbangan Fu’ail, contohnya (وردة =mawar, menjadi وريدة), (سلمى =nama perempuan, menjadi سليمى), (حمراء =merah, menjadi حميراء), (مرجان =mutiara, menjadi مريجان) dan (أصحاب sahabat, menjadi أصيحاب).

Fu’ai’il (فُعَيعِل)

Timbanagan Fu’ai’il ini dikhususkan pada kata-kata yang terdiri dari empat huruf, contohnya (ملعب =lapangan, menajdi مليعب), (مسجد =mesjid, menjadi مسيجد) dan (منبر =mimbar, menjadi منيبر). Jika huruf ketiganya adalah huruf madd (alif, wau dan ya) maka wajib merubahnya menjadi Ya dan didengungkan dengan Ya Tashghir, contohnya (كتاب =buku, menjadi كُتَيّب), (رغيف =roti, menjadi رُغَيّف) dan (عمود =tiang, menjadi عُمَيّد). Jika huruf keduanya adalah Alif tambahan maka diubahnya menjadi Wau, contohnya (كاتب =penulis, menjadi كويتب) dan (تاجر =pedagang, menjadi تويجر). Jika huruf keduanya adalah huruf asli baik Wau maupun Ya, maka dalam pentashghirannya tetaplah seperti semula, contohnya, (جورب =kaos kaki, menjadi جويرب) dan (ميسر =kemudahan, menjadi مييسر). Jika huruf keduanya bukan Wau atau Ya yang asli maka dikembalikan ke asalnya, contohnya (قيمة =puncak, menjadi قويمة) karena asalanya adalah (قوّم). Jika hurufnya melebihi empat dan huruf terakhirnya bukanlah huruf Madd, dihilangkan huruf yang terakhir, contohnya (سفرجل =jenis tumbuhan seperti apel, menjadi سفيرج) dan (عندليب =jenis burung, menjadi عنيدل). Dan boleh menggantikan huruf yang dihilangkan dengan huruf Ya sebelum akhirnya, dari kedua contoh tadi menjadi (سفيريج) dan (عنيديل). Jika huruf kata pada dasarnya adalah empat huruf namun ditambahkan Ta Ta’nis, Alif dan Nun tambahan, Tanda-tanda Mutsanna (bentuk dua), jamak muzakkar dan Muannats Salim atau Ya Nasab, maka dalam mentashghirkannya menggunakan timbangan Fu’ai’il tanpa menghilangkan huruf tambahannya, contohnya, (مدرسة =sekolah, menjadi مديرسة), (أربعاء =hari rabu, menjadi أريبعاء), (تاجران =dua orang pedagang, menjadi تويجران), (كاتبون =banyak penulis lk, menjadi كويتبون), (تاجرات =banyak pedagang pr, menjadi تويجرات) dan (عبقري =orang jenius, menjadi عبيقري).

Fu’ai’iiyl (فُعَيعيل)

Timbanagan ini digunakan untuk isim yang hurufnya melebihi empat huruf dan sebelum huruf terakhirnya adalah huruf Madd (alif, wau dan ya), Jika huruf sebelum huruf terakhirnya adalah huruf Ya maka tetap ditashghirkannya, namun jika huruf sebelum huruf terakhirnya adalah Wau dan Alif maka diaubahnya menjadi huruf Ya, contohnya, (مصباح =lampu, menjadi مصيبيح), (عصفور =burung, menajdi عصيفير) dan (قنديل =pelita/lampu, menjadi قنيديل).

Catatan dan Tambahan

  1. Jika Isim Tsulatsi (tiga huruf) telah dihapus salah satu dari huruf aslinya sehingga yang nampak hanyalah dua huruf , maka wajib mengembalikan huruf yang terhilangkan pada saat mentashghirkannya, contohnya (يد =tangan, asal katanya يَدْيٌ dan saat ditashghir menjadi يُدَيّة), contoh lain (أخ =saudara, asal katanya أخَوٌ saat ditashghir أُخيّ).
  2. Pada saat mentashghir isim yang huruf ketiganya adalah huruf Illat, maka huruf illat tersebut haruslah diubah menjadi huruf Ya kemudian didengungkan denga Ya Tashghir, contoh (عصا =tongkat, menjadi عُصيّة) dan (دلو =ember/timba, menjadi دُليّة).
  3. Jika huruf sebelum terakhir kata adalah huruf Ya Musyaddadah didahului oleh dua huruf sebelumnya maka huruf Ya pertama diringankan kemudian didengungkan dengan Ya Tashghir, contohnya (عَليٌّ =ali, menjadi عُليٌّ) dan (ذَكيّ =pintar, menjadi ذُكيٌّ). Jika Ya Musyaddadah didahului lebih dari dua huruf maka dalam pentashghirannya tetap pada lafadznya, contohnya (كرسيّ =kursi, menjadi كُرَيْسيّ) dan (نحوي =secara nahwu/missal, menjadi نحيويّ).
  4. Apabila ingin mentashghirkan kata yang terdiri dari dua kata, maka bagian pertama atau kata yang pertama saja yang ditashghirkan tanpa kata yang kedua, contohnya (عبد الله =hamba Allah, menjadi عبيد الله) dan (علم الدين =ilmu agama, menjadi عليم الدين).

Demikian secara ringkas tentang Tasghir, semoga bermanfaat dan dapat membantu anda-anda sekalian dalam mempelajari serta mempraktekkannya.


Read more! span.fullpost {display:none;}

24 June 2006

Nasab (النسب)

Nasab (النسب)
Fikar


Nasab adalah bagian dari pembahasan ilmu sharf yang bertujuan menghindari pemborosan dalam menggunakan kata dengan hanya menambahkan huruf Ya Musyaddadah (ياء مشددة) pada akhir kata dan mengkasrahkan (baris bawah) huruf sebelumnya untuk menunjukkan penisbahan sesuatu kepada susuatu yang lain, baik dari segi jenisnya, misalnya: فتوىٌّ (laki-laki), atau kewarganegaraan, misalnya: صيني (orang cina), atau agama, misalnya: إسلامي (keislaman) atau keahlian, misalnya تجاري (perdagangan), dan sifat, misalnya: ذهبي (bersifat seperti emas). Semua isim yang dinisbahkan kepada yang lain dinamakan Mansub (منسوباً), sebelum kata tersebut dihubungkan dengan Ya Musyaddadah dinamakan Mansub Ilaih (منسوباً إليه) dan huruf Ya Musyaddadah dinamakan Ya An Nasab (ياء النسب).

Cara-cara Penisbahan

Pada saat menisbahkan sesuatu kata, haruslah mengikutkan pada akhir kata tersebut dengan huruf Ya Musyaddadah dan mengkasrahkan huruf sebelumnya. Pada saat itu pula akan terjadi berbagai perubahan, yaitu perubahan pada lafadz kata dan maknanya serta perubahan pada hukumnya dimana kata yang telah dinasab akan menyerupai sifat. Adapun cara-cara pengnisbahan suatu kata kepada yang lainnya haruslah diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Menisbahkan kata yang diakhiri dengan Ta Ta’nis atau Ta Marbuthah (feminal), maka haruslah dihilangkan terlebih dahulu huruf Ta tersebut sebelum dinasabkan, contohnya kata (مكة) menjadi (مكي) dan kata (قاهرة) menjadi (قاهري) dengan menghilangkan Ta Ta’nisnya, tidak dibenarkan apabila Ta tersebut tidak dihilangkan, contohnya, (مكتي).
  2. Menisbahkan kata yang diakhiri oleh Ya Musyaddadah, haruslah memperhatikan jumalah huruf yang berada sebelum Ya Musyaddadah. Jika Ya Musyaddadah berada setelah satu huruf maka harus mengembalikan huruf Ya yang pertama ke asalnya kemudian diberi baris fatha atau merubah huruf Ya yang kedua menjadi huruf Wau, contohnya kata (حيٌّ)=hidup, pada saat dinasab menjadi (حيويٌّ) huruf Ya pertama adalah huruf asli dan huruf Ya yang kedua dirubah menjadi Wau, contoh lain kata (غيٌّ) =sesat, menjadi (غوويٌّ) huruf Ya pertama dikembalikan ke asal huruf kata tersebut yaitu Wau (ghawwu) dan huruf Ya kedua dirubah menjadi Wau. JikaYa Musyaddadah berada setelah dua huruf, maka dihapus huruf Ya pertama dan Ya yang kedua dirubah menjadi Wau serta memberikan tanda fatha pada huruf sebelumnya, contohnya kata (عليٌّ) menjadi (علويٌّ) dan (نبيٌّ) menjadi (نبويٌّ). Jika Ya Musyaddadah berada setelah tiga huruf atau lebih, maka huruf Ya nya dihapus dan digantikan kedudukannya oleh Ya Nasab, contohnya, kata (كرسيّ) menjadi (كرسيّ) dan (شافعيّ) menjadi (شافعيّ).
  3. Menisbahkan kata kepada kata yang Maqshur (المقصور) yaitu setiap kata yang diakhiri dengan huruf Alif, dan perubahan-perubahannya pun tergantung kepada jumlah hurufnya. Apabila Alif maqsurnya adalah huruf ketiga maka harus dirubah menjadi Wau, contohnya (عصا)=tongkat, menjadi (عصوىٌّ) dan (فتى) menjadi (فتوىٌّ). Apabila Alifnya adalah huruf keempat dan huruf keduanya berbaris (berharakat) fatha, maka haruslah dihilangkan Alifnya, contoh (كندا) menjadi (كنديّ) dan (بنما) menjadi (بنميّ) namun jika huruf keduanya sukun boleh menghapus Alifnya atau merubahnya menjadi Wau. Apabila Alifnya huruf kelima atau lebih maka haruslah dihilangkan alifnya, contoh (فرنسا) menjadi (فرنسيّ) dan (أمريكا) menjadi (أمريكيّ).
  4. Menisbahkan kepada kata yang Mamdud (الممدود) yaitu kata-kata yang diakhiri dengan Alif dan Hamzah. Apabila Hamzah atau Alifnya adalah huruf asli maka dapat dinasabkan dengannya, contohnya (إنشاء) =pembangunan, menjadi (إنشائيّ) dan (ابتداء) =permulaan, menjadi (ابتدائيّ). Apabila Alif dan Hamzahnya menunjukkan Ta’nis (feminis) maka wajib merubahnya menjadi Wau, contohnya (صحراء) =padang pasir, menjadi (صحراويّ) dan (حمراء) =merah, menjadi (حمراويّ). Apabila Hamzah atau Alifnya adalah perubahan dari Wau atau Ya maka boleh dinasabkan dengannya atau merubahnya menjadi Wau, contoh (سماء) menjadi (سمائيّ) atau (سماويّ) dan (دعاء) menjadi (دعائيّ) atau (دعاويّ).
  5. Menisbahkan kepada isim Manqush (المنقوص) yaitu kata yang diakhiri dengan huruf Ya yang Lazim. Apabila Ya nya huruf ketiga maka wajib merubahnya menjadi Wau dan memberikan baris fatha pada huruf sebelumnya, contohnya (الرضى) menjadi (الرضوى) dan (الشجي) menjadi (الشجوىّ). Apabila Ya nya huruf keempat maka boleh menghapusnya atau merubahnya menjadi Wau dan memberi baris fatha pada huruf sebelumnya, contohnya (القاضي) =hakim, menjadi (القاضيّ) atau (القاضويّ) dan (النادي)=club, menjadi (الناديّ) atau (النادويّ). Apabila Ya nya huruf kelima atau lebih maka wajib menghapusnya, contohnya (المرتضي) menjadi (المرتضيّ) dan (المهتدي) menjadi (المهتديّ).
  6. Nasab kepada Isim Tsulasi (tiga huruf) dimana huruf keduanya berbaris atau berharakah kasrah maka tanda dan harakah kasrah tersebut dirubah menjadi fatha, contohnya (إبل)=onta, menjadi (إبَلي) dan (ملك)=raja, menjadi (ملَكي).
  7. Menisbahkan kepada Isim yang huruf sebelum huruf terakhirnya adalah Ya Musyaddadah yang berharakah kasrah maka meringankan huruf ya tersebut dan mensukunnya, contohnya (سيد)=tuan, menjadi (سيْديّ) dan (طيب) menjadi (طيْبيّ) juga (ميت) menjadi (ميْتيّ).
  8. Menisbahkan kepada Isim Tsulatsi (tiga huruf) yang dihilangkan huruf ketiganya (lamnya) sehingga yang terlihat hanyalah dua huruf maka pada saat menisbahkannya haruslah mengembalikan huruf ketiga yang dihilangkan dan memberikan harakah fatha pada huruf sebelumnya, contohnya (أب) menjadi (أبوي) dan (أخ) menjadi (أخوي) , (سنة)=tahun, menjadi (سنوي) karena asal dari kata-kata tersebut adalah (أبوٌ), (أخوٌ), (سنوٌ).
  9. Menisbahkan kepada Isim Tsulatsi dimana huruf pertamanya (ainnya) dihilangkan sehingga yang nampak hanyalah dua huruf kemudian menggantikan huruf awal yang hilang dengan Ta Ta’nis. Apabila akhir huruf dari kata tersebut adalah huruf shahih bukan huruf illat, maka wajib huruf tersebut tidak dikembalikan ke asalnya, contohnya (عدة) menjadi (عدِيّ) dan (صفة) menjadi (صفيّ), yang mana asal dari kata-kata tersebut adalah (وعد), dan (وصف). Apabila huruf yang dihilangkan dan huruf terakhir kata adalah huruf illat maka wajib mengembalikannya ke asal dan memberi harakah fatha pada huruf kedua serta mengganti huruf Ya dengan Wau, contohnya , (دية) menjadi (وِدَوِي) karena asalnya adalah (وَدْيٌ).
  10. Menisbahkan kepada Isim yang bertimbangan Faíilah (فَعِيلة) dan Fuáilah (فُعَيلة). Jika pada timbangan Faíilah Ainnya adalah huruf shahih maka harus menghilangkan Ya (faíilah) dan Ta Ta’nisnya dan merubah harakat kasrah pada Ain menjadi fatha, contohnya (قبيلة) menjadi (قَبَلي) dan (صحيفة)=Koran/wartawan, menjadi (صَحَفي). Jika Ain nya huruf Illat maka harus menghilangkan Ta Ta’nisnya tanpa menghapus huruf Ya nya, contohnya, (طويلة) menjadi (طويلى) dan (جليلة) menjadi (جليلى). Apabila Ain pada Fuáilah adalah shahih maka wajib menghilangkan Ta Ta’nis dan Ya nya, contohnya (جهينة) menjadi (جُهَني) dan (عبيدة) menjadi (عُبَدي).
  11. Menisbahkan kata kepada kata yang lain tanpa menggunakan Ya Musyaddadah (ya nasab), dimana sebagian orang Arab menggunakan bentuk-bentuk kata tertentu yang menunjukkan penisbahan tanpa menyebutkan Ya nasab, yaitu kata-kata yang bertimbangan Faál (فعّال), contohnya (حدّاد)=tukang besi, (نجّار)=tukan kayu. Dan kata-kata yang bertimbangan Faíl (فاعل) dan Faíl (فَعِل) yang menunjukan kepemilikan terhadap sesuatu, contohnya (طاعم) atau (طَعِم) orang yg mempunyai makanan, (تامر) atau (تَمِر)orang yang memiliki kurma.

Demikianlah ringkasan dan dasar mengenai Nasab dalam bahasa Arab, mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi anda yang ingin belajar, dan Insya Allah akan dilanjutkan lagi cara-cara penisbahan yang lain di lain waktu. Thanks.


fikar.org


Read more! span.fullpost {display:none;}

23 June 2006

Dialek Bahasa Arab

Dialek Bahasa Arab
fikar


Dialek (اللهجات ) menurut Para ahli bahasa Arab adalah bahasa dan huruf yang digunakan oleh sekelompok orang dalam rumpun tertentu yang menyebabkan adanya perbedaan ucapan bahkan bacaan antara satu dengan yang lainnya. Bahasa Arab adalah salah satu dari rumpun bahasa Samiah yang mempunyai berbagai macam dialek yang menyebabkan perbedaan dalam membaca dan berbicara sehingga tidak heran jika dikatakan Al Quran itu turun dengan tujuh huruf ( نزل القرآن على سبعة أحرف). Sebagian Ulama berpendapat bahwa tujuh huruf yang dimaksudkan adalah bahasa dari tujuh Qabilah arab pada saat itu atau dengan kata lain bahasa quraisy adalah gabungan dari tujuh bahasa kabilah arab yang terkemuka pada saat itu, dengan dalil Nabi Ismail as mengadopsi bahasa arab dari Abu Al Qahtan melalui perdagangan dan hubungan lainnya antara masyarakat dan penguasa. Dari tujuh kabilah ini melahirkan perbedaan bacaan dalam Al Quran, contohnya ( إنا أنطيناك الكوثر ) bacaan ini pun diriwayatkan dari Rasulullah SAW. Diantara dialek yang sering digunakan sebagai berikut:

Thamthamaniah Humair ( طمطمانية)

Thamthamaniah adalah bahasa sebagian kabilah arab dimana huruf Alif Lam Ta'rif ( أل) diganti dengan Alif dan Mim ( أم) yang dalam pengucapannya lebih condong ke huruf Mim, contohnya kata matahari dan bulan mereka menyebutnya (امشمس ) (امقمر ). Atsa'aliby mengatakan bahwa thamthamaniah ini adalah bahasanya kabilah Humair. Dalam hadis Abu Hurairah diriwayatkan bahwa ia telah datang menghadap Usman ra, dan Usman pun berkata: Peperangan telah selesai (الآن طاب امضرب) asli dari kalimat tersebut adalah ( طاب الضرب) Dimana alif lam ta'rif diganti dengan Mim, dan menurutnya ini adalah bahasa sebagaian orang Yaman.

Menurut Hariri, orang-orang Humair menggantikan Alif lam ta'rif dengan Alif dan mim dalam bahasa mereka seperti, طاب امضرب dalam sebuah hadis diriwayatkan oleh Namr bin Thualub, bahwa Rasulullah SAW bersabda :(ليس من امبر امصيام في امسفر ) tiada kebaikan berpuasa dalam perjalanan (musafir). Diriwayatkan oleh Tsa'lab dari Al Akhfasy bahwa thamthamaniah adalah bahasanya suku Azad dimana mereka menggantikan alif lam ta'rif dengan alif dan mim.

Kasykasya (الكشكشه)

Yaitu menggantikan Kaf Mukhatab (كاف) dengan Syin (شينا) contohnya kata (bapakmu= أبوك) dibaca menjadi (أبوش). Dan juga dalam syair Ibnu AL A'rabi فعيناش عيناها وجيدش جيدها ولكن عظم الساق منش دقيق Ini adalah sebagian bahasa dari orang arab termasuk Mesir diama kata Ma Alaika dibaca Ma Alaiysy. contoh lain kata Laka (لك ) dibaca Lesy (لش ).

Kaskasah (الكسكسه)

Kaskasa ini menyerupai Kasykasya yaitu menambahkan huruf Sin (سينا) setelah Kaf Mukhathab (الكاف) untuk menunjukkan terhadap Muannats (feminal), contohnya kata (memberi) (أعطيتك) dibaca ( أعطيتكس) dan (أكرمتك) dibaca (أكرمتكس). Ataupun sama halnya dengan Kasykasya yaitu dengan menggantikan Kaf Mukhathab dengan Sin, contohnya pada kata bapak dan ibu (أبوك) dibaca (أبوس) dan (أمك) dibaca (أمس).

Istintha (الاستنطاء )

Yaitu menggantikan huruf Ain (العين) yang di sukun dengan huruf Nun (نونا) dan setelahnya adalah huruf Tha (الطاء), contohnya kata (أعطى) dibaca (أنطى), dan dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa Hasan dan Thalha ra juga selain mereka membaca ayat Al Kautsar dengan Istintha (إنا أنطيناك الكوثر) dan juga terdapat dalam hadis Rasulullah tentang Doa yaitu sabdanya:(لامانع لما انطيت ولا منطي لما منع).

Khalkhaniah (اللخلخانيه )

Yaitu memperpendek atau meringkas Harakat (baris) serta meringankan tekanan pada harakah tasydid, contohnya kata (كأنك) diringkas menjadi (كنك) dan kata (ما شاء الله) menjadi (ما شا الله).

Tashil (التسهيل )

Yaitu membuang huruf Hamzah (الهمزة) agar lebih mempermudah ucapan, contohnya pada kata sumur dan gelas ( بئر) dibaca ( بير) dan (كأس) dibaca ( كاس) tanpa penulisan dan penyebutan huruf hamzah.

Ar Raswu (الرسو )

Yaitu menggantikan huruf Sin (السين ) atau Zai (الزاي) dengan huruf Shad (الصاد) atau sebaliknya, contohnya (سلطان) menjadi (صلطان), (أسطوره) menjadi (أصطوره ). dan bacaan ini sangat ma'ruf (terkenal) serta diakui keberadaanya oleh pakar bahasa karena banyaknya terdapat dalam natsr bahkan dalam Al Quran, contohnya, (يصطرون), ( لست عليهم بمصيطر ).

Tanwin Nagham ( تنوين النغم )

Yaitu menggantikan Ta ta'nis (تاء التأنيث) dengan Nun Sukun (نونا ساكنه) untuk melagukan kata, contoh, kata (زانت) dibaca (زانن), dan (بدت) dibaca (بدن).

Kata Ibir mengganti kata Ibn ((ابر) بدلا عن (ابن))

Yaitu mengganti kata Ibn dengan kata Ibir, contohnya ( محمد بر علي).
Pengganti Dhamir Ha Ghaib (هاء الغائب)

Yaitu mengganti Dhamir Ghaib dengan huruf Wau (واو), contohnya kata (قدرته) dibaca (قدرتو).
'An'anah

Yaitu menggantikan huruf alif () menjadi Ain (العين).

Contoh-contoh di atas adalah dialek yang mashur dalam bahasa arab.


fikar


Read more! span.fullpost {display:none;}

21 June 2006

Dasar-Dasar Ilmu Nahwu


Dasar-Dasar Ilmu Nahwu
Fikar


Kunci dalam mempelajari bahasa adalah banyaknya kosa kata yang dimiliki (dihafal) dan menerapkannya di dalam kalimat, dengan demikian ia akan mampu berbahasa dalam bahasa tersebut, namun hal itu belum menjamin keselamatan ungkapan dari kefahaman dan ketidak fahaman pendengar atau lawan berbicara yang disebabkan oleh kesalahan penggunaan suatu kaedah, terutama dalam bahasa arab yang penuh dengan berbagai macam kaedah yang mana bila salah dalam menggunakannya maka akan berakibat fatal terhadap arti dan maksud dari ungkapan tersebut. Untuk itu secara singkat, saya akan menjelaskan sedikit dasar-dasar dari kaedah umum bahasa arab (Nahwu) yang kiranya dapat membantu dalam mempelajari bahasa arab.

Dalam bebicara dan menyampaikan maksud kepada orang lain, tidak akan terlepas dari untaian kata-kata yang terangkai dalam suatu kalimat, dalam bahasa arabnya disebut dengan الكلام yaitu kalimat sempurna, terdiri dari dua kata atau lebih, baik terdiri dari dua isim (kata benda), misalnya الاتحاد قوة (Persatuan adalah power), atau terdiri dari Fiíl (kata kerja) dan Isim (kata benda), misalnya عاد المسافر (telah kembali para musafir), atau terdiri dari Fiíl amr misalnya, استَقِمْ dan faílnya Dhamir tersembunyi (mustatir). Kesemuanya itu menunjukkan bahwa kalimat tesusun dari beberapa kata dan mempunyai arti yang sempurna.

Kata الكلمة secara bahasa berasal dari kata كلم yang berarti melukai dengan anggota tubuh جرح kemudian arti tersebut lebih dikhususkan pada Lafadz yang diletakkan terhadap arti tertentu. Kadang kata الكلمة yang digunakan namun makna yang dimaksudkan adalah Kalimat, misalnya dalam Al Quran: (كلا إنَّها كلمة هو قائلها)Lafadz اللفظ mencakup الكلمة dan الكلام yaitu suara yang terdiri dari beberapa huruf, sedangkan القول yaitu apa-apa yang diucapkan baik itu sempurna maupun tidak sempurna.

Macam-macam kata

Setiap kalimat tersusun dari beberapa kata yang mempunyai arti yang mana dapat menunjukkan akan kedudakan dari kata tersebut di dalam kalimat, misalnya dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah SPO (subjek, predikat dan objek), begitu pun halnya dalam bahasa Arab. Sebelum mengetahui kedudukan kata, terlebih dahulu kita mengenal macam-macam kata dan pembagiannya dalam bahasa Arab guna membantu dalam memahami dan mengetahui kedudakannya di dalam sebuah kalimat. Kata di dalam bahasa Arab terbagi menjadi tiga, yaitu:

Isim الاسم (Kata benda)

Isim secara bahasa adalah nama, yaitu sebutan yang menunjukkan suatu yang dinamakan, apakah sebutan itu pada jenis atau pada unsurnya. Manusia ناس atau رَجُل adalah nama untuk suatu jenis yang dinamakan manusia atau laki-laki, dan Ahmad أحْمد adalah nama untuk individu yang dinamakan Ahmad. Semua kata ini adalah Isim. Dalam pengertian yang paling sederhana merujuk padanan dalam bahasa Indonesia, maka Isim adalah nominal. Sedangkan dalam istilah Nahwu, Isim adalah suatu kata yang menunjukkan makna tersendiri dan tidak terikat dengan waktu.

Bagaimana kita bisa mengetahui suatu kata dalam bahasa Arab itu adalah Isim? Sedangkan kita selagi pertama kali belajar Nahwu tidak mengetahui makna kata tersebut dan tidak juga mengetahui apakah suatu kata mengandung makna yang terikat dengan waktu atau tidak. Caranya adalah dengan mengetahui tanda-tanda Isim pada suatu kata yang membedakannya dari dua jenis kata lainnya. Setiap kata yang mengandung atau bisa menerima salah satu dari tanda-tanda tersebut, maka kata tersebut adalah Isim.

Tanda-Tanda Isim

Ada beberapa tanda yang terletak pada suatu kata yang menunjukkan bahwa jenis kata tersebut adalah Isim. Tanda-tanda Isim tersebut adalah:

A. Tanda dari segi artinya

Untuk mengetahui apakah kata tersebut termasuk isim, dapat dilihat dari maknanya, atau kata tersebut bisa disandarkan kepada kata yang lain baik dia itu subjek (fail) atau pemulaan kalimat (mubtada). Contohnya عاد المسافرون isim di dini bersandar pada fiíl (kata kerja) yang menunjukkan ia adalah fail, contoh mubtadaمسافر خالد.

B. Tanda dari segi Lafadznya

  1. Tanwin التنوين yaitu bunyi nun sukun pada akhir kalimat yang ditandai dengan harakat double ــًـ ــٍـ ــٌـ. Contohnya, خالدٌ atau زيدٍ,dan قانتاتٍ. Maka kata-kata dalam semua contoh ini adalah Isim karena boleh dimasuki oleh tanwin. Tanwin secara garis besarnya terbagi menjadi, Pertama: Tanwin tamkin تمكين yaitu tanwin yang diikutkan kepada isim mu’rab, contoh محمدٌ. Kedua: Tanwin Tankir تنكير yang mengikuti isim ma’rifah (yang pasti) menjadikannya nakirah (belum pasti) contoh, سيبويهِ (nama ahli nahwu). Ketiga: Tanwin Muqabalah المقابلة yang diikutkan kepada Jamak muannas salim (jamak untuk perempuan) contohnya, قانتاتٍ disamakan dengan Nun yang ada pada Jamak Muzakkar Salim (jamak untuk laki-laki) قانتون. Keempat: Tanwin Ta’wid العِوَض (pengganti) yang diikutkan pada sebagian kata sebagai pengganti terhadap apa yang dihapus dan dihilangkan, baik sebagai pengganti dari huruf yang dihilangkan, contohnya راعٍ جاء kata rain ditanwinkan sebagai pengganti huruf YA yang dihilangkan, aslinya adalah راعي. Ataukah pengganti dari kata yang dihapus, misalnya kata-kata yang terletak setelak Kullu dan Ba’dhu yang terhapus kata yang disandarkan padanya كلٍّ منهم asalnya adalah كل واحد منهم. Ataupun sebagai pengganti dari kalimat yang dihilangkan, contoh زرتني قبل سنتين وكنت حينئذٍ أعمل في الجامعة (dua tahun lalu, engkau menziarahiku dan pada saat itu saya bekerja universitas), kata Hinaizin ditanwinkan karena menggantin kalimat yang hilang, asalnya adalah حينئذ زرتني.

  1. Dapat dimasuki dan dihubungkan dengan Alif dan Lam, ألـ pada awal kata. Setiap kata yang didahului oleh AL atau boleh menerima AL, maka kata tersebut adalah Isim. Contohnya, الكاتب = seorang penulis, المؤمن = orang mukmin, المسافر = orang yang bepergian. Semua kata ini adalah Isim ditandai dengan adanya AL di awal kata.

  1. Dapat dimasuki oleh Jarr الجر. Baik jarr disebabkan oleh adanya huruf jarr maupun karena Idhafah. Contohnya, الحراس على السطحِ , kata Sathi dibaca kasrah karena dimasuki oleh huruf jar yaitu Ála. Contoh Idhafah كتاب الطالبِ kata At Thalibi dibaca kasrah (jarr) karena bersandar kepada buku. Huruf-huruf Jarr adalah مِن = dari (permulaan), إلي = ke, kepada, عَن = dari (lepas, meninggalkan), علي = atas, في = di, di dalam, رُبَّ = barangkali, kadang-kadang [;sedikit atau banyak], الباء = dengan, الكاف = seperti [penyerupaan], اللام = untuk. Dan termasuk juga huruf-huruf sumpah حروف القسم, yaitu; الواو hanya untuk Isim Zhahir,[2] الباء untuk Isim Zhahir dan Dhamir, dan التاء khusus dengan kata الله. Contohnya; واللهِ, بِاللهِِ, تَاللهِ, semuanya bermakna Demi Allah.

  1. Boleh dimasuki oleh Harf Nida (panggilan) contoh, يا زيدُ (Hai Zaid) dimasuki oleh Ya harf nida, contoh lain, يا عبدَاللهِ.

  1. Kata tersebut dapat dirubah bentuknya menjadi bentuk Tashgir التصغير (mengecilkan) contoh, جبل (gunung) menjadi جبيل(gunung kecil), contoh lain, عصفور menjadi عُصَيْفِير.

  1. Kata tersebut dapat dijadikan Musanna (yang menunjukan atas dua) dan jamak. Contoh, طالبان، طلاب، طالبون، طالبات

Tanda-tanda Fi’il الفِعل

Fi’il secara bahasa berarti kejadian atau pekerjaan. Dan padanannya dalam bahasa Indonesia adalah kata kerja atau verbal. Sedangkan dalam istilah Nahwu, Fi’il adalah kata yang menunjukkan suatu makna tersendiri dan terikat dengan salah satu dari tiga bentuk waktu; masa lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang.

Contohnya كَتَبَ adalah kata yang menunjukkan makna penulisan dan terikat dengan masa yang telah lalu, يَكْتُبُ adalah kata yang memnunjukkan makna penulisan dan terikat dengan masa sekarang, dan أكتُبْ juga adalah kata yang menunjukkan makna penulisan dan terikat dengan masa yang akan datang. Demikian juga contoh-contoh lain seperti نَصَرَ ينصُر انصُر = menolong, عَلِم يعلَم اعْلَمْ = mengetahui, جلَس يجلِس اجلِسْ = duduk, ضرَب يضرِب اضرِبْ = memukul, فهِم يفهَم افهَم = mengerti, memahami.

Perubahan bentuk dari setiap kata-kata dalam Bahasa Arab merupakan pembahasan Ilmu Sharaf atau dalam istilah yang lebih luas; Morphologi. Sedangkan dalam Ilmu Nahwu, unsur utama yang diperhatikan adalah kedudukan kata tersebut dalam struktur kalimat. Meskipun setiap kata dasar dalam bahasa Arab banyak mempunyai varian bentuk kata sesuai dengan kegunaan dan maknanya masing-masing, yang paling penting dalam Ilmu Nahwu adalah jenis-jenis semua kata tersebut dikelompokkan dalam tiga jenis saja, yaitu; Isim, Fi’il, dan Huruf.

Demikian juga, pembagian fi’il dalam Ilmu Nahwu terbatas pada tiga macam saja, yaitu kata kerja yang menunjukkan kejadian di masa lalu, kata kerja masa sekarang, dan kata kerja perintah. Dengan demikian, jenis-jenis Fi’il adalah:

  1. Fi’il Madhi الفعل الماضي yaitu kata kerja yang menunjukkan suatu pekerjaan atau kejadian yang berlangsung pada masa sebelum waktu penuturan. Contoh, خطب , سمِع , انْطَلَقَ , اسْتَعملَ .Tanda-tandanya dari segi arti yaitu menunjukkan suatu pekerjaan atau kejadian yang berlangsung pada masa sebelum waktu penuturan. Adapun tanda-tandanya secara Lafdzi yaitu: Pertama: dapat dimasuki oleh Lam لـ . Kedua: Dapat dimasuki oleh Ta Al Faíl, contoh سافرتُ سافرتَ سافرتِ . Ketiga: dapat dimasuki oleh Ta ta’nis sakinah, contoh, استمعتْ سافرتْ جلستْ عادتْ. Hukum fiíl Madhi dalm I’rab adalah Mabni (tidak berubah harakah akhir hurufnya).
  2. Fi’il Mudhari’ الفعل المضارع yaitu kata kerja yang menunjukkan pekerjaan atau peristiwa yang terjadi pada saat dituturkan (sekarang) atau sesudahnya (akan datang). Misalnya يَصلُحُ . Dinamakan Mudhari’karena menyerupai isim. Tanda-tanda Mudhari’adalah dapat dimasuki oleh sin السين dan saufa سوف . Juga dapat dimasuki oleh huruf jazm dan Nashb لم, لا الناهية, لام الأمر , إنْ , أَنْ, لَنْ. Dan kadang bentuknya Mudhari’namun berarti Madhi, apabila dimasuki oleh Lam, misalnya, لم يحضر (belum/tidak datang). Hukum I’rab fiíl Mudhari’ adalah Mu’rab (berubah harakah ahir hurufnya) selama tidak dimasuki oleh Nun Taukid نون التوكيد dan Nun Niswah نون النسوة.
  3. Fi’il Amar فعل الأمر yaitu kata yang menunjukkan tuntutan tercapainya pekerjaan tersebut setelah masa pengungkapan. Contohnya, seorang ayah atau kawan dan lain-lain memerintahkan kepada seseorang untuk belajar, dia mengatakan = تعلَّمْ Belajarlah, atau اقرأ bacalah, atau انْطَلِقْ pergilah. Atau اسْتَغْفِر bertobatlah. Tanda-tanda fiíl amar adalah dapat dimasuki oleh Nun Taukid نُونَ التَّوكيد adalah huruf Nun pada akhir kata yang berfungsi untuk menunjukkan kesungguhan dan ketegasan tuntutan. Nun Taukid ada dua macam yaitu Khafifah (ringan) dan Tsaqilah (berat). Perbedaan keduanya dari segi bentuk adalah Nun Taukid Khafifah berbaris sukun ـنْ, sedangkan Nun Taukid Tsaqilah bertasydid dan berharakat fathahـنَّ . atau Ya Al Mukhatabah ياء المخاطبة adalah huruf Ya sukun di akhir kalimat sebagai kata ganti orang kedua perempuan; yang berfungsi untuk menunjukkan bahwa tuntutan ditujukan kepada perempuan. Contohnya, قُوْمي = (Kamu perempuan), Bangunlah!, dari asal katanya untuk laki-laki قُمْ, dan اُكْتُبي = (Kamu perempuan), Menulislah!, dari asal kata perintahnya untuk laki-laki اكتب. Kedua kata aslinya yang untuk laki-laki adalah Fi’il karena menunjukkan tuntutan dan bisa menerima Ya Mukhathabah. Dan dua kata yang untuk perempuan adalah Fi’il dengan ditandai dengan masuknya Ya Mukhathabah dan menunjukkan makna tuntutan. Hukum fiíl amar dalam I’rab adalah Mabni.

Dari semua penjelasan di atas tadi, dapat disimpulkan Tanda-tanda Fi’il yang paling utama, baik Fiíl Madhi, Mudhari’dan Amar secara umum ketika berada dalam struktur kalimat adalah:

  1. Kata tersebut didahului oleh قد .
  2. Tanda Fi’il yang kedua adalah suatu kata itu didahului Huruf Sin السينُ atau Huruf Saufa سوفَ.
  3. Tanda Fi’il ketiga adalah Ta Ta’nis Sakinah تاءُ التَّأنيث السَّاكنَة yaitu huruf Ta sukun yang masuk pada akhir kata. Tanda ini hanya untuk Fi’il Madhi saja dan fungsinya adalah untuk menunjukkan bahwa Isim yang terpaut dengan Predikat ini berbentuk feminin (muannas).
  4. Tanda Fi’il keempat adalah suatu kata yang menunjukkan makna tuntutan dan kata tersebut bisa menerima Ya Mukhathabah ياء المخاطبة atau Nun Taukid نُونَ التَّوكيد.

Huruf الحرف

Huruf adalah jenis kata yang berfungsi sebagai kata bantu, yaitu kata yang mengandung makna yang tidak berdiri sendiri. Maknanya hanya bisa diketahui dengan bersandingan dengan kata lain, baik Isim atau Fi’il

Tanda Huruf adalah tidak menerima tanda-tanda Isim atau tanda-tanda Fi’il, atau dengan ungkapan lain, Huruf adalah tanpa tanda pengenal. Kalau kita mengenal Jim dengan titik di bawah dan Kha dengan titik di atas, kita mengenal Ha tanpa titik. Demikian juga, kita mengenal jenis kata Isim dan Fi’il dengan tanda-tanda yang telah disebutkan di atas, maka kita mengenal jenis kata Huruf tanpa tanda dan tidak menerima tanda-tanda Isim atau Fi’il.

Kata yang termasuk dalam jenis Huruf ini terbagi bermacam-macam sesuai dengan fungsinya yang mempengaruhi status kata yang dimasukinya, sesuai dengan fungsi maknanya, dan terbagi menjadi tiga macam, yaitu:

1. Huruf yang dapat masuk ke Isim maupun Fiíl, dan huruf tersebut tidak mempunyai kedudukan apa apa dalam I’rab. Contoh, kata Hal هَلْ dalam وَهَلْ أَتَاكَ حديث الغاشية.

2. Huruf yang dikhususkan pada isim, dan huruf tersebut mempunyai fungsi serta kedudukannya dalam I’rab. Contoh, huruf Inna إنّ dan Fi في, dalam Al Quran : إنّ الله يحب الذين يقاتلون في سبيله.

3. Huruf yang dikhususkan tehadap Fiíl dimana huruf-huruf tersebut mempunyai kedudukan dan fungsi dalam I’rab. Contoh, huruf Nashab dan Jazam.


I’RAB الإعراب dan BINA البناء

I. Al BINA البناء

Bina adalah suatu keharusan dimana harakah (baris) akhir dari suatu kata tidak akan mengalami perubahan yang disebabkan oleh factor-faktor yang merubah harakah dan kedudukan kata, atau simpelnya, Bina adalah kata yang tidak berubah harakah akhir hurufnya. Contohnya, kata aina أينَ (dimana) dan amsi أمْسِ (kemarin), dimana baris (harakah) akhirnya tidak akan pernah berubah.

Macam-macam Bina البناء

Tanda-tanda bina suatu kata dalam I’rab terbagi menjadi empat, yaitu:

  1. Sukun السُّكونُ yaitu tidak adanya harakah, yang mana terdapat pada huruf, fiíl serta isim, contoh mabni dengan sukun dari huruf هلْ , dan dari fiíl, قمْ , dan dari isim, كمْ .
  2. Fatha الفَتْحُ , berbaris atas dengan fatha, hal ini pun terdapat pada Isim, contohnya أينَ , dan Huruf, contohnya سوفَ , juga pada Fi’il, contohnya, قامَ .
  3. Kasrah الكَسْرُ berbaris bawah dengan kasrah, terdapat pada Isim, contohnya أمْسِ dan huruf, contohnya huruf Lam Al Jarr لامِ الجر misalnya dalam kalimat المالُ لِزَيْدٍ .
  4. Dhamma الضَّمُّ berbaris atas dengan Dhamma, terdapat pada huruf, contohnya منْذُ dan isim yang menunjukkan arah misalnya تحتُ dengan syarat harus Idhafah secara makna tanpa Lafadz.

Bentuk-bentuk Mabni

Setelah mengetahui macam-macam tanda bina, seyogyanyalah untuk mengetahui apa-apa saja dari Isim, Fi’il dan Huruf yang Mabni agar tidak salah dalam menempatkan letak serta hukumnya dalam suatu kalimat.

A.Huruf الحُرُوفُ

Semua huruf adalah Mabni, baik dengan Fatha seperti وَ، كَ، ف، ثمَّ ,maupun Sukun, seperti منْ، في، إلى، هلْ , dan Kasrah seperti لِـ (لتكتبْ درسك، جئت لأشكرَك)، بِـ (كتبت بالقلم) , dan juga Dhamma sperti منذُ.

B. Af’al الأفعال

Semua Fi’il adalah Mabni kecuali Fi’il Mudhari’ yang tidak dimasuki oleh salah satu dari Nun Niswah نون النسوة maupun Nun Taukid نُونَ التَّوكيد .

Bentuk-bentuk Bina Fi’il Madhi

Fatha: Jika tidak berhubungan dengan kata apa pun, contohnya سمعَ , تكلمَ atau Fi’il tersebut bergandengan dengan Ta Ta’nis تاء التأنيث contohnya فهمَتْ , جلستْ atau Fi’il tersebut berhubungan dengan Al Alif Al Itsnain ألف الاثنين yang menunjukan dua orang, contohnya ذهبا، قاما، سعيا. Sukun: Apabila fi’il tersebut bergandengan dengan Dhamir yang kedudukannya adalah marfu’ sebagai subjek misalnya Ta mutakallim dan sebagainya, atau fi’il tersebut bergandengan dengan Nun Niswah, contohnya سمعْتُ، سمعْنا، سمعْتَ، سمعْتِ , سمعْتما، سمعْتُنّ، سمعْنَ. سعيْت، سعيْنا, سعيْتما، سعيْتُنَ. Dhamma: Apabila Fi’il tersebut berhubungan dan bergandengan dengan Wau Al Jama’ah (yang menunjukkan jamak muzakkar salim=laki-laki), contohnya سمعُوا، فهمُوا.

Bentuk-bentuk Bina Fi’il Mudhari’

Fi’il Mudhari’ Mabni apabila dimasuki oleh salah satu dari Nun Taukid dan Nun Niswah, dan tanda bina nya adalah, Sukun: Apabila berhubungan dengan Nun Niswah, contohnya يسمعْنَ، يقرأْنَ، يمشيْنَ، يدعوْنَ . Fatha: Apabila berhubungan langsung dengan Nun Taukid yang disandarkan kepada Mufrad Muzakkar, contohnya, لِتسمعَنْ، لتدعوَنّ.

Bentuk-bentuk Bina Fi’il Amar

Adapun Bina nya Fiíl Amar yaitu, Sukun: Apabila huruf terakhirnya bukan huruf Illat (Alif, Wau dan Ya) dan tidak berhubungan dengan kata apa pun, contoh افهمْ، اسمعْ , atau berhubungan dengan Nun Niswah, contoh أطعْنَ، ادنوْنَ، اسعيْنَ. Fatha: Apabila berhubungan dengan Nun Taukid, contohnya افهمَنْ، اسمعَنّ، ادعوَنْ وادعوَنّ. Khazfu Nun (dihilangkan huruf Nunnya): Apabila berhubungan dengan Alif Itsnain yang menunjukkan Mutsanna, atau Wau Jamaáh yang menunjukkan Jamak Muzakkar Salim atau Ya Al Mukhathabah, contohnya, ارعيا، اقنعوا، اقنعي. Khazfu harfu illah (meniadakan huruf Illatnya): Apabila huruf akhir dari fiíl adalah huruf illah, contohnya, ارعَ، ادعُ، امشِ.

C. Al Asma الأسماءُ

  1. Dhamair الضَّمائِرُ (Pronauns) atau kata ganti baik orang pertama tunggal dan sebagainya yang terbagi menjadi Munfashil (terpisah) yang terbagi menjadi Rafa’dan nasab (kedudukannya dalam I’rab) contoh Rafa’ أنا، نحن، أنتَ، أنتما، أنتم، أنتِ، أنتما، أنتنَّ , هوَ، هما، همْ، , هيَ, هما، هنَّ Contoh Nashab : إيّاي، إيانا، إيّاكَ، إياكما، إياكم، إِياكِ، إياكما، إياكنّ، .dan Muttashil (berhubungan) juga terbagi menjadi Rafa’, Nashab, dan Jarr .Contoh Rafa’(تاء), (نا) قرأتُ, قرأنا. Contoh Nashab, ياء orang yang berbicara, سمعني. كاف (lawan berbicara) misalnya حدثك. Atau هاء (terhadap orang ketiga tunggal) misalnya, أعطيته. Contoh Jarr, Ya (ياء) (orang yg berbicara) misalnya كتبي , Ha هاء (orang ketiga tunggal) misalnya بيتهُ. Kaf كاف (lawan berbicara) misalnya كتابك.
  2. Kata Sambung أسْماءُ المَوْصُولِ seperti الذي (berarti yang untuk sesuatu atau seorang yang menunjukkan Muzakkar = laki-laki), التي (untuk Muannats atau perempuan), الذينَ (jamak Muzakkar) اللاتي، اللاتِ، اللواتي (jamak muannas).
  3. Kata Tanya الاسْتِفْهَامِ , seperti Man=siapa مَنْ (untuk yang berakal), Ma=apa ما (yang tidak berakal) mata=kapan متى (untuk waktu) Aina=di mana أينَ (untuk tempat).
  4. Isim yang menunjukkan pada bunyi-bunyian dan suara, seperti suara bayi dan juga suara binatang, contoh إسَّ وهِسَّ، وهجْ (suara kambing/mengembik), هلا (suara kuda), كِخْ (suara tangisan bayi). Dan sebagainya.
  5. Isim (kata benda) yang mengandung arti fi/íl (kata kerja), contohnya, صهْ، مهْ (cukup!), حيَّ (terimalah), أفٍّ (makian), ويْ (makian), هيهاتَ (jauh). Dan lain-lain yang mengandung makna fiíl.
  6. Sebagian dari keterangan waktu dan tempat, contoh إذْ، إذا، الآنَ، حَيْثُ، أمْسِ.
  7. Isim yang menunjukkan syarat أسْماءُ الشَّرْط , contoh مَنْ, مهما, متى, حيثما, كيفما, أيْ, أيّانَ.

II. AL I’RAB الإعراب

I,rab adalah kebalikan dan lawan dari Bina, dimana harakah (baris) akhir dari suatu kata akan mengalami perubahan yang disebabkan oleh factor-faktor yang merubah harakah dan kedudukan kata dalam kalimat. Yang mana tanda-tanda I’rab itu terbagi menjadi dua, ada tanda yang asli dan farí (bukan asli).

Tanda Asli dari I’rab adalah Dhamma الضمةُ untuk Rafa’, Fatha الفتحةُ untuk Nashab, Kasrah الكسرة untuk Jarr, dan Sukun السكون untuk Jazam. Tanda-tanda ini ada yang dikhususkan untuk Isim dan Fiíl saja yaitu Rafa’dan Nashab, contohnya dalam kalimat المؤمنُ يتقنُ عمله Rafa’ (dibaca dhamma pada ahir harakatnya) kata Mu’min dan yutqinu dengan Dhamma, contoh lain dari yang Nashab, إنّ القطارَ لن يغادرَ قبل المساء Nashab Isim Qitara karena dimasuki Inna (huruf Nashab isim dan rafa’khabarnya) dan Fiíl Yughadir dengan Fatha karena dimasuki oleh haruf nashab yaitu Lan. Dan dari tanda-tanda I’rab tersebut ada juga yang dikhususkan terhadap isim yaitu Jarr, contohnya في مسجدِ المدينةِ عالم Kata masjidi dibaca kasrah karena di dahului huruf Jarr dan kata Madinah di baca kasrah karena Idhafaf. Adapun tanda Jazam dikhususkannya kepada Fiíl, contohny لم يفزْ بالنجاح كسول kata yafuz di sukunkan karena dimasuki oleh huruf jazam.

Tanda-tanda Farí dari I’rab yaitu suatu harakat mengganti kedudukan harakat lainnya seperti kasrah mengganti fatha pada Jamak Muzakkar Salim dan fatha menggantikan kasrah pada Mamnu’min As sharf. Atau kedudukan harakah digantikan oleh huruf, misalnya Wau menggantikan dhamma pada jamak muzakkar salim. Dan kesemuanya itu dapat diperincikan secara garis besarnya (baik harakah yang menggantikan posisi harakah lainnya maupun huruf yang menggantikan kedudukan dari harakah) di bawah ini:

A. Harakah yang menggantikan kedudukan harakah lainnya

  1. Jamak Muannas Salaim (perempuan) جمع المؤنث السالم yaitu yang menunjukkan lebih dari dua (muannats) dengan menambahkan Alif ألف dan Ta تاء pada akhir katanya. Untuk menjadikan suatu isim mufrad menjadi jamak muannats salim, maka isim tersebut Pertama: haruslah menunjukkan kepada nama-nama perempuan, mislanya jamak dari Zainab الزينبا, jamak dari Hindun الهندات , jamak dari Maryam المريمات. Kedua: Isim yang diakhiri dengan tanda-tanda Ta’nits (feminis) baik Ta , Alif Maqsur dan Mamdud , contohnya فاطمة jamaknya adalah الفاطمات, حمزة jamaknya adalah الحمزات , سماء jamaknya سماوات , كبرى jamaknya كبريات . Ketiga: Isim dalam bentuk Tashgir, contohnya kata Dirham yang telah di Tashgir menjadi Duraihim maka jamaknya adalah دُريهمات . Keempat: Isim yang terdiri dari lima huruf yang belum pernah didengar Jamak Taksirnya (tidak beraturan), misalnya kata إسطبل (kandang kuda) jamaknya إسطبلات, dan kata حمّام (Wc) jamaknya adalah حمامات . Jamak Muannats Salim ini, apabila kedudukannya Manshub dalam kalimat maka alamat I’rabnya adalah kasrah menggantikan fatha.
  2. Mamnu’Min As Sharf الممنوع من الصرف Isim yang tidak diikutkan dengan Tanwin atau kasrah, olehnya itu apabila ia Majrur karena dimasuki oleh salah satu huruf Jarr maka I’rabnya adalah Majrur dengan Fatha pengganti kasrah. Adapun yang termasuk dalam Mamnu’Min As Sharf ini adalah, Pertama: nama-nama Ajami seperti إسماعيل، إبراهيم، إسحاق , Kedua: Nama-nama ajam yang terdiri dari dua kata, misalnya حضرموت، بعلبك, Ketiga: Isim yang ditambahkan Alif dan Nun pada akhirnya, misalnya رضوان، سلمان, Keempat: Isim yang timbangannya menyerupai timbangan Fiíl, contohnya أحمد، يزيد، يشكر, Kelima: Atu dalam timbangan Fu’al seperti, عُمَر، زُحَل، هُبل، عُصَم, Keenam: Isim yang bertimbangan Fa’laan فَعْلان misalnya غضبان، عطشان ,Ketujuh: Isim yang bertimbangan Afála أفعل misalnya أحمر، أصغر ,Kedelapan: Isim yang di akhir katanya adalah Alif Mamdudah atau Maqshurah, contohnya حسناء، أصدقاء، أطباء، حبلى، مصطفى ,Kesembilan: Bentuk Muntaha Jumuk, misalnya مساجد، عمائر، دوائر، قناديل. Kata-kata yang termasuk Mamnu’ Min As Sharf ini apabila dimasuki oleh salah satu huruf Jarr maka hukumnya majrur dengan Fatha pengganti kasrah, namun apabila ia dimasuki oleh AL atau ia Idhafah (bersandar pada kalimat lain) maka hukumnya tetap majrur dengan Kasrah, contohnya: في المساجدِ قناديل, karena kata masajid dimasuki oleh AL.

B. Harakah digantikan oleh Huruf

  1. Mutsanna المثنى yaitu yang menunjukkan kepada dua (bernyawa atau tidak bernyawa), antara tunggal dan jamak. Yang ditambahkan Alif ألف dan Nun نون pada akhir katanya untuk menunjukkan hukumnya sebagai Marfu’, contohnya رجلان , dan menambahkan Ya ياء dan Nun نون pada akhir katanya yang menunjukkan Jarr atau Nashab, contohnya رجلين. Adapun untuk mengetahui bentuk-bentuknya adalah pembahasan dalam Ilmu Sharf.
  2. Jamak Muzakkar Salim جمع المذكر السالم yang menunjukkan tiga atau lebih dengan menambahkan Wau واو dan Nun نون pada kondisi Marfu’ contohnya مسلمون , dan menambahkan Ya ياء dan Nun نون pada kondisi Majrur dan Manshub, contohnya مسلمين.
  3. Asma Sittah الأسماء الستة yaitu أب (bapak), أخ (saudara lk), حم (panan), ذو (yg mempunyai), فو (mulut), هن (sesuatu). Tanda Marfu’nya dengan Wau الواو contohnya حضر أبو علي , Manshub dengan Alif الألف, contoh ورأيتُ أبا علي , dan Majrur dengan Ya الياء contohnya مررتُ بأبي علي. Syarat-syaratnya adalah haruslah tunggal (mufrad) tidak boleh mutsanna (dua) dan Jamak. Syarat lainnya adalah harus Idhafah, contohnya حضر أبوه. Dan tidak boleh jika bentuknya tashgir, contohnya أّخيُّه صغير.

C. I’rabnya dengan menghapus atau menghilangkan hurufnya

  1. Al Af’al Al Khmasa الأفعال الخمسة yaitu setiap Fi’il yang berhubungan dengan Alif Itsnain (mutsanna), atau Ya Al Mukhatabah, atau Wau Jama’ah. Dinamakan Af’al Khamsa karena bentuknya ada lima yaitu, تفعلان، يفعلان، تفعلين, يفعلون، تفعلون. Hukum I’rab Fi’il yang lima ini adalah menghilangkan huruf Nun nya apabila Ia Mnshub atau Majzum, contohnya هذه الدار يريد التاجران أن يشتريا dihilangkan Nun pada kata Yasytariyani karena manshub dengan huruf nashb. Atau majzum karena dimasuki oleh huruf jazm seperti contoh di bawah ini لا تشتريا هذه الأرض.
  2. Mudhari’ Mu’tal Akhir, yaitu fi’il mudhari’ yang huruf akhirnya adalah huruf Illat (alif, wau dan ya). Apabila ia berada pada posisi Majzum maka hukumnya adalah majzum dengan menghapus huruf illatnya, contohnya يدعو dan يخشى apabila dimasuki oleh huruf jazm لم يدعُ أحدا dihilangkan huruf wau nya خالد لم يخشَ أعداءه. Dihilangkan huruf ya nya.


Macam-macam I’rab

I’rab terbagi menjadi tiga macam, yaitu I’rab Dhahir (nampak) إعراب ظاهر, I’rab Muqaddar (tersembunyi) إعراب مقدر dan I’rab Mahalli إعراب محلي (berdasarkan tempat dan kedudukan dalam kalimat).

I’rab Dhahir إعراب ظاهر adalah nampak dan terlihatnya tanda-tanda I’rab seperti kasrah, dhamma dan fatha pada akhir suatu kata, contohnya في المساجدِ dimana terlihat dengan jelas kasrah pada kata masajidi. I’rab Muqaddar yaitu tidak nampaknya tanda-tanda I’rab dengan jelas pada akhir kata disebabkan oleh beratnya lidah untuk menyebutkannya atau terdapat uzur dalam penyebutan atau karena maksud menempatkannya pada suatu posisi dengan harakat yang sesuai ataupun karena dimasuki oleh huruf jarr tambahan (zaid). Dan semua itu terdapat pada:

    1. Isim Manquush الاسم المنقوص yaitu isim yang diakhiri dengan huruf Ya dan huruf sebelumnya kasrah, contoh القاضي muqaddar atas dhamma dan kasrah karena berat penyebutannya.
    2. Isim Maqshur الاسم المقصور yaitu isim yang diakhiri dengan Alif dan huruf sebelumnya adalah fatha, contohnya الفتَى dalam kalimat حضر الفتى atau ومررتُ بفتىً I’rabnya adalah dengan menyembunyikan semua harakatnya karena ada uzur.
    3. Isim yang disandarkan kepadanya Ya Mutakallim, contohnya كتابي semua harakatnya disembunyikan karena kedudukannya dengan harakat yang sesuai.
    4. Isim yang dijarr dengan huruf jarr tambahan, contohnya ما حضر من أحدٍ.
    5. Fi’il Mudhari’ yang huruf akhirnya adalah huruf illat, baik huruf akhirnya adalah Ya dan sebelumnya kasrah misalnya يمشي، يبني , ataukah huruf akhirnya adalah Wau sebelumnya dhamma, contohnya يدعو، يغزو, maupun huruf akhirnya Alif dan fatha sebelumnya, misalnya يرعى، يخشى, maka tanda I’rabnya adalah muqaddar karena ada uzur yang menghalangnya.

I’rab Mahalli إعراب محلي yang berdasarkan tempat dan kedudukan suatu isim dalam kalimat, dan kebanyakan terdapat pada semua isim yang mabni, contoh dari kata penunjuk هذا كريم , contoh dari kata penghubung أكرمت الذي نجح.


Nakirah (النكرة) dan Ma’rifat (المعرفة)

Nakirah (النكرة) adalah yang tidak dimaksudkan kepada sesuatu yang tertentu atau dengan kata lain nakirah adalah sesuatu yang belum tentu dan pasti, contohnya kata manusia (إنسان) dan laki-laki (رجل) apabila kedua kata tersebut belum jelas ketentuannya, manusia yang manakah atau lelaki yang mana. Sedangkan Ma’rifat (المعرفة) adalah susatu yang pasti dan dimaksudkan kepada susuatu yang tertentu, yang terbagi menjadi tujuh bagian yaitu Dhamir, álam, kata penunjuk, kata penghubung, kata yang ber alif lam (أل), bersandar pada ma’rifah , munada (panggilan=dimasuki oleh huruf nida).

Dhamir (ضمائر) adalah kata yang menunjukkan kepada mutakallim (orang pertama tunggal) atau mukhatab (lawan berbicara) dan ghaib (orang ketiga). Yang terbagi menjadi dhamir Munfashil (terpisah) yaitu dhamir yang boleh dimulai dengannya pada awal kalimat atau terletak setalh Illa (kecuali). Dan dhamir muttashil (bersambung) yaitu dhamir yang bersambungan dengan kata lain, contoh dhamir munfashil, saya (أنا), kamu laki-laki (أنتَ), kami/kita (نحن), dia laki-laki (هو), dia perempuan (هي), mereka (هم) kesemuanya adalah dhamir muttashil yang menempati kedudukan rafa’/marfu’dalam kalimat, adapaun yang menempati nashab yaitu saya (إيّاي), kamu (إيّاكَ), mereka (إياهم) dst. Contoh dhamir muttashil, Ta yang menunjukkan saya (تاء= قرأتُ), Na menunjukkan kita (=قرأنا نا) dan seterusnya.

Al ‘alam (العلم) adalah kata yang menunjukkan sesuatu pada zatnya yang meliputi Kunyah (gelar) yaitu kata yang dimulai dengan ibn, abu atau umm, contohnya (أبو بكر), (ابن الوردي), (أم المؤمنين). Laqab (gelar) yang menunjukkan kebaikan atau memuji dan keburukan atau penghinaan, contohnya (الفاروق =yang dapat membdakan baik dan buruk) dan (الأعشى =yang cacat matanya). Ataupun nama-nama orang selain kuniyah dan laqab, baik yang tunggal maupun yang tersusun dari dua kata, contohnya (أحمد), (هند), (مكة), dan (عبدالله).

Kata penunjuk (اسم الإشارة) yaitu kata yang menunjukkan pada sesuatu yang tertentu baik dekat ataupun jauh, contoh (هذا =ini lk), (هذ ه =ini pr), (ذلك =itu lk) dan (تلك =itu pr).

Kata penyambung (الاسم الموصول) yaitu kata yang menunjukkan pada susuatu yang tertentu yang berhubungan, contohnya (الذي =yang lk) dan (التي =yang pr).

Alif Lam (أل) yaitu isim nakirah yang dimasuki oleh alif dan lam, dan menjadikan sesuatu itu menjadi tertentu (ma’rifat), contohnya kata buku (كتاب) yang belum diketahui buku yang mana maka ditambahkan alif dan lam guna menunjukkan buku tertentu menjadi (الكتاب).

Isim yang disandarkan pada isim ma’rifah yaitu isim nakirah didhafkan (disandarkan) pada isim ma’rifat yang menyebabkan isim tersebut menjadi ma’rifat, contohnya (هذا كتاب عليٍّ =ini bukunya Ali), kata kitab dalam contoh ini adalah nakirah namun karena diidafhkan pada isim ma’rifat yaitu Ali maka kata kitab dengan sendirinya menjadi ma’rifat.

Munada (لمنادى) yaitu memanggil dengan maksud menentukannya sehingga ia menjadi ma’rifat, contohnya (يا بائعُ) dan (يا عبدَاللهِ).


I’rab Fi’il Mudhari’

I’rab Fi’il Mudhari’ ada tiga yaitu Nashab, Jazam dan Rafa’. Dinashabkan Mudhari’ apabila dimasuki oleh salah satu dari huruf Nashab yaitu, An أنْ contohnya وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ , Lan لن, contohnya قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلاَّ مَا كَتَبَ اللّهُ , Izan إذن contohnya أريد أن أزورك. إذن أُكرمَك , Kay كي, contohnya فَرَدَدْنَاهُ إِلَى أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا. Fi’il Mudhari’ juga dinashabkan dengan An yang tersembunyi setelah Lam لِتَغْفِرَ لَهُمْ, atau Hatta حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ, atau Fa sababiah لم تعملْ فتكسبَ, atau Athaf kepada isim sebelumnya.

Fi’il Mudhari’ itu Majzum apabila didahului oleh salah satu dari pada huruf jazam, yaitu Lam لم dan Lamma لمّا,contohnya لم يسافرْ زيد، لما يعُدْ عليٌّ. Lam لام الأمر yang menunjukan perintah, contoh لتحكمْ بين الناس بالعدلِ. La لا الناهية yang menunjukkan larangan, contohnya لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى. Dan Fi’il Mudhari’ juga majzum apabila di masuki oleh salah satu dari huruh Syarth.

Apabila Fi’il Mudhari’ kosong dari huruf Nashab dan Jazam maka I’rabnya tetaplah Rafa’/ marfu’.



fikar


Read more! span.fullpost {display:none;}

18 June 2006

Shalat di mesjid berkuburan

Shalat di mesjid berkuburan
vikar


Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda:”Laánallahu Al yahuda wa an Nashara ittakhazuu qubura anbiyaihim masajid”. Hadis ini sering dijadikan dalil atas larangan shalat di mesjid yang ada kuburannya yang menimbulkan konflik antara umat islam itu sendiri, padahal masalah ini adalah masalah furu’ yang dimanfaatkan oleh sebagian orang dalam memperpecah umat dengan saling tuding menuding sebagai ahlul bidah bahkan musyrik. Semua itu kembali ke kekeliruan dalam memahami dan mencampuradukkan antara tiga permasalahan utama, yaitu:

Pertama: Shalat di kuburan

Kubur dalam bahasa arab artinya berkisar pada tempat pemakaman atau memakamkan atupun tempat untuk meletakkan mayat. Disyariatkannya pemakaman sebagai penghormatan terhadap si mayit, sehingga para ulama sepakat melarang menginjak dan berjalan di atas kuburan, sebagaimana tertera dengan jelas di dalam hadis bahwa Nabi melarang menginjak kubur. Sedangkan dalam mazhab Hanafiyah lebih mengkhususkan kepada kuburan yang berbentuk, begitu pun mazhab Syafií dan hambali mengecualikannya sekedar makruh.

Adapun hukum shalat di perkuburan. Menurut mazhab hanafi juga At Tsauri dan Al Auzaí adalah makruh karena bernajis dan menyerupai perbuatan orang-orang yahudi, tapi jika di perkuburan tersebut ada tempat yang disediakan untuk sholat dan tidak bernajis maka hukumnya boleh.

Sedangkan mazhab Maliki membolehkan shalat di perkuburan baik itu dihuni maupun sekedar untuk belajar di sana, baik telah digali maupun belum dan baik itu perkuburan orang muslim maupun kafir.

Mazhab Syafií lebih merincikan lagi, yaitu tidak sah shalat di perkuburan yang telah dibongkar dan digali karena tanah tersebut telah bercampur dengan nanah mayit itupun kalau jika tempat shalat tidak dialasi dengan apa-apa, dan jika dialasi hukumnya pun makruh. Jika kuburan tersebut belum dibongkar dan digali maka shalatnya sah akan tetapi makruh. Adapun jika ragu apakah kuburan tersebut telah digali atau belum maka dalam masalah ini ada dua pendapat, pertama: Shalatnya sah tapi makruh karena tanah pada dasarnya adalah suci yang tidak dapat dihukumkan sebagai najis dengan keraguan, kedua: Tidak sahnya shalat dan makruh.

Menurut mazhab Hanbali, tidak sah shalat di perkuburan baik dalam perkuburan itu sendiri maupun di samping dan sekitarnya, baik telah lama maupun baru, baik telah berkali-kali digali dan dibongkar maupun yang tidak. Akan tetapi tidak melarang shalat bila hanya satu atau dua kuburan, karena menurut mereka, perkuburan itu jika lebih dari tiga kuburan. Dan mereka menetapkan bahwa tidak ada larangan shalat di rumah yang ada kuburannya meskipun lebih dari tiga kubur, karena hal itu tidak termasuk perkuburan.

Demikian pendapat para ulama dalam hal shalat di pekuburan tanpa bertentangan dengan masalah shalat di mesjid yang ada makam di dalam atau di sampingnya.

Kedua: Shalat di mesjid yang ada makamnya

Shalat di mesjid yang ada makam Nabi dan orang-orang shalih adalah sah dan benar serta disyariatkannya yang mana derajat hukumnya sama dengan sunnah, hal ini berdasarkan Al Qurán, Hadis, perbuatan sahabat dan ijma’.

Dalam surah Al Kahfi ayat 21, Allah SWT berfirma:”Faqalu Bnu alaihim bunyana rabbuhum a’lamu bihim Qala allazina ghalabu ála amrihim lanattakhizanna álaihim masjidan”. artinya, mereka berkata buatlah suatu bangunan untuk mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui hal mereka, orang-orang yang menentukan urusan mereka berkata, kami akan membuat mesjid atas mereka. menunjukka cerita ashabul kahfi, disaat orang-orang menemukan mereka sebagian mereka (orang-orang musyrik) berkata kami akan membangun sebuah bangunan untuk mereka dan sebagian yang lain (orang beriman) berkata kami akan membuat mesjid atas mereka.

Ar-Razi dalam tafsirnya 11/106, menafsirkan “Lanattakhizanna alaihi masjidan” menjadikannya tempat dimana kita beribadah serta mengingat dan mengenang ashabul kahfi dikarenakan mesjid tersebut. Sedangkan Syaukani dalam kitabnya Fath Al Qadir 3/277, menyebutkan kata “Ïttikhazul masjid” oleh orang-orang yang menentukan urusan, mereka adalah orang yang beriman, atau mereka para penguasa dan raja saat itu. Sementara Az Zujaji berkata bahwa ini semua menunjukan kelebihan orang mu’min dengan adanya mesjid. hal ini semua dikhusukan kepada masalah membangun mesjid di atas kuburan.

Ibnu Abd Al Bar dalam “Al Istiyáb” 4/1614, dan Ibnu Saád dalam “Atthabaqaat Al Kubra” 4/134 dan banyak ulama lain yang menjelaskan hadis Abi Bashir yang diriwayatkan oleh Abd Ar Raziq dari Muhammada bin Muslim, dimana Abu Bashir meninggal sementara memegang dan membaca Al quran, kemudian Abu Jandal memakamkannya di tempat ia meninggal kemudian dibangunlah mesjid di atas kuburannya.

Adapun perbuatan para sahabat terlihat jelas pada pemakaman jenazah Rasulullah SAW dan perbadaan pendapat mereka terhadapnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh imam Malik dalam Muatha 1/231 mengenai perbedaan pendapat para sahabat tentang tempat pemakaman jenazah Rasul SAW, sebagian dari mereka menyarankan agar dimakamkan di mimbar, sebagian yang lain menyarankan agar dimakamkan di Baqi’, Kemudian datang Abu Bakar dan berkata, aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah para Nabi dikebumikan kecuali di tempat dimana mereka menghembuskan nafas terakhir. Dari sini dapat dilihat saran sebagian sahabat agar jenazah Rasul dimakamkan di mimbar yang ada di dalam mesjid, dan tidak ada seorang pun yang mengingkari saran tersebut, Abu Bakar menyarankan hal lain bukanlah sebagai bantahan terhadap saran sahabat yang lain atau sebagai larangan pemakaman jenazah Rasul di dalam mesjid melainkan menerapkan apa yang diperintahkan Rasul untuk memakamkan jezahnya dimana beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Dalam riwayat, Rasulullah SAW menghembuskan nafasnya yang terakhir di kamar sayidah Aisyah ra, kamar ini bersambungan dengan mesjid dimana orang-orang shalat di dalamnya, letak kamar tersebut seperti letak makam para wali yang berhubungan dengan mesjid pada masa kini. Sebagian ulama yang membantah hal ini dan mengatakan bahwa ini adalah kekhususan dan keistimewaan Nabi SAW, namun hal itu dapat dibantah bahwasanya kekhususan hukum terhadap Nabi haruslah dengan dalil yang menunjukkannya karena pada dasarnya hukum umum selama belum ada dalil yang menunjukkan tentang keistimewaan maka batal lah kekhususan itu. Kemudian di kamar tersebut terdapat pula makam Abu bakar dan Umar ra yang menunjukkan ketidak khususannya terhadap Nabi. Di dalam mesjid yang bersambungan dengan tiga makam tersebut, para sahabat shalat di dalamnya, begitu pun sayiddah Aisyah tinggal dan shalat (baik fardhu maupun sunnah) di dalamnya. Hal ini dapat dijadikan sebagai perbuatan para sahabat sebagai Ijma’ dalam pengaplikasian hukum.

Adapun Ijma’ dan ketetapan para ulama dapat dilihat dengan shalatnya kaum muslimin di Mesjid Nabawi dan di mesjid-mesjid yang ada makam para wali di dalamnya. dan para ulama fiqh di Madinah sepakat bahwa Kamar sayidah Aisyah dimana ada tiga makam tersebut termasuk bagian dalam mesjid, dan tidak ada seorang pun yang membantahnya kecuali Said bin Musib, namun bantahannya bukanlah didasarkan pada larangan shalat di mesjid yang ada kuburannya melainkan karena keinginannya agar kamar tersebut dibiarkan begiru saja agar kaum muslimin dapat mengetahui dan mengambil ibrah dari kehidupan Rasulullah SAW.

Ketiga: Menjadikan Kuran sebagai mesjid

Dari Aisyah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda:”Laánallahu Al Yahuda Wa An Nashara Ittakhazuu Qubura anbiyaihim masaajid” (Riwayat Bukhari dalam shahih 1/446), dalam Riwayat Muslim ditambahkan “Qubura Anbiyaiyaihim wa shalihihim”, (Riwayat Muslim dalam Shahihnya 1/377). Allah melaknat orang-orang yahudi dan nasrani yang menjadikan kuburan Nabi mereka sebagai mesjid. Para ulama tidak memahami hadis ini sebagai larangan bersambungnya mesjid dan kuburan, melainkan mereka menafsirkan “menjadikan kubur sebagai mesjid” dengan tafsiran yang benar yaitu menjadikan kubur sebagai tempat bersujud, dan bersujud terhadap si mayit yang berlebihan seakan menyembah si mayit, sebagai mana yang dilakukan oleh orang-orang yahudi dan nasrani sebagai dalam surah At Taubah:”Ittakhazu ahbarahum wa ruhbanahum arbaban min dunillah”, dan inilah maksud dari kata sujud yang mendapat lanknat serta murak Allah SWT, atau mereka menjadikan kuburan sebagai kiblat sebagaimana yang dilakukan oleh ahlul kitab.

Dalam hadis riwayat Aisyah di atas, Syeikh Sindi dalam Hasyiahnya 2/41 menjelaskan bahwa maksud dari hadis tersebut adalah memperingati dan mengingatkan umatnya agar tidak melakukan seperti halnya orang yahudi dan nasrani yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat untuk bersujud atau kiblat di dalam shalat. Adapun sekedar menjadikan mesjid disamping makam para wali dan shalihin sebagai tabarruk maka hal itu tidak dilarang.

Dinukilkan dari Al Alamah Ibnu Hajar Al Asgalani (Fath Al Bari 1/524) dan selainnya (Syarh Az Zarkani 4/290, Fayd Al Qadir 4/466) dalam syarah Sunan perkataan Al Baidhawi: Orang-orang yahudi bersujud di kuburan nabi mereka dan mengagung-agungkannya serta menjadikannya sebagai kiblatn sehingga Allah SWT melaknat mereka, kemudian Rasulullah SAW melarang kaum muslimin dalam berbuat seperti itu. Adapun menjadikan mesjid disamping makam para wali atau sholat dikuburannya untuk bertabaruk, bukan mengagungkannya dan menjadikan kiblat maka hal itu tidak apa-apa, sebagaimana Hijir Ismail as di mesjid Al Haram.

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa hukum shalat di mesjid ada makam atau kuburannya , jika makam tersebut disamping atau pojokan mesjid maka shalatnya sah, bukanlah haram dan makruh. Jika kuburan tersebut di dalam mesjid maka shalat di dalamnya batal dan haram menurut mazhab Hanbali. Dan sah salatnya menurut Maliki, Hanafi dan Syafií asalkan kuburan tersebut tidak berada di depan orang yang shalat karena menyerupai shalat dan menyembah kuburan tersebut.

fikar.org


Read more! span.fullpost {display:none;}

16 June 2006

Antara Dia dan MisSane

Antara Dia dan MisSane
fikar


Ketertarikanku pada syair-syair dan puisi MisSane bukanlah karena kedekatanku terhadapnya, melainkan karena rakitan dan untaian kata-katanya yang dituangkan dalam bait-bait syair, dapat mewarnai hati bagi yang membacanya. Meskipun MisSane tidak berlatarkan pendidikan yang dalam, dalam merangkai kembang kata, namun ia mampu secara alami menuangkan perasaannya tercurah begitu saja, yang mampu menghidupkan rasa, mengikat perasaan dan menggugahnya. Itulah kehebatannya yang dapat dilihat dari bait-bait puisinya dibawah ini, dimana ia memulai dengan keluhan terhadap diri atas sesuatu yang mungkin tapi tak mungkin lagi akan terjadi, hal itu menandakan kemahirannya dalam memilih kalimat yang tepat dalam memulainya, yang menarik perhatian orang agar segera memperhatikan dan mendengarkannya. Kepandaiannya menggunakan “Iltifat” dari Dhamir Mutakallim ke dhamir Mukhatab serta Ghaib lebih menambah ketergugahan hati. Perumpamaan diri seperti kuncup adalah benar tanpa harus membutuhkan kinerja akal dan pemerasan terhadap otak untuk sampai kepadanya, terlebih lagi kemampuannya dalam mengsifati kejujuran seakan-akan kejujuran itu mempunya panca indra untuk bungkam akan cinta adalah uslub yang benar indah, meskipun taqlidy namun masih tetap eksis dan dikembangkan oleh para penyair hingga kini, dan semua itu sesuai dengan isi serta tujuan MisSane dalam bait-baitnya hingga diakhiri dengan suatu kepasrahan yang mana serasi dengan permulaannya.


SEJATIMU
MisSane

Yang tak mampu aku tempuh
tetaplah angkuh.
Rona kelam yang mewarnai silammu
tak juga tersibak tirai acuhmu
tetaplah kamu
yang seperti itu.

Aku yang kuncup dulu
tumbuh mekar dengan pesonamu
tak henti memujamu
Hingga kudapati tak berartinya aku
saat itu.

Kejujuranku bungkam untuk cintaimu
hanya beribu pertanyaan yang mengelabuhiku
benarkah itu?

Dan apa yang kita lalui adalah tanpa restu
nurani kita yang bening menolak semua itu.
Tapi tak juga kita dapat berjingkat dari waktu
yang memberi kita kesempatan untuk bertemu senyum palsu.

Masing-masing kita membawa ragu
akan esok yang seharusnya entah kapan berlalu
memecahkan keangkuhan yang beku.
Sampai pada masa menunggu yang tak menemui jemu
berakhir dengan tanpa kecewa mendapati sendu.

Karena setiap kita adalah pencipta
tanpa putus asa yang mengganggu
dihadapan gemerlap silau lampu
yang tak tertembus oleh pintu kesegaran hati yang perlahan layu,
seterusnya redup karena lelah menyerbu

Dan saat itu
Pantaskah kita menginginkan agar semula mematahkan angkuh
Hingga tak mungkin kita hanya mendapati sendu.

Masing-masing kita menuju pintu yang entah siapa berdiri menunggu.
Semoga itu tetap aku,
yang turut merasakan kebahagiaanmu, juga
Aku, yang tak ternilai mengagumimu.

5 Juni 2005

Saking indah bait-bait puisinya, membuatku sulit dalam menciplak serta menyamainya, namun keisenganku membuatku iseng dalam menirunya, yang kurubah menjadi gubahanku. hehehehe
seakan jawaban atas puisi MisSane yang berbentuk puisi masju’ atau sajak. Iseng ahhhh……..


SEJATIMU
fikar

Langkahku lumpuh bukanlah angkuh
Berkursikan roda bukan tak mampu
Mendungnya langit hiaskan jerih
Dalam alpamu kau pun tak tau
Bersandalkan darah dalam meraih
Terinjak takdir semua berlalu
Membuatmu salah menilai siapa aku

Pesonaku mekar tiada berakar
Bertunas bakteri sunatkan asamu
Memuja bukan suatu yang salah
Memuji membuatmu selalu terlalu
Di dalam hati artimu berlabuh
Harum gaharu semua pasti tau
Bahwa kau hanyalah kuncup terbaru

Hatimu resah bertanya gelisah
Bekukan jawaban yang tlah baku
Tajam tanyamu menukik lembah
Tiada penadah menampung sakitmu
Rusuh inginmu harapkan riswah
Telanjangi hati dengan berjuta ragu
Karna kebenaran ada di tanganmu

Nurani merona siap untuk berkoar
Yang kita jalani awal dari restu
Niat matang termakan burung tekukur
Picik berjingkrak di belakang waktu
Senyum pahit adalah gincu penghias bibir
Terpoles rapih oleh kosmetik palsu
Mungkin kita terlalu terburu-buru

Berat beban ragu ragukan arah
Tesesat dalam hayalan-hayalan semu
Hari esok tercampak kedalam sampah
Meski semua itu belum berlalu
Kuat takutmu tertancap di tanah
Lemahkan penantianmu dalam jemu
Membuatmu sayup-sayup redup dan layu

Berbuat tanpa harapkan getah
Gaji bulanan selalu kosongkan saku
Lemah tangan menggenggam rupiah
Tiada putus asa meski menunggu
Terangnya lentera silaukan arah
Gelap meraba pintu dan merayu
Tertabrak aral yang datang beradu

Saat ini dan itu kita pun berubah
Jalan yang kita dapati bukanlah pintu
Sadar perih dan sakit bukanlah desah
Remuk di relung berirama sendu
Kembali berteriak namun lemah
Ketegaran hati perlahan layu
Tiada pantas menerima semua itu

Di depan gerbang kau berdiri lemah
Menunggu sesuatu tak pantas ditunggu
Berkantongkan pedih dan sedih
Membawa segala pemujaanmu
Tulusuri hari-hari dalam gundah
Dapatkan kebahagiaan abadimu
Karena ku tau kau bukan kebahagiaanku
Dan kau hanyalah sejatiku


Read more! span.fullpost {display:none;}

14 June 2006

Membedah Takdir dalam Gempa

Membedah Takdir dalam Gempa
Taufik Damas. Lc


Kata “takdir” sudah menjadi kata yang sangat akrab bagi orang Indonesia. Kata itu berasal dari bahasa Arab, yang kemudian diindonesiakan dan sangat akrab diucapkan. Keakraban dalam mengucapkannya ternyata tidak seiring dengan daya pemahaman orang terhadap makna kata itu, sehingga kata itu sering kali disalahpahami. Banyak faktor yang menyebabkannya, terutama karena faktor kemalasan untuk menulusuri makna kata secara definitif-ilmiah. Kalaupun ada upaya mendefinisikannya, prosesnya sangat rumit dan cenderung dibungkus dengan sakralisasi. Karena bicara soal takdir dianggap sebagai sesuatu yang berhubungan langsung dengan Tuhan. Akibatnya, kata itu seringkali digunakan tidak sesuai pada tempatnya.

Dalam nomenklatur keagamaan (Islam), kata takdir seringkali diartikan sebagai ketentuan Tuhan. Ketentuan yang mana dan yang bagaimana? Ini yang jarang dijelaskan oleh para pemuka agama. Akhirnya masyarakat berjalan sendiri-sendiri dalam memahami makna takdir tersebut, dan takdir lebih dipahami sebagai ketentuan Tuhan yang aktif dan dan berlaku dalam setiap aspek kehidupan, hingga manusia tidak memiliki kebebasan seditkit pun untuk menentukan kondisi dirinya. Implikasinya sangat dahsyat. Sialnya yang terjadi justru implikasi dalam pengertian yang negatif.

Seseorang yang mengalami kesulitan ekonomi dalam hidupnya, akan mudah mengatakan bahwa ini adalah takdir Tuhan. Dengan kesadaran (keliru) ini, masalah kesulitan ekonomi dianggap telah selesai; kepasrahan hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit dianggap sebagai sikap keberagamaan yang baik, karena berarti menerima takdir Tuhan. Padahal, kesulitan ekonomi yang dialami oleh seseorang sama sekali tidak bisa dikatakan sebagai takdir Tuhan. Justru hal itu terjadi karena sikap lari dari takdir Tuhan: enggan menapaki anak tangga untuk menuju kehidupan yang lebih baik.

Banyak hal yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan ekonomi dalam hidupnya: tingkat pendidikan yang rendah, tidak memiliki keterampilan kerja, mental yang lemah, kondisi sosial-ekonomi yang dipersulit dan lain-lain. Kelemahan mental tidak jarang juga dipengaruhi oleh kesalahan dalam memahami kata takdir. Bahkan, sebagian orang menganggap keseriusan dalam usaha memperbaiki kehidupan ekonomi sebagai upaya yang akan menjauhkan diri dari keberagamaan. Dengan kata lain, upaya ini dianggap sebagai sikap kurang pasrah terhadap takdir. Racun jadinya!

Ada cara mudah dalam memahami kata takdir dengan baik. Baik, dalam artian pemahaman itu akan mendorong manusia untuk berusaha lebih keras dalam hidupnya dan sama sekali tidak dirasakan sebagai “tidak pasrah” terhadap takdir Tuhan. Caranya: kata takdir memiliki makna aturan yang tidak akan berubah. Kemudian dalam kenyataan hidup ini, setiap aturan yang tidak dapat diubah (dalam pengertian yang sebenarnya) itulah takdir.

Dalam al-Quran, kata takdir selalu dikaitkan dengan ketentuan Tuhan yang tidak pernah berubah. Ambil contoh ayat 38 yang terdapat dalam surah Yâsîn: Dan matahari bergerak di tempat peredarannya. Itulah ketetapan (takdîr) yang Mahakuat dan Maha Mengetahui. Pada ayat selanjutnya, ayat 39, Allah berfirman: Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, hingga (setelah sampai pada tempat peredaran yang terakhir) ia kembali seperti bentuk tandan yang tua.

Dua ayat di atas menggunakan kata takdir (taqdîr pada ayat pertama, dan qaddara pada ayat kedua) untuk menunjukkan ketetapan yang tidak akan berubah. Jelas dikatakan bahwa matahari bergerak di tempat peredarannya. Ketetapan ini tidak akan pernah berubah sampai hari Kiamat. Contoh lain dari takdir adalah: air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah (gravitasi), setiap orang pasti mati, dan hukum alam atau hukum sosial lainnya yang sangat dekat dengan kehidupan manusia.

Tidak salah jika dikatakan bahwa manusia tidak akan pernah terhindar dari takdir dalam hidup ini. Tapi jelas, sekali lagi, takdir yang dimaksud adalah ketetapan Tuhan yang tidak bisa berubah atau diubah oleh manusia. Seluruh takdir Tuhan akan bersifat linear. Tidak sedikit pun ada perubahan dan pergeseran dalam takdir.

Jadi, takdir sama sekali tidak ada hubungannya dengan kondisi ekonomi seseorang, tingkat kecerdasan atau hal lain yang dapat diubah oleh manusia. Tuhan harus dipahami sebagai Zat yang tidak pernah mentakdirkan bahwa seseorang harus hidup dalam kondisi miskin, bodoh, menderita dan tertindas. Kemiskinan, kebodohan, penderitaan dan ketertindasan adalah ulah tangan manusia. Justru melawan itu semua adalah takdir sosial yang harus dilakukan oleh siapapun. Menghindarinya adalah melawan takdir, dan tidak dikehendaki oleh Tuhan. Tuhan mentakdirkan bahwa manusia bisa menjadi orang kaya, pintar, bahagia dan merdeka, dan Tuhan sangat menganjurkan hal itu, jika tidak ingin mengatakan mewajibkan.

Gempa dan Takdir

Pasca terjadinya gempa bumi di Jogjakarta dan sekitarnya, keprihatinan begitu mendalam dirasakan oleh seluruh bangsa Indonesia. Semua orang ikut berduka dan membicarakan musibah ini. Yang sangat disayangkan, sebagian tokoh agama terkesan asal bicara dalam mengomentari kasus gempa bumi ini. Sebagian mereka menganggap terjadinya gempa bumi adalah bentuk perbuatan aktif Tuhan terhadap alam raya. Gempa bumi dianggap sebagai cobaan, ujian, bahkan lebih mengerikan: azab dari Tuhan. Pertanyaannya: mengapa Tuhan begitu tega menghacurkan alam ini?

Pertayaan di atas akan melahirkan jawaban teologis yang membingungkan, jika harus dijawab dengan paradigma teosentris, di mana Tuhan dapat melakukan apapun yang Ia kehendaki, kemudian manusia mencari seribu satu alasan untuk tetap mensucikan-Nya. Yang terjadi kemudian adalah ketidakmampuan kita mengidentifikasi gejala alam secara rasional. Kebodohan menyebar dan kepuasan awam menjadi tujuan.

Gempa bumi sejatinya adalah gejala alam yang bisa jadi dipengaruhi oleh sikap manusia dalam merpergauli alam ini. Ketidakramahan kita terhadap lingkungan, tentu akan merusak ekosistem yang membuatnya berjalan di luar garis-garis kebaikan. Gempa bumi harus dipahami sebagai rusaknya tatanan ekosistem yang merupakan akibat dari ulah tangan manusia: penebangan hutan secara liar, perang, pengeboran bumi dan seterusnya. Mereka yang menguasai ekologi, geologi dan fisika, tentu harus diberikan tempat untuk menjelaskan semua ini, bukan mereka yang hanya pandai menyitir ayat-ayat. Fas `alû ahla az-zikr `in kuntum lâ ta’lamûn (Tanyakan kepada ahlinya jika kalian tidak mengerti)!

Gempa bumi bukan akibat dosa manusia dalam pengertian yang sangat normatif. Gempa bumi adalah akibat dosa kita dalam memperlakukan alam raya ini. Alam raya ini diciptakan dengan berbagai takdir (aturan) yang ditakdirkan untuk tidak boleh dilanggar. Pelanggaran terhadap takdir alam raya akan mengakibatkan kerusakan bagi semua. Oleh karenanya, tobat yang harus dilakukan adalah: berhenti memperlakukan alam dengan cara yang eksploitatif. Perlakukan alam ini sebagai sahabat, maka ia akan memberikan kehangatan bagi kita semua.


Read more! span.fullpost {display:none;}

Made in China

Made in China
(Penjajahan Budaya Melalui Perniagaan)
Oleh: MisSane


Siapa yang tak kenal China, negara ras putih-sipit yang merupakan ciri khas dari ras mongoloid ini merupakan negara penguasa dunia. Di negara manapun anda berada, pasti anda akan menjumpai Kampung China (China Town) atau yang biasa kita sebut Pecinan. Dengan nuansa merah menyala, pantas kiranya warna itu sesuai dengan semangat yang mereka miliki dalam meniti usaha.

Sebagian orang bilang; Pekerjaan adalah agama mereka. Sebuah keyakinan yang menjadi ruh dalam menjalankan rutinitas keseharian. Tak heran jika hampir seluruh waktu dan tenaga mereka hanya untuk satu kata ‘Bekerja’. Seruan Deng Xiaoping –Pembesar China– “Menjadi kaya itu mulia,” mengubah wajah Cina secara dramatis. Pada perayaan tahun baru, masyarakat China tidak lupa memberi salam Xin nian kuaile (Selamat tahun baru), dengan dilanjutkan kalimat do’a gong xi fa cai (Semoga tambah kaya). Hingga kini, banyak kita menemukan perantau-perantau China di sekeliling kita.

China mampu menjajah dunia melalui perniagaan.

Penguasaan dunia usaha oleh cukong-cukong ini juga telah menyelinap hingga ke pasar lokal. Adanya Kampung China atau Pecinan yang mampu membaur dengan berbagai suku dan ras bangsa di seluruh dunia ini perlahan memperkenalkan budaya China secara tidak langsung. Mulai dari Food hingga Fashion.

Bila kita berwisata ke mancanegara, tidak sulit bagi kita untuk mencari restauran China. Selera masakan China mampu mewakili citarasa lidah masyarakat seluruh dunia. Lumpia misalnya, Dim Sum (makanan pembuka atau snack) khas China ini telah banyak diterjemahkan ke seluruh penjuru lidah masyarakat dunia. Jajanan Lumpia dapat kita jumpai sebagai Spring Roll dalam menu restaurant internasional, lebih dekat lagi jika disepadankan dengan Risoles yang juga termasuk dalam daftar menu snack masakan Eropa.

Begitu juga Fashion. Sutera China merupakan kain mewah yang digandrungi para wanita. Model pakaian Shanghai pun tidak pernah kandas dari lirikan para designer busana, dari aneka ragam kancing baju, bentuk kerah leher hingga beragam jenis resleting cantik lainnya.

Tidak cukup itu saja. Factory China juga banyak memproduksi merchandise yang tak kalah beragamnya dibanding negara-negara lainnya. Meski tidak bertumpu pada industri berat, namun factory China secara kreatif mampu mencipatakan barang-barang produksi yang sepele dan kenyataannya justru banyak dibutuhkan dalam keseharian kita.

Pemimpin Besar Mao Zedong memprakarsai gerakan “lompatan Jauh ke Depan” pada tahun 1958 untuk memberi warna khusus bagi komunisme Cina. Berbeda dengan Soviet yang bertumpu pada industri berat, Mao menggalakkan pertanian yang ditunjang industri kecil di pedesaan. “Kalau Stalin hanya punya satu kaki, industri berat, kita punya dua kaki, yakni pertanian dan industri kecil,” ucap Mao.

Perniagaan orang-orang China sudah masyhur sejak dulu kala. Perantauan mereka melalui pelayaran tidak pernah membawa tangan kosong. Keramik dan sutera contohnya, merupakan barang-barang dagangan bangsa China pertama yang tak terlupakan hingga kini.

Disini saya akan mencoba bercerita tentang kenyataan budaya China yang ‘menjajah’ negara lainnya melalui perniagaan. Saya mengambil sampel Mesir sebagai contoh sesuai dengan pengalaman dan pengamatan saya pada lingkungan sekitar dimana saya tinggal. Saya hanya akan membaginya menjadi dua bagian, produksi China dan masa depan barang produksi China.

Produksi China

Biaya murah dengan mutu yang rendah adalah ‘trade mark’ yang harus dibayar mahal untuk pengusaha komiditi unggul di China.

Salah satu hobi saya adalah berbelanja. Hunting pernak-pernik cantik juga merchandise unik lainnya untuk menambah keindahan dekorasi ruangan tidak pernah terlewatkan saat saya berbelanja. Tapi yang menarik perhatian adalah saat mengetahui hampir semua barang yang ada dihadapan saya berlabel China.

Awalnya, saya sangat anti terhadap barang-barang buatan China. Terlebih saat semua mempunyai anggapan yang sama; Kwalitas barang produksi China tidak memberi jaminan. Pada umumnya, merchandise China sangat menarik penampilan luarnya, tapi saya sangat tau betul berapa lama garansi yang kita dapat. Sangat tidak sebanding dengan performance yang diproduksinya.

Masuknya komoditi produksi China yang membludak di pasaran seolah tak dapat terbendung.
China tidak hanya mampu ‘membajak’ barang-barang merk dunia, tapi juga ‘membajak’ produksi khas barang yang bernuansa etnik dalam suatu negara. Teman saya, misalnya. Ketertarikannya terhadap merchandise cantik dan unik menjelma menjadi candu dalam kekerapan jadwal belanja. Saat ingin mengirimkan oleh-oleh khas Mesir, dia -teman saya- membeli berbagai macam merchandise etnik Mesir, dari gantungan kunci, sandal, juga cangkir, kaos dan pakaian kebesaran Mesir. Ironisnya, setelah diteliti barang-barang itu semuanya berlabel China!

Tidak hanya itu. Membaurnya budaya China di Mesir atau secara tidak langsung bisa dikatakan sebagai ‘penjajahan’ budaya dalam bidang perniagaan sedikit demi sedikit bergerak pesat.

Ketika saya menyusuri pusat perbelanjaan Attaba di bulan Ramadhan. Saya banyak menjumpai lampu Venus. Budaya lampu Venus telah mengakar pada masyarakat Mesir. China secara kreatif mampu memproduksi lampu Venus yang sama persis dengan lampu Venus yang diproduksi oleh Mesir, bahkan memasukkan lampion-lampion khas China yang sengaja dipadukan sesuai dengan lampu Venus yang bertema Ramadhan.

Zaman yang menuntut kita untuk mengkonsumsi sesuatu yang serba instan tidak dapat terelakkan lagi. Mungkin fenomena ini merupakan salah satu hal yang mempengaruhi para produsen China; Memproduksi barang sebanyak-banyaknya dalam jangka waktu yang singkat, tanpa memperhatikan kwalitas dan mutu barang produksi tersebut. Dilain sisi, kerugian yang menimpa para produsen China pada umumnya adalah hilangnya kepercayaan para konsumen terhadap barang produksi China, baik konsumen dalam ataupun luar negeri.

Para pengamat mengatakan banyak perusahaan Cina, yang masih menyesuaikan diri dengan dorongan pemerintah untuk menumbuhkan ekonomi berorientasi pasar, belum sadar benar dengan kepentingan memiliki merk yang terkenal secara internasional.

Dennis Zhang, seorang peneliti di Beijing mengatakan bahwa Membangun merk seperti merk-merk ternama dunia itu memerlukan banyak sumber daya, seperti waktu, keahlian dan dana. Bahkan jika mereka memiliki sumber daya pun, mereka kemungkinnan tidak sabar untuk mengejar sukses dalam waktu lama. Kenyataan ini mampu memberi bukti bahwa seruan Deng Xiaoping “Menjadi kaya itu mulia,” telah mendarah daging.

Kenyataan pangsa pasar mampu membalikkan persepsi kita terhadap barang produksi China.
Setidaknya, China mampu memberi alternatif kepada konsumen. Meski banyak kita jumpai barang-barang ‘bajakan’ buatan China terhadap merk-merk ternama dunia, namun tidak sedikit barang produksi China lainnya yang memenuhi kebutuhan keseharian kita yang justru tidak diproduksi negara lainnya.

Kegeraman negara Eropa terhadap barang ‘bajakan’ China pernah sempat diekspresikan dengan pembakaran sejumlah komoditi merk ternama dunia terutama merk-merk ‘Made in Paris’ dan ‘Made in Italy.’ Ternyata ancaman ini tidak membuat kiyut nyali para produsen China. Rating barang produksi China tidak juga menyusut. Sebaliknya, disamping tetap menjaga angka produksi, China juga mengirim delegasi untuk memperbaiki hubungan ekonomi-perdagangan antar negara lainnya. Terlebih saat pertama diumumkan adanya perdagangan bebas,China membanjiri pasaran di seluruh dunia.

Masa Depan Barang Produksi China Seorang teman saya bertanya pada penjual lampu neon yang ternyata berlabel China; Hampir semua barang yang dijual di Mesir adalah produksi luar negeri, khususnya China. Lalu Mesir dapat memproduksi apa?

Begitu santai penjual itu menjawab; Kekayaan Mesir adalah Siyahah, untuk memproduksi barang yang bermutu lebih bagus dari China akan memerlukan waktu dan juga biaya yang mahal. Sedang kita membutuhkan barang instan yang mudah terjangkau dari segi finansial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa barang produksi China mempunyai mutu rendah tapi mampu memberi alternatif kepada konsumen. Sebaliknya, secara tidak sadar negara-negara yang dibanjiri komoditi China sangat permisif atas ‘penjajahan’ China melalui perniagaan. Semangat gigih yang dimiliki produsen China untuk terus memproduksi barang ‘instan’ berangsur pesat dan menandingi negara lain.

Saya bukanlah pakar ekonomi, politik, juga budaya. Perkiraan ke depan saya tentang China juga boleh jadi salah. Tapi dengan melihat sekitar, mendorong intuisi saya untuk mengatakan bahwa kegigihan China dalam meniti usaha mampu mengembalikan kredibilitas dalam bidang perniagaan yang sedang merambah naik dalam pasaran internasional. Tidak menjadi hal yang mustahil jika perlahan pengakuan barang produksi China mampu bersanding dengan barang produksi Jepang, negara-negara Eropa dan negara maju lainnya. Wallahu a’lamu bi showab.


Bawabah Taltah,
10 Oktober 2005
Untuk Ririn dan teman serumahnya;
Terimakasih atas pinjaman komputer dan segala servisnya.


Read more! span.fullpost {display:none;}

13 June 2006

Pornografi dan Bokep dalam Islam

Pornografi dan Bokep dalam Islam
fikar


Sesuai hasil kuesioner yang dilakukan Forum Kependudukan Kab. Bandung, dari 445 responden remaja, ternyata sebanyak 85% di antaranya pernah menonton film porno. dan hal serupa bisa saja terjadi di daerah lain apalagi saat ini, publik Indonesia terutama Jakarta dihebohkan oleh kehadiran sebuah majalah playboy dan film komedi remaja Buruan Cium Gue!. Dari judulnya saja, film ini telah mengundang kontroversi, antara yang pro dan kontra. MUI misalnya, telah melancarkan kritik cukup keras atas kemunculan film tersebut. KH Amidhan, Ketua MUI Pusat, menyatakan bahwa film ini berpotensi merusak moral dan budaya bangsa. Adegan ciuman panas, menurutnya, hanya dimungkinkan di dalam ruang kesendirian oleh pasangan legal suami-istri, bukan di ruang publik oleh lelaki-perempuan yang tidak memiliki hubungan legal. Kegelisahan dan keprihatinan yang sama juga dialami oleh KH Abdullah Gimnastiar, seorang dai yang kini sedang kondang. Menurut Aa Gym, film tersebut tak ubahnya sebuah pengantar yang mengarah pada tindak perzinaan. MUI, Aa Gym, dan beberapa elemen lain, akhirnya berujung pada tuntutan yang paralel agar peredaran film tersebut segera dihentikan.

Sementara di pihak lain terdapat kalangan yang pro sembari menolak pelbagai keberatan yang diajukan para ulama di atas. Mereka menilai karya itu bukanlah film porno. Tidak ada pornografi di sana. Tidak ada norma susila dan batas kesopanan yang dilanggar. Terlebih, tandas para pendukung ini, batas-batas moralitas itu tidak statis, melainkah bergerak secara dinamis mengikuti capaian peradaban umat manusia. Dan bukankah film itu tak lebih dari sebuah rekaman dari realitas pergaulan anak muda Jakarta masa kini. Secara lebih jauh, mereka juga berpendirian bahwa pelarangan terhadap film itu merupakan sebentuk pelanggaran dan penodaan terhadap kebebasan berekspresi dan berkesenian. Dan kebebasan berekspresi itu adalah hak asasi manusia yang dilindungi dan dijamin undang-undang.

Pro-kontra seperti ini memang tidak kunjung selesai. Tarik-menarik antara argumen agama-moralitas, kebebasan berekspresi-berkesenian terus berlangsung, tanpa ada titik temu. Di satu pihak ada kaum agamawan yang hendak mengontrol ruang publik secara ketat dan kadang-kadang juga kaku. Sementara di lain pihak, terdapat sekelompok masyarakat yang hendak melabuhkan kebebasan berekspresi dan berkesenian dalam ranah publik secara totalistis, tanpa hambatan. Gejala semacam ini banyak dihadapi oleh negara-negara yang tidak berlandaskan syariat islam meski mayoritas penduduknya beragama islam.

Sebagai bahan renungan dalam mencari penyelesaian, sebaiknya dikembalikan pada person masing-masing dalam menanggapi masalah yang ada tanpa harus menyalahkan islam atau menyalahkan negara dan pemerintah melalui instropeksi diri dalam merenungi bahaya yang ditimbulkan oleh Pornografi dan Bokep tersebut terhadap diri, keluarga dan orang lain yang menyebabkan timbulnya konflik sosial serta ancaman bagi masyarakat. Pernahkah anda rasakan bagaimana hancurnya hati seandainya adik atau kakak atau saudara anda diperkosa?sudah pasti pusat peredaran darah di jantung anda akan berpindah ke kepala yang membuat anda kalap dan sangat gelap mata. Olehnya itu perlu kiranya direnungi.

Islam bukanlah agama yang kolot dan tabu akan sex, bahkan islam itu sendiri menganjurkan ummatnya dalam mempelajari sex bagi yang telah menikah agar tau bagaimana menempatkan sex pada tempatnya dan melakukannya dengan safety, bukan seperti halnya binatang. Makanya islam menganjurkan Nikah yang berarti meletakkan sesuatu pada tempatnya agar terhindar dari segala macam bentuk penyakit yang akan membahayakan diri dan masyarakat baik itu penyakit lahir maupun batin. Hal ini terbukti dengan banyaknya wanita-wanita pada zaman Nabi yang bertanya tentang sex baik langsung kepada Nabi maupun melalui perantara Aisyah ra yang menunjukkan pentingnya mempelajari dan mengetahui sex dalam menjalankan agama karena melaksanakan hubungan sex dengan baik merupakan ibadah.

Yang menjadi permasalahan besar adalah anak muda yang belum pantas mengetahui tentang sex malah mempelajarinya atau dengan tidak sengaja membaca, melihat (baik dari pergaulan sex orang di sekeliling maupun dari majalah) dan menontonnya, secara phisik pengaruh dari apa yang dilihat dan ditonton akan berbekas di otak dan dimasukkan ke dalam hati sehingga timbullah banyak hayalan, akibat dari banyaknya hayalan yang ada di otak tersebut dimanfaatkanlah oleh setan dalam merayu dan menggoda sehingga terjerumus dalam berbuat dosa dan kesalahan yang sangat berdampak negatif terhadap masyarakat, jika hal itu terjadi, negara komunis pun pasti akan melarangnya. Kadang orang akan berkata'"itu kan tergantung pribadi masing-masing dalam mengontrol tindakannya", namun semua itu dikembalikan kepada iman masing-masing dan hal itu pun terbantah oleh sebuah wasiat yang pernah dilontarkan oleh Sayidina Ali ra kepada para sahabat dan anak-anaknya padahal sudah tidak diragukan keimanan mereka dengan perkataan:Ïnna kasrata An Nadzri ilal bathili tuzhibu bima'rifati Al haqq minal Qalb", banyak melihat hal hal yang bathil akan menghilangkan kebenaran di dalam diri yang membuat manusia akan bertindak melebihi binatang. Dari sini para ulama sepakat tentang pengharaman menonton film porno atau bokep.

Syeikh Ali Jumáh (Mufti Mesir) pernah ditanya tentang bagaimana hukumnya menjual pakaian dalam wanita yang di pamer di depan kaca toko, beliau menjawab kamu aja yang fikirannya kotor, ngapain harus protes orang yang lagi berdagang, menunjukan jauhnya fikiran manusia dengan segala hayalannya. Dalam bukunya Al Bayan Lima Yusygil Al Azhan, beliau membolehkan menjual barang tersebut dengan alasan bahwa hukum barang tersebut bukan pada barangnya melainkan pada penggunaannya, jika digunakan untuk hal yang tidak terlarang maka hukumnya boleh atau dengan kata lain konsumenlah yang bertanggung jawab atas pemakaian barang tersebut, seorang istri jika menggunakan pakaian sexy buat suaminya tidaklah berdosa namun jika dipakai agar dilihat oleh orang maka hukumnya haram. Tapi hal ini tidak dapat dikiaskan kepada pornografi baik majalah dan film karena pada dasarnya hukumnya adalah haram sehingga hukumnya berada pada zat barang tersebut bukan pada konsumen.

Sebagai seorang muslim haruslah merenungi mudharat yang ditimbulkan oleh pornografi dan bokep tanamkan dalam diri akan musibah besar yang akan menimpa anak cucu agar semakin kuat iman dan niat untuk menghindarinya.




Read more! span.fullpost {display:none;}

12 June 2006

Benarkah Islam Mendzalimi Wanita dalam Warisan

Benarkah Islam Mendzalimi Wanita dalam Warisan
vikar

Dalam firman Allah SWT dikatakan:”Li Az Zakari misl hadz al Untsyain”. Bagian pria dalam warisan sama dengan dua orang wanita, sehingga wajarlah bila timbul asumsi yang negatif tentang ketidak adilan dalam hal pembagian warisan atau hukum waris islam itu mendzalimi wanita dalam hak-haknya dimana seorang wanita hanya mendapatkan setengah dari bagian pria. Sebagai seorang muslim hendaklah berhusnu Dzan kepada dan meyakini bahwa semua itu adalah keadilan-Nya yang mutlak terhadap hamba-hambanya baik itu pria maupun wanita, karena Allah SWT tidak akan pernah mendzalimi hamba-Nya, sebagaimana telah banyak diterangkan dalam AL Quran, antara lain:”Wala yadzlimu rabbuka ahada”, dan “Wa annallaha laysa bidzallamin lil’ibaad”, “Wala yudzlamuna naqira”, dan masih banyak ayat lagi yang menunjukkan kasih sayang Allah kepada hambanya yang tidak akan pernah mendzalimi hamba-hamba-Nya.

Adapun perbedaan mendapatkan bagian dalam pewarisan islam bukanlah didasari oleh perbedaan jenis kelamin, melainkan adanya perbedaan bagian tersebut berdasarkan tiga kategori, yaitu:

Pertama: Derajat dekatnya kekerabatan antara pewaris dan yang diwarisi baik laki-laki maupun perempuan, semakin dekat hubungan kekerabatan maka semakin bertmabah bagian yang akan di dapatnya dan sebaliknya jika hubungan kekerabatan itu jauh maka akan mengakibatkan berkurangnya bagiannya dalam warisan tanpa melihat jenis kelamin ahli waris, karena faktanya mengatakan bahawa seorang wanita akan mewarisi setengah dari peninggalan ibunya sedangkan bapaknya hanya memperoleh 1/4 seperempat dari warisan tersebut padahal bapaknya adalah pria, hal itu karena anak perempuan lebih dekat hubungan kekerabatannya dengan ibunya bila dibandingkan ayahnya sehingga bagian yang didapatnya melebihi dari bagian ayahnya.

Kedua: Status generasi ahli waris. Generasi adalah penerus dari keturunan yang akan menjalani hidup di masa yang akan datang dan mempersiapkan diri dalam menanggung segala beban hidupnya maka kadang ia akan mendapatkan bagian lebih banyak dibandingkan generasi yang lama (tua), bahkan kadang beban tersebut akan menjadikannya menjadi prioritas dalam mendapatkan banyak bagian dalam waris, dengan melihat jenis terhadap pewaris baik laki-laki maupun perempuan, sehingga anak perempuan akan mendapatkan bagian yang lebih banyak dari ibunya (jika pewaris adalah sang ayah), dan anak perempuan akan mendapatkan lebih banyak bagian dari ayahnya begitupun dalam kondisi adanya saudara laki-lakinya.

Ketiga: Beban materi, kategori inilah yang mengakibatkan perbedaan mendapatkan bagian antara pria dan wanita, namun perbedaan ini bukanlah mendzalimi wanita atau mengurangi bagiannya melainkan sebaliknya yaitu menghormatinya. Dalam suatu kondisi dimana adanya persamaan antara pria dan wanita dalam kategori yang pertama dan kedua maka beban materi ini akan menjadi sebab perbedaan pendapatan antara pria dan wanita, karena AL Quran tidak menjelaskan secara terperinci melainkan menghkususkannya pada situasi dan kategori yang ketiga ini, dan hikmah dibalik adanya perbedaan tersebut adalah karena pria adalah orang yang akan terbebani dalam menafkahkan wanita (istrinya) dan anak-anak mereka sedangkan wanita tidak dibebani
dalam hal penafkahan pria. Dan masih banyak lagi hikmah-hikmah yang terkandung dibalik perbedaan pembagian tersebut, antara lain:

1. Lelaki mempunyai beban materi dari awal permulaan hidup rumah tangganya dengan membayar mahar kepada istrinya, sebagaimana firman Allah:”Wa atuw An Nisaa Shaduqatihinna nihlatan”. berbeda dengan wanita yang tidak dibebani dalam membayar mahar dan dalam hal penafkahan.

2. Setelah pernikahan, lelaki terbebani dalam hal penafkahan terhadap wanita meskipun sang wanita mempunya banyak harta, karena islam sangat melebihkan wanita dan menjaga harta serta hak-haknya.

3. Lelaki pun dibebani dalam hal penafkahan terhadap keluarganya (kerabatnya) dan selainnya yang harus dan pantas mendapatkan nafkah baik dalam family itu sendiri maupun kesosialan.

Dalam kondisi tertentu, islam memberikan kepada wanita setengah dari bagian pria dimana ia tidak berkewajiban menafkahkannya kecuali membayar zakatnya, sedangkan pria, Allah memberikannya bagian yang lebih dan memintanya untuk menafkahkan harta tersebut kepada istri dan anak, kedua orang tuanya terlebih kalau telah tua renta dan orang yang patut diberikan nafkah, apalagi di zaman modern seperti sekarang ini dimana pria dituntut dengan banyak tuntutan, misalnya membayar pembantu, listrik, telpon dan sebagainya.

Pada saat masalah beban materi itu berbeda, misalnya dalam masalah pewarisan saudara laki-laki dan perempuannya ibu, kita akan mendapatkan hukum dalam syar’i yang menyamakan bagian antara pria dan wanita dalam pewarisan, sebagaimana firman Allah SWT:”Wa in kana rajulun yurasu kalalatan aw imraatun walahu akhun aw ukhtun falikulli wahidin minhuma as sudus fain kanu aktsara min zalika fahum syurakaa fi atsuluts”. Dan jika seorang lalaki atau perempuan mati dalam keadaan kalalah (tidak mempunyai anak dan tidak meninggalkan ayah), tetapi mempunyai saudara lelaki (seibu) atau seorang saudara perempuan (seibu) maka bagi masing-masing kedua saudara itu seperenam, dan jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. dalam ayat ini adanya persamaan antara pria dan wanita, karena asal dari pewarisan mereka di sini adalah hubungan rahim dan tidak adanya beban materi sehingga tidak adanya kelebihan bagian lelaki dibanding wanita.

Adanya ketetapan terhadap kondisi dan masalah-masalah dalam pewarisan, sebagian ulama dan para bahitsin telah menyingkap berbagai kebenaran yang sangat memukau terhadap banyak orang, dimana nampak sebagai berikut:

Pertama: Kondisi dimana seorang wanita mendapatkan setengah dari bagian lelaki.
1. anak perempuan dan saudaranya laki-laki, dan anak perempuan dari anak laki-laki anak lelaki dari anak laki-laki.
2. Bapak dan ibu dan tidak adanya anak atau suami dan istri.
3. Saudara perempuan sekandung dan saudaranya yang laki-laki
4. Saudara perempuan ayah dan saudara-saudaranya lelaki

Kedua: Kondisi dimana seorang perempuan mewarisi sama dengan bagian lelaki.
1. Ayah dan ibu pada saat adanya anak lelaki dari anak laki-laki
2. saudara ibu laki-laki dan perempuan
3. Anak perempuan dan paman karena dekat ke bapak (bila tidak ada hajib)
4. Bapak dan ibunya ibu dan anak lelaki dari anak laki-laki
5. Suami dan saudara perempuan ibu

Ketiga: Kondisi di mana seorang perempuan mewarisi lebih banyak dari lelaki
1. Suami dan seorang anak perempuannya
2. Suami dan dua orang anak perempuannya
3. anak perempuan dan paman-pamannya

Keempat; Kondisi dimana seorang wanita mendapatkan warisan tanpa lelaki
1. Seorang wanita mati meninggalkan suami, bapak, ibu, anak perempuan, anak perempuan dari anak laki-laki, dimana meninggalkan harta kira-kira misalnya 195, maka anak perempuan dari anak laki-laki akan mendapatkan seperenam, dalam kondisi lain kalau wanita itu meninggalkan anak lelaki dari anak laki-laki sebagai ganti dari anak perempuan dari anak laki-laki maka ia tidak akan mendapatkan apa apa.
2. Jika seorang wanita mati emninggalkan suami, saudara kandung perempuan, saudara perempuan dari ayah, maka bagi saudara perempuan dari ayah akan mewarisi seperenam adapun jika posisi saudara perempuan dari ayah diganti dengan saudara lelaki dari ayah maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa.
3. Jika seorang meninggal meninggalkan ayahnya ibu dan ibunya ibu maka dalam kondisi ini ibu dari ibulah yang mewarisi semuanya sedangkan ayahnya ibu tidak mendapatkan apa-apa.

Sekian banyak kondisi diatas telah membuktikan dimana seorang perempuan mendapatkan bagian sama dengan bagian lelaki atau lebih dari lelaki atau ia seorang yang mewarisi. Kesemuanya itu menunjukkan bahwa islam tidak mendzalimi wanita dalam pembagian warisan dan Allah SWT tidak akan pernah mendzalimi hambanya.


Read more! span.fullpost {display:none;}

11 June 2006

Jawaban atas puisi Aman



Andai Tak malu

Aman
30 October 2004

Andai tak malu
Kan deras derai air mata
Kan kukunjungi persemayamanmu
Duhai kau yang telah pergi
Ku tatap sejenak terakhir kali
Tubuh sayu terbaring lesu
di samping tanah galian
yang terbuka luas dan dalam

kau tinggalkan diriku
Kau ciptakan bingung dan sedih di hati
Saat rambutku telah memutih
dan tulang yang lemah tersisa
ditemanin anak-anak kecil
masih berselendang azimat

Tak lagi ada semangat
habis waktu malamku
mengawasi bintang-bintang yang terang
lalu pudar bersama dirimu

Kau bagai permata di jiwaku
rebutan setiap orang tempo itu
dan kini terlihat di sana
Hanya tumpukan tanah dan batu

Cairo, 1997


Andai Tak malu

vikar

Andai Tak malu
Kan terkepak sayapku
Terbang bersama sangkar
Hinggap tak berpijak
Dimana kakiku beranjak
Lupa akan diriku
Bersayap tak bisa terbang
Berkata tak ada ketenangan
Hasrat tersumbat dosa
Luapan kicauan merpati
berirama tanpa arti

Andai tak malu
Kan deras air mata mengalir
Basahi hati bagaikan gincu
Kan kering tenggorokan terngiang
Tanapa ada balasan iba
Dimanakah aku saat Kau memanggil
Dimanakah Kau saat ku menangis
Semua terasa percuma
Air mata bukanlah azimat
Yang kau tawarkan hanyalah irisan
Pahit getir adalah kodrat
Aku lemah saat Kau kuat
Saat ku kuat……
Kau pun mencoba melemahkanku
Dimanakah airmataku
Yang menangis curahkan kristal
Kering bersama unek di dada
huuhhhh….desahan penuh arti
Hanya Kaulah yang tau

Andai tak malu
Kan ku caci maki diri-MU
Namun kusadar….
Aku makhluk pemula dan pemalu
Kini kudatang tanpa berandai
Bugil tanpa malu dihadap MU
Terbang mendekap sayap MU
Menangis hanya dipangkuan MU
Kutau kicinta padaMU
Dan Kau pun cinta padaku
Terimalah aku
Dan maafMU mahkotaku

Vikar


Read more! span.fullpost {display:none;}

07 June 2006

Biografi Singkat Para Tokoh Islam

Biografi Singkat Para Tokoh Islam

koleksi fikar



أَبُو الأَسوَدِ الدُّؤَلِيُّ (605-688 م)‏
‏مِن التَّابِعِينَ، وَلِيَ إِمَارَةَ البَصرَةِ فِي عَهدِ عَلِيِّ بنِ أَبِي طَالِب وَكَانَ شَاعِرًا وَنَحوِيًّا عَرَبِيًّا، يُعتَبَرُ وَاضِعَ عِلمِ النَّحوِ العَرَبِيِّ وَقَوَاعِدِهِ، كَانَ مَعدُودًا مِن الفُقَهَاءِ وَكَانَ خَطِيبًا عَالِمًا.‏

Abu al-Aswad ad-Du’ali (605-688 Masehi) : Salah seorang Tabi’in. Beliau pernah dilantik menjadi gabenur Basrah pada zaman pemerintahan Saidina Ali bin Abi Talib. Beliau adalah seorang penyair terkenal dan pakar bahasa Arab, dianggap salah seorang pengasas ilmu nahu dan qawaid (kaedah) bahasa Arab. Beliau juga merupakan ahli fiqh, khatib serta alim.

‏أَبُو الحَسَنِ الأَشعَرِيُّ (تُوُفِّيَ 936 م)‏
‏مِن أَئِمَّةِ المُتَكَلِّمِينَ، وَازَنَ بَينَ أَدِلَّةِ الفُقَهَاءِ وَآرَاءِ المُعتَزِلَةِ، يُنسَبُ إِلَيهِ مَذهَبُ الأَشَاعِرَةِ، أَلَّفَ حَوَالِي تِسعَةِ كُتُبٍ، مِن مُؤَلَّفَاتِهِ “الإِبَانَةُ عَن أُصُولِ الدِّيَانَةِ. “‏

Abu al-Hasan al-Asy’ariy (Meninggal dunia pada tahun 963 Masehi) : Di antara imam dalam ilmu usuluddin, beliau telah membuat perbandingan di antara dalil-dalil (pendapat) ahli fiqh dan mu’tazilah. Pengasas mazhab al-Asyaa’irah, beliau telah mengarang 9 buah kitab dan di antara karangan beliau ialah: “Al-Ibanah An Usul Ad-Diyaanah” (Penjelasan terhadap dasar2 agama)


‏أَبُو الحَسَنِ المَسعُودِيُّ (تُوُفِّيَ 957 م)‏
‏مُؤَرِّخٌ وَجُغرَافِيٌّ وَرَحَّالَةٌ بَغدَادِيٌّ، رَحَلَ إِلَى بِلَادٍ كَثِيرَةٍ ثُمَّ اِستَقَرَّ فِي مِصرَ حَتَّى وَفَاتِهِ، أَلَّفَ أَكثَرَ مِن عَشرِ كُتُبٍ تُنَاقِشُ تَارِيخَ الأُمَمِ. كُتُبُهُ عَلَى قَدرٍ كَبِيرٍ مِن الأَهَمِّيَّةِ.‏

Abu al-Hasan al-Mas’udi (meninggal dunia tahun 957 Masehi) : Pengkaji sejarah, geografi dan penjelajah dari Baghdad. Beliau telah menjelajah ke beberapa buah negeri sebelum menetap di Mesir sehingga meninggal dunia di sana. Beliau juga telah mengarang lebih dari 10 buah buku mengenai sejarah berbagai bangsa. Buku-buku beliau banyak memberikan banyak manfaat.

‏أَبُو الرَّيحَانِ البَيرُونِيُّ (973-1048 م)‏
‏مُؤَرِّخٌ وَرِيَاضِيٌّ وَعَالِمُ فَلَكٍ عَرَبِيٌّ وَجُغرَافِيٌّ وَطَبِيبٌ وَصَيدَلِيٌّ، مِن أَعظَمِ عُلَمَاءِ الإِسلَامِ، وَقَد وُصِفَ بِأَنَّهُ أَعظَمُ عَقلِيَّةٍ عَرَفَهَا التَّارِيخُ، وَهُوَ أَوَّلُ مِن قَالَ إِنَّ الأَرضَ تَدُورُ حَولَ مِحوَرِهَا، صَنَّفَ كُتُبًا تَربُو عَن المِائَةِ وَالعِشرِينَ.‏

Abu ar-Raihan al-Bairuni (973-1048 Masehi) : Seorang pakar sejarah, matematik, astronomi, geografi, kedoktoran dan farmasi bangsa Arab. Salah seorang alim ulama Islam yang terkenal. Mengikut sejarah, beliau merupakan seorang ahli sains terkenal dan orang pertama yang menyatakan bahawa bumi beredar mengelilingi poros. Beliau telah mengarang lebih dari 120 buah buku.

‏أَبُو الطَّيِّبِ المُتَنَبِّي ( 915-965 م)‏
‏مِن كِبَارِ شُعَرَاءِ العَرَبِ، إِمَامُ الطَّرِيقَةِ الإِبدَاعِيَّةِ فِي الشِّعرِ العَرَبِيِّ، اِشتَهَرَ بِقَصَائِدِ المَدِيحِ وَالحِكمَةِ وَحُبِّهِ لِلمُغَامَرَةِ، يَعُدُّهُ العَرَبُ أَشعَرَ الإِسلَامِيِّينَ.‏

Abu at-Tayyib al-Mutanabbi (915-965 Masehi) : Beliau di antara penyair Arab yang terkenal, seorang pakar terhadap kaedah mencipta syair Arab. Beliau sangat terkenal dengan qasidah, kata-kata hikmat dan kecintaan terhadap pengembaraan. Orang-orang Arab menganggap beliau sebagai “Penyair Islam yang terkenal”.

‏أَبُو العَتَاهِيَةِ ( 748-825 م)‏
‏شَاعِرٌ مُسلِمٌ، اِعتَزَلَ الغَزَلَ وَالمَدحَ وَاتَّجَهَ إِلَى الزُّهدِ، كَانَ لَهُ مَكَانَةٌ عَالِيَةٌ عِندَ هَارُونَ الرَّشِيدِ.‏
Abu al-Atahiah (748-825 Masehi) : Seorang penyair Islam, Syair berbentuk asmara dan puji-pujian ditinggalkan dan menitikberatkan kepada kezuhudan. Belaiu mendapat sanjungan yang tinggi di sisi Khalifah Harun ar-Rasyid.

‏أَبُو العَلَاءِ المَعَرِّي ( 973-1057 م)‏
‏شَاعِرٌ وَفَيلَسُوفٌ مُسلِمٌ، كَانَ عَالِمًا بِالأَديَانِ وَالمَذَاهِبِ وَفِي عَقَائِدِ الفِرَقِ وَكَانَ آيَةً فِي مَعرِفَةِ التَّارِيخِ وَالأَخبَارِ، عَاشَ زَاهِدًا، دَعَا نَفسَهُ “رَهِينَ المَحبَسَينِ”، صَنَّفَ أَكثَرَ مِن سَبعِينَ كِتَابًا وَالعَدِيدَ مِن الدَّوَاوِينَ الشِّعرِيَّةِ، تُرجِمَت كُتُبُهُ إِلَى لُغَاتٍ كَثِيرَةٍ.‏

Abu al-Ala’ Al-Ma’arri (973-1057 Masehi) : Seorang penyair dan ahli falsafah Islam. Alim dalam bidang agama, mazhab-mazhab dan pegangan setiap kumpulan agama. Seorang yang sangat mahir dalam bidang sejarah. Hidup di dalam kezuhudan dan menggelarkan dirinya sebagai “Tawanan di dalam dua penjara”. Beliau telah mengarang lebih dari 70 buah buku dan beberapa buah antologi (diwan) syair. Buku-buku beliau telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

‏أَبُو الفَرَجِ الأَصفَهَانِيِّ ( 897-967 م)‏
‏مِن أَئِمَّةِ الأَدَبِ وَالتَّارِيخِ وَاللُّغَةِ، أَلَّفَ العَدِيدَ مِن الكُتُبِ مِن أَهَمِّهَا كِتَابُ “الأَغَانِي”، دَوَّنَ فِيهِ التَّارِيخَ بِأُسلُوبٍ دَقِيقٍ.‏

Abu al-Faraj al-Asbahani (897-967 Masehi) : Di antara pakar-pakar terkemuka di dalam bidang sastra, sejarah dan bahasa. Beliau telah mengarang beberapa buah kitab dan yang paling terkenal di antaranya ialah “Al-Aghani” [Lagu-lagu] yang mana beliau mencatatkan tentang sejarah secara saintifik dan terperinci.

‏أَبُو القَاسِمِ الزَّهرَاوِيُّ (1030-1106 م)‏
‏أَكبَرُ الجَرَّاحِينَ العَرَبِ فِي زَمَانِهِ، أَوَّلُ مَن أَلَّفَ فِي الجِرَاحَةِ عِندَ العَرَبِ كَكِتَابِ “التَّصرِيفِ لِمَن عَجَزَ عَن التَّألِيفِ”، اِستَحدَثَ آلَاتٍ جِرَاحِيَّةً كَثِيرَةً، شَمَلَ نُبُوغُ الزَّهرَاوِيِّ كُلَّ فُرُوعِ الطِّبِّ وَالصِّنَاعَاتِ المُلحَقَةِ بِهِ، تُرجِمَت كُتُبُهُ إِلَى اللَّاتِينِيَّةِ وَالعِبرِيَّةِ وَالفَرَنسِيَّةِ وَالإِيطَالِيَّةِ.‏

Abu al-Qasim az-Zahrawi (1030-1106 Masehi) : Di antara pakar-pakar bedah yang paling mahir di negeri-negeri Arab pada zaman beliau. Orang pertama yang mengarang berkenaan dengan pembedahan di kalangan bangsa Arab seperti, “At-Tasrif Liman Ajaz An At-Ta’lif”. Beliau telah mencipta banyak alat-alat pembedahan yang baru. Kelebihan az-Zahrawi merangkumi setiap bentuk ilmu perobatan serta peralatan-peralatannya. Buku-buku beliau telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Ibrani, Perancis dan Itali.

‏أَبُو الوَفَاءِ البُوزَجَانِيُّ (940-998 م)‏
‏مُهَندِسٌ فَلَكِيٌّ، أَعظَمُ رِيَاضِيِّي العَرَبِ قَاطِبَةً، أَحَدُ المُتَرجِمِينَ العِظَامِ مِن اليُونَانِيَّةِ، أَلَّفَ حَوَالَي خَمسَةِ كُتُبٍ، مِن آثَارِهِ “الهَندَسَةُ. “‏

Abu al-Wafa’ al-Buzjani (940-998 Masehi) : Seorang ahli astronomi dan ahli matematik Arab paling terkemuka yang pernah ada. Beliau merupakan salah seorang penterjemah yang mahir dari Yunani (Greece). Beliau telah mengarang kira-kira 5 buah buku dan yang terkenal di antaranya ialah, “Al-Handasah” [geometri].

‏أَبُو بَكرٍ البَيطَارِ (تُوُفِّيَ 1340 م)‏
‏طَبِيبٌ بَيطَرِيٌّ، كَانَ مُدَبِّرًا لِخَيلِ النَّاصِرِ بنِ قَلَاوُونَ، كَانَ عَالِمًا بِأَمرَاضِ الخَيلِ، وَأَودَعَ تَجَارِبَهُ فِي كِتَابِ “كَاشِفِ الوَيلِ فِي مَعرِفَةِ أَمرَاضِ الخَيلِ. “‏

Abu Bakar al-Baitar (meninggal dunia pada tahun 1340 Masehi) : Seorang doktor veterinar (haiwan) dan penjaga kuda milik an-Nasir bin Qalawun, mahir mengenai penyakit-penyakit pada kuda. Beliau telah mencurahkan hasil penyelidikannya di dalam buku, “Kasyifu Al-Waili fi Ma’rifati Amradhi Al-Khaili” (Kajian menyeluruh untuk mengetahui tentang penyakit-penyakit kuda).

‏أَبُو بَكرٍ البَيهَقِيُّ (تُوُفِّيَ 1066 م)‏
‏فَقِيهٌ شَافِعِيٌّ, لَهُ فَضلٌ كَبِيرٌ عَلَى المَذهَبِ الشَّافِعِيِّ لِكَثرَةِ تَصَانِيفِهِ, يُعتَبَرُ مِن كِبَارِ عُلَمَاءِ الحَدِيثِ, صَنَّفَ أَكثَرَ مِن عَشرِ كُتُبٍ, مِن أَهَمِّ تَصَانِيفِهِ “السُّنَنُ الكُبرَى. “‏

Abu Bakar al-Baihaqi (meninggal dunia pada tahun 1066 Masehi) : Seorang yang faqih dalam mazhab Syafie. Beliau mempunyai kelebihan dalam mazhab Syafie kerana buku-buku karangannya banyak membincangkan kaedah mazhab tersebut. Beliau juga dianggap sebagai ulama besar hadis dan telah mengarang lebih dari 10 buah buku. Di antara yang paling terkenal ialah, “As-Sunan al-Kubra”.

‏أَبُو بَكر الرَّازِي (864-923 م)‏
‏مِن أَعظَمِ أَطِبَّاءِ الإِسلَامِ وَفَلَاسِفَتِهِم، بَرَعَ فِي الكِيميَاءِ وَالمُوسِيقَى وَنَظمِ الشِّعرِ وَالفَلَكِ، تَصَانِيفُهُ كَثِيرَةٌ أَنَافَت عَن المِائَتَي كِتَابٍ نِصفُهَا فِي الطِّبِّ، مِن أَشهَرِ كُتُبِهِ “الحَاوِي” وَرِسَالَةُ “الجُدَرِي وَالحَصبَةِ. “‏

Abu Bakar Ar-Razi (864-923 Masehi) : Tergolong di antara doktor-doktor dan ahli-ahli falsafah Islam yang terkemuka. Beliau sangat mahir di dalam bidang ilmu kimia, musik, mengarang syair dan astronomi. Beliau juga telah mengarang lebih dari 200 buah buku dan sebahagian darinya berkenaan dengan kedoktoran. Di antara buku-buku yang termasyhur ialah, “Al-Hawi” dan risalah “Al-Judari wa Al-Hasbah” (penyakit cacar dan campak).

‏أَبُو بَكرٍ الكَرخِيُّ (تُوُفِّيَ 1020 م)‏
‏عَالِمٌ رِيَاضِيٌّ مُسلِمٌ، مِن أَهلِ بَغدَادَ، لَهُ مُصَنَّفَاتٌ عَدِيدَةٌ فِي الجَبرِ وَالحِسَابِ، مِن أَهَمِّهَا كِتَابُ الكَافِي فِي الحِسَابِ.‏

Abu Bakar al-Karkhi (meninggal dunia pada tahun 1020 Masehi) : Ahli matematik Islam, tinggal di Baghdad. Kebanyakan karangan-karangan beliau adalah dalam bidang aljabar dan aritmetik. Di antara yang terkenal ialah, “Al-Kafi” [memadai] dalam bidang aritmetik.

‏أَبُو تَمَّامٍ (788-845 م)‏
‏شَاعِرٌ عَرَبِيٌّ مِن الدَّولَةِ العَبَّاسِيَّةِ، بَلَغَ مِن الشِّعرِ مَبلَغًا لَم يُزَاحِمهُ فِيهِ أَحَدٌ، اِمتَازَ بِخَيَالِهِ الوَاسِعِ، ضَمَّنَ شِعرَهُ الكَثِيرَ مِن الحِكَمِ وَالأَمثَالِ، لَهُ عِدَّةُ دَوَاوِينَ مِن أَشهَرِهَا تِلكَ الَّتِي أَنشَدَهَا بَعدَ اِنتِصَارِ المُعتَصِمِ فِي وَقعَةِ “عَمُورِيَّة. “‏

Abu Tammam (788 - 845 Masehi) : Penyair Arab di zaman Abbasiah. Syair beliau mencapai tahap kecemerlangan paling tinggi dan tidak dapat ditandingi, mempunyai kelebihan melalui khayalan beliau yang meluas. Syair-syair beliau banyak mengandungi kata-kata hikmat dan perumpamaan. Beliau mempunyai beberapa buah dewan (antologi) syair dan di antara yang termasyhurnya ialah yang dialunkan setelah kemenangan Khalifah al-Muktasim di dalam peperangan Amuriah.

‏أَبُو جَعفَرٍ الخَازِنُ (تُوُفِّيَ 1010 م)‏
‏مِن كِبَارِ الفَلَكِيِّينَ فِي الإِسلَامِ عَالِمٌ بِالرِّيَاضِيَّاتِ وَالهَندَسَةِ أَلَّفَ أَكثَرَ مِن أَربَعِ كُتُبٍ مِن أَهَمِّهِم “المَسَائِلُ العَدَدِيَّةُ. “‏

Abu Jaafar al-Khazin (meninggal dunia pada tahun 1010 Masehi) : Salah seorang ahli astronomi Islam yang terkemuka. Beliau sangat alim di dalam matematik dan geometri (kajiukur). Beliau juga telah mengarang lebih dari empat buah buku dan di antara yang terpenting ialah “Al-Masa’il Al-Adadiah”.

‏أَبُو جَعفَرٍ الطُّوسِيُّ (995-1067 م)‏
‏مُفَسِّرٌ وَفَقِيهٌ شِيعِيٌّ مُؤَسِّسُ جَامِعَةِ النَّجَفِ تَعَرَّضَت كُتُبُهُ لِلتَّلَفِ عِدَّةَ مَرَّاتٍ مِن أَشهَرِ تَصَانِيفِهِ “البَيَانُ الجَامِعُ لِعُلُومِ القُرآنِ” وَ”الحَدِيثُ عِندَ الشِّيعَةِ. “‏

Abu Jaafar at-Tusi (995-1067 M) : Pentafsir dan ahli fiqh golongan Syiah, pengasas universiti An-Najaf. Buku-buku beliau hampir musnah beberapa kali dan di antara karangan beliau yang termasyhur ialah, “Al-Bayan Al-Jami’ Li Ulum Al-Quran” [uraian menyeluruh terhadap ulum al-Quran] dan “Al-Hadis Inda Asy-Syiah” [hadis di sisi Syiah].

‏أَبُو حَامِد الغَزَالِيُّ (تُوُفِّيَ 1111 م)‏
‏فَيلَسُوفٌ وَعَالِمٌ مُسلِمٌ، لُقِّبَ بِ “حُجَّةِ الإِسلَامِ”، لَهُ أَكثَرُ مِن أَربَعَةَ عَشَرَ مُؤَلَّفًا، مِن أَشهَرِ كُتُبِهِ “إِحيَاءُ عُلُومِ الدِّينِ. “‏

Abu Hamid Al-Ghazali (meninggal dunia pada tahun 1111 Masehi) : Ahli falsafah dan ulama Islam, digelarkan dengan “Hujjatul Islam” [Pakar dalam Islam]. Beliau mempunyai lebih dari empat belas buah karangan dan di antara buku-buku beliau ialah “Ihya’ Ulum Ad-Din”.

‏أَبُو حَنِيفَةَ الدِّينَوَرِيُّ (تُوُفِّيَ 895 م)‏
‏مُهَندِسٌ وَمُؤَرِّخٌ وَفَيلَسُوفٌ وَعَالِمُ نَبَاتٍ عَرَبِيٌّ، قَالَ عَنهُ أَبُو حَيَّان التَّوحِيدِيُّ أَنَّهُ جَمَعَ بَينَ حِكمَةِ الفَلَاسِفَةِ وَبَيَانِ العَرَبِ. وَلَهُ فِي كُلِّ فَنٍّ سَاقٌ وَقَدَمٌ وَرِوَاءُ وَحِكَمٌ. صَنَّفَ مَا يَربُو عَن العَشرِ كُتُبٍ.‏

Abu Hanifah ad-Dainawari (meninggal dunia pada tahun 895 Masehi) : Jurutera, ahli sejarah, ahli falsafah dan saintis dalam bidang tumbuhan, berbangsa Arab. Abu Hayyan at-Tauhidi berkata: Beliau telah mengumpulkan di antara kata-kata hikmat ahli falsafah dan kefasihan bahasa Arab. Beliau memiliki kemahiran dalam segala bidang ilmu. Beliau juga telah mengarang lebih dari sepuluh buah buku.

‏أَبُو حَيَّانَ التَّوحِيدِيُّ (تُوُفِّيَ 1010 م)‏
‏كَاتِبٌ وَفَيلَسُوفٌ عَرَبِيٌّ مُعتَزِلِيٌّ مُتَصَوِّفٌ، مِن أَهلِ العَدلِ وَالتَّوحِيدِ، صَاحِبُ طِرَازٍ فَرِيدٍ فِي الكِتَابَةِ.‏

Abu Hayyan at-Tauhidi (meninggal dunia pada tahun 1010 Masehi) : Penulis dan ahli falsafah bangsa Arab yang berpegang dengan pegangan Muktazilah, sangat terkenal dengan keadilan dan berpegang teguh dengan ketauhidan Allah. Beliau mempunyai gaya tersendiri yang tidak dapat ditandingi di dalam bidang penulisan.

أَبُو دَاوُدَ السِّجِستَانِيُّ (817-889 م)‏
‏مِن أَئِمَّةِ الحَدِيثِ، لَهُ كِتَابُ “السُّنَنِ”، مِن الصِّحَاحِ السِّتَّةِ.‏

Abu Daud as-Sijastani (meninggal dunia pada tahun 817-889 M) : Salah seorang imam dalam bidang hadis. Beliau mempunyai kitab “As-Sunan” yang tergolong di antara enam buah kitab hadis sahih.

‏أَبُو ذُؤَيب الهُذَلِيُّ (تُوُفِّيَ 648 م)‏
‏شَاعِرٌ مُسلِمٌ فَحلٌ مُخَضرَمٌ، اِشتَرَكَ فِي فَتحِ إِفرِيقِيَّةَ “تُونُسُ الحَالِيَّةُ. “‏

Abu Zuaib al-Huzali (meninggal dunia pada tahun 648 M) : Penyair Islam yang hebat dan hidup di dalam dua generasi. Beliau telah mengambil bahagian di dalam pembukaan Afrika “Tunisia sekarang”.

‏أَبُو زَيدٍ البَلخِيٌّ (850-934 م)‏
‏عَالِمٌ فِي الفَلسَفَةِ وَالجُغرَافِيَا مُسلِمٌ، أَلَّفَ أَكثَرَ مِن أَربَعَةَ عَشَرَ كِتَابًا، اِشتَهَرَ بِكِتَابِهِ “صُوَرُ الأَقَالِيمِ. “‏

Abu Zaid al-Balkhi (850-934 M): Ahli dalam filsafat dan geografi, telah mengarang lebih dari empat belas buah buku, dan bukunya yang terkenal adalah "Shuwar al-Aqaliim".

‏أَبُو سُلَيمَانَ المَنطِقِيُّ (تُوُفِّيَ 990 م)‏
‏فَيلَسُوفٌ وَعَالِمُ مَنطِقٍ عَرَبِيٌّ، أَلَّفَ العَدِيدَ مِن الكُتُبِ مِن أَهَمِّهَا “صُوَانُ الحِكمَةِ” سَجَّلَ فِيهِ تَارِيخَ الفَلسَفَةِ اليُونَانِيَّةِ وَالإِسلَامِيَّةِ.‏

Abu Sulaiman al-Mantiqi (meninggal dunia pada tahun 990 Masehi) : Ahli falsafah berbangsa Arab dan mahir di dalam ilmu mantiq. Beliau telah mengarang beberapa buah buku dan yang terkenalnya ialah, “Siwan Al-Hikmah” [pemelihara hikmat], di dalamnya mencatatkan sejarah falsafah Yunani dan falsafah Islam.

‏أَبُو عَبدِ اللَّهِ الإِدرِيسِيُّ (1100-1165 م)‏
‏رَحَّالَةٌ مَغرِبِيٌّ، عَالِمٌ بِالجُغرَافِيَا وَالطِّبِّ، مُؤَلَّفَاتُهُ مِن أَشهَرِ كُتُبِ الجُغرَافِيَا القَدِيمَةِ وَقَد تُرجِمَت إِلَى عِدَّةِ لُغَاتٍ أُورُوبِّيَّةٍ.‏

Abu Abdullah al-Idrisi (1100-1165 Masehi) : Seorang pengembara dari Morocco yang pakar dalam bidang geografi dan kedoktoran. Beliau telah mengarang beberapa buah dan di antara buku-buku yang termasyhurnya ialah buku geografi lama dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropa.

‏أَبُو عُثمَانَ المَازِنِيُّ (تُوُفِّيَ 863 م)‏
‏لُغَوِيٌّ بَصرِيٌّ، مِن كِبَارِ عُلَمَاءِ اللُّغَةِ العَرَبِيَّةِ، كَانَ وَرِعًا وَتَقِيًّا، لَهُ أَكثَرُ مِن سِتَّةِ مُصَنَّفَاتٍ مِن أَهَمِّهَا “التَّصرِيفُ. “‏

Abu Othman al-Mazini (meninggal dunia pada tahun 863 Masehi) : Seorang pakar bahasa dari Basrah, tergolong di antara ulama bahasa Arab yang terkemuka. Seorang yang wara’ dan penuh ketakwaan. Beliau mempunyai lebih dari enam buah karang dan di antara yang terpentingnya ialah “At-Tasrif”.

‏أَبُو عَلِيٍّ الخَيَّاطُ (تُوُفِّيَ 835 م)‏
‏فَلَكِيٌّ عَرَبِيٌّ مِن أَشهَرِ الفَلَكِيِّينَ فِي تَارِيخِ الإِسلَامِ، تُرجِمَت بَعضُ كُتُبِهِ إِلَى اللَّاتِينِيَّةِ.‏

Abu Ali al-Khayyat (meninggal dunia pada tahun 835 Masehi) : Ahli astronomi berbangsa Arab dan di antara ahli falak (astronomi) yang termasyhur di dalam sejarah Islam. Ahli-ahli astronomi Eropa mengenali beliau dengan nama al-Bohali. Setengah dari buku-buku karangan beliau telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.

‏أَبُو فِرَاسٍ الحَمدَانِيُّ (932-968 م)‏
‏أَمِيرٌ وَشَاعِرٌ وَفَارِسٌ، لَهُ وَقَائِعُ كَثِيرَةٌ، تَقَلَّدَ منبجا وَحَرَّانَ، أَسَرَهُ الرُّومُ فَنَظَمَ أَشهَرَ قَصَائِدِهِ “الرُّومِيَّاتِ. “‏

Abu Firas al-Hamdani (932-968 Masehi) : Seorang Amir, penyair dan pahlawan berkuda. Beliau pernah terlibat di dalam beberapa peperangan. Menjadi gubenur di Minbaja dan Harran. Beliau pernah ditawan oleh tentera Roma di mana dari itulah beliau telah menghasilkan qasidah yang paling masyhur “Ar-Romiyyat” (Wanita-wanita Rom).

‏أَبُو كَامِلٍ (تُوُفِّيَ 951 م)‏
‏(شُجَاعُ بنُ أَسلَمَ)، مُهَندِسٌ وَعَالِمُ حِسَابٍ مِصرِيٌّ، اشتَهَرَت مُؤَلَّفَاتُهُ فِي أُورُوبَّا.‏

Abu Kamil (meninggal dunia pada tahun 951 Masehi) : (Syuja’ bin Aslam), seorang pakar matematik dari Mesir. Karangan-karangan beliau sangat terkenal di Eropa.

‏أَبُو مِحجَن الثَّقَفِيُّ (تُوُفِّيَ 650 م)‏
‏شَاعِرٌ مُسلِمٌ وَفَارِسٌ شُجَاعٌ،أَبلَى بَلَاءً حَسَنًا فِي مَعرَكَةِ القَادِسِيَّةِ، أَشهَرُ شِعرِهِ فِي المَفَاخِرِ.‏

Abu Mihjan Ath-Thaqafi (meninggal dunia pada tahun 650 Masehi) : Seorang penyair Islam dan pahlawan berkuda yang berani, pernah mengambil bahagian di dalam peperangan al-Qadisiah. Syair beliau yang termasyhur adalah syair kemegahan.

‏أَبُو مَعشَرٍ البَلخِيُّ (تُوُفِّيَ 788-886 م)‏
‏عَالِمٌ فَلَكِيٌّ، لَهُ دِرَاسَاتٌ فِي تَأثِيرِ النُّجُومِ فِي حَيَاةِ الإِنسَانِ، مُكتَشِفُ حَقِيقَةٍ عِلمِيَّةٍ تَتَعَلَّقُ بِالمَدِّ وَالجَزرِ، نَاقَشَ العَدِيدَ مِن الأَفكَارِ فِي مُؤَلَّفَاتِهِ.‏

Abu Ma’syar al-Balakhi (788-886 Masehi) : Seorang pakar astronomi. Beliau pernah mempelajari bahawa bintang-bintang memberi kesan dalam kehidupan manusia dan menemui fakta berhubung dengan pasang dan surut air. Beliau membincangkan pelbagai permasalahan di dalam karangan-karangannya.

‏أَبُو مَنصُورٍ الثَّعَالِبِيُّ (961-1038 م)‏
‏أَدِيبٌ وَلُغَوِيٌّ وَمُؤَرِّخٌ مِن الدَّولَةِ العَبَّاسِيَّةِ، صَنَّفَ كَثِيرًا مِن كُتُبِ الأَدَبِ وَالتَّارِيخِ وَاللُّغَةِ تَزِيدُ عَلَى التِّسعِينَ كِتَابًا مِن أَهَمِّهَا “يَتِيمَةُ الدَّهرِ فِي شُعَرَاءِ أَهلِ العَصرِ. “‏

Abu Mansur ath-Tha’alibi (961-1038 Masehi) : Sasterawan, pakar bahasa dan ahli sejarah pada masa pemerintahan kerajaan Abbasiah. Beliau banyak menulis buku-buku berkenaan dengan sastera, sejarah dan bahasa. Karangan-karangan beliau lebih dari sembilan puluh buah buku dan di antara yang terpenting ialah “Yatimatu Ad-Dahri Fi Syu’ara’ Ahli Al-Asri”.

‏أَبُو نَصر الفَارَابِي (878-950 م)‏
‏مِن أَعظَمِ فَلَاسِفَةِ المُسلِمِينَ، كَانَ عَالِمًا بِالمَنطِقِ وَالرِّيَاضِيَّاتِ وَالمُوسِيقَى، حَاوَلَ التَّوفِيقَ بَينَ الشَّرِيعَةِ الإِسلَامِيَّةِ وَالفَلسَفَةِ اليُونَانِيَّةِ، أَلَّفَ أَكثَرَ مِن مِائَةِ كِتَابٍ.‏

Abu Nasru al-Farabi (878-950 Masehi) : Salah seorang ahli falsafah Islam yang terkenal dan pakar dalam ilmu mantiq, matematik dan musik. Beliau telah mencoba membuat penyesuaian di antara syariat Islam dan falsafah Yunani, beliau juga telah mengarang lebih dari seratus buah buku.

‏أَبُو نُوَاسٍ (757-814 م)‏
‏مِن أَكبَرِ الشُّعَرَاءِ فِي تَارِيخِ الأَدَبِ العَرَبِيِّ، شَاعِرُ العِرَاقِ فِي عَصرِهِ، أَوَّلُ مَن نَهَجَ فِي الشِّعرِ طَرِيقَتَهُ الحَضَرِيَّةَ وَأَخرَجَهُ مِن اللَّهجَةِ البَدَوِيَّةِ‏

Abu Nuwas (757-814 Masehi) : Salah seorang penyair terkenal di dalam sejarah kesusasteraan Arab dan merupakan penyair Iraq pada zamannya. Beliau adalah orang pertama yang mencipta syair mengikut cara modern serta menjauhi dari menggunakan dialek badawi.

‏أَبُو هِلَال العَسكَرِي (تُوُفِّيَ 1005 م)‏
‏أَدِيبٌ وَشَاعِرٌ عَرَبِيٌّ، مِن أَكبَرِ عُلَمَاءِ البَلَاغَةِ، لَهُ أَكثَرُ مِن عَشرَةِ مُؤَلَّفَاتٍ، صَاحِبُ “كِتَابِ الصِّنَاعَتَينِ: النَّظمِ وَالنَّثرِ. “‏

Abu Hilal al-Askari (meninggal dunia pada tahun 1005 Masehi) : Sastrawan dan penyair berbangsa Arab serta salah seorang di antara pakar ilmu balaghah. Beliau mempunyai lebih dari sepuluh buah karangan dan beliau juga adalah pengarang buku “Kitab As-Sina’atain: An-Nazmu Wa An-Nathru”.

‏أَحمَدُ اليَعقُوبِي (تُوُفِّيَ 905 م)‏
‏جُغرَافِيٌّ وَمُؤَرِّخٌ بَغدَادِيٌّ كَثِيرُ الأَسفَارِ، أَلَّفَ ثَلَاثَةَ كُتُبٍ وَلَكِنَّهُ اِشتَهَرَ بِكِتَابِهِ “البُلدَان” الَّذِي دَوَّنَ فِيهِ مُلَاحَظَاتِهِ فِي التَّارِيخِ وَالِاجتِمَاعِ وَالأَدَبِ عَن البِلَادِ الَّتِي زَارَهَا.‏

Ahmad al-Yaakubi (meninggal dunia pada tahun 905 Masehi) : Pakar geografi dan sejarah dari Baghdad dan banyak mengembara. Beliau telah mengarang tiga buah buku tetapi terkenal melalui bukunya, “Al-Buldan”, di mana beliau mencatatkan tentang sejarah, kemasyarakatan dan kebudayaan negeri-negeri yang telah dilawatinya.

‏أَحمَدُ بنُ عَرَبشَاه (تُوُفِّيَ 1388-1450 م)‏
‏مُؤَرِّخٌ وَرَحَّالَةٌ دِمَشقِيٌّ، لَهُ مُصَنَّفَاتٌ بِالعَرَبِيَّةِ وَالفَارِسِيَّةِ وَالتُّركِيَةِ.‏

Ahmad bin Arabsyah (1388-1450 Masehi) : Pakar sejarah dan pengembara dari Damaskus. Beliau telah mengarang beberapa buah buku di dalam bahasa Arab, Fersi dan Turki.

‏أَحمَد تَيمُور (1871-1930 م)‏
‏أَدِيبٌ، بَاحِثٌ وَمُؤَرِّخٌ مِصرِيٌّ، مِن عُلَمَاءِ اللُّغَةِ العَرَبِيَّةِ، صَنَّفَ مَا يَقرُبُ مِن الأَربَعِينَ كِتَابًا.‏

Ahmad Taimur (1871-1931 Masehi) : Sasterawan, penyelidik dan ahli sejarah dari Mesir. Tergolong di antara pakar bahasa Arab. Beliau telah mengarang hampir empat puluh buah buku.

‏أَحمَد شَوقِي (1868-1932 م)‏
‏شَاعِرٌ مِصرِيٌّ، مِن أَشهَرِ شُعَرَاءِ العَصرِ الحَدِيثِ، لُقِّبَ بِأَمِيرِ الشُّعَرَاءِ،عَالَجَ فِي شِعرِهِ أَكثَرَ فُنُونِ الشِّعرِ.‏

Ahmad Syauqi (1868-1932 Masehi) : Seorang penyair dari Mesir, tergolong di antara para penyair zaman moden yang termasyhur dan diberi gelaran, amir (ketua) para penyair. Syair beliau mengatasi kebanyakan seni-seni syair.

‏أَحمَدُ فَارِس الشِّديَاق (1804-1888 م)‏
‏أَدِيبٌ وَلُغَوِيٌّ لُبنَانِيٌّ، مِن رُوَّادِ الصَّحَافَةِ العَرَبِيَّةِ، مُؤَسِّسُ جَرِيدَةِ “الجَوَائِبِ”، لَهُ مَا يَربُو عَن العَشرِ مُؤَلَّفَاتٍ.‏

Ahmad Faris asy-Syidyaq (1804-1888 Masehi) : Sasterawan dan pakar bahasa dari Libanon. Tergolong di antara pelopor kewartawanan dalam bahasa Arab. Pengasas akhbar “Al-Jawa’ib”. Beliau telah mengarang lebih dari sepuluh buah buku.

إِسمَاعِيلُ أَبُو الفِدَاءِ (1273-1331 م)‏
‏أَمِيرٌ عَرَبِيٌّ، مُؤَرِّخٌ وَجُغرَافِيٌّ شَهِيرٌ.‏

Ismail Abu al-Fida’ (1273-1331 Masehi) : Raja, ahli sejarah dan ahli geografi yang terkemuka.

‏اِبنُ آجُرُّومٍ (تُوُفِّيَ 1323 م)‏
‏أَبُو عَبدِ اللَّهِ الصَّنهَاجِيُّ، عَالِمُ نَحوٍ مَغرِبِيٌّ، اِشتَهَرَ بِكِتَابِهِ “المُقَدِّمَةُ الآجُرُّومِيَّةُ فِي عِلمِ العَرَبِيَّةِ. “‏

Ibnu Ajurrum (723 Hijrah, 1323 Masehi) : Abu Abdullah as-Sanhaji, pakar nahu bahasa Arab dari Morocco. Beliau terkenal dengan bukunya, “Al-Muqaddimah Al-Ajurrumiah Fi Ilmi Al-Arabiah”.

‏اِبنُ أَبِي الرِّجَالِ (تُوُفِّيَ 1040 م)‏
‏فَلَكِيٌّ وَرِيَاضِيٌّ أَندَلُسِيٌّ، اشتَهَرَ عِندَ عُلَمَاءِ الغَربِ بِكِتَابِهِ “البَارِعِ فِي أَحكَامِ النُّجُومِ”، تُرجِمَت أَعمَالُهُ إِلَى اللَّاتِينِيَّةِ.‏

Ibnu Abi ar-Rijal (meninggal dunia pada tahun 1040 Masehi) : Seorang ahli astronomi dan matematik dari Andalusia. Beliau terkenal di kalangan ulama Arab dengan buku, “Al-Bari’ Fi Ahkam An-Nujum”. Hasil-hasil karangan beliau telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.

‏اِبنُ أَبِي الشُّكرِ (تُوُفِّيَ 1281 م)‏
‏فَلَكِيٌّ أَندَلُسِيٌّ مِن أَهلِ قُرطُبَةَ، عَمِلَ مَعَ نَصِيرِ الدِّينِ الطُّوسِيِّ فِي مَرصَدِ مَرَاغَةَ، صَنَّفَ أَكثَرَ مِن عَشرِ كُتُبٍ مِن أَشهَرِهَا “الأَربَعُ مَقَالَاتٍ فِي النُّجُومِ. “‏

Ibnu Abi asy-Syukri (meninggal dunia pada tahun 1281 Masehi) : Seorang ahli astronomi dari Andalusia yang tinggal di Cordova (Qurtubah). Beliau berkerja bersama Nusair ad-Din at-Tausi di balai meneropong Maraghah. Beliau juga telah mengarang lebih dari sepuluh buah buku dan di antara yang termasyhur ialah, “Al-Arba’ Maqalat Fi An-Nujum”, (Empat makalah tentang bintang).

‏اِبنُ أَبِي صَادِقٍ (تُوُفِّيَ 1077 م)‏
‏طَبِيبٌ وَفَيلَسُوفٌ مِن أَهلِ نَيسَابُور، تِلمِيذُ اِبنِ سِينَا، شَرَحَ مُؤَلَّفَاتِ أَبُقرَاطَ وَجَالِينِيس، يُلَقَّبُ بِسُقرَاط الثَّانِي.‏

Ibnu Abi Sadiq (meninggal dunia pada tahun 1077 Masehi) : Seorang doktor dan ahli falsafah dari Naisabur, murid Ibnu Sina. Beliau telah menjelaskan hasil karangan Abuqrat dan Galinis, beliau juga digelar dengan Sokrates Kedua.

‏اِبنُ البَيطَارِ (تُوُفِّيَ 1248 م)‏
‏أَعظَمُ عُلَمَاءِ التَّارِيخِ الطَّبِيعِيِّ فِي القُرُونِ الوُسطَى، عَالِمُ نَبَاتٍ أَندَلُسِيٌّ، أَلَّفَ أَكثَرَ مِن سِتِّ كُتُبٍ مِن أَشهَرِهَا كِتَابُ “الجَامِعِ لِمُصَنَّفَاتِ الأَدوِيَةِ وَالأَغذِيَةِ. “‏

Ibnu al-Baitar (meninggal dunia pada tahun 1248 Masehi) : Pakar terkemuka di dalam sejarah biologi pada kurun pertengahan dan pakar di dalam bahagian botani (kaji tumbuhan) di Andalusia. Beliau telah mengarang lebih dari enam buah buku manakala yang termasyhurnya ialah “Al-Jami’ Limusannafaat Al-Adwiah Wa Al-Aghziah”. [Himpunan Buku-buku Mengenai Ilmu obat-obatan dan Makanan].

‏اِبنُ الجَوزِيِّ (1120-1200 م)‏
‏فَقِيهٌ وَمُؤَرِّخٌ عَرَبِيٌّ، صَنَّفَ مَا يَقرُبُ مِن عِشرِينَ كِتَابًا فِي شَتَّى فُرُوعِ المَعرِفَةِ، مِن آثَارِهِ “المُنتَظِم فِي تَارِيخِ الأُمَم. “‏

Ibnu al-Jauzi (1120-1200 Masehi) : Ulama fiqhh dan ahli sejarah berbangsa Arab. Beliau telah mengarang hampir dua puluh buah buku dalam pelbagai bidang ilmu pengetahuan, di antaranya ialah, “Al-Muntazim Fi Tarikh Al-Umam”.

‏اِبنُ الحَاجِبِ (تُوُفِّيَ 1249 م)‏
‏فَقِيهٌ وَنَحوِيٌّ مِصرِيٌّ، مِن أَئِمَّةِ اللُّغَوِيِّينَ، لَهُ مُؤَلَّفَاتٌ فِي النَّحوِ وَالصَّرفِ وَالعَرُوضِ وَأُصُولِ الفِقهِ.‏

Ibnu al-Hajib (meninggal dunia pada tahun 1249 Masehi) : Ulama fiqh dan pakar nahu bahasa Arab dari Mesir dan tergolong di antara pakar-pakar bahasa. Beliau mempunyai karangan di dalam bidang nahwu, saraf, arudh (mengkaji bentuk-bentuk sajak dan puisi) dan usul fiqh.

‏اِبنُ الرُّومِيِّ (836-896 م)‏
‏شَاعِرٌ، مِن أَعظَمِ شُعَرَاءِ الدَّولَةِ العَبَّاسِيَّةِ، عُرِفَ بِالوَصفِ البَارِعِ وَالهِجَاءِ اللَّاذِعِ.‏

Ibnu ar-Rumi (836-896 Masehi) : Seorang penyair dan tergolong di antara penyair kerajaan Abbasiah Uthmaniah yang terkenal. Sangat terkenal dengan sifat kemahiran dan sindirannya yang pedas.

‏اِبنُ الشَّاطِرِ (تُوُفِّيَ 1375 م)‏
‏أَبُو الحَسَنِ عَلِيٌّ، عَالِمٌ بِالفَلَكِ وَالحِسَابِ، مِن أَهلِ دِمَشق، مِن أَشهَرِ مُؤَلَّفَاتِهِ “الإِسطِرلَابُ. “‏

Ibnu asy-Syatir (meninggal dunia pada tahun 1375 Masehi) : Abu al-Hasan Ali, seorang pakar astronomi dan matematik dari Damaskus. Di antara karangan-karangan beliau yang termasyhur ialah “Al-Istirlab”.

‏اِبنُ الطَّيِّبِ السَّرخَسِيُّ (تُوُفِّيَ 899 م)‏
‏فَيلَسُوفٌ عَرَبِيٌّ، كَانَ غَزِيرَ العِلمِ بِالتَّارِيخِ وَالفَلسَفَةِ وَالسِّيَاسَةِ وَالأَدَبِ وَالفُنُونِ، أَلَّفَ أَكثَرَ مِن أَربَعَةَ عَشَرَ كِتَابًا، مُعَلِّمُ المُعتَضِدِ وَصَدِيقُهُ وَمُستَشَارُهُ.‏

Ibnu at-Taib as-Sarkhasi (meninggal dunia pada tahun 899 Masehi) : Seorang ahli falsafah Arab yang sangat alim dalam bidang sejarah, falsafah, politik, kebudayaan dan kesenian. Beliau telah mengarang lebih dari empat puluh buah buku. Beliau juga merupakan guru, sahabat dan penasihat kepada al-Muktadhad.

‏اِبنُ العَرَبِيِّ (تُوُفِّيَ 1148 م)‏
‏خَاتَمُ عُلَمَاءِ الأَندَلُسِ وَآخِرُ أَئِمَّتِهَا وَحُفَّاظِهَا، لَهُ تَصَانِيفُ كَثِيرَةٌ تَتَنَاوَلُ القُرآنَ وَالسُّنَّةَ مِنهَا “أَحكَامُ القُرآنِ. “‏

Ibnu al-Arabi (meninggal dunia pada tahun 1148 Masehi) : Merupakan ulama, imam dan hafiz Andalusia yang terakhir. Beliau mempunyai banyak karangan yang berkenaan dengan al-Quran dan sunah, di antaranya, “Ahkam Al-Quran”.

‏اِبنُ العَمِيدِ (تُوُفِّيَ 970 م)‏
‏شَاعِرٌ وَأَدِيبٌ بُوَيهِيٌّ، كَانَ وَزِيرًا لِرُكنِ الدَّولَةِ، يُعتَبَرُ مِن أَئِمَّةِ البَيَانِ العَرَبِيِّ.‏

Ibnu al-Amid (meninggal dunia pada tahun 970 Masehi) : Seorang penyair dan sasterawan dari Buwaihi. Beliau merupakan menteri kepada Ruknu ad-Daulah. Beliau juga dianggap sebagai salah seorang daripada pakar kesenian bahasa Arab.

‏اِبنُ العَوَّامِ (تُوُفِّيَ 1158 م)‏
‏عَالِمُ نَبَاتٍ أَندَلُسِيٌّ، لَهُ كِتَابُ “الفِلَاحَةِ الأَندَلُسِيَّةِ”، وَهُوَ مِن المَرَاجِعِ فِي تَارِيخِ عِلمِ النَّبَاتِ.‏

Ibnu al-Awwam (meninggal dunia pada tahun 1158 Masehi) : Seorang pakar ilmu tumbuhan dari Andalusia. Beliau telah mengarang buku berjudul, “Al-Filahah Al-Andalusiah”, yang menjadi salah satu rujukan di dalam sejarah ilmu tumbuhan.

‏اِبنُ الفَارِضِ (1181-1235 م)‏
‏عُمَرُ بنُ عَلِيِّ بنِ مُرشِدِ بنِ عَلِيٍّ، شَاعِرٌ عَرَبِيٌّ صُوفِيٌّ، اِشتَهَرَ بِمَدَائِحِهِ لِلذَّاتِ الإِلَهِيَّةِ.‏

Ibnu al-Faridh (1181-1235 Masehi) : Umar bin Ali bin Mursyid bin Ali, seorang penyair Arab serta ahli sufi. Beliau sangat terkenal dengan syair-syair yang memuji zat Allah.

‏اِبنُ النَّقِيبِ (1494 م -1563 م)‏
‏طَبِيبٌ عَالِمٌ بِالفَلَكِ وَالحِسَابِ وَالشِّعرِ وَالمُوسِيقَى، كَانَ مَاهِرًا فِي وَضعِ الآلَاتِ الهَندَسِيَّةِ الفَلَكِيَّةِ لِرَصدِ الكَوَاكِبِ.‏

Ibnu al-Naqib (1494-1563 Masehi) : Seorang dokter, pakar dalam bidang astronomi, matematik, syair dan musik. Beliau mempunyai kepandaian mencipta peralatan astronomi untuk meneropong bintang-bintang.

‏اِبنُ اليَاسمِين (تُوُفِّيَ 1204 م)‏
‏كَاتِبٌ رِيَاضِيٌّ، عَالِمٌ بِالحِسَابِ وَالعَدَدِ وَالهَندَسَةِ وَالمَنطِقِ وَالتَّنجِيمِ، لَهُ مُؤَلَّفَاتٌ فِي الجَبرِ وَالمُقَابَلَةِ.‏

Ibnu al-Yasmin (meninggal dunia pada tahun 1204 Masehi) : Seorang penulis dalam bidang matematik. Beliau merupakan pakar dalam matematik, pengiraan, geometri, ilmu mantiq dan kaji bintang. Beliau juga mempunyai karangan-karangan yang berkaitan dengan aljabar dan logaritma.

‏اِبنُ بَاجَه (تُوُفِّيَ 1138 م)‏
‏فَيلَسُوفٌ عَرَبِيٌّ شَهِيرٌ، شَرَحَ مُؤَلَّفَاتِ أَرِسطُو، اِمتَازَ بِمَعَارِفِهِ الطِّبِّيَّةِ وَالفَلَكِيَّةِ وَالمُوسِيِقِيَّةِ.‏

Ibnu Bajah (meninggal dunia pada tahun 1138 Masehi) : Orang barat mengenali beliau dengan nama Ibnu Bajja, seorang ahli falsafah Arab yang termasyhur. Beliau telah menguraikan karangan Aristotles. Beliau juga terkenal dengan pengetahuannya dalam bidang kedoktoran, astronomi dan musik.

‏اِبنُ بَطُوطَةَ (1304-1377 م)‏
‏رَحَّالَةٌ مُسلِمٌ، طَافَ أَنحَاءَ العَالَمِ المَعرُوفِ، اِستَغرَقَت رِحلَاتُهُ الثَّلَاثُ 29 عَامًا، اِمتَازَ بِدِقَّةِ المُلَاحَظَةِ وَأَمَانَةِ الرِّوَايَةِ.‏

Ibnu Batutah (1304 - 1377 Masehi) : Seorang pengembara yang beragama Islam. Beliau telah menjelajah segenap pelosok dunia yang telah dikenali. Ketiga-tiga pengembaraan beliau memakan masa dua puluh sembilan tahun. Beliau juga terkenal dengan pemerhatia yang teliti dan perawi yang amanah.

‏اِبنُ تَيمِيَةَ (1263-1328 م)‏
‏فَقِيهٌ عَرَبِيٌّ، مِن أَئِمَّةِ المَذهَبِ الحَنبَلِيِّ، لُقِّبَ بِ “مُحيِي السُّنَّةِ وَإِمَامِ المُجتَهِدِينَ”، لَهُ أَكثَرُ مِن خَمسِ مُؤَلَّفَاتٍ مِن أَشهَرِهَا كِتَابُ “الفَتَاوَى. “‏

Ibnu Taimiah (1263 - 1328 Masehi) : Seorang pakar dalam hukum (faqih) yang berbangsa Arab, di antara imam kapada mazhab Hambali. Beliau telah digelar dengan, “Penghidup sunah dan imam para mujtahid”. Beliau juga mempunyai lebih dari lima buah karangan, yang terkenalnya ialah, “Al-Fatawa”.

اِبنُ جُبَيرٍ (1145-1217 م)‏
‏رَحَّالَة أَندَلُسِيٌّ، قَامَ بِثَلَاثِ رِحلَاتٍ جَابَ فِيهِم الأَقطَارَ العَرَبِيَّةَ، دَوَّنَ مَا شَاهَدَهُ فِي ثَلَاثِ كُتُبٍ وَلَكِن لَم يَصِلنَا مِنهَا إِلَّا كِتَابُهُ عَن الرِّحلَةِ الأُولَى “رِحلَاتُ اِبنِ جُبَيرٍ”، لَهُ العَدِيدُ مِن المُصَنَّفَاتِ وَلَهُ دِيوَانُ شِعرٍ.‏

Ibnu Jubair (1145 - 1217 Masehi) : Seorang pengembara dari Andalusia. Beliau telah melakukan tiga kali pengembaraan menjelajah dunia Arab dan telah membukukan apa yang disaksikan di dalam tiga buah buku, tetapi hanya sebuah buku yaitu dari pengembaraan pertama beliau saja yang telah sampai kepada kita, iaitu “Rehlah Ibnu Jubair”. Beliau juga mempunyai beberapa buah karangan dan sebuah himpunan (dewan) syair.

‏اِبنُ جَرِيرٍ الطَّبَرِيُّ (تُوُفِّيَ 923 م)‏
‏مُؤَرِّخٌ وَمُفَسِّرٌ وَفَقِيهٌ شَافِعِيٌّ، مَن كُتُبِهِ “جَامِعُ البَيَانِ فِي تَفسِيرِ القُرآنِ” المَعرُوفُ ب “تَفسِيرِ الطَّبَرِيِّ. “‏

Ibnu Jarir at-Tobari (meninggal dunia pada tahun 923 Masehi) : Seorang ahli sejarah, pentafsir dan faqih mazhab Syafie. Di antara kitab-kitab beliau ialah, “Jami’ Al-Bayan Fi Tafsir Al-Quran” yang dikenali dengan “Tafsir At-Tobari”.

‏اِبنُ جَزلَةَ (تُوُفِّيَ 1100 م)‏
‏طَبِيبٌ عَرَبِيٌّ نَصرَانِيٌّ أَسلَمَ عَلَى يَدِ أَبِي عَلِيِّ بنِ الوَلِيدِ المَغرِبِيِّ، مِن أَشهَرِ مُؤَلَّفَاتِهِ “كِتَابُ المِنهَاجِ فِي الأَدوِيَةِ المُرَكَّبَةِ”وَ”تَقوِيمُ الأَبدَانِ”، نُقِلَت مُؤَلَّفَاتُهُ إِلَى اللَّاتِينِيَّةِ.‏

Ibnu Jazlah (meninggal dunia pada tahun 1100 Masehi) : Seorang dokter bangsa Arab beragama Kristen yang memeluk Islam melalui Abi Ali bin al-Walid al-Maghribi. Di antara karangan-karangan beliau yang termasyhur ialah “Kitab Al-Minhaj Fi Al-Adwiah Al-Murakabah” dan “Taqwim Al-Abdan”. Karangan-karangan beliau telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.

‏اِبنُ جِنِّي (942-1002 م)‏
‏مِن أَئِمَّةِ اللُّغَةِ وَالنَّحوِ العَرَبِيِّ، وَكَانَ شَاعِرًا أَلَّفَ أَكثَرَ مِن خَمسِ كُتُبٍ، مِن أَشهَرِهَا كِتَابُ “الخَصَائِصِ “‏

Ibnu Jinni (942-1002 Masehi) : Salah seorang di antara pakar bahasa dan pakar nahwu bahasa Arab. Beliau merupakan seorang penyair dan telah mengarang lebih dari lima buah buku, di antara yang terkenal ialah, “Al-Khasais”.

‏اِبنُ حَجَرٍ العَسقَلَانِيُّ (تُوُفِّيَ 1449 م)‏
‏مُحَدِّثٌ وَمُؤَرِّخٌ مِصرِيٌّ، مِن أَئِمَّةِ عُلَمَاءِ الحَدِيثِ، مِن آثَارِهِ الكَثِيرَةِ ” فَتحُ البَارِي بِشَرحِ صَحِيحِ البُخَارِي. “‏

Ibnu Hajar al-Asqalani (meninggal dunia pada tahun 1449 Masehi) : Ahli hadis dan ahli sejarah dari Mesir. Beliau adalah di antara imam ulama hadis dan di antara kitab hasil karangan beliau ialah, “Fathu Al-Bari Bi Syarhi Sahih Al-Bukhari”.

‏اِبنُ حَزمٍ (994-1064 م)‏
‏شَاعِرٌ وَفَيلَسُوفٌ وَمُؤَرِّخٌ وَفَقِيهٌ مُسلِمٌ أَندَلُسِيٌّ، قِيلَ إِنَّ مُؤَلَّفَاتِهِ بَلَغَت الأَربَعَمِائَةِ كِتَابٍ، يُعَدُّ كِتَابُهُ “الفَصلُ فِي المِلَلِ وَالأَهوَاءِ وَالنِّحَلِ” أَوَّلَ مُؤَلَّفٍ فِي عِلمِ مُقَارَنَةِ الأَديَانِ.‏

Ibnu Hazmi (994-1064 Masehi) : Seorang penyair, ahli falsafah, ahli sejarah dan seorang faqih yang beragama Islam, berasal dari Andalusia. Dikatakan bahawa buku-buku karangan beliau mencapai empat puluh buah. Buku “Al-Faslu Fi Al-Milal Wa Al-Ahwa’ Wa An-Nihal” dianggap karangan pertama yang membincangkan tentang perbandingan agama.

‏اِبنُ حَوقَلٍ (تُوُفِّيَ 978 م)‏
‏رَحَّالَةٌ وَجُغرَافِيٌّ عَرَبِيٌّ، جَابَ الأَقطَارَ الإِسلَامِيَّةَ، اِشتَهَرَ بِكِتَابِهِ “صُورَةُ الأَرضِ. “‏

Ibnu Hauqal (meninggal dunia pada tahun 978 Masehi) : Seorang pengembara dan ahli geografi berbangsa Arab. Beliau telah menjelajahi segenap dunia Islam dan di antara kitab beliau yang terkenal ialah “Suratu Al-Ardh”.

‏اِبنُ خُلدُونَ (1332-1406 م)‏
‏مُؤَرِّخٌ وَفَيلَسُوفٌ عَرَبِيٌّ، يُعتَبَرُ مُؤَسِّسَ عِلمِ فَلسَفَةِ التَّارِيخِ وَعِلمِ الاِجتِمَاعِ، أَلَّفَ العَدِيدَ مِن الكُتُبِ مِن أَشهَرِهَا كِتَابُ “المُقَدِّمَةِ. ” الَّتِي اِحتَوَت عَلَى نَظَرِيَّاتٍ غَيرِ مَسبُوقَةٍ فِي التَّارِيخِ وَالاِجتِمَاعِ.‏

Ibnu Khaldun (1332-1406 Masehi) : Ahli sejarah dan ahli falsafah berbangsa Arab. Beliau dianggap pengasas ilmu falsafah sejarah dan ilmu Sosiologi. Beliau banyak mengarang buku dan yang termasyhur di antaranya ialah, kitab “Al-Muqadimah” yang mengandungi teori-teori yang tidak disebut di dalam kitab-kitab sejarah dan di dalam kitab-kitab ilmu kemasyarakatan.

‏اِبنُ خَلكَانَ (1211-1282 م)‏
‏مُؤَرِّخٌ وَكَاتِبُ سِيَرٍ عَرَبِيٌّ، صَاحِبُ المُعجَمِ التَّارِيخِيِّ الشَّهِيرِ “وَفِيَّاتِ الأَعيَانِ وَأَنبَاءِ أَبنَاءِ الزَّمَانِ. “‏

Ibnu Khalkan (1211 - 1282 Masehi) : Ahli sejarah dan penulis autobiografi berbangsa Arab. Pengarang mu’jam sejarah yang terkenal iaitu, “Wafiyat Al-A’yan Wa Amba’ Abna’ Az-Zaman”.

‏اِبنُ رُشدٍ (1126-1198 م)‏
‏فَيلَسُوفٌ عَرَبِيٌّ أَندَلُسِيٌّ، كَانَ عَالِمًا بِالفِقهِ وَالشِّعرِ وَالطِّبِّ وَالرِّيَاضِيَّاتِ وَالفَلَكِ، حَاوَلَ التَّوفِيقَ بَينَ الشَّرِيعَةِ الإِسلَامِيَّةِ وَالفَلسَفَةِ اليُونَانِيَّةِ.‏

Ibnu Rusydi (1126-1198 Masehi) : Ahli filsafah berbangsa Arab dari Andalusia. Beliau merupakan pakar dalam bidang ilmu fiqh, syair, kedoktoran, matematik dan astronomi. Beliau juga telah cuba membuat penyesuaian di antara Syariah Islam dan falsafah Yunani.

‏اِبنُ زَهرٍ (تُوُفِّيَ 1162 م)‏
‏طَبِيبٌ عَرَبِيٌّ أَندَلُسِيٌّ، حَارَبَ الشَّعوَذَةَ وَالخُرَافَاتِ فِي الطِّبِّ، أَلَّفَ العَدِيدَ مِن الكُتُبِ المُتَخَصِّصَةِ فِي الطِّبِّ وَالَّتِي كَانَت لَهَا أَهَمِّيَّةٌ كُبرَى حَتَّى نِهَايَةِ القَرنِ السَّابِعَ عَشَرَ.‏

Ibnu Zahru (meninggal dunia pada tahun 1162 Masehi) : Seorang dokter berbangsa Arab dari Andalusia. Beliau mencoba mengelakkan perobatan secara sihir dan perkara-perkara karut. Beliau juga banyak mengarang buku-buku perobatan yang banyak memainkan peranan penting hingga akhir kurun ketujuh belas.

‏اِبنُ زَيدُونَ (1004-1071 م)‏
‏وَزِيرٌ أَندَلُسِيٌّ، كَاتِبٌ وَشَاعِرٌ كَانَ يُسَمَّى بِبُحتُرِي المَغرِبِ حَيثُ اِمتَازَ أُسلُوبُهُ بِالرِّقَّةِ وَالعُذُوبَةِ وَحُسنِ التَّشبِيهِ.‏

Ibnu Zaidun (1004 - 1071 Masehi) : Menteri Andalusia, penulis dan penyair yang dinamakan dengan, “Buhturi di Barat”, di mana gaya bahasa beliau termasyhur dengan kelembutan, indah didengar dan perumpamaan yang indah.

‏اِبنُ سَعدٍ الزَّهرِيُّ (784-845 م)‏
‏مُحَدِّثٌ وَمُؤَرِّخٌ مُسلِمٌ، صَاحِبُ كِتَابِ “الطَّبَقَاتِ الكُبرَى” فِي طَبَقَاتِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ.‏

Ibnu Sa’du az-Zahri (784 - 845 Masehi) : Ahli hadis dan ahli sejarah beragama Islam, pengarang kitab “Al-Tabaqat Al-Kubra” yang membincangkan tentang peringkat-peringkat sahabat dan tabiin.

‏اِبنُ سِيرِينَ (تُوُفِّيَ 729 م)‏
‏إِمَامُ وَقتِهِ فِي عُلُومِ الدِّينِ، اِشتَهَرَ بِالوَرَعِ وَتَفسِيرِ الرُّؤيَا، مِن كُتُبِهِ “تَعبِيرُ الرُّؤيَا” فِي تَفسِيرِ الأَحلَامِ.‏

Ibnu Sirin (meninggal dunia pada tahun 729 Masehi) : Seorang imam di dalam ilmu-ilmu agama pada zaman beliau yang terkenal dengan kewarakan dan tafsir mimpi. Di antara karangan-karangan beliau ialah “Ta’bir Ar-Rukya” yang membicarakan tentang tafsir mimpi.

‏اِبنُ سِينَا (980-1037 م)‏
‏مِن أَكبَرِ الأَطِبَّاءِ وَالفَلَاسِفَةِ فِي تَارِيخِ الإِسلَامِ، تَجَاوَزَت مُصَنَّفَاتُهُ المِائَةَ، مِن أَشهَرِهَا كِتَابُ “القَانُون” فِي الطِّبِّ وَ “الشِّفَاءُ” فِي الفَلسَفَةِ.‏

Ibnu Sina (980-1037 Masehi) : Salah seorang di antara dokter-dokter dan ahli-ahli filsafat yang terkemuka di dalam sejarah Islam. Karangan-karangan beliau melebihi seratus buah buku, di antara karangannya yang termasyhur ialah buku “Al-Qanun” dalam bidang kedoktoran dan “Al-Shifa’” dalam bidang falsafah.

‏اِبنُ طُفَيلٍ (1100-1185 م)‏
‏عَالِمٌ مَوسُوعِيٌّ أَندَلُسِيٌّ، كَانَ طَبِيبًا وَفَيلَسُوفًا وَفَلَكِيًّا وَشَاعِرًا، لَهُ قِصَّةُ “حَيِّ بنِ يَقظَانَ” وَالَّتِي حَاوَلَ فِيهَا التَّوفِيقَ بَينَ الفَلسَفَةِ وَالدِّينِ.‏

Ibnu Tufail (1100-1185 Masehi) : Seorang pakar ensiklopedia dari Andalusia, dokter, ahli filsafat, ahli astronomi dan penyair. Beliau telah menulis kisah “Hayyu bin Yaqzan” di mana melaluinya beliau coba membuat penyesuaian di antara falsafah dan agama.

‏اِبنُ عِذَارِيٍّ (تُوُفِّيَ 1320 م)‏
‏مُؤَرِّخٌ عَرَبِيٌّ مَغرِبِيٌّ، أَلَّفَ العَدِيدَ مِن الكُتُبِ، لَكِنَّهُ اِشتَهَرَ بِكِتَابِهِ “البَيَانُ المُغرٍبُ فِي أَخبَارِ مُلُوكِ الأَندَلُسِ وَالمَغرِبِ. “‏

Ibnu Izari (meninggal dunia pada tahun 1320 Masehi) : Ahli sejarah berbangsa Arab yang tinggal di Morocco (Maghribi). Beliau telah banyak mengarang buku tetapi lebih terkenal melalui bukunya “Al-Bayan Al-Mugharrab Fi Akhbar Muluk Al-Andalus Wa Al-Maghrib”.

‏اِبنُ عَسَاكِرَ (1105-1175 م)‏
‏مِن أَئِمَّةِ الحَدِيثِ فِي عَصرِهِ، مُؤَرِّخٌ عَرَبِيٌّ، كَانَ مَشهُورًا بِلَقَبِ “الحَافِظِ بنِ عَسَاكِرَ”، أَلَّفَ العَدِيدَ مِن الكُتُبِ مِن أَهَمِّهَا “تَارِيخُ دِمَشقَ الكَبِيرِ.”‏

Ibnu Asakir (1105-1175 Masehi) : Salah seorang pakar hadis pada zaman beliau dan juga ahli sejarah berbangsa Arab yang terkenal dengan panggilan “Al-Hafiz bin Asakir”. Beliau banyak mengarang buku dan di antara yang terkenalnya ialah “Tarikh Dimasyq Al-Kabir”.

‏اِبنُ عَقِيلٍ (1298-1367 م)‏
‏نَحوِيٌّ مِصرِيٌّ، مِن أَئِمَّةِ النُّحَاةِ، أَشهَرُ مُؤَلَّفَاتِهِ “شَرحُ أَلفِيَّةِ اِبنِ مَالِكٍ “‏

Ibnu Aqil (1298-1367 Masehi) : Ahli nahwu dari Mesir dan salah seorang di antara pakar-pakar nahwu bahasa Arab. Karangan beliau yang paling termasyhur ialah, “Syarhu Alfiah Ibnu Malik”.

‏اِبنُ قَيِّم الجَوزِيَّة (تُوُفِّيَ 1350 م)‏
‏فَقِيهٌ حَنبَلِيٌّ دِمَشقِيٌّ، قَاوَمَ الفَلَاسِفَةَ، مُؤَلَّفَاتُهُ كَثِيرَةٌ وَمِنهَا “مَدَارِجُ السَّالِكِينَ. “‏

Ibnu Qayyim al-Jauziah (meninggal dunia pada tahun 1350 Masehi) : Seorang yang faqih dalam mazhab Hambali dari Damsyik, yang menentang dan mengkritik metodologi ahli falsafah. Karangan-karangan beliau adalah banyak, di antaranya “Madarij As-Salikin”.

اِبنُ كَثِيرٍ (1300-1372 م)‏
‏حَافِظٌ وَمُؤَرِّخٌ فَقِيهٌ دِمَشقِيٌّ، صَنَّفَ أَكثَرَ مِن أَحَدَ عَشَرَ كِتَابًا، أَغلَبُ تِلكَ الكُتُبِ مُكَوَّنَةٌ مِن عَدَدٍ مِن الأَجزَاءِ، مِن أَشهَرِ كُتُبِهِ “البِدَايَةُ وَالنِّهَايَةُ” وَ “تَفسِيرُ القُرآنِ العَظِيمِ” مِن أَربَعَةِ أَجزَاءَ.‏

Ibnu Katsir (1300- 1327 Masehi) : Seorang hafiz (penghafaz hadis), ahli sejarah dan seorang yang fakih dari Damaskus. Beliau telah mengarang lebih dari sebelas buah buku dan kebanyakannya terdiri dari beberapa juz. Di antara buku-buku beliau yang termasyhur ialah, “Al-Bidayah Wa An-Nihayah” dan “Tafsir Al-Quran Al-Azim” dalam empat jilid.

‏اِبنُ مَاجِدٍ (تُوُفِّيَ 1498 م)‏
‏بَحَّارٌ وَمَلَّاحٌ عَرَبِيٌّ، قَادَ فَاسكُو دَا جَامَا مِن سَوَاحِلِ إِفرِيقيَا الشَّرقِيَّةِ إِلَى سَوَاحِلِ الهِندِ، تَرَكَ نَحوَ عِشرِينَ مُؤَلَّفًا فِي عِلمِ الإِبحَارِ.‏

Ibnu Majid (meninggal dunia pada tahun 1498 Masehi) : Nakoda kapal serta jurumudi berbangsa Arab, yang mengemudikan kapal Vasco da Gama ketika belayar dari persisiran pantai Afrika Timur hingga ke persisiran pantai India. Beliau menghasilkan lebih kurang 20 karangan tentang ilmu yang berkaitan dengan perkapalan (mengembara melalui lautan).

‏اِبنُ مَالِكٍ (1204-1274 م)‏
‏لُغَوِيٌّ أَندَلُسِيٌّ مَشهُورٌ، كَانَ إِمَامًا فِي القِرَاءَاتِ وَالنَّحوِ، نَظَمَ العَدِيدَ مِن القَصَائِدِ مِن أَشهَرِهَا القَصِيدَةُ المَعرُوفَةُ بِاسمِ “أَلفِيَّةِ بنِ مَالِكٍ” حَيثُ لَخَّصَ فِيهَا قَوَاعِدَ النَّحوِ العَرَبِيَّةَ فِي أَلفِ بَيتٍ.‏

Ibnu Malik (1204 - 1274 Masehi) : Pakar bahasa yang termasyhur berasal dari Andalusia. Beliau pernah menjadi pakar rujukan di dalam ilmu qiraat dan nahwu. Beliau telah menyusun beberapa antologi syair di mana yang termasyhurnya ialah antologi yang terkenal dengan nama “Alfiah bin Malik”. Antologi tersebut memuatkan sebanyak seribu bait ringkasan kaedah bahasa Arab.

‏اِبنُ مَنظُورٍ (1232-1311 م)‏
‏لُغَوِيٍّ مِصرِيٌّ، وَضَعَ مُعجَمًا ضَخمًا دَعَاهُ “لِسَانَ العَرَبِ”، كَانَ مُغرَمًا بِتَلخِيصِ الكُتُبِ الكَبِيرَةِ بِحَيثُ تَدُلُّ عَلَى أُصُولِهَا وَتَكَادُ تَتَغَنَّى بِهَا، لَخَّصَ أَكثَرَ مِن أَحَدَ عَشَرَ كِتَابًا.‏

Ibnu Manzur (1232 - 1311 Masehi) : Pakar bahasa yang berasal dari Mesir. Beliau adalah pengarang mu’jam (kamus) yang sangat besar bernama “Lisan Al-Arab” [Dialek Arab] - Kamus Lengkap Bahasa Arab. Beliau sangat suka mengarang kitab-kitab yang besar, jika diperhatikan kepada isi kandungan dan maksud kitab tersebut. Beliau pernah mengarang lebih dari sebelas buah kitab.

‏اِبنُ يُونُسَ (تُوُفِّيَ 1009 م)‏
‏فَلَكِيٌّ مِصرِيٌّ، مِن أَكبَرِ عُلَمَاءِ الفَلَكِ العَرَبِ، اِبتَدَعَ العَدِيدَ مِن القَوَانِينَ وَالمُعَادَلَاتِ الَّتِي كَانَ لَهَا أَكبَرُ الأَثَرِ فِي اِكتِشَافِ اللُّوغَارِيتمات، اِختَرَعَ بَندُولَ السَّاعَةِ. تُرجِمَت بَعضُ كُتُبِهِ إِلَى الفِرِنسِيَّةِ، وَعُنِيَ بِمُؤَلَّفَاتِهِ فَلَكِيُّو الصِّينِ.‏

Ibnu Yunus (meninggal dunia pada tahun 1009 Masehi) : Seorang ahli astronomi yang berasal dari Mesir, yang juga merupakan di antara pakar-pakar astronomi berbangsa Arab yang terkenal. Beliau telah menciptakan berbagai hukum (kaedah) dan persamaan yang sangat memberi kesan terhadap penemuan logaritma. Beliau juga telah mencipta bandul jam. Sesetengah buku-buku beliau telah diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis dan di antara karangan-karangan tersebut juga telah mendapat perhatian para ahli astronomi dari China.

‏الأَصمَعِيُّ (740-831 م)‏
‏رَاوِيَةُ العَرَبِ وَأَحَدُ أَئِمَّةِ العِلمِ فِيهِم، لُغَوِيٌّ عَرَبِيٌّ شَهِيرٌ، مُعَلِّمُ الخَلِيفَةِ الأَمِينِ، صَنَّفَ أَكثَرَ مِن خَمسَةَ عَشَرَ كِتَابًا مِن أَهَمِّهَا “الأَصمَعِيَّاتُ” فِي رِوَايَةِ أَشعَارِ العَرَبِ.‏

Al-Asma’ie (740-831 Masehi) : Seorang perawi dan di antara salah seorang alim ulama Arab. Pakar bahasa Arab yang termasyhur dan guru kepada Khalifah al-Amin. Beliau telah mengarang lebih dari lima belas buah buku, antara yang terpentingnya ialah, “Al-Asma’iyyat” yang menghimpunkan syair-syair berbahasa Arab.

‏الإِمَامُ أَبُو حَنِيفَةَ النُّعمَان (699-767 م)‏
‏مِن أَعظَمِ فُقَهَاءِ الإِسلَامِ، كَانَ فَقِيهَ العِرَاقِ، صَاحِبُ المَذهَبِ الحَنَفِيِّ أَحَدِ المَذَاهِبِ الفِقهِيَّةِ الأَربَعَةِ.‏

Imam Abu Hanifah an-Nu’man (699-767 Masehi) : Salah seorang dari ulama fiqh Islam yang terkenal dan merupakan penasehat agama di Iraq. Pengasas mazhab Hanafi, salah satu dari empat mazhab fiqh.

‏الإِمَامُ أَحمَدُ بنُ حَنبَلٍ (ت 780-855 م)‏
‏مِن أَعظَمِ فُقَهَاءِ الإِسلَامِ، إِمَامُ أَهلِ الحَدِيثِ فِي عَصرِهِ، صَاحِبُ المَذهَبِ الحَنبَلِيِّ، أَحَدِ المَذَاهِبِ الفِقهِيَّةِ الأَربَعَةِ.‏

Imam Ahmad bin Hambal (780-855 Masehi) : Salah seorang dari ulama fiqhh Islam yang terkenal dan merupakan ketua ahli hadis pada zaman beliau. Pengasas mazhab Hambali, iaitu salah satu dari empat mazhab fiqh.

‏الإِمَامُ الأَوزَاعِيُّ (تُوُفِّيَ 707-774 م)‏
‏مِن أَئِمَّةِ الفِقهِ الإِسلَامِيِّ، لَهُ مَذهَب فِقهِيٌّ مَعرُوفٌ كَانَ مُنتَشِرًا فِي بِلَادِ الشَّامِ، إِمَامُ الدِّيَارِ الشَّامِيَّةِ فِي الفِقهِ وَالزُّهدِ، مِن أَكَابِرِ المُحَدِّثِينَ.‏

Imam Al-Auza’ie (707-774 Masehi) : Salah seorang daripada ulama fiqh Islam. Pengasas mazhab fiqh yang diketahui tersebar di negeri Syam. Orang yang paling alim dalam bidang fiqh di Syam dan terkenal dengan kezuhudan dan beliau juga tergolong dari kalangan ulama muhaddisin yang terkenal.

‏الإِمَامُ الشَّافِعِيُّ (767-819 م)‏
‏أَحَدُ الأَئِمَّةِ اَلأَربَعَةِ الكِبَارِ، لَازَمَ الإِمَامَ مَالِكًا فِي المَدِينَةِ وَدَرَسَ عَلَيهِ، يُنسَبُ إِلَيهِ المَذهَبُ الشَّافِعِيُّ أَحَدُ المَذَاهِبِ الفِقهِيَّةِ الأَربَعَةِ، لَهُ العَدِيدُ مِن المُصَنَّفَاتِ وَمِن آثَارِهِ كِتَابُ “الأُمِّ. “‏

Imam asy-Syafi'i (767-819 Masehi) : Salah seorang dari empat orang imam Ahli Sunnah yang terkenal. Beliau selalu mengunjungi Imam Malik di Madinah dan belajar daripadanya. Mazhab Syafie dinisbahkan kepada beliau, di mana Mazhab tersebut adalah salah satu dari empat mazhab fiqh. Beliau mempunyai beberapa karangan dan di antara yang paling terkenal ialah, kitabnya “Al-Umm”.

‏الإِمَامُ مَالِكُ بنُ أَنَسٍ (712-795 م)‏
‏يُنسَبُ إِلَيهِ المَذهَبُ المَالِكِيُّ، أَحَدُ المَذَاهِبِ الفِقهِيَّةِ الأَربَعَةِ، مِن آثَارِهِ “المُوَطَّأُ”، أَوَّلُ كِتَابٍ ظَهَرَ فِي الفِقهِ الإِسلَامِيِّ.‏

Imam Malik bin Anas (712-795 Masehi) : Pengasas mazhab Maliki, salah satu dari empat mazhab fiqh. Di antara karangan beliau ialah, “Al-Muwattak”, kitab pertama yang dikeluarkan di dalam fiqh Islam.

‏الاِصطَخرِيُّ (تُوُفِّيَ 957 م)‏
‏رَحَّالَة مُسلِمٌ، مِن عُلَمَاءِ الجُغرَافِيَا المَشهُورِينَ، طَافَ بِلَادَ العَرَبِ وَبَعضَ بِلَادِ الهِندِ، اِستَعَانَ بِمُؤَلَّفَاتِ أَبِي زَيدٍ البَلخِيِّ فِي الجُغرَافِيَا، تُرجِمَت أَعمَالُهُ إِلَى كَثِيرٍ مِن اللُّغَاتِ.‏

Al-Istakhri (meninggal dunia pada tahun 957 Masehi) : Seorang pengembara beragama Islam dan salah seorang pakar geografi yang termasyhur. Beliau telah mengembara ke negeri-negeri Arab dan sebagian dari India. Buku-buku geografi karangan Abu Zaid al-Balkhi merupakan rujukan beliau. Hasil-hasil karangan beliau pula telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

‏البَتَّانِيُّ (858-929 م)‏
‏أَبُو عَبدِ اللَّهِ مُحَمَّدٌ، عَالِمُ فَلَكٍ عَرَبِيٌّ، حَدَّدَ طُولَ الفُصُولِ بِدِقَّةٍ، اِشتَهَرَ بِكِتَابِهِ “الزِّيج. “‏

Al-Battani (858-929 Masehi) : Abu Abdullah Muhammad, seorang pakar astronomi berbangsa Arab. Beliau telah menentukan tempo masa setiap musim dengan terperinci dan terkenal dengan bukunya yang bertajuk “Az-Zij”.

‏البُحتُرِيُّ (820-897 م)‏
‏شَاعِرٌ عَرَبِيٌّ عَبَّاسِيٌّ، كَانَ شَاعِرَ المُتَوَكِّلِ، عُرِفَ بِحُسنِ الدِّيبَاجَةِ وَبَرَعَ فِي وَصفِ الطَّبِيعَةِ.‏

Al-Buhturi (820-897 Masehi) : Seorang penyair berbangsa Arab di zaman pemerintahan Abbasiah. Beliau merupakan penyairnya Al-Mutawakkil dan terkenal dengan kata-kata pengantar yang indah dan mahir menggambarkan alam.

‏البُخَارِيُّ (810-870 م)‏
‏عَالِمٌ مُسلِمٌ، مِن كِبَارِ المُحَدِّثِينَ، وَيُعَدُّ كِتَابُهُ “صَحِيحُ البُخَارِيِّ” أَعظَمَ وَأَصَحَّ كُتُبِ الحَدِيثِ عَلَى الإِطلَاقِ.‏

Al-Bukhari (810 - 870 Masehi) : Seorang Ulama Islam. Di antara ahli hadis yang terkenal dan kitab beliau “Sahih Al-Bukhari” dianggap kitab hadis yang paling unggul dan paling sahih.

‏البُوصِيرِيُّ (1213- 1297 م)‏
‏شَاعِرٌ مِصرِيٌّ، اِشتَهَرَ بِقَصَائِدِهِ الَّتِي يَمتَدِحُ فِيهَا الرَّسُولَ (صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ) كَقَصِيدَةِ “البُردَة”، كَانَ مُحَدِّثًا وَخَطَّاطًا مَاهِرًا.‏

Al-Busairi (1213 - 1297 Masehi) : Seorang penyair dari Mesir, terkenal dengan qasidah-qasidah memuji Rasulullah s.a.w seperti qasidah “Al-Burdah”. Beliau adalah seorang ahli hadis penulis khat yang mahir.

‏البَيضَاوِيُّ (تُوُفِّيَ 1286 م)‏
‏أَحَدُ مُفَسِّرِي القُرآنِ، صَنَّفَ العَدِيدَ مِن الكُتُبِ الَّتِي تَتَنَاوَلُ عُلُومَ الدِّينِ مِن أَهَمِّهَا “أَنوَارُ التَّنزِيلِ وَأَسرَارُ التَّأوِيلِ” الَّذِي يَحتَلُّ مَكَانَةً عَظِيمَةً عِندَ أَهلِ السُّنَّةِ.‏

Al-Baidhawi (meninggal dunia pada tahun 1286 Masehi) : Salah seorang pentafsir al-Quran dan banyak mengarang buku-buku berkenaan ilmu agama. Di antara buku yang terkenal ialah, “Anwar At-Tanzil Wa Asrar At-takwil”. Beliau mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi ahli Sunnah.

‏التِّرمِذِيُّ (تُوُفِّيَ 892 م)‏
‏مُحَدِّثٌ مُسلِمٌ، مِن كِبَارِ عُلَمَاءِ الحَدِيثِ، أَلَّفَ العَدِيدَ مِن الكُتُبِ، يُعَدُّ كِتَابُهُ “الجَامِعُ الصَّحِيحُ” مِن أَصَحِّ كُتُبِ الحَدِيثِ السِّتَّةِ.‏

At-Tirmizi (meninggal dunia pada tahun 892 Masehi) : Seorang ahli hadis dan ulama hadis yang terkenal. Beliau telah mengarang beberapa buah buku dan kitab beliau “Al-Jami’ As-Sahih” adalah salah satu di antara enam buah kitab hadis yang besar.

‏الثَّعلَبِيُّ (تُوُفِّيَ 1046 م)‏
‏أَحمَدُ بنُ مُحَمَّدِ بنِ إِبرَاهِيمَ النَّيسَابُورِيُّ، مِن أَئِمَّةِ المُفَسِّرِينَ وَالمُؤَرِّخِينَ، أَلَّفَ أَكثَرَ مِن خَمسِ كُتُبٍ، مِن كُتُبِهِ “العَرَائِسُ فِي قِصَصِ الأَنبِيَاءِ. “‏

Ath-Tha’labi (meninggal dunia pada tahun 1046 Masehi) : Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim An-Naisaburi, di antara ulama pentafsir dan ahli, sejarah yang terkenal. Beliau telah mengarang lebih dari lima buah buku, di antaranya “Al-Arais Fi Qasas Al-Ambia’”.

‏الجَاحِظُ (775-868 م)‏
‏أَدِيبٌ عَبَّاسِيٌّ عَرَبِيٌّ، عُرِفَ بِالظُّرفِ وَالسُّخرِيَةِ البَارِعَةِ، أَلَّفَ أَكثَرَ مِن مِائَتَي كِتَابٍ، مِن أَشهَرِ مُؤَلَّفَاتِهِ “البُخَلَاءُ. “‏

Al-Jahiz (775-868 Masehi) : Seorang sastrawan berbangsa Arab di zaman pemerintahan Abbasiah. Sangat terkenal dengan kebolehan dan kemahiran beliau dalam bidang jenaka dan sindiran. Beliau telah mengarang lebih dari dua ratus buah buku dan di antara yang termasyhurnya ialah “Al-Bukhala’”.

الحَرِيرِيُّ (1054-1122 م)‏
‏أَدِيبٌ وَكَاتِبٌ وَشَاعِرٌ عَرَبِيٌّ، أَشهَرُ مُؤَلَّفَاتِهِ “المَقَامَاتُ. “‏

Al-Hariri (1054-1122 Masehi) : Sasterawan, penulis dan penyair berbangsa Arab. Di antara karangan- karangan beliau yang termasyhur ialah “Al-Maqamat”.

‏الحَسَنُ البَصرِيُّ (642-728 م)‏
‏فَقِيهٌ مُسلِمٌ،إِمَامُ أَهلِ البَصرَةِ، وَحَبرُ الأُمَّةِ فِي زَمَنِهِ، مِن كِبَارِ عُلَمَاءِ الحَدِيثِ وَالكَلَامِ، مَذهَبُهُ يَقُومُ عَلَى التَّصَوُّفِ وَالزُّهدِ.‏

Al-Hasan Al-Basri (642-728 Masehi) : Seorang Islam yang sangat faqih dan pemerintah Basrah. Beliau adalah seorang yang sangat alim pada zamannya malah beliau adalah salah seorang dari ulama-ulama hadis dan teologi (tauhid) yang terkemuka. Mazhabnya banyak menitikberatkan soal-soal tasawuf dan kezuhudan.

‏الحَسَنُ بنُ الهَيثَمِ (965-1040 م)‏
‏مُهَندِسٌ فَلَكِيٌّ وَرِيَاضِيٌّ مُسلِمٌ، أَعظَمُ فِيزيَائِيٍّ فِي العَالَمِ العَرَبِيِّ وَالقُرُونِ الوُسطَى، رَائِدُ عِلمِ البَصَرِيَّاتِ، أَفَادَ العُلَمَاءُ مِن تَصَانِيفِهِ، لَهُ مُؤَلَّفَاتٌ كَثِيرَةٌ فِي تِلكَ العُلُومِ مِن أَشهَرِهَا كِتَابُ “المَنَاظِرِ” فِي البَصَرِيَّاتِ.‏

Al-Hasan bin Al-Haitham (965-1040 Masehi) : Orang-orang barat mengenali beliau dengan nama al-Hazim, seorang ahli falak, ahli astronomi dan ahli matematik beragama Islam. Beliau adalah ahli fisika berbangsa Arab yang terkemuka di sekitar negara-negara Arab pada abad pertengahan. Beliau juga seorang saintis di bidang optik. Saintis-saintis banyak merujuk kepada buku-buku karangan beliau malah buku-buku karangannya dalam bidang tersebut sangat banyak seperti yang termasyhurnya ialah kitab: “Al-Manazir” di bidang sains optik.

‏الخَازِنِيُّ (تُوُفِّيَ 1155 م)‏
‏فَلَكِيٌّ مُهَندِسٌ مُسلِمٌ، مِن آثَارِهِ “مِيزَانُ الحِكمَةِ” الَّذِي تُرجِمَ إِلَى العَدِيدِ مِن اللُّغَاتِ.‏

Al-Khazini (meninggal dunia pada tahun 1155 Masehi) : Seorang ahli astronomi dan ahli falak Islam. Beliau telah mengarang beberapa buah buku, terutamanya buku “Mizan Al-Hikmah” [Neraca Hikmat] yang diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa.

‏الخَطِيبُ البَغدَادِيُّ (1002-1071 م)‏
‏مُؤَرِّخٌ وَمُحَدِّثٌ بَغدَادِيٌّ، لَهُ أَكثَرُ مِن تِسعِ مُصَنَّفَاتٍ، مِن أَشهَرِ كُتُبِهِ “تَارِيخُ بَغدَادَ” فِي أَربَعَةَ عَشَرَ مُجَلَّدًا.‏

Al-Khatib Al-Baghdadi (1002-1071 Masehi) : Seorang ahli sejarah dan ulama Hadis yang berasal dari Baghdad. beliau telah menulis lebih dari sembilan buah buku, di antara yang termasyhurnya ialah buku “Tarikh Baghdad” [Sejarah Baghdad] dalam empat belas jilid.

‏الخَلِيلُ بنُ أَحمَدَ (تُوُفِّيَ 791 م)‏
‏مِن أَئِمَّةِ اللُّغَةِ العَرَبِيَّةِ، وَاضِعُ عِلمِ العَرُوضِ، أَلَّفَ أَوَّلَ مُعجَمٍ أَبجَدِيٍّ عَرَبِيٍّ.‏

Al-Khalil bin Ahmad (meninggal dunia pada tahun 791 Masehi) : Salah seorang pakar bahasa Arab dan pengasas ilmu Arudh. Beliau adalah pengarang mu’jam abjad Arab (AL Ain) yang pertama.

‏الدَّارَ قُطنِيُّ (تُوُفِّي995 م)‏
‏مُحَدِّثٌ مِن أَهلِ بَغدَادَ، إِمَامُ الحَدِيثِ فِي عَصرِهِ وَكَانَ عَالِمًا فِي النَّحوِ وَالقِرَاءَاتِ أَلَّفَ حَوَالَي أَربَعَةِ كُتُبٍ مِن أَشهَرِ تَصَانِيفِهِ “السُّنَنُ “‏

Ad-Daruqutni (meninggal dunia pada tahun 995 Masehi) : Seorang muhaddis yang berasal dari Baghdad. Beliau juga seorang ulama hadis pada zamannya dan seorang yang alim dalam masalah nahwu dan qiraat. Beliau telah mengarang lebih kurang empat buah buku, di antara yang termasyhurnya ialah buku “As-Sunan” salah sebuah bukunya yang besar.

‏الدَّارِمِيُّ (تُوُفِّيَ 869 م)‏
‏مِن أَعلَامِ المُحَدِّثِينَ، مِن تَلَامِيذِهِ الإِمَامُ مُسلِمٌ وَأَبُو دَاوُدَ وَاَلتِّرمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ، تَوَلَّى قَضَاءَ سَمَرقَندَ لِفَترَةٍ، كِتَابُهُ “سُنَنُ الدَّارِمِيِّ” مِن أَصَحِّ كُتُبِ الحَدِيثِ.‏

Ad-Darimi (meninggal dunia pada tahun 869 Masehi) : Salah seorang muhaddis yang terkemuka. Di antara murid-muridnya ialah Imam Muslim, Abu Daud, At-Tirmizi dan An-Nasa’ie. Beliau pernah menjadi pemerintah Samarkand. Kitabnya “Sunan Ad-Darimi” adalah termasuk di dalam enam buah kitab hadis yang terkemuka.

‏الزَّمَخشَرِيُّ (1075-1144 م)‏
‏أَحَدُ أَئِمَّةِ اللُّغَةِ وَالنَّحوِ وَالتَّفسِيرِ فِي تَارِيخِ الإِسلَامِ، صَنَّفَ أَكثَرَ مِن عَشرِ كُتُبٍ مِن أَشهَرِهَا “الكَشَّافُ” فِي تَفسِيرِ القُرآنِ.‏

Az-Zamakhsyari (1075-1144 Masehi) : Salah seorang dari pakar bahasa, nahwu dan tafsir di dalam sejarah Islam. Beliau telah mengarang lebih dari sepuluh buah kitab, di antara yang termasyhurnya ialah kitab tafsir al-Quran yang bernama “Al-Kasyaf”.

‏الشَّيبَانِيُّ (تُوُفِّيَ 821 م)‏
‏لُغَوِيٌّ كُوفِيٌّ وَعَالِمٌ بِلَهَجَاتِ العَرَبِ، لَهُ العَدِيدُ مِن الكُتُبِ الَّتِي عَوَّلَ عَلَيهَا عُلَمَاءُ مَذهَبِ الحَنَفِيَّةِ شَرحًا وَتَعلِيقًا.‏

Asy-Syaibani (meninggal dunia pada tahun 821 Masehi) : Seorang pakar bahasa dari pusat pengajian Kufi (Kufah). Beliau telah mengarang beberapa buah kitab yang menjadi panduan ulama-ulama mazhab Hanafi.

‏الشَّيخُ عَلِيُّ يُوسُفُ (1863-1913 م)‏
‏صَحَفِيٌّ مِصرِيٌّ، أَنشَأَ عِدَّةَ مَجَلَّاتٍ ذَاتَ تَأثِيرٍ سِيَاسِيٍّ كَبِيرٍ، عُرِفَ بِ”شَيخِ الصَّحَافَةِ الإِسلَامِيَّةِ. “‏

Ali Yusuf (1863-1913 Masehi) : Seorang wartawan Mesir. Beliau mengasaskan beberapa buah majalah politik yang mempunyai pengaruh besar sehingga beliau digelar sebagai “Tokoh Wartawan Islam”.

‏الشَّيخُ مُحَمَّد عَبدُهُ (1849-1905 م)‏
‏سِيَاسِيٌّ مِصرِيٌّ، مِن عُلَمَاءِ المُسلِمِينَ الدَّاعِينَ إِلَى التَّجدِيدِ وَالإِصلَاحِ، عَمِلَ مَفتِيًا لِلدِّيَارِ المِصرِيَّةِ، وَاشتَغَلَ بِالتَّدرِيسِ وَالتَّألِيفِ.‏

Muhammad Abduh (1849-1905 Masehi) : Seorang ahli politik Mesir. Beliau adalah salah seorang dari ulama-ulama Islam yang menyeru ke arah reformasi dan renovasi. Beliau pernah menjadi mufti Mesir serta senantiasa mengajar dan mengarang.

‏الصَّاحِبُ بنُ عَبَّادٍ (938-995 م)‏
‏أَدِيبٌ وَلُغَوِيٌّ وَشَاعِرٌ، مِن كِبَارِ الوُزَرَاءِ البُوَيهِيِّينَ، مِن كُتُبِهِ “المُحِيطُ” وَهُوَ مُعجَمٌ لُغَوِيٌّ فِي سَبعَةِ مُجَلَّدَاتٍ.‏

As-Sahib bin Abbad (938-995 Masehi) : Seorang sastrawan, ahli bahasa dan penyair yang terkemuka. Beliau adalah salah seorang menteri Buwaihi yang memegang jabatan penting. Beliau telah mengarang beberapa buah kitab, di antaranya ialah kamus bahasa yang bernama “Al-Muhit” dalam tujuh jilid.

‏الفَرَّاءُ (761-822 م)‏
‏إِمَامُ الكُوفِيِّينَ فِي النَّحوِ وَأَعلَمُهُم بِاللُّغَةِ وَفُنُونِ الأَدَبِ، صَنَّفَ العَدِيدَ مِن الكُتُبِ مِنهَا كِتَابُ “مَعَانِي القُرآنِ. “‏

Al-Farra’ (761-822 Masehi) : Salah seorang pakar nahwu di pusat pengajian Kufi (Kufah) malah beliau adalah orang yang paling mahir di antara mereka tentang bahasa dan kesenian kesusasteraan pada masa tersebut. Beliau telah mengarang beberapa buah buku, di antaranya buku “Ma’ani Al-Quran” [Pengertian al-Quran].

‏الفَرَزدَقُ (تُوُفِّيَ 729 م)‏
‏شَاعِرٌ عَرَبِيٌّ أُمَوِيٌّ، اِشتَهَرَ أُسلُوبُهُ بِالهِجَاءِ اللَّاذِعِ، نَشَأَ بَينَهُ وَبَينَ خَصمَيهِ جَرِير وَالأَخطَلِ مَعرَكَةُ الهِجَاءِ حَتَّى عُرِفُوا بِالمُثَلَّثِ الأُمَوِيِّ.‏

Al-Farazdaq (meninggal dunia pada tahun 729 Masehi) : Penyair Arab dari kerajaan Umaiyyah. Gayanya masyhur dengan sindiran yang pedas. Beliau pernah mengambil bahagian di dalam melawan dua orang penyair terkenal Jarir dan al-Akhtal sehingga mereka terkenal dengan gelaran “Tiga penjuru kerajaan Umaiyyah”.

‏الفَيرُوزآبَادِيُّ (1329-1415 م)‏
‏مِن أَئِمَّةِ اللُّغَةِ وَالأَدَبِ، وَلِيَ قَضَاءَ زُبَيدَ، أَشهَرُ آثَارِهِ “القَامُوسُ المُحِيطُ. “‏

Al-Fairuzabadi (1329-1415 Masehi) : Salah seorang pakar bahasa dan sastrawan yang terkemuka dan beliau pernah menjadi pemerintah Zabid. Beliau banyak menulis buku-buku, di antara yang termasyhurnya ialah “Al-Qamus Al-Muhit” [Kamus Muhit].

‏الكِسَائِيُّ (تُوُفِّيَ 805 م)‏
‏نَحوِيٌّ كُوفِيٌّ، أَحَدُ القُرَّاءِ السَّبعَةِ، مُؤَدِّبُ الرَّشِيدِ وَالأَمِينِ، أَلَّفَ أَكثَرَ مِن عِشرِينَ كِتَابًا فِي النَّحوِ وَالقِرَاءَةِ.‏

Al-Kisa’ie (meninggal dunia pada tahun 805 Masehi) : Seorang ahli nahwu dari pusat pengajian Kufi (Kufah). Beliau adalah salah seorang dari tujuh orang yang membaca al-Quran dalam bentuk yang berbeda tetapi benar. Beliau adalah gurunya Khalifah Harun ar-Rasyid dan Khalifah al-Ma’mun. Beliau telah mengarang lebih dari dua puluh buah kitab tentang nahu bahasa Arab dan bentuk bacaan al-Quran.

‏الكِندِيُّ (796-873 م)‏
‏مِن كِبَارِ فَلَاسِفَةِ العَرَبِ، عُنِيَ بِالرِّيَاضِيَّاتِ وَالمَنطِقِ وَالعُلُومِ الطَّبِيعِيَّةِ وَالفَلَكِ وَالمُوسِيقَى وَالفَلسَفَةِ، لَهُ كُتُبٌ كَثِيرَةٌ فِي شَتَّى فُرُوعِ المَعرِفَةِ.‏

Al-Kindi (796 - 873 Masehi) : Salah seorang dari ahli filsafat Arab yang terkemuka. Beliau dikenali dengan minatnya terhadap ilmu matematik, mantiq, sains fisika, astronomi, musik dan falsafah. Beliau telah mengarang beberapa buah kitab di dalam pelbagai bidang ilmu.

‏المَاتُرِيدِيُّ (توفي 944 م)‏
‏فَقِيهٌ حَنَفِيٌّ، مِن أَئِمَّةِ عِلمِ التَّوحِيدِ وَالتَّفسِيرِ وَأُصُولِ الفِقهِ، تُنسَبُ إِلَيهِ المَدرَسَةُ المَاتُرِيدِيَّةُ فِي عِلمِ الكَلَامِ لَهُ أَكثَرُ مِن سَبعِ مُؤَلَّفَاتٍ.‏

Al-Matiridi (meninggal dunia pada tahun 944 Masehi) : Seorang yang faqih di dalam mazhab Hanafi. Beliau adalah salah seorang dari pakar-pakar ilmu tauhid, tafsir dan usul fiqh. Beliau merupakan pengasas sekolah khusus dalam bidang tauhid “Sekolah Al-Maturidiah” dan beliau telah mengarang lebih dari tujuh buah buku.

‏المُبَرٍّدُ (826-898 م)‏
‏مِن أَئِمَّةِ النَّحوِ بِالبَصرَةِ، أَحَدُ الأَئِمَّةِ فِي الأَدَبِ وَالأَخبَارِ، أَلَّفَ أَكثَرَ مِن سَبعِ كُتُبٍ أَهَمُّ مُؤَلَّفَاتِهِ “الكَامِلُ. “‏

Al-Mubarrad (826-898 Masehi) : Salah seorang dari pakar-pakar nahwu dari pusat pengajian Basrah. Beliau adalah salah seorang pakar di dalam sastra Arab. Beliau telah mengarang lebih da
ri tujuh buah buku, di antara yang terpentingnya ialah “Al-Kamil” [Yang Lengkap].

المُقرِيُّ (تُوُفِّيَ 1631 م)‏
‏مُؤَرِّخٌ مِن أَهلِ تِلِمسَانَ، تُوُفِّيَ بِمِصرَ، مِن مُؤَلَّفَاتِهِ الكَثِيرَةِ “نَفحُ الطِّيبِ مِن غُصنِ الأَندَلُسِ الرَّطِيبِ. “‏

Al-Muqarri (meninggal dunia pada tahun 1631 Masehi) : Seorang ahli sejarah yang berasal dari Tilmisan tetapi meninggal dunia di Mesir. Beliau telah mengarang beberapa buah buku dan yang terpentingnya ialah “Nafhu At-Tayyibi Min Ghusni Al-Andalusi Al-Ratibi”.

‏المَقرِيزِيُّ (1364-1441 م)‏
‏مُؤَرِّخٌ مِصرِيٌّ، وُلِدَ بِالقَاهِرَةِ وَتَوَلَّى القَضَاءَ فِيهَا، مِن أَهَمِّ كُتُبِهِ “النُّقُودُ الإِسلَامِيَّةُ القَدِيمَةُ”، تَرجَمَ إِلَى اللَّاتِينِيَّةِ.‏

Al-Maqrizi (1364-1441 Masehi) : Seorang ahli sejarah Mesir yang dilahirkan di Cairo dan menjadi pemerintah di sana. Beliau telah mengarang beberapa buah buku, yang terpentingnya ialah buku “An-Nuqud Al-Islamiah Al-Qadimah” (Mata uang Lama Islam) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.

‏النَّسَائِيُّ (تُوُفِّيَ 915 م)‏
‏أَحَدُ الأَئِمَّةِ الحُفَّاظِ، شَافِعِيُّ المَذهَبِ، يُعَدُّ كِتَابُهُ “السُّنَنُ الكُبرَى” مِن كُتُبِ الحَدِيثِ المُعتَمَدَةِ.‏

Al-Nasa’ie (meninggal dunia pada tahun 915 Masehi) : Salah seorang dari penghafal hadis terkemuka dari mazhab Syafie yang berasal dari Khurasan. Kitabnya “As-Sunan Al-Kubra” [Sunan Yang Besar] adalah terdiri dari enam buah kitab hadis yang menjadi rujukan terpercaya.

‏النَّفرِيُّ (تُوُفِّيَ 965 م)‏
‏صُوفِيٌّ عِرَاقِيٌّ، اِشتَهَرَ بِكِتَابَيهِ “المَوَاقِفِ” وَ”المُخَاطَبَاتِ” فِي التَّصَوُّفِ.‏

Al-Nafri (meninggal dunia pada tahun 965 Masehi) : Seorang penulis Sufi Iraq yang terkenal dengan dua buah kitabnya “Al-Mawaqif” dan “Al-Mukhatabat” tentang tasawuf.

‏الوَاقِدِيُّ (747-822 م)‏
‏مِن أَقدَمِ المُؤَرِّخِينَ فِي الإِسلَامِ، كَانَ قَاضِيًا عَلَى بَغدَادَ، مِن مُؤَلَّفَاتِهِ “فَتحُ إِفرِيقِيَّةَ. “‏

Al-Waqidi (meninggal dunia pada tahun 747-822 Masehi) : Salah seorang dari pakar sejarah yang terkemuka di dalam sejarah Islam. Beliau pernah menjadi pemerintah di Baghdad. Di antara buku yang telah beliau karang ialah “Fathu Afriqiah” [Pembukaan Afrika].

‏بَدِيعُ الزَّمَانِ الهَمَذَانِيُّ (تُوُفِّيَ 1007 م)‏
‏كَاتِبٌ وَشَاعِرٌ عَرَبِيٌّ، مُؤَسِّسُ فَنِّ المَقَامَاتِ فِي الأَدَبِ العَرَبِيِّ، اِشتَهَرَ بِمَدحِ الأُمَرَاءِ وَالوُزَرَاءِ.‏

Badi’ az-Zaman al-Hamazani (698-1007 Masehi) : Seorang penulis dan penyair berbangsa Arab. Beliau merupakan pengasas kesenian berkutbah atau pengucapan dalam kebudayaan Arab dan sangat termasyhur dengan pujian terhadap para pemerintah dan menteri.

‏جَابِرُ بنُ حَيَّان (تُوُفِّيَ 815 م)‏
‏فَيلَسُوفٌ وَكِيميَائِيٌّ مُسلِمٌ، يُعتَبَرُ “أَبَا الكِيميَاءِ العَرَبِيَّةِ”، لَهُ مِئَاتُ المُؤَلَّفَاتِ فِي الكِيميَاءِ، تُرجِمَ مُعظَمُهَا إِلَى اللَّاتِينِيَّةِ وَاعتَمَدَ عَلَيهَا عُلَمَاءُ الغَربِ.‏

Jabir bin Hayyan (meninggal dunia pada tahun 815 Masehi) : Seorang ahli filsafat dan ahli kimia yang beragama Islam. Beliau dianggap “Bapak kimia Arab”. Beliau mempunyai beratus-ratus karang dalam bidang kimia, kebanyakannya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin serta diakui oleh para saintis barat.

‏جَرِيرٌ (653-733 م)‏
‏شَاعِرٌ عَرَبِيٌّ أُمَوِيٌّ، اِشتَهَرَ بِهِجَاءِ خَصمَيهِ الأَخطَلِ وَالفَرَزدَقِ، حَتَّى عُرِفُوا ب “المُثَلَّثِ الأُمَوِيِّ “‏

Jarir (653-733 Masehi) : Seorang penyair berbangsa Arab yang hidup di zaman pemerintahan Umaiyyah. Beliau sangat terkenal dengan syair celaan ketika melawan dua orang penyair terkenal, Al-Akhtal dan Al-Farazdaq, sehingga mereka terkenal dengan gelaran, “Tiga penjuru kerajaan Umaiyyah”.

‏جَلَالُ الدِّينِ السُّيُوطِيُّ (1445-1505 م)‏
‏عَالِمٌ مِصرِيٌّ مَوسُوعِيٌّ، لَهُ نَحوُ 600 مُصَنَّفٍ فِي الفِقهِ وَالتَّفسِيرِ وَالحَدِيثِ وَاللُّغَةِ وَالتَّارِيخِ.‏

Jalaluddin as-Sayuti (1445-1505 Masehi) : Seorang pakar ensiklopedia dari Mesir. Beliau mempunyai kira-kira 600 buah buku dalam bidang fiqh, tafsir, hadis, bahasa dan sejarah.

‏جَمَالُ الدِّينِ الأَفغَانِيُّ (1838-1897 م)‏
‏مُحَمَّدُ بنُ صَفدَرٍ الحُسَينِيُّ، فَيلَسُوفٌ مُسلِمٌ، جَالَ فِي الشَّرقِ وَالغَربِ دَاعِيًا إِلَى الوَحدَةِ الإِسلَامِيَّةِ، أَنشَأَ جَرِيدَةَ “العُروَةِ الوُثقَى”، كَانَ عَارِفًا بِاللُّغَاتِ العَرَبِيَّةِ وَالفَارِسِيَّةِ وَالسِّنسِكرِيتِيَّةِ وَالتُّركِيَةِ وَتَعَلَّمَ الفَرَنسِيَّةَ وَالإِنجِلِيزِيَّةَ وَالرُّوسِيَّةَ. لَهُ “تَارِيخُ الأَفغَانِ” وَ “رِسَالَةٌ فِي الرَّدِّ عَلَى الدَّهرِيِّينَ” تَرجَمَهُمَا إِلَى العَرَبِيَّةِ، تِلمِيذُهُ الشَّيخُ مُحَمَّد عَبدُهُ.‏

Jamaluddin al-Afghani (1838-1897 Masehi) : Beliau adalah Muhammad bin Safdar al-Husaini. Seorang ahli filsafat beragama Islam. Beliau telah menjelajah ke timur dan barat untuk menyeru ke arah perpaduan Islam. Beliau telah mengasaskan akhbar “Al-Urwah Al-Wuthsqa”. Beliau mahir dalam bahasa Arab, Fersi, Sanskrit, Turki dan pernah belajar bahasa Perancis, Inggeris dan Rusia. Beliau mempunyai buku “Tarikh Al-Afghan” dan “Risalah Fi Ar-Raddi Ala Ad-Dahriyyin”. Kedua-duanya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh murid beliau, Syeikh Muhammad Abduh.

‏حَافِظُ إِبرَاهِيم (1872-1932 م)‏
‏شَاعِرٌ مِصرِيٌّ، يُعتَبَرُ أَحَدَ أَبرَزِ شُعَرَاءِ العَرَبِيَّةِ فِي العَصرِ الحَدِيثِ، لُقِّبَ بِشَاعِرِ النِّيلِ.‏

Hafiz Ibrahim (1872-1932 Masehi) : Seorang penyair dari Mesir, salah seorang di antara penyair dalam bahasa Arab yang terkemuka di zaman modern. Terkenal dengan gelaran “Penyair Sungai Nil”.

‏حَسَّانُ بنُ ثَابِتٍ (تُوُفِّيَ 674 م)‏
‏شَاعِرٌ عَرَبِيٌّ مُخَضرَمٌ، كَانَ يَهجُو مَن يَهجُو الرَّسُولَ وَالإِسلَامَ وَلِذَلِكَ يُعتَبَرُ شَاعِرَ الرَّسُولِ.‏

Hassan bin Thabit (meninggal dunia pada tahun 674 Masehi) : Seorang penyair berbangsa Arab yang hidup dua zaman (Jahiliah dan Islam). Beliau mencela sesiapa yang mencela Rasulullah dan agama Islam, oleh itu beliau dianggap penyair Rasulullah s.a.w.

‏رِفَاعَةُ الطَّهطَاوِيُّ (1801-1873 م)‏
‏رِفَاعَةُ رَافِعُ بنُ بَدَوِيٍّ بنِ عَلِيٍّ الطَّهطَاوِيُّ، عَالِمٌ وَصَحَفِيٌّ مِصرِيٌّ، يُعتَبَرُ مِن رُوَّادِ النَّهضَةِ الفِكرِيَّةِ الحَدِيثَةِ فِي مِصرَ، أَنشَأَ جَرِيدَةَ الوَقَائِعِ المِصرِيَّةَ، أَلَّفَ وَتَرجَمَ عَن الفَرَنسِيَّةِ كُتُبًا كَثِيرَةً.‏

Rifa’ah At-Tahtawi (1801-1873 Masehi) : Beliau adalah Rifa’ah Rafi’ bin Badawi bin Ali At-Tahtawi, seorang yang alim dan seorang wartawan yang berasal dari Mesir. Beliau dianggap sebagai salah seorang daripada pelopor kebangkitan pemikiran modern di Mesir. Beliau adalah pengasas akhbar “Al-Waqa’ik Al-Misriyah” [Akhbar Mesir]. Beliau banyak mengarang buku serta menterjemah buku dari bahasa Perancis.

‏زِريَابٌ (تُوُفِّيَ 845 م)‏
‏نَابِغَة مُوسِيقِيٌّ وَشَاعِرٌ، عَارِفٌ بِأَحوَالِ المُلُوكِ وَسِيَرِ الخُلَفَاءِ وَنَوَادِرِ العُلَمَاءِ، هُوَ الَّذِي جَعَلَ فِي العُودِ خَمسَةَ أَوتَارٍ وَهُوَ أَوَّلُ مَن اِستَخدَمَ الكُورَس فِي الغِنَاءِ.‏

Ziryab (meninggal dunia pada tahun 845 Masehi) : Seorang ahli musik dan penyair yang pintar. Beliau sangat peka terhadap hal ihwal Raja-raja, sirah-sirah Khalifah dan ulama-ulama anekdot (ulama yang mempunyai kisah pendek). Beliaulah pencetus ide memasang lima utas tali pada kecapi (gambus) dan beliaulah orang pertama yang menggunakan korus di dalam nyanyian.

‏زَكَرِيَّا القَزوِينِيُّ (1208-1283 م)‏
‏مُؤَرِّخٌ جُغرَافِيٌّ مُسلِمٌ، لَهُ مُصَنَّفَاتٌ فِي عِلمِ الطَّبِيعَةِ وَنَشأَةِ الكَونِ وَالسِّيَاسَةِ وَالتَّارِيخِ.‏

Zakaria Al-Qazwini (1208-1283 Masehi) : Ahli sejarah dan geografi Islam. Beliau banyak mengarang buku-buku yang berkaitan dengan ilmu fisika, ilmu kosmologi (ilmu yang berkaitan dengan pembentukan alam), politik dan sejarah.

‏سِيبَوَيهِ (تُوُفِّيَ 797 م)‏
‏عَالِمٌ نَحوِيٌّ فَارِسِيٌّ، يُعَدُّ مِن أَكبَرِ عُلَمَاءِ النَّحوِ العَرَبِيِّ، وَضَعَ كِتَابًا فِي النَّحوِ يُعرَفُ بِاسمِ (كِتَابِ سِيبَوَيهِ).‏

Sibawaih (meninggal dunia pada tahun 797 Masehi) : Seorang ulama nahwu yang berasal dari Fersi. Beliau adalah salah seorang dari ulama-ulama nahwu Arab yang terkemuka. Beliau telah mengarang kitab nahwu yang dikenali dengan nama “Kitab SiBawaih”.

‏شَمسُ الدِّينِ المَقدِسِيُّ (تُوفِّيَ 990 م)‏
‏جُغرَافِيٌّ وَرَحَّالَة عَرَبِيٌّ، خَاتِمَةُ الجُغرَافِيِّينَ الكِبَارِ، صَاحِبُ “أَحسَنِ التَّقَاسِيمِ فِي مَعرِفَةِ الأَقَالِيمِ. “‏

Syamsuddin Al-Maqdisi (meninggal dunia pada tahun 990 Masehi) : Seorang ahli geografi dan penjelajah Arab. Beliau merupakan orang terakhir dari kalangan ahli-ahli geografi yang terkemuka. Beliau telah mengarang buku “Ahsan At-Taqasim Fi Ma’rifah Al-Aqalim” [Buku Terbaik Untuk Mengetahui Negara].

‏شِهَابُ الدِّينِ الأَلُوسِيُّ (1802-1854 م)‏
‏أَدِيبٌ وَعَالِمُ تَفسِيرٍ عَرَبِيٌّ، صَاحِبُ “رُوحِ المَعَانِي” فِي تَفسِيرِ القُرآنِ الكَرِيمِ.‏

Shihabuddin Al-Alusi (1802-1854 Masehi) : Seorang sastrawan dan ulama tafsir Arab. Beliau telah mengarang kitab “Ruh Al-Ma’ani” tentang tafsir al-Quran.

‏صَفِيُّ الدِّينِ الحِلِّيُّ (1277-1349 م)‏
‏شَاعِرٌ عِرَاقِيٌّ مِن الكِبَارِ، لَهُ دِيوَانُ “دُرَرُ النُّحُورِ”، وَفِيهِ 29 قَصِيدَةً كُلٌّ مِنهَا 29 بَيتًا، تَبدَأُ أَبيَاتُ كُلِّ قَصِيدَةٍ وَتَنتَهِي بِحَرفٍ مِن الحُرُوفِ الهِجَائِيَّةِ المُسَلسَلَةِ.‏

Safiuddin Al-Hiliy (1277-1349 Masehi) : Seorang penyair Iraq yang terkemuka. Beliau telah mengarang beberapa buah himpunan (dewan) syair di antaranya ialah Dewan “Durar An-Nuhur” [Kalung Berlian] yang terdiri dari 29 qasidah. Setiap qasidah mengandung 29 bait syair dan bait syair setiap qasidah tersebut bermula dan berakhir mengikut abjad secara tersusun.

‏عَبَّاسُ بنُ فِرنَاسُ (تُوُفِّيَ 887 م)‏
‏مُختَرِعٌ عَرَبِيٌّ أَندَلُسِيٌّ، أَدخَلَ المُوسِيقَى الشَّرقِيَّةَ إِلَى الأَندَلُسِ، اِستَنبَطَ اَلزُّجَاجَ مِن الحِجَارَةِ، صَنَعَ آلَةً لِحِسَابِ الزَّمَنِ، أَوَّلُ مَن قَامَ بِمُحَاوَلَةٍ لِلطَّيَرَانِ بِرِدَاءٍ مِن رِيشٍ.‏

Abbas bin Firnas (meninggal dunia pada tahun 887 Masehi) : Seorang pencipta Arab yang berasal dari Andalusia. Beliau telah memperkenalkan musik timur di Andalusia. Beliau menghasilkan kaca dari batu dan mencipta mesin untuk menghitung waktu. Beliau adalah orang pertama yang mencoba terbang memakai bulu burung.

عَبَّاس مَحمُود العَقَّاد (1889-1964 م)‏
‏نَاقِدٌ وَصَحَافِيٌّ وَشَاعِرٌ مِصرِيٌّ، مِن المُجَدِّدِينَ، لَهُ سِلسِلَةُ سِيَرِ أَعلَامِ الإِسلَامِ، وَمِنهَا “عَبقَرِيَّةُ مُحَمَّدٍ”، “عَبقَرِيَّةُ عُمَرَ. “‏

Abbas Mahmud Al-Aqqad (1889-1964 Masehi) : Seorang pengulas, wartawan dan penyair Mesir. Beliau adalah terdiri dari orang-orang yang membuat pembaharuan. Beliau telah mengarang buku “Siar A’lam Al-Islam” [Perangkaan Biografi Umat Islam Yang Terkemuka], “Abqariyyah Muhammad” [Kebijaksanaan Muhammad] dan “Abqariyyah Umar” [Kebijaksanaan Umar].

‏عَبدُ الرَّحمَنِ الجَبَرتِي (1754-1822 م)‏
‏مُؤَرِّخٌ مِصرِيٌّ، أَشهَرُ مَن أَرَّخَ لِلحَملَةِ الفَرَنسِيَّةِ عَلَى مِصرَ (1798 م)، تُرجِمَت كُتُبُهُ إِلَى الفَرَنسِيَّةِ.‏

Abdul Rahman Al-Jabarti (1754-1822 Masehi) : Seorang ahli sejarah Mesir yang sangat dikenali dengan catatannya tentang peristiwa Perancis menyerang Mesir pada (1798). Buku-bukunya diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis.

‏عَبدُ الرَّحمَنِ الكَوَاكِبِيُّ (1849-1902 م)‏
‏صَحَافِيٌّ وَأَدِيبٌ سُورِيٌّ، اِشتَهَرَ بِتَحَرُّرِهِ وَدَعوَتِهِ إِلَى النَّهضَةِ وَالإِصلَاحِ.‏

Abdul Rahman Al-Kawakibi (1849-1902 Masehi) : Seorang wartawan dan sastrawan Syria yang sangat dikenali dengan sikap keterbukaan serta seruannya ke arah kesadaran dan perubahan.

‏عَبدُ المَلِكِ بنُ هِشَامٍ (تُوُفِّيَ 828 م)‏
‏مُؤَرِّخٌ مُسلِمٌ عَرَبِيٌّ، أَدِيبٌ ، رَاوِيَةٌ لِلأَشعَارِ، عَالِمٌ بِالأَنسَابِ وَاللُّغَةِ وَالنَّحوِ وَالأَخبَارِ،، صَاحِبُ كِتَابِ “السِّيرَةِ النَّبَوِيَّةِ” المَعرُوفِ بِ “سِيرَةِ اِبنِ هِشَامٍ. “‏

Abdul Malik bin Hisyam (meninggal dunia pada tahun 828 Masehi) : Seorang Islam dari bangsa Arab yang merupakan ahli sejarah, sastrawan, pendeklamasi syair serta seorang yang alim tentang nasab, bahasa dan nahwu bahasa Arab. Beliau telah mengarang buku “As-Sirah An-Nabawiyyah” [Sirah Nabi] yang dikenali dengan “Sirah Ibnu Hisyam”.

‏عِزُّ الدِّينِ بنُ الأَثِيرِ (1160-1233 م)‏
‏إِمَامٌ فِي الحَدِيثِ، وَمُؤَرِّخٌ عَرَبِيٌّ كَبِيرٌ، أَلَّفَ العَدِيدَ مِن الكُتُبِ وَمِن آثَارِهِ “الكَامِلُ” فِي التَّارِيخِ.‏

Izuddin bin Al-Athir (1160-1233 Masehi) : Seorang ulama hadis dan ahli sejarah Arab yang terkemuka. Beliau telah mengarang beberapa buah buku, di antaranya ialah buku sejarah yang bernama:”Al-Kamil” [Yang Lengkap].

‏عَلِيُّ مُبَارَك (1823-1893 م)‏
‏عَالِمٌ مِصرِيٌّ، أَحَدُ أَركَانِ النَّهضَةِ العِلمِيَّةِ فِي مِصرَ، عَمِلَ عَلَى إِنشَاءِ المَطبَعَةِ العَرَبِيَّةِ، وَدَارِ العُلُومِ.‏

Ali Mubarak (1823-1893 Masehi) : Seorang pakar dari Mesir dan salah seorang daripada pakar-pakar terkemuka yang mengasaskan gerakan saintifik di Mesir. Beliau telah berusaha menubumhkan pusat percetakan Arab dan Darul Ulum.

‏عِمَادُ الدِّينِ الكَاتِبُ (العِمَادُ الأَصفَهَانِيُّ) (1125-1200 م)‏
‏مُؤَرِّخٌ مِن أَكَابِرِ الكُتَّابِ، لَازَمَ صَلَاحَ الدِّينِ الأَيُّوبِيَّ وَأَرَّخَ لِأَخبَارِهِ وَحُرُوبِهِ.‏

Imaduddin Al-Katib [Al-Imad Al-Asfahani] (1125-1200 Masehi) : Seorang ahli sejarah dan salah seorang dari penulis-penulis terkemuka. Beliau senantiasa mengiringi Salahuddin dan mencatat sejarahnya serta sejarah peperangannya.

‏فَخرُ الدِّينِ الرَّازِي (1150-1209 م)‏
‏إِمَامٌ مُفَسِّرٌ وَفَيلَسُوفٌ وَطَبِيبٌ ، مِن أَشهَرِ مُفَسِّرِي القُرآنِ، لَهُ عَشَرَاتُ المُؤَلَّفَاتِ بِالعَرَبِيَّةِ وَالفَارِسِيَّةِ، أَهَمُّهَا “مَفَاتِيحُ الغَيبِ” فِي تَفسِيرِ القُرآنِ.‏

Fakhruddin Ar-Razi (1150-1209 Masehi) : Seorang Imam, ahli filsafat dan seorang doktor. Beliau adalah seorang pentafsir al-Quran yang terkemuka. Beliau telah mengarang beberapa buah kitab di dalam bahasa Arab dan Fersi, di antara yang terpentingnya ialah kitab tafsir “Mafatih Al-Ghaib” [Kunci Perkara Yang Ghaib].

‏كَعبُ بنُ زُهَيرٍ (تُوُفِّيَ 647 م)‏
‏مِن شُعَرَاءِ صَدرِ الإِسلَامِ، هَجَا النَّبِيَّ، ثُمَّ أَعلَنَ إِسلَامَهُ وَأَنشَأَ قَصِيدَتَهُ اللَّامِيَّةَ فِي مَدِيحِ النَّبِيِّ.‏

Kaab bin Zuhair (meninggal dunia pada tahun 647 Masehi) : Salah seorang dari penyair zaman kebangkitan Islam. Pada zaman tersebut beliau banyak menghina Nabi tetapi setelah beliau memeluk Islam beliau mencipta syairnya “Al-Lamiah” yang banyak memuji Nabi.

‏مُحَمَّدُ بنُ أَحمَدَ الخُوَارِزمِيُّ (تُوُفِّيَ 997 م)‏
‏عَالِمٌ وَبَاحِثٌ خُرَاسَانِيٌّ مُسلِمٌ، أَوَّلُ مَن أَلَّفَ مَوسُوعَةً بِالعَرَبِيَّةِ أَسمَاهَا “مَفَاتِيحَ العُلُومِ. “‏

Muhammad bin Ahmad Al-Khawarizmi (meninggal dunia pada tahun 997 Masehi) : Seorang saintis Islam dan penyelidik yang berasal dari Khurasan. Beliau adalah orang yang pertama mengarang ensiklopedia di dalam bahasa Arab yang dinamakan dengan “Mafatih Al-UIum” [Kunci Pengetahuan].

‏مُحَمَّدُ بنُ إِسحَاقَ (تُوُفِّيَ 768 م)‏
‏مُؤَرِّخٌ عَرَبِيٌّ، مِن حُفَّاظِ الحَدِيثِ وَكَانَ مِن أَحسَنِ النَّاسِ سَوقًا لِلأَخبَارِ، صَاحِبُ كِتَابِ “السِّيرَةِ النَّبَوِيَّةِ” المَعرُوفِ ب “سِيرَةِ اِبنِ إِسحَاقَ. “‏

Muhammad bin Ishak (meninggal dunia pada tahun 768 Masehi) : Seorang ahli sejarah Arab, salah seorang dari penghafal hadis dan beliau adalah perawi terbaik pada masa tersebut. Beliau telah mengarang kitab “As-Sirah An-Nabawiyyah” [Sirah Nabi] yang dikenali dengan “Sirah Ibnu Ishak”.

‏مُحَمَّدُ بنُ مُوسَى الخُوَارِزمِيُّ (780-850 م)‏
‏يُنعَتُ بِالأُستَاذِ، عَالِمٌ رِيَاضِيٌّ فَلَكِيٌّ جُغرَافِيٌّ مُؤَرِّخٌ عَرَبِيٌّ، يُعتَبَرُ وَاضِعَ عِلمِ الجَبرِ، لَهُ العَدِيدُ مِن الكُتُبِ المُتَرجَمَةِ إِلَى اللَّاتِينِيَّةِ.‏

Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi (780-850 Masehi) : Beliau digelar sebagai [Profesor]. Beliau adalah ahli matematika, astronomi, geografi dan sejarah Arab. Beliau dianggap sebagai pengasas aljabar. Beliau telah mengarang beberapa buah buku tentang bidang-bidang di atas termasuk sains seterusnya beliau menterjemahkannya pula ke bahasa Latin.

‏مَحمُود سَامِي البَارُودِي (1840-1904 م)‏
‏شَاعِرٌ مِصرِيٌّ كَبِيرٌ، اِمتَازَ شِعرُهُ بِالسُّهُولَةِ وَالبَلَاغَةِ، مِن أَركَانِ النَّهضَةِ الشِّعرِيَّةِ فِي الوَطَنِ العَرَبِيِّ.‏

Mahmud Sami Al-Barudi (1840-1904 Masehi) : Seorang penyair terkemuka Mesir. Syairnya berbentuk mudah dan fasih (balaghah). Beliau adalah salah seorang penyumbang syair terkemuka ke dalam gerakan perkembangan syair di negara-negara Arab.

‏نَصرُ بنُ عَاصِم (تُوُفِّيَ 708 م)‏
‏فَقِيهٌ وَنَحوِيٌّ عَرَبِيٌّ، مِن أَوَائِلِ وَاضِعِي النَّحوِ العَرَبِيِّ، وَأَوَّلُ مَن نَقَّطَ المَصَاحِفَ.‏

Nasr bin Asim (meninggal dunia pada tahun 807 Masehi) : Seorang yang faqih dan ahli nahwu Arab. Beliau dianggap sebagai salah seorang dari pakar-pakar bahasa yang mula-mula menggariskan nahwu bahasa Arab dan orang pertama yang meletakkan titik pada ayat-ayat al-Quran.

‏نُصَيرُ الدِّينِ الطُّوسِيُّ (1201-1274 م)‏
‏عَالِمٌ فَلَكِيٌّ وَرِيَاضِيٌّ مُسلِمٌ، صَنَّفَ العَدِيدَ مِن الكُتُبِ بِالعَرَبِيَّةِ وَالفَارِسِيَّةِ.‏

Nusair Ad-Din At-Tausi (1201 - 1274 Masehi) : Seorang ahli astronomi dan ahli matematik Islam. Beliau telah mengarang beberapa buah buku tentang matematik, astronomi dan agama dalam bahasa Arab dan Farsi sehingga beliau dianggap sebagai tokoh untuk kedua kebudayaan Arab dan Fersi.

‏وَاصِلُ بنُ عَطَاء (تُوُفِّيَ 748 م)‏
‏يُنسَبُ لَهُ مَذهَبُ المُعتَزِلَةِ، لَهُ الفَضلُ فِي الرَّدِّ عَلَى اليَهُودِ وَالنَّصَارَى وَالآرَاءِ المُخَالِفَةِ لِلإِسلَامِ، لَهُ عِدَّةُ تَصَانِيفَ.‏

Wasil bin Atta’ (meninggal dunia pada tahun 748 Masehi) : Mazhab Muktazilah dinisbahkan kepada beliau. Beliau mempunyai kelebihan di dalam menyangkal orang-orang Yahudi, Nasrani (Kristian) dan pandangan-pandangan yang bertentangan dengan Islam. Beliau telah mengarang beberapa buah buku.

‏يَاقُوتُ الحَمَوِيُّ (1179-1229 م)‏
‏مُؤَرِّخٌ وَجُغرَافِيٌّ، عَاشَ فِي حَلَب، مِن أَشهَرِ مُؤَلَّفَاتِهِ “مُعجَمُ البُلدَانِ. “‏

Yaqut Al-Hamawi (1178-1229 Masehi) : Seorang ahli sejarah dan ahli geografi. Beliau tinggal di Halab. Beliau telah mengarang beberapa buah buku, di antara buku yang termasyhurnya ialah “Mu’jam Al-Buldan” [Kamus Kenegaraan].


Read more! span.fullpost {display:none;}

06 June 2006

KAWIN PAKSA

KAWIN PAKSA
fikar


Siti Nurbaya adalah legenda kawin paksa yang hingga saat ini masih saja diperdebatkan, tidak heran jika sebagian orientalis menuding bahwa sumber adanya kawin paksa adalah berasal dari islam, padahal berabad-abad sebelum datangnya islam hal tersebut sudah sering kali terjadi. Bukanlah tidak benar tudingan yang mereka lontarkan karena hal itu pun disebabkan oleh kekeliruan penempatan hak dan kewajiban yang dapat dijadikan sebagai faktor utama munculnya kawin paksa, antara lain :

1. Kekeliruan dalam menempatkan hak dan kewajiban orang tua terhadap anak dan anak terhadap orang tuanya yang mana sering kali rancu dalam penerapannya sehingga hak kadang dijadikan sebagai kewajiban dan kewajiban dijadikan sebagai hak bahkan kadang pula menuntut akan kewajiban, lupa dan tidak menghiraukan akan hak-hak orang lain dan sebaliknya.

2. Restu dijadikan sebagai kewajiban mutlak orang tua dalam menentukan pasangan anaknya. Dalam islam sendiri, salah satu syarat sahnya nikah adalah adanya wali nikah di mana yang berhak menjadi wali secara prioritas adalah orang tuanya yang dalam hal ini adalah ayah. Disyaratkannya wali dalam pernikahan menunjukkan bahwa seorang anak khususnya anak perempuan haruslah mendapatkan restu dan persetujuan orang tua, tanpa restu orang tua yang berimplikasi pada keengganan untuk menjadi wali dalam pernikahan maka akan berakibat tidak sahnya pernikahan yang dilaksanakan. Hal ini dipertegas dalam hadits dimana Rasulullah SAW bersabada :”Tidak sah suatu pernikahan kecuali dengan hadirnya wali”, (HR Daruquthni dan Ibnu Habban). Dalam hadits yang lain diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda :”Wanita mana saja yang menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya batal, nikahnya batal, nikahnya batal”,(HR Ahmad). Hadits di atas menunjukkan bahwa restu bukanlah kewajiban mutlak orang tua dalam menentukan pilihan anaknya.

3. Adanya pemikiran bahwa orang tua hanya akan memberikan yang terbaik bagi anaknya, dan tak akan pernah melihat anaknya terlantar maupun disakiti oleh orang lain yang membuat mereka terlalu memaksakan kehendak mereka sendiri tanpa menghiraukan perasaan anaknya yang tanpa sadar mereka telah dengan tidak sengaja melukai dan menyakiti hati anaknya.

Pandangan Islam Terhadap Kawin Paksa

Islam memberikan kesamaan hak terhadap laki-laki dan perempuan dalam memilih pendamping hidup masing-masing, dan islam tidak pernah memberikan power berupa hak maupun kewajiban kepada orang tua untuk memaksa anaknya dalam menikah, melainkan islam memberikan suatu peran bagi orang tua dalam berlakon sebagai penasehat, pemberi arahan dan petunjuk dalam masalah memilih calon pasangan anaknya dan tidak berhak orang tua memaksa anaknya baik laki-laki maupun perempuan untuk menikah dengan orang yang tidak mereka ingini atau bukan pilihan mereka.

Nikah adalah keistimewaan dan masalah pribadi setiap orang, sehingga pemaksaan orang tua atau salah satu orang tua terhadap anaknya untuk nikah dengan orang yang tidak diinginkannya hukumnya adalah haram secara Syar’i, karena itu merupakan perbuatan dzalim dan melanggar hak-hak orang lain. Wanita dalam islam mempunyai kebebasan mutlak dalam menerima atau menolak orang yang datang mempersuntingnya sehingga orang tua tidak mempunyai hak apalagi kewajiban dalam memaksanya karena kehidupan berumah-tangga tidak akan berjalan mulus bahkan akan merusak pernikahan apabila pernikahan tersebut didasari oleh paksaan dan kepura-puraan.

Telah banyak dalil-dalil dan fakta-fakta yang menunjukkan pengharamannya dalam islam yang mana telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW baik secara Qawli maupun Fi’ly sebagai bantahan terhadap aturan-aturan yang ada pada zaman jahiliah berupa diskriminasi terhadap wanita dalam masalah pernikahan, sehingga Rasulullah menetapkan suatu ketetapan hukum tentang keberadaan hak seorang wanita dalam menentukan pasangan hidupnya, serta membatalkan hukum suatu perkawinan yang dilandasi oleh pemaksaan dan keterpaksaan meskipun yang memaksa dalam hal ini adalah seorang ayah. Hal ini juga menunjukkan penyalahan terhadap adat istiadat orang-orang arab pada saat itu, sebagai ujian bagi mereka dalam menerima syariat islam yang sangat memuliakan wanita dan menjunjung tinggi hak-hak wanita dalam memilih pasangannya. Sebagaimana dalam hadits-hadits di bawah ini:

1. Dalam musnad Ahmad jilid 2 hal:434 dan juga dalam Shahih Bukhari jilid 5 Hal:1974 dan dalam Shahih Muslim jilid 2 Hal:1036, Rasulullah SAW bersabda:”Janganlah mengawinkan anak wanita (perawan) sehingga kamu meminta izin dan mendapat persetujuan darinya, sahabat bertanya : bagaimanakah tanda setujuanya, Rasul menjawab:”diamnya” adalah setujunya.

2. Dalam musnad Ahmad, jilid 1, Hal:117 dan Sunan Abi Daud jilid 2,Hal:232 dan Sunan Ibnu Majah jilid 1,Hal:603. Diriwayatkan bahwa seorang wanita telah datang mengadu kepada Rasulullah SAW akan perihal ayahnya yang memaksanya kawin dengan orang yang tidak diinginkannya. Maka Rasul menjawab La Nikaha Lahu”.

3. Dalam Al Kubra diriwatkan oleh Nasai bahwa seorang ayah telah memaksa anaknya untuk menikah, hal tersebut diadukan kepada Rasulullah SAW, maka Rasul menjawab La Nikaha Lahu Inkihi Ma Syi’ta, tidak sah nikahnya, kawinilah yang kamu kehendaki.

4. Dalam I’lam Al Muqiin oleh Ibnu Qayyim jilid 4, Hal:260-261. Seorang wanita telah mengadu kepada Rasulullah tentang ayahnya yang memaksanya untuk menikah dengan orang yang tidak diinginkannya. Maka Rasulullah menghampiri ayahnya dan menyuruhnya untuk meminta izin dan persetujuan dari sang anak.

Islam sangat memperhatikan masalah memilih pasang suami dan istri yang pada hakekatnya adalah memperhatikan dasar-dasar terbentuknya suatu keluarga yang sakinah, dimana dumulai dengan pertemuan antara laki-laki dan perempuan yang mempunyai keinginan dan untuk mewujudkannya haruslah dibutuhkan pengertian antara keduanya.

Dengan demikian, Tudingan sebagian orientalis tadi ternyata salah, karena dalam islam sendiri menentang adanya kawin paksa atau dengan kata lain kawin paksa hukumnya adalah haram di dalam islam. Sedangkan sedikit kebenaran tudingan tersebut karena berdasarkan pengglobslisasian yang berlebihan terhadap hasil penerapan dalam kehidupan beragama sebagian orang muslim tanpa melihat bagaimana islam itu sendiri, ibarat mencicipi buah tanpa mengetahui buah apa yang mereka makan dan bagai mana pohon dari buah tersebut.


Read more! span.fullpost {display:none;}

BASSIS MENDEPAK GITARIS

BASSIS MENDEPAK GITARIS
Iseng


Boleh dikatakan bahwa pemain bass hampir kasat mata di depan penimat musik, padahal fungsinya demikian besar untuk menjaga ritme musik agar tidak melantur keluar dari koridor yang sudah ada. Kecenderungan lain adalah bentuk fisik dari instrument musik ini yang membuat pemain bass agak terbatasi ruang geraknya. Meskipun tak disangkal ada beberapa yang mampu memukau penggemarnya. Publikasi yang mereka peroleh tak sedahsyat popularitas yang dimiliki oleh rekan-rekannya yang memanggul gitar atau yang menyanyikan lagu-lagu.

Meski demikian tak sedikit yang lantas mampu tampil ke depan dan memiliki nama yang meluas di mata publik. Contohnya, Katon Bagaskara dan Chrisye, dahulunya sebelum dikenali sebagai seorang penyanyi adalah pemain bass. Keunikan dari penyanyi yang juga bermain bass, mereka mengerti benar akan nada-nada yang dinyanyikan dalam lirik-liriknya. Ini bisa dilihat dan disimak pada permainan musisi Arthur Kaunang dari SAS, ia mampu memainkan bass yang memerlukan konsentrasi dengan menyanyikan lagu-lagunya. Bassis yang tampil ke depan sebagai musisi utuh adalah Erwin Gutawa, bassis ini dalam perkembangan musik di Indonesia telah mengubah wajahnya menjadi composer yang mampuni sekaligus konduktor orkestrasi modern.

Gitaris yang menjadi vokalis bukanlah hal yang istimewa, namun bila pemain bass yang juga menembangkan lagu, maka grup itu dianggap memiliki keunikan bila tak bisa disebut sebagai suatu keistimewaan. Hal ini bisa dilihat pada grup The Police yang menempatkan Gordon Summer alias Sting sebagai pemain bass sekaligus vokalisnya. Permainan bassnya tak pernah terdengar meleset meskipun ia tengah bernyanyi, begitu juga dengan Jack Bruce dari Cream dan Geddy Lee dari grup music Rush asal Canada yang tak hanya berperan sebagai vokalis dan bassis saja melainkan ia pun memainkan kibor, Kip Winger dari grup hair metal winger di tahun 1990-an tak berbeda jauh dengan Geddy Lee, keduanya juga menyanyikan performa yang cukup atraktif bila berada di atas panggung.

Bass yang dikenal saat ini sebenarnya baru ada sekitar tahun 1930-an. Kebanyakan sebelum tahun itu bass masih dimainkan secara vertical dan sangat berat, berbeda dengan gitar yang dimainkan secara horizontal dan sangat nyaman ketika pemainnya melantumkan nada-nada. Instrumen bass baru dimainkan secara horizontal di pertengahan tahun 1930-an. Seorang guru, musisi juga pembuat instrumen dan amplifier, Paul H. Tutmarc, yang bekerja pada Audiovox Seattle, Washington. Para pemain bass tertarik dengan desain kompak yang dibuatnya, tak hanya itu, ia membuatnya dalam desain elektronik, meninggalkan desain konvensional jauh di belakang.

Bass elektronik horizontal ini diperkenalkan pada publik di tahun 1935, namun baru pada tahun 1937 diiklankan di media massa dan menjadi bass elektronik pertama yang mengadaptasi bentuk gitar sebagai formatnya. Denagn bentuk itu lalu penambahan fret menjadikan instrument ini demikian mudah untuk dimainkan dan makin mampu menjaga ritme dan harmoni bermusik, sayangnya produksi gitar bass oleh Audiovox ini tak banyak diserap oleh pasar dan mereka harus menghentikan produksi di tahun 1950.

Perjalanan gitar bass tak berhenti sampai di situ saja. Pada awal tahun 1950-an, Leo Fender tampil ke muka dengan memproduksi gitar bass itu secara besar-besaran. Produksi missal gitar bass ini dinamakan Fender Precision Bass yang diajukan ke public pada tahun 1951, Leo Fender sendiri sebenarnya adalah akuntan yang belajar sendiri menjadi mekanik elektrik, dari hanya sekedar memperbaiki radio ia kemudian membuat temuan-temuan elektronik dan amplikasi instrument elektronik khususnya untuk instrument elektronik, Leo hanya membuat saja, ia tak mampu memainkan gitar maupun bass. Desain bass yang dibuat oleh Leo secara tak langsung meletakkan dasar dari desain bass yang ada saat ini. Desain bass pertamanya sangat simple dan memiliki emapt bagian pickup untuk menghantarkan sinyal-sinyal listrik ke amplifier. Tahun 1954, perubahan terjadi pada tubuh gitar bass ini dengan memberikan tepian yang lebih enak untuk menunjang permainan, lalu tiga tahun kemudian pickup yang tadinya empat digabungkan menjadi satu. Di tahun 1960, Fender meluncurkan jenis baru dari gitar bass bernaman Fender Jazz Bass.

Setelah fender mengeluarkan produk missal bass, langkahnya diikuti oleh produsen instrument lainnya, seperti Gibson, Danelectro dan beberapa merek lain tentunya dengan versi mereka masing-masing. Mulai saat itu Basis tak hanya berada di belakang saja menemani drummer, mereka mulai berada di depan baik dalam urusan suara maupun performa.

Jaco Pastorius termasuk bassis yang banyak melakukan perubahan dalam permainan instrument musik ini, teknik permainannya yang dikagumi orang adalah ia menggunakan harmonic palsu yang dijadikannya melodi. Revolusi yang sangat sederhana namun banyak dipakai oleh musisi-musisi setelahnya. Pemain bass yang meninggal pada tahun 1987 ini memang dilahirkan untuk bermain elektrik bass dengan ibu jarinya yang besar dan jari-jarinya yang panjang.

Majalah Guitar Player memberikan gelar sebagai bassis rock terbaik sebanyak lima kali pada Billy Sheehan, bassis untuk grup Mr Big. Dan David Lee Roth band ini diibaratkan sebagai Eddie Van Halen-nya instrument bass, gaya bermainnya yang tidak ortodok itu menjadi semacam standar baru bagi bass pada musik rock, tidak sedikit yang berusaha untuk bermain sesuai dengan warnanya, namun tak seorang pun yang berhasil menduplikasi bunyi-bunyian yang ia hasilkan dari permainannya. Dalam masa kurang lebih 35 tahun karirnya, ia sudah berada di lebih empat ribu pertunjukan, langkahnya di dunia musik diawali pada grup Tweeds yang kemudian berubah menjadi Talas, dari Talas ia kemudia bermain dengan David Lee Roth band dalam album Éat em and Smile dan Skyscraper, karena perbedaan kepentingan dan perselisihan pribadi ia keluar di tahun 1988 kemudian bersama Paul Gilbert (Racer-x), Pat Torpey dan Eric Martin membentuk Mr.Big yang meroketkan namanya.

Gary Lee Weinrib atau lebih dikenal dengan nama Geddy Lee adalah bassis sekaligus kibordis grup rock asal Canada, RUSH. Permainannya dalam setiap lagu-lagu memberikan inspirasi sekaligus pengaruh pada pemain bass di bawahnya, tidak hanya pada musik rock saja namun juga ke aliran heavy metal, seperti Les Claypool, Steve Harris dan John Myung serta beberapa nama lagi. Bersama dengan rekan-rekan dalam band, Alex lifeson dan Neil Pert, ketiganya mendapat bintang penghargaan dari pemerintah Canada atas pencapaian karir mereka.

Bassis sekaligus pemain bass grup Primus, Les Claypool dikagumi karena permainan bassnya yang funky dan kreatif, meskipun ia tak menyangkal bahwa banyak pengaruh dari Geddy Lee dalam teknik permainannya. Namun yang membedakannya ia mencampur gaya Geddy Lee dengan teknik heavy metal tapping dan gaya permainan jari slap milik Stanley Clarke.

Dalam subgenre heavy metal ada dua nama bassis yang tak terbantahkan, pertama Cliff Burton bassis Metallica dan Steve Harris dari Iron Maiden. Cliff Burton masuk Metallica menggantikan Ron McGovney di tahun 1982, Burton mempesona anggota Metallica dengan memainkan bassnya melalui wah-wah gitar, permainannya yang berapi-api namun sangat melodius ini menjadi pengaruh terbesar dari permainan Geddy Lee. Cliff Burton tewas karena kecelakaan lalu lintas di dalam bus yang membawa grup itu tur di Swedia.

Kesemuanya itu membuktikan bahwa pemain Bass pun mampu tampil dan dapat mendepak gitaris dari kepopularitasan, namun yang penting adalah dalam suatu band adanya kelebihan dan keunikan dari salah satu maupun ban secara keseluruhan yang dapat menghantar band itu menjadi semakin top.


Read more! span.fullpost {display:none;}

04 June 2006

Light and Lost Contemplation

Light and Lost Contemplation
Ahrieza Falahi

Renungan….

Bagi dunia ia tak akan mau megenal siapa yang akan hidup diatasnya, apalagi akan mengenal siapa anda, jabatan anda, keturunan anda. Bagi dunia saat anda tidak merusak hamparan tanahnya sebagai perwujudan dari wajahnya, menyia-nyiakan sumber alamnya sebagai tangan kasih sayangnya atau menyimpan mahluk-mahluk yang belum sampai masa habisnya saja mungkin dunia akan memberikan medali-medali kehidupan sebagai tanda terima kasihnya, tapi apalah daya bagi dunia, ia bukan seorang penguasa yang memiliki tangan-tangan kekuasaan, atau bahkan manusia biasa seperti kita, ia hanya bisa memberi dan terus memberi tapi tak pernah meminta.

Menurut orang-orang hikmah memberi itu meringankan nurani dan perasaan, tapi apakah dunia memiliki perasaan dan nurani atau bahkan akal. Menilik kembali kata memberi akan erat kaitannya dengan kata “cukup”. Namun apa pula nilai dari kata cukup ini, apakah ia memiliki kesamaan dengan kata “beri”? karena kata “beri” sudah pasti membawa kepuasaan dengan kita, kesenangan, kebahagian dan lain-lain. Cukup, Cukup, pernahkan kita mengatakan kata cukup untuk sebuah bentuk materi yang memang benar-benar kita cari kemudian ia datang secara tiba-tiba dan terus mengalir, mengalir dan mengalir. Sebagai misal nyata adalah harta yang memang identik dengan uang.

Kami di sini tidak menuntut siapapun untuk menyalahkan diri sendiri, apalagi menuduh. Ketika siPolan menyantap hidangan yang begitu lezat maka setelah selesai ia mengatakan “kenyang-Cukup”. Kata ‘cukup” yang terlontar dari polan adalah ekspresi sesaat yang muncul dan akan hilang kemudian bersama masa-waktu. Lalu apakah ekspresi inikah yang kita praktekkan didalam keseharian kita? lagi-lagi kami tak menuduh atau menyalahkan siapa saja..

Mari sejenak kita melihat kembali kata “masa” dan mencoba untuk mengesampingkan kata-kata hikmah yang menafsirkan banyak penafsiran tentang ‘masa’. Karena memang mulai dari Arab, Eropa, Afrika bahkan Asia memiliki ribuan kata-kata mutiara tentang waktu yang tak akan mungkin terangkum dalam sketsa singkat ini.

Masa atau waktu yang memang bisa menjadi sebuah pedoman aktivitas mahluk hidup mulai dari manusia tumbuhan dan binatang sekalipun akan amat mengenal dengan masa. Tumbuhan akan menumbuhkan pertumbuhannya akan sesuai dengan masa, Hewan akan mengenali kapan saat ia harus benar-benar memindahkan dirinya dari satu tempat disaat musim-musim tertentu akan tiba atau bencana akan datang, apalagi manusia yang mungkin tak perlu lagi dijelaskan secara mendetail. Namun pada hakikatnya tugas masa bukanlah sampai pada titik ini saja. Banyak lagi tugas-tugas resmi masa yang mungkin semakin kita terbuai oleh masa semakin lupa kita akan tugas masa yang benar-benar nyata yaitu Masa lah yang akan menentukan kita kapan habis masa beraktivitas sebagai manusia. Apakah itu masa kini, atau masa depan, atau masa yang akan mendatang. Mungkin belum terlambat bagi reka-mereka yang benar-benar paham akan masa untuk memulai hitungan mundur. Atau bagi mereka yang telah lama jalan jauh kemudian sadar bahwa telah tiba masanya untuk pulang dan menjadi manusia kembali. Atau bagi kita sendiri, betapa murah hatinya Sang Pemilik masa yang masih memberikan kita roda-roda opsi sehingga masih diberikan kesempatan untuk memilih dan memilih kemudian memilih….semoga


Read more! span.fullpost {display:none;}