Welcome To LuviLove Sites

26 July 2006

Keserasian Pasangan Mencapai Kebahagiaan

Keserasian Pasangan Mencapai Kebahagiaan
vikar


Tidak sedikit jawaban dan alasan yang terlontar dari bibir orang-orang yang hancur berantakan hubungannya, baik dengan pacar, kawan maupun isteri lantaran tidak adanya kecocokan dan keserasian di antara mereka. Hal ini dikarenakan oleh niat awal dalam mengadakan hubungan adalah untuk mencari kecocokkan dan keserasian, sedangkan mereka sendiri tidak menyadari apa itu cocok ,serasi, selaras, harmonis ataupun pantas. Dengan kata lain, adanya kerancuan dalam memaknai kata tersebut yang selalu diartikan sebagai kesamaan dan persamaan, sehingga pada saat hubungan terjalin, yang mereka dapatkan hanyalah perbedaan yang akan menjadikan mereka semakin berbeda dari sebelumnya. Akibatnya bisa menimbulkan permusuhan, perceraian dan hal yang sangat negatif. Untuk itu, sedikit gambaran dan masukan tentang keserasian agar keharmonisan hidup dalam mencapai kebahagiaan dapat teraih ataupun mendekatinya.Read more!

Dalam kamus bahasa Indonesia, arti kata serasi dan selaras berkisar antara seimbang, perpaduan, mencampur atau mengkombinasi, sedangkan kata cocok berarti memasukkan bagian ke celah-celah bagian yang lain, adapun kata pantas berarti patut atau layak dan kata pas yang sering kali diartikan sebagai cocok adalah kependekan dari kata pas-angan. Kesemua arti yang ada tidak menunjukkan pada arti persamaan dan kesamaan, namun menunjukkan bahwa persamaan dan kesamaan itu lahir karena adanya perpaduan dan keseimbangan.

Menjalin hubungan dengan orang lain, berarti memadukan atau mencampur dua budaya, watak, sifat dan latar belakang yang berbeda dalam keseimbangan untuk mencapai keharmonisan dan kebahagiaan. Tidak terlepas dari pemahaman akan perbedaan yang ada untuk saling mengisi dan melengkapi. Apabila perpaduan tersebut seimbang maka dengan sendirinya akan melahirkan keharmonisan, dan apabila tidak adanya keseimbangan maka hubungan tersebut akan menemui kegagalan dan kehancuran. Pengertian dan pemahaman akan perbedaan yang ada adalah modal utama terwujudnya keseimbangan.

Kekeliruan dalam memaknai kata serasi, selaras dan cocok akan berakibat orang tersebut tidak tegap pendirian dalam menjalin hubungan, kekanak-kanakan dalam bertindak, bahkan suka mengada-ada persamaan dengan orang lain agar terjalin hubungan. Misalanya, seorang wanita berkata, saya sukanya ini dan suka yang kaya begini, seorang pria yang ingin menjalin hubungan dengannya terpaksa harus mengada-ada kalu dia juga suka ini dan begini, padahal kenyataanya tidaklah demikian, hingga pada saat semakin eratnya hubungan, nampaklah asli batang hidungnya yang akan sangat mengecewakan dan dianggap sebagai penipuan serta pengkhianatan. Hal ini karena kecocokan diartikan sebagai kesamaan.

Perpaduan antara dua sifat, watak dan jenis yang berbeda adalah hal yang susah-susah gampang dan mungkin terkesan hal yang mustahil, namun yang perlu diingat dan selalu digarisbawahi bahwa segala sesuatu pasti mempunyai persamaan dan perbedaan yang kadarnya pun berbeda, dan segala sesuatu yang diciptakan berpasang-pasangan adalah perpaduan dua bentuk dan jenis yang sangat berbeda, atas dan bawah atau kiri dan kanan dan lainnya yang berpasangan pasti mempunyai perbedaan, perhatikan saja tangan anda dan bedakan antara yang kiri dan yang kanan, bila dicermati dengan seksama, perbedaan tersebut akan terlihat jelas. Tangan kanan akan terlihat keras berotot, kurang mulus serta banyak bercak dan noda, sedangkan tangan yang kiri terlihat manis, mulus, agak keputihan, dan terkesan manja. Padahal keduanya adalah sama jenis, bentuk dan satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari badan, apalagi bila pasangan tersebut bukan dari jenis, unsur dan bentuk yang sama seperti halnya langit dan bumi, contoh lain pun dapat dilihat pada anak kembar yang mana jelas dan pasti ada perbedaanya. Bila hal ini disadari, akan mempermudah untuk saling mengerti dan memahami dalam menjaga kelangsungan hubungan. Dan hasil dari perpaduan yang dilandasi oleh keseimbangan dalam artian saling mengisi, mengerti dan melengkapi inilah yang akan melahirkan adanya persamaan yang harmoni.

Seorang kekasih dan pasangannya haruslah menyadari akan hal ini agar hubungannya dapat berlangsung hingga ke perkawinan, dan seorang suami-istri haruslah mengetahui dengan benar bahwa perkawinan adalah perpaduan atau penggabungan antara dua jenis dan bentuk yang berbeda dalam mencari kesamaan untuk meraih kebahagiaan, ibarat perkawinan antara tikus dan kelinci yang melahirkan hemster. Jika hubungan tersebut hanya mencari persamaan dan kecocokan, maka selamanya tidak akan pernah terjalin hubungan, kalaupun terjalin, hal itu tidaklah akan bertahan lama, karena akan membuatnya terus dan terus mencari yang sama dan serupa dengannya, padahal tidak menyadari bahwa segala sesuatu tidaklah sama. Dan persamaan itu akan sering dijadikan alasan untuk tidak berani menjalin hubungan juga alasan sebagai dalih dalam menghancurkan hubungan. Dan sebaliknya, jika hubungan tersebut dilandasi oleh pengetahuan akan perpaduan dan keseimbangan antara dua bentuk yang berbeda maka hubungan tersebut akan menghasilkan kebahagiaan baik kepada diri sendiri maupun orang lain.


Read more! span.fullpost {display:none;}

23 July 2006

PPMI, Haruslah Semakin Dewasa

PPMI (Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia -Cairo) Haruslah semakin Dewasa
fikar

Beberapa tahun terakhir ini, nasib PPMI - Cairo semakin terpuruk, yang ditandai dengan banyaknya acara tahunan mahasiswa macet, lantaran proposal yang diajukan ke KBRI Cairo kurang mendapat respon baik. Bahkan nama PPMI itu sendiri telah kehilangan pamornya baik intern maupun ekstern. Hal ini yang membuat saya sebagai bagian dari mahasiswa Indonesia merasa sedih melihat kenyataan yang ada dan selalu bertanya-tanya tanpa ada jawaban, sebegitu manjakah mahasiswa Indonesia-Cairo? Sebegitu pintarkah Ocehan-ocehan aktifis mahasiswa dalam mengaplikasikan ocehannya?. Ternyata hal itu semua ada sedikit benarnya, dan harus selalu diakui agar organisasi mahasiswa (PPMI-Cairo) di kemudian hari lebih mandiri. Dan kayaknya Motto yang ada di PPMI haruslah dirubah menjadi “Sedikit berkata, banyak berbuat” sebagai tolak ukur agar lebih maju dan dewasa. Karena tidak dapat dipungkiri, bahwa Mahasiswa Indonesia-Cairo adalah mahasiswa yang hanya pandai berbicara tapi belum mampu bekerja dan mengaplikasikan omongannya dalam bentuk nyata. Atau mungkin karena dilatarbelakangi oleh tidak adanya rasa memiliki akan organisasi mahasiswa (PPMI).

Meskipun HPMI (Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia-Cairo) telah dirubah namanya menjadi PPMI dengan tujuan agar lebih dewasa dan mandiri, ternyata hal itu malah semakin buruk bila dibandingkan dengan HPMI dahulu, bahkan perbedaan itu jelas sangat jauh. Hal ini semua mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, yang antaranya adalah:

1. Tidak adanya rasa memiliki oleh pengurus PPMI itu sendiri dalam menjalankan organisasi, terlebih lagi para mahasiswanya yang kian hari semakin menjauh dari organisasi tersebut.

2. Pengurus PPMI didomisasi oleh golongan tertentu, yang bisa saja mengakibatkan masalah-masalah diluar keinginan golongan tersebut diabaikan begitu saja atau tidak adanya usaha untuk menampung keinginan golongan lain dan mewujudkannya.

3. Kurangnya kinerja ekstern pengurus dalam upaya mengembangkan keorganisasian agar lebih mandiri. Hal ini pun mungkin dilatarbelakangi oleh budaya turun temurun kepengurusan PPMI yang hanya bisa menadah tanpa bisa memberi, yang hanya bisa merengek dan mengocek kantong KBRI tanpa mampu membuat saku sendiri. Yang mungkin saja PPMI bisa diplesetin menjadi Persatuan Pengemis Mahasiswa Indonesia, karena KBRI dijadikan sebagai sumber dana pokok dalam mendanai setiap kegiatan. Di saat KBRI enggan memberi, macetlah semua kegiatan dan PPMI hanyalah hiasan dan tinggal nama.

4. Kepandaian berbicara (keilmuan) hanya sebatas pamer kalo ia pandai dan pintar berbicara, tanpa peduli hasilnya. Atau bisa dikatakan bahwa mahasiswa Indonesia-Cairo hanya pandai berorganisasi sebatas retorika tapi belum mampu menjalankan organisasi dengan baik. Pengetahuan tentang Teori-teori keorganisasian tidak diragukan lagi, cuman dalam pelaksanaanya yang setengah-setengah serta ogah-ogahan yang mungkin didasari oleh faktor pertama tadi, sehingga maju mundurnya organisasi terabaikan.

Empat faktor utama di atas, yang sangat dominan mempengaruhi tenggelamnya PPMI sebagai organisasi mahasiswa, terlebih lagi organisasi tersebut berada di luar negeri, (masa harus kalah ama OSIS SMU yang ada di Indonesia). Jika keempat faktor tersebut dibenahi, maka PPMI akan semakin dewasa dalam berorganisasi.

Memang masalah dana seringkali menjadi alasan utama macetnya kegiatan organisasi, namun tidak pernah tergambarkan bagaimana cara dan solusi dalam mengatasi masalah tersebut. Haruskan mengemis terus kepada orang tua (KBRI) dalam pendanaan?. Anak kecil pasti akan merengek kepada orang tuanya, namun bila mahasiswa luar negeri yang melakukannya, kiranya perlu ditertawakan. Karena orang dewasa akan berbalik kepada orang tua apabila ada hal-hal yang butuh pertimbangannya atau ide-idenya dan meminta pengarahan darinya, bila hal itu berupa finansial ataupun duit, sekali dua kali masih wajar, namun bila dijadikan sebagai tempat mengemis, sampai kapan organisasi akan menjadi lebih berkembang dan dewasa?. Akhirnya yang timbul malah semakin buruk, proposal dijadikan budaya bahkan adat istiadat oleh setiap organisasi mahasiswa yang ada di Cairo. Misalnya buletin mahasiswa Terobosan, setiap kali terbit, harus mengemis dana dulu di KBRI, setelah terbit malah beritanya menyinggung KBRI baik secara keseluruhan maupun perorang. Lucu kan???…

Jika dikembalikan pada zaman dulu, ketika nama organisasi mahasiswa Indonesia-Cairo masih bernama HPMI, jelas akan didapati perbedaan yang sangat jauh dengan PPMI yang ada saat ini. HPMI dulu, malah menjadikan KBRI sebagai MUSUH, bukan sebagai orang tua. Karena dana organisasi begitu banyak sumbernya baik dari Tanah Air sendiri (pengusaha dan organisasi muslim) maupun dari Saudi dan lain-lain, sehingga wajar bila dapat berkembang dan semakin dewasa. Hal ini, kiranya dijadikan masukan buat pengurus PPMI agar kiranya dapat berinteraksi tidak hanya sebatas mahasiswa yang ada di Cairo saja, terlebih lagi sebagai bahan dalam mencari dan mengupayakan dana organisasi agar tidak terpatok pada satu sumber yang mungkin saja malah mengatur jalannya organisasi dan membuat organisasi itu tidak berdaya. Dan hal itu semua dibutuhkan kepandaian pengurus dalam mencari relasi.

Dulu saya pernah mengusulkan kepada buletin Terobosan agar kiranya terbitannya ada khusus berita tentang Cairo dan ada juga yang bersifat keilmuan yang akan diterbitkan di Indonesia setiap jumat yang bisa saja berisikan berita tentang Cairo atau pengenalan tentang Al Azhar dan Universitas lainnya yang ada di Cairo dan hal-hal yang bersifat kajian islam kontemporer, semua itu demi menambah sumber dana buletin, namun hal itu tidak mendapatkan respon, karena mungkin terasa berat oleh pengurus. Dan hal-hal semacam inilah merupakan salah satu contoh, yang mungkin menjadikan acuan dalam mencari dan mengadakan relasi dalam pendanaan organisasi agar tidak terfokus pada satu sumber dana yang kadang jelas dab kadang tidak.

Kiranya semua ini merupakan masukan buat PPMI-Cairo dan semua mahasiswa Indonesia yang berada di Cairo, yang apabila menjadi pengurus, kiranya semua ini bisa dibenahi, agar Organisasi mahasiswa Indonesia-Cairo semakin maju dan dewasa yang menghasilkan buah yang konkrit dan bermanfaat pada diri pribadi dan orang lain. Dan tulisan ini pula, merupakan himbauan kepada pengurus PPMI-Cairo khususnya agar kiranya mendiskusikan kembali dan mencari solusinya terutama masalah sumber dana organisasi agar tidak hanya mengharapkan hasil dari pembuatan kartu PPMI dan KBRI saja, melainkan mencari sumber dana lain yang dapat membantu jalannya organisasi dan semakin menghidupkan kembali semangat PPMI pada saat menggantikan namanya. Jika BWKM (Badan wakaf mahasiswa) mampu mengupayakan dana, masa PPMI gak bisa? buktikan kalo PPMI adalah organisasi mahasiswa Indonesia-Cairo yang dewasa dan mampu berkarya.

Satu hal yang perlu diingat, bahwa segala perbuatan ada imbalannya, agar budaya ketimuran lebih dihidupkan dan tidak terkesan mengemis, Jika anda meminta jangan lupa memberi imbalannya meski dengan sesuatu yang tidak berharga berupa plakat sebagai ucapan terima kasih dll, dan jika memberi, jangan lupa untuk tidak meminta imbalannya dengan nyata, agar kiranya lebih dihormati dan dihargai. Semoga PPMI (Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia - Cairo) benar-benar sebagai wadah bagi seluruh Mahasiswa khusunya dan masyarakat Indonesia yang ada di Cairo pada umumnya.


Read more! span.fullpost {display:none;}

20 July 2006

Islam dan Pluralitas

Islam dan Pluralitas
Menata Dunia dalam Prespektif Teks-teks Islam

Mahkamah Mahdin, MA.


Benarkah fanatisme pemahaman keagamaan bertanggungjawab atas kekerasan yang selalu menjadi berita paling hangat? Bagaimana islam melihat dan berinteraksi dengan non-muslim? Apakah pemetaan muslim dan non-muslim meniscayakan sebuah sikap permusuhan dan antipati terhadap “yang lain”? Benarkah islam disebarkan dengan ujung pedang (pemaksaan)? Adakah keselamatan di luar islam? Apakah tindakan baik non-muslim bernilai dihadapan Tuhan?Apakah semua agama benar? Apakah kebenaran absolut? Mungkinkah terwujud dialog antara islam dan barat? Mungkinkah islam akur dengan modernisme? Mungkinkah islam disekulerkan?

I. Prolog

Capaian teknologi abad ini benar-benar membawa dunia kepada sebuah kampung global -begitu Marshall Mc Luhan menyebutnya. Sebuah realita yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia. Lewat media elektronik, cetak dan internet beragam wacana dapat diakses dari seluruh penjuru dunia. Ledakan teknologi, komunikasi dan informasi telah membawa perubahan drastis. Batas-batas kultural bahkan negara -dalam sudut pandang tertentu- sudah melemah dan rapuh. Dalam kerangka ini, pluralitas lahir menjadi salah satu isu global terkemuka. Terorisme yang mencoreng penghargaan terhadap keragaman menjadi santapan berita setiap saat.

Di media barat, fundamentalisme yang dianggap sebagai akar terorisme, telah menjadi momok yang mendiskreditkan agam. Radikalisme islam, misalnya, dianggap bertanggung-jawab atas sejumlah aksi terorisme, mulai dari pembajakan pesawat Swiss, Inggris dan AS (1970), pembunuhan atlet-atlet Israel di Olimpiade Munich (1972), hingga serangan 11 september 2001 lalu. Lebih dari itu Robert Spencer, pengarang buku “Islam Unveiled” (2002), menafikan anggapan bahwa fundamentalisme islam merupakan gerakan sempalan yang telah “membajak” islam. Justru fundamentalisme menemukan akar legitimasinya dalam doktrin islam. Dalam kerangka ini, sarjana-sarjana barat menggugat doktrin-doktrin islam. {Lih. Bernard Lewis, The Crisis of Islam (2003) dan Robert Spencer, Islam Unveiled (2002)}. Mereka menegaskan bahwa untuk menjadi bagian dari masyarakat multikultural global, dunia islam harus memasuki koridor modernisme. WM. Watt menegaskan, “Bilamana mereka hendak hidup bersama, maka mereka harus menerima aspek-aspek sekuler kultur dunia dan berikhtiar pada umat beragama lain, bagaimana nilai-nilai keagamaan islam itu mengimbangi kultur sekuler. Mereka tidak dapat melakukan ini apabila mereka masih dipenuhi dengan ekspresi islam pada tema-tema ilmu pengetahuan dan filsafat abad 12. ” (Titik temu islam dan kristen, 191:1996). Berbagai kalangan sarjana islam juga mengupayakan sebuah reinterpretasi ajaran-ajaran Al Quran dan Sunnah, dalam upaya menyegarkan pemahaman keagamaan dan membendung watak radikalisme dan kecenderungan otoritarianisme. Pemahaman keagamaan yang kaku, sering memunculkan sikap-sikap radikal dan fundamentalistik.

Tentu banyak pertanyaan yang terkatrol, benarkah fanatisme pemahaman keagamaan bertanggung-jawab atas aksi kekarasan yang selalu menjadi berita paling hangat? Bagaimana islam melihat dan berinteraksi dengan non-muslim? Apakah pemetaan muslim dan non-muslim meniscayakan sebuah sikap permusuhan dan antipati terhadap “ÿang lain”? Benarkah islam disebarkan dengan ujung pedang (pemaksaan)? Adakah keselamatan di luar islam? Apakah tindakan baik non-muslim bernilai dihadapan Tuhan? Apakah semua agama benar? Adakah kebenaran absolut? Mungkinkah terwujud dialog antara islam dan barat? Mungkinkah islam akur dengan modernisme? Mungkinkah islam disekulerkan?

Intinya, pemetaan relasi antara I & The Other menyentuh dimensi psikologis, sosial, kultur, ekonomi, dan historis. Di sini, pluralitas di samping dilihat sebagai isu sosial-politik, ia juga dikaji sebagai isu filosofis, persoalan kultur, pandangan dunia, pola pikir, persepsi dan paradigma dalam berinteraksi dengan “yang lain” menyembunyikan kategori-kategori, pandangan dunia dan filsafat hidup. Ia bagaikan gunung es yang menyembunyikan 90% strukturnya di bawah permukaan. Meskipun secara De Facto, tatanan islam telah runtuh dengan runtuhnya khilafah Utsmaniah paruh pertama abad lalu, namun visi pluralitas islam tetap menjadi tanda tanya besaryang dilontarkan terkadang sebagai tantangan, gugatan, apologi dan terkadang memang sebagai pertanyaan tanpa tendensi.

dalam membaca aksi-aksi kekerasan yang sering dikaitkan dengan islam, perlu digarisbawahi bahwa sekalipun setiap aksi berusaha dibaca dan dikembalikan kepada makroparadigma pelakunya, namun kita juga mengandaikan kemungkinan terjadinya gap antara aksi dan paradigma hingga tidak terjebak oleh “Kausalitas solid” yang bersifat simplistis. Sebuah aksi tentu saja harus tetap dibaca dalam kekayaan mikroparadigmanya. Aksi kekerasan gerakan Intifadhah misalnya dalam dibaca dalam dua sudut pandang yang berbeda. tentunya, kesimpulan yang “lebih interpretatif” meminjam istilah Abdul Wahab Al Masiri menuntut pembacaan utuh untuk menentukan anasir sentral dan marginal sebuah fenomena. Di sisi lain, merebaknya kekerasan akhir-akhir ini di belahan dunia islam meniscayakan sebuah auto-kritik. Sebab logika internal kekerasan menunjukkan bahwa kekerasan dan teror hanya menjadi senjata para pecundang dan orang lemah. Di sisi lain, penolakan terhadap “yang lain” merupakan sebuah bentuk respon, namun secara implisit menyingkap kelemahan internal untuk berpartisipasi dalam masyarakat global.

Untuk itu, tulisan sederhana ini akan menjelaskan visi islam sebagai sebuah tatanan dapat merangkul semua identitas dalam komunitas islam tanpa harus mengaburkan dan mematikannya, sebuah tatanan yang diarahkan kepada pembinaan manusia yang utuh. Hal itu menjadi sangat penting dengan membandingkannya dengan tatanan sekuler yang menjanjikan kesetaraan warga negara tanpa diskriminasi atas dasar ras, agama, warna kulit dan bahasa. Namun menurut penulis, tatanan sekuler tersebut cenderung memihak dan aktif mengaburkan identitas “mereka” dan menawarkan identitas alternatif {”kita” yang sekuler}. Pendangkalan semangat keagamaan masyarakat yang termanifestasi dalam praktek amoral yang sangat menggejala, diduga kuat merupakan bagian dari proses sekularisasi yang menafikan semua kriteria normatif.

II. Memetakan “yang lain” : Sebuah kerangka filosofis

Manusia terlahir dan hidup dalam kerangka “komunitas sosial”. Ibnu Khaldun menyebutnya sebagai Entitas sosial [tentu dengan seluruh perpanjangannya] atau seperti kata Abdul Wahhab Bohdibah (Al-Qashdu fi-l Ghairiyyah, 9;1998), manusia secara subtansil adalah entitas (pluralis) yang memiliki afiliasi ke “yang lain” (Ghairi lil-ghairi). Sebab keberadaan Al Ana tidak lepas dan ditentukan oleh eksistensi al akhar.

Ada beberapa kata kunci yang menjadi kerangka acuan (frame of reference) pemikiran islam dalam menata dunia dan memetakan relasi al-ghairiyyah, realita dan komunitas di sekelilingnya.

1. Tauhid (Keesaan Allah)

Ia merupakan pilar pertama bangunan pemikiran islam. Ajaran-ajaran islam dalam totalitasnya dapat dikembalikan dan merupakan manifestasi pengakuan ketauhidan. Nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan dalam islam menemukan “dasar hukumnya” dalam keabsolutan tauhid. Olehnya tatanan dunia yang diselimuti oleh atmosfir kebesaran Sang Pencipta dilandasi oleh nilai-nilai universal tadi. Dalam dunia seperti ini, tidak ditemukan spontanitas, kesia-siaan (nihilisme) dan kehampaan makna. Dalam kerangka inilah, kemajemukkan alam raya dirajut sebagai bagian dari kehendak-Nya hingga tak lepas dari sebuah makna.

2. Kesatuan (asal) manusia

Secara global, manusia dapat dibedakan dalam warna, struktur, kepribadian, bahasa dan kultur. Namun karakteristik tersebut tidak mempresentasikan “nilai eksistensial” dalam arti dapat membentuk manusia sebagai entitas yang lain, sebagaimana karakter tersebut tidak mempengaruhi posisi seseorang sebagai mahluk ciptaan di hadapan Allah. Karakteristik tersebut bukanlah hal-hal yang mendasar atau krusial dalam relasi keterciptaan manusia dengan Tuhan. hal tersebut boleh jadi berperan dalam keistimewaan dan kebobrokannya. namun perannya dalam menentukan nilai etisnya bukanlah suatu hal yang final dan mutlak, karena bukanlah suatu kemestian bahwa seseorang yang memiliki karakteristik pilihan dan ekslusif akan meiliki nilai etis yang tinggi atau rendah. Sebab subtansi eksistensial kemanusiaan adalah sebuah kebebasan yang memberinya kemampuan untuk memikul tanggung-jawab dimana “karakteristik” tadi tidak membatasi kehendaknya hingga ia dapat menentukan kehendaknya untuk menuruti atau menyalahi kekuatan “karakteristik” yang dimilikinya. [Lih, IIIT, Islamiyatul Ma’rifah, 103:1986, Mahmud Syaltut, 452:1985].

Inilah yang ditegaskan oleh Al Quran, “wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal, Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu”,[49:13]. Ayat tersebut secara tegas mendeklarasikan kesamaan derajat antar manusia dihadapan Tuhan. Yang menjadi dasar pembeda hanyalah kualitas ketakwaan dan prestasi kerja. Oleh karena itu, sebagai manusia, seorang muslim tidak memiliki kelebihan apa-apa atas non-muslim.

Dalam prespektif islam, diskriminasi yang dilandasi oleh semangat dan fanatisme rasialis dianggap menginjak martabat kemanusiaan dan melanggar perintah Allah. Rasulullah saw menegaskan, “Tidak termasuk dalam golonganku (islam) orang yang menyeru kepada fanatisme (ras). Tidak termasuk golonganku (islam) orang yang berperang dibawah panji fanatisme (ras). Tidak termasuk golonganku (islam) orang yang mati dalam fanatisme (ras)”.[Muslim: Al-imarah:3437].

3. Kesatuan Sumber dan Misi Agama

Agama dan misi kenabian -dalam prespektif islam- adalah sebuah untaian mata rantai yang sambung-menyambung. Dalam hadis, rasulullah saw menganalogikan para Nabi sebagai orang-orang yang membangun sebuah rumah. Rantai misi kenabian bagaikan balok-balok batu yang akan digunakan untuk membangun sebuah gedung. Setiap misi kenabian merepresentasikan satu balok batu yang pada akhirnya disempurnakan oleh misi kenabian Nabi Muhammad saw. Agama (samawi) pada intinya mengemban sebuah risalah untuk membangun peradaban umat manusia. Dalam kerangka inilah misi kenabian sambung-menyambung dari satu ke generasi lainnya. “Tak satupun umat melainkan diutus kepadanya pembawa peringatan” dalam bingkai ini, Al Quran melukiskan bahwa meskipun syariat berbeda: “…untuk tiap-tiap umat diantara kalian, kami berikan aturan dan jalan yang terang”.[5:48] Namun tujuan misi kenabian adalah satu, yaitu mengarahkan manusia ke jalan kesempurnaan dan aqidah sebagai pilar misi kenabian. “Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya”. [42:13].

Dalam mengilustrasikan kenyataan tersebut, Al Quran terkadang menyebut misi Nabi Muhammad saw sebagai misi nabi Ibrahim, “…Kemudian kami wahyukan kepadamu: Ikutilah jalan Ibrahim yang hanif, dia bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah”.[16:123]. dan terkadang mengajak ahli kitab kepada sebuah titik temu diantara mereka: “Katakanlah, wahai ahli kitab marilah kepada satu ketetapan yang tidak ada perselisihan di antara kita bahwa tidak ada yang kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah…”.[3:64] Dan terkadang menegaskan kesatuan seluruh misi kenabian [42:13], terkadang pula hanya menegaskan “penyerahan diri kepada Allah dan ihsan” atau “iman dan istiqamah” tanpa menyebut agama tertentu sebagai prasyarat keselamatan, “dan mereka (Yahudi dan nasrani) berkata: Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang yang beragama yahudi atau nasrani, demikian itu hanyalah angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah, tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar. (tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati”.[2:111,112]. “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka beristiqamah, maka tidak ada kekhawatiran dan kesedihan atas mereka”.[46:13].

4. Pluralitas sebagai Sunnatullah

Pluralitas dalam kacamata islam diyakini sebagai keniscayaan. Secara implisit pluralitas diartikan sebagai koeksistensi dalam semangat “saling menghargai” perbedaan, baik dalam tataran individual maupun komunal. Pandangan dunia islam tidak menganggap pluralitas sebagai spontanitas, anomali ataupun keburukan perputaran sejarah. pluralitas merupakan bagian dari “desain tunggal” Allah Sang Pencipta. Lewat kehendak-Nya, ia bisa saja menciptakan manusia dalam pola yang sama, namun kebijakan-Nya yang tak terhingga, menghendaki pluralitas umat manusia sebagai padanan keagungan dan keesaan-Nya. Pluralitas bangsa, kultur dan tradisi manusia tidak hanya membentuk sebuah pilihan yang menyertai proyek penciptaan. Lebih dari itu, merepresentasikan dasar dinamika dunia. interaksi tidak hanya merupakan hal yang mendasar dalam tataran ontologis-teologis, lebih dari itu, ia merupakan faktor pembentuk sejarah umat manusia.[Bouhdiba,24].

Al Quran secara eksplisit menegaskan bahwa pluralitas merupakan sunatullah: hukum yang mengikat perputaran sejarah dan alam ciptaan-Nya. Teks-teks islam menegaskan pluralitas agama, “Manusia itu adalah umat yang satu(setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab dengan benar untuk memberi keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan”.[2:213], “Sesungguhnya agama yang diridhai Allah hanyalah islam (penyerahan diri kepada-Nya), tiada berselisih orang-orang yang telah diberi kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian yang ada di antara mereka…”.[3:19]. manusia dulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada di tangan Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan diantara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan”.[10:19]. “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu, dan untuk itulah mereka diciptakan”.[11:118,119], pluralitas etnis dan ras:” Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu”.[49:13]. Pluralitas bahasa dan warna kulit,[30:22] ” Dan demikian pula diantara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang berbeda macam warna dan jenis”.[35:28].

Zamkhasyri menjelaskan bahwa perbedaan menjadi prasyarat terjadinya interaksi sosial. Tanpa perbedaan, tak akan saling kenal-mengenal.[Al-Kassyaf, 3:201] bahkan jika mengandaikan seseorang hidup sendiri adalah suatu hal yang mungkin, maka mengandaikan ia bertahan hidup untuk jangka waktu yang lama merupakan suatu hal yang sangat mustahil. [Ar-Raghib al-Ashfahani, tafshilun-Nasyatain wa tahshil-us sa’adatain:86]. Olehnya, perbedaan tidak sepantasnya dijadikan bahan untuk memandang remeh, memusuhi terlebih lagi untuk memerangi “yang lain”. Dalam hal ini (dalam berinteraksi dengan non-muslim), yang menjadi paradigma adalah -tegas al-Qardhawi- keyakinan setiap muslim bahwa perbedaan agama terjadi atas kehendak Allah.[Ghair-ul muslimin fi-l mujtama’ al islami]. kesimpulannya, islam tidak menjadikan perbedaan agama sebagai sebab yang dapat melahirkan konflik, diskriminasi atau pengusiran. Sikap permusuhan dan antipati hanya dapat terjadi dalam kerangka “hilangnya loyalitas politik” terhadap komunitas muslim.

Al Quran menjelaskan bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu orang lain untuk mengusirmu. dan barangsiapa yang menjadikan mereka sebagai kawan maka mereka itulah orang-orang yang dzalim”.[60:8,9].

III. Berinteraksi dengan “Yang Lain”

“Islam Sejarah” telah terbentang dalam rentang waktu yang cukup lama dan merekat beragam etnis, bahasa dan tradisi. Ia membentuk sebuah “tangkai” kesejarahan yang tidak linier.[Boudhiba:27]. namun yang perlu dicatat, bahwa dalam pluralitas bangsa mongol, Afrika, Arab, India, Turki, Eropa, sebuah “mozaik peradaban” dirajuk dalam satu tarikan nafas islam. Dalam kaitannya dengan non-muslim, sejarah peradaban islam kaya dengan kehidupan pluralis dimana non-muslim menikmati hak-hak politisnya.

Di sini penulis berasumsi bahwa kekuatan dan nilai semangat pluralitas sebuah kultur dan paradigma dapat dilihat dan diukur secara seimbang dalam dua poros: internal dan external. Pluralitas islam yang secara internal sangat kuat mengindikasikan sebuah semangat pluralitas yang kuat secara eksternal.

dalam memformulasikan kerangka interaksi antara muslim-nonmuslim dalam kerangka negara islam, khazanah pemikiran politik islam membedakan antara afiliasi keagamaan dan afiliasi politik [Jamal Athiyah, Nahwa Fiqh Jadid lil-Aqalliyat, 80:2003]. Orang yang memiliki afiliasi keislaman dalam pengertian ideologis-keagamaan belum tentu memiliki afiliasi keislaman dalam pengertian politis. Bagi non-muslim, afiliasi politis tersebut diperoleh lewat sebuah kontrak hukum (yang jelas) antara kedua belah pihak yang dikenal dengan istilah Zimmah (yang berarti tanggungan atau kontrak untuk hidup bersama/koeksistensi). Kontrak tersebut tidak berlaku selamanya namun terkait dengan kondisi-kondisi tertentu yang menentukan status hukumnya. Klasifikasi afiliasi: politik keagamaan di atas didasarkan pada klasifikasi al Quran: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan kepada orang-orang muhajirin, mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah maka tidak ada kewajiban sedikit pun atasmu melindungi mereka sebelum mereka berhijrah. (akan tetapi jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan pembelaan agama maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka..”[8:72].

Hal itu semakin jelas dalam konsep kewarganegaraan islam yang terkristal dengan berdirinya negara Madinah. Berangkat dari konsensus masyarakat Madinah -dimana Rasulullah saw sebagai kepala negara- piagam Madinah dibentuk sebagai landasan konstitusional bernegara. Naskah tersebut mendefinisikan warganegara Madinah:”Hadza kitab-u Muhammadin Nabiy bainal mu’minin wal muslimin min quraisy wa ahli yatsriba waman tabi’ahum fa lahiqa bihim wajada ma’ahum. innahum ummatun wahidatun min dinin naasi”[Ibnu Hisyam, As-Sirat-un Nabawiyyah, 2:501-502]. Piagam madinah menegaskan bahwa “Al-Ummah” yang terbentuk adalah sebuah komunitas politis yang terbuka bagi siapa pun yang bersedia untuk konsisten terhadap nilai-nilainya dan bukanlah sebuah masyarakat tertutup yang membatasi hak kewarganegaraan dan jaminan lainnya atas golongan tertentu. Hak keanggotaan dalam ikatan “Al-Ummah” ditentukan oleh: (1). Loyalitas politik dalam bentuk konsistensi (al-ittiba) terhadap nila-nilai etis dan hukum yang digariskan oleh piagam tersebut. Dan (2). Afiliasi politis (al-lihaq) dan kesediaan untuk membela (al-jihad) tatanan negara islam serta berpartisipasi dalam mengemban. Ditegaskan juga bahwa:”…wa anna yahuda bani aufa ummatun minal mu’minin, li yahuda dinuhum wa lil muslimina dinuhum…”. Dalam kerangka ini, terlihat bahwa secara politis tidak ada perbedaan antara orang yang berafiliasi -secara ideologis-keagamaan- kepada islam dan non-islam.

Selanjutnya, berangkat dari kerangka filosofis yang menjadi sistem nilai pluralitas islam, terdapat beberapa kata kunci yang digunakan dalam berinteraksi -dalam tataran praksis- dengan “yang lain”.

1. Keadilan

Keadilan adalah kata kunci sentral dalam pemikiran islam. Ia didasari oleh nilai kostanta:Istikhlaf (manusia diutus sebagai wakil untuk memakmurkan dunia), persamaan dan keharaman berbuat zalim (aniaya). Allah berfirman dalam hadis Qudsi:”Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diriku, dan Akupun telah mengharamkannya di antara kalian, maka janganlah saling menzalimi”[HR. Bukhari]. Islam meyakini keadilan bersifat absolut dan tidak relatif dan harus secara konsisten dijaga dalam segala kondisi. Musuh harus diperlakukan secara adil sebagaimana sanak famili, kerabat dan sahabat diperlakukan dengan adil. Orang berkulit putih atau hitam, orang kuat dan lemah, muslim dan non-muslim, pemerintah dan rakyat jelata mempunyai posisi yang sama di hadapan hukum dan keadilan Allah. Al Quran menegaskan,”janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuat kamu berlaku tidak adil. Dan berlaku adillah, hal itu lebih dekat dengan ketakwaan”[5:8]. Umar juga menegaskan, “Tidak ada dispensasi dalam hal keadilan. tidak dalam situasi gawat ataupun dalam kondisi stabil”.

Olehnya, sebagai seorang manusia, non-muslim berhak mendapat perlindungan dan penghormatan. Keadilan Tuhan dimanifestasikan dalam sebuah komunitas yang dibangun secara terbuka hingga memungkinkan semua agama, aliran pemikiran untuk hidup dibawah payung keadilan. Keyakinan terhadap aqidah ketuhanan dan loyalitas setiap anggota masyarakat untuk memelihara tatanan nasional. Negara terbuka tanpa batas ataupun sekat agama, ras dan warna kulit. Siapapun berhak untuk berdiam di negeri islam. Non-muslim dari ahlul kitab, penyembah berhala (paganis) sekalipun mempunyai posisi yang sama. Dengan konsep zimmah mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan warga muslim. Dalam kondisi ini, negara islam berkewajiban melindungi dan memberi jaminan. Piagam Madinah menyatakan bahwa:”barangsiapa yang keluar dari madinah maka dia akan mendapat jaminan keamanan dan barangsiapa yang tinggal maka dia mendapat jaminan keamanan kecuali orang yang berlaku zalim”.

Jika islam diturunkan untuk menyerang politeisme, maka hal itu bukan karena alasan kemusyrikan saja, namun dalam politeisme terkandung benih-benih kezaliman dan angkara murka. Di sini Al Quran menegaskan penggunaan kekuatan untuk membangun dan melindungi tatanan keadilan dalam masyarakat karena merupakan sebuah keniscayaan dan sunatullah. Hingga bukanlah suatu hal yang aneh jika upaya membumikan keadilan menjadi salah satu target keberadaan para Rasul beserta syariat yang diembannya.[57:25].

2. Kebebasan

Kebebasan dalam pemikiran islam merupakan sebuah nilai yang sangat mendasar. Kebebasan atau seperti ungkapan Tahthawi, “Apa yang kita sebut dengan keadilan mereka (barat) menyebutnya kebebasan”[A’mal Kamilah, 1:452] bukanlah sebuah hak namun dalam bahasa Rashid al-Ganousi, kebebasan adalah sebuah kewajiban yang harus diemban dalam komunitas muslim.[Al-Fatih Abdullah, Telaah atas buku Al-Hurriyat-ul Ammah, Ganoushi dalam Islamiyatul Ma’rifah, 167 Ed,II 1995]. Tahthawi juga mengaitkan secara tegas antara kebebasan dan keadilan di satu sisi dengan kemajuan oeradaban dan stabilitas di sisi lain sambil mengisyaratkan adagium Ibnu Khaldun, “Keadilan adalah pilar peradaban”.

Berangkat dari konsep takrim dan istikhlaf, kebebasan dan hak asasi manusia menemukan akar legitimasinya. Manusia sebagai mahluk yang mendapat takrim (penghormatan) ilahi. Implikasinya manusia diberi mandat untuk memakmurkan dunia (mustakhlafun fil ardhi anillah). Hal inilah yang memberikan hak-hak asasi dimana tak seorang pun yang memiliki kekuasaan untuk mencabutnya. Kebebasan dalam pandangan islam adalah bagian yang tidak terpisahkan dari syariat dan nilai-nilai universalnya bahkan dari bangunan ideologis islam sebagai suatu keniscayaan.

Dalam kerangka inilah kebebasan berfikir yang termanifestasi dalam kebebasan politis dan kebebasan memilih agama diberikan jaminan. Sudah menjadi konsensus umat islam bahwa syarat sah untuk memeluk islam adalah tidak adanya paksaan. Secara tegas dan jelas, Al Quran mendeklarasikan kebebasan tersebut. Dalam hal ini, islam memberikan kebebasan memilih aqidah:”Tidak ada paksaan dalam (memilih) agama”[2:256], kebebasan berikhtiyar, “dan katakanlah: kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu maka barangsiapa yang ingin beriman maka hendaklah ia beriman dan barangsiapa yang ingin kafir maka biarlah dia kafir”[18:29]. Lebih dari itu, al-Maududi berpendapat bahwa dalam negara islam, non-muslim memiliki kebebasan mengeluarkan pendapat, berfikir, berkumpul dan mengadakan perayaan sebagaimana halnya warga muslim. Dan mereka juga diikat oleh batasan-batasan yang sama terhadap warga muslim. Bahkan warga non-muslim berhak untuk mengkritik agama islam sebagaimana islam berhak mengkritik agama dan aliran pemikiran mereka. Tentu saja dalam batasan yang telah diatur dalam UU.[Al-Maududi, Huquq Ahli Zimmah, 33].

Lewat kata kunci kebebasan ini, setipa orang berhak untuk menentukan pilihannya dalam beragama. Memilih akidah non-islam bukanlah sebuah pelanggaran yang meniscayakan sebuah hukuman, sebab hukuman dalam hukum islam hanya mencakup tindakan kriminal yang dapat menciptakan ketidakstabilan dalam masyarakat seperti pembunuhan, pencurian dan semisalnya, dimana semua tatanan telah menyepakatinya.[Abdul-Muta’al As-Shaidi, Hurriyatul fikr fil islam,15].

Di sisi lain, “Islam sejarah” menunjukkan bahwa agama-agama tumbuh subur dalam kerangka kebebasan yang diberikan seluas-luasnya. Komunitas yahudi di Spanyol Islam abad XI dan XII, misalnya dianggap sebagai zaman keemasan perjalanan sejarah komunitas yahudi. dalam rentang waktu tersebut komunitas yahudi dianggap menorehkan prestasi dan capaian peradaban yang gemilang lewat interaksi kultural dengan peradaban islam-arab.[Abdul Wahhab Al-Massiri, Mausu’ah al-yahud wal yahudiyyah, 4:250].

3. Persamaan Hak dan Kewajiban

Seperti telah dikemukakan bahwa dengan kontrak zimmah, seorang non-muslim memperoleh kewarganegaraan yang setara dengan warga muslim lainnya. Kesetaraan tersebut dalam khazanah pemikiran politik islam dikenal dengan istilah “Lahum ma lana wa ‘alaihim ma ‘alaina”. Pernyataan tersebut menyimpulkan kesetaraan hak dan kewajiban warga muslim dan non-muslim yang termanifestasi lewat persamaan dalam hukum, peradilan, memperoleh pekerjaan, hak-hak politik, penggunaan fasilitas umum dan kewajiban umum, seperti pajak dan kewajiban militer/ pembelaan negara. Perbedaan yang ada hanya terkait dengan tuntutan akidah. Memaksakan sesuatu yang menyalahi akidah warga muslim atau ahlu zimmah merupakan pelanggaran terhadap prinsip keadilan dan persamaan, misalnya dengan memaksa non-muslim untuk meninggalkan khamar dan daging babi, atau memaksa warga muslim untuk memakan daging babi dan meminum khamar.

Dalam kaitannya dengan hak non-muslim untuk mendapatkan pekerjaan dan memangku jabatan dalam pemerintahan negara islam yang telah menjadi sebuah aturan baku, hukum islam mengecualikan jabatan strategis: kepemimpinan tertinggi negara (Al-khilafat-ul Udzma) dan kementrian Tafwidh yang kini dikenal dengan perdana menteri (sementara kementrian tanfidz tidak ada perbedaan tentang kebolehannya).[Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyah,25] dalam hal ini, sejumlah fuqaha kontemporer mengadopsi pemikiran ini dan sebagian yang lain cenderung mengatakan bahwa syarat-syarat yang ditekankan oleh fuqaha duhulu harus dikembalikan pada konteks dimana jabatan tersebut dijalankan oleh seorang pejabat. Sementara kini jabatan-jabatan tersebut dijalankan oleh lembaga yang berwenang dalam satu sisinya. Oleh karena itu, alasan untuk mensyaratkan agama tak lagi mempunyai nilai yang memadai. dalam hal ini cukuplah UUD menyatakan bahwa Syariat islam merupakan sumber utama perundang-undangan.[Athiyah:94]. Bahkan Abdul Karim Zaidan melihat bahwa kepemimpinan tertinggi tidak terwujud kecuali dalam kondisi penyatuan umat islam dalam satu negara. Untuk negara yang ada seperti sekarang maka syarat keislaman pemimpinnya tidak diterapkan.[Ibid] namun Athiyah menegaskan bahwa kalau syarat itu dipermudah dalam kriteria perdana menteri maka seorang pemimpin negara harus memenuhi kriteria ini.[ibid].

IV. Islam Pluralitas: Beberapa tanda tanya

1. Apakah Semua Agama Benar?

Pertanyaan tersebut sering mengusik pemeluk agama. Pertanyaan ini tak lain ditujukan untuk memposisikan agama-agama diluar yang dianut oleh seseorang. Pertanyaan ini terkait juga dengan sebuah pertanyaan lain: Apakah ada kebenaran yang bersifat absolut? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering dilontarkan karena sikap ekslusif agama-agama diasumsikan merupakan akar fanatisme dan sikap antipati terhadap penganut agama lain. Pretensi kebenaran absolut cenderung kebal kritikan dan melakukan tindak kekerasan dengan mematikan “suara-suara lain”. Truth claim merupakan instrumen untuk melegitimasi kekuasaan. Michael Foucault menulis, “We cannot exercise power except through the production of truth” [Power/knowledge, 132:1982 dikutip dari Jim Leffel, Christian witness in a pluralistic age]. Dalam pluralisme postmodernisme, yang ditakuti adalah orang yang percaya bahwa kita dapat menemukan kebenaran absolut. Watak dogmatis, totaliter dan absolutis, kesemuanya naif dan berbahaya.

Dalam hal ini, gagasan pluralisme yang banyak digemari itu berakar pada postmodernisme yang kini mendominasi seni dan ilmu-ilmu sosial di banyak unuversitas di barat. Para pemikir postmodernis berasumsi bahwa segalanya -termasuk agama- merupakan konstruk sosial. Semua klaim kebenaran berakar pada bias kultural. Olehnya, tidak ada kebenaran obyektif. nilai-nilai etika merupakan produk tradisi kultur tertentu. Intinya, tidak ada nilai moral yang absolut. Kepribadian merupakan hasil dari sosialisasi yang berarti tidak ada nilai-nilai universal kemanusiaan. Dalam bingkai inilah, postmodernis mendeklarasikan kesetaraan agama sebagai sebuah narasi (kecil) yang berhak untuk hidup bersama (ko-eksistensi) dengan narasi-narasi kecil lain. Kebenaran agama dianggap sebagai pangalaman kemanusiaan dalam sebuah paradigma kultural.

Gagasan kesetaraan agama juga menarik kalangan agamawan dan ilmuan yang tetap menghargai moral keagamaan. Mereka menawarkan sebuah visi baru keagamaan yang pluralis tanpa klaim kebenaran. Dijelaskan bahwa “Other religions are equally valid ways to the same truth (john Hick): Other religions speak of different but equally valid truth (John B Cobb Jr):”Each religion expresses an important part of the truth (Raimundo Panikkar). Yang lain menjelaskan bahwa apa yang sering difahami sebagai politeisme, panteisme, monoteisme dan deisme adalah cara-cara saja yang dipakai oleh manusia untuk mendekati Tuhan. Seorang lagi menegaskan bahwa pemahaman keagamaan bersifat relatif dan tidak ada interpretasi yang absolut. Relativitas di sini seperti kata Amin Abdullah tidak berarti penolakan terhadap adanya standar umum, nilai-nilai fundamental keagamaan namun persoalan relativitas di sini lebih terkait pada aspek metodologis dan bukannya persoalan metafisis, konsekuensi, kerangka pemahaman tersebut bukannya merupakan suatu pendapat yang bersifat tetap melainkan sekedar model pendekatan untuk menjelaskan hakekat segala sesuatu.[Dinamika islam kultural, 83:2000].

Kedua pendekatan tersebut bukan tanpa celah dan lepas dari kritikan. Greg Koukl, seorang pemikir kristen menggugat bahwa pernyataan ” Semua pemahaman keagamaan adalah relatif mengandung kontradiksi internal, sebab pernyataan tersebut juga merupakan pemahaman keagamaan yang tentu juga relatif. [G.Koukl, The new definition of pluralism is not only indefensible, but it also discourages critical thinking about the real issues, dalam Religious Pluralism, 1996]. Lebih dari itu, pernyataan “Pemahaman keagamaan bersifat relatif dan tidak ada interpretasi yang absolut” terbukti menyalahi aturan-aturan dasar logika. Sebagai sampel, beberapa agama menegaskan monoteisme (satu Tuhan), yang lain menegaskan politeisme (banyak Tuhan), banyak juga yang lainnya menganut panteisme (segalanya adalah Tuhan). Berdasarkan aturan logika yang paling dasar (prinsip non-kontradiksi), beberapa visi tentang Tuhan tersebut tidak mungkin benar dalam waktu dan titik yang sama. Secara logis, ketiga pandangan dunia tersebut bisa saja semuanya salah namun ketiganya tidak mungkin semua benar.[Koukl, Ibid].

Di sisi lain, postmodernisme dengan watak relativisme absolutnya, meniscayakan nihilisme moral dan kognitif. Ernest Gellner mencatat, “Postmodernisme merupakan sebuah bentuk relativisme dan relativisme adalah persoalan, relativisme tidaklah disangkal karena melahirkan nihilisme moral, relativisme disangkal karena mengarah kepada nihilisme kognitif. Memang dalam tradisi postmodernis, penghargaan terhadap keragaman narasi kecil (relativitas) berbanding lurus dengan penolakan terhadap narasi besar (absolusitas).

dalam hal ini, Islam sebagaimana sudah dipaparkan, menghargai keragaman dan kebebasan memilih agama. Semangat pluralitas tidak menunjukkan kontradiksi dengan pengakuan terhadap nilai-nilai universal yang absolut. Justru semangat pluralitas tumbuh subur dalam kerangka nilai-nilai universal tersebut. di sini, klasifikasi islam-kufur tidak meniscayakan sebuah permusuhan, sebab orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya -Abdul Mta’al menegaskan- tidak berarti bahwa secara otomatis orang tersebut kafir di sisi Allah dan kekal di neraka-Nya. Namun hal tersebut diartikan bahwa tidak diperlakukan sebagai orang muslim di depan hukum, hingga mereka tidak dituntut untuk menunaikan kewajiban-kewajiban yang dibebankan atas orang muslim, namun menghakiminya sebagai kafir di sisi Allah maka hal itu tergantung pada penolakannya terhadap akidah tersebut setelah mendapat pemahaman (dakwah) yang benar tentang islam namun ia menolak karena kesombongan. Sebaliknya, jika dakwah islam tidak sampai kepadanya atau sampai dalam bentuk yang tidak menarik.

2. Perang: Memaksakan Agama atau Melindungi kebebasan?

jauh dari citra yang dirajut tentang konsep petang dalam islam, pembacaan yang utuh terhadap ayat-ayat perang dalam Al Quran menunjukkan bahwa perang melawan orang kafir hanya dilakukan untuk menangkal suatu serangan atau kemungkinan terjadinya penyerangan. Perang terhadap orang kafir tidak mungkin dilakukan hanya karena alasan kekufuran orang kafir. Hal itu karena di satu sisi, seperti sudah dikemukakan bahwa islam memberikan kebebasan berfikir seluas-luasnya dalam memilih agama [2:256, 18:29]. Juga Al Quran menegaskan “Berserulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah (bijak)”[12:16]. Allah SWT memerintahkan untuk berdakwah dengan cara yang damai dan bukan dengan perang. Di sisi lain, kufur yang diperangi dalam Al Quran adalah kekufuran yang menunjukkan sifat permusuhan terhadap islam.[ Abdul Karim Gallab, Shira’ul Mazhab wal aqidah fil Qur’an, 384:1973]. Bisa disimpulkan bahwa islam akan berdamai dengan orang non-muslim jika mereka bersikap damai kepada kaum muslim dan tidak menyerang dakwahnya baik dari segi gagasan maupun personal. ketika islam mendapat serangan maka Al Quran menyerukan untuk memerangi orang kafir.

Ayat-ayat perang dalam Al Quran bisa dibagi ke dalam tiga bagian:

a. Ayat-ayat tentang perang melawan kafir Quraisyi. Dalam hal ini perang yang dilancarkan oleh kaum muslim merupakan reaksi terhadap serangan mereka dan tindak perlindungan terhadap keberlangsungan dakwah dan bukan untuk memaksa mereka untuk memeluk islam. Dan etika mereka menghentikan perang maka kaum muslim dilarang untuk menyerang. “Dan berperanglah di jalan Allah melawan orang-orang yang memerangimu tetapi janganlah melampaui batas. Bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu. Jika mereka berhenti dari memusuhi kamu maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Penyayang”[2:190-193]. “Jika mereka condong untuk berdamai maka berdamailah”[8:61].

b. Ayat yang menyinggung perang melawan kekuatan musyrik Arab secara keseluruhan ketika mereka bergabung dengan kafir Quraisy untuk memerangi kaum muslim. Maka kaum muslim diizinkan untuk memerangi mereka dan Allah tidak mengizinkan untuk menyerang kaum musyrik dari bangsa lain, “maka perangilah kaum musyrik semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semua”[36:9].

c. Ayat yang berkaitan dengan perang melawan penjajah bangsa Romawi dan yahudi Hijaz yang memerangi kaum muslim, “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah) yaitu orang-orang yang diberikan Al kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah sedang mereka dalam keadaan tunduk”[29:9]/[lih. Abdul Muta’al As-Shaidi,70 dst].

Kesimpulannya, perang melawan orang kafir bukan berlaku umum tanpa batasan namun dibatasi jika mereka menyerang kaum muslim dan melanggar perjanjian. Di sisi lain, etika perang islam menegaskan bahwa perang bertujuan untuk jalan Allah dan bersifat defensif. Perang tidak boleh dilancarkan di Mesjid Haram kecuali dengan alasan defensif. Perang juga ditujukan untuk meredam fitnah. Dan jika musuh menghentikan sikap permusuhan maka perang harus dihentikan.

V. Epilog

Menata dunia dalam sebuah kerangka semangat pluralitas merupakan sebuah agenda global. Ketimpangan “Tatanan dunia baru” sangat terasa di mana kekuatan dunia terpusat pada satu titik. Dalam kerangka ini, gagasan “pluralitas islam” harus kembali diinterpretasikan dalam sebuah konsep operasional untuk membumikan visi pluralitas tersebut. kalau dalam sejarah pemikiran islam “Amar ma’ruf nahi munkar” dilembagakan oleh pemikiran islam dalam hisbah, maka pelembagaan pluralitas islam pada tataran individual, komunal dan global yang menghargai semua identitas harus mendapat perhatian serius. Pluralitas adalah koeksistensi yang sudah tergadai dan harus segera ditebus.

bagi umat islam, sebuah dialog dalam tataran global yang seimbang menuntut perbaikan rumah-tangga umat islam. sebab, semangat pluralitas yang kuat secara internal merupakan prasyarat kekuatan semangat pluralitas secara eksternal. Mungkinkah dialog global itu terwujud?
Wallahu A’lam bi-s Shawab


Read more! span.fullpost {display:none;}

Arkeologi Pemikiran Tafsir di Indonesia

Arkeologi Pemikiran Tafsir di Indonesia
Upaya Perintis

Farid F. Saenong,MA


L’archeologie de la pensee (arkeologi pemikiran), sebuah istilah yang diperkenalkan oleh Michel Foucault, merupakan upaya untuk menemukan proses terbentuknya pengetahuan dalam kurun dan kawasan tertentu. Oleh karena itu, pengetahuan adalah sesuatu yang historis, sehingga bisa ditelusuri. Buku atau karya kemudian menjadi ekspresi pemikiran, pengalaman, imajinasi atau ekspresi ketidaksadaran. Berbagai hal inilah yang akan menjadi objek analisa wacana dan arkeologi pemikiran. Azyumardi Azra, yang secara sederhana dan tidak langsung sealur dengan metodologi Foucault ini, pernah menyatakan bahwa ulama-ulama Indonesia bermunculan melalui berbagai jaringan yang berpusat di Timur Tengah. Oleh karena itu, pemikiran-pemikiran ulama di Indonesia juga tidak terlepas dari jaringan-jaringan tersebut. dalam konteks inilah, penulis ingin menjelaskan secara singkat arkeologi pemikiran tafsir di Indonesia, hingga dewasa ini.

Sejarah Al Quran di Indonesia

Penyebaran islam dari awal kemunculannya sampai hari ini, diyakini tidak lepas dari sumber primer ajaran islam, dalam hal ini Al Quran. Bisa dikatakan bahwa sejarah islam merupakan sejarah Al Quran. Walaupun Al Quran lebih terfokus pada peninggalan-peninggalan tertulis dari tradisi intelektual. Oleh karena itu, sejarah Al Quran dalam konteks yang paling sederhana di Indonesia, dapat ditelusuri sejarah masuknya islam ke Indonesia.

Secara umum, para peneliti mengungkapkan dua penjelasan/teori populer masuknya islam ke Indonesia. Teori Timur, yaitu islam masuk di Indonesia pada abad VII. M atau I. H, yang disebarkan langsung melalui jalur perdagangan oleh orang Arab yang bermazhab Syafi’i di daerah pesisir (coast) pantai utara Sumatera (Malaka). Sementara itu, teori Barat bersumber dari perjalanan Marcopolo (1292). hal ini lebih diperkuat dengan catatan Ibnu Batutah yang menjelaskan berdirinya islam di pantai utara Sumatera pada abad XVIII M. Azyumardi Azra sendiri berkesimpulan bahwa islam masuk ke indonesia dibawa langsung dari Arabia oleh para misionaris islam profesional yang dengan jumlah besar datang ke Indonesia pada abad XVII M - XVII M, dan pertama-tama dipeluk oleh kalangan elit nusantara. Di samping kedua populer tersebut, terdapat teori lainnya dengan karakteristik tertentu. secara singkat, penulis dapat katakan bahwa islam telah masuk ke Indonesia secara perorangan pada abad VII M, yang kemudian menjadi kekuatan sosial dan politik pada abad XII M.

Islam yang masuk k Indonesia adalah islam yang dibawa langsung oleh ulama-ulama Arab yang juga bekerja sebagai pedagang. Sebagai pedagang yang lalu-lalang, mereka juga membawa info-info aktual dari Timur Tengah. Perkembangan selanjutnya ditandai dengan banyaknya pemuda-pemuda Melayu dan Indonesia yang mengembara ke pusat peradaban islam di Timur Tengah untuk belajar islam. Ketika mereka kembali, tentu saja membawa info-info serta perkembangan aktual seputar Timur tengah yang selanjutnya mempengaruhi perkembangan islam di Indonesia.

Kajian tentang tradisi Al Quran dan tafsir di Indonesia telah dilakukan oleh beberapa Indonesianis seperti, R. Israeli dan A.H. Johns (Islam in the Malay world: an Explotary survey with the some refences to Quranic exegiesis, 1984), A.H. Johns (Quranic Exegiesis in the Malay world: In search of profile, 1998). P. Riddel (Earlist Quranic Exegetical activity in the malay speaking states, 1998).

Secara singkat, aktivitas seputar Al Quran di Indonesia dirintis oleh Abdur Rauf Singkel, yang menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa Melayu, pada pertengahan abad XVII. Upaya rintisan ini kemudian diikuti oleh Munawar Chalil (Tafsir Al Quran Hidayatur rahman), A.Hassan Bandung (Al-Furqan, 1928), Mahmud Yunus (Tafsir Quran Indonesia, 1935), Hamka (Tafsir Al-Azhar, 1973), Zainuddin Hamidi (Tafsir Al-Quran, 1959), Halim Hassan (Tafsir Alquranul Karim, 1955), Iskandar Idris (Hibarna), dan Kasim Bakry (Tafsir Alquranul hakim, 1960). dalam bahasa-bahasa daerah, upaya-upaya ini dilakukan oleh Kemajuan Islam Yogyakarta (Quran kejawen dan Quran Sandawiyah), Bisyri Mustafa Rembang (al-Ibriz, 1960), R.Muhammad Adnan (Alquran suci basa jawi, 1969) dan Bakry Syahid (Al-Huda, 1972). Sebelumnya pada 1310 H, Kiyai Mohammed Saleh Darat Semarang menulis sebuah tafsir dalam bahasa jawa huruf Arab. Ada juga karya yang belum selesai yang ditulis oleh Kiyai Bagus Arafah Sala, berjudul Tafsir jalalen basa Jawi Alus Huruf Arab. Bahkan pada 1924, perkumpulan Mardikintoko Kauman Sala menerbitkan terjemah Alquran 30 juz basa Jawi huruf Arab Pegon. Aktivitas lainnya juga dilakukan secara persial, seperti penerbitan terjemah dan tafsir Muhammadiyah, Persis bandung dan Al Ittihadul Islamiyah [KH.Sanusi Sukabumi], beberapa penerbitan terjemah di Medan, Minangkabau dan kawasan lainnya, serta tafsir Alquran dalam bahasa jawa yang diterbitkan oleh Ahmadiah Lahore dengan nama Quran Suci Jawa Jawi. Upaya-upaya ini bahkan ditindak-lanjuti secara resmi oleh pemerintah Republik Indonesia. Proyek penerjemahan Al Quran dikukuhkan oleh MPR dan dimasukkan dalam Pola I Pembangunan Semesta Berencana. Menteri Agama yang ditunjuk sebagai pelaksana, bahkan telah membentuk Lembaga Yayasan Penyelenggara Penterjemah / Penafsir Alquran, yang pertama kali diketuai oleh Soenarjo. Terjemahan-terjemahan yang telah dicetak dalam jutaan eksampler tersebut, telah mengalami perkembangan yang akhirnya, atas usul Musyawarah Kerja Ulama Alquran ke XV (23-25 Maret 1989), disempurnakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama bersama Lajnah Pentashih Mushaf Alquran. Lajnah ini pertama kali memiliki 10 anggota: Hasbi Ash-Shiddieqi, Bustami A.Gani, Muchtar Jahja, Toha Jahja Omar, Mukti Ali, Kamal Mukhtar, Ghazali Thaib, Musaddad, Ali Maksum dan Busyairi Madjid. kemudian pada tahun 1990, lajnah ini dirombak dan diisi oleh 15 anggota: hafidz Dasuki (ketua), Ilham Mundzir (sekretaris), Mukhtar Nasir, Lutfi Ansori, Syafi’i Hazmi, Muhammad As-Sirri, Aqib Suminto, Shawabi Ihsan, Nur Asyiq, Wasit Aulawi, Quraish Shihab, Satria Efendi, Muhaimin Zein, Badri Yunardi dan Surjono.

Upaya-upaya tersebut di atas, serta tuntutan masyarakat pecinta Alquran, mengundang para cendekia untuk menulis dan menerjemahkan berbagai karya di seputar Alquran. Kepustakaan-kepustakaan tersebut telah terisi dengan karya-karya Hasbi Ash-Shiddieqi (Sejarah dan pengantar ilmu Al Quran, 1980), beberapa textbook perguruan tinggi, terjemah karya Manna al-Qattan, serta beberapa karya penulis sendiri. Khusus dalam wacana sejarah Alquran, beberapa karya dan terjemahan telah muncul, seperti Adanan Lubis (Tarikh Alquran, 1941), Abu Bakar Aceh (Sejarah Alquran, 1986), Mustofa (Sejarah Alquran, 1994) dan sebagainya. Bahkan Tarikh Alquran karya az-Zinjani (Wawasan baru Tarikh Alquran, 1986) dan al-Abyari (Sejarah Alquran, 1993) telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

penyebaran islam di Indonesia diyakini secara konvensional, melalui proses penyebaran yang sangat damai dengan memakai pendekatan sufisme. Tokoh-tokoh besar nusantara, seperti Hamzah fansuri, Samsuddin Sumatrani, ar-Raniri, dan Wali Songo dikenal sebagai tokoh-tokoh sufi dan kalam dengan karakternya masing-masing. Dengan pendekatan sufisme ini, islam diterima secara damai, tanpa melalui perang fisik yang berarti. Pendekatan sufisme/kalam ini, tentu saja akan mempengaruhi cara berfikir jaringan ulama generasi selanjutnya, termasuk ketika diterapkan dalam tafsir atau terjemahan Alquran.

Tokoh sufi nusantara, seperti hamzah Pansuri dan Samsuddin Sumatrani seringkali mengutip ayat-ayat Alquran yang kemudian difahami dalam konteks mistisme. Ada riwayat kecil menyebutkan bahwa masa kedua sufi itu, telah muncul tafsir kecil terhadap surah Al-Kahfi yang diperkirakan dan dinilai mengikuti tradisi tafsir Al-Khasin.

Abdur Rauf Sengkel belajar di Saudi Arabia sejak 1640, dan diperkirakan kembali pada 1661. Beliau inilah yang mempelopori kajian-kajian tentang Alquran, ketika menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Melayu pada pertengahan abad VII. Tafsir tersebut bernama Tarjuman al-Mustafid. Sebagai perintis, tafsir ini mendapat temapt, bahkan tidak hanya di Indonesia. Tafsir ini pernah diterbitkan di Singapura, Penang, Bombay, Istanbul (Matba’ah al-usmaniah, 1302 H/ 1884 M dan 1324 H/ 1906 M), Kairo (Sulaiman al-Maragi), Mekkah (al-Amiriah).

Dalam kajian beberapa ahli, ada dua pendapat besar tentang tafsir ini, pertama: Snouck Hurgronje menganggap bahwa terjemah tersebut lebih mirip sebagai terjemahan tafsir al-Baidaiwi. Rinkes, murid Hurgronje, menambahkan bahwa selain sebagai terjemahan tafsir al-baidawi karya as-Sinkili itu juga mencakup terjemahan tafsir Jalalain. Voorhove, murid Horgronje setelah mengikuti pendapat gurunya dan Rinkes, berpendapat bahwa tafsir tersebut mengambil sumber dari berbagai karya tafsir berbahasa Arab. Kedua: Riddel dan Harun memastikan bahwa Tarjuman Al-Mustafid adalah terjemahan tafsir jalalain, hanya pada bagian tertentu saja tafsir tersebut memanfaatkan tafsir al-baidaiwi dan tafsir al-Khanzin. Singkel cenderung memilih tafsir Jalalain, diperkirakan karena secara emosional, Singkel memiliki runtutan sanad itu dapat ditelusuri melalui gurunya, baik al-Qusyasyi atau al-Kurani.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa metodologi Singkel dalam Tarjuman Mustafid sangat sederhana. Tafsir Jalalain yang dikenal sangat ringkas dan padat, itu setelah diterjemahkan menjadi lebih ringkas. Singkel menerjemahkan kata perkata sambari menahan diri untuk menambahkan pemahaman-pemahamannya sendiri. Uraian-uraian linguistic yang menjadi salah satu karakter Tafsi Jalalain serta penjelasan yang tidak perlu, ditinggalkan oleh Singkel. Penjelasan yang dinilai cukup panjang dalam Tafsir Jalalain dan diperkirakan akan memalingkan perhatian, tidak diterjemahkan oleh Singkel. menurut penilaian Johns, ini dilakukan oleh Singkel agar umat islam Melayu lebih dapat memahami dan mencerna karyanya dengan mudah. Singkel memang tidak menulis angka tahun ketika beliau menyelesaikan tafsir ini. Hasmi menilai bahwa karya ini ditulis ketika Singkel mengadakan perjalanan ke India. Pendapat ini ditentang keras oleh Azyumardi Azra, mengingat Singkel tidak memiliki route perjalanan ke India dalam sejarah hidupnya. Sulit bagi Singkel untuk menulis karya besar dalam perjalanan. Justru perlindungan dan fasilitas penguasaan Aceh semakin mempertegas kenyataan bahwa karya ini ditulis di Aceh.

Upaya rintisan Singkel ini kemudian diabadikan oleh seluruh pecinta Alquran dan tafsir di tanah melayu dengan menjadikan tafsir Jalalain sebagai tafsir standar atau tafsir pemula, yang dipelajari oleh hampir seluruh pesantren di nusantara. Karya Singkel ini dinilai sebagai pondasi dasar bahkan jembatan upaya tarjamah tafsiriyah di tanah Melayu. Karya-karya tafsir dari anak bangsa berikutnya, baru bermunculan dalam lima puluh tahun terakhir ini, setelah Tarjuman Mustafid ini bertahan selama tiga abad. Oleh karena itu, mengkaji sejarah Alquran di Indonesia, tanpa melibatkan Tarjuman Mustafid, karya Abdur Rauf Singkel ini, akan menjadi kajian yang kehilangan akar sejarahnya. Hal ini sangat terasa dalam upaya Federspiel yang mengkaji Alquran di Indonesia, yang memulai kajiannya hanya dari Mahmud Yunus sampai Quraish Shihab, tanpa memberikan penjelasan yang berarti, mengapa ia tidak menyinggung penulisan tafsir di Indonesia yang telah muncul sebelum Mahmud Yunus. Walaupun judul asli buku ini adalah Popular Indonesian Literatures on The Quran. Padahal Tarjuman Mustafid merupakan salah satu petunjuk besar dalam sejarah keilmuan islam, khususnya tafsir di tanah Melayu. Federspiel juga tidak menyebut terjemah atau tafsir yang ditulis ulama Indonesia dalam bahasa daerah seperti al-Ibriz atau Al-Quran Suci Basa Jawi yang juga sudah bermunculan pada tahuan 60-an.

Melirik kenyataan tersebut, tesis Federspiel ketika menciptakan periodesasi karya seputar Alquran di Indonesia. Dalam buku tersebut, sangat rentan untuk dipertahankan. Seperti diketahui, Federspiel membagi karya-karya Indonesia seputar Alquran menjadi tiga babak/periode yang ia sebut sebagai generasi. Generasi Pertama, ditandai dengan gerakan terjemah atau tafsir yang berpisah-pisah, mulai dari abad XX sampai awal tahun 60-an. Federsfiel secara tegas, tidak menyebutkan karya-karya yang dapat mewakili generasi pertama. Generasi Kedua kemudian muncul sebagai penyempurna metodologis atas karya-karya generasi pertama. Penerjemahan generasi kedua yang muncul pada pertengahan tahun 60-an ini, biasanya dibubuhi dengan catatan khusus, catatan kaki, bahkan disertai dengan indeks yang sederhana. Al-Furqan (A.Hassan, 1928), tafsir Alquranul Karim atau Tafsir Quran Indonesia (Mahmud Yunus, 1935) serta Tafsir Quranul (Zainuddin Hamidi dan Fackhruddin, 1959), dianggap sebagai karya-karya yang mewakili generasi kedua. Sementara itu, terjemah atau tafsir lengkap, menandai munculnya generasi ketiga pada tahun 70-an. tafsir generasi ini biasanya memberi pengantar metodologis serta indeks yang akan lebih memperluas wacana masing-masing. tafsir An-Nur/Al-Bayan (Hasbi Ash-Shiddieqi, 1966), Tafsir Al-Azhar (Hamka, 1973), Tafsir Al-Quranul Karim (Halim Hasan cs, 1955) dianggap mewakili generasi ketiga.

Tiga karya yang mewakili generasi kedua, dianggap memiliki format yang sama. teks Arab ditulis di sebelah kanan halaman. Sementara itu, terjemahan di sebelah kiri, serta catatan yang merupakan tafsir. Kesamaan karakter lainnya terlihat pada penggunaan istilah yang sulit dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia, sehingga ketiganya memberikan penjelasan khusus. Ketiganya juga sama-sama memberikan penjelasan tentang kandungan setiap Surah dalam Alquran. Di tempat lain, dua dari tiga karya tersebut sama-sama membicarakan sejarah Alquran.Mahmud Yunus dan Hamidi, juga sama-sama memberikan indeks sederhana dengan dibubuhi oleh angka-angka yang merujuk pada kalimah tertentu.

Sementara itu, tiga tafsir yang mewakili generasi ketiga, dianggap telah menggunakan metodologi penulisan kontemporer. Ketiga karya tersebut diawalai dengan sebuah pengantar metodologis serta beberapa materi Ulumul Quran. Hasbi dan Hamkamengelompokkan ayat-ayat secara terpisah antara satu sampai lima ayat kemudian ditafsirkan secara luas. Hanya karya Hassan yang formatnya masih serupa dengan karya-karya generasi kedua. Hassan menempatkan ayat dan terjemahannya secara berurutan dan kemudian diikuti dengan catatan kaki di bawahnya, sebagai tafsir. Ketiga tafsir ini juga menyajikan bagian ringkasan sebagai pokok-pokok pikiran dalam suatu surah tertentu. dari ketiga tafsir di atas, hanya Hamka yang menyajikan tafsirnya dengan uraian-uraian tentang sejarah dan peristiwa-peristiwa kontemporer. Bisa dimaklumi, mengingat Hamka menyelesaikan tafsirnya ketika masih meringkuk di penjara Orde Lama.

Setelah seluruh karya ketiga generasi tersebut, maka bermunculanlah berbagai karya terjemah atau tafsir, baik yang dikerjakan secara individual ataupun dikoordinir oleh lembaga atau badan tertentu. Aktivitas ini bahkan juga dilakukan oleh Negara, dalam hal ini Departemen Agama yang kemudian pada akhirnya memunculkan terjemah atau tafsir resmi/negara. Federspiel bahkan mengemukakan target-target tertentu dalam proyek tersebut. Pertama: Negara telah terlibat dalam penyebaran nilai-nilai islam, yang terbukti dengn memasukkan proyek tersebut dalam pola pembangunan lima tahun, yang ditetapkan dengan keputusan MPR. Kedua: Karya resmi tersebut juga telah memperlihatkan keahlian sarjana-sarjana Indonesia dalam tafsir. Krtiga: Proyek tersebut merupakan standar dalam tafsir dan terjemahan Indonesia lebih lanjut. Keempat: Salah satu kekuatan sosial/politik Indonesia yang biasa disebut Muslim Nasionalis, memantapkan diri dengan pandangan ideologis yang tercermin dalam tafsir tersebut. Bahkan Federspiel menganggap pandangan ideologis tersebut cukup mendominasi penafsiran Departemen Agama. Referensi terjemahan serta tafsir departemen Agama yang dikategorikan Tafsir Ilmi dan diasumsikan sangat mengacu pada tafsir Al-Maragi, lebih memperkokoh tuduhan itu.

bagian pendahuluan setiap surah dalam Alquran dan tafsirnya, menyajikan berbagai data dasar tentang suatu surah: waktu dan tempat turunnya serta munasabahnya. Pada bagian yang disebut pokok bahasan, selalu ada penjelasan tentang beberapa hal. Seperti: Keimanan, penyembahan, hukum, janji, peringatan, kisah-kisah serta ibarat-ibara. Khusus pada Alquran dan terjemahannya, bab pendahuluan yang terdiri dari ratusan halaman, juga memuat berbagai materi Ulumul Quran. Pada 7 Februari 1990, Dewan Penyelenggara Penterjemah/ Penafsiran Alquran mengeluarkan edaran yang mencakup beberapa hal dalam rangak perbaikan dan penyempurnaan ALquran dan terjemahannya,. Pertama: Sedapat mungkin mengikuti tata bahasa Indonesia yang benar. Kedua: Menggunakan istilah bahasa Indonesia yang betul-betul mewakili kata-kata bahasa Arabnya. Ketiga: Membuang beberapa bab mukadimah dan memakai kata yang dianggap erat hubungannya dengan Alquran. keempat: Menggunakan mushaf Alquran standar.

Tafsir Al Quran Dewasa ini di Indonesia

Maraknya syiar islam dewasa ini di indonesia, ikut mengundang beberapa ahli untuk menerjemahkan berbagai karya tafsir besar dalam bahasa Indonesia. Sampai hari ini, tercatat beberapa tafsir kontemporer berbahasa Arab yang telah diterbitkan oleh penerbit-penerbit Indonesia. Seperti Tafsir Al-Maragi (Bahrun Abu Bakar), Tafsir Jalalain (Wahyuddin Syaf dan Bahrun Abu Bakar), Asbab an-Nuzul (Qomaruddin Saleh), Tafsir Ibnu Katsir, Al-Asas fi Al-Tafsir (GIP), Tafsir Al-Muntakhab (Majlis A’la) dan sebagainya. karya-karyaterjemahan ini, pada akhirnya mendukung system pengajaran tafsir di perguruan-perguruan tinggi islam di Indonesia, yang menurut Quraish Shihab dan Jalaluddin Rahmat memiliki kelemahan-kelemahan tertentu.

Metode serogan di pesantren dan muhadarah di perguruan tinggi, hanya akan mengantar peserta didik menguasai produk tafsir, bukan ilmunya. Kelebihan metode serogan adalah pemahaman peserta didik terhadap seluruh ayat, yang dikemukakan serta metodologi mufassirnya. Sementara itu, kelebihan metode muhadarah lebih terletak pada sisi efisiensi dan spesialisasi. Oleh karena itu, Quraish Shihab menawarkan beberapa hal, seperti pendefinisian dan pengajaran kaidah tafsir, pengenalan kitab-kitab tafsir serta metode pengajaran tafsir yang sesuai dengan teori komunikasi modern.

Catatan Umum

Dari berbagai informasi yang sangat terbatas, penulis ingin mengemukakan beberapa catatan umum terhadap berbagai karya, khususnya karya tafsir Alquaran di Indonesia. Pertama: referensi (sumber) klasik Arab yang digunakan. Secara umum referensi standar berbahasa Arab yang digunakan oleh pernulis tafsir di Indoenseia, meliputi Tafsir Jauhari, Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Maragi, Tafsir al-Qasimi, Tafsir al-Razi, Tafsir al-manar, Tafsir al-Tabari, Tafsir al-Baidawi, Fi Zilal Alquran dan sebagainya. Kesemua tafsir ini mewakili zaman serta ideologinya masing-masing, sehingga dengan sendirinya menggambarkan pemahaman yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pemahaman salah satu sumber tersebut juga mewarnai wacana pemikiran tafsir di Indonesia. kategorisasi tafsir Indonesia berdasarkan waktu, tidak menemukan signifikasinya, mengingat perbedaan ideologis dalam sumber-sumber klasik tersebut juga mewarnai perbedaan ideologis para penulis tafsir> tentu saja hal ini didasari dengan asumsi bahwa perkembangan islam di timur tengah juga memegang kunci tersendiri. Kedua: Secara tidak sengaja, kemunculan beberapa tafsir di Indonesia juga ikut memicu friksi antara kaum medernis dan tradisionalis. Hampir semua karya tafsir populer yang tekah disebutkan di atas, ditulis oleh kalangan yang dikategorikan modernis. Hal ini bisa dipahami, mengingat ulama-ulama tradisionalis lebih berkutat pada persoalan kemasyarakatan (fiqhiyah). Hamka merupakan jebolan gerakan pembaruan agama (madrasah tawalib) di minangkabau dan akhirnya harus berhadapan dengan Orde Lama, yang nota bene sealur dengan kalangan tradisionalis. Hasbi Ash-Shiddieqi dibesarkan oleh kalangan al-Irsyad. A.Hassan diasuh bahkan kemudian memimpin Persis Bandung. Sementara itu, kalangan tradisionalis hanya bisa bangga dengan Tarjuman Mustafid dan Al-Ibriz karya Bisri Mustafa Rembang. Ketiga: Pengaruh orientalis dalam pemikiran tafsir-tafsir di atas, tidak mendapat tempat sedikitpun. bahkan Abu bakar Atceh pernah menyerukan menulis berbagai hal tentang Alquran dalam bahasa Indonesia guna membendung arus orientalisme. Hamka juga pernah mewanti-wanti bahaya orientalisme dalam salah satu juz tafsir Azhar. namun kita sebentar lagi akan menyaksikan sebuah karya orisinil Taufik Adnan Amal berjudul Rekonstruksi Sejarah Alquran yang sangat mengacu pada sumber-sumber Barat.


Read more! span.fullpost {display:none;}

Modernisme dan Post Modernisme

Modernisme dan Post Modernisme
Oleh : Abdul Wahab Masiri


Pendahuluan

Seorang penulis Amerika keturunan yahudi Susan Sontag, pembela kaum lesbi penulis buku, Against Interpretation (melawan intrepretasi) dianggap sebagai salah seorang penulis terpenting di zamannya, buku tersebut agak berbeda dengan nuansa peradaban barat. Menceritakan tentang non rasial filsafat yang mulai mengkungkung barat (bahwa kreasi seni adalah bukan sebuah cerita tapi sihir -jawaban intuisi yang butuh penafsiran- panemapilan kita adalah wujud yang sebenarnya dan wajah adalah topeng, dalam alam modernisme tidak ada bentuk yang bisa dipahami, menusia sebagai manusia kehilangan ciri yang menjadikannya memiliki posisi yang sama dengan yang lain, bahkan manusia dikuasai oleh segala sesuatu). Banyak diantara pemikir barat menganggap buku sebagai sejarah lahirnya post modernisme.

Gerakan pencerahan (humanisme) barat menjadikan manusia sebagai pusat, dan menegaskan tentang rasionalitasnya serta kemampuannya melampaui dirinya dan lingkungannya tanpa mengetahui hal-hal yang non-rasial. Peradaban ini dimulai dengan pengumuman “Matinya Tuhan” atas nama manusia sebagai pusat dan berakhir dengan pencabutan otoritas manusia sebagai decenter.

Kaum modernis menganggap bahwa teknologi akan menjadi sumber kebahagiaan manusia dan menjanjikan dunia yang lebih baik. Namun, hal itu tidak berlangsung lama,sampai kemudian ditemukan juga begitu banyak dampak negatif dari ilmu pengetahuan bagi dunia. Teknologi mutakhir ternyata sangat membahayakan dalam peperangan dan efek samping kimiawi justru merusak lingkungan hidup. Dengan demikian, mimpi orang-orang modernis ini tidaklah berjalan sesuai harapan dan berakhir dengan kehancuran manusia itu sendiri.

Dalam buku ini, Dr.Masiry memulai tulisannya dengan pembahasan tentang fenomena awal yang menyebabkan lahirnya babakan baru dalam sejarah peradaban barat. Lahirnya modernisme yang kemudian berakhir dengan lahirnya post modernisme. Buku ini sangat menarik untuk dikaji bersama sebagai refleksi tentang kehidupan yang melanda masyarakat barat saat ini, atau mungkin telah menjangkiti diri kita atau masyarakat kita tanpa pernah sadar akan hal tersebut.

Materi

Dalam tulisan ini, Dr.Masiry memulai dengan pembahasan tentang “materi”. Yang dimaksud dengan materi di sini adalah materi dalam istilah filsafat: Meyakini bahwa materi adalah zat asli dan penggerak inti alam. pandangan ini tidak ada kaitannya dengan “cinta harta (materi)”, karena banyak di antara kaum materialis lebih zuhud dibanding orang-orang beriman. pola hidup materialis tidak berarti semua masyarakat barat itu materialistis, banyak di antara mereka yang masih bersikukuh dengan iman mereka, tapi justru pola hidup materialislah yang menguasai aspek kehidupan mereka secara umum dan khusus. Pola materialis ini mengalami dua fase: Fase rasionalitas materi (modernisme) dan Fase non rasial materi (post modernisme).

Rasionalitas materi adalah keyakinan bahwa alam ini memuat hal-hal yang bisa digunakan untuk menginterpretasi segala bentuk materi tanpa membutuhkan wahyu atau pesan Tuhan. Rasiaonalitas materi ini lebih dikenal dengan istilah gerakan pencerahan, di mana akal manusia mampu mencapai pengetahuan yang menerangi segala sesuatu serta fenomena-fenomena alam. Pengetahuan ini menjadikan manusia sebagai pusat pada alam, yang menjdikannya mampu merubah dan menguasai alam. Dimana manusia berubah menjadi Tuhan atau wakil Tuhan atau tidak butuh lagi pada Tuhan. Inilah ynag menjadi perdebatan humanisme yang dianggap sebagai fase awal dari gerakan pencerahan modernisme.

Post-modernisme dan kegilaan

Orang bisa saja menganggap “post modernisme” hanya permainan kata atau seperti hantu yang menakutkan atau sebagai aliran filsafat yang tidak bisa dipahami oleh akal kita yang lemah. Orang bisa ngotot menganggapnya tidak ada dan omong kosong. Meskipun orang bisa juga bersikukuh menganggapnya kenyataan paling real hari ini. Orang tidak akan pernah tahu apa itu post modernisme tanpa mengetahui perselisihan sejarah filsafat dengan gerakan dekonstruksinya serta munculnya imajinasi rasio dan perkebangannya.

Pembahasan ini dimulai dengan sosok tokoh post-modernisme, Jacques Derrida (1930 M) seorang filosof perancis yahudi. Dia menganut aliran filsafat non rasial kontemporer. Dia banyak terpengaruh dengan Nietsche dan filosof serta pemikir lainnya (Sartre, Martin heidegger, Emanuell leibnizts, pemikir perancis yahudi).

Derrida memulai dengan perlawanan terhadap strukturalisme (albinyawiyyah), Sebuah gerakan yang berusaha menjauh dari esensi manusia yang berada dalam naungan eksistensialisme (alwujudiah). Orang-orang strukturalis menganggap strukturalisme sebagai penggerak awal dan melampaui akal manusia. Sehingga kita mendapati struktur bahasa dan kekuasaan berbicara tentang manusia, Bukan manusia yang berbicara tentang struktur bahasa dan kekuasaan. Derrida berkesimpulan bahwa strukturalisme dikemas dalam metafisika dimana eksistensi akal ibarat ungkapan-ungkapan suci yang melampaui alam intuisi dan perubahan. Struktur dalam pandangan orang strukturalis adalah metode-metode yang menyerupai bangunan akal manusia. Sedangkan strukturalisme adalah proyek mempelajari bangunan akal tersebut. Kosekuensinya,manusia kembali pada otoritasnya dan memberikan alam rasionalitas dan makna yang memungkinkan manusia untuk sampai pada satu kebenaran.

Proyek besar Derrida adalah upaya untuk meruntuhkan ontologi barat secara menyeluruh yang dibangun dengan pola pemilahan (oposisi) biner, Seperti manusia dan alam, mutlak dan nisbi, tetap dan berubah. Oposisi biner ini bersandar pada pertanda transendensi yang tsabit. Darridas berusaha meruntuhkan pertanda transendensi tsabit tersebut (logos,mutlak dan tetap) dari sisi agama dan materi dengan menetapkan oposisi binernya. Denag begitu,dia mampu menghancurkan batasan-batasan oposisi yang tersusun dalam pertanda transenden menuju suatu alam baru tanpa batas, Asas dan tanpa dasar ketuhanan bahakan tanpa landasan sama sekali. Pluralisme dan relatifisme menjadi kata kuncinya. Alam petanda dan pertanda terpisah secara mutlak. Maka bagi mereka tidak ada bahasa (kalopun ada hanya sekedar bahasa tubuh intuisi). Realitas teks saling tumpang tindih. Teks tidak bisa lagi dihadapkan pada realitas ataupun teks dengan makna teks. Pandangan nihilisme ala posmo ini akan menjadi dekonstrukter ketika dijadikan metode dalam membaca sebuah teks.

Dengan proyek dekonstruksinya, Derrida berusaha menghancurkan batasan-batasan kata, kalimat dan makna dengan menciptakan makna-makna baru. Derrida memainkan bahasa provokatif dengan tetap menjaga keseimbangan bahasa tersebut. Apa yang dilakukan Derrida menurut Masiry adalah permainan anak-anak yang memuakkan. Kita tahu bahwa permainan anak-anak pada masa kanak-kanak adalah wajar, tapi ketika menjadi orang dewasa suasananya akan berbeda. Masiry memberikan contoh; Derrida ketika lahir diberi nama Jacky kemudian ganti menjadi Jacques. Dia mengganti namanya tanpa meninggalkan nama yang pertama. Baginya nama pertama adalah nama yang kedua dan yang kedua adalah yang pertama. Bagaimana bisa seperti itu caranya?. Derrida mengatakan “nama itu seperti tanda khitan, isyarat yang datang dari orang lain, dan tidak mungkin berpisah dari badan”. Menurut Masery nama bisa saja sama denga khitan dari satu sisi tapi tidak dari semua sisi. Kita bisa saja menyamakan satu dengan yang lain tanpa ada pertautan antar keduanya. seperti itulah tabiat perbandingan (majaz). Dia tidak menuntut pertautan dari semua sisinya sedangkan Derrida mengatakan bahwa majaz tidak bisa dibawa menuju titik akhir yang logis. Ini yang diketahui setiap anak-anak, ini juga yang dipahami oleh Derrida, akan tetapi dia mempermainkan esensi majaz untuk merusak makna bahasa itu sendiri.

Menurut Derrida, nama adalah fenomena peradaban manusia sama dengan bahasa. menurutnya, nama adalah tanda yang tidak terpisah dari yang ditandai, ada hubungan pertautan dan pemisahan antar keduanya. Menurut Masiry, seandainya kita tahu bahwa nama adalah fenomena peradaban manusia dan tunduk pada keinginan manusia, tidak seperti tubuh yang merupakan fenomena alam/materi, maka kita akan marah dan sedih seperti anak-anak dan akan memberitahu semua orang bahwa tidak ada hubungan antar tanda dan yang ditandai yang menyebabkan posisi manusia bermasalah.


Read more! span.fullpost {display:none;}

13 July 2006

Iwan Fals, Humanisme dan Utusan Tuhan yang Diabaikan

Iwan Fals, Humanisme dan Utusan Tuhan yang Diabaikan
Taufik Damas


Entah mengapa, setiap kali mendengar lagu-lagu yang dibawakan oleh Iwan Fals (selanjutnya disingkat menjadi IF), banyak orang sadar sejenak tentang kondisi sosial yang ada di Tanah Air ini. Orang suka, gemar dan gandrung karena lagu-lagunya mudah dicerna dan mengandung pesan-pesan humanis yang dalam. Lagu-lagunya bagaikan kolaborasi antara ayat-ayat Tuhan dan teriakan obyektif kondisi sosial yang ada di Indonesia. IF adalah utusan Tuhan untuk rakyat Indonesia.

Orang lain mungkin akan mengernyitkan dahi ketika IF dianggap sebagai utusan Tuhan. “Apa dasarnya?!” pertanyaan pertama yang pasti akan terlontar dari lisan banyak orang. Tentu ada alasan untuk klaim itu. Alasan yang berangkat dari renungan subyektif dan penghayatan akan lagu-lagu yang pernah dinyanyikan oleh IF serta memperhatikan karakter pribadinya. Saya tidak hafal betul pada tahun-tahun berapa setiap lagu yang dinyanyikan oleh IF. Bagi saya itu tidak penting, karena substansi pesan yang ada dalam lagu-lagunya itu yang perlu dihafal. Itu sebabnya, sebagian besar lagu-lagu yang pernah dinyanyikan oleh IF, begitu melekat di kepala banyak orang. Melalui lagu-lagunya, kesadaran kondisi sosial politik di Tanah Air Indonesia terkonstruksikan di kepala orang Indonesia. Pernah saya katakan kepada seorang kawan bahwa IF adalah guru sosiologi terbaik, paling tidak bagi saya.

Dari lagu-lagu yang pernah dinyanyikannya, orang akan mudah menilai bahwa IF adalah sosok “pemberontak”. Dia adalah pemberontak terhadap kondisi sosial politik yang sebenarnya tidak terlalu rumit untuk diurai. Setiap nurani yang hidup akan mudah sekali menemukan bahwa “di sini” ada ketidakadilan, penindasan, bahkan kerusakan moral. Hanya saja, ketidakjujuran telah mem-perumit semua itu, hingga orang tidak mampu mengatakannya. Ketidakjujuran itu bahkan tidak jarang dibungkus dengan gaun in-telektualitas yang elit, namun tetap hanyut dalam irama anomali sosial yang ada. Gak usah sekolah tinggi-tinggi, kalau begitu! Untuk apa sekolah tinggi, kalau akhirnya, diam-diam, kita semua mengamini mekanisme sosial yang tidak fair?! Kita serempak terserang amnesia ketika berhadapan dengan nilai-nilai. Makanya, di negeri ini yang menonjol adalah para penjilat, durno, kancil, bandit, karet, bunglon… Jadi? Jangan sekolah tinggi-tinggi! Begitulah kira-kira salah satu pesan “orang murka” yang pernah disampaikan oleh IF. Walau bisa jadi, ada orang murka karena tidak kebagian.

Kelebihan lirik lagu-lagu yang pernah dibawakan oleh IF adalah tidak bergerak dari ruang hampa. Lirik-liriknya lahir dari hasil potretan kondisi sosial politik di Tanah Air Indonesia dengan kata-kata yang sederhana, telanjang dan jenaka. Hampir seluruh profesi sosial yang dijalani oleh orang Indonesia pernah dipotret secara sederhana tapi dalam oleh IF: IF menyampaikan potret sosial mereka dengan kata-kata yang mudah dicerna, bahkan oleh nalar awam sekalipun; IF mampu melihat sisi manusiawi dari satu profesi yang oleh kebanyakan orang dianggap sampah. Sebagai contoh, profesi pelacur atau yang lebih dikenal sekarang ini dengan Penjaja Seks Komersial (PSK).

Sebagian besar kita hanya mampu melihat para PSK sebagai sampah masyarakat. Tidak jarang, para agamawan pun ikut melakukan stigmatisasi terhadap mereka. Tapi IF, dia mampu mengungkapkan bahwa di antara mereka ada perempuan yang berjuang untuk anak-anak yang ayahnya tidak jelas rimbanya. Bahkan IF memberikan harapan, bahwa Tuhan tetap akan mendengar doa mereka. Ini bisa dicermati dari lagunya yang berjudul Doa Seorang Wanita Pengobral Dosa. Pandangan humanis seperti ini tidak akan kita temukan dalam diri orang yang tidak memiliki kesadaran sosial dan spiritual yang dalam.

Dalam politik, orang mungkin akan mencemooh IF jika sekarang dia menjadi salah satu politisi di Tanah Air. Pandangan-pandangan politik yang ada dalam lagu-lagunya tidak akan dijadikan mars oleh para demonstran jika dia ikut masuk dalam “dunia pesta pora para binatang”. IF akan disejajarkan dengan mereka yang senang “bermain lompat karet”. Kenyataannya, seorang IF betul-betul menunjukkan karakternya dalam menyikapi kondisi sosial politik berhadapan dengan pamor dirinya. IF betul-betul “patah arang” terhadap politik. Bagi IF, panggung politik adalah panggung para binatang yang merasa diri sebagai bintang (Asyik gak asyik).
Padahal, jika IF mau, dengan wibawa dan popularitasnya, partai manapun akan siap menerimanya sebagai bagian dari elit partai. Bahkan mendirikan partai pun bisa ia lakukan, walau belum tentu jadi partai besar. Dan itu berarti hasrat untuk memperkaya diri akan menemukan jalurnya, sebagaimana banyak dilakukan oleh para belalang (Belalang Tua). Namun, kekuatan karakter yang ada dalam dirinya keras membimbing IF agar tidak tergiur ikut berpesta. Di era reformasi (katanya), lagu-lagunya yang terbundel dalam album Manusia Setengah Dewa mempertegas sikap sosial politik dan karakter dirinya sebagai seorang utusan Tuhan.

Hal yang mengagumkan dalam diri IF adalah kematangan diri yang sulit kita temukan dalam diri kebanyakan orang. Dia adalah utusan Tuhan yang menerima wahyu non-evaluatif untuk disampaikan kepada masyarakat Indonesia, bahkan masyarakat manusia. Walau lirik dalam lagu-lagunya begitu kental dengan pesan-pesan moral (di balik kritik sosial pasti ada pesan moral) yang realistik-eternal, namun kerendahan hati dan ketenangan tampak begitu inheren dalam dirinya akhir-akhir ini. Gaya bicara yang tidak lantang (baca: pongah), menunjukkan bahwa IF sadar bahwa dirinya bukan manusia setengah dewa. Dia tidak memiliki pretensi bahwa untuk membenahi kondisi sosial politik di Indonesia cukup dengan bernyanyi. Ini yang membuatnya tidak pernah geer. Namun, pergu-latan batin yang dahsyat berkenaan dengan ketimpangan sosial yang terjadi di Bumi Pertiwi, tetap ia suarakan dengan lantang melalui lagu. Kelantangan itu seolah ia cukupkan terwakili oleh lagu. Sikap diri yang terdapat dalam seorang IF, jika harus diberi tanda, maka tanda itu tidak lain adalah konsistensi dan integritas.

Mendengarkan lagu-lagu cinta IF, kita akan menangkap bahwa cinta yang dihayati oleh IF adalah cinta orang-orang marjinal di negeri ini. Itu bisa kita lihat dalam lagu-lagunya seperti Lonteku, Kembang Pete, Yakinlah (duet bersama Eli Sunarya) dan lain-lain. Itulah cinta yang jujur, dalam dan kere. Saking kere-nya, sang lelaki hanya mampu mempersembahkan kembang pete kepada perempuannya. Keberpihakan IF pada rakyat kecil nan marjinal begitu jujur dan mendarahdaging, hingga dalam lagu-lagu cinta pun ia memilih potret cinta-cinta orang pinggiran. Biasanya, dalam lagu, orang akan berbicara tentang cinta yang mengandaikan sudah didukung oleh keserbacukupan materi; cinta yang membuat kebanyakan orang Indonesia menjadi lupa akan kondisi sosialnya; cinta yang cengeng, genit, glamor dan norak. Perhatikan kebanyakan lagu-lagu cinta yang dinyayikan di negeri ini, tidak pernah dewasa.

Seorang kawan pernah menyatakan ketidaksetujuannya terhadap IF, karena IF pernah mengeritik Tuhan dalam salah satu lagunya, Tolong Dengar Tuhan! Lagu yang ia nyanyikan setelah peristiwa meletusnya gunung Galunggung di Tasikmalaya. Jika disikapi dengan nalar terbuka, lagu itu justru merupakan ekspresi penghayatan tentang alam semesta dan Tuhan yang dialami oleh orang bebas dan berani. Dalam dunia filsafat, penghayatan seperti ini banyak diungkapkan oleh para filsuf. Penghayatan inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya teologi atroposentris. Jadi, menghayati isi lagu-lagu IF, kita akan menemukan kecenderungan humanisme yang kuat. Humanisme yang dari zaman ke zaman selalu disuarakan oleh para utusan Tuhan. Kini dan di sini, IF adalah utusan Tuhan yang diabaikan! (Jakarta, 16 Mei 2005, Taufik Damas).


Read more! span.fullpost {display:none;}

11 July 2006

Pohon Keabadian

Pohon Keabadian
Vikar

Dalam Al Quran, Allah swt berfirman:”Dan Kami berfirman: ‘Hai Adam, tinggallah kamu dan istrimu di surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang lalim.’” (QS. al-Baqarah: 35). Mengenai Surga, Al Quran tidak membicarakan tempatnya, sehingga para mufasir berbeda pendapat tentang hal itu. Sebagian mereka berkata: “Itu adalah surga yang bakal dihuni oleh manusia (jannah al-Ma’wa) dan tempatnya di langit.” Namun sebagian lagi menolak pendapat tersebut. Sebab jika ia adalah jannah al-Ma’wa maka iblis tidak dapat memasukinya dan tidak akan terjadi kemaksiatan di dalamnya. Sebagian lagi mengatakan: “Ia adalah surga yang lain, yang Allah ciptakan untuk Nabi Adam dan Hawa.” Bahkan ada juga yang berpendapat bahwa ia adalah surga (taman) dari taman-taman bumi yang terletak di tempat yang tinggi. Sekelompok mufasir yang lain menganjurkan agar kita menerima ayat tersebut apa adanya dan menghentikan usaha untuk mencari hakikatnya.

Sesungguhnya pelajaran yang dapat kita ambil berkenaan dengan penentuan tempatnya tidak sedikit pun menyamai pelajaran yang dapat kita ambil dari apa yang terjadi di dalamnya.
Nabi Adam dan Hawa mengerti bahwa mereka dilarang untuk memakan sesuatu dari pohon ini, namun Nabi Adam adalah manusia biasa, yang pelupa dan keinginan hati yang kuat (hawa nafsu). Maka iblis memanfaatkan kelemahan Nabi Adam dan mengumpulkan segala kedengkiannya yang disembunyikan dalam dadanya. Iblis terus berusaha membangkitkan waswas dalam diri Nabi Adam. Apakah aku akan menunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kekuasaan yang tidak akan sirna? Nabi Adam bertanya-tanya dalam dirinya. Apa yang akan terjadi seandainya ia memakan buah tersebut, barangkali itu benar-benar pohon keabadian. Nabi Adam memang memimpikan untuk kekal dalam kenikmatan dan kebebasan yang dirasakannya dalam surga.

Waktu berlalu, namun Nabi Adam dan Hawa sibuk memikirkan pohon tersebut. Hingga pada suatu hari mereka menetapkan untuk memakan pohon itu. Mereka lupa bahwa Alllah SWT telah mengingatkan mereka agar tidak mendekatinya. Mereka lupa bahwa iblis adalah musuh mereka sejak dahulu. Nabi Adam mengulurkan tangannya ke pohon itu dan memetik salah satu buahnya dan kemudian memberikannya kepada Hawa. Akhirnya mereka berdua memakan buah terlarang itu. Allah SWT berfirman:”Dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.” (QS. Thaha: 121).

Nabi Adam dan Hawa turun ke bumi. Mereka keluar dari surga. Nabi Adam dalam keadaan sedih sementara Hawa tidak henti-hentinya menangis. Karena ketulusan taubat mereka, akhirnya Allah SWT menerima taubat mereka dan Allah SWT memberitahukan kepada mereka bahwa bumi adalah tempat mereka yang asli, di mana mereka akan hidup di dalamnya, mati di atasnya, dan akan dibangkitkan darinya pada hari kebangkitan. Allah SWT berfirman:
“Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. ” (QS. al-A’raf: 25).

Kemudian Allah SWT menceritakan kisah tentang pelajaran yang diperoleh Nabi Adam selama keberadaannya di surga dan setelah keluarnya ia darinya dan turunnya ia ke bumi.
Allah SWT berfirman:”Dan Sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka mereka sujud kecuali Mis. la membangkang. Maka Kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak pula akan ditimpa panas matahari di dalamnya.’ Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: ‘Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa ?’ Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman: ‘Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.’” (QS. Thaha: 115-123).

Sebagian orang menganggap bahwa Nabi Adam keluar dari surga karena kesalahannya dan kemaksiatannya. Ini adalah anggapan yang tidak benar karena Allah SWT berkehendak menciptakan Nabi Adam debagai khalifah di muka bumi, “Sesungguhnya aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Turunnya Nabi Adam ke bumi, bukan sebagai penurunan penghinaan tetapi ia merupakan penurunan kemuliaan sebagaimana dikatakan oleh kaum sufi. Allah SWT mengetahui bahwa Nabi Adam dan Hawa akan memakan buah itu, dan selanjutnya mereka akan turun ke bumi. Allah SWT juga mengetahui bahwa setan akan merampas kebebasan mereka. Pengalaman merupakan dasar penting dari proses menjadi khalifah di muka bumi agar Nabi Adam dan Hawa mengetahui—begitu juga keturunan mereka— bahwa setan telah mengusir kedua orang tua mereka dari surga, dan bahwa jalan menuju surga dapat dilewati dengan ketaatan kepada Allah SWT dan permusuhan pada setan. Atau bisa dikatakan bahwa pemakanan Buah Khuldi adalah proses turunnya Adam ke bumi sebagai khalifah.

Secara pasti ia mengerti bahwa iblis adalah penyebab ia kehilangan nikmat dan penyebab kehancurannya. Ia mengerti bahwa Allah SWT akan menyiksa seseorang jika ia berbuat maksiat, dan bahwa jalan menuju ke surga dapat dilewati dengan ketaatan kepada Allah SWT. Ia memahami bahwa Allah SWT menerima taubat, memaafkan, menyayangi, dan memilih. Allah SWT mengajari mereka agar beristigfar dan mengucapkan:”Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscayalah pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. al-A’raf: 23).

Allah SWT menerima taubatnya dan memaafkannya serta mengirimnya ke bumi. Nabi Adam adalah Rasul pertama bagi manusia. Mulailah kehidupan Nabi Adam di bumi. Ia keluar dari surga dan berhijrah ke bumi, dan kemudian ia menganjurkan hal tersebut (hijrah) kepada anak-anaknya dan cucu-cucunya dari kalangan nabi. Sehingga setiap nabi memulai dakwahnya dan menyuruh kaumnya dengan cara keluar dari negerinya atau berhijrah. Di sana Nabi Adam keluar dari surga sebelum kenabiannya, sedangkan di sini (di bumi) para nabi biasanya keluar (hijrah) setelah pengangkatan kenabian mereka.

Pelajaran yang telah diambil dari kisah Nabi Adam as diatas, mengisyaratkan bahwa Adam terperdaya oleh bujukan iblis untuk mendekati pohon keabadian dan memakan buahnya merupakan proses hijrah untuk mendapatkan keabadian yang sebenarnya melalui risalah yang dibawa oleh para Nabi dan rasul hingga pada Rasul terakhir, Muhammad saw.

Al Quran adalah pedoman yang sah bagi umat manusia dalam meraih keabadian, sehingga bisa diibaratkannya sebagai Pohon Keabadian yang selalu terjaga oleh penciptanya. Benarlah jika ditegaskan “Ialah kitab yang tak ada keraguan di dalamnya sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa”,(al-Baqarah:2). Jika ingin mendapatkan kebahagiaan abadi maka seharusnyalah pohon tersebut dirawat dan dijaga dalam diri dan perbuatan agar buah yang akan dipetik di saat musim panen adalah buah yang bermutu dan sangat berharga.

Perawatan yang intensif terhadap pohon keabadian tersebut, akan melahirkan tunas-tunas yang siap tumbuh pada tempat dan waktu yang berbeda, meskipun badai, banjir dan topan sekalipun, tunas tersebut akan selalu mekar dan subur yang selalu menakjubkan. Jika pohon tersebut benar-benar dirawat, jangankan tunas, satu huruf pun dari padanya akan menjadi senjata yang ampuh, dan penangkal yang sangat istimewa terhadap segala bencana, musibah serta ancaman yang akan menimpa, "Wa nunazzilu minal qurani ma huwa syifaun wa rahmatun lil mu'minin,[al-Isra':82], dan kami telah turunkan apa-apa dari alQuran sebagai obat penyembuh dan rahmat bagi orang yang beriman. juga sebagaimana sabda Nabi SAW:"Man qara'a harfan min kitabillah falahu hasanah wa al-hasanatu bi 'asyari amtsaliha, la aquulu ali lam mim harfun walakin alif harfun wa lam harfun wa mim harfun,[riwayat Turmudzi] barang siapa yang membaca al-Quran, baginya kebaikan dan sepuluh kebaikan semacamnya, alif lam mim bukanlah satu hruf, melainkan alif satu huruf dan lam juga mim, dalam hadis lain:"Iqrauu Al-Quran fainnahu ya'ti yaum al-Qiyamah Syafi'an li ashabihi"[riwayat Muslim], bacalah al -Quran karena ia akan memberi syafaat di hari kiamat bagi pembacanya.

Mukjizat tentulah akan mendatangkan hal-hal di luar dugaan dan jangkauan, atau dengan kata lain bahwa al-Quran sebagai mukjizat akan mendatangkan kemukjizatan bagi orang yang merawatnya. Olehnya itu, berhijrahal serta rawatlah pohon keabadian dengan baik dalam tingkah dan perbuatan yang akan mengantarkan pada keabadian yang kekal.


Read more! span.fullpost {display:none;}