<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349</id><updated>2011-12-15T05:07:25.854+02:00</updated><title type='text'>Welcome        To        LuviLove      Sites</title><subtitle type='html'>LUVILOVE ( Lulu Vikar In Love ) and may God Bless Our Love Forever and Ever. saidna zulfiqar bin Thahir &amp; Syarifah Lulu Assegaf menikah pada tanggal 19/9/1999.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>78</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115982854293874978</id><published>2006-10-03T00:34:00.000+02:00</published><updated>2006-10-03T00:35:44.063+02:00</updated><title type='text'>Bye-bye-sorry 4 all</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Bye-bye-sorry 4 all&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;fikar&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dua kata yang sangat mudah terucap tanpa beban di bibir melahirkan beban baru di hati yang sangat sulit tuk dapat menahan tangis dan sedih, dua kata adalah awal dari kesedihan dan kebahagiaan yang slalu pergi mengikuti gerak kaki dalam melangkah, dua kata adalah hal yang mengerikan dalam akhir setiap episode sinetron kehidupan, dua kata itu tidak lain adalah “Bye-Bye” atau “Selamat Tinggal”.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Tiba saatnya aku untuk mengucapkan Bye-bye kepada semua yang telah menemani, mengisi, menghiasi, mengasihi dan mengadopsi aku dalam episode panjang tiada akhir dalam serial kehidupanku di kairo, semoga kesedihan akan selalu menjadi awal dalam meraih kebahagiaan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kata Maaf hanyalah keikhlasanku berucap, semoga kelapangan hati selalu terbuka. bye2 friends sampai ketemu lagi, bye2 internet sampai di sina lagi. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115982854293874978?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115982854293874978/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115982854293874978&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115982854293874978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115982854293874978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/10/bye-bye-sorry-4-all.html' title='Bye-bye-sorry 4 all'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115715637964873362</id><published>2006-09-02T03:15:00.000+03:00</published><updated>2006-09-02T03:19:40.683+03:00</updated><title type='text'>Abbas Mahmud Aqqad</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/1600/7.thumbnail.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/320/7.thumbnail.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Abbas Mahmud Aqqad&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;(28 Juni 1889-12 Maret 1964)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Oleh: Ahrieza Falahi DalimoentheÂ&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Ilmu itu datangnya dari buku, dan bukan dari penulis” A. M. Aqqad&lt;br /&gt;“Aku tidak pernah terpengaruh oleh siapapun dan aku ingin menjadi diriku sendiri” A. M. Aqqad&lt;br /&gt;“The Crusher writter” Saad Zaghlol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Prolog&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seorang pemikir ulung, filosof serta ulama sekaligus jurnalis dipenghujung-awal abad 19 dan 20. Putra dari Ibrahim Mahmud Al-Aqqad ini dilahirkan pada hari Jum`at di Kota Aswan, dalam ruang lingkup keluarga terhormat yang amat memperhatikan pertumbuhannya. Ayah beliau sendiri bertugas disalah satu Kantor Arsip Provinsi Aswan, yang pada saat itu kondisi kodifikasi arsip Mesir sendiri dalam keadaan yang memang kurang kondusif. Keadaan ini memaksa ayahandanya untuk selalu menghabiskan waktu di meja kantornya. Kakek beliau bernama Muhammad Aga As-Syarif yang mana garis keturunannya sampai kepada Abbas bin Abdel Mutallib kakek dari Rasulullah SAW.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada masa kecilnya beliau sering mengikuti halaqah yang diisi oleh salah seorang ulama Azhar yaitu Sheikh Ahmad Al-Jadawi bersama ayahandanya. Dimana Ahmad Al-Jadawi sendiri banyak mengadopsi pemikiran-pemikiran Jamaluddin Al-Afghani. Jadi sebenarnya dari masa yang amat belia sekali tanpa Aqqad sadari telah tertanam didalam dirinya beragam dan corak dari tokoh-tokoh keislaman pada masa itu. Ditambah lagi Aqqad sendiri sangat mengagumi Mostafa Kamil. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dimasa kecilnya beliau memiliki kemampuan yang amat lain dari teman-teman sebayanya. Seperti halnya dibangku sekolah, pada masa yang amat belia sekali ia sudah dapat memahami hal-hal yang berkenaan dengan sosial. Aqqad juga gemar membaca, salah satu kitab yang amat ia gandrungi adalah “Kisah 1001 satu malam” dan Diwan Baha Al-Zuhairi juga kitab yang dikarang oleh Al-Abshihi yang berjudul “Al-Mustathraf fil Fannil Mustazhraf”.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Imam Muhammad Abduh pada saat berkunjung ke Sekolah Dasar Nasional dimana Aqqad berseragam SD-nya berkata mengenai intelektual yang dimiliki Aqqad melalui karya-karya sicilik Aqqad, sambil berdecak kagum Imam Muhammad Abduh berkata: “Sesiapapun yang menulis ini akan menjadi penulis nantinya”. Namun pendidikan formal yang dienyam–nya tidaklah seperti yang diharapkan, karena pada usia yang sangat muda sekali yaitu ketika ia berumur 15 tahun ia meninggalkan bangku sekolah atau setelah menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Adapun sebab yang mendorong beliau untuk meninggalkan pendidikannya adalah kemauan dirinya sendiri, dengan kata lain Aqqad sendiri lebih gemar untuk membaca sendiri daripada untuk mengenyam pendidikan secara formal. Mungkin jika beliau meneruskan pendidikannya sampai pada bangku kuliah, maka akan lain lagi kisah petualangan seorang penulis ini, bisa jadi ia akan berangkat ke Eropa dan akan setara dengan para pemikir-pemikir terkemuka Mesir lainnya pada masa itu. Menurut pemaparan saudara Aqqad yaitu Sayyed Aqqad, Abbas memiliki kemampuan ingatan diatas rata-rata, jarang sekali ia membuka ulang buku-buku ia telah ia baca sebelumnya, ia hanya cukup meminta pertolongan Sayyed sendiri dalam memastikan buku-buku yang telah ia baca sebelumnya baik itu dari segi halaman buku maupun kepastian dari intisari yang telah ia baca. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Namun bagi beliau pendidikan formal bukanlah segala-galanya, dengan terputusnya pendidikan tidak menjadikan beliau berhenti untuk mendalami apa yang ia rasa menarik bagi dirinya, hal ini dapat dilihat ketika ia mulai bekerja sebagai salah seorang buruh upahan disebuah Pabrik Sutra di kota Demyaat. Ia memanfaatkan gaji dan waktu luang untuk membeli buku-buku, membaca dan menulis terutama di bidang politik dan sastra.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Aqqad berkata didalam sebuah karyanya yang berjudul Abqareyyas Siddiq: “aku tidak menulis tentang sejarah kekhilafahannya dan bukan juga tentang tragedi-tragedi yang terjadi pada masa itu, akan tetapi yang kutuliskan adalah gambaran pribadi dari seorang khalifah besar dimana kita dapat mengenalnya lebih dekat untuk lebih memperjelas kreasi-kreasi beliau serta faktor-faktor yang mendorong kesuksesan beliau”. Dari paparan yang disampaikan beliau kami mencoba untuk mengambil intisari apa sebenarnya yang terbesit dari pemikiran Aqqad dalam karyanya yang satu ini, bahwa sebenarnya bagi setiap generasi penerus yang terpenting adalah mampu untuk mengembangkan prilaku-prilaku serta faktor-faktor yang mendukung kesuksesan baik itu dari segi dakwah, akhlak kepada manusia dan yang tak kalah pentingnya lagi akhlak terhadap sang Khalik.&lt;br /&gt;Karena bagi Aqqad sendiri yang terpenting dalam setiap penulisan karya-karyanya adalah penyampaian poin yang akan dijelaskan lebih penting dari pada harus menghamburkan kata-kata dalam arena puja-memuji seorang tokoh yang dibahas. Hal ini jelas seperti apa yang disampaikan beliau dalam buku yang sama: “…tidaklah penting bagi kita kecil besarnya kepribadian Abu Bakar dimata ummat Islam, karena pada dasarnya ia akan mengecil dan membesar, karena semua itu tergantung pada kaca-mata orang-orang yang memandangnya, karena pada dasarnya hal-hal yang kecil memiliki hal yang lebih penting dari pada hal-hal yang terkesan besar namun memiliki kepentingan yang sedikit”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;B. Aqqad dan Jurnalistik&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Disaat Aqqad mulai menuangkan tinta pikirannya ketika mendalami hal-hal yang berkenaan dengan jurnalistik dan pers, Aqqad memiliki pengalaman yang berbeda seperti apa yang dialami para wartawan atau jurnalis-jurnalis lain pada masa itu. Ia harus bekerja keras membagi waktu menjadi seorang pegawai Jalur Lintas Perusahaan Kereta Api di kota Zaqaziq provinsi Sharkeyya dan menjadi seorang yang mengamati permasalahan sastra dan politik Mesir pada saat itu. Pada umur 16 tahun tepatnya pada tahun 1905 M ia bertolak menuju ibu kota, dengan berbekalkan berbagai pengalaman menulis, ia memberanikan diri untuk datang menghadap para tokoh-tokoh yang ada pada masa itu di kota Kairo, yang diantara lain adalah: Ya`qub Shoorof, George Zidane dan Mohammad Farid yang pada saat menjadi salah seorang tokoh nasionalis terkemuka. Setelah berselang 2 tahun yaitu pada tahun 1907 Aqqad bertemu dengan salah seorang pemuka jurnalis keislaman dan seorang evaluator politik dan sastra Mohammad Farid Wajdi. Aqqad datang pada Farid Wajdi dan menawarkan diri untuk menjadi salah satu staffnya diharian Dustur. Dan pada tahun yang sama Aqqad bertemu dengan Saad Zaghlool dimana beliau pada masa itu menjabat menjadi Menteri Penerangan, dimana pada masa itu siasat politik Saad Zaghlool yang ia terapkan diperkantoran divisi penerangan sendiri banyak ditentang oleh banyak kalangan. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hubungan yang erat antara guru dan murid -red. Aqqad dan Farid- ini semakin akrab, hal ini dikarenakan seluruh kolom serta rubrik yang diterbitkan pada setiap edisinya ditangani langsung oleh mereka berdua. Dimana Aqqad sendiri menangani editorial dan terjemah. Aqqad terjun langsung pada harian ini mulai dari awalnya sampai pada akhir dari edisi ini. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setelah terhentinya harian perdana dimana Aqqad banyak belajar bagaimana tentang percaturan dunia pers, Aqqad kembali bekerja sebagai penulis sastra di Kementrian Wakaf, namun tugas yang emban dikementrian tak membuatnya betah sehingga ia meninggalkan pekerjaanya itu pada tahun 1913. Dan pada tahun yang sama Aqqad mencoba kembali untuk kembali ke dunia pers yaitu bekerja sebagai wartawan diharian yang mendukung perjuangan politik Khadaiwi Abbas Helmi. Kembali lagi seperti biasanya ia kembali hengkang dari harian tersebut karena merasa visi dan misi partai tersebut kurang sejalan dengan alur pemikiran yang dimiliki Aqqad dimana saat itu pimpinan redaksi adalah Sheikh Ali Yosef. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Aqqad juga pernah menjabat sebagai salah seorang staff pengajar bersama-sama dengan salah seorang penulis legendaris Mesir yaitu Ibraheem Abdel Kadir Al-Mazni. Pengalaman mengajar bagi Aqqad sendiri disini bukanlah untuk yang pertama kalinya, karena pada umur yang relatif muda yaitu; 15 tahun, Aqqad telah terhimpun dalam staff pengajar muda di Kota Aswan yang dipimpin oleh Mostafa Kamil sendiri.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dunia tulis menulis adalah dunianya Aqqad, ia tidak pernah menyerah untuk selalu menyelami air-air dimana ia dapat menimba ilmu dari sesiapapun. Hal ini dapat dicermati melalui sahabat-sahabat pena yang dipilih oleh Aqqad sendiri. Aqqad sendiri sangat menjunjung idelismenya sebagai seorang wartawan ataupun penulis. Walaupun kondisi pers dan jurnalistik Mesir pada saat itu sangat tidak kondusif. Hal itu dikarenakan masa transisi dari pemerintahan kolonial kepemerintahan revolusi. Dan Tidak sekali Aqqad berpindah-pindah rumah redaksi dimulai dari tahun ia datang ke Ibu Kota diantara rumah-rumah redaksi yang pernah ia datangi adalah Harian El-Ahali yaitu pada tahun 1917, Harian Al-Ahram yang terbit di Alexandria pada tahun 1919. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tak sekali Aqqad sendiri mengalami ancaman ataupun intimidasi melalui tulisan-tulisannya disetiap harian dimana ia bertugas menjadi dewan redaksi didalamnya. Namun segala ancaman tadi tak membuatnya ketar-ketir dalam melantunkan penanya diatas kertas, karena dengan menulis bagi Aqqad sendiri adalah kebebasan segala-galanya, baik itu kebebasan berpikir, ekspresi maupun membumikan ide-ide yang tersimpan baik didalam benaknya. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berkisar pada tahun yang sama juga, Aqqad mulai membumikan karya-karyanya, yang pada awalnya ia lebih banyak berkonsentrasi pada bidang sastra dimana pada saat yang sama juga khazanah kesusastraan jazirah arab dipenuhi para pakar-pakar sastra diantaranya adalah Amirus Syua`ra Ahmad Syauqi. Yang mana Aqqad sendiri banyak menentang buah-buah pikir Ahmad Syauqi yang banyak tertuang kedalam syair-syair yang dikumandangkan Syauqi. Diantara karya-karya Aqqad adalah: &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Khalasatul Yaumeyya”, 1912, Dar Heelal&lt;br /&gt;“Sudzuur”, 1913&lt;br /&gt;“El-Insaan Ats-sani”, 1913&lt;br /&gt;“Yaqdzatus Sabah”, 1916, Karya sastra Aqqad Perdana.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Salah satu petisi Aqqad yang jelas-jelas menentang Syauqi adalah apa yang Aqqad sampaikan sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir adalah: “Kita telah mendengar keributan yang ditimbulkan seorang yang bernama Syauqi tentang perihal kehebatannya, namun kita lalui semua itu dengan diam (tanpa reaksi-red) seperti halnya kita melalui hiruk-pikuknya keributan yang telah dilalui sebelumnya. Yaitu dengan tidak memperdulikan kemasyhurannya juga dengan tidak mencounter karya-karyanya dalam sastra. Karena sesungguhnya hasil karya Syauqi sendiri adalah salah satu pengikut mazhab ‘self-desructive’ yang kami anggap sebagai buah karya dari para orang-orang yang sombong.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Aqqad menilai bahwa kesuksesan Syauqi sendiri didukung karena ia kerap akrab dengan orang-orang pers yang tidak segan-segan untuk mengelu-elukannya dalam media, begitu juga dengan hubungannya dengan orang-orang pemerintah dimana Aqqad menganggapnya adalah sebuah kebetulan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Aqqad sendiri juga tidak segan-segan untuk menulis dibeberapa majalah edisi-edisi yang banyak menjadi sorotan khalayak umum pada masa itu, yaitu menjadi penulis dimajalah: Ruzel Yosser, Heelal, Akhbarul Yom dan Majalah Azhar. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;C. Aqqad dan Percaturan Politik&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagai seorang pengamat politik Aqqad tidak pernah luput dalam mencermati segala gejolak serta polemik politik masa itu, ditambah lagi sebagai seorang jurnalis, sudah barang tentu ia menuangkan pikirannya mengenai politik kedalam rubrik-rubrik dimana ia terjun sebagai penulisnya langsung. Karena tidak ada hal lain yang menyibukkan Aqqad sendiri selain sastra, politik, jurnalis dan pengajaran. Salah satu moment penting yang dialaminya adalah ketika ia dipilih menjadi salah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Dimana salah satu jurus Aqqad yang menggiringnya kedalam jeruji dan harus mendekam didalamnya yaitu; penolakan Aqqad sebagai salah seorang wakil rakyat dalam prihal revisi dua mata undang-undang yang di amini oleh Raja Fuad dimana undang-undang tersebutkan berisikan bahwa rakyat adalah sumber pemerintahan (pemerintahan ditangan rakyat-red) dan para menteri bertanggungjawab di hadapan para anggota parlementer. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Secara langsung dan jahreyyan dalam sebuah rapat parlementer Aqqad secara lantang mengatakan bahwa: “Dengan senang hati rakyat akan memenggal kepala seorang pahlawan yang mengkhianati rakyat dan mencemarkan nama baik undang-undang dasar”. Karena Aqqad sendiri menilai bahwa pemerintahan yang menyelewengkan wewenang rakyat adalah pemerintahan yang diktator. Aqqad mendekam didalam penjara dengan tuduhan konspirasi terhadap wewenang Kerajaan, dimana pada saat itu Mesir masih berada dalam pemerintahan monarki. Setelah selesai menjalani sentence selama 9 bulan hukum kurung, Aqqad tetap berada dalam beranda politik yaitu sebagai aktifis Partai Wafd, walaupun ia tetap bertentangan secara visi politik dengan seorang nasionalis ternama yang terhimpun dalam satu rumpun yang tidak lain dan tidak bukan adalah Mostafa Nuhas.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Waktu yang dihabiskannya didalam penjarapun tak terbuang percuma begitu saja. The Experiences is The Best Teacher, kiranya filsafat ini tertanam kokoh didalam benak Aqqad sendiri. Beliau lebih banyak menghabiskan waktu-waktunya dipenjara dengan menulis, mengamati, berpikir serta tidak henti-hentinya memikirkan dan membayangkan apa yang sedang terjadi diluar rutan yang ia huni. Kesemuanya itu terhimpun dalam sebuah karya besar Aqqad yang berjudul “A`lamus Sudud wal Quyud” pada tahun 1937.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Gejolak politik Mesir saat itu tidak berbuahkan revolusi saja, namun sempat berakhir kepada konspirasi pemusnahan para tokoh-tokoh yang ada pada masa itu, termasuk Aqqad sendiri yaitu sekitar penghujung 40-an. Dimulai dari gejolak dialog sastra atau para pemikir yang berakhir kepada ring adu pemikiran dan sastra yang berhujung kepada percobaan pembunuhan. Dimana tragedi ini berulang kembali kepada Najeeb Mahfudz pada era 90-an. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Karena sebuah perseteruan tanpa barisan yang kecewa karena terkalahkan maupun yang dikalahkan sangat mustahil. Dimana tragedi tersebut sangat bertentangan sekali dengan etika dialog yang dianut oleh Islam sendiri, dimana Islam sendiri mengedepankan untuk selalu berbaik sangka dan tidak mengedepankan emosional buah pikir dalam sebuah sesi dialog. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Aqqad sendiri termasuk kedalam para perwira-perwira revolusi yang bersenjatakan pena, hal ini terlihat jelas dalam sebuah artikel panjang yang dipaparkannya tepat 2 bulan setelah pecahnya revolusi di Mesir pada tahun 1954 yang berbunyi: “sangat jelas sekali bahwa pemerintahan Farouq yang cukup panjang ini menyimpan hal-hal yang patut untuk dicurigai “. Dimana Aqqad menuai sebuah penghargaan yang amat bernilai yaitu “Al-Jaezah At-Taqdereyya” dari presiden Jamal A. Nasser yang berakhir kepada dialog empat mata antara dua tokoh besar ini pada tahun 1960. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;D. Aqqad dan Abqareyyatnya&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Aqqad mengungkapkan sebuah statement penting dalam pembahasan khalifah ke-3 yang bertuliskan: “kejadian-kejadian dan tragedi-tragedi akan selalu berulang dari setiap masa kemasa, walaupun kita dapat membayangkan perbedaan antara tragedi dan kejadian itu namun akan tetap ditemukan kesamaannya dari setiap waktu maupun tempat kejadian walau harus terpisahkan kurun waktu yang tidak singkat”. Aqqad memberikan istilah lain dalam serial para petinggi-petinggi dan rasul-rasul Allah pada masa kejayaan Islam, ia memberikan istilah taraajum. Tepat pada pembukaan tahun 1935 Aqqad hengkang dari dunia jurnalistik. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya dibelakang meja sibuk dengan karya-karyanya yang satu ini. Dari masa kecil hingga menjelang tutup usia, Aqqad tidak pernah berhenti membaca. Karena baginya dengan membaca ia dapat menarik jutaan dari milyaran kesimpulan yang tersimpan dalam ratusan buku yang telah ia baca.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ia sendiri tidak pernah mencoba untuk membuat sebuah kreasi baru dalam dunia “buku”. Ia tetap memberikan “jembatan” bagi para pembaca karya-karyanya akan karya-karya klasik yang telah ada sebelumnya. Ibnu Rumi Hayatihi wa Sya`rihi, adalah salah satu “jembatan” tadi. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dapat diseksamai bahwa sebenarnya Aqqad sendiri sangat menjunjung tinggi para guru-guru, tokoh-tokoh maupun rasul-rasul Allah SWT. Jikalau seseorang ingin menggambarkan wawasan yang dimiliki para pendahulu, maka buku tulis yang dimiliki para pelajar masa kini tidak akan mampu menghimpunnya. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Begitu banyak karya-karya yang dibuahkan oleh Aqqad dalam kurun waktu yang memang relatif singkat untuk umur seorang hamba. Dan juga tak sebanding dengan karya-karya para pakar ilmuwan ataupun sastra yang ada. Namun setidaknya jalan hidup yang dipenuhi dengan liku ini telah dilalui oleh Aqqad dengan penuh kesadaran yang nyata dan terencana. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Abqareyya Khalid, Abqareyyal Imam, Abqareyya Siddiq, Hayat Al-Masih, Amr ibn Ash, Beelal bin Rabbah, Hossain dan Ali, Imam Muhammad Abduh dan masih banyak lagi lainnya diantara karya-karya beliau yang tidak kami paparkan satu persatu dalam makalah ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;E. Epilog&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tepat pada 12 Maret 1964 Aqqad menghembuskan nafasnya yang terakhir menghadap sang Khalik yang memang akan tetap adil dan akan tetap adil pada semua hambanya. 42 tahun sudah Aqqad meninggalkan kita secara jasad, namun secara karya serta tulisan-tulisan yang ia bumikan tetap setia menemani kita dibelakang meja. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Maaf” adalah kata yang paling tepat dan tetap kami mintakan kepada seluruh pembaca artikel yang memang tak seberapa ini. Kami yakin dengan ribuan huruf ini kami tak mampu untuk menggambarkan siapakah sebenarnya Abbas Ibrahim Aga Al-Syarif Mahmud Al-Aqqad itu, apalagi dari segi sastra dan adab yang memang tidak kami paparkan, namun setidaknya kami sudah berusaha untuk mencari tahu tentang alur hidup seorang tokoh yang patut kita tauladani, baik itu melalui karya-karyanya maupun dari garis kritis gaya pemikiran yang dimilikinya.&lt;br /&gt;Wallahu a`lamu bisshawab.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115715637964873362?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115715637964873362/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115715637964873362&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115715637964873362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115715637964873362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/09/abbas-mahmud-aqqad.html' title='Abbas Mahmud Aqqad'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115689142383182926</id><published>2006-08-30T01:30:00.000+03:00</published><updated>2006-08-30T01:43:43.986+03:00</updated><title type='text'>Sepucuk Surat Untukmu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/1600/33372886259866s.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/320/33372886259866s.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Sepucuk Surat Untukmu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;Vikar&lt;/p&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;Bersamamu segalanya menjadi indah&lt;br /&gt;Menerawang tinggi di atas ubun-ubun&lt;br /&gt;Memetik bintang pandangi indah rembulan&lt;br /&gt;Menanti datangnya mentari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kokok ayam umumkan pagi&lt;br /&gt;Merah bibir langit tersungging manis&lt;br /&gt;Mulaikan mimpi dalam mencari&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;Keindahan abadi adalah cita&lt;br /&gt;Kudapatkan dalam cintamu yang suci&lt;br /&gt;Bersamamu bergandengan tangan&lt;br /&gt;Naiki tangga nada kehidupan&lt;br /&gt;Sebelum lagu terdengar sumbang&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;Rekaman takdir bukanlah kunci&lt;br /&gt;Yang menciutkan minat di kala sunyi&lt;br /&gt;Niat di hati adalah pintu&lt;br /&gt;Yang dapat dibuka jika ada kemauan&lt;br /&gt;Semua telah terpampang rapih di depan mata&lt;br /&gt;Mengapa menghindar sebelum mencoba&lt;br /&gt;Jika cobaan masih dapat dihindari&lt;br /&gt;Mengapa harus lari dari kenyataan&lt;br /&gt;Jika kenyataan sendiri tak pernah bergerak dan berlari&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;Pintu belakang selalu terbuka&lt;br /&gt;Jendela pun belum pasti terkunci&lt;br /&gt;Karena Lamabang restu dan sayang selalu ada&lt;br /&gt;Berkalungkan emas di dalam dada&lt;br /&gt;Bermatakan satu kata kepastian&lt;br /&gt;Yakinkan arah dalam meraih&lt;br /&gt;Kuyakin cintamu tak akan pernah basi&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;Kecanduan akan cintamu adalah obat penawar sedih&lt;br /&gt;Yang selalu datang mengintip&lt;br /&gt;Berkunjung tanpa undangan tawakan kesendirianku&lt;br /&gt;Kebijakan sadarkan besar arti kesendirian&lt;br /&gt;Kutemukan padanya rasa kehilangan&lt;br /&gt;Sadar siapa aku untukmu&lt;br /&gt;Penting artimu bagiku&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;Sedetikpun tak pernah terlintas&lt;br /&gt;Jauhmu akan lebih mendekatkan hati&lt;br /&gt;Tersiksa oleh bayang-bayang kelabu&lt;br /&gt;Goncangkan hari hingga tak menentu&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;Tanpamu hidup hanyalah kematian tanpa pemakaman&lt;br /&gt;Tanpamu aku hanyalah bayi atau banci&lt;br /&gt;Aku butuh dirimu dan cintamu&lt;br /&gt;Di sisiku selalu bersama&lt;br /&gt;Coz I do Love U Hon…..&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115689142383182926?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115689142383182926/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115689142383182926&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115689142383182926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115689142383182926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/08/sepucuk-surat-untukmu.html' title='Sepucuk Surat Untukmu'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115627787843741908</id><published>2006-08-22T23:12:00.000+03:00</published><updated>2006-08-24T19:08:55.163+03:00</updated><title type='text'>Hajar Jahannam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/1600/Picture%20018.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 135px; height: 232px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/320/Picture%20018.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Hajar Jahannam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;vikar&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hajar Jahannam atau Hajar Jannah atau sekarang populer di Athar-athar (penjual ramuan obat tradisionil) di Saudi Arabia dengan Hajar Barakah, kesemuanya adalah satu nama yang sering digunakan untuk menarik perhatian pembeli agar tertarik dan ingin mencobanya. Padahal asalnya bukanlah batu melainkan semacam getah yang diambil dari pohon tertentu yang konon kabarnya pohon tersebut hanya tumbuh di Mesir dan di India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Getah tersebut digunakan untuk menagkal terjadinya Ejakulasi prematur atau ejakulasi dini ketika suami atau pria terlalu cepat berejakulasi (cairan sperma terlalu cepat keluar pada saat hubungan seksual), membuat istri atau pasangan mereka menderita. Dimana fungsi hajar Jahannam itu dapat menjadikan kulit penis menjadi bebal atau kebal dan mengurangi tingkat sensitivitas kulit penis di saat mondar-mandir di dalam vagina. Cara penggunaannya yaitu dengan melarutkannya dengan air hangat kemudian mengoleskan sedikit dari getah tersebut ke bagian bawah penis selama 15 menit dan setelah itu mencucinya hingga bersih sebelum melakukan hubungan intim.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Obat ini akan banyak dijumpai pada saat Musim Haji yang kebanyakan dibawa langsung oleh mahasiswa Mesir baik yang akan bertugas sebagai petugas musim maupun yang akan menunaikan ibadah haji. Tidak heran jika setiap kali penataran petugas TEMUS (tenaga musim haji), mahasiswa Indonesia yang berasal dari mesir akan sering dikhotbah dan disindir mengenai akhlakul karimah dan berdagang hajar jahannam. Namun sebagai masukan, kiranya perlu diingat bahwa mahasiswa berbuat demikian karena mempunyai alasan yang sangat masuk akal dan sangat mudah untuk ditolerir, karena semua orang pernah merasakan bagaimana menjadi mahasiswa, apalagi jika status mahasiswa yang tidak berbea-siswa, tentunya akan mencari sampingan sebagai tambahan dalam memenuhi kebutuhan. Selama hal itu tidaklah menggangu jam kerja, wajar-wajar saja untuk ditolerirkan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mengingat banyaknya peminat dan permintaan dari jamaah haji itu sendiri, maupun yang bukan (mukimin) kiranya hajar jahannam itu menjadi barang yang langka dan sangat laku untuk dipasarkan. Cara pemasarannya pun berbeda-beda, ada yang memasarkannya sendiri-sendiri, ada pula yang disalurkan oleh orang lain ataupun dijual langsung ke toko-toko obat, ataupun jamaah haji itu sendiri yang secara malu-malu dan sembunyi-sembunyi menanyakannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ternyata masalah Ejakulasi prematur atau ejakulasi dini adalah masalah yang sangat urgen dalam perkawinan, sehingga saya berkesimpulan bahwa dengan menjual hajar jahannam adalah membantu pembeli dalam mengatasi masalah rumah-tangganya karena problem ini dipercaya menjadi alasan utama para pria membeli obat-obatan pengurang kepekaan kulit penis, yang dianggap terlalu sensitif. Di sisi lain, para pria pun menyadari, gangguan ejakulasi dini membuat istri atau pasangan mereka menderita. Terlepas dari ketidak-tahuan mereka bahwa penyebab ejakulasi dini adalah ketegangan jiwa. Setiap kali melakukan hubungan seksual, jiwa selalu tegang, sehingga saat hubungan itu berjalan, saat kenikmatan di penis mulai terasa, kantong cairan sperma (vesicula seminalis) langsung memompa, sehingga terjadilah ejakulasi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sayangnya, hampir semua penderita tidak mengenali atau menyadari ketegangan jiwa itu. Yang dirasakan ialah kenikmatan yang tinggi di kulit penis saat bersentuhan dengan vagina. Sehingga terpatri di pikiran, ejakulasi prematur yang mereka alami disebabkan oleh kulit penis yang terlalu sensitif. Tak heran kalau solusi awal yang muncul dalam benak para suami adalah bagaimana mengurangi sensitivitas kulit.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Padahal Hajar Jahannam atau Hajar Jannah dan Hajar barakah itu sama halnya dengan obat golongan procaine, yakni lidocaine atau xylocaine dalam bentuk cream (zalf) atau spray (semprot). Ketika melakukan kontak seksual, penis mengalami ereksi. Nah, saat ereksi itulah, kulit penis diolesi dengan obat. Buat yang tak suka model oles, tersedia juga obat semprot. Sesudah diolesi atau disemprot, hanya dalam hitungan detik, tingkat sensitivitas kulit penis sudah jauh berkurang. Jadi, walaupun penis bergesek-gesek di dalam vagina, ejakulasi menjadi lebih lama dari biasanya. Dengan lamanya ejakulasi itu diharapkan, istri ikut merasakan orgasme.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Karena digunakan di luar tubuh, keamanan obat-obat jenis ini biasanya cukup baik, Artinya, hampir tidak ada resiko berat yang harus ditanggung si pemakai. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pertama: Saat menggunakan obat-obatan jenis ini, “senjata” pria menjadi kurang peka. Ketika diraba dan dirangsang oleh istri, rasanya tidak akan sama seperti sebelum diolesi obat. Saat penis di dalam vagina pun, kenikmatan yang dirasakan pria ikut berkurang. Dengan kata lain, obat oles dan obat semprot berpotensi mengurangi kenikmatan dalam berhubungan seksual.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kedua: Pemakaian obat oles mengandung resiko pada pria berusia 30 tahun ke atas. Mengapa? Pada usia itu, kenikmatan seks di kulit penis justru sangat dibutuhkan untuk membuat penis tetap “hidup” alias ereksi. Tanpa kenikmatan yang langsung dirasakan oleh penis, ereksi akan menurun. “Pistol” pun akan memble. Bila nekat dengan tetap memakai obat oles atau spray, maupun hajar jahannam, lama-kelamaan akan menyebabkan disfungsi ereksi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Olehnya itu sadarlah sebelum membeli, artinya perhatikan umur sendiri sebelum menggunakan obat-obat tersebut, lain halnya dengan anak muda. Agar kelak tidak hanya mencemooh orang yang menjual hajar jahannam, karena yang mereka dagangkan adalah permintaan terbesar dan selalu dicari-cari oleh konsumen untuk tetap mantap “pistolnya” dan mahasiswa-mahasiswa yang menjualnya pun mencari tambahan agar tetap mantap kuliahnya. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115627787843741908?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115627787843741908/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115627787843741908&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115627787843741908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115627787843741908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/08/hajar-jahannam.html' title='Hajar Jahannam'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115620316167580405</id><published>2006-08-22T02:29:00.000+03:00</published><updated>2006-08-22T02:32:42.276+03:00</updated><title type='text'>Kelelawar Cairo</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/1600/DSC01810.thumbnail.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/320/DSC01810.thumbnail.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Kelelawar Cairo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Fikar&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagian besar pelajar dan mahasiswa Indonesia-Cairo menjadikan “Begadang” sebagai pola hidup bahkan tabiat sehari-hari yang terkesan negatif. Namun jika dicermati dengan sedikit lebih seksama terhadap Nash yang ada, iklim dan situasi setempat, ternyata hal itu dapat dikatakan sebagai hal yang wajar-wajar saja bahkan sangat bermanfaat. itu semua kembali pada permasalahan Tahajjud, ‘Urf maupun dari segi kedokterannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun dalam Al-Quran dengan jelas telah menyatakan bahwa Allah menjadikan siang hari sebagai kesempatan berusaha memenuhi kebutuhan hidup, dan menjadikan malam sebagai tempat beristirahat, mengingat dalam satu hari, jantung kita berdetak sebanyak 100.000 kali, darah kita mengalir melalui 17 juta mil arteri, urat darah halus dan juga pembuluh-pembuluh darah. Tanpa kita sadari rata-rata sehari kita berbicara 4.000 kata, bernafas sebanyak 20.000 kali, menggerakkan otot-otot besar sebanyak 750 kali, dan mengopersikan 14 milyar sel otak. Sehingga pantaslah bagi manusia istirahat, dan tidur adalah istirahat yang sangat baik menurut ilmu kesehatan. Namun ada sebagian Nash pun dalam Al-Quran yang dapat dikatakan kontraversi dengan ayat tadi, misalnya “Wa min al-lail fatahajjad bih”, dan juga pada surat al-Muzzammil, ayat:6-7, berbunyi: “Sesungguhnya bangun di waktu malam, dia lebih berat dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya bagimu di siang hari kesibukan yang panjang.” . Kesemuanya itu menunjukkan anjuran menyibukkan diri untuk mengingat Tuhan di waktu malam pada saat orang lain sedang terlena bersama mimpi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Makna “tahajud” yang berarti salat malam setelah bangun dari tidur, memang seakan-akan salat tahajud itu menyaratkan tidur lebih dulu. Kalau belum tidur maka salat itu tidak disebut salat tahajud, namun disebut shalat “qiyamullail” (shalat malam). Kata tahajjud dipahami oleh al-Biqai dalam arti tinggalkan tidur untuk melakukan shalat. Shalat ini juga dinamakan Shalat Lail/Shalat Malam, karena ia dilaksanakan di waktu malam yang sama dengan waktu tidur. Dianjurkannya karena tengah malam adalah saat mustajabah untuk memanjatkan doa. Tengah malah adalah saat yang tenang, kebanyakan orang pada pulas tidur, namun para malaikat turun ke bumi untuk mendengarkan keluhan dan jeritan hati manusia yang kemudian disampaikan kepada Allah. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Naifnya, Para dokter di National Taiwan Hospital baru-baru ini mengejutkan dunia kedokteran karena ditemukannya kasus seorang dokter muda berusia 37 tahun yang selama ini sangat mempercayai hasil pemeriksaan fungsi hati (GOT, GPT), tetapi ternyata saat menjelang Hari Raya Imlek diketahui positif menderita kanker hati sepanjang 10 cm! Selama ini hampir semua orang sangat bergantung pada hasil indeks pemeriksaan fungsi hati (Liver Function Index). Dimana mereka menyebutkan bahwa penyebab utamanya adalah Tidur terlalu malam (begadang) dan bangun terlalu siang adalah penyebab paling utama. sedangkan beberapa faktor lainya seperti, Terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan, Terlalu banyak mengkonsumsi bahan pengawet, zat tambahan, zat pewarna, Pemanis buatan. Pola makan yang terlalu berlebihan, dan Tidak makan (sarapan) di pagi hari. Adalah faktor pendukung kangker hati.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Benarlah jika DR. Muhammad Soleh, dosen IAIN Surabaya, telah mampu membantah pandangan tersebut melalui desertasi yang ia pertahankan sehingga mendapatkan gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, dengan judul “Pengaruh shalat Tahajjud terhadap peningkatan perubahan respon ketahanan tubuh imunologik: Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologi”, menyimpulkan jika Anda melakukan shalat tahajjud secara rutin, ikhlas dan khusyu’ niscaya Anda akan terbebas dari penyakit infeksi dan kanker.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ada orang yang selalu bangun pagi. Pukul enam pagi mereka sudah tidak betah lagi berada di tempat tidur. Dan begitu bangun mereka mampu bekerja dengan penuh konsentrasi. Tetapi, ada juga orang yang selalu begadang. Mereka secara naluri tidak dapat tidur sebelum larut malam. Kalau bangun terlalu pagi, mereka cepat marah dan tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja. Apa yang menyebabkan perbedaan itu? Masalahnya: setiap orang memiliki jam biologis atau mekanisme pengaturan waktu internal dalam tubuh yang bekerja secara otomatis.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jam ini sudah terprogram secara genetis dan menentukan kapan waktunya kita bangun dan kapan kita tidur. Dalam Forum Ilmu Pengetahuan „Euroscience Open Forum“ ESOF di München, Jerman, para peneliti mendiskusikan pengetahuan aktual yang hasilnya terutama dapat membuat orang yang suka tidur lama, merasa senang.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Till Roenneberg adalah professor di Institut Psikologi Kedokteran Universitas München. Ia peneliti soal jam biologis.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Till Roenneberg: “Jam internal itu seperti jam betulan. Kenapa kita memerlukan sebuah jam? Karena kita ingin tahu kapan kita harus berangkat, supaya misalnya tidak ketinggalan kereta api. Jam internal atau jam biologis mempunyai fungsi yang sama. Jam itu ingin mengetahui: Apakah saya sekarang harus meningkatkan temperatur atau hormon supaya saya bisa bangun dalam waktu dua jam nanti”. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jam internal yang dibicarakannya itu adalah reaksi proses evolusi terhadap pergantian dari malam ke siang hari. Jam itu terprogram dalam gen dan mengatur kapan kita bangun dan kapan kita tidur. Dan setiap orang memiliki jam biologis tersendiri yang berbeda satu sama lain. Tetapi jam biologis tidak selalu sama berdetak. Ini tergantung dengan umur.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Anak kecil biasanya bangun pagi sekali. Orang tuanya acap kali kerepotan oleh karena itu. Kemudian mereka tumbuh besar dan jam biologisnya semakin bergeser ke belakang dan pada usia remaja, pergerseran ini mencapai titiknya yang terakhir. Mulai usia 20 tahun jam itu kembali berangsur-angsur bergerak ke depan lagi. Ini berarti: kaum remaja dapat diibaratkan seperti burung hantu dan pensiunan sebagai burung Lerche. Namun untuk semuanya yang berlaku adalah: Jika hidup melawan jam biologis, misalnya karena setiap harinya bangun jam enam pagi karena wekernya berdering, maka badan akan mengalami stress. Para pakar seperti Till Roenneberg menyebut gejala tersebut “social jetlag“. yang disebabkan oleh hormon kortisol yang merupakan salah satu hormon stres. Kadar hormon ini semakin meninggi ketika kita dalam keadaan stres. Dengan kadar hormon yang meninggi kita lebih mudah berbuat salah, sulit berkonsentrasi dan daya ingat kita kurang baik. Hormon ini oleh pakar kesehatan dijadikan tolak ukur untuk tingkat/derajat stres seseorang. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Makin stres seseorang maka hormon kortisol semakin meninggi dalam darahnya yang akan menyebabkan ketuaan dan keriputan pada wajah. Hormon kortisol memiliki kadar tertinggi di waktu tengah malam hingga di waktu pagi, terutama pagi-pagi sekali (normal di pagi hari berkisar 38-690 nmol/liter, sedangkan malam-nya 69-345 nmol/liter).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika kembali melirik “Fiqh Realita” kita akan dapati imam Al-Suyuthy, seorang pakar hukum dari mazhab Syafi’i. Ia menggambarkan seorang mufti sebagai berikut:”Kedudukan seorang mufti ibarat kedudukan seorang dokter, ia seharusnya menangani kasus dan memberi keputusan sesuai kecenderungan kondisi, person dan zaman. Mufti adalah dokter agama dan ia adalah dokter tubuh.[Jadaliyyat al-khithab wa al-Waqi:235].&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Imam al-Qarafi (626-684 H) salah seorang pembaharu pada zamannya dan ahli hukum dari mazhab Maliki berkata:”Pertimbangkanlah tradisi (’Urf) yang masih berlaku dalam suatu masyarakat, dan janganlah melirik pada tradisi yang sudah tidak berlaku. Janganlah membelenggu diri pada karangan dan karya-karya ulama terdahulu seumur hidupmu. Jikalau datang seseorang kepadamu meminta fatwa dari daerah lain bukan daerah dimana kamu hidup, janganlah memperlakukannya seperti orang yang berasal dari daerahmu tapi tanyakanlah tradisi daerahnya lalu beri fatwa berdasarkan tradisi itu, bukan berdasarkan apa yang tertulis di dalam buku. Itulah kebenaran yang jelas, dan kemutlakan memberi fatwa berdasarkan apa yang tertulis dalam buku-buku adalah kesesatan dalam agama, dan itu berarti tidak memahami maksud para ulama islam dan ulama salaf terdahulu.[Al-Furuq, vol I:314].&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kesemuanya menunjukkan bahwa untuk menghakimi suatu perkara tidak terlepas dari kebiasaan yang terjadi di suatu daerah, sehingga kita tidak dapat memvonis bahwa begadang adalah suatu tabiat yang buruk, karena penilaiannya pun harus kembali kepada beberapa faktor dan sudut pandang yang berbeda yang dapat dijadikan sebagai bahan pertanyaan dalam menjawab masalah tersebut, yaitu: Mengapa harus begadang? untuk apa begadang? dan mengapa sebagaian besar mahasiswa Indonesia - Cairo menjadikannya sebagai kebiasaan? Untuk menjawab semua pertanyaan ini akan kembali kepada iklim dan situasi yang ada di Mesir sebagai faktor pendukung yang dapat disimpulkan sebagai berikut:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. Musim dingin yang mencapai 8% cc bahkan sampai 3%cc memaksa untuk tetap bertahan dan betah di dalam selimut ataupun musim panas yang mencapai 43% cc bahkan lebih yang memaksa untuk tetap bernaung di apartmen masing-masing dan membuat malas untuk menghirup udara luar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;2. System perkuliahan di Universitas Al-Azhar yang kurang mementingkan absensi siswa, berbeda halnya dengan sistem yang ada di Indonesia yang mana absensi siswa dijadikan sebagai nilai plus dalam kelulusan dan sebagainya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;3. Adat dan kondisi yang berlangsung di Mesir, dimana toko-toko, mall, restaurant dan sebagainya dibuka setelah jam 12 siang, perkantoran dan sekolah dimulai jam 9 atau jam 10 pagi. Atau dapat dikatakan bahwa aktivitas masyarakatnya lebih ramai pada malam hari dibanding siang bolong.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;4. Begadang telah menjadi suatu kebiasaan, sehingga bangun di pagi hari adalah penyebab suntuk bahkan stress, karena bingung mau ke mana apabila tidak ada urusan. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan masih banyak lagi faktor yang mendukung terbolak-baliknya pola kehidupan yang berlangsung di Mesir, sehingga hal tersebut jika dikaitkan dengan semua uraian yang ada di atas, baik yang berhubungan dengan masalah Tahajjud, kedokteran maupun ‘urf, jelaslah bahwa hal itu bukanlah kebiasaan buruk melainkan sebaliknya, meskipun hanya segelintir saja yang begadang demi Qiyamullail. Jika dikaitkan dengan pendapat Till Roenneberg akan terlihat sedikit benarnya melalaui raut wajah mahasiswa Indonesia-Cairo meskipun umurnya tua namun wajahnya nampak muda disebabkan oleh berkurangnya tekanan hormon kortisol pemicu kesetresan. Wallahu a’lam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115620316167580405?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115620316167580405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115620316167580405&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115620316167580405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115620316167580405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/08/kelelawar-cairo.html' title='Kelelawar Cairo'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115583449502735467</id><published>2006-08-17T20:07:00.000+03:00</published><updated>2006-08-17T20:08:15.196+03:00</updated><title type='text'>Obat Mata yang Paling Ampuh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/1600/miku.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/320/miku.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong style="font-weight: bold;"&gt;Obat Mata yang Paling Ampuh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Vikar&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mata merupakan salah satu indera vital bagi manusia, dengannya kita dapat melihat dengan jelas mana yang lebih baik dari yang buruk, tanpanya kita akan merasakan ketidak-sempurnaan sebagai manusia, dan salah dalam menggunakannya akan membuat kita melihat dalam kebutaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara phisikologis dan sufis (mistis), seseorang dapat dinilai melalui matanya, karena mata adalah pancaran dan cerminan dari apa-apa yang ada di dalam hati, meskipun mulut dapat berkata lain namun mata tetap tidak dapat menyembunyikan dan menutupinya. Dalam kedokteran pun tidak heran jika kita akan jumpai seorang dokter yang memeriksa penyakit pasiennya melalui mata.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berkembang pesatnya peradaban manusia akan membuat mata mudah terjangkiti oleh virus-virus peradaban yang mengakibatkan kerusakan atau kaburnya penglihatan dan sebagainya, meskipun secara dzahirnya terlihat baik, sehat dan kedua mata masih berfungsi normal, akan tetapi secara batiniahnya adalah layu dan tidak sehat. Saya menyadari, sebagian besar orang belum mengetahuinya, ada baiknya saya tuliskan sedikit mengenai obat ampuh yang dapat menangkal virus-virus tersebut yang mana telah dipraktekkan oleh ulama salaf terdahulu dan hasilnyapun telah terlihat jelas pada mata mereka.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di sebuah mesjid, ketika muadzzin mengumandangkan azan, sampailah ia pada dua kalimat syahadat atas kerisalahan Nabi Muhammad SAW. Pada saat syahadat yang pertama dilantumkan, saya membaca “Shallallahu ‘alaika ya Rasulallah”, dan pada syahadat yang kedua, saya mencium kedua ujung ibu jari dan mengusapkannya ke mata sambil berucap “Qurrat ‘aini bika ya rasulallah Allahumma matti’ni bi as-sam’i wa al-bashari, Allahummah Fadz ‘ainay wa nurhima”. Jamaah yang hadir di saat melihat perbuatan tersebut bertanya dan berdebat bahkan ada yang mengatakan bid’ah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setelah selesai shalat berjamaah, semakin ribut dan ramai orang bertanya serta berdebat. Secara singkat saya hanya menjawab “Itulah obat yang paling ampuh untuk menjaga mata dan melindunginya dari segala macam bentuk penyakit mata”, orang yang minus pada matanya pun dapat menggunakan untuk mengurangi keminusan bahkan menyembuhkannya jika diamalkan secara berkesinambungan, dan orang-orang yang mempraktekkannya akan lebih jelas melihat jalan yang terang dan benar, terpancar pada kedua matanya ketajaman yang tidak dapat dinilai dan bahkan dapat menundukkan pandangan orang lain.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagian ulama mengatakan bahwa hal ini adalah bid’ah. Sebagaimana dalam kitab “Talkhish al-Maqashid al-Hasanah” oleh Az-Zarqani bahwa Hafid al-’Arafi berkata jika hal ini tidak mempunyai dasar hukumnya dan diada-ada oleh Sufyan bin Uyainah. Ulama-ulama Wahhabi pun dengan tegas menyatakan bahwa hal ini adalah bid’ah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maslah ini sebenarnya telah disebutkan oleh ulama-ulama salafu salihin, seperti Al-’Alamah as-Sanwani dalam penjelasannya terhadap kitab “Mukhtashar Shahih al-Bukhari” oleh Ibnu Abi Hamzah. Juga seperti al-Faqih ad-Dilzali dalam kitab “Mujarrabat”nya, yang mengatakan bahwa sebagian besar ulama-ulama terdahulu telah mempraktekkannya yang menunjukkan sebagai qudwah bagi orang lain.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Syekh Daud al-Baghdadi menyebutkan dalam risalahnya bahwa saya tidak pernah mendapatkan hadis-hadis yang menunjukkan atas masalah ini, akan tetapi bisa jadi bersumber dari perkataan Rasulullah SAW:”Akan turun rahmat yang berlimpah di saat menyebutkan nama-nama orang shaleh”. Hal serupa juga dikemukakan oleh Ibnu Jauzi, Hafidz ibnu Hajar dari Imam Ahmad, juga oleh imam Suyuti dalam kitabnya “Al-Jami’ as-Sahghir”.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Diriwayatkan dari Ibnu Jawzi dati Sufyan bin Uyainah bahwa pada saat menyebutkan nama orang-orang shaleh akan bercucuran rahmat. Demikian juga yang dikemukakan oleh Syekh Daud al-Baghdadi. Tidak dapat dipungkiri bahwa Nabi Muhammad SAW adalah orang yang shaleh dan tiada keraguan akan turunnya rahmat yang berlimpah pada saat menyebutkan namanya, sehingga berdoa pada saat turunnya rahmat adalah mustajab dan orang yang mendengar serta berucap “Qurrat ‘aini bika ya Rasulallah” adalah doa terjaganya mata serta akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Maka tidak ada larangan padanya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ulama Hanafiah, seperti Thahthawi, menukilkan dalam penjelasannya terhadap kitab “Maraqi al-Falah” oleh Qahastani dari kitab “Kunz al-’Ibad fi fadhail al-Ghazw wa al-jihad” oleh abu al-Qasim bin Iqal berkata:”Disunnahkan pada saat mendengar syahadatain atas Rasul untuk mengucapkan Shallallahu ‘alaika ya Rasulallah pada syahadat pertama dan mengucapkan Qurrat ‘aini bika ya rasulallah allahuma matti’ni bi as-sam’i wa al-bashari pada saat mendengar syahadat yang kedua setelah mencium kedua ujung ibu jari sambil mengusapkannya ke mata, maka Rasulullah SAW akan menjadi penunjuk jalan baginya untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat”.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam Hasyiyah al-Baidhawi dari syekh Abu al-Wafa berkata:”Saya telah mendapatkan dalam beberapa fatwa bahwasanya Abu Bakar As-shiddiq ra mendengar azan, pada saat muazzin sampai pada ucapan dua kalimat syahadat atas Nabi, ia mencium kedua ujung ibu jarinya dan mengusapkannya di kedua matanya, kemudian yang melihat perbuatan Abu Bakar tadi bertanya kepadanya:”Mengapa engkau melakukan yang demikian ya Aba Bakar?”, ia menjawab:”Saya bertabarruk dengan kemuliaan namamu ya rasul”, kemudian Rasulullah berkata:”Kamu benar, dan barangsiapa yang melakukan hal tersebut ia akan selamat dari kerabunan dan terjaga di sisiku jika ia mengucapkan “Allahummah Fadz ‘Ainay wa nurhima”, Ya Allah jagalah kedua mataku dan cahayanya. Hal serupa disebutkan oleh Ad-Dilimi dalam kitabnya “Al-Firdaus” mengenai hadis Abu Bakar ra tadi, dan juga disebutkan oleh at-Thahthawi dalam kitabnya “Al-Fadhail”. Hal serupa pun akan dijumpai dalam Hawasyi al-’Alamah as-sayyid Muhammad bin Abidin dalam “Ala ad-Dar”, malah ia mensunahkannya. Dengan demikian menunjukkan bahwa tidak ada larangan padanya dan tidak dapat dikatakan sebagai bid’ah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagian ulama mengkhususkannya hanya pada azan tanpa Qamat sebagaimana penjelasan al-Qahastani pada catatan kaki bukunya, dan sebagian yang lain membolehkannya bukan saja pada azan melainkan pada setiap mendengar ucapan dua kalimat syahadat atas Nabi, bahkan pada saat mendengarkan namanya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari semua urain di atas, jelaslah apa yang dibutuhkan oleh mata agar terhindar dari segala macam bentuk virus peradaban dan obat yang ampuh untuk menyembuhkan kerabuan pada mata dan sebagainya. Karena hidup di zaman modern, mata tidak akan terhindar dari melihat apa-apa yang tidak patut untuk dilihat. Olehnya itu jagalah mata dan melindunginya seperti apa yang telah dikemukakan di atas. Wallahu a’lam bisshawab. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115583449502735467?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115583449502735467/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115583449502735467&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115583449502735467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115583449502735467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/08/obat-mata-yang-paling-ampuh_17.html' title='Obat Mata yang Paling Ampuh'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115510151029381938</id><published>2006-08-09T08:24:00.000+03:00</published><updated>2006-08-09T08:39:38.813+03:00</updated><title type='text'>Antara Da'wah dan Kekerasan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/1600/gadys3.thumbnail.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/320/gadys3.thumbnail.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Antara Dakwah dan Kekerasan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;fikar&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Keberhasilan tersebarnya islam ke seantero dunia tidak lain adalah karena adanya dakwah yang dilakukan oleh Rasul serta Tabi', tabi'in dan seterusnya. Telah tercatat dalam sejarah bahwa kelemahlembutan adalah faktor utama mudah diterimanya islam di hati para penghuni dunia, bukan dengan pedang atau kekerasan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Hal ini dapat dilihat, Ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya menguasai kembali kota Makkah (Fath Makkah) setelah berhijrah ke kota Madinah selama kurang lebih sembilan tahun, dan pada saat itu kaum musyrikin Makkah sudah tidak memiliki kekuatan apa pun untuk melawannya (padahal dahulunya ketika mereka berkuasa, sangat kejam terhadap Rasulullah dan para sahabatnya), beliau tetap memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada mereka untuk tetap menjadi kafir atau menjadi Muslim. Beliau bersabda: "Kalian bebas merdeka di muka bumi ini, tidak ada kedengkian dan hasud di antara kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi apa yang terjadi? Ternyata dengan kebesaran jiwa beliau tersebut yang merupakan refleksi dan manifestasi dari ketinggian ajaran Islam, mereka semuanya secara sadar dan sukarela mengucapkan dua kalimat syahadat dan menerima Islam sebagai agamanya. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam QS An-Nsahr:1-3 : "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhan-Mu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha penerima taubat". &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari pengalaman keberhasilan syiar islam yang banyak tercatat dalam sejarah tidak lain sebagai pedoman dan metode yang patut dicontek guna  meraih kembali keberhasilan tersebut. Untuk itu ada baiknya ditinjau kembali metode-metode dakwah dan tetekbengeknya yang telah ditawarkan oleh islam dalam menunjang keberhasilan dakwah dan juga da'i.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Makna Dakwah&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kata "Dakwah" berasal dari kata "Da'a-yad'u" yang berarti memanggil, menyeru, mengajak atau berdoa. Namun pengertian umum dakwah yang dimaksud di sini adalah panggilan, seruan atau ajakan untuk menyeru manusia mengakui kebesaran Allah Yang Maha Kuasa serta perlunya manusia hidup berlandaskan peraturan yang ditetapkan berlandaskan al-Quran dan as-Sunnah. Hal ini adalah inti pati dakwah bagi membina manusia yang bertakwa kepada Allah dalam arti kata yang sebenarnya dan seluas-luasnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Hukum Dakwah&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Rasul-rasul tidaklah diutus melainkan dengan tugas-tugas mulia dan Allah mengamanahkan mereka supaya melaksanakan da'wah. Di dalam surah an-Nahl :36, Allah berfirman :"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus bagi setiap umat seorang Rasul yang menyeru: Sembahlah Allah serta jauhilah thaghut."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa yang melaksanakan tugas dakwah maka ia akan mendapat pujian dari Allah berdasarkan firman-Nya dalam surah Fusshilat : 33 :"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada mereka yang menyeru manusia ke jalan Allah, beramal shalih dan berkata: aku adalah dari kalangan orang-orang yang berserah diri (Muslim)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung dengan ayat ini as-Syeikh Said Hawwa di dalam al-Asas Fi at-Tafsir berkata:"Termasuk di dalam golongan ini adalah semua penyeru dan da'i di jalan Allah. Dan menurut Ibnu Katsir, orang yang tidak mengerjakan yang ma'ruf tidak termasuk dalam golongan yang mengajak kepada yang ma'ruf dan juga tidak termasuk dalam golongan mereka yang mencegah kemungkaran "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh kerana dakwah adalah tugas yang mulia dan penting, Allah memerintahkan umat Islam melaksanakannya. Sebagaimana dalam surah Al Imran :110, Allah berfirman:"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada ma'ruf, dan mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kitab Usul ad-Da'wah, Dr. Abdul Karim Zaidan berpendapat ayat ini mempunyai dua penekanan. Pertama, Allah menjelaskan kebaikan umat ini dan kedua, kebaikan umat ini berhubungan erat dengan pelaksanaan amar ma'ruf dan nahi munkar. Berkaitan dengan ayat yang sama di dalam kitab Dalilul Falihin disebutkan:"Barang siapa menepati sifat-sifat yang disebutkan dalam ayat ini, dia tergolong dalam golongan umat terbaik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kemuliaan bagi mereka yang mengabaikan amar ma'ruf serta nahi munkar. Ma'ruf adalah  segala yang baik mengikut pandangan syara' dan akal, sedangkan mungkar adalah hal-hal yang berlawanan dengan segala yang ma'ruf. Sebagai contoh, meninggalkan amalan fardhu atau pun melakukan perbuatan haram, baik berbentuk dosa kecil atau pun dosa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi SAW bersabda:"Barangsiapa antara kamu yang melihat kemungkaran hendaklah merubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu hendaklah merubahnya dengan kata-kata dan jika tidak berdaya hendaklah dicegah dengan hatinya, dan mencegah dengan hati adalah selemah-lemahnya iman."   (HR Imam Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung dengan mencegah kemungkaran, kadar minimum yang dituntut adalah mengingkarinya dengan hati. Di dalam kitab Dalil al-Falihin disebutkan:"Mencegah kemungkaran dengan hati bermaksud membencinya dengan hati disertai dengan niat untuk mencegahnya dengan lisan atau pun perbuatan apabila dia mampu. Membenci maksiat dengan hati hukumnya adalah wajib atas setiap individu dan barang siapa yang menyetujui suatu kemungkaran berarti dia bersekongkol dengannya." . Karena Iman memerlukan bukti dan salah satu buktinya adalah membenci maksiat. Tanpanya, iman akan hilang bahkan mati  dalam hati seseorang. Sebagaimana sabda Nabi :"(Jika hati seseorang tidak membenci kemungkaran), tidak ada setelah itu iman walaupun sebesar biji sawi."(Bukhari, MUslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara dasarnya, hukum berdakwah dengan lisan dan tangan adalah wajib kecuali dalam situasi tertentu. Di dalam kitab Dalilul Falihin disebutkan:"Apabila dikuatirkan harta benda dan diri seseorang akan ditimpa kebinasaan, haruslah bagi seseorang itu sekedar melawan dengan hatinya saja. Jika kekhawatiran ini tidak ada, dia diwajibkan berdakwah, walaupun dia belum mengamalkan apa yang diserukannya atau pun dia menyadari seruannya tidak akan diterima."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan ini, Imam Ghazali di dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskankan empat keadaan yang mungkin ditempuh oleh para da'i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tidak wajib berdakwah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang da'i menyadari da'wahnya tidak akan mendatangkan manfaat dan berkemungkinan dia akan dipukul atau dibunuh. Dalam keadaan seperti ini, tidak wajib baginya melaksanakan dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Wajib berdakwah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang da'i menyadari dakwahnya dapat menyebabkan kemungkaran tersebut tercegah dan tidak ada seorang pun yang berani melakukan tindak kejam atasnya. Dalam suasana seperti ini, dia wajib melaksanakan dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sunah berdakwah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Jika da'i menyadari dakwahnya tidak akan mendatangkan kesan positif dan dia sanggup memikul segala macam bentuk resiko yang mungkin menimpa atas dirinya. Dalam situasi seperti ini, dia disunahkan menyampaikan dakwah tetapi tidak diwajibkan atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Jika da'i menyadari dakwahnya akan memudharatkan dirinya tetapi jika dilakukan juga ia dapat mencegah kebathilan yang sedang melanda. Dalam keadaan seperti ini, dakwah disunahkan atasnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Metode Dakwah Dalam Islam&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya kehidupan umat Islam, telah diketahui bahwa dakwah mempunyai kedudukan yang amat penting. Dengan dakwah, dapat disampaikan serta dijelaskan mengenai ajaran Islam kepada masyarakat dan umat sehingga mereka dapat mengetahui mana yang benar (haq) atau salah (batil).Peranan dakwah bukan hanya sebatas agar umat dapat mengetahui dan membedakan tetapi dakwah juga dapat mempengaruhi masyarakat untuk menyukai hal-hal yang baik serta dapat menjauhi apa saja yang tidak benar yang terjadi dalam masyarakat. Sekiranya ini dapat diwujudkan dalam masyarakat Islam, sudah tentu hasrat kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat dapat dicapai.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Metode dakwah telah dirincikan dalam Al-Quran. Allah SWT berfirman:"Serulah mereka ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu adalah Yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. ( an-Nahl : 125).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pakar tafsir berbeda pendapat mengenai asbab an-nuzul (latar belakang turunnya) ayat ini. Al-Wahidi menerangkan bahwa ayat ini turun setelah Rasulullah SAW menyaksikan jenazah 70 sahabat yang syahid dalam Perang Uhud, termasuk Hamzah, paman Rasulullah .&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Al-Qurthubi menyatakan bahawa ayat ini turun di Makkah ketika adanya perintah kepada Rasulullah SAW untuk melakukan gencatan senjata (muhâdanah) dengan pihak Quraisy. Akan tetapi, As-Suyuthi tidak menjelaskan adanya riwayat yang menjadi asbab an-nuzûl ayat tersebut. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Meskipun demikian, ayat ini tetap berlaku umum untuk sasaran dakwah siapa saja, Muslim maupun kafir, dan tidak hanya berlaku khusus sesuai dengan asbabul nuzûl-nya (andaikata ada asbab an-nuzûl-nya). Sebab, ungkapan yang ada memberikan pengertian umum, setelah kalimat ud'u (serulah) tidak disebutkan siapa objek (maf'ull bih)nya. Ini adalah uslub (gaya pengungkapan) bahasa Arab yang memberikan pengertian umum (li at-ta'mîm).&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari segi siapa yang berdakwah, ayat ini juga berlaku umum. Meski ayat ini adalah perintah Allah kepada Rasulullah, perintah ini juga berlaku untuk umat Islam. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Ayat di atas menerangkan tiga metode (thariqah) dakwah, yakni cara mengembangkan dakwah dalam menyerukan Islam kepada manusia. Ada cara yang berbeda untuk sasaran dakwah yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dengan hikmah, maksudnya dengan dalil (burhan) atau hujjah yang jelas (qath'i ataupun zhanni) sehingga menunjukkan kebenaran dan menghilangkan kesamaran. Cara ini ditujukan kepada mereka yang ingin mengetahui hakikat kebenaran yang sesungguhnya, yakni mereka yang memiliki kemampuan berpikir yang tinggi atau sempurna, seperti para ulama, pemikir, dan cendekiawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dengan maw'izhah hasanah, yaitu peringatan yang baik yang dapat menyentuh akal dan hati (perasaan). Misalnya, dengan menyampaikan aspek targhîb (memberi dorongan/pujian) dan tarhîb (memberi peringatan/celaan) ketika menyampaikan hujjah. Cara ini tertuju kepada masyarakat secara umum. Mereka adalah orang-orang yang taraf berpikirnya di bawah golongan yang diseru dengan hikmah, namun masih dapat berpikir dengan baik dan mempunyai fitrah dan kecenderungan yang lurus.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;3. Dengan jadal (jidal atau mujadalah) billati hiya ahsan, yaitu debat yang paling baik. Dari segi cara penyampaian, perdebatan itu disampaikan dengan cara yang lemah dan lembut, bukan cara yang keras dan kasar. Dari segi topik, semata-mata tertumpu pada usaha mengungkap kebenaran, bukan untuk mengalahkan lawan debat semata atau menyerang peribadinya. Dari segi hujjah, dijalankan dengan cara menghancurkan kebatilan dan membangun kebenaran. Cara ini dituju kepada orang yang cenderung suka berdebat dan membantah, yang sudah tidak dapat lagi diseru dengan jalan hikmah dan maw'izhah hasanah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada bagian akhir ayat tersebut memberikan arti, bahwa jika kita telah menyeru manusia dengan tiga jalan tersebut, maka urusan selanjutnya terserah Allah. Memberikan hidayah bukan kuasa manusia, melainkan kuasa Allah semata. Kita hanya berkewajiban menyampaikan . Allahlah yang akan memberikan petunjuk serta memberikan balasan, baik kepada yang mendapat hidayah maupun yang tersesat. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebahagian ulama seperti al-Qurthubi dan al-Baghawi berpendapat, ayat ini telah di-nasakh (dihapus) oleh ayat perang, jika yang menjadi sasaran dakwah adalah orang kafir. Namun, yang lebih tepat adalah pendapat jumhur ulama, yang mengatakan ayat ini muhkam (tidak di-nasakh), dan tetap kepada sasaran dakwah yang Muslim ataupun kafir.   &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt; a. Makna Hikmah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian mufassir seperti as-Suyuthi, al-Fairuzabadi, dan al-Baghawi mengartikan hikmah sebagai al-Quran.  Ibnu Katsir menafsirkan hikmah sebagai apa saja yang diturunkan Allah berupa al-Kitab dan As-Sunnah. Penafsiran tersebut nampaknya masih umum. mufassir yang lain pun menafsirkan hikmah secara lebih terperinci, yaitu sebagai hujjah atau dalil. Sebahagian dari mereka mensyaratkan hujjah itu haruslah bersifat qath'i (pasti), seperti an-Nawawi al-Jawi. Yang lainnya, seperti al-Baidhawi, tidak mengharuskan sifat qath'i, tetapi menjelaskan karakter dalil itu, yaitu penjelasan yang menghilangkan kesamaran. An-Nawawi al-Jawi menafsirkan hikmah sebagai hujjah yang qath'i yang menghasilkan akidah yang meyakinkan. An-Nisaburi menafsirkan hikmah sebagai hujjah yang qath'i yang dapat menghasilkan keyakinan. Al-Baidhawi dan Al-Khazin mengartikan hikmah dengan ucapan yang tepat (al-maqâlah al-muhkamah), yaitu dalil yang menjelaskan kebenaran dan menyingkirkan kesamaran (ad-dalil al-muwadhdhih li al-haq wa alimuzih li asy-syubhah). Al-Asyqar menafsirkan hikmah dengan ucapan yang tepat dan benar (al-maqalah al-muhakkamah ash-shahihah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, jumhur mufassir menafsirkan kata hikmah dengan hujjah atau dalil. Dari ungkapan para mufassir di atas juga dapat diketahui bahwa hujjah yang dimaksud adalah hujjah yang bersifat rasional ('aqliyyah/fikriyyah), yakni hujjah yang tertuju pada akal. Sebabnya, para mufassir seperti al-Baidhawi, al-Alusi, an-Nisaburi, al-Khazin, dan an-Nawawi al-Jawi mengaitkan seruan dengan hikmah ini kepada sasarannya yang terperinci, yaitu golongan yang mempunyai kemampuan berfikir secara sempurna. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;b. Makna maw'izhah hasanah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian mufassir menafsirkan maw'izhah hasanah (nasihat/peringatan yang baik) secara umum, yaitu nasihat atau peringatan al-Quran (mawa'izh al-Qur'an). Demikian pendapat al-Fairuzabadi, as-Suyuthi, dan al-Baghawi. Namun, as-Suyuthi dan al-Baghawi sedikit menambahkan, dapat juga bermakna perkataan yang lembut (al-qawl ar-raqiq).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperincikan tafsiran umum tersebut, para mufassir menjelaskan sifat maw'izhah hasanah sebagai suatu nasihat yang tertuju pada hati (perasaan), tanpa meninggalkan bekas nasihat itu yang tertuju kepada akal. Sayyid Quthub menafsirkan maw'izhah hasanah sebagai nasihat yang masuk ke dalam hati dengan lembut (tadkhulu ila al-qulub bi rifq). An-Nisaburi menafsirkan maw'izhah hasanah sebagai dalil-dalil yang memuaskan (ad-dalail al-iqna'iyyah), yang tersusun untuk mewujudkan pembenaran (tashdiq) berdasarkan dalil dalil yang yang telah diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Baidhawi dan Al-Alusi menafsirkan maw'izhah hasanah sebagai seruan-seruan yang memuaskan/meyakinkan (al-khithabat al-muqni'ah) dan ungkapan-ungkapan yang bermanfaat (al-'ibar al-nafi'ah). An-Nawawi al-Jawi menafsirkannya sebagai tanda-tanda yang bersifat zhanni (al-amarat azh-zhanniyah) dan dalil-dalil yang memuaskan. Al-Khazin menafsirkan maw'izhah hasanah dengan targhib (memberi dorongan untuk menjalankan ketaatan) dan tarhib (memberikan ancaman/peringatan agar meninggalkan kemaksiatan). &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari pelbagai tafsir itu, karakteristik nasihat yang tergolong maw'izhah hasanah ada dua pokok utama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggunakan ungkapan yang tertuju pada akal. Ini terbukti dengan ungkapan yang digunakan para mufassir, seperti an-Nisaburi, al-Baidhawi, dan al-Alusi, yakni kata dalail (bukti-bukti), muqaddimah (premis), dan khithab (seruan). Semua ini jelas berkaitan dengan fungsi akal untuk memahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggunakan ungkapan yang tertuju pada hati/perasaan. Terbukti, para mufassir mensifatkan dalil itu dengan aspek kepuasan hati atau keyakinan. An-Nisaburi, misalnya, mengunakan kata dalail iqna'iyyah (dalil yang menimbulkan kepuasan/keyakinan). Al-Baidhawi dan al-Alusi menggunakan ungkapan al-khithabat al-muqni'ah (ungkapan-ungkapan yang memuaskan). Adanya kepuasan dan keyakinan (iqna') jelas tidak akan wujud tanpa proses kebenaran dan kecondongan hati. Semua ini jelas berkaitan dengan fungsi hati untuk meyakini atau puas terhadap sesuatu dalil. Di antara cara untuk menyentuh perasaan adalah menyampaikan targhib dan tarhib, sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Khazin. Seruan dengan maw'izhah hasanah ini tertuju pada umumnya masyarakat, yakni dengan kemampuan berfikirnya tidak secepat golongan yang diseru dengan hikmah, tetapi masih mempunyai fitrah yang lurus. Demikian menurut al-Baidhawi, al-Alusi, an-Nisaburi, al-Khazin, dan an-Nawawi al-Jawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;c. Makna jidal billati hiya ahsan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebahagian mufassir memberi makna jidal billati hiya ahsan (debat yang terbaik) secara umum. Misalnya Al-Fairuzabadi, beliau menafsirkan jidal billati hiya ahsan sebagai berdebat dengan al-Quran atau dengan kalimat Tauhid. Contohnya, menurut as-Suyuthi, adalah seperti seruan kepada Allah dengan ayat-ayat-Nya dan seruan pada hujjah-hujjah-Nya. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada penafsiran yang lebih terperinci, akan didapati perbedaan pendapat di kalangan para mufassir. Akan tetapi, perbedaan itu sesungguhnya dapat dihimpun (jama') dan diletakkan dalam aspeknya masing-masing. Perbedaan itu dapat dikategorikan menjadi tiga aspek:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dari segi cara (uslub), sebagian mufassir menafsirkan jidal billati hiya ahsan sebagai cara yang lembut (layyin) dan lunak (rifq), bukan dengan cara keras lagi kasar. Inilah penafsiran Ibn Katsir, al-Baghawi, al-Baidhawi, al-Khazin, dan M. Abdul Mun'in Al-Jamal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dari segi topik (objek) debat, sebagian mufassir menjelaskan bahwa jidal billati hiya ahsan sebagai debat yang dimaksudkan semata-mata untuk mengungkap kebenaran pemikiran, bukan untuk merendahkan atau menyerang peribadi lawan debat. Sayyid Quthub menerangkan bahwa jidal billati hiya ahsan bukanlah dengan jalan menghinakan (tardil) atau mencela (taqbih) lawan debat, tetapi berusaha meyakinkan lawan untuk sampai pada kebenaran (Fi Zhilal al-Qur'an, XIII/292).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dari segi hujjah, sebahagian mufassir menjelaskan bahawa hujjah dalam jidal billati hiya ahsan mempunyai dua tujuan sekaligus, yaitu untuk menghancurkan hujjah lawan (yang batil) dan menegakkan hujjah kita (yang haq). Imam an-Nawawi al-Jawi (Marah Labid, I/517) menjelaskan bahwa tujuan debat adalah ifhamuhum wa ilzamuhum (untuk membuat diam lawan debat dan menetapkan kebenaran pada dirinya). Imam al-Alusi mencontohkan debatnya Nabi Ibrahim a.s. dengan Raja Namrudz (Ruh al-Ma'ani, V/487).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita dalami, dalam debat itu ada dua hal utama: menetapkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan (Lihat: al-Baqarah : 258). Seruan dengan jidal billati hiya ahsan tertuju kepada orang yang menentang kebenaran dan cenderung untuk membantah dan mendebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita hendak menjelaskan wajibnya menegakkan Khilafah Islamiyah, misalnya, kita dapat menggunakan cara hikmah, jika kita berdakwah kepada ulama, intelektual, pemikir, dan sebagainya, dalam forum yang khusus dan terbatas (bukan forum umum). Di sana dapat dijelaskan wajibnya Khilafah secara detil dan mendalam, misalnya dengan menerangkan definisinya, berbagai definisi Khilafah dan tarjih (analisis)-nya; dalil-dalil kewajibannya secara terperinci dari ayat al-Quran, as-Sunnah, Ijma Sahabat, Qawa'id Syar'iyyah, termasuk juga wajh istidlal (cara penyimpulan hukum dari dalilnya) sesuai dengan disiplin ilmu usul fiqh; berbagai pendapat ulama salaf dan khalaf mengenai wajibnya Khilafah, kitab-kitab rujukannya, termasuk bantahan terhadap pendapat yang mengingkari wajibnya Khilafah, baik pendapat dari orang terdahulu maupun sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada masyarakat awam, dalam forum-forum yang umum dan terbuka, ditempuh cara maw'izhah hasanah. Di sini tetap harus dijelaskan wajibnya Khilafah beserta dalil-dalilnya, hanya saja tidak sedalam penjelasan kita kepada golongan yang diseru dengan hikmah di atas, disertai dengan targhib dan tarhib untuk menyentuh perasaan mereka, misalnya disampaikan hadis sahih riwayat Imam Muslim, bahawa siapa saja yang tidak berbaiah kepada Khalifah, dia akan mati jahiliyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kepada para penentang Khilafah, seperti kaum sekuler dan liberal, ditempuh cara jidal billati hiya ahsan, baik dalam forum khusus maupun umum. Kita berbicara secara baik dan lembut, tidak kasar.  Menghancurkan hujjah hujjah palsu mereka untuk menolak Khilafah, yang sesungguhnya adalah ide sekularisme yang kufur. Kemudian menegakkan hujjah-hujjah yang benar kepada mereka bahwa kewajiban Khilafah adalah sesuatu yang tidak dapat diragukan lagi, kecuali bagi orang-orang kafir atau munafik yang sombong terhadap kebenaran. [Majalah al-wa'i, Edisi 47, July 2004]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kriteria seorang Da'i&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Keberhasilan dakwah tidak akan terlepas dari peran serta perangai seorang da'i yang didukung oleh ilmu dan pengetahuannya yang luas, baik tentang agama maupun masyarakat. Di samping ilmu, da'i juga tidak boleh memperkecilkan keikhlasan, ibadah dan akhlak mulia, kerana tanpanya da'wah akan gagal. Di dalam buku "Alaamat Duiyyah 'Ala Thariq ad-Da'wah", Dr. Muhammad Jamil Ghazi menukilkan perkataan Imam Sufyan at-Tsauri berhubung dengan masalah ini yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Janganlah seseorang mengajak kepada ma'ruf dan mencegah kemungkaran melainkan jika ada padanya tiga ciri: 1. Berlemah lembut dengan apa yang diseru dan dicegah, 2. Adil dengan apa yang diseru dan dicegah, 3. Berilmu berhubungan dengan apa yang diseru dan dicegah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa juga ditekankan oleh Imam Abu Laith As-Samarqandi di dalam kitab "Tanbihul Ghafilin". Beliau membagikan persiapan umum da'i kepada lima:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"1. Ilmu, 2. Keikhlasan, 3. Kasih sayang dan kelembutan, 4. Kesabaran, 5. Mengamalkan apa yang disampaikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Da'i yang sukanya mengutuk dan mencari kesalahan orang lain dan melupakan diri sendiri merupakan da'i yang terbabas dan tak ada padanya cahaya al-Quran dan as-Sunnah. Benarlah jika as-Syeikh Fathi Yakan berkata di dalam bukunya yang berjudul "Musykilat ad-Da'wah Wa ad-Daaiyah :"Seseorang da'i akan berada di dalam keadaan baik jika dia bersih dari keaiban dan penyakit diri sendiri walaupun musuhnya mempunyai kekuatan yang hebat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, hal semacam ini pernah diucapkan oleh Khalifah Umar bin al-Khattab pada saat  beliau menyampaikan amanat kepada tentara-tentara Islam. Beliau berkata:"Hendaklah kamu berwaspada terhadap perbuatan-perbuatan maksiat dibanding kewaspadaan terhadap musuh. Sesungguhnya aku lebih bimbang dengan dosa yang dilakukan oleh tentara-tentara Islam dibanding kebimbanganku terhadap musuh. Sesungguhnya umat Islam mendapat pertolongan daripada Allah lantaran kemungkaran yang dilakukan oleh pihak musuh. Oleh itu janganlah kamu melakukan perkara yang dimurkai Allah ketika sedang berjihad di jalan Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari uraian di atas, dapat disimpulakan bahawa metode dakwah dilakukan berdasarkan pada obyek mad'u (sasaran dakwah). Jika mad'u  itu dari golongan orang yang mengetahui maka perlulah penjelasan yang terperinci dan tegas besertakan dalil yang lengkap. Jika mad'u dari golongan orang yang kurang memahami islam yang sebenarnya maka barulah digunakan cara yang lembut. Akan tetapi jika mereka itu telah memeluk islam maka tidak boleh lari dari apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya kerana itu adalah tuntutan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu prinsip utama yang fundamental dalam ajaran Islam adalah memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada setiap umat manusia untuk memilih atau menolak suatu agama tertentu, berdasarkan keyakinannya. Seseorang dipersilakan menjadi seorang Muslim yang bersyukur, tunduk dan patuh akan ketentuan Allah SWT atau menjadi seorang yang kufur, menolak dan menentang ajaran-Nya. Hal ini sebagaimana secara tegas dinyatakan dalam QS Al-Insaan:3 : "Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur, ada pula yang kafir".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ketika Rasulullah SAW memiliki keinginan kuat agar setiap orang beriman kepada Allah SWT, menjadi Muslim yang baik, dan bila perlu dengan pemaksaan dan tekanan, maka Allah SWT langsung mengingatkannya, dengan firman-Nya dalam QS Yunus:99-100 : "Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga firman-Nya dalam QS Al Baqarah:256 : "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya menguasai kembali kota Makkah (Futuh Makkah) setelah berhijrah ke kota Madinah selama kurang lebih sembilan tahun, dan pada saat itu kaum musyrikin Makkah sudah tidak memiliki kekuatan apa pun untuk melawannya (padahal dahulunya ketika mereka berkuasa, sangat kejam terhadap Rasulullah dan para sahabatnya), beliau tetap memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada mereka untuk tetap menjadi kafir atau menjadi Muslim. Beliau bersabda: "Kalian bebas merdeka di muka bumi ini, tidak ada kedengkian dan hasud di antara kita."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115510151029381938?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115510151029381938/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115510151029381938&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115510151029381938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115510151029381938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/08/antara-dawah-dan-kekerasan.html' title='Antara Da&apos;wah dan Kekerasan'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115464863142843203</id><published>2006-08-04T01:13:00.000+03:00</published><updated>2006-08-04T02:43:52.103+03:00</updated><title type='text'>Mengapa Kiyai Munafik?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengapa Kiyai Munafik?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;vikar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelar Kiyai, KH, Kiai atau kiyahi semakin membudaya di Indonesia yang sangat diidentikkan  dengan islam. Di satu sisi, gelar tersebut dapat dijadikan kebanggaan sebagai alat dan sarana dalam penyiaran islam, di sisi lain, gelar tersebut pun dapat dijadikan sebagai senjata penghancur islam, untuk itu perlu kiranya saya tulis sedikit tentang gelar kiyai tersebut agar tidak terjadi kesalahfahaman antara islam dan muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengertian Kiyai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku "Kiai Penghulu Jawa, Peranannya di Masa Kolonial", oleh Drs H Ibnu Qoyim Isma'il MS menjelaskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di tengah perkembangan masyarakat Indonesia pada umumnya dijumpai beberapa gelar sebutan yang diperuntukkan bagi ulama. Misalnya, di daerah Jawa Barat (Sunda) orang menyebutnya "Ajengan", di wilayah Sumatera Barat disebut "Buya", di daerah Aceh dikenal dengan panggilan "Teungku", di Sulawesi Selatan dipanggil dengan nama "Tofanrita", di daerah Madura disebut dengan "Nun" atau "Bendara" yang disingkat "Ra", dan di Lombok atau seputar daerah wilayah Nusa Tenggara orang memanggilnya dengan "Tuan Guru".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus bagi masyarakat Jawa, gelar yang diperuntukkan bagi ulama anatara lain "Wali". Gelar ini biasanya diberikan kepada  ulama yang sudah mencapai tingkat yang tinggi, memiliki kemampuan pribadi yang luar biasa. Sering pula para wali ini dipanggil dengan "Sunan" (Susuhunan) seperti halnya para raja. Gelar lainnya ialah "Panembahan", yang diberikan kepada ulama yang lebih ditekankan pada aspek spiritual, juga menyangkut segi kesenioran, baik usia maupun "nasab" (keturunan). Hal ini untuk menunjukkan bahwa sang ulama tersebut mempunyai kekuatan spiritual yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, terdapat sebutan "Kiai", yang merupakan gelar kehormatan bagi para ulama pada umumnya. Oleh karena itu, sering dijumpai di pedesaan Jawa panggilan "Ki Ageng" atau (Ki Gede), juga "Kiai Haji".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelar Kiai sebenarnya cukup terhormat. Namun di zaman kini, banyak para Kiai yang sangat diragukan gelarnya lantaran lakon Kiyai yang sebenarnya tidak sesuai dengan gelar kehormatan itu bahkan brutal dan bertentangan dengan nilai-nilai islam, seperti memperkosa muridnya, menjilat penguasa ataupun sebagai provokator terhadap ummat. Akibatnya malah merusak citra islam itu sendiri, sehingga perlu kiranya dipertanyakan kembali, apa sebenarnya Kiyai itu, dan apa pula kriterianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjawab pertanyaan semacam itu, di samping sudah kita ketahui uraian di atas, perlu pula kita simak jawaban yang muncul dari kalangan ulama sendiri tentang julukan Kiai itu. Di antaranya apa yang dikemukakan oleh Prof.Dr.Hamka dalam menjawab pertanyaan orang tentang Kiyai Dukun. Di dalam hal ini Hamka menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...kami menyerukan kepada penanya dan saudara-saudara yang berminat agar kiranya carilah Kiyai-kiyai yang benar-benar mengerti soal agama Islam dengan aneka rangkaian ajarannya, di antaranya tentang ayat-ayat yang boleh dijadikan do'a-doa untuk menolak penyakit, lalu pelajari sehingga bisa jadi tabib untuk diri sendiri. Karena kalimat Kiyai itu bukanlah artinya semata-mata untuk orang yang benar-benar telah mengerti Agama Islam dengan segala cabangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Ada Kiyai berarti Guru Agama Islam yang telah luas pandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Ada Kiyai berarti pendidik, walaupun pendidik Nasional. (Kalau yang dimaksud Hamka itu misanya Ki Hajar Dewantara, maka biasanya disebut Ki, bukan Kiyai, tetapi sebutan Ki itu kadang juga sama dengan Kiyai, seperti Ki Dalang itu sama dengan Kiyai Dalang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Ada Kiyai berarti Pak Dukun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Di Kalimantan, Kiyai (sebelum perang) berarti "District-hoofd" (Wedana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Di Padang (sebelum perang), Kiyai artinya "Cino Tuo" (Orang Tionghoa yang telah berumur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Gamelan Sekaten di Yogya bernama Kiyai Sekati dan Nyi Sekati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Dalang  yang ahli disebut Ki Dalang, atau Kiyai Dalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Bendera Keramat yang dikeluarkan setiap ada bala bencana mengancam dalam negeri Yogyakarta bernama Kiyai Tunggul Wulung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Meskipun Hamka mampu menjelaskan kegunaan kata Kiyai seperti tersebut di atas, namun dia terus terang mengungkapkan, "kami tidak tahu dari Bahasa apa asalnya kata Kiyai. Tetapi kami dapat memastikan bahwa kata itu menyatakan "Hormat" kepada seseorang. Cuma kepada siapa penghormatan Kiyai itu harus diberikan, itulah yang berbeda-beda menurut kebiasaan suatu negeri dan daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.     Di seluruh pulau Jawa yang terdiri dari tiga suku besar, yaitu Jawa, Sunda, dan Madura ditambah dengan Palembang, kata Kiyai digunakan untuk menghormati seseorang yang dianggap Alim, Ahli Agama dan disegani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.     Di Kalimantan Selatan (Banjarmasin dan sekitarnya) sebelum perang, gelar Kiyai adalah pangkat yang tertinggi bagi Ambtenaar Bumiputera. Sama dengan pangkat Demang di Sumatera. Ada Kiyai kelas I, kelas II dan ada yang disebut Asisten Kiyai yang sama dengan Asisten Demang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Di Sumatera Barat, yaitu di kota-kota yang banyak didiami orang Cina (Padang, Pariaman, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh) dan pesisir Selatan, gelar Kiyai diberikan kepada Cina yang telah tua dan dihormati. Biasanya janggut beliau dipanjangi. Di tahun 1916 telah didapati seorang Cina tua di kampung Cina Padang Panjang disebut orang Kiyai Makh Thong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Kata-kata ini terdapat juga di Thailand (Siam), Ulama yang besar-besar dihormati di sana dalam kalangan orang Islam dalam menyebutnya (Guru Kriyai).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita mengetahui penjelasan Hamka itu, perlu disebutkan pula di sini bahwa masih ada pula sebutan Kiyai untuk hal-hal lain, di antaranya adalah keris atau tombak di Kraton Solo, bahkan Kiyai itu untuk menjuluki kerbau. Di Kraton Solo Jawa Tengah ada kerbau yang disebut Kiyai Slamet, yaitu kerbau yang dianggap keramat oleh orang-orang (yang tentu saja batil menurut Islam). Kebo (kerbau) yang dijuluki Kiyai Slamet itu dilepaskan secara bebas ke mana-mana setiap malam 1 Muharram, yang disebut tanggal satu Syuro. (Bulan Muharram di Jawa disebut Syuro, mungkin karena di dalam bulan Muharram itu ada hari yang penting pada hari kesepuluh, namanya "Asyura", hari kesepuluh Muharram, yang dalam Islam termasuk hari disunnahkannya puasa). Hingga kerbau yang dinamai Kiyai Slamet itu ke mana saja tidak diusik, bahkan sampai memakan dagangan sayuran dan sebagainya pun tidak diapa-apakan, karena menurut kepercayaan "takhayul" (yang menyimpang dari Islam), kerbau itu ketika makan dagangan tersebut dianggap justru akan "ngrejekeni" (memberi rizki atau memberkahi). Jadi Kiyai yang berupa kerbau itu telah dianggap sebagai makhluk keramat, yang tentu saja hal itu merupakan satu jenis penyimpangan yang nyerempet-nyerempet kemusyrikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Siapakah yang berhak memberi dan dijuluki Kiyai?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamka pun tidak menentukan, siapa yang berhak menjuluki dan dijuluki Kiyai terhadap aneka macam tersebut di atas. Hamka menjawab pertanyaan orang yang ingin tahu, siapa yang berwenang menjuluki Kiyai,  sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nampaknya tidak ada suatu ketentuan tentang siapa yang berwenang memberikan gelar Kiyai. Apabila telah bisa disebut Kiyai, lekat sajalah gelar itu. Lantikannya yang tertentu tidak ada. Oleh sebab memberi gelar Kiyai itu tidak ada peraturannya yang tertentu dan hanya menurut kesukuan orang saja dan diterima masyarakat, maka dipanggil orang Kiyai juga menurut kebiasaan orang Jawa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban Hamka itu dikemukakan pada tahun 1963. Pada tahun-tahun itu dan sebelumnya, ulama Jakarta atau Betawi biasanya disebut dengan Guru, misalnya Guru Mughni di Kuningan Jakarta, Guru Marzuki di Jatinegara, Guru Udin (Zainuddin) di Kalibata Pulo, Guru Amin di Kalibata dan sebagainya. Baru belakangan terbiasa menyebut ulama dengan nama Kiyai yang kadang-kadang disingkat jadi KH (Kiyai Haji) di antaranya Kiyai Abdullah Syafi'i, menurut orang kampung Bali (Matraman) sebutannya Kiyai Duloh, yang kemudian  terkenal lewat radionya-As-Syafi'iyah, demikian pula Kiyai Thahir Rahili dengan radionya At-Thahiriyah di Kampung Melayu, kedua-duanya memiliki pesantren dan perguruan Islam. Selanjutnya ulama Betawi juga disebut Kiyai, di antaranya Kiyai Syafi'i Hazami, yang memang ulama terkemuka di kalangan masyarakat Betawi. Hanya saja sebutan Kiyai belum tentu lekat pula pada ulama Betawi. Contohnya, seorang ulama alumni Timur Tengah, yang kitab-kitabnya di antaranya tentang Madzhab Imam Syafi'i menjadi rujukan di Universitas Al-Azhar Mesir,  yaitu Dr HA Nahrawi Abdus Salam (rumahnya dekat Masjid Al-Munawar Jl Raya Pasr Mingu Pancoran Jakarta Selatan) jarang disebut Kiyai. Bahkan lebih sering dipanggil Doktor saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini bisa difahami bahwa sebutan Kiyai untuk ulama sebenarnya di kalangan kaum Betawi kurang membudaya. Hanya saja dalam perkembangannya sebutan Kiyai itu memasyarakat pula sejak pemerintahan Soeharto yang sejak awal tampak menonjolkan budaya Jawa terutama yang berbau Kejawen, hingga nama ruangan-ruangan di gedung DPR/MPR pun diganti dengan nama dari bahasa Jawa Kuno atau bahkan Sansekerta dari India atau Hindu. Misalnya ruang Wirashaba dan sebagainya yang sulit dimengerti oleh masyarakat. Maka istilah Kiyai  untuk sebutan ulama pun yang asalnya hanya dipakai di Jawa lalu dinasionalkan atau menjadi istilah nasional. Dan tampaknya budaya "munduk-munduk" (sangat hormat bahkan takut) terhadap Kiyai yang budaya itu merata di Jawa rupanya menular pula kepada masyarakat selain Jawa, termasuk Betawi, Sulawesi selatan dan daerah lainnya, sehingga julukan Kiyai itu tidak ditolak oleh ulama yang dijulukinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah julukan Kiyai itu memasyarakat pula di masyarakat selain Jawa, termasuk pula Betawi, lalu tumbuh gejala, keturunan Kiyai yang kemudian mengimami masjid atau apalagi memimpin pesantren maka disebut Kiyai pula, walaupun ketika bapaknya dulu masih hidup, si anak Kiyai itu tidak pernah disebut Kiyai muda, tetapi begitu bapaknya wafat, maka dia langsung dipanggil atau suka dipanggil dengan sebutan Kiyai, walaupun dari segi keilmuan maupun kegiatannya berjama'ah ke masjid tidak sebanding dengan bapaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan yang terjadi di Jawa, sangat berbeda dengan di daerah lain. Di Jawa gelar kiai sangat mudah didapatkan, bahkan ada juga yang menggelari diri sendiri yang kemudian gelar tersebut sah sebagai gelarnya karena kebiasaan orang sekeliling memanggilnya denga gelarnya, ataupun didapati melalui warisan dari orang tuanya tanpa memperhatikan mutu yang ada. Di daerah lain hal ini sangat berbeda meski gelar tersebut telah membudaya, seperti halnya di Sulawesi Selatan gelar kiyai haruslah memenuhi kriteria yang ada, dengan kata lain, untuk mendapatkan gelar tersebut, masyarakat dan ulama setempat memberikan kriteria yang harus dipenuhi, barulah ia digelari kiyai, seperti kiyai H. Ambo Dalle dan yang lainnya. Perbedaan ini dengan jelas dapat dilihat dari jumlah kiyai yang ada di pulau Jawa yang jumlah kiyainya hampir sama dengan jumlah penduduknya, sedangkan di daerah lain, jumlah kiyainya masih bisa dihitung dengan sepuluh jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengapa sebagian Kiyai Munafik&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjawab pertanyaan ini, tentunya kembali kepada pribadi masing-masing baik orang yang bergelar kiyai maupun masyarakat itu sendiri dalam memahami makna gelar tersebut. Karena dalam islam, semua orang akan mempertanggungjawabkan gelar, julukan dan panggilannya di hadapan Allah SWT. Jika seorang yang digelari kiyai, namun sikap dan perbuatannya bertentangan dengan nilai-nilai islam, bisa saja dia mengartikan gelar kiyai yang ada di bahunya sebagai kerbau yang bebas untuk berbuat atau sebagai power untuk menundukkan masyarakat. Hal ini pun bukan berarti kesalahan sepenuhnya ada pada diri kiyai, melainkan kesalahan itu pun ada pada masyarakat sendiri yang terlalu mengagung-agungkan gelar kiyai, karena gelar tersebut bisa diibaratkan seperti halnya hantu, jin dan sebagainya. Manakala masyarakat dan orang-orang mengagung-agungkan dan sangat percaya pada hantu, jin dan setan, maka dengan sendirinya hantu dan jin semakin dekat dan nyata bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda halnya dengan orang-orang yang menyadari gelar yang mereka pakai dan akan mempertanggungjawabkannya kelak dihadapan masyarakat maupun Tuhan. Pasti dengan sendirinya tanda-tanda ketakwaannya akan menghalanginya untuk menggunakan gelar tersebut apabila belum siap untuk mempertanggungjawabkannya, namun apabila pengetahuannya yang luas serta cukup dalam mengemban gelar, dengan sendirinya gelar tersebut akan benar-benar melekat pada diri dan segala perbuatannya sebagai kudwa hasanah kepada orang lain, itulah yang berhak dan digelari oleh masyarakat sebagai kiyai yang islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama bahkan tidak menggunakan gelar kiyai padahal pengetahuannya sangat luas bahkan telah menulis berbagai buku baik dalam tafsir dan lainnya, maka sangat baguslah orang-orang yang konsisten, dan tidak mau disebut atau menyebut dirinya Kiyai. Sebagaimana Hamka, Prof Dr H Mahmud Yunus dan lain-lain, mereka adalah ulama terkemuka dan menulis tafsir serta kitab-kitab Islam namun tidak disebut Kiyai, serta tidak menyebut dirinya Kiyai. Walaupun secara keilmuan maupun akhlaknya, mereka adalah ulama, alim agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan berarti menafikan pengetahuan kiyai-kiyai yang lain, melainkan ketakwaan dan buah keimanan mereka yang harus dipertanyakan. Amerika dan negara maju lainnya adalah sumber ilmu pengetahuan, namun hidayah dari pengetahuan itulah yang diragukan. Seandainya para ulama yang kini digelari Kiyai itu ikhlas mencopot gelar Kiyainya dan tak mau lagi disebut Kiyai, maka biar sekalian ketahuan bahwa Kiyai yang masih rela disebut Kiyai adalah Kiyai Dukun saja. Namun karena hal tersebut telah mendarah daging, maka yang perlu digarisbawahi bahwa kiranya ulama-ulama Indonesia perlu kiranya menentukan kriteria dan syarat-sayarat mutlak yang harus dipenuhi oleh orang yang dijuluki kiyai agar kiranya lebih nampak perbedaan yang jelas antara kiyai dan ulama dan tidak mencemarkan nama baik islam. Ataupun kesadaran masyarakat dalam memanggil dan menggelari seorang sebagai kiyai kiranya harus lebih mengetahui lebih dalam tentang sesorang yang akan dipanggil dan digelari kiyai.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115464863142843203?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115464863142843203/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115464863142843203&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115464863142843203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115464863142843203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/08/mengapa-kiyai-munafik.html' title='Mengapa Kiyai Munafik?'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115447780025816710</id><published>2006-08-02T01:07:00.000+03:00</published><updated>2006-08-02T04:13:22.076+03:00</updated><title type='text'>Hukum Onani (Coli) dalam Islam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/1600/DSC01751.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 136px; height: 257px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/320/DSC01751.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hukum Onani (Coli) dalam Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;fikar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kamus bahasa Arab, kata "istimna" atau "Jildu" dan "Umairah" berarti mengeluarkan sperma dengan tangannya, kemudian Istimna, apabila sering dilakukan akan menjadikannya sebagai adat dan kebiasaan bagi yang melakukannya, sehingga lahirlah makna baru yaitu "Al-'Adah As-Sirriyah" yang artinya adat atau kebiasaan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Onani, masturbasi, coli, main sabun, dan lain-lain, merupakan satu istilah untuk menyatakan kegiatan yang dilakukan seseorang yang masih muda dalam memenuhi kebutuhan seksualnya, dengan menggunakan tangan maupun dengan menambahkan alat bantu berupa sabun atau benda-benda lain, sehingga dengannya dia bisa mengeluarkan mani dan membuat dirinya (lebih) tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Onani sendiri, berasal dari kata Onan, salah seorang anak dari Judas, cucu dari Jacob. Dalam salah satu cerita di Injil, diceritakan bahwa Onan disuruh oleh ayahnya (Judas) untuk bersetubuh dengan istri kakaknya, namun Onan tidak bisa melakukannya sehingga saat mencapai puncaknya, dia membuang spermanya (mani) di luar (di kemudian hari tindakan ini dikenal dengan istilah azl (dalam bahasa Arab) atau coitus interruptus (dalam istilah kedokterannya). Dari cerita Onan ini terdapat dua versi. Ada yang berpendapat bahwa Onan berhubungan badan dengan istri kakaknya lalu membuang maninya di luar. Dan ada juga yang menyebutkan bahwa Onan tidak menyetubuhi istri kakaknya, malainkan ia melakukan pemuasan diri sendiri (coli) karena ketidak beraniannya untuk menyetubuhi sedangkan birahi di dada semakin memuncak, sehingga dari perbuatan Onan ini lahirlah istilah Onani sebagai penisbahan terhadap perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pandangan Islam tentang Onani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita membaca buku-buku fiqh dan fatawa para ulama, akan dijumpai bahwa mayoritas ulama seperti Syafi'i, Maliki, Ibnu Taimiyah, Bin Baz, Yusuf Qardhawi dan lainnya mengharamkannya, dengan menggunakan dalil firman Allah SWT dalam Al-Qur'an, yang artinya:"Dan orang-orang yang memelihara kemaluan mereka kecuali terhadap isterinya tau hamba sahayanya, mereka yang demikian itu tidak tercela. Tetapi barangsiapa berkehendak selain dari yang demikian itu, maka mereka itu adalah orang-orang yang melewati batas"[Al-Mu'minun : 5-7].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="MS"  style="font-size:100%;"&gt;Ayat ini menerangkan bahawa  seseorang yang menjaga kehormatan diri hanya akan melakukan hubungan seksual  bersama isteri-isterinya atau hamba-hambanya yang sudah dinikahi. Hubungan  seksual seperti ini adalah suatu perbuatan yang baik, tidak tercela di sisi  agama. Akan tetapi jikalau seseorang itu mencoba mencari kepuasan seksual dengan  cara-cara selain bersama pasangannya yang sah, seperti zina, pelacuran, onani  atau persetubuhan dengan binatang, maka itu dipandang sebagai sesuatu yang  melampaui batas dan salah lagi berdosa besar, karena melakukannya bukan pada tempatnya. Demikian ringkas  penerangan Imam as-Shafie dan Imam Malik apabila mereka ditanya mengenai hukum  onani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="MS"  style="font-size:100%;"&gt;Selain ayat di atas, para ulama juga menggunakan dalil dari hadis Nabi SAW, yang artinya:"Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih menundukkan mata dan lebih menjaga kehormatan diri. Dan barangsiapa yang belum mampu hendakanya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya". Pada hadits tadi Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam menyebutkan dua hal, yaitu :Pertama, Segera menikah bagi yang mampu. Kedua, Meredam nafsu syahwat dengan melakukan puasa bagi orang yang belum mampu menikah, sebab puasa itu dapat melemahkan godaan dan bisikan syetan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shah Waliullah Dahlawi menerangkan: Ketika air mani keluar atau muncrat dengan banyak, ia juga akan mempengaruhi fikiran manusia. Oleh sebab itu, seorang pemuda akan mulai menaruh perhatian terhadap wanita cantik dan hati mereka mulai terpaut kepadanya. Faktor ini juga mempengaruhi alat jantinanya yang sering meminta disetubuhi menyebabkan desakan lebih menekan jiwa dan keinginan untuk melegakan syahwatnya menjadi kenyataan dengan berbagai bentuk. Dalam hal ini seorang bujang akan terdorong untuk melakukan zina. Dengan perbuatan tersebut moralnya mulai rusak dan akhirnya dia akan tercebur kepada perbuatan-perbuatan yang lebih merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="MS"  style="font-size:12;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Melakukan onani secara keseringan juga banyak membawa mudharat kepada kesehatan dan seseorang yang membiasakan diri dengan onani akan mengalami kelemahan pada badan, anggota tubuh yang tergetar-getar atau terkaku, penglihatan yang kabur, perasaan berdebar-debar dan kesibukan fikiran yang tidak menentu.  Kajian perubatan juga membuktikan bahawa kekerapan melakukan onani akan memberi dampak negatif kepada kemampuan seseorang untuk menghasilkan sperma yang sehat dan cukup kadarnya dalam jangka masa panjang. Ini akan menghalangi seseorang dalam menghasilkan zuriat-zuriat bersama pasangan hidupnya bahkan lebih dari itu, mengakibatkan inpotensi seksual dalam umur yang masih muda. Bahkan ada sebagian ulama yang menulis kitab tentang masalah ini, di dalamnya dikumpulkan bahaya-bahaya kebiasan buruk tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendapat yang membolehkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil bacaan, kebanyakan hukum pengharamannya itu tertuju pada pemuda yang belum menikah tanpa melihat orang yang telah menikah yang tinggal berjauhan (long distance), yang mana menurut saya, Onani atau masturbasi bagi mereka termasuk ke dalam kategori ayat yang dijadikan sebagai dalil pengharamannya yaitu sebagai pengaplikasian dari memelihara kemaluan mereka agar terhindar dari hal-hal yang lebih merusak. Karena orang yang pernah merasakan nikmatnya bersetubuh akan lebih besar kemungkinannya untuk merasakan yang lain, berbeda dengan orang yang belum pernah, dan hal ini sesuai dengan kaedah ushul fiqh yang menyatakan bahwa:"Dibolehkan melakukan bahaya yang lebih ringan supaya dapat dihindari bahaya yang lebih berat". Dan akan ditemukan pula hukum yang membolehkan onani pun, tertuju pada remaja dan pemuda yang belum mampu untuk menikah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa masturbasi yang dilakukan oleh orang yang telah menikah adalah boleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hukum yang membolehkan onani bagi remaja yang belum menikah, dapat dilihat dari pendapat Imam Ahmad bin Hanbal yang mengatakan bahwa sperma atau mani adalah benda atau barang lebih yang ada pada tubuh yang mana boleh dikeluarkan sebagaimana halnya memotong dan menghilangkan daging lebih dari tubuh. Dan pendapat ini diperkuat oleh Ibnu Hazm. Akan tetapi, kondisi ini diperketat dengan syarat-syarat yang ditetapkan oleh ulama-ulama Hanafiah dan fuqaha hanbali, yaitu: Takut melakukan zina, Tidak mampu untuk kawin (nikah) dan tidaklah menjadi kebiasaan serta adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, dengan dalil dari Imam Ahmad ini, onani boleh dilakukan apabila suatu ketika insting (birahi) itu memuncak dan dikhawatirkan bisa membuat yang bersangkutan melakukan hal yang haram. Misalnya, seorang pemuda yang sedang belajar di luar negeri, karena lingkungan yang terlalu bebas baginya (dibandingkan dengan kondisi asalnya) akibatnya dia sering merasakan instingnya memuncak. Daripada dia melakukan perbuatan zina mendingan onani, maka dalam kasus ini dia diperbolehkan onani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apa yang terbaik ialah apa yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW terhadap pemuda yang tidak mampu untuk kawin, yaitu hendaklah dia memperbanyakkan puasa, di mana puasa itu dapat mendidik keinginan, mengajar kesabaran dan menguatkan takwa serta muraqabah kepada Allah Taala di dalam diri seorang muslim. Sebagaimana sabdanya:"Wahai sekalian pemuda! Barangsiapa di antara kamu mempunyai kemampuan, maka kawinlah, karen ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan, tetapi barangsiapa yang tidak berkemampuan, maka hendaklah dia berpuasa karena puasa itu baginya merupakan pelindung." (HR Bukari).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="MS"  style="font-size:12;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115447780025816710?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115447780025816710/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115447780025816710&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115447780025816710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115447780025816710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/08/hukum-onani-coli-dalam-islam.html' title='Hukum Onani (Coli) dalam Islam'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115394674610436100</id><published>2006-07-26T23:32:00.000+03:00</published><updated>2006-07-31T22:39:05.320+03:00</updated><title type='text'>Keserasian Pasangan Mencapai Kebahagiaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/1600/DSC01811.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 160px; height: 195px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/320/DSC01811.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;code&gt;&lt;/code&gt;&lt;code&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/code&gt;&lt;strong&gt;Keserasian Pasangan Mencapai Kebahagiaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;vikar&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tidak sedikit jawaban dan alasan yang terlontar dari bibir orang-orang yang hancur berantakan hubungannya, baik dengan pacar, kawan maupun isteri lantaran tidak adanya kecocokan dan keserasian di antara mereka. Hal ini dikarenakan oleh niat awal dalam mengadakan hubungan adalah untuk mencari kecocokkan dan keserasian, sedangkan mereka sendiri tidak menyadari apa itu cocok ,serasi, selaras, harmonis ataupun pantas. Dengan kata lain, adanya kerancuan dalam memaknai kata tersebut yang selalu diartikan sebagai kesamaan dan persamaan, sehingga pada saat hubungan terjalin, yang mereka dapatkan hanyalah perbedaan yang akan menjadikan mereka semakin berbeda dari sebelumnya. Akibatnya bisa menimbulkan permusuhan, perceraian dan hal yang sangat negatif. Untuk itu, sedikit gambaran dan masukan tentang keserasian agar keharmonisan hidup dalam mencapai kebahagiaan dapat teraih ataupun mendekatinya.&lt;code&gt;&lt;/code&gt;Read more!&lt;code&gt;&lt;/code&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kamus bahasa Indonesia, arti kata serasi dan selaras berkisar antara seimbang, perpaduan, mencampur atau mengkombinasi, sedangkan kata cocok berarti memasukkan bagian ke celah-celah bagian yang lain, adapun kata pantas berarti patut atau layak dan kata pas yang sering kali diartikan sebagai cocok adalah kependekan dari kata pas-angan. Kesemua arti yang ada tidak menunjukkan pada arti persamaan dan kesamaan, namun menunjukkan bahwa persamaan dan kesamaan itu lahir karena adanya perpaduan dan keseimbangan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menjalin hubungan dengan orang lain, berarti memadukan atau mencampur dua budaya, watak, sifat dan latar belakang yang berbeda dalam keseimbangan untuk mencapai keharmonisan dan kebahagiaan. Tidak terlepas dari pemahaman akan perbedaan yang ada untuk saling mengisi dan melengkapi. Apabila perpaduan tersebut seimbang maka dengan sendirinya akan melahirkan keharmonisan, dan apabila tidak adanya keseimbangan maka hubungan tersebut akan menemui kegagalan dan kehancuran. Pengertian dan pemahaman akan perbedaan yang ada adalah modal utama terwujudnya keseimbangan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kekeliruan dalam memaknai kata serasi, selaras dan cocok akan berakibat orang tersebut tidak tegap pendirian dalam menjalin hubungan, kekanak-kanakan dalam bertindak, bahkan suka mengada-ada persamaan dengan orang lain agar terjalin hubungan. Misalanya, seorang wanita berkata, saya sukanya ini dan suka yang kaya begini, seorang pria yang ingin menjalin hubungan dengannya terpaksa harus mengada-ada kalu dia juga suka ini dan begini, padahal kenyataanya tidaklah demikian, hingga pada saat semakin eratnya hubungan, nampaklah asli batang hidungnya yang akan sangat mengecewakan dan dianggap sebagai penipuan serta pengkhianatan. Hal ini karena kecocokan diartikan sebagai kesamaan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perpaduan antara dua sifat, watak dan jenis yang berbeda adalah hal yang susah-susah gampang dan mungkin terkesan hal yang mustahil, namun yang perlu diingat dan selalu digarisbawahi bahwa segala sesuatu pasti mempunyai persamaan dan perbedaan yang kadarnya pun berbeda, dan segala sesuatu yang diciptakan berpasang-pasangan adalah perpaduan dua bentuk dan jenis yang sangat berbeda, atas dan bawah atau kiri dan kanan dan lainnya yang berpasangan pasti mempunyai perbedaan, perhatikan saja tangan anda dan bedakan antara yang kiri dan yang kanan, bila dicermati dengan seksama, perbedaan tersebut akan terlihat jelas. Tangan kanan akan terlihat keras berotot, kurang mulus serta banyak bercak dan noda, sedangkan tangan yang kiri terlihat manis, mulus, agak keputihan, dan terkesan manja. Padahal keduanya adalah sama jenis, bentuk dan satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari badan, apalagi bila pasangan tersebut bukan dari jenis, unsur dan bentuk yang sama seperti halnya langit dan bumi, contoh lain pun dapat dilihat pada anak kembar yang mana jelas dan pasti ada perbedaanya. Bila hal ini disadari, akan mempermudah untuk saling mengerti dan memahami dalam menjaga kelangsungan hubungan. Dan hasil dari perpaduan yang dilandasi oleh keseimbangan dalam artian saling mengisi, mengerti dan melengkapi inilah yang akan melahirkan adanya persamaan yang harmoni.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seorang kekasih dan pasangannya haruslah menyadari akan hal ini agar hubungannya dapat berlangsung hingga ke perkawinan, dan seorang suami-istri haruslah mengetahui dengan benar bahwa perkawinan adalah perpaduan atau penggabungan antara dua jenis dan bentuk yang berbeda dalam mencari kesamaan untuk meraih kebahagiaan, ibarat perkawinan antara tikus dan kelinci yang melahirkan hemster. Jika hubungan tersebut hanya mencari persamaan dan kecocokan, maka selamanya tidak akan pernah terjalin hubungan, kalaupun terjalin, hal itu tidaklah akan bertahan lama, karena akan membuatnya terus dan terus mencari yang sama dan serupa dengannya, padahal tidak menyadari bahwa segala sesuatu tidaklah sama. Dan persamaan itu akan sering dijadikan alasan untuk tidak berani menjalin hubungan juga alasan sebagai dalih dalam menghancurkan hubungan. Dan sebaliknya, jika hubungan tersebut dilandasi oleh pengetahuan akan perpaduan dan keseimbangan antara dua bentuk yang berbeda maka hubungan tersebut akan menghasilkan kebahagiaan baik kepada diri sendiri maupun orang lain. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115394674610436100?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115394674610436100/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115394674610436100&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115394674610436100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115394674610436100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/07/keserasian-pasangan-mencapai.html' title='Keserasian Pasangan Mencapai Kebahagiaan'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115363256479171212</id><published>2006-07-23T08:21:00.000+03:00</published><updated>2006-07-23T18:47:30.913+03:00</updated><title type='text'>PPMI, Haruslah Semakin Dewasa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/1600/DSC01817.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 144px; height: 214px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/320/DSC01817.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;PPMI (Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia -Cairo) Haruslah semakin Dewasa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;fikar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Beberapa tahun terakhir ini, nasib PPMI - Cairo semakin terpuruk, yang ditandai dengan banyaknya acara tahunan mahasiswa macet, lantaran proposal yang diajukan ke KBRI Cairo kurang mendapat respon baik. Bahkan nama PPMI itu sendiri telah kehilangan pamornya baik intern maupun ekstern. Hal ini yang membuat saya sebagai bagian dari mahasiswa Indonesia merasa sedih melihat kenyataan yang ada dan selalu bertanya-tanya tanpa ada jawaban, sebegitu manjakah mahasiswa Indonesia-Cairo? Sebegitu pintarkah Ocehan-ocehan aktifis mahasiswa dalam mengaplikasikan ocehannya?. Ternyata hal itu semua ada sedikit benarnya, dan harus selalu diakui agar organisasi mahasiswa (PPMI-Cairo) di kemudian hari lebih mandiri. Dan kayaknya Motto yang ada di PPMI haruslah dirubah menjadi “Sedikit berkata, banyak berbuat” sebagai tolak ukur agar lebih maju dan dewasa. Karena tidak dapat dipungkiri, bahwa Mahasiswa Indonesia-Cairo adalah mahasiswa yang hanya pandai berbicara tapi belum mampu bekerja dan mengaplikasikan omongannya dalam bentuk nyata. Atau mungkin karena dilatarbelakangi oleh tidak adanya rasa memiliki akan organisasi mahasiswa (PPMI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun HPMI (Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia-Cairo) telah dirubah namanya menjadi PPMI dengan tujuan agar lebih dewasa dan mandiri, ternyata hal itu malah semakin buruk bila dibandingkan dengan HPMI dahulu, bahkan perbedaan itu jelas sangat jauh. Hal ini semua mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, yang antaranya adalah:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. Tidak adanya rasa memiliki oleh pengurus PPMI itu sendiri dalam menjalankan organisasi, terlebih lagi para mahasiswanya yang kian hari semakin menjauh dari organisasi tersebut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;2. Pengurus PPMI didomisasi oleh golongan tertentu, yang bisa saja mengakibatkan masalah-masalah diluar keinginan golongan tersebut diabaikan begitu saja atau tidak adanya usaha untuk menampung keinginan golongan lain dan mewujudkannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;3. Kurangnya kinerja ekstern pengurus dalam upaya mengembangkan keorganisasian agar lebih mandiri. Hal ini pun mungkin dilatarbelakangi oleh budaya turun temurun kepengurusan PPMI yang hanya bisa menadah tanpa bisa memberi, yang hanya bisa merengek dan mengocek kantong KBRI tanpa mampu membuat saku sendiri. Yang mungkin saja PPMI bisa diplesetin menjadi Persatuan Pengemis Mahasiswa Indonesia, karena KBRI dijadikan sebagai sumber dana pokok dalam mendanai setiap kegiatan. Di saat KBRI enggan memberi, macetlah semua kegiatan dan PPMI hanyalah hiasan dan tinggal nama.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;4. Kepandaian berbicara (keilmuan) hanya sebatas pamer kalo ia pandai dan pintar berbicara, tanpa peduli hasilnya. Atau bisa dikatakan bahwa mahasiswa Indonesia-Cairo hanya pandai berorganisasi sebatas retorika tapi belum mampu menjalankan organisasi dengan baik. Pengetahuan tentang Teori-teori keorganisasian tidak diragukan lagi, cuman dalam pelaksanaanya yang setengah-setengah serta ogah-ogahan yang mungkin didasari oleh faktor pertama tadi, sehingga maju mundurnya organisasi terabaikan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Empat faktor utama di atas, yang sangat dominan mempengaruhi tenggelamnya PPMI sebagai organisasi mahasiswa, terlebih lagi organisasi tersebut berada di luar negeri, (masa harus kalah ama OSIS SMU yang ada di Indonesia). Jika keempat faktor tersebut dibenahi, maka PPMI akan semakin dewasa dalam berorganisasi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Memang masalah dana seringkali menjadi alasan utama macetnya kegiatan organisasi, namun tidak pernah tergambarkan bagaimana cara dan solusi dalam mengatasi masalah tersebut. Haruskan mengemis terus kepada orang tua (KBRI) dalam pendanaan?. Anak kecil pasti akan merengek kepada orang tuanya, namun bila mahasiswa luar negeri yang melakukannya, kiranya perlu ditertawakan. Karena orang dewasa akan berbalik kepada orang tua apabila ada hal-hal yang butuh pertimbangannya atau ide-idenya dan meminta pengarahan darinya, bila hal itu berupa finansial ataupun duit, sekali dua kali masih wajar, namun bila dijadikan sebagai tempat mengemis, sampai kapan organisasi akan menjadi lebih berkembang dan dewasa?. Akhirnya yang timbul malah semakin buruk, proposal dijadikan budaya bahkan adat istiadat oleh setiap organisasi mahasiswa yang ada di Cairo. Misalnya buletin mahasiswa Terobosan, setiap kali terbit, harus mengemis dana dulu di KBRI, setelah terbit malah beritanya menyinggung KBRI baik secara keseluruhan maupun perorang. Lucu kan???…&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika dikembalikan pada zaman dulu, ketika nama organisasi mahasiswa Indonesia-Cairo masih bernama HPMI, jelas akan didapati perbedaan yang sangat jauh dengan PPMI yang ada saat ini. HPMI dulu, malah menjadikan KBRI sebagai MUSUH, bukan sebagai orang tua. Karena dana organisasi begitu banyak sumbernya baik dari Tanah Air sendiri (pengusaha dan organisasi muslim) maupun dari Saudi dan lain-lain, sehingga wajar bila dapat berkembang dan semakin dewasa. Hal ini, kiranya dijadikan masukan buat pengurus PPMI agar kiranya dapat berinteraksi tidak hanya sebatas mahasiswa yang ada di Cairo saja, terlebih lagi sebagai bahan dalam mencari dan mengupayakan dana organisasi agar tidak terpatok pada satu sumber yang mungkin saja malah mengatur jalannya organisasi dan membuat organisasi itu tidak berdaya. Dan hal itu semua dibutuhkan kepandaian pengurus dalam mencari relasi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dulu saya pernah mengusulkan kepada buletin Terobosan agar kiranya terbitannya ada khusus berita tentang Cairo dan ada juga yang bersifat keilmuan yang akan diterbitkan di Indonesia setiap jumat yang bisa saja berisikan berita tentang Cairo atau pengenalan tentang Al Azhar dan Universitas lainnya yang ada di Cairo dan hal-hal yang bersifat kajian islam kontemporer, semua itu demi menambah sumber dana buletin, namun hal itu tidak mendapatkan respon, karena mungkin terasa berat oleh pengurus. Dan hal-hal semacam inilah merupakan salah satu contoh, yang mungkin menjadikan acuan dalam mencari dan mengadakan relasi dalam pendanaan organisasi agar tidak terfokus pada satu sumber dana yang kadang jelas dab kadang tidak.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kiranya semua ini merupakan masukan buat PPMI-Cairo dan semua mahasiswa Indonesia yang berada di Cairo, yang apabila menjadi pengurus, kiranya semua ini bisa dibenahi, agar Organisasi mahasiswa Indonesia-Cairo semakin maju dan dewasa yang menghasilkan buah yang konkrit dan bermanfaat pada diri pribadi dan orang lain. Dan tulisan ini pula, merupakan himbauan kepada pengurus PPMI-Cairo khususnya agar kiranya mendiskusikan kembali dan mencari solusinya terutama masalah sumber dana organisasi agar tidak hanya mengharapkan hasil dari pembuatan kartu PPMI dan KBRI saja, melainkan mencari sumber dana lain yang dapat membantu jalannya organisasi dan semakin menghidupkan kembali semangat PPMI pada saat menggantikan namanya. Jika BWKM (Badan wakaf mahasiswa) mampu mengupayakan dana, masa PPMI gak bisa? buktikan kalo PPMI adalah organisasi mahasiswa Indonesia-Cairo yang dewasa dan mampu berkarya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Satu hal yang perlu diingat, bahwa segala perbuatan ada imbalannya, agar budaya ketimuran lebih dihidupkan dan tidak terkesan mengemis, Jika anda meminta jangan lupa memberi imbalannya meski dengan sesuatu yang tidak berharga berupa plakat sebagai ucapan terima kasih dll, dan jika memberi, jangan lupa untuk tidak meminta imbalannya dengan nyata, agar kiranya lebih dihormati dan dihargai. Semoga PPMI (Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia - Cairo) benar-benar sebagai wadah bagi seluruh Mahasiswa khusunya dan masyarakat Indonesia yang ada di Cairo pada umumnya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115363256479171212?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115363256479171212/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115363256479171212&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115363256479171212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115363256479171212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/07/ppmi-haruslah-semakin-dewasa.html' title='PPMI, Haruslah Semakin Dewasa'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115336550196044450</id><published>2006-07-20T06:13:00.000+03:00</published><updated>2006-07-20T06:18:22.120+03:00</updated><title type='text'>Islam dan Pluralitas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/1600/19.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 164px; height: 194px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/320/19.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Islam dan Pluralitas&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Menata Dunia dalam Prespektif Teks-teks Islam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mahkamah Mahdin, MA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Benarkah fanatisme pemahaman keagamaan bertanggungjawab atas kekerasan yang selalu menjadi berita paling hangat? Bagaimana islam melihat dan berinteraksi dengan non-muslim? Apakah pemetaan muslim dan non-muslim meniscayakan sebuah sikap permusuhan dan antipati terhadap “yang lain”? Benarkah islam disebarkan dengan ujung pedang (pemaksaan)? Adakah keselamatan di luar islam? Apakah tindakan baik non-muslim bernilai dihadapan Tuhan?Apakah semua agama benar? Apakah kebenaran absolut? Mungkinkah terwujud dialog antara islam dan barat? Mungkinkah islam akur dengan modernisme? Mungkinkah islam disekulerkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I. Prolog&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Capaian teknologi abad ini benar-benar membawa dunia kepada sebuah kampung global -begitu Marshall Mc Luhan menyebutnya. Sebuah realita yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia. Lewat media elektronik, cetak dan internet beragam wacana dapat diakses dari seluruh penjuru dunia. Ledakan teknologi, komunikasi dan informasi telah membawa perubahan drastis. Batas-batas kultural bahkan negara -dalam sudut pandang tertentu- sudah melemah dan rapuh. Dalam kerangka ini, pluralitas lahir menjadi salah satu isu global terkemuka. Terorisme yang mencoreng penghargaan terhadap keragaman menjadi santapan berita setiap saat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di media barat, fundamentalisme yang dianggap sebagai akar terorisme, telah menjadi momok yang mendiskreditkan agam. Radikalisme islam, misalnya, dianggap bertanggung-jawab atas sejumlah aksi terorisme, mulai dari pembajakan pesawat Swiss, Inggris dan AS (1970), pembunuhan atlet-atlet Israel di Olimpiade Munich (1972), hingga serangan 11 september 2001 lalu. Lebih dari itu Robert Spencer, pengarang buku “Islam Unveiled” (2002), menafikan anggapan bahwa fundamentalisme islam merupakan gerakan sempalan yang telah “membajak” islam. Justru fundamentalisme menemukan akar legitimasinya dalam doktrin islam. Dalam kerangka ini, sarjana-sarjana barat menggugat doktrin-doktrin islam. {Lih. Bernard Lewis, The Crisis of Islam (2003) dan Robert Spencer, Islam Unveiled (2002)}. Mereka menegaskan bahwa untuk menjadi bagian dari masyarakat multikultural global, dunia islam harus memasuki koridor modernisme. WM. Watt menegaskan, “Bilamana mereka hendak hidup bersama, maka mereka harus menerima aspek-aspek sekuler kultur dunia dan berikhtiar pada umat beragama lain, bagaimana nilai-nilai keagamaan islam itu mengimbangi kultur sekuler. Mereka tidak dapat melakukan ini apabila mereka masih dipenuhi dengan ekspresi islam pada tema-tema ilmu pengetahuan dan filsafat abad 12. ” (Titik temu islam dan kristen, 191:1996). Berbagai kalangan sarjana islam juga mengupayakan sebuah reinterpretasi ajaran-ajaran Al Quran dan Sunnah, dalam upaya menyegarkan pemahaman keagamaan dan membendung watak radikalisme dan kecenderungan otoritarianisme. Pemahaman keagamaan yang kaku, sering memunculkan sikap-sikap radikal dan fundamentalistik.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tentu banyak pertanyaan yang terkatrol, benarkah fanatisme pemahaman keagamaan bertanggung-jawab atas aksi kekarasan yang selalu menjadi berita paling hangat? Bagaimana islam melihat dan berinteraksi dengan non-muslim? Apakah pemetaan muslim dan non-muslim meniscayakan sebuah sikap permusuhan dan antipati terhadap “ÿang lain”? Benarkah islam disebarkan dengan ujung pedang (pemaksaan)? Adakah keselamatan di luar islam? Apakah tindakan baik non-muslim bernilai dihadapan Tuhan? Apakah semua agama benar? Adakah kebenaran absolut? Mungkinkah terwujud dialog antara islam dan barat? Mungkinkah islam akur dengan modernisme? Mungkinkah islam disekulerkan?&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Intinya, pemetaan relasi antara I &amp; The Other menyentuh dimensi psikologis, sosial, kultur, ekonomi, dan historis. Di sini, pluralitas di samping dilihat sebagai isu sosial-politik, ia juga dikaji sebagai isu filosofis, persoalan kultur, pandangan dunia, pola pikir, persepsi dan paradigma dalam berinteraksi dengan “yang lain” menyembunyikan kategori-kategori, pandangan dunia dan filsafat hidup. Ia bagaikan gunung es yang menyembunyikan 90% strukturnya di bawah permukaan. Meskipun secara De Facto, tatanan islam telah runtuh dengan runtuhnya khilafah Utsmaniah paruh pertama abad lalu, namun visi pluralitas islam tetap menjadi tanda tanya besaryang dilontarkan terkadang sebagai tantangan, gugatan, apologi dan terkadang memang sebagai pertanyaan tanpa tendensi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;dalam membaca aksi-aksi kekerasan yang sering dikaitkan dengan islam, perlu digarisbawahi bahwa sekalipun setiap aksi berusaha dibaca dan dikembalikan kepada makroparadigma pelakunya, namun kita juga mengandaikan kemungkinan terjadinya gap antara aksi dan paradigma hingga tidak terjebak oleh “Kausalitas solid” yang bersifat simplistis. Sebuah aksi tentu saja harus tetap dibaca dalam kekayaan mikroparadigmanya. Aksi kekerasan gerakan Intifadhah misalnya dalam dibaca dalam dua sudut pandang yang berbeda. tentunya, kesimpulan yang “lebih interpretatif” meminjam istilah Abdul Wahab Al Masiri menuntut pembacaan utuh untuk menentukan anasir sentral dan marginal sebuah fenomena. Di sisi lain, merebaknya kekerasan akhir-akhir ini di belahan dunia islam meniscayakan sebuah auto-kritik. Sebab logika internal kekerasan menunjukkan bahwa kekerasan dan teror hanya menjadi senjata para pecundang dan orang lemah. Di sisi lain, penolakan terhadap “yang lain” merupakan sebuah bentuk respon, namun secara implisit menyingkap kelemahan internal untuk berpartisipasi dalam masyarakat global.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Untuk itu, tulisan sederhana ini akan menjelaskan visi islam sebagai sebuah tatanan dapat merangkul semua identitas dalam komunitas islam tanpa harus mengaburkan dan mematikannya, sebuah tatanan yang diarahkan kepada pembinaan manusia yang utuh. Hal itu menjadi sangat penting dengan membandingkannya dengan tatanan sekuler yang menjanjikan kesetaraan warga negara tanpa diskriminasi atas dasar ras, agama, warna kulit dan bahasa. Namun menurut penulis, tatanan sekuler tersebut cenderung memihak dan aktif mengaburkan identitas “mereka” dan menawarkan identitas alternatif {”kita” yang sekuler}. Pendangkalan semangat keagamaan masyarakat yang termanifestasi dalam praktek amoral yang sangat menggejala, diduga kuat merupakan bagian dari proses sekularisasi yang menafikan semua kriteria normatif.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;II. Memetakan “yang lain” : Sebuah kerangka filosofis&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Manusia terlahir dan hidup dalam kerangka “komunitas sosial”. Ibnu Khaldun menyebutnya sebagai Entitas sosial [tentu dengan seluruh perpanjangannya] atau seperti kata Abdul Wahhab Bohdibah (Al-Qashdu fi-l Ghairiyyah, 9;1998), manusia secara subtansil adalah entitas (pluralis) yang memiliki afiliasi ke “yang lain” (Ghairi lil-ghairi). Sebab keberadaan Al Ana tidak lepas dan ditentukan oleh eksistensi al akhar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ada beberapa kata kunci yang menjadi kerangka acuan (frame of reference) pemikiran islam dalam menata dunia dan memetakan relasi al-ghairiyyah, realita dan komunitas di sekelilingnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;1. Tauhid (Keesaan Allah)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ia merupakan pilar pertama bangunan pemikiran islam. Ajaran-ajaran islam dalam totalitasnya dapat dikembalikan dan merupakan manifestasi pengakuan ketauhidan. Nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan dalam islam menemukan “dasar hukumnya” dalam keabsolutan tauhid. Olehnya tatanan dunia yang diselimuti oleh atmosfir kebesaran Sang Pencipta dilandasi oleh nilai-nilai universal tadi. Dalam dunia seperti ini, tidak ditemukan spontanitas, kesia-siaan (nihilisme) dan kehampaan makna. Dalam kerangka inilah, kemajemukkan alam raya dirajut sebagai bagian dari kehendak-Nya hingga tak lepas dari sebuah makna.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;2. Kesatuan (asal) manusia&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Secara global, manusia dapat dibedakan dalam warna, struktur, kepribadian, bahasa dan kultur. Namun karakteristik tersebut tidak mempresentasikan “nilai eksistensial” dalam arti dapat membentuk manusia sebagai entitas yang lain, sebagaimana karakter tersebut tidak mempengaruhi posisi seseorang sebagai mahluk ciptaan di hadapan Allah. Karakteristik tersebut bukanlah hal-hal yang mendasar atau krusial dalam relasi keterciptaan manusia dengan Tuhan. hal tersebut boleh jadi berperan dalam keistimewaan dan kebobrokannya. namun perannya dalam menentukan nilai etisnya bukanlah suatu hal yang final dan mutlak, karena bukanlah suatu kemestian bahwa seseorang yang memiliki karakteristik pilihan dan ekslusif akan meiliki nilai etis yang tinggi atau rendah. Sebab subtansi eksistensial kemanusiaan adalah sebuah kebebasan yang memberinya kemampuan untuk memikul tanggung-jawab dimana “karakteristik” tadi tidak membatasi kehendaknya hingga ia dapat menentukan kehendaknya untuk menuruti atau menyalahi kekuatan “karakteristik” yang dimilikinya. [Lih, IIIT, Islamiyatul Ma’rifah, 103:1986, Mahmud Syaltut, 452:1985].&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Inilah yang ditegaskan oleh Al Quran, “wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal, Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu”,[49:13]. Ayat tersebut secara tegas mendeklarasikan kesamaan derajat antar manusia dihadapan Tuhan. Yang menjadi dasar pembeda hanyalah kualitas ketakwaan dan prestasi kerja. Oleh karena itu, sebagai manusia, seorang muslim tidak memiliki kelebihan apa-apa atas non-muslim.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam prespektif islam, diskriminasi yang dilandasi oleh semangat dan fanatisme rasialis dianggap menginjak martabat kemanusiaan dan melanggar perintah Allah. Rasulullah saw menegaskan, “Tidak termasuk dalam golonganku (islam) orang yang menyeru kepada fanatisme (ras). Tidak termasuk golonganku (islam) orang yang berperang dibawah panji fanatisme (ras). Tidak termasuk golonganku (islam) orang yang mati dalam fanatisme (ras)”.[Muslim: Al-imarah:3437].&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;3. Kesatuan Sumber dan Misi Agama&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Agama dan misi kenabian -dalam prespektif islam- adalah sebuah untaian mata rantai yang sambung-menyambung. Dalam hadis, rasulullah saw menganalogikan para Nabi sebagai orang-orang yang membangun sebuah rumah. Rantai misi kenabian bagaikan balok-balok batu yang akan digunakan untuk membangun sebuah gedung. Setiap misi kenabian merepresentasikan satu balok batu yang pada akhirnya disempurnakan oleh misi kenabian Nabi Muhammad saw. Agama (samawi) pada intinya mengemban sebuah risalah untuk membangun peradaban umat manusia. Dalam kerangka inilah misi kenabian sambung-menyambung dari satu ke generasi lainnya. “Tak satupun umat melainkan diutus kepadanya pembawa peringatan” dalam bingkai ini, Al Quran melukiskan bahwa meskipun syariat berbeda: “…untuk tiap-tiap umat diantara kalian, kami berikan aturan dan jalan yang terang”.[5:48] Namun tujuan misi kenabian adalah satu, yaitu mengarahkan manusia ke jalan kesempurnaan dan aqidah sebagai pilar misi kenabian. “Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya”. [42:13].&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam mengilustrasikan kenyataan tersebut, Al Quran terkadang menyebut misi Nabi Muhammad saw sebagai misi nabi Ibrahim, “…Kemudian kami wahyukan kepadamu: Ikutilah jalan Ibrahim yang hanif, dia bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah”.[16:123]. dan terkadang mengajak ahli kitab kepada sebuah titik temu diantara mereka: “Katakanlah, wahai ahli kitab marilah kepada satu ketetapan yang tidak ada perselisihan di antara kita bahwa tidak ada yang kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah…”.[3:64] Dan terkadang menegaskan kesatuan seluruh misi kenabian [42:13], terkadang pula hanya menegaskan “penyerahan diri kepada Allah dan ihsan” atau “iman dan istiqamah” tanpa menyebut agama tertentu sebagai prasyarat keselamatan, “dan mereka (Yahudi dan nasrani) berkata: Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang yang beragama yahudi atau nasrani, demikian itu hanyalah angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah, tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar. (tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati”.[2:111,112]. “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka beristiqamah, maka tidak ada kekhawatiran dan kesedihan atas mereka”.[46:13].&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;4. Pluralitas sebagai Sunnatullah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pluralitas dalam kacamata islam diyakini sebagai keniscayaan. Secara implisit pluralitas diartikan sebagai koeksistensi dalam semangat “saling menghargai” perbedaan, baik dalam tataran individual maupun komunal. Pandangan dunia islam tidak menganggap pluralitas sebagai spontanitas, anomali ataupun keburukan perputaran sejarah. pluralitas merupakan bagian dari “desain tunggal” Allah Sang Pencipta. Lewat kehendak-Nya, ia bisa saja menciptakan manusia dalam pola yang sama, namun kebijakan-Nya yang tak terhingga, menghendaki pluralitas umat manusia sebagai padanan keagungan dan keesaan-Nya. Pluralitas bangsa, kultur dan tradisi manusia tidak hanya membentuk sebuah pilihan yang menyertai proyek penciptaan. Lebih dari itu, merepresentasikan dasar dinamika dunia. interaksi tidak hanya merupakan hal yang mendasar dalam tataran ontologis-teologis, lebih dari itu, ia merupakan faktor pembentuk sejarah umat manusia.[Bouhdiba,24].&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Al Quran secara eksplisit menegaskan bahwa pluralitas merupakan sunatullah: hukum yang mengikat perputaran sejarah dan alam ciptaan-Nya. Teks-teks islam menegaskan pluralitas agama, “Manusia itu adalah umat yang satu(setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab dengan benar untuk memberi keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan”.[2:213], “Sesungguhnya agama yang diridhai Allah hanyalah islam (penyerahan diri kepada-Nya), tiada berselisih orang-orang yang telah diberi kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian yang ada di antara mereka…”.[3:19]. manusia dulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada di tangan Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan diantara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan”.[10:19]. “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu, dan untuk itulah mereka diciptakan”.[11:118,119], pluralitas etnis dan ras:” Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu”.[49:13]. Pluralitas bahasa dan warna kulit,[30:22] ” Dan demikian pula diantara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang berbeda macam warna dan jenis”.[35:28].&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Zamkhasyri menjelaskan bahwa perbedaan menjadi prasyarat terjadinya interaksi sosial. Tanpa perbedaan, tak akan saling kenal-mengenal.[Al-Kassyaf, 3:201] bahkan jika mengandaikan seseorang hidup sendiri adalah suatu hal yang mungkin, maka mengandaikan ia bertahan hidup untuk jangka waktu yang lama merupakan suatu hal yang sangat mustahil. [Ar-Raghib al-Ashfahani, tafshilun-Nasyatain wa tahshil-us sa’adatain:86]. Olehnya, perbedaan tidak sepantasnya dijadikan bahan untuk memandang remeh, memusuhi terlebih lagi untuk memerangi “yang lain”. Dalam hal ini (dalam berinteraksi dengan non-muslim), yang menjadi paradigma adalah -tegas al-Qardhawi- keyakinan setiap muslim bahwa perbedaan agama terjadi atas kehendak Allah.[Ghair-ul muslimin fi-l mujtama’ al islami]. kesimpulannya, islam tidak menjadikan perbedaan agama sebagai sebab yang dapat melahirkan konflik, diskriminasi atau pengusiran. Sikap permusuhan dan antipati hanya dapat terjadi dalam kerangka “hilangnya loyalitas politik” terhadap komunitas muslim.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Al Quran menjelaskan bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu orang lain untuk mengusirmu. dan barangsiapa yang menjadikan mereka sebagai kawan maka mereka itulah orang-orang yang dzalim”.[60:8,9].&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;III. Berinteraksi dengan “Yang Lain”&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Islam Sejarah” telah terbentang dalam rentang waktu yang cukup lama dan merekat beragam etnis, bahasa dan tradisi. Ia membentuk sebuah “tangkai” kesejarahan yang tidak linier.[Boudhiba:27]. namun yang perlu dicatat, bahwa dalam pluralitas bangsa mongol, Afrika, Arab, India, Turki, Eropa, sebuah “mozaik peradaban” dirajuk dalam satu tarikan nafas islam. Dalam kaitannya dengan non-muslim, sejarah peradaban islam kaya dengan kehidupan pluralis dimana non-muslim menikmati hak-hak politisnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di sini penulis berasumsi bahwa kekuatan dan nilai semangat pluralitas sebuah kultur dan paradigma dapat dilihat dan diukur secara seimbang dalam dua poros: internal dan external. Pluralitas islam yang secara internal sangat kuat mengindikasikan sebuah semangat pluralitas yang kuat secara eksternal.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;dalam memformulasikan kerangka interaksi antara muslim-nonmuslim dalam kerangka negara islam, khazanah pemikiran politik islam membedakan antara afiliasi keagamaan dan afiliasi politik [Jamal Athiyah, Nahwa Fiqh Jadid lil-Aqalliyat, 80:2003]. Orang yang memiliki afiliasi keislaman dalam pengertian ideologis-keagamaan belum tentu memiliki afiliasi keislaman dalam pengertian politis. Bagi non-muslim, afiliasi politis tersebut diperoleh lewat sebuah kontrak hukum (yang jelas) antara kedua belah pihak yang dikenal dengan istilah Zimmah (yang berarti tanggungan atau kontrak untuk hidup bersama/koeksistensi). Kontrak tersebut tidak berlaku selamanya namun terkait dengan kondisi-kondisi tertentu yang menentukan status hukumnya. Klasifikasi afiliasi: politik keagamaan di atas didasarkan pada klasifikasi al Quran: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan kepada orang-orang muhajirin, mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah maka tidak ada kewajiban sedikit pun atasmu melindungi mereka sebelum mereka berhijrah. (akan tetapi jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan pembelaan agama maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka..”[8:72].&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hal itu semakin jelas dalam konsep kewarganegaraan islam yang terkristal dengan berdirinya negara Madinah. Berangkat dari konsensus masyarakat Madinah -dimana Rasulullah saw sebagai kepala negara- piagam Madinah dibentuk sebagai landasan konstitusional bernegara. Naskah tersebut mendefinisikan warganegara Madinah:”Hadza kitab-u Muhammadin Nabiy bainal mu’minin wal muslimin min quraisy wa ahli yatsriba waman tabi’ahum fa lahiqa bihim wajada ma’ahum. innahum ummatun wahidatun min dinin naasi”[Ibnu Hisyam, As-Sirat-un Nabawiyyah, 2:501-502]. Piagam madinah menegaskan bahwa “Al-Ummah” yang terbentuk adalah sebuah komunitas politis yang terbuka bagi siapa pun yang bersedia untuk konsisten terhadap nilai-nilainya dan bukanlah sebuah masyarakat tertutup yang membatasi hak kewarganegaraan dan jaminan lainnya atas golongan tertentu. Hak keanggotaan dalam ikatan “Al-Ummah” ditentukan oleh: (1). Loyalitas politik dalam bentuk konsistensi (al-ittiba) terhadap nila-nilai etis dan hukum yang digariskan oleh piagam tersebut. Dan (2). Afiliasi politis (al-lihaq) dan kesediaan untuk membela (al-jihad) tatanan negara islam serta berpartisipasi dalam mengemban. Ditegaskan juga bahwa:”…wa anna yahuda bani aufa ummatun minal mu’minin, li yahuda dinuhum wa lil muslimina dinuhum…”. Dalam kerangka ini, terlihat bahwa secara politis tidak ada perbedaan antara orang yang berafiliasi -secara ideologis-keagamaan- kepada islam dan non-islam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya, berangkat dari kerangka filosofis yang menjadi sistem nilai pluralitas islam, terdapat beberapa kata kunci yang digunakan dalam berinteraksi -dalam tataran praksis- dengan “yang lain”.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;1. Keadilan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Keadilan adalah kata kunci sentral dalam pemikiran islam. Ia didasari oleh nilai kostanta:Istikhlaf (manusia diutus sebagai wakil untuk memakmurkan dunia), persamaan dan keharaman berbuat zalim (aniaya). Allah berfirman dalam hadis Qudsi:”Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diriku, dan Akupun telah mengharamkannya di antara kalian, maka janganlah saling menzalimi”[HR. Bukhari]. Islam meyakini keadilan bersifat absolut dan tidak relatif dan harus secara konsisten dijaga dalam segala kondisi. Musuh harus diperlakukan secara adil sebagaimana sanak famili, kerabat dan sahabat diperlakukan dengan adil. Orang berkulit putih atau hitam, orang kuat dan lemah, muslim dan non-muslim, pemerintah dan rakyat jelata mempunyai posisi yang sama di hadapan hukum dan keadilan Allah. Al Quran menegaskan,”janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuat kamu berlaku tidak adil. Dan berlaku adillah, hal itu lebih dekat dengan ketakwaan”[5:8]. Umar juga menegaskan, “Tidak ada dispensasi dalam hal keadilan. tidak dalam situasi gawat ataupun dalam kondisi stabil”.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Olehnya, sebagai seorang manusia, non-muslim berhak mendapat perlindungan dan penghormatan. Keadilan Tuhan dimanifestasikan dalam sebuah komunitas yang dibangun secara terbuka hingga memungkinkan semua agama, aliran pemikiran untuk hidup dibawah payung keadilan. Keyakinan terhadap aqidah ketuhanan dan loyalitas setiap anggota masyarakat untuk memelihara tatanan nasional. Negara terbuka tanpa batas ataupun sekat agama, ras dan warna kulit. Siapapun berhak untuk berdiam di negeri islam. Non-muslim dari ahlul kitab, penyembah berhala (paganis) sekalipun mempunyai posisi yang sama. Dengan konsep zimmah mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan warga muslim. Dalam kondisi ini, negara islam berkewajiban melindungi dan memberi jaminan. Piagam Madinah menyatakan bahwa:”barangsiapa yang keluar dari madinah maka dia akan mendapat jaminan keamanan dan barangsiapa yang tinggal maka dia mendapat jaminan keamanan kecuali orang yang berlaku zalim”.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika islam diturunkan untuk menyerang politeisme, maka hal itu bukan karena alasan kemusyrikan saja, namun dalam politeisme terkandung benih-benih kezaliman dan angkara murka. Di sini Al Quran menegaskan penggunaan kekuatan untuk membangun dan melindungi tatanan keadilan dalam masyarakat karena merupakan sebuah keniscayaan dan sunatullah. Hingga bukanlah suatu hal yang aneh jika upaya membumikan keadilan menjadi salah satu target keberadaan para Rasul beserta syariat yang diembannya.[57:25].&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;2. Kebebasan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kebebasan dalam pemikiran islam merupakan sebuah nilai yang sangat mendasar. Kebebasan atau seperti ungkapan Tahthawi, “Apa yang kita sebut dengan keadilan mereka (barat) menyebutnya kebebasan”[A’mal Kamilah, 1:452] bukanlah sebuah hak namun dalam bahasa Rashid al-Ganousi, kebebasan adalah sebuah kewajiban yang harus diemban dalam komunitas muslim.[Al-Fatih Abdullah, Telaah atas buku Al-Hurriyat-ul Ammah, Ganoushi dalam Islamiyatul Ma’rifah, 167 Ed,II 1995]. Tahthawi juga mengaitkan secara tegas antara kebebasan dan keadilan di satu sisi dengan kemajuan oeradaban dan stabilitas di sisi lain sambil mengisyaratkan adagium Ibnu Khaldun, “Keadilan adalah pilar peradaban”.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berangkat dari konsep takrim dan istikhlaf, kebebasan dan hak asasi manusia menemukan akar legitimasinya. Manusia sebagai mahluk yang mendapat takrim (penghormatan) ilahi. Implikasinya manusia diberi mandat untuk memakmurkan dunia (mustakhlafun fil ardhi anillah). Hal inilah yang memberikan hak-hak asasi dimana tak seorang pun yang memiliki kekuasaan untuk mencabutnya. Kebebasan dalam pandangan islam adalah bagian yang tidak terpisahkan dari syariat dan nilai-nilai universalnya bahkan dari bangunan ideologis islam sebagai suatu keniscayaan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam kerangka inilah kebebasan berfikir yang termanifestasi dalam kebebasan politis dan kebebasan memilih agama diberikan jaminan. Sudah menjadi konsensus umat islam bahwa syarat sah untuk memeluk islam adalah tidak adanya paksaan. Secara tegas dan jelas, Al Quran mendeklarasikan kebebasan tersebut. Dalam hal ini, islam memberikan kebebasan memilih aqidah:”Tidak ada paksaan dalam (memilih) agama”[2:256], kebebasan berikhtiyar, “dan katakanlah: kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu maka barangsiapa yang ingin beriman maka hendaklah ia beriman dan barangsiapa yang ingin kafir maka biarlah dia kafir”[18:29]. Lebih dari itu, al-Maududi berpendapat bahwa dalam negara islam, non-muslim memiliki kebebasan mengeluarkan pendapat, berfikir, berkumpul dan mengadakan perayaan sebagaimana halnya warga muslim. Dan mereka juga diikat oleh batasan-batasan yang sama terhadap warga muslim. Bahkan warga non-muslim berhak untuk mengkritik agama islam sebagaimana islam berhak mengkritik agama dan aliran pemikiran mereka. Tentu saja dalam batasan yang telah diatur dalam UU.[Al-Maududi, Huquq Ahli Zimmah, 33].&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lewat kata kunci kebebasan ini, setipa orang berhak untuk menentukan pilihannya dalam beragama. Memilih akidah non-islam bukanlah sebuah pelanggaran yang meniscayakan sebuah hukuman, sebab hukuman dalam hukum islam hanya mencakup tindakan kriminal yang dapat menciptakan ketidakstabilan dalam masyarakat seperti pembunuhan, pencurian dan semisalnya, dimana semua tatanan telah menyepakatinya.[Abdul-Muta’al As-Shaidi, Hurriyatul fikr fil islam,15].&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di sisi lain, “Islam sejarah” menunjukkan bahwa agama-agama tumbuh subur dalam kerangka kebebasan yang diberikan seluas-luasnya. Komunitas yahudi di Spanyol Islam abad XI dan XII, misalnya dianggap sebagai zaman keemasan perjalanan sejarah komunitas yahudi. dalam rentang waktu tersebut komunitas yahudi dianggap menorehkan prestasi dan capaian peradaban yang gemilang lewat interaksi kultural dengan peradaban islam-arab.[Abdul Wahhab Al-Massiri, Mausu’ah al-yahud wal yahudiyyah, 4:250].&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;3. Persamaan Hak dan Kewajiban&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seperti telah dikemukakan bahwa dengan kontrak zimmah, seorang non-muslim memperoleh kewarganegaraan yang setara dengan warga muslim lainnya. Kesetaraan tersebut dalam khazanah pemikiran politik islam dikenal dengan istilah “Lahum ma lana wa ‘alaihim ma ‘alaina”. Pernyataan tersebut menyimpulkan kesetaraan hak dan kewajiban warga muslim dan non-muslim yang termanifestasi lewat persamaan dalam hukum, peradilan, memperoleh pekerjaan, hak-hak politik, penggunaan fasilitas umum dan kewajiban umum, seperti pajak dan kewajiban militer/ pembelaan negara. Perbedaan yang ada hanya terkait dengan tuntutan akidah. Memaksakan sesuatu yang menyalahi akidah warga muslim atau ahlu zimmah merupakan pelanggaran terhadap prinsip keadilan dan persamaan, misalnya dengan memaksa non-muslim untuk meninggalkan khamar dan daging babi, atau memaksa warga muslim untuk memakan daging babi dan meminum khamar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam kaitannya dengan hak non-muslim untuk mendapatkan pekerjaan dan memangku jabatan dalam pemerintahan negara islam yang telah menjadi sebuah aturan baku, hukum islam mengecualikan jabatan strategis: kepemimpinan tertinggi negara (Al-khilafat-ul Udzma) dan kementrian Tafwidh yang kini dikenal dengan perdana menteri (sementara kementrian tanfidz tidak ada perbedaan tentang kebolehannya).[Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyah,25] dalam hal ini, sejumlah fuqaha kontemporer mengadopsi pemikiran ini dan sebagian yang lain cenderung mengatakan bahwa syarat-syarat yang ditekankan oleh fuqaha duhulu harus dikembalikan pada konteks dimana jabatan tersebut dijalankan oleh seorang pejabat. Sementara kini jabatan-jabatan tersebut dijalankan oleh lembaga yang berwenang dalam satu sisinya. Oleh karena itu, alasan untuk mensyaratkan agama tak lagi mempunyai nilai yang memadai. dalam hal ini cukuplah UUD menyatakan bahwa Syariat islam merupakan sumber utama perundang-undangan.[Athiyah:94]. Bahkan Abdul Karim Zaidan melihat bahwa kepemimpinan tertinggi tidak terwujud kecuali dalam kondisi penyatuan umat islam dalam satu negara. Untuk negara yang ada seperti sekarang maka syarat keislaman pemimpinnya tidak diterapkan.[Ibid] namun Athiyah menegaskan bahwa kalau syarat itu dipermudah dalam kriteria perdana menteri maka seorang pemimpin negara harus memenuhi kriteria ini.[ibid].&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;IV. Islam Pluralitas: Beberapa tanda tanya&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;1. Apakah Semua Agama Benar?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaan tersebut sering mengusik pemeluk agama. Pertanyaan ini tak lain ditujukan untuk memposisikan agama-agama diluar yang dianut oleh seseorang. Pertanyaan ini terkait juga dengan sebuah pertanyaan lain: Apakah ada kebenaran yang bersifat absolut? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering dilontarkan karena sikap ekslusif agama-agama diasumsikan merupakan akar fanatisme dan sikap antipati terhadap penganut agama lain. Pretensi kebenaran absolut cenderung kebal kritikan dan melakukan tindak kekerasan dengan mematikan “suara-suara lain”. Truth claim merupakan instrumen untuk melegitimasi kekuasaan. Michael Foucault menulis, “We cannot exercise power except through the production of truth” [Power/knowledge, 132:1982 dikutip dari Jim Leffel, Christian witness in a pluralistic age]. Dalam pluralisme postmodernisme, yang ditakuti adalah orang yang percaya bahwa kita dapat menemukan kebenaran absolut. Watak dogmatis, totaliter dan absolutis, kesemuanya naif dan berbahaya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam hal ini, gagasan pluralisme yang banyak digemari itu berakar pada postmodernisme yang kini mendominasi seni dan ilmu-ilmu sosial di banyak unuversitas di barat. Para pemikir postmodernis berasumsi bahwa segalanya -termasuk agama- merupakan konstruk sosial. Semua klaim kebenaran berakar pada bias kultural. Olehnya, tidak ada kebenaran obyektif. nilai-nilai etika merupakan produk tradisi kultur tertentu. Intinya, tidak ada nilai moral yang absolut. Kepribadian merupakan hasil dari sosialisasi yang berarti tidak ada nilai-nilai universal kemanusiaan. Dalam bingkai inilah, postmodernis mendeklarasikan kesetaraan agama sebagai sebuah narasi (kecil) yang berhak untuk hidup bersama (ko-eksistensi) dengan narasi-narasi kecil lain. Kebenaran agama dianggap sebagai pangalaman kemanusiaan dalam sebuah paradigma kultural.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Gagasan kesetaraan agama juga menarik kalangan agamawan dan ilmuan yang tetap menghargai moral keagamaan. Mereka menawarkan sebuah visi baru keagamaan yang pluralis tanpa klaim kebenaran. Dijelaskan bahwa “Other religions are equally valid ways to the same truth (john Hick): Other religions speak of different but equally valid truth (John B Cobb Jr):”Each religion expresses an important part of the truth (Raimundo Panikkar). Yang lain menjelaskan bahwa apa yang sering difahami sebagai politeisme, panteisme, monoteisme dan deisme adalah cara-cara saja yang dipakai oleh manusia untuk mendekati Tuhan. Seorang lagi menegaskan bahwa pemahaman keagamaan bersifat relatif dan tidak ada interpretasi yang absolut. Relativitas di sini seperti kata Amin Abdullah tidak berarti penolakan terhadap adanya standar umum, nilai-nilai fundamental keagamaan namun persoalan relativitas di sini lebih terkait pada aspek metodologis dan bukannya persoalan metafisis, konsekuensi, kerangka pemahaman tersebut bukannya merupakan suatu pendapat yang bersifat tetap melainkan sekedar model pendekatan untuk menjelaskan hakekat segala sesuatu.[Dinamika islam kultural, 83:2000].&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kedua pendekatan tersebut bukan tanpa celah dan lepas dari kritikan. Greg Koukl, seorang pemikir kristen menggugat bahwa pernyataan ” Semua pemahaman keagamaan adalah relatif mengandung kontradiksi internal, sebab pernyataan tersebut juga merupakan pemahaman keagamaan yang tentu juga relatif. [G.Koukl, The new definition of pluralism is not only indefensible, but it also discourages critical thinking about the real issues, dalam Religious Pluralism, 1996]. Lebih dari itu, pernyataan “Pemahaman keagamaan bersifat relatif dan tidak ada interpretasi yang absolut” terbukti menyalahi aturan-aturan dasar logika. Sebagai sampel, beberapa agama menegaskan monoteisme (satu Tuhan), yang lain menegaskan politeisme (banyak Tuhan), banyak juga yang lainnya menganut panteisme (segalanya adalah Tuhan). Berdasarkan aturan logika yang paling dasar (prinsip non-kontradiksi), beberapa visi tentang Tuhan tersebut tidak mungkin benar dalam waktu dan titik yang sama. Secara logis, ketiga pandangan dunia tersebut bisa saja semuanya salah namun ketiganya tidak mungkin semua benar.[Koukl, Ibid].&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di sisi lain, postmodernisme dengan watak relativisme absolutnya, meniscayakan nihilisme moral dan kognitif. Ernest Gellner mencatat, “Postmodernisme merupakan sebuah bentuk relativisme dan relativisme adalah persoalan, relativisme tidaklah disangkal karena melahirkan nihilisme moral, relativisme disangkal karena mengarah kepada nihilisme kognitif. Memang dalam tradisi postmodernis, penghargaan terhadap keragaman narasi kecil (relativitas) berbanding lurus dengan penolakan terhadap narasi besar (absolusitas).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;dalam hal ini, Islam sebagaimana sudah dipaparkan, menghargai keragaman dan kebebasan memilih agama. Semangat pluralitas tidak menunjukkan kontradiksi dengan pengakuan terhadap nilai-nilai universal yang absolut. Justru semangat pluralitas tumbuh subur dalam kerangka nilai-nilai universal tersebut. di sini, klasifikasi islam-kufur tidak meniscayakan sebuah permusuhan, sebab orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya -Abdul Mta’al menegaskan- tidak berarti bahwa secara otomatis orang tersebut kafir di sisi Allah dan kekal di neraka-Nya. Namun hal tersebut diartikan bahwa tidak diperlakukan sebagai orang muslim di depan hukum, hingga mereka tidak dituntut untuk menunaikan kewajiban-kewajiban yang dibebankan atas orang muslim, namun menghakiminya sebagai kafir di sisi Allah maka hal itu tergantung pada penolakannya terhadap akidah tersebut setelah mendapat pemahaman (dakwah) yang benar tentang islam namun ia menolak karena kesombongan. Sebaliknya, jika dakwah islam tidak sampai kepadanya atau sampai dalam bentuk yang tidak menarik.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;2. Perang: Memaksakan Agama atau Melindungi kebebasan?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;jauh dari citra yang dirajut tentang konsep petang dalam islam, pembacaan yang utuh terhadap ayat-ayat perang dalam Al Quran menunjukkan bahwa perang melawan orang kafir hanya dilakukan untuk menangkal suatu serangan atau kemungkinan terjadinya penyerangan. Perang terhadap orang kafir tidak mungkin dilakukan hanya karena alasan kekufuran orang kafir. Hal itu karena di satu sisi, seperti sudah dikemukakan bahwa islam memberikan kebebasan berfikir seluas-luasnya dalam memilih agama [2:256, 18:29]. Juga Al Quran menegaskan “Berserulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah (bijak)”[12:16]. Allah SWT memerintahkan untuk berdakwah dengan cara yang damai dan bukan dengan perang. Di sisi lain, kufur yang diperangi dalam Al Quran adalah kekufuran yang menunjukkan sifat permusuhan terhadap islam.[ Abdul Karim Gallab, Shira’ul Mazhab wal aqidah fil Qur’an, 384:1973]. Bisa disimpulkan bahwa islam akan berdamai dengan orang non-muslim jika mereka bersikap damai kepada kaum muslim dan tidak menyerang dakwahnya baik dari segi gagasan maupun personal. ketika islam mendapat serangan maka Al Quran menyerukan untuk memerangi orang kafir.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ayat-ayat perang dalam Al Quran bisa dibagi ke dalam tiga bagian:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;a. Ayat-ayat tentang perang melawan kafir Quraisyi. Dalam hal ini perang yang dilancarkan oleh kaum muslim merupakan reaksi terhadap serangan mereka dan tindak perlindungan terhadap keberlangsungan dakwah dan bukan untuk memaksa mereka untuk memeluk islam. Dan etika mereka menghentikan perang maka kaum muslim dilarang untuk menyerang. “Dan berperanglah di jalan Allah melawan orang-orang yang memerangimu tetapi janganlah melampaui batas. Bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu. Jika mereka berhenti dari memusuhi kamu maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Penyayang”[2:190-193]. “Jika mereka condong untuk berdamai maka berdamailah”[8:61].&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;b. Ayat yang menyinggung perang melawan kekuatan musyrik Arab secara keseluruhan ketika mereka bergabung dengan kafir Quraisy untuk memerangi kaum muslim. Maka kaum muslim diizinkan untuk memerangi mereka dan Allah tidak mengizinkan untuk menyerang kaum musyrik dari bangsa lain, “maka perangilah kaum musyrik semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semua”[36:9].&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;c. Ayat yang berkaitan dengan perang melawan penjajah bangsa Romawi dan yahudi Hijaz yang memerangi kaum muslim, “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah) yaitu orang-orang yang diberikan Al kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah sedang mereka dalam keadaan tunduk”[29:9]/[lih. Abdul Muta’al As-Shaidi,70 dst].&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kesimpulannya, perang melawan orang kafir bukan berlaku umum tanpa batasan namun dibatasi jika mereka menyerang kaum muslim dan melanggar perjanjian. Di sisi lain, etika perang islam menegaskan bahwa perang bertujuan untuk jalan Allah dan bersifat defensif. Perang tidak boleh dilancarkan di Mesjid Haram kecuali dengan alasan defensif. Perang juga ditujukan untuk meredam fitnah. Dan jika musuh menghentikan sikap permusuhan maka perang harus dihentikan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;V. Epilog&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menata dunia dalam sebuah kerangka semangat pluralitas merupakan sebuah agenda global. Ketimpangan “Tatanan dunia baru” sangat terasa di mana kekuatan dunia terpusat pada satu titik. Dalam kerangka ini, gagasan “pluralitas islam” harus kembali diinterpretasikan dalam sebuah konsep operasional untuk membumikan visi pluralitas tersebut. kalau dalam sejarah pemikiran islam “Amar ma’ruf nahi munkar” dilembagakan oleh pemikiran islam dalam hisbah, maka pelembagaan pluralitas islam pada tataran individual, komunal dan global yang menghargai semua identitas harus mendapat perhatian serius. Pluralitas adalah koeksistensi yang sudah tergadai dan harus segera ditebus.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;bagi umat islam, sebuah dialog dalam tataran global yang seimbang menuntut perbaikan rumah-tangga umat islam. sebab, semangat pluralitas yang kuat secara internal merupakan prasyarat kekuatan semangat pluralitas secara eksternal. Mungkinkah dialog global itu terwujud?&lt;br /&gt;Wallahu A’lam bi-s Shawab &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115336550196044450?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115336550196044450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115336550196044450&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115336550196044450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115336550196044450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/07/islam-dan-pluralitas.html' title='Islam dan Pluralitas'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115336520000152748</id><published>2006-07-20T06:06:00.000+03:00</published><updated>2006-07-20T06:13:20.203+03:00</updated><title type='text'>Arkeologi Pemikiran Tafsir di Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/1600/17.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 175px; height: 156px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/320/17.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Arkeologi Pemikiran Tafsir di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Upaya Perintis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Farid F. Saenong,MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;L’archeologie de la pensee (arkeologi pemikiran), sebuah istilah yang diperkenalkan oleh Michel Foucault, merupakan upaya untuk menemukan proses terbentuknya pengetahuan dalam kurun dan kawasan tertentu. Oleh karena itu, pengetahuan adalah sesuatu yang historis, sehingga bisa ditelusuri. Buku atau karya kemudian menjadi ekspresi pemikiran, pengalaman, imajinasi atau ekspresi ketidaksadaran. Berbagai hal inilah yang akan menjadi objek analisa wacana dan arkeologi pemikiran. Azyumardi Azra, yang secara sederhana dan tidak langsung sealur dengan metodologi Foucault ini, pernah menyatakan bahwa ulama-ulama Indonesia bermunculan melalui berbagai jaringan yang berpusat di Timur Tengah. Oleh karena itu, pemikiran-pemikiran ulama di Indonesia juga tidak terlepas dari jaringan-jaringan tersebut. dalam konteks inilah, penulis ingin menjelaskan secara singkat arkeologi pemikiran tafsir di Indonesia, hingga dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sejarah Al Quran di Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Penyebaran islam dari awal kemunculannya sampai hari ini, diyakini tidak lepas dari sumber primer ajaran islam, dalam hal ini Al Quran. Bisa dikatakan bahwa sejarah islam merupakan sejarah Al Quran. Walaupun Al Quran lebih terfokus pada peninggalan-peninggalan tertulis dari tradisi intelektual. Oleh karena itu, sejarah Al Quran dalam konteks yang paling sederhana di Indonesia, dapat ditelusuri sejarah masuknya islam ke Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Secara umum, para peneliti mengungkapkan dua penjelasan/teori populer masuknya islam ke Indonesia. Teori Timur, yaitu islam masuk di Indonesia pada abad VII. M atau I. H, yang disebarkan langsung melalui jalur perdagangan oleh orang Arab yang bermazhab Syafi’i di daerah pesisir (coast) pantai utara Sumatera (Malaka). Sementara itu, teori Barat bersumber dari perjalanan Marcopolo (1292). hal ini lebih diperkuat dengan catatan Ibnu Batutah yang menjelaskan berdirinya islam di pantai utara Sumatera pada abad XVIII M. Azyumardi Azra sendiri berkesimpulan bahwa islam masuk ke indonesia dibawa langsung dari Arabia oleh para misionaris islam profesional yang dengan jumlah besar datang ke Indonesia pada abad XVII M - XVII M, dan pertama-tama dipeluk oleh kalangan elit nusantara. Di samping kedua populer tersebut, terdapat teori lainnya dengan karakteristik tertentu. secara singkat, penulis dapat katakan bahwa islam telah masuk ke Indonesia secara perorangan pada abad VII M, yang kemudian menjadi kekuatan sosial dan politik pada abad XII M.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Islam yang masuk k Indonesia adalah islam yang dibawa langsung oleh ulama-ulama Arab yang juga bekerja sebagai pedagang. Sebagai pedagang yang lalu-lalang, mereka juga membawa info-info aktual dari Timur Tengah. Perkembangan selanjutnya ditandai dengan banyaknya pemuda-pemuda Melayu dan Indonesia yang mengembara ke pusat peradaban islam di Timur Tengah untuk belajar islam. Ketika mereka kembali, tentu saja membawa info-info serta perkembangan aktual seputar Timur tengah yang selanjutnya mempengaruhi perkembangan islam di Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kajian tentang tradisi Al Quran dan tafsir di Indonesia telah dilakukan oleh beberapa Indonesianis seperti, R. Israeli dan A.H. Johns (Islam in the Malay world: an Explotary survey with the some refences to Quranic exegiesis, 1984), A.H. Johns (Quranic Exegiesis in the Malay world: In search of profile, 1998). P. Riddel (Earlist Quranic Exegetical activity in the malay speaking states, 1998).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Secara singkat, aktivitas seputar Al Quran di Indonesia dirintis oleh Abdur Rauf Singkel, yang menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa Melayu, pada pertengahan abad XVII. Upaya rintisan ini kemudian diikuti oleh Munawar Chalil (Tafsir Al Quran Hidayatur rahman), A.Hassan Bandung (Al-Furqan, 1928), Mahmud Yunus (Tafsir Quran Indonesia, 1935), Hamka (Tafsir Al-Azhar, 1973), Zainuddin Hamidi (Tafsir Al-Quran, 1959), Halim Hassan (Tafsir Alquranul Karim, 1955), Iskandar Idris (Hibarna), dan Kasim Bakry (Tafsir Alquranul hakim, 1960). dalam bahasa-bahasa daerah, upaya-upaya ini dilakukan oleh Kemajuan Islam Yogyakarta (Quran kejawen dan Quran Sandawiyah), Bisyri Mustafa Rembang (al-Ibriz, 1960), R.Muhammad Adnan (Alquran suci basa jawi, 1969) dan Bakry Syahid (Al-Huda, 1972). Sebelumnya pada 1310 H, Kiyai Mohammed Saleh Darat Semarang menulis sebuah tafsir dalam bahasa jawa huruf Arab. Ada juga karya yang belum selesai yang ditulis oleh Kiyai Bagus Arafah Sala, berjudul Tafsir jalalen basa Jawi Alus Huruf Arab. Bahkan pada 1924, perkumpulan Mardikintoko Kauman Sala menerbitkan terjemah Alquran 30 juz basa Jawi huruf Arab Pegon. Aktivitas lainnya juga dilakukan secara persial, seperti penerbitan terjemah dan tafsir Muhammadiyah, Persis bandung dan Al Ittihadul Islamiyah [KH.Sanusi Sukabumi], beberapa penerbitan terjemah di Medan, Minangkabau dan kawasan lainnya, serta tafsir Alquran dalam bahasa jawa yang diterbitkan oleh Ahmadiah Lahore dengan nama Quran Suci Jawa Jawi. Upaya-upaya ini bahkan ditindak-lanjuti secara resmi oleh pemerintah Republik Indonesia. Proyek penerjemahan Al Quran dikukuhkan oleh MPR dan dimasukkan dalam Pola I Pembangunan Semesta Berencana. Menteri Agama yang ditunjuk sebagai pelaksana, bahkan telah membentuk Lembaga Yayasan Penyelenggara Penterjemah / Penafsir Alquran, yang pertama kali diketuai oleh Soenarjo. Terjemahan-terjemahan yang telah dicetak dalam jutaan eksampler tersebut, telah mengalami perkembangan yang akhirnya, atas usul Musyawarah Kerja Ulama Alquran ke XV (23-25 Maret 1989), disempurnakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama bersama Lajnah Pentashih Mushaf Alquran. Lajnah ini pertama kali memiliki 10 anggota: Hasbi Ash-Shiddieqi, Bustami A.Gani, Muchtar Jahja, Toha Jahja Omar, Mukti Ali, Kamal Mukhtar, Ghazali Thaib, Musaddad, Ali Maksum dan Busyairi Madjid. kemudian pada tahun 1990, lajnah ini dirombak dan diisi oleh 15 anggota: hafidz Dasuki (ketua), Ilham Mundzir (sekretaris), Mukhtar Nasir, Lutfi Ansori, Syafi’i Hazmi, Muhammad As-Sirri, Aqib Suminto, Shawabi Ihsan, Nur Asyiq, Wasit Aulawi, Quraish Shihab, Satria Efendi, Muhaimin Zein, Badri Yunardi dan Surjono.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Upaya-upaya tersebut di atas, serta tuntutan masyarakat pecinta Alquran, mengundang para cendekia untuk menulis dan menerjemahkan berbagai karya di seputar Alquran. Kepustakaan-kepustakaan tersebut telah terisi dengan karya-karya Hasbi Ash-Shiddieqi (Sejarah dan pengantar ilmu Al Quran, 1980), beberapa textbook perguruan tinggi, terjemah karya Manna al-Qattan, serta beberapa karya penulis sendiri. Khusus dalam wacana sejarah Alquran, beberapa karya dan terjemahan telah muncul, seperti Adanan Lubis (Tarikh Alquran, 1941), Abu Bakar Aceh (Sejarah Alquran, 1986), Mustofa (Sejarah Alquran, 1994) dan sebagainya. Bahkan Tarikh Alquran karya az-Zinjani (Wawasan baru Tarikh Alquran, 1986) dan al-Abyari (Sejarah Alquran, 1993) telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;penyebaran islam di Indonesia diyakini secara konvensional, melalui proses penyebaran yang sangat damai dengan memakai pendekatan sufisme. Tokoh-tokoh besar nusantara, seperti Hamzah fansuri, Samsuddin Sumatrani, ar-Raniri, dan Wali Songo dikenal sebagai tokoh-tokoh sufi dan kalam dengan karakternya masing-masing. Dengan pendekatan sufisme ini, islam diterima secara damai, tanpa melalui perang fisik yang berarti. Pendekatan sufisme/kalam ini, tentu saja akan mempengaruhi cara berfikir jaringan ulama generasi selanjutnya, termasuk ketika diterapkan dalam tafsir atau terjemahan Alquran.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tokoh sufi nusantara, seperti hamzah Pansuri dan Samsuddin Sumatrani seringkali mengutip ayat-ayat Alquran yang kemudian difahami dalam konteks mistisme. Ada riwayat kecil menyebutkan bahwa masa kedua sufi itu, telah muncul tafsir kecil terhadap surah Al-Kahfi yang diperkirakan dan dinilai mengikuti tradisi tafsir Al-Khasin.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Abdur Rauf Sengkel belajar di Saudi Arabia sejak 1640, dan diperkirakan kembali pada 1661. Beliau inilah yang mempelopori kajian-kajian tentang Alquran, ketika menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Melayu pada pertengahan abad VII. Tafsir tersebut bernama Tarjuman al-Mustafid. Sebagai perintis, tafsir ini mendapat temapt, bahkan tidak hanya di Indonesia. Tafsir ini pernah diterbitkan di Singapura, Penang, Bombay, Istanbul (Matba’ah al-usmaniah, 1302 H/ 1884 M dan 1324 H/ 1906 M), Kairo (Sulaiman al-Maragi), Mekkah (al-Amiriah).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam kajian beberapa ahli, ada dua pendapat besar tentang tafsir ini, pertama: Snouck Hurgronje menganggap bahwa terjemah tersebut lebih mirip sebagai terjemahan tafsir al-Baidaiwi. Rinkes, murid Hurgronje, menambahkan bahwa selain sebagai terjemahan tafsir al-baidawi karya as-Sinkili itu juga mencakup terjemahan tafsir Jalalain. Voorhove, murid Horgronje setelah mengikuti pendapat gurunya dan Rinkes, berpendapat bahwa tafsir tersebut mengambil sumber dari berbagai karya tafsir berbahasa Arab. Kedua: Riddel dan Harun memastikan bahwa Tarjuman Al-Mustafid adalah terjemahan tafsir jalalain, hanya pada bagian tertentu saja tafsir tersebut memanfaatkan tafsir al-baidaiwi dan tafsir al-Khanzin. Singkel cenderung memilih tafsir Jalalain, diperkirakan karena secara emosional, Singkel memiliki runtutan sanad itu dapat ditelusuri melalui gurunya, baik al-Qusyasyi atau al-Kurani.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Secara singkat dapat dikatakan bahwa metodologi Singkel dalam Tarjuman Mustafid sangat sederhana. Tafsir Jalalain yang dikenal sangat ringkas dan padat, itu setelah diterjemahkan menjadi lebih ringkas. Singkel menerjemahkan kata perkata sambari menahan diri untuk menambahkan pemahaman-pemahamannya sendiri. Uraian-uraian linguistic yang menjadi salah satu karakter Tafsi Jalalain serta penjelasan yang tidak perlu, ditinggalkan oleh Singkel. Penjelasan yang dinilai cukup panjang dalam Tafsir Jalalain dan diperkirakan akan memalingkan perhatian, tidak diterjemahkan oleh Singkel. menurut penilaian Johns, ini dilakukan oleh Singkel agar umat islam Melayu lebih dapat memahami dan mencerna karyanya dengan mudah. Singkel memang tidak menulis angka tahun ketika beliau menyelesaikan tafsir ini. Hasmi menilai bahwa karya ini ditulis ketika Singkel mengadakan perjalanan ke India. Pendapat ini ditentang keras oleh Azyumardi Azra, mengingat Singkel tidak memiliki route perjalanan ke India dalam sejarah hidupnya. Sulit bagi Singkel untuk menulis karya besar dalam perjalanan. Justru perlindungan dan fasilitas penguasaan Aceh semakin mempertegas kenyataan bahwa karya ini ditulis di Aceh.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Upaya rintisan Singkel ini kemudian diabadikan oleh seluruh pecinta Alquran dan tafsir di tanah melayu dengan menjadikan tafsir Jalalain sebagai tafsir standar atau tafsir pemula, yang dipelajari oleh hampir seluruh pesantren di nusantara. Karya Singkel ini dinilai sebagai pondasi dasar bahkan jembatan upaya tarjamah tafsiriyah di tanah Melayu. Karya-karya tafsir dari anak bangsa berikutnya, baru bermunculan dalam lima puluh tahun terakhir ini, setelah Tarjuman Mustafid ini bertahan selama tiga abad. Oleh karena itu, mengkaji sejarah Alquran di Indonesia, tanpa melibatkan Tarjuman Mustafid, karya Abdur Rauf Singkel ini, akan menjadi kajian yang kehilangan akar sejarahnya. Hal ini sangat terasa dalam upaya Federspiel yang mengkaji Alquran di Indonesia, yang memulai kajiannya hanya dari Mahmud Yunus sampai Quraish Shihab, tanpa memberikan penjelasan yang berarti, mengapa ia tidak menyinggung penulisan tafsir di Indonesia yang telah muncul sebelum Mahmud Yunus. Walaupun judul asli buku ini adalah Popular Indonesian Literatures on The Quran. Padahal Tarjuman Mustafid merupakan salah satu petunjuk besar dalam sejarah keilmuan islam, khususnya tafsir di tanah Melayu. Federspiel juga tidak menyebut terjemah atau tafsir yang ditulis ulama Indonesia dalam bahasa daerah seperti al-Ibriz atau Al-Quran Suci Basa Jawi yang juga sudah bermunculan pada tahuan 60-an.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Melirik kenyataan tersebut, tesis Federspiel ketika menciptakan periodesasi karya seputar Alquran di Indonesia. Dalam buku tersebut, sangat rentan untuk dipertahankan. Seperti diketahui, Federspiel membagi karya-karya Indonesia seputar Alquran menjadi tiga babak/periode yang ia sebut sebagai generasi. Generasi Pertama, ditandai dengan gerakan terjemah atau tafsir yang berpisah-pisah, mulai dari abad XX sampai awal tahun 60-an. Federsfiel secara tegas, tidak menyebutkan karya-karya yang dapat mewakili generasi pertama. Generasi Kedua kemudian muncul sebagai penyempurna metodologis atas karya-karya generasi pertama. Penerjemahan generasi kedua yang muncul pada pertengahan tahun 60-an ini, biasanya dibubuhi dengan catatan khusus, catatan kaki, bahkan disertai dengan indeks yang sederhana. Al-Furqan (A.Hassan, 1928), tafsir Alquranul Karim atau Tafsir Quran Indonesia (Mahmud Yunus, 1935) serta Tafsir Quranul (Zainuddin Hamidi dan Fackhruddin, 1959), dianggap sebagai karya-karya yang mewakili generasi kedua. Sementara itu, terjemah atau tafsir lengkap, menandai munculnya generasi ketiga pada tahun 70-an. tafsir generasi ini biasanya memberi pengantar metodologis serta indeks yang akan lebih memperluas wacana masing-masing. tafsir An-Nur/Al-Bayan (Hasbi Ash-Shiddieqi, 1966), Tafsir Al-Azhar (Hamka, 1973), Tafsir Al-Quranul Karim (Halim Hasan cs, 1955) dianggap mewakili generasi ketiga.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tiga karya yang mewakili generasi kedua, dianggap memiliki format yang sama. teks Arab ditulis di sebelah kanan halaman. Sementara itu, terjemahan di sebelah kiri, serta catatan yang merupakan tafsir. Kesamaan karakter lainnya terlihat pada penggunaan istilah yang sulit dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia, sehingga ketiganya memberikan penjelasan khusus. Ketiganya juga sama-sama memberikan penjelasan tentang kandungan setiap Surah dalam Alquran. Di tempat lain, dua dari tiga karya tersebut sama-sama membicarakan sejarah Alquran.Mahmud Yunus dan Hamidi, juga sama-sama memberikan indeks sederhana dengan dibubuhi oleh angka-angka yang merujuk pada kalimah tertentu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, tiga tafsir yang mewakili generasi ketiga, dianggap telah menggunakan metodologi penulisan kontemporer. Ketiga karya tersebut diawalai dengan sebuah pengantar metodologis serta beberapa materi Ulumul Quran. Hasbi dan Hamkamengelompokkan ayat-ayat secara terpisah antara satu sampai lima ayat kemudian ditafsirkan secara luas. Hanya karya Hassan yang formatnya masih serupa dengan karya-karya generasi kedua. Hassan menempatkan ayat dan terjemahannya secara berurutan dan kemudian diikuti dengan catatan kaki di bawahnya, sebagai tafsir. Ketiga tafsir ini juga menyajikan bagian ringkasan sebagai pokok-pokok pikiran dalam suatu surah tertentu. dari ketiga tafsir di atas, hanya Hamka yang menyajikan tafsirnya dengan uraian-uraian tentang sejarah dan peristiwa-peristiwa kontemporer. Bisa dimaklumi, mengingat Hamka menyelesaikan tafsirnya ketika masih meringkuk di penjara Orde Lama.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setelah seluruh karya ketiga generasi tersebut, maka bermunculanlah berbagai karya terjemah atau tafsir, baik yang dikerjakan secara individual ataupun dikoordinir oleh lembaga atau badan tertentu. Aktivitas ini bahkan juga dilakukan oleh Negara, dalam hal ini Departemen Agama yang kemudian pada akhirnya memunculkan terjemah atau tafsir resmi/negara. Federspiel bahkan mengemukakan target-target tertentu dalam proyek tersebut. Pertama: Negara telah terlibat dalam penyebaran nilai-nilai islam, yang terbukti dengn memasukkan proyek tersebut dalam pola pembangunan lima tahun, yang ditetapkan dengan keputusan MPR. Kedua: Karya resmi tersebut juga telah memperlihatkan keahlian sarjana-sarjana Indonesia dalam tafsir. Krtiga: Proyek tersebut merupakan standar dalam tafsir dan terjemahan Indonesia lebih lanjut. Keempat: Salah satu kekuatan sosial/politik Indonesia yang biasa disebut Muslim Nasionalis, memantapkan diri dengan pandangan ideologis yang tercermin dalam tafsir tersebut. Bahkan Federspiel menganggap pandangan ideologis tersebut cukup mendominasi penafsiran Departemen Agama. Referensi terjemahan serta tafsir departemen Agama yang dikategorikan Tafsir Ilmi dan diasumsikan sangat mengacu pada tafsir Al-Maragi, lebih memperkokoh tuduhan itu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;bagian pendahuluan setiap surah dalam Alquran dan tafsirnya, menyajikan berbagai data dasar tentang suatu surah: waktu dan tempat turunnya serta munasabahnya. Pada bagian yang disebut pokok bahasan, selalu ada penjelasan tentang beberapa hal. Seperti: Keimanan, penyembahan, hukum, janji, peringatan, kisah-kisah serta ibarat-ibara. Khusus pada Alquran dan terjemahannya, bab pendahuluan yang terdiri dari ratusan halaman, juga memuat berbagai materi Ulumul Quran. Pada 7 Februari 1990, Dewan Penyelenggara Penterjemah/ Penafsiran Alquran mengeluarkan edaran yang mencakup beberapa hal dalam rangak perbaikan dan penyempurnaan ALquran dan terjemahannya,. Pertama: Sedapat mungkin mengikuti tata bahasa Indonesia yang benar. Kedua: Menggunakan istilah bahasa Indonesia yang betul-betul mewakili kata-kata bahasa Arabnya. Ketiga: Membuang beberapa bab mukadimah dan memakai kata yang dianggap erat hubungannya dengan Alquran. keempat: Menggunakan mushaf Alquran standar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Tafsir Al Quran Dewasa ini di Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maraknya syiar islam dewasa ini di indonesia, ikut mengundang beberapa ahli untuk menerjemahkan berbagai karya tafsir besar dalam bahasa Indonesia. Sampai hari ini, tercatat beberapa tafsir kontemporer berbahasa Arab yang telah diterbitkan oleh penerbit-penerbit Indonesia. Seperti Tafsir Al-Maragi (Bahrun Abu Bakar), Tafsir Jalalain (Wahyuddin Syaf dan Bahrun Abu Bakar), Asbab an-Nuzul (Qomaruddin Saleh), Tafsir Ibnu Katsir, Al-Asas fi Al-Tafsir (GIP), Tafsir Al-Muntakhab (Majlis A’la) dan sebagainya. karya-karyaterjemahan ini, pada akhirnya mendukung system pengajaran tafsir di perguruan-perguruan tinggi islam di Indonesia, yang menurut Quraish Shihab dan Jalaluddin Rahmat memiliki kelemahan-kelemahan tertentu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Metode serogan di pesantren dan muhadarah di perguruan tinggi, hanya akan mengantar peserta didik menguasai produk tafsir, bukan ilmunya. Kelebihan metode serogan adalah pemahaman peserta didik terhadap seluruh ayat, yang dikemukakan serta metodologi mufassirnya. Sementara itu, kelebihan metode muhadarah lebih terletak pada sisi efisiensi dan spesialisasi. Oleh karena itu, Quraish Shihab menawarkan beberapa hal, seperti pendefinisian dan pengajaran kaidah tafsir, pengenalan kitab-kitab tafsir serta metode pengajaran tafsir yang sesuai dengan teori komunikasi modern.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Catatan Umum&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari berbagai informasi yang sangat terbatas, penulis ingin mengemukakan beberapa catatan umum terhadap berbagai karya, khususnya karya tafsir Alquaran di Indonesia. Pertama: referensi (sumber) klasik Arab yang digunakan. Secara umum referensi standar berbahasa Arab yang digunakan oleh pernulis tafsir di Indoenseia, meliputi Tafsir Jauhari, Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Maragi, Tafsir al-Qasimi, Tafsir al-Razi, Tafsir al-manar, Tafsir al-Tabari, Tafsir al-Baidawi, Fi Zilal Alquran dan sebagainya. Kesemua tafsir ini mewakili zaman serta ideologinya masing-masing, sehingga dengan sendirinya menggambarkan pemahaman yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pemahaman salah satu sumber tersebut juga mewarnai wacana pemikiran tafsir di Indonesia. kategorisasi tafsir Indonesia berdasarkan waktu, tidak menemukan signifikasinya, mengingat perbedaan ideologis dalam sumber-sumber klasik tersebut juga mewarnai perbedaan ideologis para penulis tafsir&gt; tentu saja hal ini didasari dengan asumsi bahwa perkembangan islam di timur tengah juga memegang kunci tersendiri. Kedua: Secara tidak sengaja, kemunculan beberapa tafsir di Indonesia juga ikut memicu friksi antara kaum medernis dan tradisionalis. Hampir semua karya tafsir populer yang tekah disebutkan di atas, ditulis oleh kalangan yang dikategorikan modernis. Hal ini bisa dipahami, mengingat ulama-ulama tradisionalis lebih berkutat pada persoalan kemasyarakatan (fiqhiyah). Hamka merupakan jebolan gerakan pembaruan agama (madrasah tawalib) di minangkabau dan akhirnya harus berhadapan dengan Orde Lama, yang nota bene sealur dengan kalangan tradisionalis. Hasbi Ash-Shiddieqi dibesarkan oleh kalangan al-Irsyad. A.Hassan diasuh bahkan kemudian memimpin Persis Bandung. Sementara itu, kalangan tradisionalis hanya bisa bangga dengan Tarjuman Mustafid dan Al-Ibriz karya Bisri Mustafa Rembang. Ketiga: Pengaruh orientalis dalam pemikiran tafsir-tafsir di atas, tidak mendapat tempat sedikitpun. bahkan Abu bakar Atceh pernah menyerukan menulis berbagai hal tentang Alquran dalam bahasa Indonesia guna membendung arus orientalisme. Hamka juga pernah mewanti-wanti bahaya orientalisme dalam salah satu juz tafsir Azhar. namun kita sebentar lagi akan menyaksikan sebuah karya orisinil Taufik Adnan Amal berjudul Rekonstruksi Sejarah Alquran yang sangat mengacu pada sumber-sumber Barat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115336520000152748?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115336520000152748/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115336520000152748&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115336520000152748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115336520000152748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/07/arkeologi-pemikiran-tafsir-di.html' title='Arkeologi Pemikiran Tafsir di Indonesia'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115336477492566189</id><published>2006-07-20T05:55:00.000+03:00</published><updated>2006-07-20T06:06:16.430+03:00</updated><title type='text'>Modernisme dan Post Modernisme</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/1600/DSC01801.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 153px; height: 201px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/320/DSC01801.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Modernisme dan Post Modernisme&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Abdul Wahab Masiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Pendahuluan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seorang penulis Amerika keturunan yahudi Susan Sontag, pembela kaum lesbi penulis buku, Against Interpretation (melawan intrepretasi) dianggap sebagai salah seorang penulis terpenting di zamannya, buku tersebut agak berbeda dengan nuansa peradaban barat. Menceritakan tentang non rasial filsafat yang mulai mengkungkung barat (bahwa kreasi seni adalah bukan sebuah cerita tapi sihir -jawaban intuisi yang butuh penafsiran- panemapilan kita adalah wujud yang sebenarnya dan wajah adalah topeng, dalam alam modernisme tidak ada bentuk yang bisa dipahami, menusia sebagai manusia kehilangan ciri yang menjadikannya memiliki posisi yang sama dengan yang lain, bahkan manusia dikuasai oleh segala sesuatu). Banyak diantara pemikir barat menganggap buku sebagai sejarah lahirnya post modernisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan pencerahan (humanisme) barat menjadikan manusia sebagai pusat, dan menegaskan tentang rasionalitasnya serta kemampuannya melampaui dirinya dan lingkungannya tanpa mengetahui hal-hal yang non-rasial. Peradaban ini dimulai dengan pengumuman “Matinya Tuhan” atas nama manusia sebagai pusat dan berakhir dengan pencabutan otoritas manusia sebagai decenter.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kaum modernis menganggap bahwa teknologi akan menjadi sumber kebahagiaan manusia dan menjanjikan dunia yang lebih baik. Namun, hal itu tidak berlangsung lama,sampai kemudian ditemukan juga begitu banyak dampak negatif dari ilmu pengetahuan bagi dunia. Teknologi mutakhir ternyata sangat membahayakan dalam peperangan dan efek samping kimiawi justru merusak lingkungan hidup. Dengan demikian, mimpi orang-orang modernis ini tidaklah berjalan sesuai harapan dan berakhir dengan kehancuran manusia itu sendiri. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam buku ini, Dr.Masiry memulai tulisannya dengan pembahasan tentang fenomena awal yang menyebabkan lahirnya babakan baru dalam sejarah peradaban barat. Lahirnya modernisme yang kemudian berakhir dengan lahirnya post modernisme. Buku ini sangat menarik untuk dikaji bersama sebagai refleksi tentang kehidupan yang melanda masyarakat barat saat ini, atau mungkin telah menjangkiti diri kita atau masyarakat kita tanpa pernah sadar akan hal tersebut. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Materi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam tulisan ini, Dr.Masiry memulai dengan pembahasan tentang “materi”. Yang dimaksud dengan materi di sini adalah materi dalam istilah filsafat: Meyakini bahwa materi adalah zat asli dan penggerak inti alam. pandangan ini tidak ada kaitannya dengan “cinta harta (materi)”, karena banyak di antara kaum materialis lebih zuhud dibanding orang-orang beriman. pola hidup materialis tidak berarti semua masyarakat barat itu materialistis, banyak di antara mereka yang masih bersikukuh dengan iman mereka, tapi justru pola hidup materialislah yang menguasai aspek kehidupan mereka secara umum dan khusus. Pola materialis ini mengalami dua fase: Fase rasionalitas materi (modernisme) dan Fase non rasial materi (post modernisme). &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Rasionalitas materi adalah keyakinan bahwa alam ini memuat hal-hal yang bisa digunakan untuk menginterpretasi segala bentuk materi tanpa membutuhkan wahyu atau pesan Tuhan. Rasiaonalitas materi ini lebih dikenal dengan istilah gerakan pencerahan, di mana akal manusia mampu mencapai pengetahuan yang menerangi segala sesuatu serta fenomena-fenomena alam. Pengetahuan ini menjadikan manusia sebagai pusat pada alam, yang menjdikannya mampu merubah dan menguasai alam. Dimana manusia berubah menjadi Tuhan atau wakil Tuhan atau tidak butuh lagi pada Tuhan. Inilah ynag menjadi perdebatan humanisme yang dianggap sebagai fase awal dari gerakan pencerahan modernisme. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Post-modernisme dan kegilaan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Orang bisa saja menganggap “post modernisme” hanya permainan kata atau seperti hantu yang menakutkan atau sebagai aliran filsafat yang tidak bisa dipahami oleh akal kita yang lemah. Orang bisa ngotot menganggapnya tidak ada dan omong kosong. Meskipun orang bisa juga bersikukuh menganggapnya kenyataan paling real hari ini. Orang tidak akan pernah tahu apa itu post modernisme tanpa mengetahui perselisihan sejarah filsafat dengan gerakan dekonstruksinya serta munculnya imajinasi rasio dan perkebangannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pembahasan ini dimulai dengan sosok tokoh post-modernisme, Jacques Derrida (1930 M) seorang filosof perancis yahudi. Dia menganut aliran filsafat non rasial kontemporer. Dia banyak terpengaruh dengan Nietsche dan filosof serta pemikir lainnya (Sartre, Martin heidegger, Emanuell leibnizts, pemikir perancis yahudi).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Derrida memulai dengan perlawanan terhadap strukturalisme (albinyawiyyah), Sebuah gerakan yang berusaha menjauh dari esensi manusia yang berada dalam naungan eksistensialisme (alwujudiah). Orang-orang strukturalis menganggap strukturalisme sebagai penggerak awal dan melampaui akal manusia. Sehingga kita mendapati struktur bahasa dan kekuasaan berbicara tentang manusia, Bukan manusia yang berbicara tentang struktur bahasa dan kekuasaan. Derrida berkesimpulan bahwa strukturalisme dikemas dalam metafisika dimana eksistensi akal ibarat ungkapan-ungkapan suci yang melampaui alam intuisi dan perubahan. Struktur dalam pandangan orang strukturalis adalah metode-metode yang menyerupai bangunan akal manusia. Sedangkan strukturalisme adalah proyek mempelajari bangunan akal tersebut. Kosekuensinya,manusia kembali pada otoritasnya dan memberikan alam rasionalitas dan makna yang memungkinkan manusia untuk sampai pada satu kebenaran.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Proyek besar Derrida adalah upaya untuk meruntuhkan ontologi barat secara menyeluruh yang dibangun dengan pola pemilahan (oposisi) biner, Seperti manusia dan alam, mutlak dan nisbi, tetap dan berubah. Oposisi biner ini bersandar pada pertanda transendensi yang tsabit. Darridas berusaha meruntuhkan pertanda transendensi tsabit tersebut (logos,mutlak dan tetap) dari sisi agama dan materi dengan menetapkan oposisi binernya. Denag begitu,dia mampu menghancurkan batasan-batasan oposisi yang tersusun dalam pertanda transenden menuju suatu alam baru tanpa batas, Asas dan tanpa dasar ketuhanan bahakan tanpa landasan sama sekali. Pluralisme dan relatifisme menjadi kata kuncinya. Alam petanda dan pertanda terpisah secara mutlak. Maka bagi mereka tidak ada bahasa (kalopun ada hanya sekedar bahasa tubuh intuisi). Realitas teks saling tumpang tindih. Teks tidak bisa lagi dihadapkan pada realitas ataupun teks dengan makna teks. Pandangan nihilisme ala posmo ini akan menjadi dekonstrukter ketika dijadikan metode dalam membaca sebuah teks.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan proyek dekonstruksinya, Derrida berusaha menghancurkan batasan-batasan kata, kalimat dan makna dengan menciptakan makna-makna baru. Derrida memainkan bahasa provokatif dengan tetap menjaga keseimbangan bahasa tersebut. Apa yang dilakukan Derrida menurut Masiry adalah permainan anak-anak yang memuakkan. Kita tahu bahwa permainan anak-anak pada masa kanak-kanak adalah wajar, tapi ketika menjadi orang dewasa suasananya akan berbeda. Masiry memberikan contoh; Derrida ketika lahir diberi nama Jacky kemudian ganti menjadi Jacques. Dia mengganti namanya tanpa meninggalkan nama yang pertama. Baginya nama pertama adalah nama yang kedua dan yang kedua adalah yang pertama. Bagaimana bisa seperti itu caranya?. Derrida mengatakan “nama itu seperti tanda khitan, isyarat yang datang dari orang lain, dan tidak mungkin berpisah dari badan”. Menurut Masery nama bisa saja sama denga khitan dari satu sisi tapi tidak dari semua sisi. Kita bisa saja menyamakan satu dengan yang lain tanpa ada pertautan antar keduanya. seperti itulah tabiat perbandingan (majaz). Dia tidak menuntut pertautan dari semua sisinya sedangkan Derrida mengatakan bahwa majaz tidak bisa dibawa menuju titik akhir yang logis. Ini yang diketahui setiap anak-anak, ini juga yang dipahami oleh Derrida, akan tetapi dia mempermainkan esensi majaz untuk merusak makna bahasa itu sendiri.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menurut Derrida, nama adalah fenomena peradaban manusia sama dengan bahasa. menurutnya, nama adalah tanda yang tidak terpisah dari yang ditandai, ada hubungan pertautan dan pemisahan antar keduanya. Menurut Masiry, seandainya kita tahu bahwa nama adalah fenomena peradaban manusia dan tunduk pada keinginan manusia, tidak seperti tubuh yang merupakan fenomena alam/materi, maka kita akan marah dan sedih seperti anak-anak dan akan memberitahu semua orang bahwa tidak ada hubungan antar tanda dan yang ditandai yang menyebabkan posisi manusia bermasalah. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115336477492566189?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115336477492566189/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115336477492566189&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115336477492566189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115336477492566189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/07/modernisme-dan-post-modernisme.html' title='Modernisme dan Post Modernisme'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115276566781703668</id><published>2006-07-13T07:29:00.000+03:00</published><updated>2006-07-13T07:41:08.103+03:00</updated><title type='text'>Iwan Fals, Humanisme dan Utusan Tuhan yang Diabaikan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/1600/01.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 169px; height: 220px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/320/01.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Iwan Fals, Humanisme dan Utusan Tuhan yang Diabaikan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Taufik Damas&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Entah mengapa, setiap kali mendengar lagu-lagu yang dibawakan oleh Iwan Fals (selanjutnya disingkat menjadi IF), banyak orang sadar sejenak tentang kondisi sosial yang ada di Tanah Air ini. Orang suka, gemar dan gandrung karena lagu-lagunya mudah dicerna dan mengandung pesan-pesan humanis yang dalam. Lagu-lagunya bagaikan kolaborasi antara ayat-ayat Tuhan dan teriakan obyektif kondisi sosial yang ada di Indonesia. IF adalah utusan Tuhan untuk rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang lain mungkin akan mengernyitkan dahi ketika IF dianggap sebagai utusan Tuhan. “Apa dasarnya?!” pertanyaan pertama yang pasti akan terlontar dari lisan banyak orang. Tentu ada alasan untuk klaim itu. Alasan yang berangkat dari renungan subyektif dan penghayatan akan lagu-lagu yang pernah dinyanyikan oleh IF serta memperhatikan karakter pribadinya. Saya tidak hafal betul pada tahun-tahun berapa setiap lagu yang dinyanyikan oleh IF. Bagi saya itu tidak penting, karena substansi pesan yang ada dalam lagu-lagunya itu yang perlu dihafal. Itu sebabnya, sebagian besar lagu-lagu yang pernah dinyanyikan oleh IF, begitu melekat di kepala banyak orang. Melalui lagu-lagunya, kesadaran kondisi sosial politik di Tanah Air Indonesia terkonstruksikan di kepala orang Indonesia. Pernah saya katakan kepada seorang kawan bahwa IF adalah guru sosiologi terbaik, paling tidak bagi saya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari lagu-lagu yang pernah dinyanyikannya, orang akan mudah menilai bahwa IF adalah sosok “pemberontak”. Dia adalah pemberontak terhadap kondisi sosial politik yang sebenarnya tidak terlalu rumit untuk diurai. Setiap nurani yang hidup akan mudah sekali menemukan bahwa “di sini” ada ketidakadilan, penindasan, bahkan kerusakan moral. Hanya saja, ketidakjujuran telah mem-perumit semua itu, hingga orang tidak mampu mengatakannya. Ketidakjujuran itu bahkan tidak jarang dibungkus dengan gaun in-telektualitas yang elit, namun tetap hanyut dalam irama anomali sosial yang ada. Gak usah sekolah tinggi-tinggi, kalau begitu! Untuk apa sekolah tinggi, kalau akhirnya, diam-diam, kita semua mengamini mekanisme sosial yang tidak fair?! Kita serempak terserang amnesia ketika berhadapan dengan nilai-nilai. Makanya, di negeri ini yang menonjol adalah para penjilat, durno, kancil, bandit, karet, bunglon… Jadi? Jangan sekolah tinggi-tinggi! Begitulah kira-kira salah satu pesan “orang murka” yang pernah disampaikan oleh IF. Walau bisa jadi, ada orang murka karena tidak kebagian. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kelebihan lirik lagu-lagu yang pernah dibawakan oleh IF adalah tidak bergerak dari ruang hampa. Lirik-liriknya lahir dari hasil potretan kondisi sosial politik di Tanah Air Indonesia dengan kata-kata yang sederhana, telanjang dan jenaka. Hampir seluruh profesi sosial yang dijalani oleh orang Indonesia pernah dipotret secara sederhana tapi dalam oleh IF: IF menyampaikan potret sosial mereka dengan kata-kata yang mudah dicerna, bahkan oleh nalar awam sekalipun; IF mampu melihat sisi manusiawi dari satu profesi yang oleh kebanyakan orang dianggap sampah. Sebagai contoh, profesi pelacur atau yang lebih dikenal sekarang ini dengan Penjaja Seks Komersial (PSK). &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagian besar kita hanya mampu melihat para PSK sebagai sampah masyarakat. Tidak jarang, para agamawan pun ikut melakukan stigmatisasi terhadap mereka. Tapi IF, dia mampu mengungkapkan bahwa di antara mereka ada perempuan yang berjuang untuk anak-anak yang ayahnya tidak jelas rimbanya. Bahkan IF memberikan harapan, bahwa Tuhan tetap akan mendengar doa mereka. Ini bisa dicermati dari lagunya yang berjudul Doa Seorang Wanita Pengobral Dosa. Pandangan humanis seperti ini tidak akan kita temukan dalam diri orang yang tidak memiliki kesadaran sosial dan spiritual yang dalam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam politik, orang mungkin akan mencemooh IF jika sekarang dia menjadi salah satu politisi di Tanah Air. Pandangan-pandangan politik yang ada dalam lagu-lagunya tidak akan dijadikan mars oleh para demonstran jika dia ikut masuk dalam “dunia pesta pora para binatang”. IF akan disejajarkan dengan mereka yang senang “bermain lompat karet”. Kenyataannya, seorang IF betul-betul menunjukkan karakternya dalam menyikapi kondisi sosial politik berhadapan dengan pamor dirinya. IF betul-betul “patah arang” terhadap politik. Bagi IF, panggung politik adalah panggung para binatang yang merasa diri sebagai bintang (Asyik gak asyik).&lt;br /&gt;Padahal, jika IF mau, dengan wibawa dan popularitasnya, partai manapun akan siap menerimanya sebagai bagian dari elit partai. Bahkan mendirikan partai pun bisa ia lakukan, walau belum tentu jadi partai besar. Dan itu berarti hasrat untuk memperkaya diri akan menemukan jalurnya, sebagaimana banyak dilakukan oleh para belalang (Belalang Tua). Namun, kekuatan karakter yang ada dalam dirinya keras membimbing IF agar tidak tergiur ikut berpesta. Di era reformasi (katanya), lagu-lagunya yang terbundel dalam album Manusia Setengah Dewa mempertegas sikap sosial politik dan karakter dirinya sebagai seorang utusan Tuhan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hal yang mengagumkan dalam diri IF adalah kematangan diri yang sulit kita temukan dalam diri kebanyakan orang. Dia adalah utusan Tuhan yang menerima wahyu non-evaluatif untuk disampaikan kepada masyarakat Indonesia, bahkan masyarakat manusia. Walau lirik dalam lagu-lagunya begitu kental dengan pesan-pesan moral (di balik kritik sosial pasti ada pesan moral) yang realistik-eternal, namun kerendahan hati dan ketenangan tampak begitu inheren dalam dirinya akhir-akhir ini. Gaya bicara yang tidak lantang (baca: pongah), menunjukkan bahwa IF sadar bahwa dirinya bukan manusia setengah dewa. Dia tidak memiliki pretensi bahwa untuk membenahi kondisi sosial politik di Indonesia cukup dengan bernyanyi. Ini yang membuatnya tidak pernah geer. Namun, pergu-latan batin yang dahsyat berkenaan dengan ketimpangan sosial yang terjadi di Bumi Pertiwi, tetap ia suarakan dengan lantang melalui lagu. Kelantangan itu seolah ia cukupkan terwakili oleh lagu. Sikap diri yang terdapat dalam seorang IF, jika harus diberi tanda, maka tanda itu tidak lain adalah konsistensi dan integritas.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mendengarkan lagu-lagu cinta IF, kita akan menangkap bahwa cinta yang dihayati oleh IF adalah cinta orang-orang marjinal di negeri ini. Itu bisa kita lihat dalam lagu-lagunya seperti Lonteku, Kembang Pete, Yakinlah (duet bersama Eli Sunarya) dan lain-lain. Itulah cinta yang jujur, dalam dan kere. Saking kere-nya, sang lelaki hanya mampu mempersembahkan kembang pete kepada perempuannya. Keberpihakan IF pada rakyat kecil nan marjinal begitu jujur dan mendarahdaging, hingga dalam lagu-lagu cinta pun ia memilih potret cinta-cinta orang pinggiran. Biasanya, dalam lagu, orang akan berbicara tentang cinta yang mengandaikan sudah didukung oleh keserbacukupan materi; cinta yang membuat kebanyakan orang Indonesia menjadi lupa akan kondisi sosialnya; cinta yang cengeng, genit, glamor dan norak. Perhatikan kebanyakan lagu-lagu cinta yang dinyayikan di negeri ini, tidak pernah dewasa.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seorang kawan pernah menyatakan ketidaksetujuannya terhadap IF, karena IF pernah mengeritik Tuhan dalam salah satu lagunya, Tolong Dengar Tuhan! Lagu yang ia nyanyikan setelah peristiwa meletusnya gunung Galunggung di Tasikmalaya. Jika disikapi dengan nalar terbuka, lagu itu justru merupakan ekspresi penghayatan tentang alam semesta dan Tuhan yang dialami oleh orang bebas dan berani. Dalam dunia filsafat, penghayatan seperti ini banyak diungkapkan oleh para filsuf. Penghayatan inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya teologi atroposentris. Jadi, menghayati isi lagu-lagu IF, kita akan menemukan kecenderungan humanisme yang kuat. Humanisme yang dari zaman ke zaman selalu disuarakan oleh para utusan Tuhan. Kini dan di sini, IF adalah utusan Tuhan yang diabaikan! (Jakarta, 16 Mei 2005, Taufik Damas). &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115276566781703668?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115276566781703668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115276566781703668&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115276566781703668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115276566781703668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/07/iwan-fals-humanisme-dan-utusan-tuhan.html' title='Iwan Fals, Humanisme dan Utusan Tuhan yang Diabaikan'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115257213265430297</id><published>2006-07-11T01:35:00.000+03:00</published><updated>2006-08-11T03:45:23.133+03:00</updated><title type='text'>Pohon Keabadian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/1600/dsc01816-thumb.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/320/dsc01816-thumb.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Pohon Keabadian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Vikar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam Al Quran, Allah swt berfirman:”Dan Kami berfirman: ‘Hai Adam, tinggallah kamu dan istrimu di surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang lalim.’” (QS. al-Baqarah: 35). Mengenai Surga, Al Quran tidak membicarakan tempatnya, sehingga para mufasir berbeda pendapat tentang hal itu. Sebagian mereka berkata: “Itu adalah surga yang bakal dihuni oleh manusia (jannah al-Ma’wa) dan tempatnya di langit.” Namun sebagian lagi menolak pendapat tersebut. Sebab jika ia adalah jannah al-Ma’wa maka iblis tidak dapat memasukinya dan tidak akan terjadi kemaksiatan di dalamnya. Sebagian lagi mengatakan: “Ia adalah surga yang lain, yang Allah ciptakan untuk Nabi Adam dan Hawa.” Bahkan ada juga yang berpendapat bahwa ia adalah surga (taman) dari taman-taman bumi yang terletak di tempat yang tinggi. Sekelompok mufasir yang lain menganjurkan agar kita menerima ayat tersebut apa adanya dan menghentikan usaha untuk mencari hakikatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya pelajaran yang dapat kita ambil berkenaan dengan penentuan tempatnya tidak sedikit pun menyamai pelajaran yang dapat kita ambil dari apa yang terjadi di dalamnya.&lt;br /&gt;Nabi Adam dan Hawa mengerti bahwa mereka dilarang untuk memakan sesuatu dari pohon ini, namun Nabi Adam adalah manusia biasa, yang pelupa dan keinginan hati yang kuat (hawa nafsu). Maka iblis memanfaatkan kelemahan Nabi Adam dan mengumpulkan segala kedengkiannya yang disembunyikan dalam dadanya. Iblis terus berusaha membangkitkan waswas dalam diri Nabi Adam. Apakah aku akan menunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kekuasaan yang tidak akan sirna? Nabi Adam bertanya-tanya dalam dirinya. Apa yang akan terjadi seandainya ia memakan buah tersebut, barangkali itu benar-benar pohon keabadian. Nabi Adam memang memimpikan untuk kekal dalam kenikmatan dan kebebasan yang dirasakannya dalam surga.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Waktu berlalu, namun Nabi Adam dan Hawa sibuk memikirkan pohon tersebut. Hingga pada suatu hari mereka menetapkan untuk memakan pohon itu. Mereka lupa bahwa Alllah SWT telah mengingatkan mereka agar tidak mendekatinya. Mereka lupa bahwa iblis adalah musuh mereka sejak dahulu. Nabi Adam mengulurkan tangannya ke pohon itu dan memetik salah satu buahnya dan kemudian memberikannya kepada Hawa. Akhirnya mereka berdua memakan buah terlarang itu. Allah SWT berfirman:”Dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.” (QS. Thaha: 121).&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nabi Adam dan Hawa turun ke bumi. Mereka keluar dari surga. Nabi Adam dalam keadaan sedih sementara Hawa tidak henti-hentinya menangis. Karena ketulusan taubat mereka, akhirnya Allah SWT menerima taubat mereka dan Allah SWT memberitahukan kepada mereka bahwa bumi adalah tempat mereka yang asli, di mana mereka akan hidup di dalamnya, mati di atasnya, dan akan dibangkitkan darinya pada hari kebangkitan. Allah SWT berfirman:&lt;br /&gt;“Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. ” (QS. al-A’raf: 25).&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kemudian Allah SWT menceritakan kisah tentang pelajaran yang diperoleh Nabi Adam selama keberadaannya di surga dan setelah keluarnya ia darinya dan turunnya ia ke bumi.&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman:”Dan Sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka mereka sujud kecuali Mis. la membangkang. Maka Kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak pula akan ditimpa panas matahari di dalamnya.’ Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: ‘Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa ?’ Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman: ‘Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.’” (QS. Thaha: 115-123).&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagian orang menganggap bahwa Nabi Adam keluar dari surga karena kesalahannya dan kemaksiatannya. Ini adalah anggapan yang tidak benar karena Allah SWT berkehendak menciptakan Nabi Adam debagai khalifah di muka bumi, “Sesungguhnya aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Turunnya Nabi Adam ke bumi, bukan sebagai penurunan penghinaan tetapi ia merupakan penurunan kemuliaan sebagaimana dikatakan oleh kaum sufi. Allah SWT mengetahui bahwa Nabi Adam dan Hawa akan memakan buah itu, dan selanjutnya mereka akan turun ke bumi. Allah SWT juga mengetahui bahwa setan akan merampas kebebasan mereka. Pengalaman merupakan dasar penting dari proses menjadi khalifah di muka bumi agar Nabi Adam dan Hawa mengetahui—begitu juga keturunan mereka— bahwa setan telah mengusir kedua orang tua mereka dari surga, dan bahwa jalan menuju surga dapat dilewati dengan ketaatan kepada Allah SWT dan permusuhan pada setan. Atau bisa dikatakan bahwa pemakanan Buah Khuldi adalah proses turunnya Adam ke bumi sebagai khalifah.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Secara pasti ia mengerti bahwa iblis adalah penyebab ia kehilangan nikmat dan penyebab kehancurannya. Ia mengerti bahwa Allah SWT akan menyiksa seseorang jika ia berbuat maksiat, dan bahwa jalan menuju ke surga dapat dilewati dengan ketaatan kepada Allah SWT. Ia memahami bahwa Allah SWT menerima taubat, memaafkan, menyayangi, dan memilih. Allah SWT mengajari mereka agar beristigfar dan mengucapkan:”Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscayalah pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. al-A’raf: 23).&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Allah SWT menerima taubatnya dan memaafkannya serta mengirimnya ke bumi. Nabi Adam adalah Rasul pertama bagi manusia. Mulailah kehidupan Nabi Adam di bumi. Ia keluar dari surga dan berhijrah ke bumi, dan kemudian ia menganjurkan hal tersebut (hijrah) kepada anak-anaknya dan cucu-cucunya dari kalangan nabi. Sehingga setiap nabi memulai dakwahnya dan menyuruh kaumnya dengan cara keluar dari negerinya atau berhijrah. Di sana Nabi Adam keluar dari surga sebelum kenabiannya, sedangkan di sini (di bumi) para nabi biasanya keluar (hijrah) setelah pengangkatan kenabian mereka.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pelajaran yang telah diambil dari kisah Nabi Adam as diatas, mengisyaratkan bahwa Adam terperdaya oleh bujukan iblis untuk mendekati pohon keabadian dan memakan buahnya merupakan proses hijrah untuk mendapatkan keabadian yang sebenarnya melalui risalah yang dibawa oleh para Nabi dan rasul hingga pada Rasul terakhir, Muhammad saw.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Al Quran adalah pedoman yang sah bagi umat manusia dalam meraih keabadian, sehingga bisa diibaratkannya sebagai Pohon Keabadian yang selalu terjaga oleh penciptanya. Benarlah jika ditegaskan “Ialah kitab yang tak ada keraguan di dalamnya sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa”,(al-Baqarah:2). Jika ingin mendapatkan kebahagiaan abadi maka seharusnyalah pohon tersebut dirawat dan dijaga dalam diri dan perbuatan agar buah yang akan dipetik di saat musim panen adalah buah yang bermutu dan sangat berharga.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perawatan yang intensif terhadap pohon keabadian tersebut, akan melahirkan tunas-tunas yang siap tumbuh pada tempat dan waktu yang berbeda, meskipun badai, banjir dan topan sekalipun, tunas tersebut akan selalu mekar dan subur yang selalu menakjubkan. Jika pohon tersebut benar-benar dirawat, jangankan tunas, satu huruf pun dari padanya akan menjadi senjata yang ampuh, dan penangkal yang sangat istimewa terhadap segala bencana, musibah serta ancaman yang akan menimpa, "Wa nunazzilu minal qurani ma huwa syifaun wa rahmatun lil mu'minin,[al-Isra':82], dan kami telah turunkan apa-apa dari alQuran sebagai obat penyembuh dan rahmat bagi orang yang beriman. juga sebagaimana sabda Nabi SAW:"Man qara'a harfan min kitabillah falahu hasanah wa al-hasanatu bi 'asyari amtsaliha, la aquulu ali lam mim harfun walakin alif harfun wa lam harfun wa mim harfun,[riwayat Turmudzi] barang siapa yang membaca al-Quran, baginya kebaikan dan sepuluh kebaikan semacamnya, alif lam mim bukanlah satu hruf, melainkan alif satu huruf dan lam juga mim, dalam hadis lain:"Iqrauu Al-Quran fainnahu ya'ti yaum al-Qiyamah Syafi'an li ashabihi"[riwayat Muslim], bacalah al -Quran karena ia akan memberi syafaat di hari kiamat bagi pembacanya.  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mukjizat tentulah akan mendatangkan hal-hal di luar dugaan dan jangkauan, atau dengan kata lain bahwa al-Quran sebagai mukjizat akan mendatangkan kemukjizatan bagi orang yang merawatnya. Olehnya itu, berhijrahal serta rawatlah pohon keabadian dengan baik dalam tingkah dan perbuatan yang akan mengantarkan pada keabadian yang kekal. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115257213265430297?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115257213265430297/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115257213265430297&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115257213265430297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115257213265430297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/07/pohon-keabadian.html' title='Pohon Keabadian'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115179490973765674</id><published>2006-07-02T01:35:00.000+03:00</published><updated>2006-07-10T20:08:39.706+03:00</updated><title type='text'>Mubtada (المبتدأ) dan Khabar (خبر)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/1600/02.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 102px; height: 225px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/320/02.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Mubtada (المبتدأ) dan Khabar (خبر)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Fikar&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebelum berbicara mengenai Mubtada dan Khabar, sepatutnya untuk diketahui terlebih dahulu bahwa kalimat (الجملة) baik kalimat sempurna maupun tidak, dalam bahasa arab terbagi menjadi dua, yaitu Jumlah ismiyah (الجملة الاسمية) adalah kalimat yang didahului oleh isim dan setiap isim yang berada di awal kalimat tersebut dinamakan mubtada dan bagian yang melengkapinya dinamakan Khabar yang mana hukumnya dalam I’rab harus mengikuti kepada mubtada. Dan Jumlah Fi’liyah (فعليه جملة) yaitu kalimat yang didahului oleh fi’il. Dengan mengetahui pembagian jumlah tersebut akan mempermudah dalam memahami akan mubtada dan khabar, dan dalam kesempatan kali ini kita akan membahas secara garis besar tentang mubtada dan khabar yang sekiranya akan semakin membantu dalam mempelajari bahasa Arab, adapun pembahasan secara terperinci akan dibahas pada kesempatan berikutnya bila tidak ada halangan ataupun bisa kembali melihat pada buku-buku yang menerangkannya lebih mendetail, seperti Syarah Alfiya Ibnu Malik baik yang disyarah oleh Ibnu ‘Agil atau Ibnu Hisyam dan Asymuni.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mubtada (المبتدأ)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mubtada adalah setiap isim yang dimulai pada awal kalimat baik didahului oleh nafyu maupun istifham, contoh (محمد مبتسم =Muhammad tersenyum), contoh didahului oleh nafyu (ما قادم الضيف =tamu itu tidak datang) dan contoh isim yang didahului oleh kata Tanya (أ ناجح عليُّ =apakah yang lulus adalah Ali). Dan hukum isim yang dimulai pada awal kalimat tersebut (المبتدأ) adalah Marfu’ (dibaca akhir katanya dengan harakah dhamma), kecuali apabila isim tersebut didahului oleh huruf Jarr tambahan atau yang menyerupainya maka hukumnya secara Lafadznya adalah Majrur namun kedudukannya dalam kalimat tetaplah Marfu’. Contohnya firman Allah SWT : وما من إله إلا الله kata Ilah pada ayat tersebut secara lafadznya adalah majrur namun kedudukannya tetaplah Rafa’. Dan Mubtada terbagi menjadi dua, yaitu Mubtada Sharih (مبتدأ صريح) yang mencakup semua isim dhahir seperti pada contoh di atas, dan juga terdiri dari Dhamir, contohnya (هو مجتهد =dia bersungguh-sungguh) atau (أنت مخلص =kamu ikhlas), yang Kedua adalah Mubtada Muawwal (مؤول) dari An (أن) dan fi’ilnya, contohnya firman Allah SWT (وأن تصوموا خير لكم) dan (أن تتحدوا أرهب لعدوكم) mubtada pada contoh ini adalah An dan Fi’ilnya dita’wilkan menjadi isim mashdar sebagai mubtada, atau dengan kata lain An dan fi’ilnya dijadikan mashdar sebagai mubtada sehingga An Tashumu menjadi Shiyamukum dan An Tattahidu menjadi itthidadukum karena mashdar dari kata Shama-Yashumu=berpuasa adalah Shiyam dan Ittahada-yattahidu=bersatu mashdarnya adalah ittihad,(وأن تصوموا =وصيامكم خير لكم), (أن تتحدوا =اتحادكم أرهب لعدوكم). Mubtada boleh terdiri dari banyak kata sedangkan khabarnya hanyalah satu, contohnya (صديقك والده أمنيته تحقيقها أن يشفى ابنه).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Macam-macam Mubtada&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apabila dilihat dari Khabarnya maka Mubtada terbagi menjadi dua, yaitu Mubtada yang mempunyai khabar, contohnya (محمد مبتسم) dan Mubtada yang tidak memiliki Khabar, akan tetapi mempunyai isim marfu’yang menempati posisi dari pada khabar, contohnya (أنائم الطفل =apakah bayi telah tidur) Naim adalah mubtada sedangkan Thifl adalah Fa’il yang menempati posisi khabar, contoh lain (ما محمود البخل =tidaklah terpuji orang kikir), mahmud=terpuji adalah mubtada dan bukhli adalah Naib Fa’il yang menempati tempatnya khabar. Mubtada yang memiliki khabar haruslah terdiri dari isim sharih atau dhahir ataupun yang telah dita’wilkan menjadi mashdar yang sharih, sedangkan mubtada yang tidak memiliki khabar tidak boleh menta’wilkannya dan penggunaanya haruslah selalu disertai dengan Nafyu atau istifham.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Adapun Isim marfu’yang terletak setelah mubtada yang tidak memiliki khabar yang dibarengi oleh Nafyu atau istifham maka kedudukannya dalam I’rab kalimat adalah sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. Apabila menunjukkan kepada sifat yang tunggal dan setelahnya adalah isim yang tunggal contohnya (أ مسافر الرجل) atau (ما محبوب الكسول) maka I’rabnya ada dua kemungkinan, Pertama: sifat yang pertama setelah istifham (musafir) adalah mubtada dan setelahnya adalah Fa’il karena letaknya setelah Isim Fa’il, atau Naib Fa’il apabila terletak setelah isim maf’ul, keduanya marfu’menempati kedudukan khabar. Kedua: Sifat yang pertama (musafir) adalah khabar yang didahulukan (khabar muqaddam) sedangkan kata (rajul) adalah mubtada yang diakhirkan (mubtada muakkhar).&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 2. Apabila sifat yang pertama menunjukkan pada isim tunggal kemudian setelahnya adalah Mutsanna (yang menunjukkan bentuk dua) atau Jamak, maka sifat yang pertama adalah mubtada dan isim setelahnya tersebut adalah Fa’il atau naib fa’il yang menempati posisi khabar, contoh (ما مهمل الطالبان) dan (ما محبوب المقصرون) kata Muhmil adalah mubtada sedangkan thalibani adalah Fa’il karena terletak setelah isim Fa’il, dan kata Mahbub adalah mubtada sedangkan Muqshirun adalah Naíb Fa’il karena terletak setelah Isim Maf’ul.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 3. Apabila sifat yang pertama berbentu dua (mutsanna) atau Jamak dan setelahnya adalah mutsanna atau jamak maka isim yang pertama adalah khabar yang didahulukan (khabar muqaddam) dan isim yang setelahnya adalah mubtada yang diakhirkan (mubtada muakkhar), contohnya (أ مسافران الضيفان) dan (ما مقصرون المجتهدون), kata musafirani dan muqshirun adalah khabar muqaddam sedangkan dhaifani dan mujtahidun adalah Mubtada muakkhar.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Asal dari Mubtada adalah Ma’rifah atau mubtada haruslah isim yang ma’rifah sebagaimana pada contoh-contoh di atas, kecuali apabila didahului oleh nafyu atau istifham maka boleh mubtada itu nakirah dengan catatan kenakirahannya tidaklah mengurangi dan mempengaruhi makna yang dapat diperincikan sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;a. Nakirah tersebut menunjukkan kekhususan baik dengan menyebutkan sifat atau tidak, ataupun nakirah tersebut secara lafadznya bersandar pada ma’rifat, contohnya (رجيل عندنا) dan contoh yang idhaf (خمس صلوات كتبهن الله على العباد).&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; b. Nakirah yang menunjukkan pada sesuatu yang umum, baik mubtadanya adalah bentuk yang umum, contohnya (من يقم أقم معه), kata man di sini adalah bentuk nakirah yang umum. Maupun mubtada yang nakirah tersebut terletak dalam kalimat yang didahului oleh nafyu atau istifham, contohnya (ما رجل في الدار) dan (هل أحد قادم).&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; c. Mubtada yang nakirah haruslah didahului oleh kalimat yang terdiri dari jar majrurr atau dharf, contohnya (في المدرسة زائرون), mubtada di sini adalah nakirah karena di dahului oleh jar majrur, dan (حول البئر أشجار), kata asyjar adalah nakirah karena didahului oleh dzharf.&lt;br /&gt;d. Nakirah harus Athaf (mengikuti) pada ma’rifah atau diikutkan pada ma’rifah, contohnya (محمد ورجل عندنا) kata rajul di sini nakirah karena ikut pada Muhammad. dan (رجل ويوسف في المنزل) kata rajul diikutkan pada yusuf.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; e. Mubtada yang nakirah merupakan jawaban atas pertanyaan, contohnya, ada yang bertanya (من عندك) maka jawabannya (صديق) dengan menggunakan nakirah, takdirnya adalah (صديق عندي).&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; f. Terletak setelah Laula (لولا), contoh (لولا رجل لهلك أخوك).&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; g. Jika khabarnya adalah sesuatu yang aneh yang keluar dari kebiasaan, contohnya (شجرة سجدت =pohon bersujud).&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apabila kita melihat dari contoh-contoh di atas dapat dilihat perbedaan kedudukan mubtada yang kadang didahulukan (mubtada muqaddam) dan kadang diakhirkan (mubtada muakkhar), kesemuanya itu mempunyai aturan yang wajib didahulukan maupun boleh didahulukan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Wajib mendahulukan Mubtada&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mubtada itu wajib didahulukan apabila:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 1. Isim yang mempunyai kedudukan sebagai pendahuluan di dalam kalimat, seperti isim syarat, atau istifham atau Ma yang menunjukkan ketakjuban, contohnya (من يقرأ الشعر ينم ثروته اللغوية =barangsiapa yang membaca syair maka akan bertambah kekayaannya dengan bahasa), kata Man di sini adalah mubtada yang harus di dahulukan karena posisinya dalam kalimat sebagai pembukaan dan pendahuluan, contoh lain (من مسافر غدا =siapakah yang akan bepergian besok), kata man di sini adalah kata Tanya yang harus selalu didahulukan dan ia adalah mubtada, contoh lain (ما أجمل الربيع =alangkah indahnya musim semi) Kata Ma disini adalah Ma takjub yang mana harus dan wajib didahulukan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 2. Mubtada yang menyerupai isim syarat, contohnya (الذي يفوزُ فله جائزة =yang menang maka baginya piala), kata allazi dalam kalimat ini menyerupai isim syarat.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 3. Isim tersebut haruslah disandarkan kepada isim yang menempati posisi dan kedudukan kata pendahuluan, contohnya (عمل من أعجبك) kata ‘amal disandarkan pada Man yang kedudukannya sebagai pendahuluan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 4. Apabila khabarnya adalah jumlah fi’liyah dan fa’ilnya adalah dhamir yang tersembunyi yang kembali kepada mubtada, contohnya (محمد يلعب الكرة =Muhammad bermain bola) kata yal’ab adalah khabar jumlah fi’liyah dan fa’ilnya dhamir tersembunyi kembali ke Muhammad.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 5. Isim tersebut haruslah disertai dengan huruf Lam untuk memulai atau Lam tauwkid, contoh (وللدار الآخرة خير للذين يتقون) kata addar dimasuki oleh lam ibtida, dan (ولذكر الله أكبر) dimasuki lam tawkid.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 6. Mubtada dan khabarnya adalah Ma’rifat atau kedua-duanya nakirah dan tidak adanya kata yang menjelaskannya, contohnya (أبوك محمد) jika ingin memberitahukan tentang bapaknya maka wajib didahulukannya, dan (محمد أبوك) jika ingin memberitahukan tentang Muhammad.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 7. Mubtada teringkas khabarnya oleh Illa atau Innama, contohnya (ما الصدق إلا فضيلة) dan (إنما أنت مهذب).&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; Selain dari tujuh masalah di atas, maka boleh mendahulukan atau mengakhirkan mubtada.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Wajib menghilangkan Mubtada&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mubtada wajib dihilangkan dalam hal-hal sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. Apabila mubtada ikut kepada Sifat yang marfu’ dengan tujuan memuji atau menghina atau sebagai rasa iba dan saying, contohnya (مررت بزيدٍ الكريمُ) mubtadanya dihilangkan karena disifati oleh sifat yang rafa’, asalnya adalah (هو الكريم). Contoh lain (ابتعد عن اللئيم الخبيث =jauhilah dari orang jahat yang jelek sifatnya), asalnya adalah (هو الخبيث) mubtada nya wajib dihilangkan karena disifati oleh sifat yang marfu”.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 2. Jika menunjukkan jawaban terhadap sumpah, contohnya (في ذمتي لأقولن الصدق) asalnya adalah (في ذمتي عهد) dengan menghilangkan mubtadanya yaitu ‘ahd.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 3. Jika khabarnya adalah mashdar yang mengganti fi’ilnya, contohnya (صبر جميل) asalnya adalah (صبري صبر جمل) maka wajib menghilangkan mubtadanya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 4. Jika khabarnya dikhususkan pada pujian atau cercaan setelah kata Ni’ma (نعم) dan Bi’sa (بئس) dan terletak diakhir, contohnya (نعم الطالب محمد =alangkah baiknya pelajar yaitu Muhammad) dan (بئس الطالب الكسول =alangkah buruknya pelajar yang pemalas), muhammad dan kusul pada contoh di atas adalah khabar dari mubtada yang dihilangkan, asalny adalah (هو محمد) dan (هو الكسول).&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selain dari empat masalah ini, mubtada juga kebanyakan dihilangkan jika terletak setelah kata qaul (berkata), contohnya (ويقولون طاعة) mubtadanya dihilangkan, asalnya adalah (أمرنا طاعة), contoh lain, (قالوا أضغات أحلام) dan (وقالت عجوز عقيم) asalnya adalah (هي أضغات) dan (أنا عجوز). Atau mubtadanya terletak setelah Fa sebagai jawban dari syarat, contohnya (وإن يخالطوهم فإخوانكم) asalnya adalah (فهم إخوانكم).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Boleh menghilangkan Mubtada&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mubtada boleh dihilangkan dan dihapus sebagai jawaban atas pertanyaan orang yang bertanya (كيف محمد)?, dan jawabnya (بخير) aslinya adalah (هو بخير), atau Mubtada itu boleh dihilangkan apabila ada kalimat atau kata yang menunjukkan tentangnya, contohnya firman Allah SWT (من عمل صالحا فلنفسه ومن أساء فعليها) kata Falinafsihi kedudukannya rafa’ khabar dan dhamir Ha majrur bil idhafah sedangkan mubtadanya mahzuf (dihilangkan) begitu juga pada wa man asaa fa’alaiha, asalnya adalah (من عمل صالحا فعمله لنفسه) dan (ومن أساء فإساءته عليها).&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan boleh juga menghilangkan Mubtada dan khabarnya apabila ada dalil yang menunjukkan kepadanya, contohnya (الذين فازوا في مسابقة الإلقاء لهم جوائز ، والذين ساهموا أيضا) yang dihapus dari kalimat tersebut adalah mubtada dan khabarnya yaitu (لهم جوائز) aslinya haruslah (والذين ساهموا أيضا لهم جوائز) dihapus karena telah dijelaskan pada kalimat sebelumnya.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Khabar (الخبر)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagaimana telah dijelaskan di atas mengenai Jumlah Ismiah (الجملة الاسمية) yang terdiri dari dua bagian yang memberikan petunjuk serta pemahaman kepada pendengar agar diterima. Para pakar Nahwu menyebut bagian pertama dari jumlah ismiah ini dengan Mubtada karena ia adalah bagian yang dimulai dalam pembicaraan, sedangkan bagian keduanya dinamakan Khabar karena ia memberitahukan keadaan yang ada pada mubtada, dan bisa saja terdiri dari segala bentuk sifat baik ia isim fa’il, atau maf’ul ataupun tafdhil, contohnya, (محمد فاضل) dan (علي محبوب).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Hukum Khabar&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Para ahli nahwu menyebutkan hukum dari pada khabar adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 1. Wajib merafa’ (memberi harakah dhamma) khabar, penyebab khabar itu marfu’adalah mubtada , contohnya (أنت كريم) Karim adalah khabar marfu’disebabkan oleh mubtada. Contoh lain (والصلح خير) Khair khabar mubtada marfu’.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 2. Khabar pada dasarnya haruslah nakirah, contohnya (محمد فاضل) fadhil adalah nakirah dan ia khabar mubtada.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 3. Khabar haruslah disesuaikan atau ikut kepada mubtada dari segi tunggalnya atau tasniyah (bentuk duanya) ataupun jamak, contoh (الطالب متفوق), (الطالبان متفوقان), dan (الطلاب متفوقون).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Boleh menghilangkan khabarnya apabila ada dalil yang menunjukkan kepadanya, dan masalah ini nanti akan dibahas pada pembahasannya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 5. Wajib menghilangkan khabarnya, masalh ini pun akan dibahas nanti pada pembahasannya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 6. Khabar boleh banyak dan beragam sedangkan mubtadanya hanya satu, contohnya (محمد ذكي فطن) zakiyun dan fithn adalah khabar mubtada, contoh lain (أحمد شاعر خطيب كاتب).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Boleh dan wajib didahulukan khabar dari pada mubtada, dan pembahasan ini pun akan di bahas pada pembahasannya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Macam-macam Khabar&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Khabar terbagi menjadi tiga, yaitu:&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. Khabar Mufrad (المفرد) yaitu khabar yang bukan berbentuk kalimat atau yang menyerupai kalimat, akan tetapi terdiri dari satu kata baik menunjukkan pada tunggal atau mutsanna (bentuk dua) ataupun jamak, dan harus disesuaikan dengan Mubtada dalam pentazkiran (berbentuk muzakkarf=lk) atau ta’nis juga dalam bentuk tunggal, mutsanna dan jamak. Contoh (القمر منير =bulan bersinar), (الطالبة مؤدبة =pelajar pr itu sopan).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 2. Khabar Jumlah (جملة), yaitu khabar yang berbentuk kalimat baik jumlah ismiah (اسمية) maupun fi’liyah (فعليه). Contoh khabar jumlah ismiah (الحديقة أشجارها خضراء =taman itu pepohonannya berwarna hijau) atau (الثوب لونه ناصع =pakaian itu warnanya bersih), Atsaub =adalah mubtada pertama, Lawn=Mubtada kedua dan mudhaf, dhamir Hu=mudhaf ilaih, Nashi’=khabar mubtada kedua, Jumlah dari mubtada kedua dan khabarnya menempati posisi rafa’ yaitu khabar dari mubtada pertama. Adapaun contoh khabar mubtada dari jumlah fi’liyah, (الأطفال يلعبون في الحديقة =anak-anak bermain di taman) yal’abun adalah fi’il mudhari’marfu’karena khabar mubtada yang berbentuk jumlah fi’liyah. Khabar jumlah baik ismiah maupun fi’liyah haruslah berhubungan dengan mubtada.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 3. Khabar syibhu jumlah (شبه الجملة) yaitu khabar yang bukan mufrad atau jumlah akan tetapi menyerupai jumlah, terdiri dari Jarr wal majrur (جار ومجرور) dan dharf =kata keterangan,(ظرف). Contoh khabar dari jar wal majrur (الكتاب في الحقيبة =buku di dalam tas), (الماء في الإبريق =air di dalam teko). Contoh khabar dari dharf makan (keterangan tempat), (الجنة تحت أقدام الأمهات =surga dibawah telapak kaki ibu), (الطائر فوق الشجرة =burung di atas pohon), contoh dharf zaman (keterangan waktu), (الرحلة يومَ الخميس =bepergian pada hari kamis), (السفر بعد أسبوع =akan bepergian setelah seminggu).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Wajib mendahulukan Khabar&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Khabar wajib di dahulukan dari mubtada dalam keadaan sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. Apabila mubtada nya adalah isim nakirah yang semata-mata tidak untuk memberitahukan dan khabarnya adalah jar wal majrur atau dharf, contohnya (في المدرسة معلمون =di sekolah ada para guru), (عندنا ضيف =ada tamu). Jika mubtadanya nakirah dengan maksud untuk memberitahukan maka hukumnya boleh didahulukan atau pada tempatnya semula, contohnya (صديق قديم عندنا).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jika khabarnya adalah istifham (kata Tanya) atau disandarkan pada kata Tanya, contohnya (كيف حالك =bagaimana kabarmu), (ابن من هذا =anak siapa ini) atau (أي ساعة السفر =jam berapa perginya).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 3. Apabila ada dhamir yang berhubungan atau bergandengan dengan mubtada sedangkan kembalinya dhamir tersebut kepada khabarnya atau sebagian dari khabarnya, contohnya, (في المدرسة طلابها =di sekolah ada murid-murid-nya), (في الحديقة أطفالها =di tama nada anak-anak-nya), dhamir yang ada pada mubtada kembali kepada khabarnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 4. Meringkas khabar mubtada dengan Illa (إلا) atau Innama (إنما), contohnya, (ما فائز إلا محمد =tiada yang menang kecuali Muhammad), (إنما فائز محمد =yang menang adalah Muhammad), dalam contoh ini kata faiz diringkas atau dipendekkan sebagai sifat dari Muhammad.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Boleh mendahulukan atau mengakhirkan khabar apabila khabarnya sebagai pengkhususan setelah kata Ni’ (نعم) ma dan Bi’sa (بئس), contohnya (نعم الرجل محمد =alangkah baiknya lelaki itu muhammad), (بئس العمل الخيانة =alangkah buruknya perbuatan khianat), Muhammad di sini bisa saja mubtada muakkhar dan jumlah fi’liyah sebelumnya adalah khabar muqaddam, dan bisa saja mubtadanya dihilangkan dan Muhammad di sini adalah khabarnya, karena apabila pengkhususan setelah ni’ ma dan bi’ sa didahulukan atas fi’ilnya maka ia adalah mubtada dan jumlah fi’liyahnya adalah khabar muakhhar oleh sebab itu boleh didahulukan atau diakhirkan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Boleh menghilangkan Khabar&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Khabar boleh dihilangkan apabila terletak setelah Iza al fajaiyah (tiba-tiba), contohnya (خرجت فإذا الأسد =saya keluar tiba tiba ada harimau), (وصلت فإذا المطر =saya sampai tiba-tiba hujan), khabarnya dihilangkan, asli dari kalimat tersebut adalah (إذا الأسد حاضر) dan (فإذا المطر منهمر). Apabila ada dalil yang menjelaskannya maka khabar pun boleh dihilangkan, yang dapat ditemukan pada jawaban dari pertanyaan, misalanya ada yang bertanya (من غائب =siapa yang alpa?), jawabannya (عليّ) dengan menghapus khabarnya yaitu (عليّ غائب) karena telah dijelaskan pada pertanyaannya. Dan apabila jumlah ismiah mengikuti (athf) pada jumlah ismiah yang tidak dihilangkan khabarnya, maka boleh menghilangkan khabar pada jumlah ismiah yang ma’thuf, contohnya (محمد مجتهد وأحمد =muhammad rajin dan ahmad juga), asal dari kalimat di atas (وأحمد مجتهد), dihilangkan khabar jumlah ismiah yang ma’tuf karena telah dijelaskan pada sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Wajib menghilangkan Khabar&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Adapun tempat-tempat dimana khabar itu wajib dihilangkan adalah sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. apabila mubtadanya adalah isim yang sharih yang menunjukkan pada sumpah, contohnya (لعمرك لأشهدن الحق =demi hidupmu saya bersaksi dengan kebenaran), khabarnya wajib dihilangkan, asalnya adalah (لعمرك قسمي).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Khabarnya menunjukkan pada sifat yang mutlak artinya sifat tersebut menunjukkan akan keberadaan dari sesuatu, dan hal itu terdapat pada kata yang bergandengan dengan jar majrur atau dharf, contohnya (الماء في الإبريق =air berada di dalam teko), (الكتاب فوق المكتب =buku berada di atas meja), yang menunjukkan khabarnya telah dihilangkan yaitu (موجود). Dan apabila mubtadanya terletak setelah Lau la (لولا) maka khabarnya yang berarti keberadaan pun wajib dihilangkan, contohnya (لولا الله لصدمت السيارة الطفل =jika tidak ada Allah, maka mobil akan menabrak anak itu), khabar yang dihilangkan adalah kata (موجود) pada contoh ini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 3. Jika mubtadanya adalah mashdar atau isim tafdhil yang disandarkan pada mashdar dan setelahnya bukanlah khabar melainkan hal yang menduduki tempatnya khabar, contohnya (تشجيعي الطالب متفوقا =saya mendukung pelajar yang berprestasi), (: أفضل صلاة العبد خاشعا =sebaik-baik shalatnya sorang hamba dalam keadaan khusu’) asalnya adalah (أفضل صلاة العبد عند خشوعه).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Khabarnya terletak setelah huruf Wau (واو) yang berarti dengan/bersama (مع), contohnya, (كل طالب وزميله =semua pelajar bersama kawanya), wau di sini berarti bersama sehingga khabarnya dihilangkan, dan khabar yang dihilangkan adalah kata (مقرونان).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan dan Perhatian&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. Asal dari pada mubtada adalah ma’rifah sedangkan khabar adalah Nakirah, contohnya (الطلاب متفوقون), namun kadang ada mubtada datang dalam bentuk ma’rifat dan khabarnya pun ma’rifat, contohnya (الله ربنا) dan (محمد نبينا) mubtadanya ma’rifah dan khabarnya pun ma’rifah karena idhafah. Contoh lain (والسابقون السابقون) assabiqun yang pertama adalah mubtada dan yang kedua adalah khabarnya, sama dengan (أنت أنت), terdiri dari mubtada dan khabar, tapi bisa juga assabiqun dan anta yang kedua adalah taukid (menegaskan) pada yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 2. Jika mubtadanya adalah mashdar marfu’, maka mubtadanya boleh didahulukan, contohnya (سلام عليكم).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Asal dari khabar mubtada adalah satu, namun boleh saja khabar terhadap mubtada menjadi banyak, contohnya (محمد شاعر كاتب قاص) kata penyair, penulis dan penulis kisah semuanya adalah khabar dari mubtada yang menunjukkan bolehnya ta’addud khabar terhadap mubtada.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 4. Haruslah memperhatikan pnyesuaian antara khabar dan mubtada, sebagaimana yang telah disebutkan pada hukum-hukum khabar di atas, akan tetapi ada sebagian ayat-ayat Al Quran yang membingungkan dan menimbulkan kesan bertentangan dengan hukum penyesuaian tersebut, padahal jika dilihat dengan seksama ternyata semua itu ada kesesuaian antar keduanya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 5. Khabar yang terdiri dari jarr dan majrur atau dharf pada dasarnya bukanlah khabar, melainkan ia berhubungan dengan kata yang dihilangkan, dan kata yang dihilangkan tersebutlah yang marfu’ yang menunjukkan ia adalah khabar, contohnya, (الماء في الإبريق) jarr majrur di sini hanyalah berhubungan dengan kata yang dihilangkan yaitu khabar mubtada, takdirnya adalah (كائن) atau (موجود).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Khabar mufrad boleh diikutkan (athaf) kepada khabar jarr majrur, contohnya (فهي كالحجارة أو اشد قسوة) aysaddu qaswah khabar yang diathafkan pada jar majrur yaitu kal hijarah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt; 7. Boleh memisahkan antara mubtada dan khabar, contohnya (وهم بالآخرة هم يوقنون), kata hum adalah mubtada, dan yuqinun adalah khabarnya, dipisahkan oleh jar majrur yang berkaitan dengan khabarnya yaitu yuqinun.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115179490973765674?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115179490973765674/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115179490973765674&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115179490973765674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115179490973765674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/07/mubtada-dan-khabar.html' title='Mubtada (المبتدأ) dan Khabar (خبر)'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115153087260734831</id><published>2006-06-28T23:25:00.000+03:00</published><updated>2006-07-16T10:37:44.490+03:00</updated><title type='text'>Festival Music HUT Kemerdekaan RI - Cairo</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/1600/DSC00216.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 117px; height: 223px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/320/DSC00216.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Festival Music Mahasiswa Indonesia-Cairo&lt;br /&gt;Antara Tabdzir dan Tabrir&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;vikar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI-61, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Cairo-Mesir mengadakan berbagai perlombaan tahunan yang telah membudaya (baik di tanah air sendiri maupun di Mesir) dengan sutu gebrakan baru, yaitu diadakannya Festival Music HUT RI-61, yang pengisihannya dimulai pada tanggal 12, agustus 2006 mendatang. Festival tersebut, disamping bertujuan untuk meramaikan dan merayakan serta merasakan nilai-nilai perjuangan orang-orang terdahulu, juga untuk menggali dan mengarahkan bakat generasi muda dalam berkarya di bidang seni musik, khususnya para siswa dan mahasiswa Indonesia yang berdomisili di Mesir, di mana bakat yang mereka miliki selama ini terpendam di hati bagaikan layangan yang tersangkut di pohon. Adalah momen yang tepat dengan diadakannya Festival, sebagai air penyiram bakat yang layu sebelum mekar dan mekar tapi tak subur.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sudah pasti, dengan adanya Festival tersebut akan menimbulkan pro dan kontra antara mahasiswa Indonesia-Cairo yang mayoritas berkopiahkan Azhari, hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertama:&lt;/span&gt; Perbedaan pendapat mengenai hukum bermusik itu sendiri, dimana sebagian melihat hukumnya adalah haram, dan sebagian yang lain menghalalkannya. dari kesemua dalil, baik dari yang kontra dan pro adalah benar, karena mayoritas ulama menghalalkannya dan jika kembali melihat di kitab Majmu'ah akan didapati banyaknya dalil tentang pengharamannya yang dilemahkan (dhaif), namun masalah ini tidaklah menjadi faktor utama dan tidak perlu kiranya untuk dibahas di sini, karena sudah jelas banyaknya ulama yang membolehkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedua:&lt;/span&gt; Kepicikkan serta sempitnya pandangan sebagain orang yang beranggapan bahwa musik itu tidaklah islami, padahal musik itu sendiri telah nyata dibolehkan dalam islam dengan catatan musik tidak melanggar dan bertentangan dengan nilai-nilai islam. Kalaupun Nasyid diidentikkan dengan musik islami, itupun belumlah benar, karena ada sebagian Nasyid yang mengajarkan cinta dan sayang antara sesama hamba yang berlebihan bukan cinta kepada Tuhan, untuk mempersingkat pembahasan ini, disimpulakan bahwa musik selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai islam, maka musik itu islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketiga:&lt;/span&gt; Musik adalah Tabdzir (pemborosan baik dari segi waktu, tenaga dan materi). Jika kita berbicara mengenai Tabdzir maka tidak akan terlepas dari asal kata Tabdzir itu sendiri, dalam Lisanul Arab atau Muhith, kata Tabdzir berasal dari kata Badzar yang berarti bibit atau benih, kata ini pun berarti menaburkan benih atau menyebarkan, dari benih tersebut akan tumbuh dan menghasilkan, namun kata tersebut semakin dipersempit artinya disebabkan oleh ulah A'rabi (arab badui) yang malas-malasan dalam bekerja sehingga bibit dan benih yang mereka taburkan sesuka hati mereka tanpa melihat lahan yang telah siap untuk ditaburi dan persediaan bibit yang ada, sehingga makna tersebut menyempit menjadi kelalaian dan pemborosan dalam segala hal, baik berbuat, berkata dan berangan, artinya orang yang banyak berbuat yang tidak bermanfaat, atau banyak berkata dan berhayal termasuk Tabdzir. Kata Tabdzir tidak dapat dipisahkan dari kata Israf atau sarafa, karena kata badzar tersebut telah melahirkan makna baru dan menempati makna dari kata israf yaitu berlebih-lebihan atau melampaui batas dan pemborosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hayan berkata: "La Khaira fi as Sarfi wala sarfa fi al Khairi", tiada kebaikan dalam pemborosan dan tiada pemborosan dalam kebaikan, maksud dari kata sarf di sini adalah berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam membuang-buang harta, perkataan dan perbuatan, dan perkataannya ini merupakan penjelasannya tentang firman Allah SWT " Innallaha la yuhibbu Al mu'tadin". Dengan demikian jelas bahwa Mubadzzir itu adalah pemborosan yang berlebih-lebihan dan melampaui batas yang mana artinya berbeda dengan melebihkan, artinya melebihi batas tidak berarti malampaui batas dan berlebih-lebihan. Segala sesuatu mempunyai kadar dan batas-batas tertentu, misalnya kapasitas perut, dimana Nabi SAW menganjurkan agar sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk udara, jika porsi makan dilebihkan, mengambil sedikit dari porsi minuman maka orang tersebut belumlah merasakan bahaya dalam diri dan perutnya dan itulah yang dinamakan dengan melebihi batas, Jika terlalu banyak porsi minum dan udara diisi dengan makanan maka orang tersebut akan lemah dan terkulai bahkan membahayakannya, itulah yang dinamakan berlebih-lebihan dan melampaui batas. contoh lain, kapasitas muatan sebuah kapal sebanyak 1000 orang, jika ditambah 10 orang penumpang, maka kapal tersebut belum pasti tenggelam, itulah yang dinamakan melebihi batas muatan, namun jika ditambahkan 50 atau 100 orang, bisa jadi kapal tersebut akan tenggelam dan itulah yang dinamakan melampaui batas dan berlebih-lebihan. &lt;p&gt;Yang menjadi masalah adalah kata mubadzzir tersebut seringkali dihubungkan dan dikaitkan dengan awlawiyat (keutamaan) sehingga terkesan rancu. Dr Yusuf Qardhawi, dalam bukunya, Fiqh Al Awlawiyat, memberikan contoh orang-orang yang berulang kali menunaikan ibadah haji (khususnya di Mesir), yang mana diwajibkan atas seseorang sekali dalam hidupnya, sementara berjihad dijalan Allah SWT dengan hartanya atau menafkahkannya kepada fakir miskin pun termasuk kewajiban. Awlawiyatnya berjihad dengan harta di jalan Allah lebih utama ketimbang menunaikan ibadah haji yang berulang-ulang kali, namun bukan berarti orang yang menunaikan ibadah haji berulang kali adalah sifat dari Mubadzzirin dan juga tidak bisa dikatakan berlebih-lebihan dan melampaui batas, boleh jadi, ia merasa ibadah-ibadah hajinya yang lalu belum sempurna atau ada kesalahan bahkan kekurangan yang ingin dilengkapinya, serta uangnya pun memadai, apalagi telah tertanam niat yang kuat di hatinya. Hal inilah yang seringkali membuat rancu dalam menilai tentang kemubadzziran.&lt;/p&gt;Jika kembali pada memori permusikkan mahasiswa Indonesia-Cairo yang mayoritas adalah pelajar Azhar, maka tidak akan dijumpai adanya pemborosan bahkan sebaliknya, yaitu bermusiknya mahasiswa Indonesia di Al Azhar University malah membantu sesama muslim dan mendukung syiar Islam karena dibackgroundkan dan diperisai oleh nilai agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1992, HPMI (Himpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia) Cairo, bekerja sama dengan berbagai persatuan pelajar ASEAN lainnya menggelar acara ASEAN NIGHT yang bertemakan malam dana dan amal yang akan disalurkan ke Bosnia, dan alhamdulillah acara tersebut berjalan lancara dan berhasil mengumpulkan dana. Pada tahun 1993, HPMI bekerja sama dengan Wafidin (Lembaga yang mengurusi orang asing) menggelar acara musik yang bertujuan memperkuat silaturrahmi dengan masyarakat Palestin yang ada di Mesir dan pada tahun yang sama pun digelar acara musik sebagai perkenalan dan memperkuat silaturahim antara pelajar Indonesia dan pelajar Mesir (Ain syams Univ dan Cairo Univ), pada tahun ini juga, band-band mahasiswa Indonesia makin menjamur, diantaranya band Sendika 1, 2, 3 dan 4, Idea Four/10th District, dan KPJ band yang sangat meramaikan dan mewarnai permusikan mahasiswa Indonesia di Mesir. Pada tahun 1997, krisis ekonomi melanda negeri tercinta yang menyebabkan banyak diantara mahasiswa yang terpaksa mudik ke tanah air, kemudian adanya kafalah (bantuan) yang diberikan oleh pengusaha Mesir kepada mahasiswa Indonesia, yang mau tak mau, haruslah menjaga imeg mahasiswa, yang menyebabkan permusikan mahasiswa Indonesia-Cairo mulai layu, dimana Ultah Buletin Terobosan sebagai satu-satunya wadah yang menampilkan apresiasi seni yang hanya menampilkan dua band saja, yaitu Band Sendika yang kini namanya berubah menjadi Sabandsa dan band SIC (sekolah indonesia cairo).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1999, Sabandsa Band menggelar Summer festival yang bertujuan membangunkan kembali semangat bermusik dan mengembangkan bakat terpendam dalam diri mahasiswa Indonesia Cairo dalam berkarya, muncullah Vagabond Band, Hermaprodite band, KMB dan KKS band kembali meramaikan permusikan mahasiswa Indonesia-Cairo, namun pada dua tahun terakhir ini kembali menjadi layu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang direncanakan oleh KBRI dengan acara Festival, adalah suatu moment yang tepat dalam menghidupkan kembali permusikan mahasiswa Indonesia-Cairo (pada khususnya) yang sedang pulas bersama mimpi-mimpi yang tak pernah terwujud dan mengarahkannya ke arah yang lebih kreatif, semoga dengan niat baik tersebut akan banyak membantu dan membuka peluang bagi mahasiswa Indonesia-Cairo dalam berkarya dalam seni, apalagi acara tersebut tidak dikhususkan saja pada musik, melainkan juga nasyid, MTQ dan seni puisi telah mempunyai kedudukan tersendiri dalam diri mahasiswa pada setiap acara. Jika gebrakan pertama KBRI dengan Festivalnya berhasil, di tahun-tahun berikutnya boleh jadi akan adanya Festival Seni secara menyeluruh bagi Mahasiswa Indonesia-Cairo.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115153087260734831?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115153087260734831/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115153087260734831&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115153087260734831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115153087260734831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/06/festival-music-hut-kemerdekaan-ri.html' title='Festival Music HUT Kemerdekaan RI - Cairo'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115119168353665085</id><published>2006-06-25T02:16:00.000+03:00</published><updated>2006-06-25T02:28:03.866+03:00</updated><title type='text'>Tashghir (تصغير)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/1600/3790685096434s.3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/320/3790685096434s.3.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Tashghir (&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;تصغير&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Vikar       &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;Tashghir sama halnya dengan Nasab, yang merupakan bagian dari pembahasan Ilmu Sharaf. Secara bahasa Tashghir berarti mengecilkan, sedangkan menurut istilah yaitu perubahan bentuk-bentuk kata dengan maksud tertentu. Hukumnya adalah memberikan baris dhamma di awal huruf, memfathakan huruf kedua dan menambahkan Ya sakinah setelahnya, huruf Ya tersebut dinamakan Ya Tashghir (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;ياء التصغير&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). Contohnya, (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;نهر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) =sungai, menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;نُهَير&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)=sungai kecil/danau, dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;قلم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)=pulpen, menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;قُلَيم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). Suatu kata yang belum dirubah bentuknya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke dalam bentuk tashghir dinamakan Mushagghar (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;المصغر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;Tujuan Tashghir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tashghir mempunyai tujuan-tujuan khusus, diantaranya adalah. &lt;b style=""&gt;Pertama&lt;/b&gt;: Mengecilkan bentuk dan ukuran dari kata yang akan dikecilkan, contohnya kata gunung=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;جبل&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) apabila ingin mengecilkan bentuknya maka kata tersebut hendaklah di beri harakat dhamma pada awal hurufnya dan memfatha huruf kedua kemudian menambahkan Ya Tashghir setelahnya, menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;جبيل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =gunung kecil), contoh lain, kata rumah=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;منزل&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dirubah menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;منيزل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). &lt;b style=""&gt;Kedua&lt;/b&gt;: Memandang rendah atau mengabaikan apa yang akan dikecilkan, contohnya kata penulis=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;كاتب&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) jika ingin merendahkan seorang penulis maka kata tersebut dirubahn bentuknya menjadi bentuk tashghir yaitu (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;كويتب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), contoh lain kata penyair=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;شاعر&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;شويعر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), laki-laki=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;رجل&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;رجيل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). Ketiga&lt;/b&gt;: Mengurangi jumlah dari sesuatu yang akan dikecilkan, contohnya, langkah=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;خطوة&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) untuk mengurangi langkah yang menunjukkan kelambatan dalam berjalan seseorang maka dirubah bentuknya menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;خطيات&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), contoh lain kata sesuap makanan=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;لقمة&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;لقيمات&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). Keempat&lt;/b&gt;: Menunjukkan dekatnya waktu, contohnya kata sebelum=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;قبل&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) apabila ingin kedatangan seseorang lebih awal dan lebih cepat lagi dari waktu yang ditentukan maka dirubah bentuknya menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;قبيل الغروب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), contoh lain kata setelah=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;بعد&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;بعيد العصر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). &lt;b style=""&gt;Kelima&lt;/b&gt;: Menunjukkan lebih dekatnya tempat, contoh kata dekat=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;قرب&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) jika ingin menunjukkan atau menerangkan Sesutu itu sangat dekat dan lebih dekat dari suatu tempat, misalnya lebih dekat dari mesjid maka diubah bentuknya menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;قريب المسجد&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), contoh lain kata di bawah=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; تحت&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;تحيت الشجرة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). &lt;b style=""&gt;Keenam&lt;/b&gt;: Mengagung-agungkan sesuatu agar terkesan hebat dan ditakuti, contoh kata bencana=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; داهية&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) jika ingin membesar-besarkan bencana yang akan menimpa agar orang lebih berhati-hati atau takut akan bencana tersebut maka dirubah bentuknya menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;دويهية&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), contoh lain kata pahlawan=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;بطل&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;بطيل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). &lt;b style=""&gt;Ketujuh&lt;/b&gt;: Sindiran terhadap sesuatu yang akan di tashghirkan atau menunjukkan dekatnya sesuatu itu dalam diri, contohnya kata anak=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;ابن&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) jika ingin menunjukkan kedudukan anak dalam diri maka dalam memanggil atau menyebutnya diubah menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;بني&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), contoh lain kata sahabat=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;صاحب&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;صويحب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;Syarat-syarat Tashghir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;Disyarartkan kepada kata yang akan diubah bentuknya menjadi bentuk tashghir adalah sebagai berikut:&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt; &lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kata (sesuatu) yang akan ditashghirkan hendaklah mu’rab bukan isim mabni (lihat dasar-dasar ilmu Nahwu) seperti kata Tanya, kata penunjuk, kata penyambung, dhamir dan juga Fiíl (baik madhi dan mudhari’). Jika ada isim mabni yang ditashghirkan itu hanyalah darurat, misalnya kata penunjuk itu=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;ذا&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) ditashgirkan menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;ذيّا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan fiíl yang menunjukkan takjub      contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;ما      أحيسنه&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)=alangkah bagusnya      dia, dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;ما      أحيلاه&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  lang="AR-SA" &gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;)=alangkah cantiknya ia,      kesemuanya adalah darurat dalam pentashghirannya.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Timbangan kata yang akan di tashghirkan janganlah sama dengan timbangan tashghir (yg di dhamma huruf awal dan fatha huruf kedua serta ya tashghir), apabila sama timbangannya berarti kata tersebut tidak bisa di tashghirkan, contohnya kata, pirang=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;span lang="AR-SA"&gt;كميت&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)      dan jenis tumbuhan=(&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;دريد&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), karena      timbangannya sama dengan timbangan tashghir.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kata tersebut hendaklah dapat dikecilkan, maka kata-kata seperti Nama-nama Tuhan, Nabi dan Rasul, malaikat, kullu (semua), Ba’dhu (sebagian), nama-nama bulan, minggu, (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;البارحة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; semalam), (besok &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;الغد&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), (selain &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;سوى&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), atau kata yang menunjukkan banyak, maka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kata-kata semacam ini tidak pantas untuk      dikecilkan.&lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;Timbangan-timbangan Tashghir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tashghir mempunyai tiga timbangan, yaitu Fuáil (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;فُعَيل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), Fuáiíl (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;فُعَيعِل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan Fuáiíil (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;فُعَيعيل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). Ketiga timbangan ini, ada yang dikhususkan kepada kata yang terdiri dari tiga huruf yaitu Fuáil, ada yang dikhususkan pada kata yang terdiri dari empat huruf yaitu Fuaííl dan yang lebih dari empat huruf yaitu Fuáiíil, yang dapat dirincikan sebagai berikut:&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;Fu’áil (&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;فُعَيل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;Timbangan ini dikhususkan pada kata-kata yang terdiri dari tiga huruf, contoh (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;سقف&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  lang="AR-SA" &gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;=atap/langit-langit, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;سُقيف&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;ولد &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;=anak laki-laki, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;وُليد&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;رجل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =seorang pria, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;رُجيل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). &lt;b style=""&gt;Jika &lt;/b&gt;isim Tsulatsi (tiga huruf) menunjukkan Muannats (feminal) meskipun tidak ada Ta Ta’nis maka dalam mentashghirkannya haruslah ditambahkan Ta Ta’nis di akhir kata tersebut, contohnya kata mata=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:13;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;عين&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; menjadi &lt;span style=";font-size:13;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;عيينة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), Hindun=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:13;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;هند&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; menjadi &lt;span style=";font-size:13;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;هنيدة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan telinga=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:13;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;أذن&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; menjadi &lt;span style=";font-size:13;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;أذينة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;b style=""&gt;Jika&lt;/b&gt; kata tersebut diakhiri dengan Ta Ta’nis maka tidak mempengaruhinya (tidak dihilangkan atau ditambahkan), contohnya, pohon=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;شجرة&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;شجيرة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan kerbau=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;بقرة&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;بقيرة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). &lt;b style=""&gt;Apabila&lt;/b&gt; huruf keduanya adalah huruf Illat yang merupakan pengganti dari huruf lain maka dalam mentashghirkannya haruslah dikembalikan ke asal katanya, contohnya pintu=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;باب&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;بويب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), dan harta=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;مال&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;مويل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). Huruf alif pada kedua kata tersebut adalah pengganti dari Wau karena jamak dari kedua kata tersebut adalah (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;أبواب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (amwal) yang menunjukkan Wau adalah huruf aslinya. &lt;b style=""&gt;Apabila &lt;/b&gt;huruf kedua dari kata tsulatsi adalah huruf illat asli maka dalam mentashghirkannya tetaplah menggunakannya, contohnya kata rumah=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;بيت&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;بييت&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan pedang=(&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;سيف&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;سييف&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) karena jamak dari kedua kata tersebut adalah (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;أبيات&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;أسياف&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).Apabila huruf kedua dari kata yang akan ditashghirkan tidak diketahui asalnya maka huruf tersebut diubah menjadi Wau, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;عاج&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =taring, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;عويج&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;زان&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =pezinah, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;زوين&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). &lt;b style=""&gt;Apabila&lt;/b&gt; Isim yang aslinya terdiri dari tiga huruf namun ditambahkan Ta Ta’nis atau Alif Maqshura dan Mamduda ataupun ditambahkan Alif dan Nun, atau jamak taksir, maka pada saat mentashghirkannya menggunakan timbangan Fu’ail, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;وردة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =mawar, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;وريدة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;سلمى&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =nama perempuan, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;سليمى&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;حمراء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =merah, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;حميراء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;مرجان&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =mutiara, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;مريجان&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;أصحاب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; sahabat, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;أصيحاب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;Fu’ai’il (&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;فُعَيعِل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Timbanagan Fu’ai’il ini dikhususkan pada kata-kata yang terdiri dari empat huruf, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;ملعب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =lapangan, menajdi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;مليعب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;مسجد&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =mesjid, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;مسيجد&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;منبر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;=mimbar, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;منيبر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). &lt;b style=""&gt;Jika&lt;/b&gt; huruf ketiganya adalah huruf madd (alif, wau dan ya) maka wajib merubahnya menjadi Ya dan didengungkan dengan Ya Tashghir, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;كتاب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =buku, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;كُتَيّب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;رغيف&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =roti, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;رُغَيّف&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;عمود&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =tiang, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;عُمَيّد&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). &lt;b style=""&gt;Jika&lt;/b&gt; huruf keduanya adalah Alif tambahan maka diubahnya menjadi Wau, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;كاتب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =penulis, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;كويتب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;تاجر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =pedagang, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;تويجر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). &lt;b style=""&gt;Jika&lt;/b&gt; huruf keduanya adalah huruf asli baik Wau maupun Ya, maka dalam pentashghirannya tetaplah seperti semula, contohnya, (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;جورب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =kaos kaki, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;جويرب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;ميسر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =kemudahan, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;مييسر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). &lt;b style=""&gt;Jika&lt;/b&gt; huruf keduanya bukan Wau atau Ya yang asli maka dikembalikan ke asalnya, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;قيمة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =puncak, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;قويمة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) karena asalanya adalah (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;قوّم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). &lt;b style=""&gt;Jika&lt;/b&gt; hurufnya melebihi empat dan huruf terakhirnya bukanlah huruf Madd, dihilangkan huruf yang terakhir, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;سفرجل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =jenis tumbuhan seperti apel, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;سفيرج&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;عندليب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =jenis burung, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;عنيدل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). Dan boleh menggantikan huruf yang dihilangkan dengan huruf Ya sebelum akhirnya, dari kedua contoh tadi menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;سفيريج&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;عنيديل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). &lt;b style=""&gt;Jika&lt;/b&gt; huruf kata pada dasarnya adalah empat huruf namun ditambahkan Ta Ta’nis, Alif dan Nun tambahan, Tanda-tanda Mutsanna (bentuk dua), jamak muzakkar dan Muannats Salim atau Ya Nasab, maka dalam mentashghirkannya menggunakan timbangan Fu’ai’il tanpa menghilangkan huruf tambahannya, contohnya, (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;مدرسة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =sekolah, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;مديرسة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;أربعاء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =hari rabu, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;أريبعاء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;تاجران&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =dua orang pedagang, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;تويجران&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;كاتبون&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =banyak penulis lk, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;كويتبون&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;تاجرات&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =banyak pedagang pr, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;تويجرات&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;عبقري&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =orang jenius, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;عبيقري&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;Fu’ai’iiyl (&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;فُعَيعيل&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Timbanagan ini digunakan untuk isim yang hurufnya melebihi empat huruf dan sebelum huruf terakhirnya adalah huruf Madd (alif, wau dan ya), Jika huruf sebelum huruf terakhirnya adalah huruf Ya maka tetap ditashghirkannya, namun jika huruf sebelum huruf terakhirnya adalah Wau dan Alif maka diaubahnya menjadi huruf Ya, contohnya, (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;مصباح&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =lampu, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;مصيبيح&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;عصفور&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =burung, menajdi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;عصيفير&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;قنديل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =pelita/lampu, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;قنيديل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;Catatan dan Tambahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt; &lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jika Isim Tsulatsi (tiga huruf) telah dihapus salah satu dari huruf aslinya sehingga yang nampak hanyalah dua huruf , maka wajib mengembalikan huruf yang terhilangkan pada saat mentashghirkannya, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;يد&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =tangan, asal katanya &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;يَدْيٌ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; dan saat ditashghir menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;يُدَيّة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), contoh lain (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;أخ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =saudara, asal katanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;أخَوٌ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;saat ditashghir &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;أُخيّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada saat mentashghir isim yang huruf ketiganya adalah huruf Illat, maka huruf illat tersebut haruslah diubah menjadi huruf Ya kemudian didengungkan denga Ya Tashghir, contoh (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;عصا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =tongkat, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;عُصيّة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;دلو&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =ember/timba, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;دُليّة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jika huruf sebelum terakhir kata adalah huruf Ya Musyaddadah didahului oleh dua huruf sebelumnya maka huruf Ya pertama diringankan kemudian didengungkan dengan Ya Tashghir, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;عَليٌّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =ali, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;عُليٌّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;ذَكيّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =pintar, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;ذُكيٌّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). Jika Ya Musyaddadah didahului lebih      dari dua huruf maka dalam pentashghirannya tetap pada lafadznya, contohnya      (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;كرسيّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =kursi, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;كُرَيْسيّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;نحوي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =secara nahwu/missal, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;نحيويّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apabila ingin mentashghirkan kata yang terdiri dari dua kata, maka bagian pertama atau kata yang pertama saja yang ditashghirkan tanpa kata yang kedua, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;عبد الله &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;=hamba Allah, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;عبيد الله&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;علم الدين&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =ilmu agama, menjadi &lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;عليم الدين&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;Demikian secara ringkas tentang Tasghir, semoga bermanfaat dan dapat membantu anda-anda sekalian dalam mempelajari serta mempraktekkannya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115119168353665085?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115119168353665085/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115119168353665085&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115119168353665085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115119168353665085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/06/tashghir.html' title='Tashghir (تصغير)'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115110575796734947</id><published>2006-06-24T02:25:00.000+03:00</published><updated>2006-06-24T13:47:16.583+03:00</updated><title type='text'>Nasab (النسب)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/1600/264b.2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 126px; height: 240px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/320/264b.2.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Nasab (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;النسب&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Fikar       &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;Nasab adalah bagian dari pembahasan ilmu sharf yang bertujuan menghindari pemborosan dalam menggunakan kata dengan hanya menambahkan huruf Ya Musyaddadah (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;ياء مشددة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) pada akhir kata dan mengkasrahkan (baris bawah) huruf sebelumnya untuk menunjukkan penisbahan sesuatu kepada susuatu yang lain, baik dari segi jenisnya, misalnya:&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;فتوىٌّ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; (laki-laki), atau kewarganegaraan, misalnya: &lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;صيني &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  lang="AR-SA" &gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;(orang cina), atau agama, misalnya:&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  &gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;إسلامي&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; (keislaman) atau keahlian, misalnya &lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;تجاري &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:navy;"  lang="AR-SA" &gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;(perdagangan), dan sifat, misalnya: &lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;ذهبي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; (bersifat seperti emas). Semua isim yang dinisbahkan kepada yang lain dinamakan Mansub (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;منسوباً&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), sebelum kata tersebut dihubungkan dengan Ya Musyaddadah dinamakan Mansub Ilaih (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;منسوباً إليه&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan huruf Ya Musyaddadah dinamakan Ya An Nasab (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;ياء النسب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Cara-cara Penisbahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Pada saat menisbahkan sesuatu kata, haruslah mengikutkan pada akhir kata tersebut dengan huruf Ya Musyaddadah dan mengkasrahkan huruf sebelumnya. Pada saat itu pula akan terjadi berbagai perubahan, yaitu perubahan pada lafadz kata dan maknanya serta perubahan pada hukumnya dimana kata yang telah dinasab akan menyerupai sifat. Adapun cara-cara pengnisbahan suatu kata kepada yang lainnya haruslah diperhatikan hal-hal sebagai berikut:&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt; &lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menisbahkan kata yang diakhiri dengan Ta Ta’nis atau Ta Marbuthah (feminal), maka haruslah dihilangkan terlebih dahulu huruf Ta tersebut sebelum dinasabkan, contohnya kata (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;مكة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;مكي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan kata (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;قاهرة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;قاهري&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dengan menghilangkan Ta Ta’nisnya,      tidak dibenarkan apabila Ta tersebut tidak dihilangkan, contohnya, (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;مكتي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menisbahkan kata yang diakhiri oleh Ya Musyaddadah, haruslah memperhatikan jumalah huruf yang berada sebelum Ya Musyaddadah. &lt;b style=""&gt;Jika&lt;/b&gt; Ya Musyaddadah berada setelah satu huruf maka harus mengembalikan huruf Ya yang pertama ke asalnya kemudian diberi baris fatha atau merubah huruf Ya yang kedua menjadi huruf Wau, contohnya kata (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;حيٌّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)=hidup,      pada saat dinasab menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;حيويٌّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) huruf      Ya pertama adalah huruf asli dan huruf Ya yang kedua dirubah menjadi Wau,      contoh lain kata (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;غيٌّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) =sesat,      menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;غوويٌّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) huruf Ya pertama dikembalikan ke asal huruf kata tersebut yaitu Wau (ghawwu) dan huruf Ya kedua dirubah menjadi Wau. &lt;b style=""&gt;Jika&lt;/b&gt;Ya Musyaddadah berada setelah dua huruf, maka dihapus huruf Ya pertama dan Ya yang kedua dirubah menjadi Wau serta memberikan tanda fatha pada huruf sebelumnya, contohnya kata (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;عليٌّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;علويٌّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;نبيٌّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;نبويٌّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). &lt;b style=""&gt;Jika&lt;/b&gt; Ya Musyaddadah berada setelah tiga huruf atau lebih, maka huruf Ya nya dihapus dan digantikan kedudukannya oleh Ya Nasab, contohnya, kata (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;كرسيّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;كرسيّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;شافعيّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;شافعيّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menisbahkan kata kepada kata yang Maqshur (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;المقصور&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) yaitu setiap kata yang diakhiri dengan huruf Alif, dan perubahan-perubahannya pun tergantung kepada jumlah hurufnya. Apabila Alif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maqsurnya      adalah huruf ketiga maka harus dirubah menjadi Wau, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;عصا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)=tongkat, menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;عصوىٌّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;فتى&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;فتوىٌّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). Apabila Alifnya adalah huruf keempat dan huruf keduanya berbaris (berharakat) fatha, maka haruslah dihilangkan Alifnya, contoh (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;كندا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;كنديّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;بنما&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;بنميّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) namun jika huruf keduanya sukun boleh menghapus Alifnya atau merubahnya menjadi Wau. Apabila Alifnya huruf kelima atau lebih maka haruslah dihilangkan alifnya, contoh (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;فرنسا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;فرنسيّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;أمريكا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;أمريكيّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menisbahkan kepada kata yang Mamdud (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;الممدود&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) yaitu kata-kata yang diakhiri dengan Alif dan Hamzah. Apabila Hamzah atau Alifnya adalah huruf asli maka dapat dinasabkan dengannya, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;إنشاء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) =pembangunan, menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;إنشائيّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;ابتداء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) =permulaan, menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;ابتدائيّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). Apabila Alif dan Hamzahnya      menunjukkan Ta’nis (feminis) maka wajib merubahnya menjadi Wau, contohnya      (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;صحراء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) =&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;padang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; pasir, menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;صحراويّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;حمراء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) =merah, menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;حمراويّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). Apabila Hamzah atau Alifnya adalah perubahan dari Wau atau Ya maka boleh dinasabkan dengannya atau merubahnya menjadi Wau, contoh (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;سماء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi      (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;سمائيّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) atau (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;سماويّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;دعاء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;دعائيّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) atau (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;دعاويّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menisbahkan kepada isim Manqush (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;المنقوص&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) yaitu kata yang diakhiri dengan huruf Ya yang Lazim. Apabila Ya nya huruf ketiga maka wajib merubahnya menjadi Wau dan memberikan baris fatha pada huruf sebelumnya, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;الرضى&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;الرضوى&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;الشجي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;الشجوىّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). Apabila Ya nya huruf keempat maka boleh menghapusnya atau merubahnya menjadi Wau dan memberi baris fatha pada huruf sebelumnya, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;القاضي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) =hakim, menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;القاضيّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) atau (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;القاضويّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;النادي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)=club, menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;الناديّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) atau (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;النادويّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). Apabila Ya nya huruf kelima atau      lebih maka wajib menghapusnya, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;المرتضي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;المرتضيّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;المهتدي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;المهتديّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Nasab kepada Isim Tsulasi (tiga huruf) dimana huruf keduanya berbaris atau berharakah kasrah maka tanda dan harakah kasrah tersebut dirubah menjadi fatha, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;إبل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)=onta, menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;إبَلي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;ملك&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)=raja, menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;ملَكي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menisbahkan kepada Isim yang huruf sebelum huruf terakhirnya adalah Ya Musyaddadah yang berharakah kasrah maka meringankan huruf ya tersebut dan mensukunnya, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;سيد&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)=tuan, menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;سيْديّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;طيب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;طيْبيّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) juga (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;ميت&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;ميْتيّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menisbahkan kepada Isim Tsulatsi (tiga huruf) yang dihilangkan huruf ketiganya (lamnya) sehingga yang terlihat hanyalah dua huruf maka pada saat menisbahkannya haruslah mengembalikan huruf ketiga yang dihilangkan dan memberikan harakah fatha pada huruf sebelumnya, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;أب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;أبوي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;أخ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;أخوي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) , (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;سنة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)=tahun, menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;سنوي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) karena asal dari kata-kata tersebut      adalah (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;أبوٌ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;أخوٌ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;سنوٌ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menisbahkan kepada Isim Tsulatsi dimana huruf pertamanya (ainnya) dihilangkan sehingga yang nampak hanyalah dua huruf kemudian menggantikan huruf awal yang hilang dengan Ta Ta’nis. Apabila akhir huruf dari kata tersebut adalah huruf shahih bukan huruf illat, maka wajib huruf tersebut tidak dikembalikan ke asalnya, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;عدة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;عدِيّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;صفة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;صفيّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), yang mana asal dari kata-kata      tersebut adalah (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;وعد&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;وصف&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). Apabila huruf yang dihilangkan dan huruf terakhir kata adalah huruf illat maka wajib mengembalikannya ke asal dan memberi harakah fatha pada huruf kedua serta mengganti huruf Ya dengan Wau, contohnya , (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;دية&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi      (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;وِدَوِي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) karena asalnya adalah (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;وَدْيٌ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menisbahkan kepada Isim yang bertimbangan Faíilah (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;فَعِيلة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan Fuáilah (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;فُعَيلة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). Jika pada timbangan Faíilah Ainnya adalah huruf shahih maka harus menghilangkan Ya (faíilah) dan Ta Ta’nisnya dan merubah harakat kasrah pada Ain menjadi fatha, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;قبيلة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;قَبَلي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;صحيفة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)=Koran/wartawan, menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;صَحَفي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). Jika Ain nya huruf Illat maka harus      menghilangkan Ta Ta’nisnya tanpa menghapus huruf Ya nya, contohnya, (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;طويلة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;طويلى&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;جليلة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;جليلى&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). Apabila Ain pada Fuáilah adalah      shahih maka wajib menghilangkan Ta Ta’nis dan Ya nya, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;جهينة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;جُهَني&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;عبيدة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;عُبَدي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menisbahkan kata kepada kata yang lain tanpa menggunakan Ya Musyaddadah (ya nasab), dimana sebagian orang Arab menggunakan bentuk-bentuk kata tertentu yang menunjukkan penisbahan tanpa menyebutkan Ya nasab, yaitu kata-kata yang bertimbangan Faál (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;فعّال&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;حدّاد&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)=tukang besi, (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;نجّار&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)=tukan kayu. Dan kata-kata yang      bertimbangan Faíl (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;فاعل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan      Faíl (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;فَعِل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) yang menunjukan kepemilikan terhadap      sesuatu, contohnya (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;طاعم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) atau (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;طَعِم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) orang yg mempunyai makanan, (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;تامر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) atau (&lt;span style=";font-size:14;color:navy;" dir="rtl"  lang="AR-SA" &gt;تَمِر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)orang yang memiliki kurma.&lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Demikianlah ringkasan dan dasar mengenai Nasab dalam bahasa Arab, mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi anda yang ingin belajar, dan Insya Allah akan dilanjutkan lagi cara-cara penisbahan yang lain di lain waktu. Thanks.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;fikar.org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115110575796734947?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115110575796734947/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115110575796734947&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115110575796734947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115110575796734947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/06/nasab.html' title='Nasab (النسب)'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115104273533406208</id><published>2006-06-23T08:05:00.000+03:00</published><updated>2006-06-23T13:48:12.740+03:00</updated><title type='text'>Dialek Bahasa Arab</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/1600/07.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 232px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/320/07.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dialek Bahasa Arab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;fikar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialek (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;اللهجات&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; ) menurut Para ahli bahasa Arab adalah bahasa dan huruf yang digunakan oleh sekelompok orang dalam rumpun tertentu yang menyebabkan adanya perbedaan ucapan bahkan bacaan antara satu dengan yang lainnya. Bahasa Arab adalah salah satu dari rumpun bahasa Samiah yang mempunyai berbagai macam dialek yang menyebabkan perbedaan dalam membaca dan berbicara sehingga tidak heran jika dikatakan Al Quran itu turun dengan tujuh huruf ( &lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; نزل القرآن على   سبعة أحرف&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;)&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;. &lt;/span&gt;Sebagian Ulama berpendapat bahwa tujuh huruf yang dimaksudkan adalah bahasa dari tujuh Qabilah arab pada saat itu atau dengan kata lain bahasa quraisy adalah gabungan dari tujuh bahasa kabilah arab yang terkemuka pada saat itu, dengan dalil Nabi Ismail as mengadopsi bahasa arab dari Abu Al Qahtan melalui perdagangan dan hubungan lainnya antara masyarakat dan penguasa. Dari tujuh kabilah ini melahirkan perbedaan bacaan dalam Al Quran, contohnya ( &lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;إنا أنطيناك الكوثر&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; ) bacaan ini pun diriwayatkan  dari Rasulullah SAW. Diantara dialek yang sering digunakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Thamthamaniah Humair&lt;/span&gt; ( &lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;طمطمانية&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thamthamaniah adalah bahasa sebagian kabilah arab dimana huruf Alif Lam Ta'rif ( &lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; أل&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) diganti dengan Alif dan Mim ( &lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;   أم&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;) yang dalam pengucapannya lebih condong ke huruf Mim, contohnya kata matahari dan bulan mereka menyebutnya (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;امشمس&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; ) (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;امقمر&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; ). Atsa'aliby mengatakan bahwa thamthamaniah ini adalah bahasanya kabilah Humair. Dalam hadis Abu Hurairah diriwayatkan bahwa ia telah datang menghadap Usman ra, dan Usman pun berkata: Peperangan telah selesai (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;الآن طاب امضرب&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;/span&gt;) asli dari kalimat tersebut adalah (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; طاب الضرب&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) Dimana alif lam ta'rif diganti dengan Mim, dan menurutnya ini adalah bahasa sebagaian orang Yaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hariri, orang-orang Humair menggantikan Alif lam ta'rif dengan Alif dan mim dalam bahasa mereka seperti, &lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; طاب امضرب&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; dalam sebuah hadis diriwayatkan oleh  Namr bin Thualub, bahwa Rasulullah SAW bersabda :(&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;ليس من امبر امصيام في امسفر &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) tiada kebaikan berpuasa dalam perjalanan (musafir). Diriwayatkan oleh Tsa'lab dari Al Akhfasy bahwa thamthamaniah adalah bahasanya suku Azad dimana mereka menggantikan alif lam ta'rif dengan alif dan mim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kasykasya&lt;/span&gt; (&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;الكشكشه&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu menggantikan Kaf Mukhatab (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;كاف&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) dengan Syin (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;شينا&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) contohnya kata (bapakmu= &lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; أبوك&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) dibaca menjadi (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;أبوش&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;). Dan juga dalam syair Ibnu AL A'rabi&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);font-size:130%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);font-size:130%;" &gt;فعيناش عيناها وجيدش   جيدها            ولكن عظم الساق منش دقيق &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);font-size:130%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;Ini adalah sebagian bahasa dari orang arab termasuk Mesir diama kata Ma Alaika dibaca Ma Alaiysy. contoh lain kata Laka (&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);font-size:130%;" &gt;لك &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;) dibaca Lesy (&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);font-size:130%;" &gt;لش &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;).&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kaskasah (&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;الكسكسه&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaskasa ini menyerupai Kasykasya yaitu menambahkan huruf Sin (&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;سينا&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;) setelah Kaf Mukhathab (&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;الكاف&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;) untuk menunjukkan terhadap Muannats (feminal), contohnya kata (memberi) (&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;أعطيتك&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;) dibaca (&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; أعطيتكس&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;) dan (&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;أكرمتك&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;) dibaca (&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;أكرمتكس&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;). Ataupun sama halnya dengan Kasykasya yaitu dengan menggantikan Kaf Mukhathab dengan Sin, contohnya pada kata bapak dan ibu (&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;أبوك&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;) dibaca (&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;أبوس&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;) dan (&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;أمك&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;) dibaca (&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;أمس&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Istintha (&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;u&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;الاستنطاء &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;  &lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yaitu menggantikan huruf Ain (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;العين&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) yang di sukun dengan huruf Nun (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;نونا&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) dan setelahnya adalah huruf Tha (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;الطاء&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;), contohnya kata (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;أعطى&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) dibaca (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;أنطى&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;), dan dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa Hasan dan Thalha ra juga selain mereka membaca ayat Al Kautsar dengan Istintha (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;إنا أنطيناك الكوثر&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) dan juga terdapat dalam hadis Rasulullah tentang Doa yaitu sabdanya:(&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;لامانع لما انطيت ولا منطي لما منع&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Khalkhaniah (&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;اللخلخانيه   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Yaitu memperpendek atau meringkas Harakat (baris) serta meringankan tekanan pada harakah tasydid, contohnya kata (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;كأنك&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) diringkas menjadi (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;كنك&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) dan kata (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;ما شاء الله&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;ما شا الله&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tashil (&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;التسهيل   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu membuang huruf Hamzah (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;الهمزة&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) agar lebih mempermudah ucapan, contohnya pada kata sumur dan gelas (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; بئر&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) dibaca (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; بير&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;كأس&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) dibaca (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; كاس&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) tanpa penulisan dan penyebutan huruf hamzah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ar Raswu (&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;الرسو   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu menggantikan huruf Sin (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;السين &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) atau Zai (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;الزاي&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) dengan huruf Shad (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;الصاد&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) atau sebaliknya, contohnya (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;سلطان&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;صلطان&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;), (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;أسطوره&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) menjadi (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;أصطوره &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;). dan bacaan ini sangat ma'ruf (terkenal) serta diakui keberadaanya oleh pakar bahasa karena banyaknya terdapat dalam natsr bahkan dalam Al Quran, contohnya, (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;يصطرون&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;), (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; لست عليهم بمصيطر &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanwin Nagham&lt;/span&gt; (&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;تنوين النغم &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu menggantikan Ta ta'nis (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;تاء التأنيث&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) dengan Nun Sukun (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;نونا ساكنه&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) untuk melagukan kata, contoh, kata (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;زانت&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) dibaca (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;زانن&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;), dan (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;بدت&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) dibaca (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;بدن&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kata Ibir mengganti kata Ibn (&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);font-size:130%;" &gt;(ابر)   بدلا عن  (ابن)&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Yaitu mengganti kata Ibn dengan kata Ibir, contohnya (&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);font-size:130%;" &gt; محمد بر  علي&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengganti Dhamir Ha Ghaib &lt;/span&gt;(&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;u&gt;هاء الغائب&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu mengganti Dhamir Ghaib dengan huruf Wau (&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;u&gt;واو&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;), contohnya kata (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;قدرته&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;) dibaca (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;قدرتو&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;'An'anah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Yaitu menggantikan huruf alif () menjadi Ain (&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;العين&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh-contoh di atas adalah dialek yang mashur dalam bahasa arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;fikar&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0); font-weight: 700;" lang="AR-SA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115104273533406208?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115104273533406208/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115104273533406208&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115104273533406208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115104273533406208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/06/dialek-bahasa-arab.html' title='Dialek Bahasa Arab'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115088481654420955</id><published>2006-06-21T13:11:00.000+03:00</published><updated>2006-06-30T09:24:25.036+03:00</updated><title type='text'>Dasar-Dasar Ilmu Nahwu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/1600/128c.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 74px; height: 290px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/320/128c.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dasar-Dasar Ilmu Nahwu&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Fikar &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;Kunci dalam mempelajari bahasa adalah banyaknya kosa kata yang dimiliki (dihafal) dan menerapkannya di dalam kalimat, dengan demikian ia akan mampu berbahasa dalam bahasa tersebut, namun hal itu belum menjamin keselamatan ungkapan dari kefahaman dan ketidak fahaman pendengar atau lawan berbicara yang disebabkan oleh kesalahan penggunaan suatu kaedah, terutama dalam bahasa arab yang penuh dengan berbagai macam kaedah yang mana bila salah dalam menggunakannya maka akan berakibat fatal terhadap arti dan maksud dari ungkapan tersebut. Untuk itu secara singkat, saya akan menjelaskan sedikit dasar-dasar dari kaedah umum bahasa arab (Nahwu) yang kiranya dapat membantu dalam mempelajari bahasa arab.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Dalam bebicara dan menyampaikan maksud kepada orang lain, tidak akan terlepas dari untaian kata-kata yang terangkai dalam suatu kalimat, dalam bahasa arabnya disebut dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الكلام&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;yaitu kalimat sempurna, terdiri dari dua kata atau lebih, baik terdiri dari dua isim (kata benda), misalnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الاتحاد قوة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;(Persatuan adalah power), atau terdiri dari Fiíl (kata kerja) dan Isim (kata benda), misalnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;عاد المسافر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;(telah kembali para musafir), atau terdiri dari Fiíl amr misalnya, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;استَقِمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;dan faílnya Dhamir tersembunyi (mustatir). Kesemuanya itu menunjukkan bahwa kalimat tesusun dari beberapa kata dan mempunyai arti yang sempurna.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Kata &lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الكلمة&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;secara bahasa berasal dari kata &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;كلم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;yang berarti melukai dengan anggota tubuh &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;جرح&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;kemudian arti tersebut lebih dikhususkan pada Lafadz &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang diletakkan terhadap arti tertentu. Kadang kata &lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الكلمة&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;yang digunakan namun makna yang dimaksudkan adalah Kalimat, misalnya dalam Al Quran:&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;(كلا إنَّها كلمة هو قائلها)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Lafadz &lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;اللفظ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;mencakup &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الكلمة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الكلام&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;yaitu suara yang terdiri dari beberapa huruf, sedangkan &lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;القول&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;yaitu apa-apa yang diucapkan baik itu sempurna maupun tidak sempurna.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Macam-macam kata&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Setiap kalimat tersusun dari beberapa kata yang mempunyai arti yang mana dapat menunjukkan akan kedudakan dari kata tersebut di dalam kalimat, misalnya dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah SPO (subjek, predikat dan objek), begitu pun halnya dalam bahasa Arab. Sebelum mengetahui kedudukan kata, terlebih dahulu kita mengenal macam-macam kata dan pembagiannya dalam bahasa Arab guna membantu dalam memahami dan mengetahui kedudakannya di dalam sebuah kalimat. Kata di dalam bahasa Arab terbagi menjadi tiga, yaitu:&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;Isim &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:16;" dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;الاسم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; (Kata benda)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Isim secara bahasa adalah nama, yaitu sebutan yang menunjukkan suatu yang dinamakan, apakah sebutan itu pada jenis atau pada unsurnya. Manusia &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;ناس&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; atau &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;رَجُل&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; adalah nama untuk suatu jenis yang dinamakan manusia atau laki-laki, dan Ahmad &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;أحْمد&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; adalah nama untuk individu yang dinamakan Ahmad. Semua kata ini adalah Isim. Dalam pengertian yang paling sederhana merujuk padanan dalam bahasa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, maka Isim adalah nominal. Sedangkan dalam istilah Nahwu, &lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Isim adalah suatu kata yang menunjukkan makna tersendiri dan tidak terikat dengan waktu.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;b style=""&gt; &lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana kita bisa mengetahui suatu kata dalam bahasa Arab itu adalah &lt;strong&gt;Isim&lt;/strong&gt;? Sedangkan kita selagi pertama kali belajar Nahwu tidak mengetahui makna kata tersebut dan tidak juga mengetahui apakah suatu kata mengandung makna yang terikat dengan waktu atau tidak. Caranya adalah dengan mengetahui tanda-tanda Isim pada suatu kata yang membedakannya dari dua jenis kata lainnya. Setiap kata yang mengandung atau bisa menerima salah satu dari tanda-tanda tersebut, maka kata tersebut adalah &lt;strong&gt;Isim&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;Tanda-Tanda Isim &lt;/h4&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; beberapa tanda yang terletak pada suatu kata yang menunjukkan bahwa jenis kata tersebut adalah Isim. Tanda-tanda Isim tersebut &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;adalah:&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;A. Tanda dari segi artinya &lt;b&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Untuk mengetahui apakah kata tersebut termasuk isim, dapat dilihat dari maknanya, atau kata tersebut bisa disandarkan kepada kata yang lain baik dia itu subjek (fail) atau pemulaan kalimat (mubtada). Contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;عاد المسافرون&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;isim di dini bersandar pada fiíl (kata kerja) yang menunjukkan ia adalah fail, contoh mubtada&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;مسافر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;خالد&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;B. Tanda dari segi Lafadznya&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;ol style="text-align: justify;" start="1" type="1"&gt; &lt;li class="MsoNormal"&gt;Tanwin &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;التنوين&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; yaitu bunyi nun sukun pada akhir kalimat yang ditandai      dengan harakat double&lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt; ــًـ ــٍـ ــٌـ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Contohnya,&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;خالدٌ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;atau &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;زيدٍ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;,dan      &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;قانتاتٍ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. Maka kata-kata dalam semua contoh ini adalah Isim karena boleh dimasuki oleh tanwin. Tanwin secara garis besarnya terbagi menjadi, Pertama: Tanwin tamkin &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;تمكين&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;yaitu      tanwin yang diikutkan kepada isim mu’rab, contoh &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;محمدٌ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;Kedua: Tanwin      Tankir &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;تنكير&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/span&gt;yang mengikuti isim ma’rifah (yang pasti) menjadikannya nakirah      (belum pasti) contoh, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;سيبويهِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/span&gt;(nama ahli nahwu). Ketiga: Tanwin Muqabalah &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;المقابلة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;yang      diikutkan kepada Jamak muannas salim (jamak untuk perempuan) contohnya, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;قانتاتٍ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;disamakan      dengan Nun yang ada pada Jamak Muzakkar Salim (jamak untuk laki-laki) &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;قانتون&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt; Keempat: Tanwin      Ta’wid&lt;span style="font-size:16;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;العِوَض&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;(pengganti) yang diikutkan pada sebagian kata sebagai pengganti terhadap apa yang dihapus dan dihilangkan, baik sebagai pengganti dari huruf yang dihilangkan, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;راعٍ      &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;جاء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;kata rain      ditanwinkan sebagai pengganti huruf YA yang dihilangkan, aslinya adalah &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;راعي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;Ataukah pengganti dari kata yang dihapus, misalnya kata-kata yang terletak setelak Kullu dan Ba’dhu yang terhapus kata yang disandarkan padanya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;كلٍّ منهم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;asalnya      adalah &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;كل واحد      منهم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;Ataupun sebagai pengganti dari kalimat yang      dihilangkan, contoh &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;زرتني      قبل سنتين وكنت حينئذٍ أعمل في الجامعة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;(dua tahun lalu, engkau menziarahiku dan pada saat itu saya bekerja universitas), kata Hinaizin ditanwinkan karena menggantin kalimat yang hilang, asalnya adalah &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;حينئذ      زرتني&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt; &lt;/ol&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;ol style="text-align: justify;" start="2" type="1"&gt; &lt;li class="MsoNormal"&gt;Dapat      dimasuki dan dihubungkan dengan Alif dan Lam, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;ألـ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;pada      awal kata. Setiap &lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;kata yang      didahului oleh &lt;st1:state st="on"&gt;AL&lt;/st1:state&gt; atau boleh menerima &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;AL&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;, maka kata      tersebut adalah Isim. Contohnya, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الكاتب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; = seorang penulis, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;المؤمن&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; = orang mukmin,&lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;المسافر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; = orang yang bepergian. Semua kata ini adalah Isim      ditandai dengan adanya &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;AL&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;      di awal kata.&lt;/li&gt; &lt;/ol&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;ol style="text-align: justify;" start="3" type="1"&gt; &lt;li class="MsoNormal"&gt;Dapat      dimasuki oleh Jarr&lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الجر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. Baik jarr disebabkan oleh adanya huruf jarr maupun karena      Idhafah. Contohnya, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الحراس      على السطحِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;, kata Sathi dibaca kasrah karena      dimasuki oleh huruf jar yaitu Ála. Contoh Idhafah &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;كتاب الطالبِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/span&gt;kata At Thalibi dibaca kasrah (jarr) karena bersandar kepada buku. Huruf-huruf      Jarr adalah &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;مِن&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;      = dari (permulaan), &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;إلي&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; = ke, kepada, &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;عَن&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; = dari (lepas,      meninggalkan), &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;علي&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;      = atas, &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;في&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;      = di, di dalam, &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;رُبَّ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;      = barangkali, kadang-kadang [;sedikit atau banyak], &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;الباء&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; = dengan, &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;الكاف&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; =      seperti [penyerupaan], &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;اللام&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; = untuk. Dan termasuk juga huruf-huruf sumpah &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;حروف القسم&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;,      yaitu; &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;الواو&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;      hanya untuk Isim Zhahir,&lt;sup&gt;[&lt;a href="http://aman.nulis.net/nahwu/nahwu-pemula/pembagian-kalam/#footnote-2-356" title="See the footnote."&gt;2&lt;/a&gt;]&lt;/sup&gt; &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;الباء&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; untuk Isim Zhahir dan      Dhamir, dan &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;التاء&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;      khusus dengan kata &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;الله&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Contohnya; &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;واللهِ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;بِاللهِِ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;تَاللهِ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;,      semuanya bermakna Demi Allah.&lt;/li&gt; &lt;/ol&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;ol style="text-align: justify;" start="4" type="1"&gt; &lt;li class="MsoNormal"&gt;Boleh      dimasuki oleh Harf Nida (panggilan) contoh, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;يا زيدُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;(Hai      Zaid) dimasuki oleh Ya harf nida, contoh lain, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;يا عبدَاللهِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt; &lt;/ol&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;ol style="text-align: justify;" start="5" type="1"&gt; &lt;li class="MsoNormal"&gt;Kata      tersebut dapat dirubah bentuknya menjadi bentuk Tashgir &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;التصغير&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;(mengecilkan)      contoh, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;جبل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/span&gt;(gunung) menjadi&lt;span style="font-size:16;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;جبيل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;(gunung kecil), contoh lain,&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;عصفور&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;menjadi &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;عُصَيْفِير&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt; &lt;/ol&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;ol style="text-align: justify;" start="6" type="1"&gt; &lt;li class="MsoNormal"&gt;Kata      tersebut dapat dijadikan Musanna (yang menunjukan atas dua) dan jamak.      Contoh, &lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;طالبان، طلاب، طالبون، طالبات&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/li&gt; &lt;/ol&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/h3&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;Tanda-tanda Fi’il &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;الفِعل&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Fi’il secara bahasa berarti kejadian atau pekerjaan. Dan padanannya dalam bahasa Indonesia adalah kata kerja atau verbal. Sedangkan dalam istilah Nahwu, &lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Fi’il adalah kata yang menunjukkan suatu makna tersendiri dan terikat dengan salah satu dari tiga bentuk waktu; masa lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang&lt;/span&gt;.&lt;/strong&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Contohnya &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;كَتَبَ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; adalah kata yang menunjukkan makna penulisan dan terikat dengan masa yang telah lalu, &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;يَكْتُبُ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; adalah kata yang memnunjukkan makna penulisan dan terikat dengan masa sekarang, dan &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;أكتُبْ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; juga adalah kata yang menunjukkan makna penulisan dan terikat dengan masa yang akan datang. Demikian juga contoh-contoh lain seperti &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;نَصَرَ ينصُر انصُر&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; = menolong, &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;عَلِم يعلَم اعْلَمْ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; = mengetahui, &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;جلَس يجلِس اجلِسْ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; = duduk, &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;ضرَب يضرِب اضرِبْ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; = memukul, &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;فهِم يفهَم افهَم&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; = mengerti, memahami.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perubahan bentuk dari setiap kata-kata dalam Bahasa Arab merupakan pembahasan Ilmu Sharaf atau dalam istilah yang lebih luas; Morphologi. Sedangkan dalam Ilmu Nahwu, unsur utama yang diperhatikan adalah kedudukan kata tersebut dalam struktur kalimat. Meskipun setiap kata dasar dalam bahasa Arab banyak mempunyai varian bentuk kata sesuai dengan kegunaan dan maknanya masing-masing, yang paling penting dalam Ilmu Nahwu adalah jenis-jenis semua kata tersebut dikelompokkan dalam tiga jenis saja, yaitu; Isim, Fi’il, dan Huruf.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Demikian juga, pembagian fi’il dalam Ilmu Nahwu terbatas pada tiga macam saja, yaitu kata kerja yang menunjukkan kejadian di masa lalu, kata kerja masa sekarang, dan kata kerja perintah. Dengan demikian, jenis-jenis Fi’il adalah:&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;ol style="text-align: justify;" start="1" type="1"&gt; &lt;li class="MsoNormal"&gt;Fi’il      Madhi &lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الفعل الماضي&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; yaitu kata kerja yang menunjukkan suatu pekerjaan atau kejadian yang berlangsung pada masa sebelum waktu penuturan. Contoh, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;خطب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; , &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;سمِع      &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;,      &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;انْطَلَقَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; , &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;اسْتَعملَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;.Tanda-tandanya dari segi arti yaitu menunjukkan suatu pekerjaan atau kejadian yang berlangsung pada masa sebelum waktu penuturan. Adapun tanda-tandanya secara Lafdzi yaitu: Pertama: dapat dimasuki oleh Lam &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لـ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;. Kedua:      Dapat dimasuki oleh Ta Al Faíl, contoh &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;سافرتُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;سافرتَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;سافرتِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; . &lt;/span&gt;Ketiga: dapat      dimasuki oleh Ta ta’nis sakinah, contoh, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;استمعتْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;سافرتْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;جلستْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;عادتْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;Hukum fiíl Madhi      dalm I’rab adalah Mabni (tidak berubah harakah akhir hurufnya).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Fi’il      Mudhari’&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;الفعل المضارع&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; yaitu kata kerja yang menunjukkan pekerjaan atau peristiwa yang terjadi pada saat dituturkan (sekarang) atau sesudahnya (akan datang). Misalnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;يَصلُحُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;.      Dinamakan Mudhari’karena menyerupai isim. Tanda-tanda Mudhari’adalah dapat      dimasuki oleh sin &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;السين&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; dan saufa &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;سوف&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; . &lt;/span&gt;Juga dapat      dimasuki oleh huruf jazm dan Nashb &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لا الناهية&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لام الأمر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; , &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;إنْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; , &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;أَنْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لَنْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;Dan kadang      bentuknya Mudhari’namun berarti Madhi, apabila dimasuki oleh Lam,      misalnya, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لم يحضر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/span&gt;(belum/tidak datang). Hukum I’rab fiíl Mudhari’ adalah Mu’rab (berubah harakah ahir hurufnya) selama tidak dimasuki oleh Nun Taukid &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;نون التوكيد&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;dan Nun Niswah &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;نون النسوة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Fi’il Amar      &lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;فعل الأمر&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;yaitu kata yang menunjukkan tuntutan tercapainya pekerjaan tersebut setelah masa pengungkapan. Contohnya, seorang ayah atau kawan dan lain-lain memerintahkan kepada seseorang untuk belajar, dia mengatakan = &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;تعلَّمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Belajarlah, atau &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;اقرأ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bacalah, atau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;انْطَلِقْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; pergilah. Atau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;اسْتَغْفِر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; bertobatlah. Tanda-tanda fiíl amar      adalah dapat dimasuki oleh Nun Taukid &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;نُونَ التَّوكيد&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;adalah huruf Nun pada akhir kata yang berfungsi untuk menunjukkan kesungguhan dan ketegasan tuntutan. Nun Taukid ada dua macam yaitu Khafifah (ringan) dan Tsaqilah (berat). Perbedaan keduanya dari segi bentuk adalah Nun Taukid Khafifah berbaris sukun &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;ـنْ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, sedangkan Nun Taukid Tsaqilah bertasydid dan      berharakat fathah&lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;ـنَّ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. atau Ya Al Mukhatabah &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;ياء المخاطبة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;adalah huruf Ya sukun di akhir kalimat sebagai kata ganti orang kedua perempuan; yang berfungsi untuk menunjukkan bahwa tuntutan ditujukan kepada perempuan. Contohnya, &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;قُوْمي&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;      = (Kamu perempuan), Bangunlah!, dari asal katanya untuk laki-laki &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;قُمْ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, dan      &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;اُكْتُبي&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;      = (Kamu perempuan), Menulislah!, dari asal kata perintahnya untuk      laki-laki &lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt;اكتب&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Kedua kata aslinya yang untuk laki-laki adalah Fi’il karena menunjukkan tuntutan dan bisa menerima Ya Mukhathabah. Dan dua kata yang untuk perempuan adalah Fi’il dengan ditandai dengan masuknya Ya Mukhathabah dan menunjukkan makna tuntutan. Hukum fiíl amar dalam I’rab adalah Mabni.&lt;/li&gt; &lt;/ol&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari semua penjelasan di atas tadi, dapat disimpulkan Tanda-tanda Fi’il yang paling utama, baik Fiíl Madhi, Mudhari’dan Amar secara umum ketika berada dalam struktur kalimat adalah:&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;ol style="text-align: justify;" start="1" type="1"&gt; &lt;li class="MsoNormal"&gt;Kata      tersebut didahului oleh &lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;قد&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;.      &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Tanda      Fi’il yang kedua adalah suatu kata itu didahului Huruf&lt;sup&gt; &lt;/sup&gt;Sin &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;السينُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;atau Huruf Saufa&lt;span class="arbonteks"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;سوفَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Tanda      Fi’il ketiga adalah Ta Ta’nis Sakinah &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;تاءُ التَّأنيث السَّاكنَة &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;yaitu huruf Ta sukun yang masuk pada akhir kata. Tanda ini hanya untuk Fi’il Madhi saja dan fungsinya adalah untuk menunjukkan bahwa Isim yang terpaut dengan &lt;strong&gt;Predikat&lt;/strong&gt;      ini berbentuk feminin (muannas). &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;Tanda      Fi’il keempat adalah suatu kata yang menunjukkan makna tuntutan dan kata      tersebut bisa menerima Ya Mukhathabah &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;ياء المخاطبة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; atau Nun Taukid &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;نُونَ التَّوكيد&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;Huruf &lt;span style="font-weight: normal;font-size:16;" dir="rtl" lang="AR-SA" &gt;الحرف&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:16;" lang="AR-SA" &gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:16;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Huruf adalah jenis kata yang berfungsi sebagai kata bantu, yaitu kata yang mengandung makna yang tidak berdiri sendiri. Maknanya hanya bisa diketahui dengan bersandingan dengan kata lain, baik Isim atau Fi’il&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tanda Huruf adalah tidak menerima tanda-tanda Isim atau tanda-tanda Fi’il, atau dengan ungkapan lain, Huruf adalah tanpa tanda pengenal. Kalau kita mengenal &lt;em&gt;Jim&lt;/em&gt; dengan titik di bawah dan &lt;em&gt;Kha&lt;/em&gt; dengan titik di atas, kita mengenal &lt;em&gt;Ha&lt;/em&gt; tanpa titik. Demikian juga, kita mengenal jenis kata Isim dan Fi’il dengan tanda-tanda yang telah disebutkan di atas, maka kita mengenal jenis kata Huruf tanpa tanda dan tidak menerima tanda-tanda Isim atau Fi’il.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kata yang termasuk dalam jenis Huruf ini terbagi bermacam-macam sesuai dengan fungsinya yang mempengaruhi status kata yang dimasukinya, sesuai dengan fungsi maknanya, dan terbagi menjadi tiga macam, yaitu:&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Huruf yang dapat masuk ke Isim maupun Fiíl, dan huruf tersebut tidak mempunyai kedudukan apa apa dalam I’rab. Contoh, kata Hal &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;هَلْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;dalam &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;وَهَلْ أَتَاكَ حديث الغاشية&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Huruf yang dikhususkan pada isim, dan huruf tersebut mempunyai fungsi serta kedudukannya dalam I’rab. Contoh, huruf Inna &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;إنّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; dan Fi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;في&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;, dalam Al Quran :&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;إنّ الله يحب الذين يقاتلون في سبيله&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Huruf yang dikhususkan tehadap Fiíl dimana huruf-huruf tersebut mempunyai kedudukan dan fungsi dalam I’rab. Contoh, huruf Nashab dan Jazam.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;I’RAB&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:14;"&gt;الإعراب&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;BINA &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:14;"&gt;البناء&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;I. Al BINA &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:14;"&gt;البناء&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Bina adalah suatu keharusan dimana harakah (baris) akhir dari suatu kata tidak akan mengalami perubahan yang disebabkan oleh factor-faktor yang merubah harakah dan kedudukan kata, atau simpelnya, Bina adalah kata yang tidak berubah harakah akhir hurufnya. Contohnya, kata aina &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;أينَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; (dimana)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan amsi &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;أمْسِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; (kemarin), dimana baris (harakah) akhirnya tidak akan pernah berubah.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Macam-macam Bina&lt;/b&gt; &lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;البناء&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tanda-tanda bina suatu kata&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam I’rab terbagi menjadi empat, yaitu:&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt; &lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sukun &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;السُّكونُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/span&gt;yaitu tidak adanya harakah, yang mana terdapat pada huruf, fiíl      serta isim, contoh mabni dengan sukun dari huruf &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;هلْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;, dan      dari fiíl, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;قمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ,&lt;/span&gt;      dan dari isim, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;كمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Fatha &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الفَتْحُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/span&gt;, berbaris atas dengan fatha, hal ini pun terdapat pada Isim,      contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;أينَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ,&lt;/span&gt;      dan Huruf, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;سوفَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/span&gt;, juga pada Fi’il, contohnya, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;قامَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kasrah &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الكَسْرُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      berbaris bawah dengan kasrah, terdapat pada Isim, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;أمْسِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; dan huruf, contohnya huruf Lam Al Jarr &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لامِ الجر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;misalnya      dalam kalimat &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;المالُ      لِزَيْدٍ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; .&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dhamma &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الضَّمُّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      berbaris atas dengan Dhamma, terdapat pada huruf, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;منْذُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;dan isim      yang menunjukkan arah misalnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;تحتُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;dengan syarat harus      Idhafah secara makna tanpa Lafadz.&lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;       &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Bentuk-bentuk Mabni&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Setelah mengetahui macam-macam tanda bina, seyogyanyalah untuk mengetahui apa-apa saja dari Isim, Fi’il dan Huruf yang Mabni agar tidak salah dalam menempatkan letak serta hukumnya dalam suatu kalimat.&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;A.Huruf&lt;/b&gt; &lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الحُرُوفُ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Semua huruf adalah Mabni, baik dengan Fatha seperti &lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;وَ، كَ، ف، ثمَّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ,&lt;/span&gt;maupun Sukun, seperti &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;منْ، في، إلى، هلْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;, dan Kasrah seperti &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لِـ (لتكتبْ درسك، جئت لأشكرَك)، بِـ (كتبت بالقلم)&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ,&lt;/span&gt; dan juga Dhamma sperti &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;منذُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;B. Af’al&lt;/b&gt; &lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الأفعال&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Semua Fi’il adalah Mabni kecuali Fi’il Mudhari’ yang tidak dimasuki oleh salah satu dari Nun Niswah &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;نون النسوة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; maupun Nun Taukid &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;نُونَ التَّوكيد&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; .&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;Bentuk-bentuk Bina Fi’il Madhi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;Fatha&lt;/b&gt;: Jika tidak berhubungan dengan kata apa pun, contohnya &lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;سمعَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;تكلمَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;atau Fi’il tersebut bergandengan dengan Ta Ta’nis &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;تاء التأنيث&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;فهمَتْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ,&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;جلستْ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;atau Fi’il tersebut berhubungan dengan Al Alif Al Itsnain &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;ألف الاثنين&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; yang menunjukan dua orang, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;ذهبا، قاما، سعيا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Sukun&lt;/b&gt;: Apabila fi’il tersebut bergandengan dengan Dhamir yang kedudukannya adalah marfu’ sebagai subjek misalnya Ta mutakallim dan sebagainya, atau fi’il tersebut bergandengan dengan Nun Niswah, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;سمعْتُ، سمعْنا، سمعْتَ، سمعْتِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;سمعْتما، سمعْتُنّ، سمعْنَ. سعيْت، سعيْنا&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;سعيْتما، سعيْتُنَ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Dhamma&lt;/b&gt;: Apabila Fi’il tersebut berhubungan dan bergandengan dengan Wau Al Jama’ah (yang menunjukkan jamak muzakkar salim=laki-laki), contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;سمعُوا، فهمُوا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Bentuk-bentuk Bina Fi’il Mudhari’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;Fi’il Mudhari’ Mabni apabila dimasuki oleh salah satu dari Nun Taukid dan Nun Niswah, dan tanda bina nya adalah, &lt;b style=""&gt;Sukun&lt;/b&gt;: Apabila berhubungan dengan Nun Niswah, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;يسمعْنَ، يقرأْنَ، يمشيْنَ، يدعوْنَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; . &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Fatha&lt;/b&gt;: Apabila berhubungan langsung dengan Nun Taukid yang disandarkan kepada Mufrad Muzakkar, contohnya,&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;لِتسمعَنْ، لتدعوَنّ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Bentuk-bentuk Bina Fi’il Amar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;Adapun Bina nya Fiíl Amar yaitu, &lt;b style=""&gt;Sukun&lt;/b&gt;: Apabila huruf terakhirnya bukan huruf Illat (Alif, Wau dan Ya) dan tidak berhubungan dengan kata apa pun, contoh &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;افهمْ، اسمعْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;, atau berhubungan dengan Nun Niswah, contoh &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;أطعْنَ، ادنوْنَ، اسعيْنَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Fatha: &lt;/b&gt;Apabila berhubungan dengan Nun Taukid, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;افهمَنْ، اسمعَنّ، ادعوَنْ وادعوَنّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Khazfu Nun (dihilangkan huruf Nunnya)&lt;/b&gt;: Apabila berhubungan dengan Alif Itsnain yang menunjukkan Mutsanna, atau Wau Jamaáh yang menunjukkan Jamak Muzakkar Salim atau Ya Al Mukhathabah, contohnya, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;ارعيا، اقنعوا، اقنعي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Khazfu harfu illah (meniadakan huruf Illatnya): &lt;/b&gt;Apabila huruf akhir dari fiíl adalah huruf illah, contohnya, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;ارعَ، ادعُ، امشِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;C. &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Al Asma &lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الأسماءُ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;  &lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dhamair &lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الضَّمائِرُ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;(Pronauns)      atau kata ganti baik orang pertama tunggal dan sebagainya yang terbagi      menjadi &lt;b style=""&gt;Munfashil&lt;/b&gt; (terpisah)      yang terbagi menjadi Rafa’dan nasab (kedudukannya dalam I’rab) contoh      Rafa’ &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;أنا، نحن،      أنتَ، أنتما، أنتم، أنتِ، أنتما، أنتنَّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ,&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;هوَ، هما، همْ، &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;هيَ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;هما، هنَّ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Contoh Nashab &lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;: إيّاي،      إيانا، إيّاكَ، إياكما، إياكم، إِياكِ، إياكما، إياكنّ، &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;dan &lt;b style=""&gt;Muttashil&lt;/b&gt; (berhubungan) juga terbagi menjadi Rafa’, Nashab,      dan Jarr .Contoh Rafa’&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;(تاء)&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;(نا)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;قرأتُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;قرأنا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;Contoh Nashab, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;ياء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;orang      yang berbicara,&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;سمعني&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt; &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;كاف&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;(lawan      berbicara) misalnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;حدثك&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;Atau      &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;هاء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; (terhadap orang ketiga tunggal)      misalnya,&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;أعطيته&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt; Contoh Jarr, Ya &lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;(ياء) &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;(orang yg berbicara) misalnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;كتبي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;, Ha &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;هاء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(orang ketiga tunggal) misalnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;بيتهُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt; Kaf&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;كاف&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(lawan berbicara)      misalnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;كتابك&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kata Sambung &lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;أسْماءُ المَوْصُولِ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;seperti &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الذي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;(berarti yang untuk sesuatu atau seorang yang menunjukkan Muzakkar      = laki-laki), &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;التي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;(untuk Muannats atau perempuan), &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الذينَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(jamak Muzakkar) &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;اللاتي، اللاتِ، اللواتي &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;(jamak muannas).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kata Tanya &lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الاسْتِفْهَامِ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;, seperti Man=siapa &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;مَنْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(untuk yang berakal), Ma=apa &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;ما&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(yang tidak      berakal) mata=kapan &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;متى&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; (untuk waktu) Aina=di mana &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;أينَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; (untuk tempat).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Isim yang menunjukkan pada bunyi-bunyian dan suara,      seperti suara bayi dan juga suara binatang, contoh &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;إسَّ وهِسَّ، وهجْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/span&gt;(suara kambing/mengembik), &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;هلا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;(suara      kuda), &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;كِخْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/span&gt;(suara tangisan bayi). Dan sebagainya.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Isim (kata benda) yang mengandung arti fi/íl (kata      kerja), contohnya, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;صهْ،      مهْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;(cukup!), &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;حيَّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;(terimalah)&lt;span style="font-size:16;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;أفٍّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;(makian)&lt;span style="font-size:16;"&gt;,&lt;/span&gt; &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;ويْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;(makian)&lt;span style="font-size:16;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;هيهاتَ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;(jauh). Dan      lain-lain yang mengandung makna fiíl.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebagian dari keterangan waktu dan tempat, contoh &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;إذْ، إذا، الآنَ، حَيْثُ، أمْسِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Isim yang menunjukkan syarat &lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;أسْماءُ الشَّرْط&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;      contoh &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;مَنْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;مهما&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;متى&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;حيثما&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;كيفما&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;أيْ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;أيّانَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;II.&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;AL&lt;/b&gt; &lt;b&gt;I’RAB&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;الإعراب&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;I,rab adalah kebalikan dan lawan dari Bina, dimana harakah (baris) akhir dari suatu kata akan mengalami perubahan yang disebabkan oleh factor-faktor yang merubah harakah dan kedudukan kata dalam kalimat. Yang mana tanda-tanda I’rab itu terbagi menjadi dua, ada tanda yang asli dan farí (bukan asli).&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tanda Asli dari I’rab adalah Dhamma &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الضمةُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; untuk Rafa’, Fatha &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الفتحةُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; untuk Nashab, Kasrah &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الكسرة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; untuk Jarr, dan Sukun &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;السكون&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; untuk Jazam. Tanda-tanda ini ada yang dikhususkan untuk Isim dan Fiíl saja yaitu Rafa’dan Nashab, contohnya dalam kalimat &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;المؤمنُ يتقنُ عمله&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Rafa’ (dibaca dhamma pada ahir harakatnya) kata Mu’min dan yutqinu dengan Dhamma, contoh lain dari yang Nashab,&lt;span style="font-size:16;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;إنّ القطارَ لن يغادرَ قبل المساء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Nashab Isim Qitara karena dimasuki Inna (huruf Nashab isim dan rafa’khabarnya) dan Fiíl Yughadir dengan Fatha karena dimasuki oleh haruf nashab yaitu Lan. Dan dari tanda-tanda I’rab tersebut ada juga yang dikhususkan terhadap isim yaitu Jarr, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;في مسجدِ المدينةِ عالم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Kata masjidi dibaca kasrah karena di dahului huruf Jarr dan kata Madinah di baca kasrah karena Idhafaf. Adapun tanda Jazam dikhususkannya kepada Fiíl, contohny&lt;span style="font-size:16;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لم يفزْ بالنجاح كسول&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;kata yafuz di sukunkan karena dimasuki oleh huruf jazam.&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tanda-tanda Farí dari I’rab yaitu suatu harakat mengganti kedudukan harakat lainnya seperti kasrah mengganti fatha pada Jamak Muzakkar Salim dan fatha menggantikan kasrah pada Mamnu’min As sharf. Atau kedudukan harakah digantikan oleh huruf, misalnya Wau menggantikan dhamma pada jamak muzakkar salim. Dan kesemuanya itu dapat diperincikan secara garis besarnya (baik harakah yang menggantikan posisi harakah lainnya maupun huruf yang menggantikan kedudukan dari harakah) di bawah ini:&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;A. Harakah yang menggantikan kedudukan harakah lainnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt; &lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jamak Muannas Salaim (perempuan)&lt;b style=""&gt; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;جمع      المؤنث السالم&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;yaitu yang      menunjukkan lebih dari dua (muannats) dengan menambahkan Alif &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;ألف&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; dan Ta &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;تاء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/span&gt;pada akhir katanya. Untuk menjadikan suatu isim mufrad menjadi jamak muannats salim, maka isim tersebut Pertama: haruslah menunjukkan kepada nama-nama perempuan, mislanya jamak dari Zainab &lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;الزينبا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;jamak dari Hindun &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الهندات&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; , jamak dari Maryam &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;المريمات&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;Kedua: Isim yang      diakhiri dengan tanda-tanda Ta’nits (feminis) baik Ta , Alif Maqsur dan      Mamdud , contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;فاطمة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/span&gt;jamaknya adalah &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الفاطمات&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;حمزة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;jamaknya      adalah&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الحمزات&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; , &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;سماء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;jamaknya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;سماوات&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; , &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;كبرى&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;jamaknya&lt;span style="font-size:16;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;كبريات&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; . &lt;/span&gt;Ketiga: Isim dalam      bentuk Tashgir, contohnya kata Dirham yang telah di Tashgir menjadi      Duraihim maka jamaknya adalah &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;دُريهمات&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; .&lt;/span&gt; Keempat: Isim yang      terdiri dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;      huruf yang belum pernah didengar Jamak Taksirnya (tidak beraturan),      misalnya kata &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;إسطبل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; (kandang kuda)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jamaknya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;إسطبلات&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;, dan kata&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;حمّام&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; (Wc) jamaknya adalah &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;حمامات&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; . Jamak Muannats Salim ini, apabila kedudukannya Manshub dalam kalimat maka alamat I’rabnya adalah kasrah menggantikan fatha.&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mamnu’Min As Sharf &lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الممنوع من الصرف&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Isim yang tidak diikutkan dengan Tanwin atau kasrah, olehnya itu apabila ia Majrur karena dimasuki oleh salah satu huruf Jarr maka I’rabnya adalah Majrur dengan Fatha pengganti kasrah. Adapun yang termasuk dalam Mamnu’Min As Sharf ini adalah, Pertama: nama-nama Ajami seperti &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;إسماعيل، إبراهيم، إسحاق&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; , &lt;/span&gt;Kedua:      Nama-nama ajam yang terdiri dari dua kata, misalnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;حضرموت، بعلبك&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ketiga: Isim yang ditambahkan Alif dan      Nun pada akhirnya, misalnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;رضوان، سلمان&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;, &lt;/span&gt;Keempat: Isim yang      timbangannya menyerupai timbangan Fiíl, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;أحمد، يزيد، يشكر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kelima: Atu dalam timbangan Fu’al      seperti, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;عُمَر،      زُحَل، هُبل، عُصَم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;,&lt;/span&gt; Keenam: Isim yang bertimbangan Fa’laan &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;فَعْلان&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;misalnya&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;غضبان،      عطشان&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ,Ketujuh: Isim yang      bertimbangan Afála &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;أفعل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; misalnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;أحمر، أصغر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ,Kedelapan: Isim yang di akhir      katanya adalah Alif Mamdudah atau Maqshurah, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;حسناء، أصدقاء، أطباء، حبلى،      مصطفى&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; ,Kesembilan: Bentuk      Muntaha Jumuk, misalnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;مساجد،      عمائر، دوائر، قناديل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;Kata-kata yang termasuk Mamnu’ Min As Sharf ini apabila dimasuki oleh salah satu huruf Jarr maka hukumnya majrur dengan Fatha pengganti kasrah, namun apabila ia dimasuki oleh &lt;st1:state st="on"&gt;AL&lt;/st1:state&gt; atau ia Idhafah (bersandar pada kalimat lain)      maka hukumnya tetap majrur dengan Kasrah, contohnya: &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;في &lt;u&gt;المساجدِ&lt;/u&gt; قناديل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;, &lt;/span&gt;karena      kata masajid dimasuki oleh &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;AL&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;         &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;B. Harakah digantikan oleh Huruf&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt; &lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mutsanna &lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;المثنى&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;yaitu yang menunjukkan kepada dua (bernyawa atau tidak      bernyawa), antara tunggal dan jamak. Yang ditambahkan Alif &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;ألف&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; dan Nun &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;نون&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; pada akhir katanya untuk menunjukkan      hukumnya sebagai Marfu’, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;رجلان&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; , dan menambahkan Ya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;ياء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; dan Nun &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;نون&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; pada akhir katanya yang menunjukkan      Jarr atau Nashab, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;رجلين&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.      Adapun untuk mengetahui bentuk-bentuknya adalah pembahasan dalam Ilmu Sharf.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jamak Muzakkar Salim&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;جمع المذكر السالم&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; yang menunjukkan tiga atau lebih dengan menambahkan Wau &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;واو&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan Nun &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;نون&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;pada      kondisi Marfu’ contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;مسلمون&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/span&gt;, dan menambahkan Ya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;ياء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;dan Nun &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;نون&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; pada kondisi Majrur dan Manshub, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;مسلمين&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Asma Sittah &lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الأسماء الستة&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;yaitu &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;أب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; (bapak), &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;أخ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; (saudara lk), &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;حم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;(panan), &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;ذو&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;(yg mempunyai), &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;فو&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; (mulut), &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;هن&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; (sesuatu). Tanda Marfu’nya dengan Wau      &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الواو&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;حضر      أبو علي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; , Manshub dengan      Alif &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الألف&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;, contoh &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;ورأيتُ أبا علي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; , dan Majrur dengan Ya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الياء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;مررتُ بأبي علي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. Syarat-syaratnya adalah haruslah tunggal (mufrad) tidak boleh mutsanna (dua) dan Jamak. Syarat lainnya adalah harus Idhafah, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;حضر أبوه&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;Dan tidak boleh      jika bentuknya tashgir, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;أّخيُّه صغير&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;C. I’rabnya dengan menghapus atau menghilangkan hurufnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt; &lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Al Af’al Al Khmasa &lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الأفعال الخمسة&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; yaitu setiap Fi’il yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berhubungan dengan Alif Itsnain (mutsanna), atau Ya Al Mukhatabah, atau Wau Jama’ah. Dinamakan Af’al Khamsa karena bentuknya ada &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;      yaitu, &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;تفعلان،      يفعلان، تفعلين&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;يفعلون،      تفعلون&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;Hukum I’rab Fi’il yang &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ini adalah menghilangkan huruf&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Nun nya apabila Ia Mnshub atau Majzum,      contohnya&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;هذه الدار&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;يريد التاجران أن يشتريا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;      &lt;/span&gt;dihilangkan Nun pada kata Yasytariyani karena manshub dengan huruf nashb. Atau majzum karena dimasuki oleh huruf jazm seperti contoh di bawah ini &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لا تشتريا      هذه الأرض&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mudhari’ Mu’tal Akhir, yaitu fi’il mudhari’ yang huruf akhirnya adalah huruf Illat (alif, wau dan ya). Apabila ia berada pada posisi Majzum maka hukumnya adalah majzum dengan menghapus huruf illatnya, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;يدعو&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;dan&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;يخشى&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt; &lt;/span&gt;apabila      dimasuki oleh huruf jazm &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لم      يدعُ أحدا&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;dihilangkan      huruf wau nya&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;خالد لم يخشَ أعداءه&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;. &lt;/span&gt;Dihilangkan      huruf ya nya.&lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:14;" &gt;Macam-macam I’rab&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;I’rab terbagi menjadi tiga macam, yaitu I’rab Dhahir (nampak) &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;إعراب ظاهر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;, I’rab Muqaddar (tersembunyi) &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;إعراب مقدر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;dan I’rab Mahalli &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;إعراب محلي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; (berdasarkan tempat dan kedudukan dalam kalimat).&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;I’rab Dhahir &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;إعراب ظاهر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; adalah nampak dan terlihatnya tanda-tanda I’rab seperti kasrah, dhamma dan fatha pada akhir suatu kata, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;في &lt;u&gt;المساجدِ&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;dimana terlihat dengan jelas kasrah pada kata masajidi. I’rab Muqaddar yaitu tidak nampaknya tanda-tanda I’rab dengan jelas pada akhir kata disebabkan oleh beratnya lidah untuk menyebutkannya atau terdapat uzur dalam penyebutan atau karena maksud menempatkannya pada suatu posisi dengan harakat yang sesuai ataupun karena dimasuki oleh huruf jarr tambahan (zaid). Dan semua itu terdapat pada:&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt; &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Isim Manquush &lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الاسم المنقوص&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;yaitu isim       yang diakhiri dengan huruf Ya dan huruf sebelumnya kasrah, contoh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;القاضي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;muqaddar atas       dhamma dan kasrah karena berat penyebutannya.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Isim Maqshur &lt;b&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الاسم المقصور&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; yaitu isim yang diakhiri dengan Alif       dan huruf sebelumnya adalah fatha, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;الفتَى&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam kalimat &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;حضر الفتى&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;atau &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;ومررتُ       بفتىً&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;I’rabnya adalah dengan menyembunyikan semua       harakatnya karena ada uzur.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Isim yang disandarkan kepadanya Ya Mutakallim,       contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;كتابي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; semua harakatnya disembunyikan       karena kedudukannya dengan harakat yang sesuai.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Isim yang dijarr dengan huruf jarr tambahan,       contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;ما حضر       من أحدٍ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Fi’il Mudhari’ yang huruf akhirnya adalah huruf       illat, baik huruf akhirnya adalah Ya dan sebelumnya kasrah misalnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;يمشي، يبني&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;       &lt;/span&gt;, ataukah huruf akhirnya adalah Wau sebelumnya dhamma, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;يدعو، يغزو&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;, maupun huruf akhirnya Alif dan       fatha sebelumnya, misalnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;يرعى، يخشى&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;, &lt;/span&gt;maka tanda       I’rabnya adalah muqaddar karena ada uzur yang menghalangnya.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/ol&gt;               &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;I’rab Mahalli &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;إعراب محلي&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt; &lt;/span&gt;yang berdasarkan tempat dan kedudukan suatu isim dalam kalimat, dan kebanyakan terdapat pada semua isim yang mabni, contoh dari kata penunjuk &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;هذا كريم&lt;/span&gt; , contoh dari kata penghubung &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;أكرمت الذي نجح&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Nakirah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;النكرة&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan Ma’rifat (&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;المعرفة&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;Nakirah (&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;النكرة&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) adalah yang tidak dimaksudkan kepada sesuatu yang tertentu atau dengan kata lain nakirah adalah sesuatu yang belum tentu dan pasti, contohnya kata manusia (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;إنسان&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan laki-laki (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;رجل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) apabila kedua kata tersebut belum jelas ketentuannya, manusia yang manakah atau lelaki yang mana. Sedangkan Ma’rifat (&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;المعرفة&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) adalah susatu yang pasti dan dimaksudkan kepada susuatu yang tertentu, yang terbagi menjadi tujuh bagian yaitu Dhamir, álam, kata penunjuk, kata penghubung, kata yang ber alif lam (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;أل&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), bersandar pada ma’rifah , munada (panggilan=dimasuki oleh huruf nida).&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dhamir&lt;/b&gt; (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;ضمائر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) adalah kata yang menunjukkan kepada mutakallim (orang pertama tunggal) atau mukhatab (lawan berbicara) dan ghaib (orang ketiga). Yang terbagi menjadi dhamir Munfashil (terpisah) yaitu dhamir yang boleh dimulai dengannya pada awal kalimat atau terletak setalh Illa (kecuali). Dan dhamir muttashil (bersambung) yaitu dhamir yang bersambungan dengan kata lain, contoh dhamir munfashil, saya (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;أنا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), kamu laki-laki (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;أنتَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), kami/kita (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;نحن&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), dia laki-laki (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;هو&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), dia perempuan (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;هي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), mereka (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;هم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) kesemuanya adalah dhamir muttashil yang menempati kedudukan rafa’/marfu’dalam kalimat, adapaun yang menempati nashab yaitu saya (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;إيّاي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), kamu (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;إيّاكَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), mereka (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;إياهم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dst. Contoh dhamir muttashil, Ta yang menunjukkan saya (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;تاء&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;=&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;قرأتُ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), Na menunjukkan kita (=&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;قرأنا نا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan seterusnya.&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;Al ‘alam (&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;العلم&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) &lt;/b&gt;adalah kata yang menunjukkan sesuatu pada zatnya yang meliputi Kunyah (gelar) yaitu kata yang dimulai dengan ibn, abu atau umm, contohnya (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;أبو بكر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;ابن الوردي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;أم المؤمنين&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;). Laqab (gelar) yang menunjukkan kebaikan atau memuji dan keburukan atau penghinaan, contohnya (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;الفاروق&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =yang dapat membdakan baik dan buruk) dan (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;الأعشى&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =yang cacat matanya). Ataupun nama-nama orang selain kuniyah dan laqab, baik yang tunggal maupun yang tersusun dari dua kata, contohnya (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;أحمد&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;هند&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;مكة&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;), dan (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;عبدالله&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;Kata penunjuk&lt;/b&gt; (&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;اسم الإشارة&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) yaitu kata yang menunjukkan pada sesuatu yang tertentu baik dekat ataupun jauh, contoh (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;هذا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =ini lk), (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;هذ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;ه&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =ini pr), (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;ذلك&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =itu lk) dan (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;تلك&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =itu pr).&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;Kata penyambung (&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;الاسم الموصول&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) &lt;/b&gt;yaitu kata yang menunjukkan pada susuatu yang tertentu yang berhubungan, contohnya (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;الذي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =yang lk) dan (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;التي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =yang pr).&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;Alif Lam (&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;أل&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) &lt;/b&gt;yaitu isim nakirah yang dimasuki oleh alif dan lam, dan menjadikan sesuatu itu menjadi tertentu (ma’rifat), contohnya kata buku (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;كتاب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) yang belum diketahui buku yang mana maka ditambahkan alif dan lam guna menunjukkan buku tertentu menjadi (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;الكتاب&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;Isim yang disandarkan pada isim ma’rifah&lt;/b&gt; yaitu isim nakirah didhafkan (disandarkan) pada isim&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ma’rifat yang menyebabkan isim&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tersebut menjadi ma’rifat, contohnya (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;هذا كتاب عليٍّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; =ini bukunya Ali), kata kitab dalam contoh ini adalah nakirah namun karena diidafhkan pada isim ma’rifat yaitu Ali maka kata kitab dengan sendirinya menjadi ma’rifat.&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;Munada&lt;/b&gt; (&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;لمنادى&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) yaitu memanggil dengan maksud menentukannya sehingga ia menjadi ma’rifat, contohnya (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;يا بائعُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;) dan (&lt;span style="font-size: 16pt;" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;يا عبدَاللهِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;br /&gt;I’rab Fi’il Mudhari’ &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;I’rab Fi’il Mudhari’ ada tiga yaitu Nashab, Jazam dan Rafa’. Dinashabkan Mudhari’ apabila dimasuki oleh salah satu dari huruf Nashab yaitu, An &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;أنْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;وَمَا كَانَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;, Lan &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لن&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلاَّ مَا كَتَبَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;اللّهُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;, Izan &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;إذن&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;أريد أن أزورك. إذن أُكرمَك&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;, Kay &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;كي&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;فَرَدَدْنَاهُ إِلَى أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;Fi’il Mudhari’ juga dinashabkan dengan An yang tersembunyi setelah Lam &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لِتَغْفِرَ لَهُمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;, atau Hatta &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;, atau Fa sababiah &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لم تعملْ فتكسبَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;, atau Athaf kepada isim sebelumnya.&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Fi’il Mudhari’ itu Majzum apabila didahului oleh salah satu dari pada huruf jazam, yaitu Lam &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لم&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; dan Lamma &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لمّا&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;,contohnya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لم يسافرْ زيد، لما يعُدْ عليٌّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. Lam &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لام الأمر&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;yang menunjukan perintah, contoh &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لتحكمْ بين الناس بالعدلِ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. La &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لا الناهية&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang menunjukkan larangan, contohnya &lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;لاَ تُبْطِلُواْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"  style="font-size:16;"&gt;صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;. Dan Fi’il Mudhari’ juga majzum apabila di masuki oleh salah satu dari huruh Syarth.&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Apabila Fi’il Mudhari’ kosong dari huruf Nashab dan Jazam maka I’rabnya tetaplah Rafa’/ marfu’.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;fikar&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;search&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/20785349-115088481654420955?l=luluvikar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://luluvikar.blogspot.com/feeds/115088481654420955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=20785349&amp;postID=115088481654420955&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115088481654420955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/20785349/posts/default/115088481654420955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://luluvikar.blogspot.com/2006/06/dasar-dasar-ilmu-nahwu.html' title='Dasar-Dasar Ilmu Nahwu'/><author><name>luluvikar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14211739167318051902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://img17.imageshack.us/img17/5207/43603up.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-20785349.post-115063316268531340</id><published>2006-06-18T15:13:00.000+03:00</published><updated>2006-06-23T13:46:51.206+03:00</updated><title type='text'>Shalat di mesjid berkuburan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/1600/abeumy.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 137px; height: 240px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5957/2093/320/abeumy.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Shalat di mesjid berkuburan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;vikar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda:”Laánallahu Al yahuda wa an Nashara ittakhazuu qubura anbiyaihim masajid”. Hadis ini sering dijadikan dalil atas larangan shalat di mesjid yang ada kuburannya yang menimbulkan konflik antara umat islam itu sendiri, padahal masalah ini adalah masalah furu’ yang dimanfaatkan oleh sebagian orang dalam memperpecah umat dengan saling tuding menuding sebagai ahlul bidah bahkan musyrik. Semua itu kembali ke kekeliruan dalam memahami dan mencampuradukkan antara tiga permasalahan utama, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Shalat di kuburan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kubur dalam bahasa arab artinya berkisar pada tempat pemakaman atau memakamkan atupun tempat untuk meletakkan mayat. Disyariatkannya pemakaman sebagai penghormatan terhadap si mayit, sehingga para ulama sepakat melarang menginjak dan berjalan di atas kuburan, sebagaimana tertera dengan jelas di dalam hadis bahwa Nabi melarang menginjak kubur. Sedangkan dalam mazhab Hanafiyah lebih mengkhususkan kepada kuburan yang berbentuk, begitu pun mazhab Syafií dan hambali mengecualikannya sekedar makruh.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Adapun hukum shalat di perkuburan. Menurut mazhab hanafi juga At Tsauri dan Al Auzaí adalah makruh karena bernajis dan menyerupai perbuatan orang-orang yahudi, tapi jika di perkuburan tersebut ada tempat yang disediakan untuk sholat dan tidak bernajis maka hukumnya boleh.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan mazhab Maliki membolehkan shalat di perkuburan baik itu dihuni maupun sekedar untuk belajar di sana, baik telah digali maupun belum dan baik itu perkuburan orang muslim maupun kafir.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mazhab Syafií lebih merincikan lagi, yaitu tidak sah shalat di perkuburan yang telah dibongkar dan digali karena tanah tersebut telah bercampur dengan nanah mayit itupun kalau jika tempat shalat tidak dialasi dengan apa-apa, dan jika dialasi hukumnya pun makruh. Jika kuburan tersebut belum dibongkar dan digali maka shalatnya sah akan tetapi makruh. Adapun jika ragu apakah kuburan tersebut telah digali atau belum maka dalam masalah ini ada dua pendapat, pertama: Shalatnya sah tapi makruh karena tanah pada dasarnya adalah suci yang tidak dapat dihukumkan sebagai najis dengan keraguan, kedua: Tidak sahnya shalat dan makruh.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menurut mazhab Hanbali, tidak sah shalat di perkuburan baik dalam perkuburan itu sendiri maupun di samping dan sekitarnya, baik telah lama maupun baru, baik telah berkali-kali digali dan dibongkar maupun yang tidak. Akan tetapi tidak melarang shalat bila hanya satu atau dua kuburan, karena menurut mereka, perkuburan itu jika lebih dari tiga kuburan. Dan mereka menetapkan bahwa tidak ada larangan shalat di rumah yang ada kuburannya meskipun lebih dari tiga kubur, karena hal itu tidak termasuk perkuburan.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Demikian pendapat para ulama dalam hal shalat di pekuburan tanpa bertentangan dengan masalah shalat di mesjid yang ada makam di dalam atau di sampingnya.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Kedua: Shalat di mesjid yang ada makamnya&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Shalat di mesjid yang ada makam Nabi dan orang-orang shalih adalah sah dan benar serta disyariatkannya yang mana derajat hukumnya sama dengan sunnah, hal ini berdasarkan Al Qurán, Hadis, perbuatan sahabat dan ijma’.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam surah Al Kahfi ayat 21, Allah SWT berfirma:”Faqalu Bnu alaihim bunyana rabbuhum a’lamu bihim Qala allazina ghalabu ála amrihim lanattakhizanna álaihim masjidan”. artinya, mereka berkata buatlah suatu bangunan untuk mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui hal mereka, orang-orang yang menentukan urusan mereka berkata, kami akan membuat mesjid atas mereka. menunjukka cerita ashabul kahfi, disaat orang-orang menemukan mereka sebagian mereka (orang-orang musyrik) berkata kami akan membangun sebuah bangunan untuk mereka dan sebagian yang lain (orang beriman) berkata kami akan membuat mesjid atas mereka.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ar-Razi dalam tafsirnya 11/106, menafsirkan “Lanattakhizanna alaihi masjidan” menjadikannya tempat dimana kita beribadah serta mengingat dan mengenang ashabul kahfi dikarenakan mesjid tersebut. Sedangkan Syaukani dalam kitabnya Fath Al Qadir 3/277, menyebutkan kata “Ïttikhazul masjid” oleh orang-orang yang menentukan urusan, mereka adalah orang yang beriman, atau mereka para penguasa dan raja saat itu. Sementara Az Zujaji berkata bahwa ini semua menunjukan kelebihan orang mu’min dengan adanya mesjid. hal ini semua dikhusukan kepada masalah membangun mesjid di atas kuburan.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ibnu Abd Al Bar dalam “Al Istiyáb” 4/1614, dan Ibnu Saád dalam “Atthabaqaat Al Kubra” 4/134 dan banyak ulama lain yang menjelaskan hadis Abi Bashir yang diriwayatkan oleh Abd Ar Raziq dari Muhammada bin Muslim, dimana Abu Bashir meninggal sementara memegang dan membaca Al quran, kemudian Abu Jandal memakamkannya di tempat ia meninggal kemudian dibangunlah mesjid di atas kuburannya.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Adapun perbuatan para sahabat terlihat jelas pada pemakaman jenazah Rasulullah SAW dan perbadaan pendapat mereka terhadapnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh imam Malik dalam Muatha 1/231 mengenai perbedaan pendapat para sahabat tentang tempat pemakaman jenazah Rasul SAW, sebagian dari mereka menyarankan agar dimakamkan di mimbar, sebagian yang lain menyarankan agar dimakamkan di Baqi’, Kemudian datang Abu Bakar dan berkata, aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah para Nabi dikebumikan kecuali di tempat dimana mereka menghembuskan nafas terakhir. Dari sini dapat dilihat saran sebagian sahabat agar jenazah Rasul dimakamkan di mimbar yang ada di dalam mesjid, dan tidak ada seorang pun yang mengingkari saran tersebut, Abu Bakar menyarankan hal lain bukanlah sebagai bantahan terhadap saran sahabat yang lain atau sebagai larangan pemakaman jenazah Rasul di dalam mesjid melainkan menerapkan apa yang diperintahkan Rasul untuk memakamkan jezahnya dimana beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam riwayat, Rasulullah SAW menghembuskan nafasnya yang terakhir di kamar sayidah Aisyah ra, kamar ini bersambungan dengan mesjid dimana orang-orang shalat di dalamnya, letak kamar tersebut seperti letak makam para wali yang berhubungan dengan mesjid pada masa kini. Sebagian ulama yang membantah hal ini dan mengatakan bahwa ini adalah kekhususan dan keistimewaan Nabi SAW, namun hal itu dapat dibantah bahwasanya kekhususan hukum terhadap Nabi haruslah dengan dalil yang menunjukkannya karena pada dasarnya hukum umum selama belum ada dalil yang menunjukkan tentang keistimewaan maka batal lah kekhususan itu. Kemudian di kamar tersebut terdapat pula makam Abu bakar dan Umar ra yang menunjukkan ketidak khususannya terhadap Nabi. Di dalam mesjid yang bersambungan dengan tiga makam tersebut, para sahabat shalat di dalamnya, begitu pun sayiddah Aisyah tinggal dan shalat (b
